Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Homeostasis adalah suatu kondisi lingkungan internal sel yang
statis atau stabil didalam tubuh. Salah satu bentuk adanya proses menjaga
homeostasis suatu sel oleh makhluk hidup adalah adanya mekanisme
dalam tubuh hewan untuk mempertahankan suhu internal tubuhnya agar
tetap berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir atau yang disebut
dengan mekanisme termoregulasi.
Mekanisme termoregulasi tersebut menjadi penting bagi suatu
mahkluk hidup karena suhu berpengaruh kepada tingkat metabolisme.
Suhu yang tinggi akan menyebabkan aktivitas molekul-molekul semakin
tinggi karena energi kinetiknya semakin besar pula. Akan tetapi, kenaikan
aktivitas dengan metabolisme hanya akan bertambah seiring dengan
kenaikan suhu hingga batas tertentu saja. Hal ini disebabkan metabolisme
didalam tubuh diatur oleh enzim (salah satunya) yang memiliki suhu
optimum dalam bekerja. Jika suhu lingkungan atau tubuh meningkat atau
menurun drastis, enzim-enzim tersebut dapat in aktif dan kehilangan
fungsinya.
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh,
dan eksresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi
dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold blood animal) dan hewan
berdarah panas (warm blood anima). Namun lebih dikenal dengan istilah
ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama
tubuh hewan. suhu berpengaruh kepada tingkat metabolisme. Suhu yang
tinggi akan menyebabkan aktivitas molekul-molekul semakin tinggi
karena energi kinetiknya makin besar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan termoregulasi ?

2. Bagaimanakah pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh


pada hewan homoioterm dan poikiloterm?
3. Bagaimana peran termoregulasi pada hewan Ektoterm dan
Endoterm ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang termoregulasi.
2. Untuk mengetahui pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu tubuh
pada hewan homoioterm dan poikiloterm.
3. Untuk mengetahui pengaturan suhu pada tubuh hewan ektoterm
dan endoterm.
1.4 Manfaat Penulisan
1. Bagi masyarakat umum dapat mengetahui bagaimana proses
terjadinya perubahan suhu tubuh pada hewan dan bagaimana cara
hewan menyesuaikan suhu pada lingkungan yang berbeda serta
bagi mahasiswa dapat mengetahui proses pengaturan suhu tubuh
pada hewan.
2. Dengan adanya makalah ini, mahasiswa dan masyarakat dapat
memberikan wawasan serta pemahaman terhadap pengaturan suhu
tubuh hewan ( termoregulasi) salah satunya pada perternak hewan,
seperti peternak itik yang dalam pengembangannya harus
membutuhkan suhu yang optimal.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Termoregulasi
Termoregulasi adalah proses yang terjadi pada hewan untuk
mengatur suhu tubuhnya supaya tetap konstan, dan supaya suhu tubuhnya
tidak mengalami perubahan yang terlalu besar. Pengaturan suhu tubuh
2

(termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemenelemen dari homeostasis. Sebagian besar hewan dapat bertahan hidup
menghadapi

fruktuasi

lingkungan

eksternal

yang

lebih

ekstrim

dibandingkan dengan keadaan yang sangat ditolerir oleh setiap individu


selnya. Meskipun spesies hewan yang berbeda telah diadaptasikan
terhadap kisaran suhu yang berbeda-beda, setiap hewan mempunyai
kisaran suhu yang optimum. Didalam kisaran tersebut

banyak hewan

dapat mempertahankan suhu internal yang konstan meskipun suhu


eksternalnya berfruktuasi.
Suhu merupakan salah satu faktor pembatas penyebaran hewan,
dan selanjutnya menentukan aktifitas hewan. Banyak hewan yang suhu
tubuhnya disesuaikan dengan suhu lingkungan, kelompok hewan ini
disebut hewan berdarah dingin atau poikioterm atau koniomer suhu
(termokonformer). Poikiotermik berarti suhu berubah (labil). Sebetulnya
suhu tubuh tidak betul-betul sama dengan lingkungan, sebab kalau diukur
dengan teliti, suhu selnya sedikit di atas suhu lingkungannya.Lebih sedikit
hewan yang mempertahankan suhu tubuhnya, kelompok hewan ini disebut
hewan berdarah panas atau homeotermik atau regulator suhu
(termoregulator). Yaitu kelompok hewan yang mengatur suhu tubuh secara
parsial, yaitu bahwa regulasinya terbatas pada bagian tubuh tertentu.
metabolisme sangat sensitif terhadap perubahan suhu lingkungan
internal seekor hewan. Sebagai contoh, laju respirasi seluler meningkat
seiring peningkatan suhu sampai titik tertentu dan kemudian menurun
ketika suhu itu sudah cukup tinggi sehingga mulai mendenaturasi enzim.
Sifat-sifat membran juga berubah dengan perubahan suhu. Seekor hewan
endotermik memanaskan tubuhnya terutama dengan cara menyerap panas
dari sekelilingnya. Jumlah panas ini diperoleh dari metabolismenya sendiri
umumnya dapat diabaikan, sebaliknya seekor hewan endotermik
mendapatkan sebagian besar atau semua panas tubuhnya dari metabolisme
tubuhnya sendiri.
2.2 Peran Suhu Tubuh yang Stabil bagi Hewan
Suhu tubuh pada kebanyakan hewan

dipengaruhi

oleh

lingkungannya. Ada hewan yang dapat bertahan hidup pada suhu -20C,
sementara hewan lainnya dapat hidup pada suhu 50 0C, misalnya hewan
3

yang hidup di gurun, bahkan ada hewan yang dapat bertahan pada suhu
yang lebih ekstrem lagi contohnya beberapa cacing polikhaeta yang hidup
di palung laut dalam, pada suhu lebih dari 800C. Meskipun demikian,
untuk hidup secara normal, sebagian besar hewan memilih kisaran suhu
tersebut. Sekalipun suhu tubuh kebanyakan hewan di pengaruhi oleh
lingkungan luarnya, kenyataan menunjukkan bahwa burung dan mamalia
dapat mengatur suhu tubuh mereka, bahkan mempertahankannya agar
tetap konstan, meskipun suhu lingkungan eksternalnya berubah- ubah.
Meskipun demikian, untuk hidup secara normal, sebagian besar
hewan memilih kisaran suhu yang lebih sempit dari kisaran suhu tersebut.
Sekalipun suhu tubuh kebanyakan hewan dipengaruhi oleh lingkungan
luarnya, kenyataan menunjukkan bahwa burung dan mamalia dapat
mengatur suhu tubuh mereka, bahkan mempertahankannya agar tetap
konstan, meskipun suhu lingkungan eksternalnya berubah-ubah.
2.2.1 Suhu Tubuh Yang Konstan
Suhu Tubuh Yang Konstan (Tidak Banyak Berubah) Sangat
Dibutuhkan Oleh Hewan Karena Beberapa Alasan.
1. Perubahan suhu dapat mempengaruhi konfirmasi protein dan
aktivitas enzim. Apabila aktivitas enzim terganggu, reaksi dalam
sel pun akan terganggu. Dengan demikian, perubahan suhu dalam
tubuh hewan akan mempengaruhi kecepatan reaksi metabolisme
dalam sel.
2. Perubahan suhu tubuh berpengaruh terhadap energi listrik kinetik
yang dimiliki oleh setiap molekul zat sehingga peningkatan suhu
tubuh akan memberi peluang yang lebih besar kepada berbagai
partikel zat untuk saling bertumbukan. Hal ini mendorong
terjadinya berbagai reaksi penting dan mungkin meningkatkan
kecepatannya.
Jadi, peningkatan suhu tubuh hewan dapat meningkatkan laju reaksi
dalam sel. Meskipun begitu, jika peningkatan laju reaksi secara tidak
terkendali maka hal itu akan merugikan.
2.3 Klasifikasi hewan berdasarkan kemampuan mempertahankan suhu
tubuh

Berdasarkan kemampuannya untuk mempertahankan suhu tubuh, hewan


dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Poikiloterm
hewan poikiloterm yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu berubah
seiring dengan berubahnya suhu lingkungan. Suhu tubuh bagian
dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan
seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin.
2. Homeoiterm
hewan homeoterm yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu
konstan/tidak berubah sekalipun suhu lingkungannya sangat berubah.
Homeoiterm sering disebut hewan berdarah panas. Pada hewan
homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor
dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan
homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang
berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan
homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi
oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang
waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor
jenuh pencernaan air.
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu
tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi
dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses
radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi
menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas
adalah bangsa burung dan mamalia. Hewan yang berdarah dingin adalah
hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan
sekitarnya. Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas
yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang.
2.4 Interaksi Panas antara Hewan dan Lingkungannya
Hewan mengalami pertukaran panas dengan

lingkungan

sekitarnya, atau dapat dikatakan berinteraksi panas. Sekalipun demikian,


hewan ternyata dapat memperoleh manfaat yang besar dari peristiwa
pertukaran panas ini. Interaksi panas tersebut ternyata dimanfaatkan oleh
hewan sebagai cara untuk mengatur suhu tubuh mereka, yaitu untuk

meningkatkan dan menurunkan pelepasan panas dari tubuh, atau


sebaliknya untuk memperoleh panas.

Radiasi panas
Evaporasi

konduksi
konveksi

Gambar 2.1. kerumitan interaksi/ pertukaran panas antara hewan dan lingkungan. Anak panah
menuju hewan menunjukan perolehan panas, sedangkan yang menjauhi hewan menunjukan
pelepasan panas dari tubuh hewan

Interkasi/pertukaran panas antara hewan dan lingkunganya dapat


terjadi melalui empat cara, yaitu konduksi, konveksi, radiasi dan
evaporasi.
a) Konduksi
Konduksi panas adalah perpindahan atau pergerakan panas antara
dua benda yang saling bersentuhan. Dalam hal ini, panas akan
berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang
suhunya lebih rendah. Laju aliran panas dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, perbedaan suhu awal antara kedua benda, dan
konduktivitas panas dari kedua benda tersebut. Konduktivitas panas
ialah tingkat kemudahan untuk mengalirkan panas yang dimiliki suatu
benda. Setiap benda memiliki konduktivitas panas yang tinggi,
sedangkan hewan memiliki konduktivitas panas yang rendah. Berarti
hewan merupakan penahan panas (insulator) yang baik. Rambut dan
bulu merupakan contoh insulator yang baik. Oleh karena itu, mamalia

dan aves hanya akan melepas sejumlah kecil panas dari tubuhnya ke
benda yang bersenuhan dengannya.
b) Konveksi
Konveksi adalah perpindahan panas antara dua benda, yang terjadi
melalui zat alir (fluida) yang bergerak. Dalam hal ini, panas dari tubuh
hewan dipindahkan ke zat alir yang bergerak di dekatnya. Sebagai
contoh, orang yang menggunakan kipas angin atau berkipas-kipas
karena kepanasan. Pada awalnya, udara di sekitar tubuh orang tersebut
tidak panas, namun sesaat kemudian berubah menjadi panas akibat
adanya konduksi panas dari tubuh orang tersebut. Setelah itu, udara
panas itu mengalir/berpindah tempat, dan tempatnya digantikan oleh
udara lain yang lebih dingin. Demikianlah terjadinya aliran panas
secara konveksi. Proses konveksi ini akan berlangsung terus sampai
suhu tubuh orang itu kembali ke suhu normal, yaitu 370C, perpindahan
panas secara konveksi bisa dipercepat, apabila kecepatan aliran fluida
di sekeliling tubuh ditingkatkan.
Proses perpindahan panas yang dicontohkan di atas menunjukkan
perpindahan panas yang terjadi dari tubuh manusia kelingkungannya.
Akan tetapi, perpindahan panas yang terjadi secara konveksi juga
dapat terjadi dari lingkungan ke tubuh hewan. Contoh yang mudah
untuk hal ini misalnya pada saat udara panas bertiup di dekat kita,
lama-kelamaan tubuh kita akan menjadi panas juga.
c) Radiasi
Radiasi adalah perpindahan antara dua benda yang tidak saling
bersentuhan. Contohnya, misalnya perpindahan panas dari matahari ke
tubuh hewan, dari panas api di perapian ke butuh manusia atau dari
panas lampu OHP ke tubuh pemakai OHP.
Frekuensi dan intensitas radiasi yang dipancarkan tergantung pada
suhu benda yang mengeluarkan radiasi. Semakin tinggi suhu benda
yang mengeluarkan radiasi, semakin tinggi pula intensitas radiasinya.
Selain dapat memancarkan panas, tubuh hewan juga dapat menyerap
panas. Benda yang berwarna hitam (benda hitam) merupakan penyerap
radiasi yang baik. Kulit, rambut, dan bulu merupakan benda hitam
yang dapat menyerap radiasi dengan baik. Pada kenyataannya,

menyerap

radiasi

matahari

(misalnya

dengan

cara

berjemur)

merupakan cara terpenting yang dilakukan hewan (khususnya


poikiloterm) untuk menaikkan atau memperoleh panas tubuh. Kulit
dan rambut yang berwarna gelap akan lebih banyak menyerap radiasi
daripada kulit dan rambut yang berwarna terang.
d) Evaporasi
Evaporasi atau penguapan ialah proses perubahan dari fase cair ke
fase gas. Perubahan benda (misalnya air) dari fase cair ke fase gas
memerlukan sejumlah besar energi dalam bentuk panas. Oleh karena
itu, apabila air direbus menggunakan panas api atau listrik, lamkelamaan air tersebut akan berubah menjadi uap. Jumlah panas yang
diperlukan untuk mengubah air (atau zat cair lainnya) dari fase cair
menjadi gas dinamakan panas penguapan. Hal ini berarti bahwa
penguapan air memerlukan sejumlah panas, dan panas tersebut
biasanya diperoleh dari lingkungan sekitarnya.
Evaporasi merupakan cara yang paling penting bagi hewan untuk
melepaskan panas dari tubuh. Sebagai contoh, jika suhu tubuh
meningkat, manusia akan menanggapi kenaikan suhu tubuh dengan
mengeluarkan keringat. Selanjutnya, keringat akan membasahi kulit,
dan jika dibiarkan, keringat akan menyerap kelebihan panas tubuhpun
turun. Permasalannya, tidak semua hewan memiliki kelenjar keringat.
Hewan yang tidak dapat berkeringat seperti burung dan anjing, jika
tubuhnya panas, akan meningkatkan penguapan melalui saluran
pernafasan mereka, dengan cara terengah-engah. Terengah-engah
(pada anjing), yang diikuti dengan menjulurkan lidahnya, dapat
dianggap sebagai sumber pelepasan panas yang bermakna
Beberapa jenis ikan seperti ikan hiu telah memiliki kemampuan
untuk mempertahankan adanya perbedaan suhu antara suatu bagian
tubuh dengan bagian tubuh yang lain. Ikan tuna juga mampu
meningkatkan laju reaksi metabolik di tubuhnya, terutama pada otot
yang digunakan untuk berenang dan pada saluran pencernaannya
sehingga bagian tersebut selalu lebih panas daripada bagian
lainnya.kemampuan tersebut dimiliki karena adanya heat exchanger
(penukaran panas) pada tubuhnya. Heat exchanger bekerja dengan
8

prinsip counter current (arus bolak-balik). Selama heat exchanger


bekerja, darah pada pembuluh arteri yang lebih dingin mengalir dari
insang berdampingan dengan pembuluh vena yang suhunya lebih
tinggi, yang mengalir ke insang . dengan cara itu, panas dapat
dipindahkan dari darah vena ke darah arteri, dan masuk kembali ke
dalam organ sehingga suhu pada otot renang tetap berkisar antara 1215 C, lebih tinggi daripada suhu air.
Cara terpenting yang dilakukan oleh hewan ektotermik terstrial
untuk memperoleh panas ialah dengan menyerap panas/radiasi
matahari. Hewan dapat meningkatkan penyerapan panas matahari
dengan cara mengubah warna permukaan tubuhnya dan menghadapkan
tubuhnya ke arah matahari. Invertebrata ektotermik terstrial dapat
mengubah warna tubuhnya menjadi lebih gelap untuk memperoleh
panas matahari lebih banyak.
2.5 Termoregulasi Pada Hewan Ektoterm Dan Endoterm
2.5.1 Termoregulasi pada Ektoterm
Ektoterm merupakan hewan yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh
suhu lingkungan sekitarnya. Perolehan panas tubuh pada hewan
ektoterm tergantung pada berbagai sumber panas dilingkungan luar.
Masalah yang dihadapi oleh hewan ektoterm tidak sama, tergantung
pada jenis habitatnya
2.5.2 Termoregulasi Pada Ektoterm Akuatik
Suhu pada lingkungan akuatik relatif stabil sehingga hewan yang
hidup di dalamnya tidak mengalami permasalahan suhu lingkungan
yang rumit. Dalam lingkungan akuatik, hewan tidak mungkin
melepaskan panas tubuh dengan cara evaporasi. Pelepasan panas
melalui radiasi juga sangat kecil kemungkinan nya karena air
merupakan penyerap radiasi imframerah yang efektif. Pelepasan panas
dari tubuh hewan (ikan) terutama terjadi melalui insang. Air juga
merupakan peredam panas yang baik. Kelebihan panas dari tubuh
hewan akuatik akan diserap atau dihamburkan oleh air sehingga suhu
tubuh ikan akan stabil dan relatif sama dengan suhu air di sekitarnya.
Beberapa jenis ikan seperti ikan hiu dan tuna telah memiliki
kemampuan untuk mempertahankan adanya perbedaan suhu antara
suatu bagian tubuh yang lain. Ikan tuna juga mampu meningkatkan
9

laju reaksi metabolik di tubuhnya, terutama pada otot yang di gunakan


untuk berenang dan pada saluran pencernaannya sehingga bagian
tersebut selalu lebih panas daripada bagian lainnya. Kemampuan
tersebut dimiliki karena adanya heat exchanger (penukaran panas).

2.5.3

Termoregulasi Pada Ektoterm Teresterial


Berbeda dengan lingkungan akuatik, suhu di lingkungan terrestrial

selalu berubah dengan variasi yang cukup besar. Perubahan suhu ini
sangat mudah kita rasakan, misalnya dengan membandingkan suhu
udara pada siang dan malam hari, pada hari yang sama di suatu kota .
Cara terpenting yang dilakukan oleh hewan ektotermik terrestrial
untuk memperoleh panas ialah dengan menyerap panas/ radiasi
matahari. Hewan dapat meningkatkan penyerapan panas matahari
dengan cara mengubah warna permukaan tubuhnya dan menghadapkan
tubuhnya kearah matahari. Invertebrata ektotermik dapat mengubah
warna tubuhnya menjadi lebih gelap untuk memperoleh panas
matahari lebih banyak. Hewan yang melakukan cara ini antara lain
belalang rumput ( belalang hijau) dan kumbang.
Hewan dapat memaksimalkan perolehan

panas

dengan

menghadapkan tubuhnya kearah matahari. Cara ini dapat kita amati


pada belalang Locust, yang menghadap kea rah matahari sedemikian
rupa sehingga badannya tegak lurus dan sebagian besar tubuhnya
mendapat radiasi matahari. Sebaiknya, jika ingin melepaskan panas
dari tubuhnya, invertebrata terrestrial dapat melakukannya dengan
mengubah orientasi tubuh menjauhi sinar matahari, atau memanjat
pohon.
Vertebrata ektoterm, contohnya kadal, juga melakukan hal yang
serupa dengan belalang dan kumbang, yaitu berjemur untuk menyerap
radiasi matahari. Untuk memaksimalkan penyerapan radiasi, kadal
akan mengubah penyebaran melanin di kulitnya sehingga warnanya
menjadi lebih gelap, dan hal ini sangat penting untuk penyerapan
panas secara efektif.Seperti belalang, kadal dapat mengurangi

10

penyerapan panas dengan cara berlindung di tempat yang teduh.


Namun, kadal juga dapat mengubah jumlah aliran darah ke kulit
dengan cara mengatur vasokonstriksi atau vasodilatasi pembuluh
darah. Proses ini merupakan proses fisiologis. Dengan demikian, jelas
bahwa kadal mempertahankan suhu tubuhnya dengan cara fisiologis
maupun dengan cara prilakunya. Kadal memperoleh sebagian besar
panas tubuhnya dari matahari sehingga dia disebut helioterm.
Sebaliknya, kadal nocturnal yang tidak menyukai radiasi matahari,
disebut tigmoterm. Tigmoterm meningkatkan suhu tubuhnya pada
bebatuan dan pasir yang telah menjadi panas akibat menyerap radiasi
matahari pada siang harinya.
Sekalipun dapat bertahan hidup pada kisara suhu tubuh yang relatif
luas, hewn akan memiliki kisaran suhu tubuh tertentu yang ideal dan
lebih

disukai,

dan

yang

memungkinkan

hewan

tersebut

menyenlenggarakan proses fisiologis secara optimal. Kisaran suhu


tubuh ideal yang paling di sukai itu disebut sebagai suhu ekritik, dan
biasanya berkisar antara 35-40 derajat celcius. Kisaran suhu yang lebih
luas dan dapat diterima hewan, seperti diuraikan pada awal alinea ini,
dinamakan kisaran toleransi termal tersebut, dikenal istilah suhu kritis
minimum dan suhu kritis maksimum, yaitu suhu pada titik terendah
dan tertinggi yang terdapat pada kisaran toleransi termal. Suhu yang
terletak pada suatu titik diatas suhu kritis maksimum dan di bawah
suhu kritis minimum sangat tidak sesuai bagi kehidupan hewan.
2.5.4 Adaptasi Ektoterm Terhadap Suhu Ekstrem
Cara adaptasi hewan eksoterm terhadap suhu lingkungannya adalah
sebagai berikut:
1. Adaptasi terhadap suhu sangat panas, yaitu meningkatkan laju
pendinginan

dengan

penguapan,

dan

mengubah

mesin

metaboliknya agar bisa bekerja pada suhu tinggi.


2. Adaptasi terhadap suhu sangat dingin, yaitu menambah zat terlarut
ke dalam cairan tubuhnya untuk meningkatkan konsentrasi
osmotiknya dan menambahkan protein (glikoprotein) anti beku ke
dalam cairan tubuhnya.

11

2.5.5

Termoregulasi pada Endoterm


Endoterm merupakan hewan yang panas tubuhnya berasal dari

dalam tubuh, sebagai hasi dari proses metabolisme sel tubuh. Suhu
tubuh hewan endoterm di pertahankan agar tetap konstan, walaupun
suhu lingkungannya berubah.Hewan endoterm meliputi burung dan
mamalia, sedangkan hewan lainnya di golongkan sebagai ektoterm.
Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa ikan tuna mampu
mempertahankan suhu yang tetap pada beberapa bagian tubuhnya, dan
suhu tersebut berbeda secara nyata dengan suhu lingkungan luarnya.
Hal demikian juga ditemukan pada sejumlah reptil, contohnya ular
piton betina, yang juga mampu mempertahankan suhu di dalam
tubuhnya, kira-kira 50 C diatas suhu lingkungan luarnya. Hal ini sangat
diperlukan, terutama selama musim kawin dan perkembangan telur.
Burung dan mamalia dapat dinyatakan sebagai hewan endoterm
sejati. Pada hewan endoterm dapat kita temukan adanya variasi suhu
tubuh yang cukup besar. Sebagai contoh, platypus( mamalia
monotremata , Ornithorhynchus)memiliki suhu tubuh sekitar 300 C,
sedangkan suhu tubuh burung pelatuk dapat mencapai 420 C. Cara
Mertahankan suhu tubuh pada hewan ini pada dasarnya dilakukan
dengan menyeimbangkan pembentukan dan pelepasan panas. Apabila
suhu tubuh terlalu tinggi, hewan akan melepaskan kelebihan panas
tubuh, dan apabila suhu terlalu rendah, hewan akan meningkatkan
dengan berbagai cara .
Berbagai cara yang dilakukan hewan endoterm untuk mempertahankan
suhu tubuh
1. Cara yang dilakukan hewan endoterm untuk meningkatkan pelepasan
panas karena suhu tubuh terlalu tinggi, yaitu vasolidasi daerah perifer
tubuh, berkeringat, menurunkan laju metabolisme, dan respon
perilaku
2. Cara yang dilakukan hewan endoterm untuk mempertahankan
meningkatkan produksi panas karena suhu tubuhnya terlalu rendah,
yaitu vasokonstriksi, menegakkan rambut, menggigil, meningkatkan
laju metabolisme, respon perilaku.
12

Produksi panas pada hewan endoterm terjadi melalui mekanisme sebagai


berikut.
1. Meningkatkan produksi panas metabolik dalam otot rangka ( arus ada
kontraksi otot, antara lain dengan cara menggigil ). Menggigil
(shivering) merupakan gerakan yang tidak teratur dan tidak
mempunyai tujuan pergerakan tertentu. Kontraksi otot dapat terjadi
secara sadar ( misalnya dengan menggerakkan kaki/ tangan) atau tanpa
sadar ( dengan mengigil, misalnya saat dingin).
2. Mekanisme pembentukan panas yang bukan berasal dari proses
menggigil, meliputi berbagai proses sebagai berikut.
a. Metabolisasi jaringan lemak cokelat, seperti yang dilakukan oleh
golongan mamalia eutherian( mamalia berplasenta). Jaringan
lemak cokelat berbeda

dengan jaringn lemak putih. Jaringan

lemak cokelat di bungkus oleh selaput yang dipersarafi dengan


baik oleh sistem saraf simpatis. Jika jaringan lemak cokelat
dirangsang , lemak akan metabolisasi dalam mitokondria sel
lemak, dan panas akan dihasilkan. Kelemahan cara tersebut
adalah membutuhkan banyak oksigen sehingga hewan harus
meningkatkan pasokan oksigen.
b. Meningkatkan sekresi hormone tiroid (T3 dan T4), yang dapat
meningkatkan aktivitas metabolism dalam sel
c. Menyerap radiasi panas matahari.
d. Menegakkan rambut/ bulu sehingga pelepasan panas secara
konveksi dapat diperkecil.
e. Mengurangi aliran darah ke organ perifer dengan vasokontriksi
(menyempitkan pembuluh darah).
f. Memberikan berbagai tanggapan prilaku, antara lain berselimut,
berjaket, berjemur,dan menggosok- gosokkan kedua telapak
tangan.

hipotermia

TRH

Kelenjar pituitari

hipotalamu
s

Bagian depan
13

Suhu
normal

TSH
Kelenjar
Tiroksin(T3 dan T4)
tiroid
Efek metabolik :

Suhu tubuh
meningkat

Meningkatkan laju
metabolisme
o
Meningkatkan
produksi
Gambar 2.2. pengendalian aktivitas metabolisme sel oleh hormon tiroksin sebagai
tanggapan
o

terhadap penurunan suhu tubuh( dimodifikasi dari kay,1998).

Pelepasan panas dari tubuh hewan endoterm terjadi dengan beberapa cara, antara
lain sebagai berikut :
1. Melepaskan panas ke lingkungannya melalui vasodilatasi pembuluh darah
perifer
2. Meningkatkan penguapan air melalui kulit( misalnya dengan berkeringat) atau
melalui saluran pernapasan( dengan terenggah- enggah, misalnya pada anjing
dan burung yang tidak mempunyai keringat). Kanguru melakukannya dengan
membasahi rambutnya dengan air ludah. Penguapan air ludah tersebut
menimbulkan efek pendinginan.

2.5.6 Adaptasi Endoterm Terhadap Suhu Ekstrem


a. Masuk ke dalam kondisi heterotermi, yaitu mempertahankan
adanya perbedaan suhu di antara berbagai bagian tubuh.Contoh
yang baik untuk ini adalah burung dan mamalia kutub.Burung dan
mamalia kutub mempunyai suhu pada pusat tubuh sebesar 38
derajat celcius, namun suhu pada kakinya hanya sekitar 3 derajat
celcius. Secara fisiologi kaki tetap berfungsi normal .Jadi, system
saraf di kaki tetap berfungsi dengan baik pada suhu 3 derajat
celcius.Berarti, hewan tersebut telah beradaptasi pada tingkat sel
dan tingkat molekul
b. Hibernasi atau torpor, yaitu penurunan suhu tubuh yang berkaitan
dengan adanya penurunan laju 14etabolism, laju denyut jantung
laju respirasi, dan sebagainya.

14

Cara yang dilakukan hewan endoterm untuk melawan suhu yang Sangat
panas ialah sebagai berikut.
a. Meningkatkan pelepasan panas tubuh dengan meningkatkan
penguapan , baik melalui proses berkeringat maupun terengah- engah,
seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
b. Melakukan gular fluttering, yaitu menggerakkan daerah kerongkongan
secara cepat dan terus- menerus sehingga penguapan melalui saluran
pernapasan dan mulut dapat meningkat, dan akibatnya pelepasan panas
tubuh juga meningkat. Misal: pada ayam yang sedang mengerami
telurnya.
c. Menggunakan strategi hipertermik, yaitu mempertahankan atau
menyimpan kelebihan panas metabolik di dalam tubuh sehingga suhu
tubuh meningkat sangat tinggi. Cara ini dapat di temukan pada unta
dan rusa gurun. Hipertermik yang bersifat sementara setidaknya dapat
mengurangi pelepasan air dari tubuh, yang seharusnya di gunakan
untuk mendinginkan tubuh melalui penguapan. Akan tetapi,
hipertermik juga menimbulkan masalah pada hewan karena organ
tertentu dalam tubuh(misalnya otak) kurang mampu menoleransi
kenaikan suhu yang terlalu besar. Oleh karena itu, harus ada teknik
untuk mendinginkan otak. Pendinginan otak pada unta dapat dilakukan
dengan menggunakan suatu cara yang prinsip kerjanya mirip dengan
heat exchange pada ikan tuna, namun lokasinya terletak pada rongga
hidung.
2.5.7

Pengendalian Suhu Tubuh Endoterm


Komponen yang di perlukan untuk menyelenggarakan
pengendalian suhu tubuh ialah reseptor (termoreseptor), komparator
(kordinator), dan efektor. Ada dua macam reseptor yang terlibat, yaitu
reseptor panas dan dingin. Pada saat ada rangsangan berupa
peningkatan suhu tubuh, reseptor panas akan terdepolarisasi.
Sementara, reseptor dingin akan menghasilkan potensial aksi hanya
jika ada rangsangan berupa penurunan suhu. Reseptor tersebut terdapat
di dua tempat, yaitu hipotalamus dan kulit. Keberadaan reseptor di
hipotalamus dan kulit ini penting agar dapat memantau perubahan
suhu di pusat maupun di perifer tubuh. Pengaturan suhu tubuh hewan
endoterm (contohnya pada mamalia ).

Suhu
Lingkungan

Turun

suhu pusat
tubuh normal

turun

15

naik

Reseptor dingin
perifer ( di
kulit )

Reseptor dingin
di hipotalamus

Pusat produksi dan konservasi


panas di hipotalamus

Berkeringat dihambat,
menggeletar,
vasokontriksi,
menegakkan rambut

Reseptor panas
di hipotalamus

Pusat pelepasan
panas di
hipotalamus

Berkeringat
ditingkatkan,vasodilatasi,
terengah- enggah

suhu naik

reseptor

pusat
kontrol

mekanisme
perbankan

suhu turun
suhu tubuh normal

gambar 2.3. garis besar proses pengendalian suhu tubuh pada mamalia( dimodifikasi dari boyce
et al.,19980)

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Termoregulasi adalah proses yang terjadi pada hewan untuk mengatur
suhu tubuhnya supaya tetap konstan, paling tidak, supaya suhu tubuhnya tidak
mengalami perubahan yang terlalu besar. suhu tubuh hewan dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : Poikiloterm dan Homeoiterm.
Poikiloterm yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan
berubahnya suhu lingkungan sedangkan Homeoiterm yaitu hewan yang suhu

16

tubuhnya selalu konstan/tidak berubah sekalipun suhu lingkungannya sangat


berubah.
Hewan ektoterm adalah hewan yang sangat bergantung pada suhu di
lingkungan luarnya untuk meningkatkan suhu tubuhnya karena panas yang
dihasilkan dari keseluruhan sistem metabolismenya hanya sedikit. Sedangkan
hewan endoterm, adalah hewan yang suhu tubuhnya berasal dari produksi
panas di dalam tubuh, yang merupakan hasil samping dari metabolisme
jaringan. Interkasi/pertukaran panas antara hewan dan lingkunganya dapat
terjadi melalui empat cara, yaitu konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi.
3.1 Saran
1) Dari pemaparan makalah di atas, diharapkan mampu memberikan
wawasan yang luas mengenai Fisiologi Hewan khususnya pada
Termoregulasi pada hewan
2) Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, diharapkan
bagi para pembaca agar dapat mengkaji lebih rinci tentang makalah di
atas dengan sumber - sumber yang lebih banyak yang dapat di
pertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta.


Https://id.m.wikipedia.org/wiki/termoregulasi_hewan.
Guyton, D.C.1993.Fisiologi Hewan, edisi 2.EGC.Jakarta.
Https://alfons91.wordpress.com/2011/05/14/termoregulasi-tubuh-hewan/.
https://egivet10uh.wordpress.com/2012/03/27/termoregulasi/.
http://web.ipb.ac.id// tpb/files/materi/bio100/materi/suhu_tubuh.html.
Frandson,RD.1992.Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi IV. Gadjah Mada
University press : Yogyakarta.

17

http://www.academia.edu/10025589/pengaturan_suhu_tubuh_pada_ternak.
http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhutubuh/.
http://feylana.wordpress.com/2008/06/21/termoregulasi/.

18