Anda di halaman 1dari 13

PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI GULA

(PG. Pesantren Baru Kediri - Jawa Timur)


TEKNIK PRODUKSI BERSIH
SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017
DOSEN PEMBIMBING

: Ir. Muchtar Ghozali, M.sc

Oleh :
Dahliana Alami

141424008

3A- D4 Teknik Kimia Kimia Produksi Bersih

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Gula pasir merupakan salah satu dari sembilan bahan pangan pokok yang memberikan
kontribusi lebih dari 90% dari pemenuhan konsumsi masyarakat. Pertumbuhan konsumsi
gula di Indonesia yang mencapai nilai 1,44% per tahun tidak diimbangi dengan peningkatan
produksi gula yang menyebabkan kebutuhan gula dalam negeri harus ditambahkan dengan
cara mengimpor dari luar negeri. Pertumbuhan impor gula ini mencapai 21,6% per tahun
(Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2000).
Perbaikan kinerja pabrik gula dapat dicapai salah satunya melalui pendekatan pengelolaan
lingkungan yang dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi, yaitu
pendekatan pengelolaan lingkungan yang ditujukan ke arah pencegahan terjadinya limbah.
Maka dilakukan produksi bersih pada industri tersebut. Produksi bersih mengarah kepada
efisiensi produksi sekaligus mengurangi limbah yang dihasilkan sehingga dapat mengurangi
biaya untuk penanganan limbah. Salah satu perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
yang melakukan kegiatan penanaman tebu dan memproduksi gula tebu adalah PT.
Perkebunan Nusantara X (Persero) Jawa Timur, dengan Pabrik Gula Pesantren Baru sebagai
salah satu pabriknya yang menghasilkan gula dengan

kapasitas besar

(5000 TCD).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Lestari,Ajeng, 2006) terdapat potensi penerapan
produksi bersih pada industri gula kristal putih di PG.Pasantren Baru Kediri-Jawa Timur.
Penerapan produksi bersih yang dapat dilakukan yaitu dengan penghematan konsumsi air
residu pada boiler, penggantian bahan kimia yang lebih effisien, produk samping yang dapat
dimanfaatkan kembali, efisiensi penggunaan oli dan peningkatan K3 dengan cara Good
Housekeeping.
Sistem imbibisi yang baik dapat mengurangi adanya kehilangan gula dalam ampas.
Pemberian air imbibisi yang belum terkontrol dengan baik pada stasiun gilingan di PG.
Pesantren Baru, memberikan peluang diterapkannya produksi bersih melalui penghematan air
imbibisi. Penghematan ini dilakukan untuk mencegah pemberian air imbibisi yang berlebihan
yang dapat meningkatkan biaya pengolahan air dan meningkatkan kadar air ampas yang
dihasilkan. Pemanfaatan pada produk samping seperti blotong diolah menjadi biokompos
untuk kesuburan tanaman tebu, dan ampas(Bagasse) tebu dimanfaatkan untuk bahan bakar
pada ketel.

BAB II
PROSES PADA INDUSTRI GULA

A. Bahan Baku
Dalam proses pembutan industri gula yaitu menggunakan Tebu, komposisi
nira tebu adalah :

Bahan pembantu yang digunakan adalah beberapa zat kimia, yaitu


1. Asam Phospat Cair
Bahan pembantu yang digunakan dan dicampurkan pada nira mentah di tangki nira
tertimbang pada unit operasi purifikasi. Tujuan pemberian asam phospat cair ini adalah
untuk menambah kadar phospat pada nira mentah, sehingga dalam proses pemurnian
dapat dengan mudah terbentuk endapan Kalsium Phospat (endapan inti) yang dapat
menyerap warna. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut
P2O5 + 3H2O
2H2OPO4
2H2OPO4 + 3Ca(OH)2
Ca3(PO4)2 + 6 H2O
2. Susu Kapur (Ca(OH)2)
Bahan pembantu yang berfungsi untuk menetralkan nira, mencegah terbentuknya
inversi gula, dan membentuk endapan kotoran dalam nira.
3. Belerang
Bahan pembantu yang digunakan pada unit operasi purifikasi dan digunakan dalam
bentuk sulfit yang bertujuan untuk menetralisir kelebihan susu kapur dan menyerap
atau menghilangkan zat warna pada nira.
S (s) + O2 (g)
SO2 (g)
4. Flokulan
ahan pembantu yang digunakan di unit operasi purifikasi. Tujuan pemberian flokulan
adalah sebagai katalisator guna mempercepat proses pengendapan kotoran dalam
clarifier sehingga proses pengendapan berlangsung lebih cepat dan untuk
meningkatkan
densitas nira kotor sehingga akan lebih mudah untuk disaring.
5. Desinfektan
Bahan kimia ini digunakan untuk membunuh bakteri penyebab kerusakan sukrosa.
6. Caustic soda (NaOH)
Digunakan untuk pembersihan (skrap),dan berfungsi sebagai pelunak kerak-kerak
yang terbentuk sehingga tidak menghalangi proses pindah panas dalam nira.
B. Proses Produksi
Diagram Alir Proses Pada Pabrik Gula Pasantren Baru Kediri-Jawa Timur

Proses pembuatan Gula terdiri dari beberapa pengolahan, pengolahan yang dilakukan
di industri gula Pasantren Baru Kediri terditi dari beberapa pengolahan yaitu :
1. Stasiun Gilingan
Pada stasiun gilingan bertujuan untuk mengekstrak nira yang terkandung di dalam
tebu, sehingga kandungan gula pada ampas sedikit. Pada proses ini dilakukan
Lima kali proses penggilingan, ampas mulai diberikn pada air imbibisi dengan
suhu 60oC dilkukan pada penggilingan ke 4, yang bertujuan untuk melarutkan sisa
nira yang masih terdapat dalam ampas tebu. Bahan penunjang yang diigunakan di
stasiun penggilingan ini adalah desinfektan yang berfungsi untuk mematikan
mikroorganisme merugikan seperti Leuconostoc sp yang dapat merusak sukrosa.
Selain itu juga ditambahkanlarutan kapur atau Ca(OH) 2 untuk menaikkan pH nira
dari 5.2 menjadi sekitar 6.2 6.3 agar resiko perpecahan nira bisa berkurang.

2. Stasiun Pemurnian (Purifikasi)


Stasiun pemurnian bertujuan untuk memisahkan kotoran seperti partikel kasar
(pasir, dan ampas yang masih terbawa mikroorganisme dalam nira mentah),
partikel koloid (melayang) seperti non-suspended sugar dan partikel terlarut

(misalnya desinfektan yang ikut terbawa dari stasiun penggilingan) dalam nira
mentah sebanyak mungkin dengan cara yang efektif. Proses pemurnian yang
dilakukan di PG. Pasantren Baru yaitu pemurnian secara fisika-kimia. Pada tangki
penampung ini, nira ditambahkan dengan triple super phospat cair (TSP) dengan
tujuan menambah konsentrasi Phospat dari sekitar 150 ppm hingga 300 ppm
(merupakan syarat proses purifikasi nira mentah) sehingga mempermudah proses
pembentukan inti endapan nantinya yaitu Ca3(PO4)2. Nira mentah yang telah
ditimbang akan dipompa menuju juice heater I yang bersuhu 75 80 oC yang
merupakan kondisi optimal untuk pembentukan endapan CaSO 3, campuran nira
dan susu kapur dihomogenkan dalam defekator I hingga pH larutan mencapai 7.0
7.2. Tujuannya adalah mengikat asam serta kotoran dalam nira dan
mengendapkan bahan non-gula.
Reaksi kimianya adalah sebagai berikut.
SO2 + H2O
H2SO3
3
+
H2SO
H + SO3SO3- + Ca2+
CaSO3
Lalu dilakukan penambahan susu kapur dan dihembusi dengan gas SO 2 hingga pH
nira menjadi 7 dan dipanaskan kembali hingga suhu 100 105oC. Setelah itu nira
masuk ke door clarifier untuk diendapkan kotorannya dan terakhir disaring.Hasil
akhir dari Stasiun Pemurnian adalah nira jernih.
3. Stasiun Penguapan (Evaporasi)
Stasiun penguapan adalah stasiun yang bertujuan untuk menguapkan kandungan
air yang terdapat pada nira jernih (nira encer) dari stasiun pemurnian sehingga
dihasilkan nira kental. Nira encer dari Stasiun Pemurnian masuk ke pemanas III
hingga suhu nira mencapai 100 105oC.Selanjutnya nira masuk ke evaporator I
dengan tekanan sebesar 136 cmHg, dan tekanan hampa/vakum sebesar 0,34
cmHg. Evaporator I akan menghasilkan nira kental I dan uap I. Selanjutnya nira
kental I masuk kembali ke dalam evaporator II dengan tekanan 102 cmHg dan
tekanan vakum 10,4 cmHg, menggunakan uap I untuk proses pemanasannya, dan
menghasilkan nira kental II dan uap II. Kemudian masuk ke evaporator III dengan
kondisi tekanan 70 cmHg dan tekanan vakum 37 cmHg, menggunakan uap II
untuk proses pemanasannya, menghasilkan uap III dan nira kental III. Pada
evaporator IV digunakan tekanan 40 cmHg dan tekanan vakum sebesar 65 cmHg
dengan titik didihnya sebesar 50oC-55oC.
4. Stasiun Kristalisasi

Stasiun masakan atau stasiun kristalisasi adalah stasiun yang bertujuan untuk
mengkristalkan nira kental sehingga didapatkan kristal gula sesuai yang
diinginkan. Proses kristalisasi melewati 3 tahapan, yaitu :
a. Pembuatan Gula Bibitan
b. Pembesaran Kristal Gula
Dilakukan dengan cara mendekatkan molekul sukrosa pada inti kristal.
Sehingga akhirnya molekul tersebut menempel pada inti kristal. Proses
ini dilakukan dalam Vacuum Pan pada daerah yang stabil
c. Krsitalisasi sempurna
Tahap pembesaran kristal dilanjutkan dengan penguapan larutan untuk
memperoleh kepekatan setinggi-tingginya dengan tanpa menambah larutan
baru (hanya ditambahkan air seperlunya/secukupnya untuk menghindari
terbentuknya kristal palsu dan juga menguatkan kristal dan mengurangi
larutan di sekeliling kristal) dan tetap menjaga agar proses ini berlangsung
pada daerah daerah stabil.

5. Stasiun Sentrifugasi
Stasiun sentrifugasi bertujuan untuk memisahkan kristal gula dengan
stroopnya atau larutannya. Stasiun sentrifugasi memiliki 8 unit HGF (High Grade
Fugal) dengan rata-rata putaran 1200 rpm dan 9 unit LGF (Low Grade Fugal)
dengan rata-rata putaran 1800-2000 rpm. Penggunaan HGF adalah untuk

sentrifugasi masakan A dan sentrifugasi gula SHS, sedangkan LGF adalah untuk
sentrifugasi masakan C, D1, dan D2.
6. Stasiun Penyelesaian
HGF-SHS pada stasiun sentrifugasi kemudian dilewatkan ke Bucket Elevator 1
untuk menuju Sugar Dryer and Cooler. Sugar Dryer and Cooler adalah unit
pengering gula dengan hembusan udara panas dan udara suhu normal.

BAB III
POTENSI PRODUKSI BERSIH
Stasiun Gilingan
a. Penerapan teknologi bersih

Limbah pada stasiun gilingan menghasilkan ampas. Kemudian ampas tersebut dapat di
recycle menjadi pupuk atau ampas akhir 100% dimanfaatkan sebagai bahan bakar di
stasiun ketel untuk menghasilkan uap. Umumnya pabrik gula menerapkan sistem
imbibisi majemuk yaitu menggunakan air panas dan nira gilingan berikutnya. Dari
stasiun gilingan dihasilkan nira mentah yaitu nira yang keluar dari gilingan 1 dan 2.
Nira yang masuk ke peti nira mentah adalah nira dari gilingan I dan gilingan II.
Sebelum masuk ke peti nira mentah nira disaring dengan DSM screen/rotary system
untuk menyaring pasir ataupun ampas halus yang ikut dalam nira. Karena pemakaian
yang terus menerus alat pada pesawat gilingan tentunya akan panas. Untuk
mendinginkan alat ini agar dapat terus bekerja maka disemprotkan air pendingin. Air
yang digunakan adalah air sungai. Sehingga limbah yang dihasilkan dari stasiun
gilingan adalah limbah yang berasal dari proses pendingin tadi dan minyak pelumas
yang menetes karena kebocoran alat serta tumpahan nira.
b. Pemberdayaan 3R (Reduse, Reuse, Recycle)
Nira mentah akan diproses kembali untuk menjadi gula. Nira mentah ini selanjutnya
secara bertahap dimurnikan dari kotoran terlarutnya. Selain untuk pengaturan pH,

proses karbonatasi juga dimaksudkan untuk membantu pengendapan suspensi.


Sedangkan proses sulfitasi bertujuan untuk pemucatan dan proses klarifikasi dengan
bantuan

bahan

kimia

pengendap

(coagulant)

adalah

untuk

mengendapkan

makromolekul terlarut. Nira jernih selanjutnya dikirim ke evaporator untuk dikurangi


kandungan airnya hingga 60 brix. Nira pekat selanjutnya dikristalkan di dalam unit
kristaliser. Gula yang dihasilkan adalah gula mentah (raw sugar). Untuk mendapatkan
kualitas yang lebih baik (refined sugar) maka gula mentah tersebut diproses ulang.

Stasiun pemurnian nira

A. Penerapan teknologi bersih


Pemberdayaan 3R (Reduse, Reuse, Recycle)
a. Recovery and Reuse (Penggunaan dan Daur Ulang Kembali)
Penggunaan kembali pada tempatnya (On-site recovery and Re-use) adalah
penggunaan kembali limbah yang dihasilkan pada proses yang sama atau pada proses
yang lain di industri tersebut :
1. Penggunaan kembali air hasil akhir pengelolaan limbah
2. Pengambilan tebu yang tercecer di emplacement untuk dimasukkan ke stasiun
gilingan
3. Penggunaan ampas tebu dari stasiun gilingan sebagai bahan bakar pada stasiun ketel
4. Penggunaan uap nira dari stasiun masakan (kristalisasi) untuk stasiun penguapan
(evaporasi)
5. Penggunaan uap nira dari evaporator I untuk pengoperasian evaporator berikutnya,
nira yang terkandung dalam uap bekas dipisahkan dengan sap vanger sehingga nira
kental bisa dikembalikan ke proses

6. Peleburan kembali gula hasil yang biasanya pada awal giling masih kotor untuk
dijadikan umpan pada stasiun kristalisasi
7. Peleburan kembali gula yang tidak memenuhi kriteria produk (gula kasar dan gula
halus) di stasiun sentrifugasi untuk dijadikan bibitan di stasiun kristalisasi
8. Tumpahan nira kental di stasiun kristalisasi yang terjadi karena kerusakan peralatan
ditarik kembali dengan pompa ke timbangan boulogne di stasiun pemurnian
(purifikasi) untuk mengalami proses kembali
9. Ceceran oli yang telah diserap dengan ampas di stasiun penggilingan digunakan pada
ketel sebagai tambahan bahan bakar pada saat terjadi jam berhenti giling yang
biasanya dikarenakan kerusakan alat, dan gula yang tercecer di sekitar timbangan
curah diambil kembali secara manual untuk dilebur kembali di stasiun masakan
sehingga jumlah kehilangan produk bisa lebih dikurangi.
b. Recycle (pemanfaatan lain)
Abu ketel dan blotong yang dihasilkan di stasiun ketel dan pemurnian juga diproses
sebagai biokompos. Penggunaan biokompos saat ini masih terbatas pada kalangan
petani kebun. Pemanfaatan Blotong pada stasiun pemurnian nira, antara lain:
1. Sumber Protein
Kandungan protein dari nira sekitar 0.5 % berat zat padat terlarut. Dari kandungan
tersebut telah dicoba untuk melakukan ekstraksi protein dari blotong dan ditemukan
bahwa kandungan protein dari blotong yang dipress sebesar 7.4 %. Protein hanya
dapat diekstrak menggunakan zat alkali yang kuat seperti sodium dodecyl sulfate.
Kandungan dari protein yang dapat diekstrak antara lain albumin 91.5 %; globulin 1
%; etanol terlarut 3 % dan protein terlarut 4 %.
2. Briket
Pada saat ini pemanfaatan blotong antara lain sebagai bahan bakar alternative dalam
bentuk briket. Untuk pembuatan briket blotong dipadatkan lalu dikeringkan.
Keuntungan menggunakan briket blotong adalah harganya yang lebih murah daripada
kayu bakar dan bahan bakar lain. Akan tetapi untuk membuat briket ini diperlukan
waktu cukup lama antara 4 sampai 7 hari pengeringan, selain itu juga tergantung dari
kondisi cuaca.
B. Arah produksi bersih
Rekomendasi produksi bersih yang dapat dilakukan adalah penurunan kadar air ampas,
penggunaan dolomit sebagai subtitusi penggunaan kapur pada stasiun pemurnian,
produksi beberapa produk samping yang bermanfaat dan good house keeping.

1. Penurunan kadar air ampas


Air imbibisi digunakan diawal gilingan akhir yang bisa dilakukan dengan air panas
dengan tujuan untuk memperbaiki ekstraksi gula dari ampas. Sistem imbibisi yang
baik dapat mengurangi adanya kehilangan gula dalam ampas. Pemberian air imbibisi
yang belum terkontrol dengan baik pada stasiun gilingan, memberikan peluang
diterapkannya produksi bersih melalui penghematan air imbibisi. Penghematan ini
dilakukan untuk mencegah pemberian air imbibisi yang berlebihan yang dapat
meningkatkan biaya pengolahan air dan meningkatkan kadar air ampas yang
dihasilkan. Penurunan kadar air pada ampas sebesar 6,52% yang dihasilkan di stasiun
penggilingan diduga dapat menghemat pemakaian residu. Pada kondisi kadar air
ampas mencapai mencapai 50 %, dihasilkan energi panas yang sedikit sehingga
tambahan energi panas yang dibutuhkan dari residu sedikit pula Biaya penghematan
yang dapat dihasilkan adalah dengan penghematan air imbibisi pertahunnya.
2. Penggunaan dolomit sebagai subtitusi penggunaan kapur pada stasiun
pemurnian
Penggunaan dolomit sebagai substitusi penggunaan kapur dengan perbandingan
40%MgO : 60%CaO pada stasiun pemurnian dapat memberikan penghematan pada 1
musim giling. Berdasarkan fakta tersebut, maka penggunaan dolomit pada pemurnian
nira direkomendasikan untuk menggantikan penggunaan kapur. Prospek ini tidak
hanya didasarkan atas faktor teknis saja, namun juga didukung oleh faktor lain antara
lain biaya atau harga dolomit yang lebih rendah dibandingkan dengan kapur dan
adanya cadangan dolomit yang besar dan belum dieksplorasi secara intensif. Mutu
nira jernih pada pemurnian dengan penggunaan dolomit adalah lebih baik bila
dibandingkan dengan mutu nira jernih yang dihasilkan dari proses pemurnian dengan
menggunakan 100% CaO. Penambahan susu kapur dan gas SO2 pada proses
pemurnian,menjadikan nira yang diuapkan memiliki kemungkinan menimbulkan
kerak badan penguap. Kerak dan korosi ini dapat menghambat proses penguapan
karena proses pindah panas menjadi terhambat. Dikarenakan penggunaan MgO tidak
menimbulkan kerak, maka penghambatan jumlah kerak yang terbentuk adalah sebesar
40%.

PERHITUNGAN PRODUKSI BERSIH


Jika
Imbibisi

= 32,36 %

= 51,25 % = 51%

= 1,01 %

NCV ampas

= 4250 - 4850w - 1200s , Hugot (1986)


= 4250 - (4850 x 0,51) - (1200 x 0,0101)
= 1764,5 kkal/kg ampas

NCV setelah dikurangi loss (Qc) = 1764,5- 251,5 = 1513 kkal/kg ampas
Maka, 1 kg ampas akan menghasilkan

1513
630,15

= 2,4 kg uap

Dimana 1 kg ampas = 1513 kkal


*) Jika diasumsikan ampas yang digunakan adalah sebanyak 175.438.596,5 kg ampas/tahun,
maka energi ampas yang
dihasilkan

175.438 .596,5 kg ampas


tahun

1513 kkal
kg ampas

= 2,6 x 1011 kkal/tahun


Sedangkan untuk energi IDO dibutuhkan sebesar
= 2,7 x 1011 - 2,6 x 1011
= 0,1 x 1011 kkal/tahun
= 0,1 x 1011 kkal/tahun x

1 kg IDO
9500 kkal

= 1.052.631,5 kg residu/tahun
Jadi, konsumsi residu dapat dihemat sebesar
= (2.300.663 - 1.052.631,5)
= 1.248.031,421 kg/tahun
Asumsi harga residu = Rp. 2175/kg

Maka penghematan residu adalah sebesar

1.248 .031,42 kg
tahun

RP . 2175
kg

= Rp. 2.714.468.341/tahun
Penggunaan air imbibisi dapat menghemat 6,52% pemakaian air. Pemakaian air
imbibisi

menurut

data

adalah

38,88%

dari

ton

tebu

tergiling,

yaitu

sebesar

257.642,0035ton/tahun. Jadi, pemakaian harian adalah sebesar 1750,69 m3/hari.


= 1750,69 m3/hari.

Jumlah air imbibisi

Penghematan sebesar 6,52% = (6,52/100) x 1750,69 m3/hari


= 114,145 m3/hari.
= 114,145 m3/hari x Rp. 175,= Rp. 19.975,37 /hari
= Rp. 3.595.567,122 /tahun
PERHITUNGAN PENGHEMATAN ENERGI PENGUAPAN
Jumlah air yang diuapkan

Berat nira tebu


Ton tebu giling

830.250.560 kg
796.174,3 ton

brix nira jenuh


brix syrup

12,96
64

= 831,6 kg uap/ton tebu giling


Diketahui air diuapkan pada evaporator

= 831,6 kg uap/ton tebu giling

1 kg uap = 619,6 kkal


Energi yang dibutuhkan pada evaporator = 619,6 kkal/kg uap x 831,6 kg uap/ton tebu
= 515.259,36 kkal/ton tebu x 796.174,3 ton tebu/tahun
= 4,102 x1011 kkal/tahun
Jika terdapat penghematan air imbibisi sebesar 2 persen, maka dapat dihemat :

Energi Uap

Konsumsi uap = 8,204 x 109 kkal/tahun x

= 2%x 4,102x1011 kkal/tahun


= 0.0079x1011 kkal/tahun
= 8,204 x 109 kkal/tahun

= 13.240.800,52

Daftar Pustaka :

1 kg uap
619,6 kkal

1 kg uap
619,6 kkal

Lestari,Ajeng.2006. Studi potensi penerapan produksi bersih Pada industri gula.


Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.