Anda di halaman 1dari 9

\

RESUME
ENDAPAN EMAS OROGENIK PADA BATUAN METAMORF
SEBAGAI SUMBER ENDAPAN EMAS LETAKAN (PLACER
GOLD)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Tugas Mata Kuliah Petrologi dan Mineralogi
Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung

Disusun oleh :
Dityanto Muhammad Taufik (10070113009)
Burhan Hamdani (10070113024)
Beni Kurniawan (10070113063)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG


1438 H / 2016 M

RESUME
ENDAPAN EMAS OROGENIK PADA BATUAN METAMORF
SEBAGAI SUMBER ENDAPAN EMAS LETAKAN (PLACER
GOLD)

A.

Pengantar
Saat ini, di Indonesia emas sebagian besar ditambang dari jenis deposit

hidrotermal gunung berapi termasuk jenis epitermal, misalnya Pongkor di Jawa barat
(Warmada, 2003), Gosowong di Halmahera, jenis forsiterite misalnya Erstberg, Kucing
Liar, Deep Ore Zone (DOZ) di Papua, dan jenis porfiri misalnya Batu Hijau di Pulau
Sumbawa (Idrus et al, 2007; Imai dan Ohno, 2005) dan Grasberg di Papua. Di Pulau
Sulawesi, emas juga didominasi terkait dengan batuan vulkanik, yang diperpanjang
sepanjang busur magmatik Neogen barat dan utara pulau (Idrus, 2009). Namun, emas
juga telah ditemukan di lengan sebelah tenggara dari Pulau Sulawesi, khususnya di
daerah Langkowala, Kabupaten Bombana dalam bentuk placer dan paleoplacer. Emas
butir pertama kali ditemukan pada sedimen sungai sungai Tahi Ite pada tahun 2008, dan
lebih dari 20.000 penambang emas tradisional telah beroperasi di daerah (Harian
Kompas, 2008). Selama Januari 2009, jumlah penambang emas tradisional di Kabupaten
Bombana meningkatkan secara signifikan dan mencapai total 63.000 orang (Surono dan
Tang, 2009). Emas sekunder tidak hanya ditemukan di sedimen sungai ini (placer), tetapi
juga ditemukan dalam Miosen sedimen dari Formasi Langkowala (paleoplacer).

Gambar 1
Keadaan Geologi Pulau Sulawesi

B.

Keadaan Geologi
Daerah Langkowala, dimana emas placer ditemukan ditandai dengan morfologi

bergelombang-datar dan beberapa sungai besar termasuk sungai Langkowala, sungai


Lausu, sungai Lebu, dan sungai Pampea. Daerah Langkowala terletak antara Mendoke
Gunung di utara dan Rumbia Gunung di selatan. Daerah ini ditempati oleh Awal
Pembentukan Miosen Langkowala (Tmls) yang terdiri dari konglomerat dan batu pasir
(Simandjuntak et al., 1993). Formasi ini adalah bagian dari Molasses Sulawesi, yang
pertama dijelaskan oleh Sarasin dan Sarasin (1901, dalam Surono dan Tand, 2009).
Pembentukan Langkowala yang selaras didasari oleh metasediments Paleozoic dan
batuan metamorf (Pompangeo Complex, Mtpm) dan selaras yang kemudian ditindih oleh
pembentukan Eemoiko (Tmpe), yang terdiri dari bolak kapur-napal-batu pasir, dan
pembentukan Boepinang (Tmpb), yang terdiri dari batu lempung berpasir , napal berpasir,
dan batu pasir. Batuan metamorf Paleozoic adalah dari Permo-Karbon di usia dan
menempati Mendoke dan pegunungan Rumbia. Mika sekis dan metasediments terutama
meta-batu pasir dan marmer biasanya ditandai dengan adanya urat kuarsa atau veinlets
dengan berbagai lebar hingga 2 m. Urat kuarsa atau veinlets diinterpretasikan sebagai
sumber placer atau emas paleoplacer di daerah Langkowala.

Gambar 2
Peta Geologi Area Langkowala
C.

Metode penelitian
Sebagaimana diuraikan sebelumnya, ini adalah studi pendahuluan, yang

diprakarsai oleh sebuah studi lapangan, dan sampling. Tidak ada penelitian sebelumnya di
daerah terutama berfokus pada mineralisasi emas primer sebagai sumber emas placer
sekunder. Beberapa endapan sungai dan urat kuarsa sampel diambil untuk geokimia
dianalisis di laboratorium. X-Ray Fluorescence (XRF) telah digunakan untuk seluruhbatuan analisis geokimia untuk sampel yang diambil oleh Makkawaru dan Kamrullah
(2009). Sampel yang diambil oleh PT. Panca Logam Makmur dianalisis oleh AAS.

D.

Emas Sekunder Placer di Area Langkowala


Butiran emas hadir baik dalam sedimen aliran sungai aktif masa kini dan di

sedimen tersier dari Langkowala Formasi. Sebagian besar penambang emas tradisional
telah beroperasi dengan membuat 3 - 6 meter pit vertikal untuk menggali bahan
pembentukan Langkowala dan dengan panning sedimen aktif untuk memulihkan gandum
emas. Beberapa penambang menggabungkan panning dengan metode sluice box untuk
memulihkan lebih banyak emas. Lokasi emas yang direncanakan menunjukkan bahwa
emas placer didistribusikan tidak begitu jauh dari kisaran gunung metamorf.
Data awal juga menunjukkan bahwa kelimpahan butiran emas menurun sebagai
jarak dari pegunungan metamorf meningkat. Emas juga ditemukan dalam bahan colluvial
sepanjang lereng gunung Wumbubangka dan terisolasi lembah pegunungan. Analisis
geokimia menggunakan XRF dilakukan oleh Makkawaru dan Kamrullah (2009) dari
enam sampel tanah dan aliran sedimen yang diambil menunjukkan bahwa rentang emas
(Au) grade dari 50 g / t untuk 140 g / t (Tabel 1). Logam dasar termasuk Cu, Zn, Pb, dan
unsur-unsur lain seperti As, Zr, S, Ti, V, K, dan Ca relatif rendah, dengan pengecualian Fe
gradasi antara 4,06 dan 7,89 wt%. Logam dasar dan S menyiratkan mineralisasi lemah
sulfida-logam dasar-bearing di deposit utama. Kelimpahan butiran emas menurun dengan
jarak dari lereng atau taji dari pegunungan metamorf yang meningkat. Ini mungkin berarti
bahwa butiran emas tidak begitu jauh diangkut dari sumber utama.
Tabel 1
Data Kimia (XRF) Emas dan Logam Lain pada Hasil Stream Sediments di Area
Langkowala

No.

Elements

1
2
3
4
5
6
7
8

Au
Cu
As
Zn
Zr
Pb
S
Fe

A.001
100
70
50
70
70
40
10
6.69

A.002
50
50
20
87
40
20
20
4.06

A.003
60
80
50
50
70
30
107
4.19

Samples Code
B.001
130
120
220
220
110
40
20
4.77

B.002
110
80
60
60
100
40
10
5.46

C.001
140
90
180
180
40
20
170
7.89

C.002
120
50
140
140
70
10
30
5.44

Tabel 2
Data Kimia (XRF) Dari Bantalan Emas Urat Kuarsa Berasal Dari Mika Sekis Di
Gunung Wumbubangka Di Tenggara Flank Dari Gunung Rumbia Di Selatan Langkowala
Lokasi Emas Placer

No

Sample Codes
Sample 1

(Quartz vein in
Wumbubangka

E.

Repetition
1
2

Element (in g/t, except Fe in wt. (%)


Au
Zn
As
Pb
S
Fe
3
8
2
7
6.60
2
7
2
8
6.57

6.55

1
2

61
58

6
6

4
3

3
3

20
25

3.73
3.76

Wumbubangka

60

27

3.60

Schist)
BVAL-1

134

Schist
Sample 2
2

Analysis

(Quartz vein in

Beberapa Karakteristik dari Endapan Primer


1. Karakteristik Vein Kuarsa
Investigasi lapangan menunjukan bahwa emas dengan kedudukan vein
kuarsa/veinlets ditemukan dengan asosiasi batuan metamorf Paleozoic memiliki
partikel sekis mika dan metasandstone di Gunung Wumbubangka, sisi utara dari
Gunung Rumbia.
Vein kuarsa ini kebanyakan telah mengalami deformasi, terbreksikan, dan
mengarah parallel pada struktur foliasi di skis mika (Gambar 3a) dengan arah
umum N 300o E. beberapa vein kuarsa memotong struktur foliasia atau vein
kuarsa satu lebih massif dari vein kuarsa lainnya. Vein kuarsa ini memiliki
ketebalan 2cm hingga 2m, sedangkan vein kuarsa fase kedua kebanyakan
memiliki tebal kurang dari 10cm.
2. Mineralisasi and Alterasi Hidrothermal
Pengamatan secara megaskopis menunjukkan urat kuarsa mengandung butiran
halus mineral sulphida (3-5%). Pirit, kalkopirit, sinabar (HgS), stibnite (Sb 2S3),
dan mungkin adanya aresenopirit (FeAsS 2) dengan jumlah yang sedikit yang
terdapat di urat kuarsa dan di bersilifikasi di dinding batuan. Sinabar bercirikan
berwarna merah muda dan keterdapan berlimpah baik pada endapan emas primer
dan endapan sekunder emas placer. Hal ini menunjukkan adanya korelasi antara
kehadiran sinabar dan kadar emas dikedua tipe endapan pada daerah penelitian.
Analisis kimia pada bijih dilakukan oleh Makkwaru dan Kamrullah (2009) yang
keduanya mengambil sampel urat kuarsa dari Gunung Wumbubangka dengan tiga
kali pengulangan analisis dengan menunjukakan keragaman kadar emas mulai
dari 2 dan 134 g/t (Tabel 2). Perhitungan kadar emas dari pabrik pengolahan

mengindikasikan rata-rata Au 40 g/t. Kadar logam dasar Pb dan Zn relatif rendah.


Kadar Fe relatif tinggi dengan rata-rata 5.14 wt%. Hal ini konsisten dengan
konsentrasi dari logam dasar pada tanah/stream sediment. Fe dengan konsentrasi
tinggi bercirikan pada dinding batuan metamorf dari urat kuarsa (cf.Groves et all.
2003).
Dinding batuan (batuan metamorf) sangat kuat dengan pelapukan, sehingga hal
ini sangat jarang untuk mengamati singkapan dengan baik pada daerah tersebut.
Beruntungnya, penggalian sepanjang taji dari pengunungan metamorf dibuat oleh
perusahaan membantu kita untuk mengamati dengan jelas kehadiran urat kuarsa
dan batuan alterasi hidrotermal. Umumnya, dinding batuan sangat mudah
teralterasi. Zona alterasi kuat hanya dibatasi di sekitar urat kuarsa (seperti
halos/selvage). Jenis alterasi hidrotermal dikenali di lapangan termasuk silifikasi,
lempung + silica (argillic), alterasi karbonat, dan mungkin karbonisasi. Silifikasi
ditunjukkan oleh silikasi metasedimen, lempung +silica (argillic) adalah terdapat
dalam jumlah banyak di sekitar urat kuarsa atau sepanjang zona strukturral.
Alterasi karbonat ditunjukkan oleh kehadiran veinlet kalsit. Karbonisasi mungkin
ditandai oleh (jarang/langka) terbentuknya grafit dengan umumnya berwarna
hitam di urat kuarsa dan teralterasi mika sekis.

Gambar 3
Peta Geologi Area Langkowala

DISKUSI

Berdasarkan data di lapangan, ditafsirkan bahwa emas sekunder (placer) di


Bombana berasal dari emas orogenik, jenis deposit hidrotermal untuk menggambarkan

emas bantalan memotong urat kuarsa yang mana berasal dari bagian batuan metamorf
sekis hiaju (cf. Groves et al., 1998). Keterdapatan Sinabar dan Genetik Stibnit
mengidentifikasikan bahwa deposit emas orogenik di daerah penelitian adalah
penempatan transisi antara epizonal dan mesozonal dalam model konseptual dari deposit
emas orogenik.(Groves et al., 1998,2003). Itu berarti bahwa deposit mungkin terbentuk
pada kedalaman sekitar 5 km di bawah permukaan. Di samping itu, diamati karakteristik
emas bantalan urat kuarsa memenuhi kriteria tipe emas orogenik, memotong
tersegmentasi. Terbreksikan dan kadang-kadang sigmoidal yang merupakan indikasi
utama kondisi rapuh transisi epizonal-mesozonal.
Beberapa analisis laboratorium, terutama penyertaan fluida dan Raman
spektrometri dari urat kuarsa serta studi facies metamorf merupakan hal yang krusial
yang harus dilakukan untuk pemahaman yang lebih baik dari jenis deposit. Kehadiran
intrusi emas bantalan dalam banyak kasus deposit emas orogenik di seluruh dunia
sebagian besar terkubur di bawah permukaan. Zona rekahan merupakan komponen
struktur geologi yang penting sebagai jalan untuk cairan fluida hidrotermal mengisi
rekahan yang bertanggung jawab untuk pembentukan deposit emas.

KESIMPULAN

Beberapa poin dapat disimpulkan dari penelitian ini sebagai berikut :

Sumber utama endapan sekunder (placer) emas di daerah Langkowala


adalah jenis deposit emas orogenik dalam bentuk memotong urat kuarsa
yang bersumber dari batuan metamorf, terutama mika sekis dan
metasedimen (bagian dari Pompangeo Coplex) yang menduduki gunung
Rumbia yang mencakup Gunung Wumbubangka di Selatan dan mungkin

Gunung Mendoke metamorf di Utara.


Setidaknya ada dua tahapan urat kuarsa mengandung emas yang diakui di
lapangan. Fase yang pertama urat kuarsa sejajar dengan foliasi batuan
metamorf (N 3000N/60) sedangkan fase urat kuarsa kedua memotong

fase yang pertama.


Kelimpahan sinabar dan stibnite yang tinggi terkait dengan deposit emas
sekunder dan primer mengacukan bahwa deposit emas orogenik dibentuk
di tingkat level yang dangkal ( 5 km di bawah permukaan paleo) diantara

transisi epizonal dan mesozonal dari model kontinum jenis deposit emas/
Kadar emas di deposit orogenik primer bervariasi dan mencapai hingga
134 g/t oleh AAS, dengan perhitungan sederhana kadar au dari
pengolahan pabrik diindikasikan rata-rata kadar au berkisar 40 g/t (sangat
tinggi). Namun hal ini menghadapi masalah dalam metode penambangan
diakrenakan diskontunuitas, relative kecil urat kuarsa yang mengandung

emas.
Penemuan deposit emas orogenik bersumber dari batuan metamorf di
sekitar pegunungan Wumbubangka bisa menjadi tantangan baru dan
target untuk eksplorasi emas di Indonesia pada masa depan.