Anda di halaman 1dari 19

PERCOBAAN 13

I.

Judul : Ester

II.

Hari/ tanggal : Rabu/

III.

Tujuan
Mensintesis sekurang-kurangnya 3macam ester .
Mengetahui pengaruh konsentrasi alkohol terhadap reaksi kesetimbangan pada pembuatan
ester .
Mengetahui pengaruh konsentrasi asam karboksilat terhadapreaksi kesetimbangan pada
pembuatan ester .
Mengenal bau khas dari beberapa macam ester .
Menggunakan ester sebagai bahan pembuatan sabun.
Mengetahui prinsip saponifikasi.
Membuat berbagai macam sabun untuk bahan pencuci dan untuk kosmetik.
Menguji daya kerja sabun dalam air sadah.

IV.
1.
2.
a.
b.
c.
3.
a.
b.
c.
4.
5.
6.
7.

Pertanyaaan prapraktek
Tulis rumus umum dari senyawa ester
Tulis struktur umum dari
Alkohol primer
Alkohol sekunder
Alkohol tersier
Tulislah persamaan reaksi antara
Alkohol primer dengan asam karboksilat
Alkohol sekunder dengan asam karboksilat
Alkohol tersier dengan asam kaboksilat
Tuliskan reaksi pembuatan aspirin (asetil salisilat)
Apakah perbedaan esterifikasi dengan netralisasi
Apakah bahan dasar pembuatan sabun
Gambarkan satu molekul khas lemak dan tulislah persamaan reaksi safonifikasi untuk
menghasilkan sabun natrium

Jawab :
1. Rumus
O
R C OR
R

2.
R OH

(a)

RCR

R CH OH
R

OH

(b)

(c)

3. a. Alkohol Primer dan Asam Karboksilat

R OH + R C OH

R C OR + H2O

b. Alkohol Sekunder dan Asam Karboksilat


R

R C R + R C OH

R C O C R + H2O

OH

c. Alkohol Tersier dan Asam Karboksilat


R

C C R + R C OH

R C O C R + H2O

OH

4.

O
COOH
OH

CH3 C
+
CH3 C

COOH
CH3

+ CH3COOH

OC=O
O
5. Esterifikasi adalah reaksi atau metode untuk menghasilkan ester dengan mereaksikan asam
karboksilat dengan alkohol pada suasana basa. Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa
menghasilkan garam dan air.
6. Ester dan basa kuat.
7. Reaksi penyabunan
V.
Landasan teori
Ester adalah senyawa yang dapat dianggap turunan dari asam karboksilat dengan
mengganti ion hydrogen oleh radikal hidrokarbon. Beberapa contoh ester antara lain adalah :
O
O
H3C CO

H3
O

OCH3

Dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa rumus ester adalah : RCOOR dimana
gugus OH dari gugus karboksil diganti oleh gugus OR dalam ester, R dan R dapat sama atau
berbeda.

Setiap asam karboksilat memberikan kenaikan terhadap deret homolog ester. Oleh
sebab itu nama ester dirancang sedemikian rupa untuk menunjukkan asam karboksilat dan
radikal hidrokarbon. Dengan kata lain penamaan ester dimulai dengan menyebutkan gugus
alkil diikuti dengan gugus karboksilatnya. Beberapa tata nama ester ditunjukkan sebagai
berikut ini :
HCOO CH3 = Metil Format
HCOO CH2CH3 = Etil format
HCOO CH2 CH2- CH3 = n Propil format
Seperti halnya senyawa karbon yang lain ester memiliki isomer struktur dan isomer
fungsional dengan asam karboksilatnya. Contoh isomer struktur dan isomer fungsional ester
untuk rumus molekul C4H8 adalah sebagai berikut :
O
HC
C CH2 CH2 CH2 CH3 ( Propil Format )

O CH2

CH3

O
HC
O CH2 CH3

( Isopropil format )

CH3
O
CH3 C
O CH2 CH3

( Etil Asetamil )

O
CH3 CH2 C

( metil propanoat )
OCH3
Terdapat banyak metode untuk pembuatan senyawa senyawa ester. Salah satu

metode yang secara luas digunakan adalah reaksi alcohol dengan asam karboksilat. Pada
reaksi tersebut asam sulfat ditambahkan sebagai zat dehidrasi reaksi keseluruhannya adalah :
O

RC

RC
OH + HO R

OR + H2O

Reaksi diatas asam asetat melepaskan gugus OH sedangkan alcohol melepaskan


gugus H dan dikeluarkan sebagai H2O.
Reaksi tersebut merupakan reaksi kesetimbangan. Oleh karena itu untuk
mendapatkan hasil yang banyak dapat dilakukan dengan menggunakan alcohol atau asam
yang berlebih. Selain itu dapat juga doperoleh dengan cara memisahkan ester yang terbentuk
dari air agar kesetimbangan bergeser kearah kanan.
Untuk tujuan praktis pembuatan ester dengan cara tersebut tidak efisien sebab
tetapan kesetimbangan untuk reaksi ini relative kecil ( kc = 3 ). Praktisi kimia bisa
mensintesis ester dalam 2 tahap proses mulai dengan mereaksikan asam dengan zat
pengklorinasi seperti tronil klorida membentuk acil klorida(Yayan , S 2012 : Hal 489 491).
Pembuatan turunan ester dilakukan dengan membuat turunan asam karboksilat dan
alkoholnya. Ester mula-mula dilakukan reaksi hidrolisis dari asam karboksilat serta alkohol
yang dihasilkan dipisahkan. Data-data asam karboksilat dan alkohol yang diperoleh dengan
mereaksikan NaOH dengan pelarut etilen glikol air yang dipanaskan. Hasil safonifikasi ini
kemudian diasamkan untuk mendapatkan karboksilat. Jika diperoleh endapan asam
karboksilat berupa cairan yang tidak larut dalam air dapat diekstraksi dengan ester. Hasil
ekstrak dengan ester dikeringkan dengan MgSO 4 anhidrat. Pelarut eter diuapkan sehingga
diperoleh asam karboksilat penyusun ester (Anwar, 1994: hal 75).
Ester dapat dihidralisis dengan menggunakan asam atau basa. Hidrolisis ester
disebut juga reaksi Penyabunan.Hidrolisis adalah mengubah ester menjadi alkohol dan
garam yang berasal dari turunannya.
Misalkan:
CH3COOH C2H5 + NaOH CH3COO-Na + C2H5OH
Ester
Basa Garam dan Asam Alkohol
Ester banyak digunakan sebagai ester buatan yang berbau buah-buahan,misalnya:
Etil asetat (pisang); Amil asetat (nanas); Oktil asetat (jeruk); Etil butirat (stroberi); dan lain
sebagainya. Terdapat beberapa ester penting yang diturukan dari asam anorganik.
Diantaranya Nitrogliserin, yakni suatu ester yang diperoleh melalui reaksi asam nitrat dengan
gliserol dalam asam sulfat pekat. Dengan persamaan reaksi:
H
H
HCOH
HCOH
H C O H + 3HONO2 H C O H
HCOH
HCOH
H
H
(wilbraham 1992 : 400-404).
1. Keisomeran pada ester

Keisomeran pada ester dimulai dari ester yang tersusun atas 4 atom karbon yaitu ester
dengan rumus molekul C4H8O2. Ini merupakan isomer structural.
2. Isomer Fungsional
Dua senyawa yang memiliki rumus molekul yang sama tetapi gugus fungsinya berbeda,
diikatkan kedua senyawa tersebut memilki isomer fungsional.
3. Sifat-sifat ester
Pada umumnya ester bersifat polar sifat kimia ini menyebabkan ester dengan atom karbon
sedikit mudah larut dalam air(Nana, 2007:228)
Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organic yang mengandung gugus
karboksil, -COOH. Gugus karboksil mengandung gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil;
antar aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktifan kimia yang unik dan untuk
asam karboksilat . Asam asetat (CH3COOH) sejauh ini merupakan asam karboksilat yang
paling penting diperdagangkan, industry dan labolatorium. Bentuk murninya disebut asam
asetat glasial karena senyawa ini menjadi padat seperti es bila didinginkan. Asam asetat
glasial tidak berwarna, cairan mudah terbakar ( titik leleh 7oC, titik didih 80oC), dengan bau
pedas menggigit. Dapat bercampur dengan air dan banyak pelarut organic .
Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh asam karboksilat adalah:
1.
Reaksi Pembentukkan Garam
Garam organic yang membentuk dan memiliki sifat fisik dari garam anorganik padatannya,
NaCl dan KNO3 adalah garam organic yang meleleh pada temperature tinggi, larut dalam air
dan tidak berbau Reaksi yang terjadi adalah:
HCOOH + Na+ HCOONa + H2O
2.
Reaksi Esterifikasi
Ester asam karboksilat ialah snyawa yang mengandung gugus COOR dengan R dapat
berbentuk alkil. Ester dapat dibentuk berkat reaksi langsung antara asam karboksilat dengan
alcohol. Secara umum reaksinya adalah:
RCOOH + ROH RCOOR + H2O
Asam karboksilat, dengan basa akan membentuk garam dan dengan alcohol
menghasilkan eter. Banyak dijumpai dalam minyak dan lemak, sehingga sering juga disebut
asam lemak. Pembuatannya anatara lain melalui oksidasi alcohol primer, sekunder atau
aldehida, oksidasi alkena, oksidasi alkuna hidrolisa alkil sianida (suatu nitril) dengan HCl
encer, hidrolisa ester ddengan asam, hidrolisa asil halide, dan reagen organolitium . Ester
merupakan senyawa turunan asam alkanoat, dengan mengganti gugus hidroksil (-OH) dengan
gugus OR1. Sehingga senyawa alkil alkanoat mempunyai rumus umum: R-COOR1. R dan
R1 merupakan gugus alkil, bias sama atau tidak. Contoh:
1.
CH3-COO-CH3 R = R1 yaitu CH3
2.
CH3-CH2-COO-CH3 R = CH3-CH2(C2H5) dan R1 = CH3
Ester banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain :
1. Amil asetat banyak digunakan sebagai pelarut untuk dammar dan lak.
2. Esterifikasi etilen glikol dengan asam bensen 1.4 dikarboksilat menghasilkan polyester
yang digunakan sebagai bahan pembuat kain.
3. Karena baunya yang sedap maka ester banyak digunakan sebagai esen pada makanan.
(Wilbraham, 1992, hal: 190-193 ).
Sabun adalah satu senyawa kimia tertua yang pernah di kenal .Sabun di buat dari campuran
senyawa alkali (NaOH,KOH) dan minyak( Trigliserida).
Trigliserida terdiri dari tiga gugus asam lemak yang terikat pada gugus gliserol.
Asam lemak terdiri dari rantai karbon panjang yang berakhir dengan gugus asam karboksilat

pada ujungnya. Gugus asam karboksilat terdiri dari sebuah atom karbon yang berikatan
dengan dua buah atom oksigen. Satu ikatannya terdiri dari ikatan rangkap dua dan satunya
merupakan ikatan tunggal. Setiap atom karbon memiliki gugus asam karboksilat yang
melekat, maka dinamakan tri-gliserida.
Apabila trigliserida direaksikan dengan alkali (sodium hidroksida atau kalium
hidroksida), maka ikatan antara atom oksigen pada gugus karboksilat dan atom karbon pada
gliserol akan terpisah. Proses ini disebut saponifikasi. Atom oksigen mengikat sodium yang
berasal dari sodium hidroksida sehingga ujung dari rantai asam karboksilat akan larut dalam
air. Garam sodium dari asam lemak inilah yang kemudian disebut sabun. Sedangkan gugus
OH dalam hidroksida akan berikatan dengan molekul gliserol, apabila ketiga gugus asam
lemak tersebut lepas maka reaksi saponifikasi dinyatakan selesai.
Trigliserida biasanya disebut juga fat atau lemak jika berbentuk padat pada suhu
kamar, dan disebut minyak (oil) bila pada suhu kamar berbentuk cair. Trigliserida tidak larut
dalam air, hal ini dapat dibuktikan bila kita mencampurkan air dan minyak, akan terlihat
keduanya tidak akan bercampur.
Sabun disebut sodium stearat dengan rumus kimia C17H35COO Na + dan
merupakan hydrocarbon rantai panjang dengan 10 sampai 20 atom Carbon. Dapat digunakan
untuk membersihkan karena bersifat polar, merupakan komponen ionik yang larut dalam air
dan tidak larut dalam larutan organik, yaitu minyak.
Lemak dan minyak yang digunakan untuk membuat sabun terdiri dari 7 asam lemak
yang berbeda. Apabila semua ikatan karbon dalam asam lemak terdiri dari ikatan tunggal
disebut asam lemak jenuh, sedangkan bila semua atom karbon berikatan dengan ikatan
rangkap disebut asam lemak tak jenuh. Asam lemak tak jenuh dapat dikonversikan menjadi
asam

lemak

jenuh

dengan

menambahkan

rangkap(Respati , 1986 : 165 166).

VI.

Alat dan Bahan

1.
2.
3.
4.

Alat :
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas piala
Batang pengaduk

atom

hydrogen

pada

lokasi

ikatan

5.
6.
7.
8.
9.

Penangas air
Pembakar Bunsen
Kaki tiga + kawat kasa
Rak tabung reaksi
Kaca arloji
Bahan :
1. Aquades
2. Asam asetat glacial
3. Asam butirat 6 M
4. n-butanol
5. NaOH 10 %
6. HCl 10 %
7. Metil salisilat
8. H2SO4 6 M
9. NaCl
10. CaCl2
11. MgSO4
12. Pb(NO3)2
13. H2O
14. Etanol
15. Minyak sayur
16. Asam benzoate
VII. Prosedur Kerja
a. Sintesis dan identifikasi ester
1 ml asam asetat glacial dan 1 ml isoamil alcohol
-

Dimasukkan kedalam tabung reaksi


Diperhatikan bau setiap zat
10 tetes asam sulfat 6M

Ditambahkan ke campuran tersebut


Larutan diaduk denga sempurna
Tabung reaksi dimasukkan ke dalam penangas air 10 menit
Dipindahkan beberapa tetes lapisan atas dengan hati-hati dengan menggunakan pipet tetes
kedalam kaca arloji
Diidentifikasi dengan mencium baunya
Bau buah ester

b. Esterifikasi dengan alcohol berlebih


3 tabung reaksi
Masukkan 3ml asam butirat
Tambahkan berturut-turut alkoholnya dengan volume 2,3, dan 4ml

Tambahkan pada setiap tabung 3 tetes H2SO4 3M


Panaskan selama 10 menit
Amati terbentuknya 2 lapisan
Lapisan atas adalah ester
Tentukan zat apa yang ada
Bandingkan bau yang terbentuk
c.

Sintesis beberapa ester


Lakukan hal sama dengan prosedur A

Asam benzoat 25ml dengan metanol 3ml + 15 tetes H2SO4 6M


Asam asetat 1 ml n-butanol 1ml dengan 10 tetes H2SO4 6M
Asam butirat 1ml dan n-butanol 1ml, 10 tetes H2SO4 6M
HASIL

d. Esterifikasi dengan asam berlebih


Asamnya
Disediakan 3 tabung reaksi kering dan bersih
Dimasukkan 4ml, 6ml, 8ml, asamnya masing-masing tabung
Alkoholn
ya
Ditambahkan 3 ml alkohol kedalam masing-masing tabung reaksi
H2SO4
Ditambahkan 15 tetes H2SO4 pada tiap tabung reaksi
Dikocok secara merata
Dipaaskan diatas penangas ai
Dibandingkan bau pada masing-masing tabung
e. Saponifikasi Ester
1 ml NaOH 10 %

Dimasukkan kedalam tabung reaksi


Ditambahkan 3 ml ester
Dipanaskan dalam penangas air 25 menit
Didinginkan tabung reaksi
1 ml HCl 10 %

Ditambahkan setelah tabung reaksi dingin


Diaduk dan dinperiksa keasaman nya
Ditambahkan HCl 10 % 15-20 tetes
Dicatat pengamatan
Hasil

f.

Pembuatan sabun
5 ml minyak kelapa

dimasukkan kedalam gelas piala ukuran 500

ml
15 ml NaOH dan 20 ml Etanol

diadukcampuran dan diatur suhu

900C, kemidian didinginkan


Padatan

diambil sedikit menggunakan sudup


dimasukkan seujung sudip kedalam tabung reaksi
dilarutkan dengan air panas dan dikocok dengan kuat
25 ml larutan panas NaCl jenuh
dimasukkan kedalam gelas piala
berisi sabun
didinginkan kemudian diangkat padatan sbun yang diperoleh
diuji daya kerja sabun dengan berbagai larutan
3 ml larutan sabun dalam air
dimasukkan kedalam 4 tabung
reaksi
1 ml kalsium klorida 1m
ditambahkan kedalam tabung pertama
1 ml magnesium sulfat 1m
ditambahkan kedalam tabung kedua
1 ml tambal nitrat 1m
ditambahkan kedalam tabung ketiga dan
didalam tabung keempat tidak usah ditambahkan dengan apapun
Has
il
VIII. Data
Pengamatan
A. Sintesis dan identifikasi ester
Tulislah persamaan reaksi esterifikasi
(CH3)2CH(CH2)2OH + CH3COOH + H2SO4 CH3COO(CH3)3CH(CH2)2 + H2O + H2SO4

Apakah reaksi berjalan seperti yang dituliskan ?


Iya

Bukti-bukti terjadinya reaksi


Suhu panas dan meningkat, larutan jadi panas, warna bening berubah menjadi kuning.

Ester yang dihasilkan berbau seperti


Pisang

B. Esterifikasi Dengan Alkohol Berlebih

Tabung

Volume
Asam

( ml )

Tetapan lapisan

Butano

Bau

Ester

l
1

1 cm

Pisang

0,5 cm

Pisang

0,2 cm

Pisang

Kesimpulan mengenai reaksi kesetimbangan:


Kesimpilan dari reaksi kesetimbangan berdasarkan percobaan adalah jika volume
asam tetap namun larutan butanol volumenya berbeda beda tetap akan menghasilkan bau
yang sama yaitu menghasilkan bau pisang. Namun yang dapat digunakan sebagai perbedaan
pada masing masing tabung adalah tebal lapisan ester, Semakin banyak ester yang digunakan
tebal lapisan ester semakin kecil begitu juga sebaliknya, Semakin kecil volume butanol maka
ester yang dihasilkan semakin tebal.
C. Reaksi beberapa ester
Persamaan reaksi
Bereaksi/tidak
a. Asam benzoat + metanol Bereaksi

Ciri fisis dari produk


Berbau anggur dan

+ H2SO4
b. Asam salisilar + butanol Bereaksi

berwarna jernih
Berbau tiner dan ada

+ H2SO4

lapisan, bawah

c. Asam butilat + butanol + Bereaksi

bening atas kuning


Berwarna
anggur

H2SO4

dan warna lapisan


bening

Kesimpulan terhadap jalannya esterifiksi :


Dapat disimpulakn bahwa masing-masing senyawa akan bereaksi dan mengahasilkan sidfat
fisis dan produk yang berbeda, tergantung dengan larutan apa yang akan direaksikan.
D. Esterifikasi dengan asam berlebih
Tabung Volume asam (ml) alkohol Tebal lapisan ester
1
2 ml
1 ml
1,3 cm
2
4 ml
1 ml
0,8 cm
3
6 ml
1 ml
0,7 cm
Kesimpulan mengenai reaksi kesetimbangan :

Bau
Pisang
Pisang
Pisang

Dapat disimpulkan bahwa semakin sedikit asam yang digunaka untuk direaksikan
dengan alkohol 1ml tebal ester yang dihasilkan adalah semakin tebal. Begitu juga sebaliknya

semakin banyak volume asam yang digunakan tebal lapisan ester semakin tipis dan bau yang
dihasilkan dari ketiga tabung adalah bau pisang.
E. Saponofikasi ester.

Gambar rumus bangun dan persamaan reaksi dengan NaOH

Persamaan reaksi dari produk a dengan HCl


C H6O3 + HCL

C7H5O2Cl + H2O

Hasil pemeriksaan dengan kertas lakmus


pada saat 1 ml HCl 10% pengukuran dengan kertas lakmus PH larutan adalah 2
ditambah 15-20 tetes HCl 10% setelah dilihat dengan kertas lakmus PH = 1

IX. Pembahasan
A. Sintesis dan identifikasi ester
Pada percobaan A tentang sintesis dan identifikasi ester, kami akan mengetahui tentang
persamaan reaksi esterifikasi. Apakah reaksi dapat berjalan sempurna dan bukti adanya reaksi
serta bau yang dihasilkan.
Tahap pertama yang kami lakukan adalah memasukkan 1ml asam asetat glasiat dan 1ml
etanol kedalam 1 tabung reaksi. Kemudian dengan hati-hati menambahakn 3 tetes asam sulfat
3M. Larutan tersebut diaduk dan tabung reaksi dimasukkan penangas air kurang dari 10
menit dan diperhatikan terbentuknya lapisan. Perlu diketahui bahwa lapisan yang atas adalah
ester.
Setelah terbentuk lapisan, pindahkan dengan hati-hati beberapa tetes dan dapat
diidentifikasi baunya dengan cara mencium bau yang dihasilkan.
persamaan reaksi esterifikasi
(CH3)2CH(CH2)2OH + CH3COOH + H2SO4 CH3COO(CH3)3CH(CH2)2 + H2O + H2SO4
Bukti-bukti terjadinya reaksi
Suhu panas dan meningkat, larutan jadi panas, warna bening berubah menjadi kuning.
Ester yang dihasilkan berbau seperti
Bau Pisang
Dari data diata dapat dilihat bahwa sintesis dan identifikasi akan menghasilka persamaan.

Dapat disimpulkan bahwa percobaan bereaksi sempurna dan dapat dibuktikan dengan adanya
suhu panas dan meningkat, larutan jadi paas dan warna beningberubah menjadi kuning serta
menghasilkan bau pisang.
B. Esterifikasi Dengan Alkohol Berlebih
Pada percobaan esterifikasi dengan alcohol berlebih kami akan mengamati tentang
perbedaan tebal lapisan ester dari senyawa senyawa yng digunakan serta bau bau yang
dihasilkan . Kami akan melihat apakah dengan perbedaan volume akan menghasilkan tebal
lapisan ester yang berbeda pula.
Langkah awal yang kami lakukan adalah memasukkan asam butirat 3 m kedalam 3
tabung reaksi, kemudian masing masing tabung ditambahkan alohol secara berturut turut
sebanyak 2,3 dan 4 ml.
Menambahkan 3 tetes H2SO4 3m dengan hati hati dan panaskan diatas penangas air
selama 10 menit. Barulah diamati terbentuknya dua lapisan atasnya adalah ester dan dibawah
ini adalh table hasil pengamatan :

Tabung

Volume
Asam

( ml )
Butano

l
2

Tetapan lapisan
Ester

Bau

1 cm

Pisang

0,5 cm

Pisang

0,2 cm

Pisang

Dari table tersebut terlihatjelas bahwa volume yang berbeda pada masing masing
tabung menghasilkan tebal lapisan ester yang berbeda pula. Dapat dilihat pada volume
butanol 2 ml menghasilkan tebal lapisan ester yang besar yaitu 1 cm. Sedangkan volume
butanol 3 ml menghasilkan tebal lapisan ester yaitu 0,5 sedangkan untuk volume butanol 4 ml
menghasilkan tebal lapisan ester 0,2 cm.
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa jika volume asam tetap namun larutan
butanol volumenya berbeda maka tetap akan menghasilkan bau yang sama yaitu bau pisang.
Namun yang dapat digunakan sebagai peredaan adalah tebal lapisan ester.
Semakin banyak butanol yang digunakan tebal lapisan ester makin kecil, begitu juga
sebaliknya semakin kecil volume butanol maka tebal lapisan ester ang dihasilkan semakin
besar.

C.Sintesis beberapa ester


Dalam percobaan sintesis beberapa ester ini akan teliti mengenai senyawa yang dapat
bereaksi atau tidak dalam mencampurkan beberapa senyawa serta ciri fisis atau bau yang
dihasilkan. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah menyiapkan beberapa senyawa yang
akan di gunakan di sini ada 3, senyawa yang digunakan yaitu : asam benzoat,asam salisiat,
dan asam butirat. Masing-masing senyawa di reaksikan dengan butanol namun dengan
volume yang berbeda . serta penambahan H2SO4 yang berbeda pula.
Yang pertama adalah dengan mencampurkan 250 ml asam benzoat dengan metanol 3
ml dan ditambahkan 15 tetes H2SO4 6 M. Menurut percobaan, larutan tersebut bereaksi
dengan ciri fisis dari produk ialah adanya endapan putih dan berbau pisang. Menurut literatur
asam benzoat berwarna putih mengkilat, dari data pengamatan yang lain diperoleh data
bahwa data tersebut beraroma anggur dan berwarna kuning. Percobaan ini terjadi karena
adanya perbedaan perbandingan zat yang dibuat.
Dan yang kedua, yaitu dengan asam salisilat 1 ml dengan isobutanol 1 ml dan
ditambah 10 tetes H2SO4 ke dalam tabung reaksi dan digoyangkan, kemudian dipanaskan
dipenangas air kurang lebih selama 10 menit dan hasilnya larutan tersebut bereaksi dan
menghasilkan warna bening, dan berbau pisang. Menurut sumber hasil data pengamatan yang
kedua ini sesuai dengan teori.
Dan untuk yang ketiga yaitu asam butirat di reaksikan dengan n-butanol kemudian di
tambah 10 tetes H2SO4 6M baru di masukan kedalam penangas air, kurang lebih 10 menit
hingga terbentuk lapisan dan hasilnya adalah larutan tersebut bereaksi dan menghasilkan
endapan coklat, dan berbau pisang.

D. Esterifikasi dngan asam berlebih


Percobaan inimembutuhkan alat dan bahan seperti tabug reaksi, pengaduk dan
penangas air dan bahannya adalah alkohol, H2SO4. Langkah pertama pada percobaan ini,
kami menyiapkan 3 buahh tabung reaksi yang masing-masing tabung berisi 2 ml, 4 ml, dan 6
ml asamnya yaitu asam glasial, kemudian ditambahkan 1 ml alkohol kedalam masing-masing
tabung reaksi tersebut. Kemudian teteskan H2SO4 sebanyak 3 tetes kedalam masing-masing
tabung reaksi, kocok perlahan-lahan, lalu dipanaskan dipenangas air.

Hasil yang diperoleh adalah campuran tersebut bereaksi dengan adanya endapan yang
diantaranya lapisan atas merupakan lapisan ester dan lapisan bawah adalah lapisan air. Ester
yang terbentuk dalam percobaan ini bernama etil asetat dan masing-masing tabung tersebut
beraroma bau pisang semuanya namun ada hal yang membedakan antara tabung yang satu
dengan tabung yang lain yaitu ketebalan lapisan endapan ester tersebut, ester yang 2 ml
alkohol memiliki ketebalan endapan ester 1,6 cm ,4 ml alkohol 2,4 cm, 2,4 cm dan 6 ml
alkohol memiliki ketebalan 3,2 cm.
Data yang kami dapatkan telah sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa semakin
banyak volume asam dan alkohol yang ditambahkan, maka semakin tebal pula lapisan ester
yang terbentuk.

E. Saponofikasi ester
Pada pecobaan tentang saponifikasi ester kami akan meneliti tentang rumus bangun
dari metil salisilat dan persamaan reaksinya dengan NaOH dan HCl serta hasil pemeriksaan
dengan kertas lakmus. Hal yang kami lakukan adalah memasukan asam salisilat dan 2 tetes
NaOH 10% kedalam tabung reaksi. Kemudian meletakan larutan itu kedalam penagas air
sampai bau ester menghilang sejalan dengan berkurangnya lapisan ester. Pemanasan
dilakukan kurang lebih 20 menit tabung reaksi kemudian didinginkan dibawah aliran dingin.
Baru setelah dingin ditambahkan 10 tetes HCl 10% dan dapat diidentifikasi keasamannya
dengan menggunakan lakmus. Untuk mengujinya, tambahkan HCl 10% sebanyak beberapa
tetes sampai larutan bersifat asam hingga baru dapat di catat hasilnya. Dan didibawah ini
adalah data hasil percobaan :

Rumus bangun metil salisilat

Persamaan reaksi dari produk a dengan HCl


C H6O3 + HCL

C7H5O2Cl + H2O

Hasil pemeriksaan dengan kertas lakmus


pada saat 1 ml HCl 10% pengukuran dengan kertas lakmus PH larutan adalah 2
ditambah 15-20 tetes HCl 10% setelah dilihat dengan kertas lakmus PH = 1
Dari data diatas dapat dilihat bahwa rumus bangun dapat diketahui setelah dilakukan
percobaan serta dapat dituliskan persamaan reaksi yang terjadi baik dengan NaOH maupun
HCl. Dan yang paling lama dalam percobaan ini adalah menemukan hasil pemeriksaan

dengan kertas lakmus . pada percobaan pertama pada saat digunakan 1 ml HCl 10%
pengukuran dengan kertas lakmus PH larutan adalah 2 . sedangkan ditambah 15-20 tetes HCl
10% setelah dilihat denagn kertas lakmus PH = 1 .Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
penambahan HCl 10% akan mempengaruhi PH dan PH akan berubah.
F. Pembuata sabun
Pada percobaan pembuatan sabun ini,hal pertama yang kami lakukan adalah
mempersiapkan alat dan bahan yang nantinya akan kami perlukan dalam pembuatan sabun
ini. Pertama-tama disiapkan gelas ukur berukuran 500 ml, dimasukkan minyak kelapa
kedalamnya, ditambahkan dengan 15 ml NaOH dan 20 ml Etanol, dipanaskan padasuhu yang
diatur 90 0C hingga 20 menit. Dihasilkan endapan, dari endapan tersebut diambil kuranglebih seujung sudip dimasukkan kedalam tabung reaksi, dilarutkan dengan menggunakan air
panas, dikocok hingga timbul buih atau busa. namun, hasil yang kami dapatkan dari
percobaan yang telah kami lakukan ialah busa yang dihasilkan kurang baik karena didalam
larutan atau padatan sabun masih mengandung asam lemak. hal ini dikuatkan oleh Teori yang
menjelaskan bahwa jika padatan dilarutkan dengan menggunakan air panas kemidian dikocok
dengan kuat maka akan menghasilkan busa atau buih yang baik berarti didalam padatan
sabun tersebut tidak mengandung asam lemak. Sedangkan hasil buih yang kami dapatkan
tidaklah begitu baik hinggga kami simpulkan bahwa apa yang kami lakukan untuk percobaan
kali ini belum maksimal hingga dapat dikatakan bahwa percobaan yang kami lakukan ini
kurang berhasil. Karena percobaan ini gagal dan kami pun harus masuk kuliah maka untuk
prosedur selanjutnya tidak kami lanjutkan dan kesalahan ini dapat disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranyakurang baiknya alat dan juga bahan yag kami gunakan, kurang telitinya
kami dalam membuat takaran dan juga dalam menerjemah maupun mengerjakan prosedur
kerja, dan faktor lainnya.
Dan seharusnya hal yang harus kami lakukan selanjutnya menurut prosedur kerja
didalam buku penuntun praktikum ialah ditambahkan 5 ml larutan NaCl jenuh kedalam gelas
piala yang berisi sabun dan padatan yang dihaslkan tadi, maka sabun akan terpisah dari
gluserol. Dan dipersiapkan empat buah tabung reaksi, guna untuk menguji kekuatan daya
kerja dari sabun yang telah dihasilkan. Keempat tabung reakai tersebut diisi dengan sabun
atau padatan yang berada dalam gelas piala. tabung pertama ditambahkan dengan kalsium
klorida sebanyak 1 ml, tabung kedua ditambahkan dengan magnesium sulfat sebanyak 1 ml,
tabung ketiga ditambahkan dengan timbal nitrat sedangkan utuk tabung reaksi yang eempat
tidak perlu ditambahkan dengan apapun juga. maka dari masing-masing tabing reaksi
tentunya akan mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Namun, percobaan kami tidak sampai
keprosedur ini karena kegagalan yang dihasilkanpada hasil awal tadi. meki demikian menurut
hasil yang dilakukan oleh literatur yang kami dapatkan ialah pada tabung pertama akan
dihasilkan sabun yang sangat baik, pada tabung kedua akan dihasilkan busa yang baik
(banyak) berwarna putih, pada tabung ketiga akan dihasilkan busa yang juga baik tapi tidak
sebanyak busa yang dihasilkan pada tabung kedua, dan pada tabung keempat akan dihasilkan
busa yang sangat baik.
X.

Diskusi
Reaksi antara asam asetat glacial dengan isomil alcohol adalah reaksi esterifikasi
dengan katalis H2SO4 pekat. Reaksi antara kedua senyawa ini lambat. Hal ini karena alcohol
yang bereaksi adalah alcohol sekunder. Jika rantai karbon semakin panjang, maka akan makin
cepat. Aroma ester yang diperoleh adalah bau pisang.

Sintesis dan identifikasi unsure menghasilkan persamaan dan percobaan beraksi


sempurna dan dapat dibuktikan dengan adanya suhu panas dan meningkat, larutan jadi panas
dan warna bening berubah menjadi kuning serta berbau pisang.
Esterifikasi dilaukan dalam 3 tabung yang berbeda dan yang menjadi pembedanya
adalh volume alcohol yang diberikan Sedangkan volume asamnya adalah sama yang
kemudian diambahkan H2SO4 pekat kedalam nya karena jumah perbedaan alcohol maka bau
yang ditimbulkan juga berbeda beda .
Tabung dengan 1 ml alcohol berbau pisang , 2 ml alcohol berbau pisang, 3 ml
alcohol berbau pisang dan 4 ml alcohol berbau pisang. Jadi tebal lapisan ester yang
dihasilkan juga berbeda beda.
Dapat diidetifikasi bahwa jika volume asam tetap namun larutan butanol volumenya
berbeda tatap akan menghasilkan bau yang sama yaitu au pisang.Namun yang dapat
digunakan sebagai perbedaan adalah tebal lapisan ester.
Semakin banyak butanol yang digunakan, tebal lapisan ester makin kecil, begitu
juga sebaliknya, semakin kecil volume butanol maka tebal lapisan ester yang dihasilkan
semakin tebal.
Reaksi pengesteran merupakan reaksi kesetimbangan yang berlangsung lambat
sehingga ester yang terbentuk tidaklah banyak. Katalis H2SO4 adalah senyawa yang
mempercepat reaksi, jika rantai reaksi karbon alkohol semakin panjang maka reaksi akan
berlangsung cepat. H2SO4 akan berfungsi sebagai zat hidroskopis (Pengikat molekul air)
sekaligus sebagai Katalis.
Ester yang didapat apabila dihidrolisis akan kembali membentuk asam karboksilat
dan alkohol. Pada percobaan ini Asam Benzoat + Metanol + H 2SO4 , senyawa tersebut dapat
bereaksi dan menghasilkan ciri fisis dari produk dengan menghasilkan bau anggur dan
berwarna bening.lain halnya dengan reaksi yang kedua yaitu reaksi antara Asam Salisilat +
Butanol + H2SO4, senyawa tersebut bereaksi dengan ciri fisis dan produk yang dihasilkan
yaitu berbau tiner dan ada dua lapisan, lapisan bawah bening dan bagian atas berwarna
kuning. Sedangkan untuk reaksi antara Asam Butirat = Butanol + H2SO4, senyawa tersebut
bereaksi dengan cirri fifis dan produk yang dihasilkan adalah berbau anggur dan lapisan
bening.
Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa masing-masing senyawa akan
beraksi dan menghasilkan sifat fisis dari produk yang berbeda-beda tergantung direaksikan
dengan lautan apa.

percobaan saponifikasi, rumus bangun dari metil salisilat dan persamaan reaksinya
dapat diketahui. Penentuan rumus bangun dan persamaan reaksi dapat di tuliskan setelah
dilakukan percobaan.
Namun yang paling lama dalam percobaan ini adalah menemukan hasil pemeriksaan
dengan kertas lakmus . pada percobaan pertama pada saat digunakan 1 ml HCl 10%
pengukuran

dengan

kertas

lakmus

PH

larutan

adalah

namun setelah ditambah beberapa 15-20 tetes HCl 10% setelah dilihat denagn kertas lakmus
PH = 1 .
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penambahan HCl 10% akan
mempengaruhi PH dan PH akan berubah.

XI.

Hasil yang kami dapatkan dari percobaan yang telah kami lakukan ialah busa yang
dihasilkan kurang baik karena didalam larutan atau padatan sabun masih mengandung asam
lemak. hal ini dikuatkan oleh Teori yang menjelaskan bahwa jika padatan dilarutkan dengan
menggunakan air panas kemidian dikocok dengan kuat maka akan menghasilkan busa atau
buih yang baik berarti didalam padatan sabun tersebut tidak mengandung asam lemak.
Sedangkan hasil buih yang kami dapatkan tidaklah begitu baik hinggga kami simpulkan
bahwa apa yang kami lakukan untuk percobaan kali ini belum maksimal hingga dapat
dikatakan bahwa percobaan yang kami lakukan ini kurang berhasil. Karena percobaan ini
gagal dan kami pun harus masuk kuliah maka untuk prosedur selanjutnya tidak kami
lanjutkan dan kesalahan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranyakurang
baiknya alat dan juga bahan yag kami gunakan, kurang telitinya kami dalam membuat
takaran dan juga dalam menerjemah maupun mengerjakan prosedur kerja, dan faktor lainnya.
Pertanyaan pra praktek

1. Setelah pengasaman sabun anda memperoleh endapan yaitu asam lemak, apakah asam lemak
ini murni atau campuran ? jelaskan
JAWAB :
Asam lemak yang diperoleh adalah asam lemak yang berasal dari asam karboksilat
tertentu yang murni apabila direaksikan dengan ester dan gliserol membentuk lemak dan
minyak.
2. Mengapa sabun tidak bekerja aik dengan air sadah ?
JAWAB :
Karena kedalam air sadah mengandung ion ca2+ dan Mg+ yang jika bereaksi
dengan anion HCO3-, CL-, SO42- yang akan membuat sabun sukar berbuih, memboroskan
sabun dan menimbulkan lemak.
3. Apakah air dilaboratorium anda tergolong sadah ? bagaimana cara membuktikannya ?
JAWAB :
Tidak, air sadah tetapi air lunak sehingga mudah berubah. Hal ini dibuktikan dengan
pemakaian jumlah tetesan air sabun yang sedikit dan membuat sempurna proses penyabunan.

4.

Jika pada pabrik sabun tersedia minyak kelapa sebanyak 1 ton, berapa kg kah kira kira
natrium hidroksida , NaOH yang diperlukan untuk membuat sabun ?
JAWAB :

O
CH2 O C CxHx
CH2 OH
O
CH O C CxHx + 3NaOH

O
CH OH + 3CxHx C ONa+

O
CH2 O C CxHx
Berdasarkan reaksi tersebut 1 mol minyak kelapa ( asam lemak ) membutuhkan 3
mol basa sehingga jika minyak kelapa 1 ton maka membutuhkan sekurang kurang nya 3 ton
( 3000 kg ) NaOH untuk membuat sabun.
XII. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan :
1. Hidrolisis suatu ester dalam pelarut basa disebut saponifikasi. Hasil raksi ini adalah garam
dan alkohol.
2. Hasil reaksi garam dan alkohol disebut ester.
3. Ester berbau enak, wangi bunga-bungaan dan buah-buahan berasal dari ester.
4. Saponifikasi asam lemak adalah reaksi penyabunan asam lemak dengan basa yang
menghasilkan sabun dan oliserol.
5. Reaksi-reaksi ester
Hidrolisa asam karboksilat
Amonolisa amida
Alkoholisa terentuk ester yang lain
6. Dapat mengenali bau khas beberapa ester
Isoamil asetat aroma pisang
Metil benzoat aroma anggur
Butil asetat aroma pisang
XIII. Daftar Pustaka

Anwar,S. 1994. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga


Gita,nana. 2007. Kimia Dasar Jilid 2.Bandung:ITB
Respati. 1986 . Pengantar Kimia Organik . Jakarta : Balai pustaka
Sunaryan ,Yayan. 2012.Kimia Dasar 2.Bandung:yarmawidya
Wilbraham.1992. Kimia . Jakarta : balai pustaka