Anda di halaman 1dari 13

Selasa Pagi

TRANSESTERIFIKASI MNYAK SAWIT UNTUK BIODIESEL DAN


OPTIMALISASI KONDISI PRODUKSI DENGAN METHANOL ,
NATRIUM HIDOROKSIDA DAN SUHU
(TRANSESTERIFICATION OF PALM OIL TO BIODIESEL AND
OPTIMIZATION OF PRODUCTION CONDITIONS I.E.
METHANOL, SODIUM HYDROXIDE AND
TEMPERATURE)

HENI GUSTIA

(J3L114045)

IRMA DWI SANUSI

(J3L114051)

RATNA

(J3L114059)

TEGUH HIDAYAT

(J3L114035)

PROGRAM DIPLOMA
PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PRAKATA
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga tugas makalah Mata Kuliah
Petrokimia dan Polimer makalah dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan minyak fosil semakin
meningkat terutama pada bidang industri, otomotif, dan lain sebagainya yang
semakin meningkat. Namun tidak hanya itu, bidang tersebut saat ini semakin
meningkat sehingga persediaan minyak semakin lama semakin banyak sedangkan
cadangan minyak semakin hari semakin menipis sehingga diperlukan energi yang
terbarukan.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penyusun mengucapkan terimakasih
kepada dosen yang mengajar mata kuliah Petrokimia dan Polimer. Besar harapan
kami bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan mahasiswi yang
melakukan penelitian lingkungan dan masyarakat di Indonesia. Penyusun
menyadari bahwa makalah ini banyak sekali kekurangannya, sehingga segala
kritik dan saran yang bersifat membangun akan diterima dengan senang hati.
Akhir kata penyusun berharap, semoga hasil makalah ini bermanfaat bagi
semuanya.

Bogor, 2 Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
ABSTRACT............................................................................................................iv
RINGKASAN.........................................................................................................iv
1 PENDAHULUAN................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan.............................................................................................................1
2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................1
3 METODE..............................................................................................................2
3.1 Alat dan Bahan...............................................................................................2
3.1 Prosedur..........................................................................................................2
4 HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................................3
4.1 Proses Optimasi oleh Kotak-Behnken............................................................5
4.2 Analisis Nilai Kalor oleh Permukaan Respon................................................7
4.3 Optimasi dan Validasi.....................................................................................8
5 PENUTUP.............................................................................................................9
5.1 Simpulan.........................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................9

ABSTRACT
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak lingkungan pada
produksi biodiesel dari minyak sawit di Indonesia menggunakan metodologi
penilaian siklus hidup. Unit fungsional dari penelitian ini adalah 1 ton biodiesel.
Kontributor potensial utama pada pemanasan global adalah penggunaan pupuk
dan herbisida dalam tahap perkebunan memberikan kontribusi 58%. Co-produk
dari proses kelapa sawit dapat digunakan untuk energi di pabrik. Listrik juga
memberikan dampak pencemaran lingkungan yang tinggi karena dibeli dari
campuran jaringan listrik yang sebagian besar bergantung pada pembangkit listrik
berbahan bakar batubara. Tahap produksi biodiesel adalah kontributor utama
untuk dampak dari oksidasi fotokimia. Transportasi juga memiliki kontribusi yang
signifikan terhadap dampak lingkungan.

RINGKASAN
Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif pengganti bahan
bakar diesel yang dibuat dari bahan baku yang dapat diperbaharui seperti minyak
nabati dan lemak hewan. Dibandingkan dengan bahan bakar fosil, bahan bakar
biodiesel mempunyai kelebihan diantaranya bersifat biodegradable (dapat
terurai), densitasnya lebih tinggi sehingga efisiensi pembakaran lebih baik
dibandingkan dengan minyak kasar, mempunyai angka emisi CO2 dan gas sulfur
yang rendah dan sangat ramah terhadap lingkungan. Salah satu cara untuk
mempro- duksi biodiesel adalah dengan esterifikasi asam lemak yang terkandung
dalam minyak nabati.
Penelitian yang dilakukan pada jurnal ini bertujuan untuk mengoptimalisasi
biodiesel pada proses produksi dari minyak sawit, menggunakan metode yang
paling efisien. Metode yang ditemukan dalam percobaan sebelumnya yaitu kotak
behnken. Kotak-behnken dirancang sebagai sarana statistic, untuk
mengoptimalkannya dilakukan dengan ekstraksi cair-cair yaitu dengan
mencampur air dan biodiesel, selain itu lembut mengagitasi dan gelembung
dipisahkan oleh pemisahan gravitasi. Proses cuci dilakukan 3-4 kali sampai air
cuci tidak lagi terdapat gelembung. Pengeringan Metil Ester: Sisa air yang ada di
dalam biodiesel telah dihilangkan oleh pemanasan pada 100 C selama 10 menit.
Akhirnya dapat digunakan 100% biodiesel murni yang telah diekstraksi. Katalis
heterogen yaitu NaOH yang dianggap lebih ekonomis dan lebih mudah dalam
pemisahan produk biodiesel.

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanfaatan energi fosil seperti minyak bumi secara terus menerus
menyebabkan cadangan minyak bumi kita terus berkurang, dan dimungkinkan
pada masa mendatang akan kehabisan sumber energi fosil. Oleh karena itu sangat
mendesak untuk mencari sumber energi alternatif pengganti minyak bumi. Energi
alterantif yang akhir-akhir ini banyak diteliti dan dikembangkan adalah eksplorasi
energi terbarukan, seperti misalnya yang bersumber dari bahan bakar nabati
(BBN).
Kebutuhan minyak bumi dari hari kehari semakin meningkat, bahkan
konsumsinya pun melebihi kapasitas yang seharusnya. Keadaan ini diperkirakan
akan berlangsung terus- menerus dan jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka suatu
saat akan terjadi kelangkaan bahan bakar minyak bumi, untuk mengantisipasi
terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak bumi pada masa mendatang, saat ini
dunia internasional telah menemukan bahan bakar alternatif lain yang diolah dari
minyak tumbuhan, yang lebih dikenal dengan biodiesel (Dewajani H 2011) .
Sumber-sumber energi terbarukan misalnya bioetanol untuk mensubstitusi
bahan bakar bensin atau premium. Sedangkan biodiesel dapat untuk
menggantikan solar yang biasa digunakan untuk bahan bakar mesin diesel.
Biodesel dapat dibuat dari minyak nabati dengan proses kimia reaksi
transesterifikasi dengan katalis asam atau basa. Indonesia sebagai negara agraris
kaya akan minyak atau lemak yang dapat dijadikan sebagai bahan baku biodiesel,
seperti misalnya minyak sawit/ Crude Palm Oil (CPO), minyak sawit, minyak
jarak, minyak kapas (Susilo A 2010 ).
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan memproduksi biodiesel dari minyak kelapa sawit
dengan metode transesterifikasi.
2 TINJAUAN PUSTAKA
Biodiesel merupakan bahan bakar terbarukan yang berasal dari minyak
nabati dan lemak hewani. Biodiesel bersifat ramah lingkungan karena mudah
terurai (biodegradable), tidak beracun (non-toxic), dan menghasilkan gas buang
berbahaya yang lebih sedikit di-bandingkan diesel seperti sulfur dioksida (SO2),
karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrokarbon yang tidak terbakar,
dan partikel karbon lainnya. Keuntungan biodiesel lainnya yaitu memiliki angka
setana (cetane number) dan titik nyala (flash point) yang tinggi sehingga biodiesel
mudah penanganannya, serta memiliki sifat pelumasan yang baik sehingga dapat

memperpanjang umur mesin. Biodiesel dapat digunakan langsung tanpa perlu


memodifikasi mesin yang ada (Febrina D.P, dkk 2015).
Minyak nabati dapat dijadikan feedstock untuk produksi biodiesel karena
merupakan sumber energi yang dapat diperbarui, dapat diproduksi skala besar dan
ramah lingkungan. Minyak nabati terdiri dari edible oil dan non-edible oil. Lebih
dari 95% bahan baku untuk produksi biodiesel berasal dari edible oil yang
diproduksi secara besar di beberapa wilayah. Sifat dari biodiesel yang dihasilkan
oleh edible oil ini lebih cocok digunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak
diesel, contoh minyak nabati yang dapat digunakan untuk bahan baku biodiesel
yaitu minyak kelapa sawit (Julianti.N, dkk 2014 ).
Minyak sawit merupakan salah satu bentuk ester dari gliserol dengan asam
lemak, diubah menjadi metil esternya yang diduga dapat berpotensi sebagai energi
terbarukan: Reaksi transesterifikasi dari lemak/minyak dapat dilakukan untuk
menurunkan viskositas minyak nabati sehingga dihasilkan metil ester asam lemak
(Julianti.N, dkk 2014 ).

3 METODE
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada percobaan yaitu gelas piala, erlenmeyer, pemanas
(hotplate)
Bahan yang digunakan yaitu minyak kelapa sawit, methanol dan Natrium
Hidroksida.
3.1 Prosedur
Minyak kelapa sawit dilarutkan dalam metanol lalu dilakukan pengadukan
setelah itu ditambahkan Natrium Hidroksida sebagai katalis, dalam percobaan ini
dihindarkan penggunaan air sebagai pelarut. Campuran kemudian dituangkan ke
dalam erlenmeyer dan lakukan pemanasan pada suhu 450 C, pemanasan dilakukan
denga sistem kedap udara yaitu erlenmeyer ditutup almunium voil untuk
mencegah hilangnya alkohol. Pemanasan di jaga tepat dibawah titik didih alkohol
untuk mempercepat reaksi berlangsung. Pemanasan dilakukan selama 1 jam,
setelah reaksi selesai diperoleh dua produk utama yaitu biodiesel dan gliserin,
gliserin jauh lebih padat daripada biodiesel, lalu dipisahkan oleh gravitasi
pemisahan.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN


Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif pengganti bahan
bakar diesel yang dibuat dari bahan baku yang dapat diperbaharui seperti minyak
nabati dan lemak hewan. Dibandingkan dengan bahan bakar fosil, bahan bakar
biodiesel mempunyai kelebihan diantaranya bersifat biodegradable (dapat
terurai), densitasnya lebih tinggi sehingga efisiensi pembakaran lebih baik
dibandingkan dengan minyak kasar, mempunyai angka emisi CO2 dan gas sulfur
yang rendah dan sangat ramah terhadap lingkungan. Salah satu cara untuk
mempro- duksi biodiesel adalah dengan esterifikasi asam lemak yang terkandung
dalam minyak nabati.
Komponen terbesar pada minyak nabati adalah trigliserida yang merupakan
ikatan asam lemak jenuh dan tak jenuh. Tiap jenis minyak nabati mengandung
komposisi asam lemak yang berbeda (Sari 2011). Standar mutu biodiesel
Indonesia menurut SNI 04-7182-2006 disajikan pada tabel 6. Transesterifikasi
(biasa disebut alkoholisis) adalah tahap konversi dari trigliserida (minyak nabati)
menjadi alkil ester, melalui reaksi dengan alkohol, dan menghasilkan produk
samping yaitu gliserol (Muryanto 2009).
Tabel 1 Parameter SNI Biodiesel Indonesia

Biodiesel biasanya dibuat dengan reaksi transesterifikasi trigliserida


(minyak nabati) untuk metil ester dengan metanol menggunakan natrium atau
kalium hidroksida yang dilarutkan dalam metanol sebagai katalis. Biodiesel dapat
diproduksi melalui reaksi antara minyak sawit dengan alkohol menggunakan
katalis heterogen. Dalam penelitian ini, jenis alkohol yang digunakan adalah
metanol sebagai alkohol derivatif yang memiliki berat molekul rendah sehingga
kebutuhan untuk alkoholisis relatif sedikit, lebih murah dan lebih stabil. Selain itu,
aktivasi reaksi lebih tinggi bila dibandingkan dengan etanol (Prihandana et al.,
2006). Jadi reaksi untuk menghasilkan biodiesel disebut reaksi metanolisis

Gambar 1. Mekanisme reaksi tranesterifikasi dengan penggunaan basa sebagai


katalis

Gambar 2. Mekanisme reaksi transesterifikasi pembentukan metil ester asam


lemak dari triasilgliserol yang dikatalisis oleh basa (NaOH)
Berdasarkan mekanisme reaksi transesterifikasi tersebut terlihat, bahwa 1
mol triasilgliserol (minyak) akan bereaksi dengan 3 mol basa (proses
saponifikasi), menghasilkan 1 mol gliserol dan 3 mol garam asam lemak (sabun)
yang larut dalam alkohol (metanol). Garam asam lemak yang terbentuk
mengalami proses struktur resonansi (I), sehingga hal tersebut menyebabkan
reaksi transesterifikasi yang dikatalisis oleh basa bersifat reaksi satu arah dan
bukan suatu reaksi kesetimbangan (reversible). Selanjutnya, garam asam lemak
akan bereaksi dengan 3 mol metanol, melalui mekanisme reaksi substitusi
nukleofilik tetrahedral, membentuk 3 mol metil ester asam lemak dan 3 mol basa.
Terlihat bahwa 3 mol basa pada awal reaksi memang ditambahkan pada reaksi,
dan pada akhir reaksi tetap ada.(Suwarso ND)
Hal tersebut sesuai dengan definisi dari katalis, yang mengatakan bahwa katalis
adalah zat yang ditambahkan dalam reaksi dalam jumlah kecil, yang akan
mempercepat dan ikut dalam proses reaksi serta berfungsi terutama mempercepat
tercapainya kesetimbangan reaksi, namun demikian, baik pada awal maupun pada
akhir reaksi tetap ada dalam lingkungan reaksi (Vollhardt & Schore 1995 dalam
Suwarso ND).
Katalis yang sering digunakan dalam pembuatan biodiesel adalah katalis
homogen, katalis homogen tidak begitu populer sekarang karena proses
pemisahannya yang sulit. Jadi alternatif lainnya adalah katalis heterogen yang
dianggap lebih ekonomis dan lebih mudah dalam pemisahan produk biodiesel .
KOH dan NaOH sering digunakan dalam produksi biodiesel sebagai katalis untuk
menghomogenkan nya.
Parameter dalam penelitian yang digunakan pada jurnal ini digunakan untuk
mengoptimalisasi biodiesel pada proses produksi dari minyak sawit,
menggunakan metode yang paling efisien. Metode yang ditemukan dalam

percobaan sebelumnya yaitu kotak behnken. Kotak-behnken dirancang sebagai


sarana statistic, untuk mengoptimalkannya dilakukan dengan ekstraksi cair-cair
yaitu dengan mencampur air dan biodiesel, selain itu lembut mengagitasi dan
gelembung dipisahkan oleh pemisahan gravitasi. Proses cuci dilakukan 3-4 kali
sampai air cuci tidak lagi terdapat gelembung. Pengeringan Metil Ester: Sisa air
yang ada di dalam biodiesel telah dihilangkan oleh pemanasan pada 100 C
selama 10 menit. Akhirnya dapat digunakan 100% biodiesel murni yang telah
diekstraksi.
4.1

Proses Optimasi oleh Kotak-Behnken

Metode Dalam proses transesterifikasi metanol (alkohol) bereaksi dengan


minyak kelapa untuk membentuk lemak ester asam alkil (biodiesel) dan Gliserin.
Reaksi ini membutuhkan panas dan natrium hidroksida (NaOH) sebagai katalis.
Dengan demikian faktor penting untuk produksi basa katalis pada reaksi
transesterifikasi minyak sawit (minyak nabati) adalah metanol, alkali (NaOH) dan
suhu. Oleh karena itu, faktor-faktor ini dianggap sebagai variabel independen dan
memiliki pengaruh terhadap nilai kalori biodiesel yang telah diidentifikasi
menggunakan respon desain kotak -Behnken metodologi permukaan.
Tabel 2. Matriks Box-Behnken desain yang dilakukan tiga variabel independen
(metanol, NaOH dan suhu) dengan nilai kalor yang diamati untuk biodiesel sawit.

Hasil eksperimen pada Kotak-Behnken di desain untuk mempelajari efek


dari tiga variabel independen, yaitu, metanol, NaOH dan suhu pada nilai kalor
yang disajikan pada Tabel 2. Nilai-nilai ini digunakan untuk analisis regresi
dimana "analisis data" digunakan Microsoft office excel. Pada tingkat
kepercayaan 95% disimpan dan perhitungan regresi memberikan nilai koefisien
(A0 ke A9). Untuk setiap respon yang berbeda ini diperoleh koefisien. Pada
kondisi nilai-nilai tengah (nol level) yaitu 12,5 ml metanol, 0,4 gm NaOH dan 55
C suhu nilai kalor adalah 9.297,221 kkal / kg. Dari analisis regresi dari semua
sembilan koefisien yang digunakan dalam membuat persamaan respon. Kedua
polinomial orde persamaan untuk setiap respon yang ditemukan sebagai berikut:

Tabel 3. Koefisien regresi dan nilai-nilai probabilitas yang sesuai (nilai p) untuk
respon tertentu (nilai kalori) pada biodiesel sawit.

Y (c) = 3031.33 + 1174.911 + 4893.243 + 141.3478 3.4155 + 2.483217


19.9124 52.2752 4617.75 1.46595
Di mana Y (C) adalah nilai kalor dan X1, X2 dan X3 dikodekan untuk metanol,
NaOH dan suhu masing-masing.
Tabel 3 merupakan analisis ANOVA pada variabel desain di mana nilai-nilai
koefisien dan nilai dari -p diwakili untuk tiga tanggapan. Nilai -P digunakan
sebagai alat untuk memeriksa signifikansi masing-masing koefisien, yang juga
menunjukkan kekuatan interaksi antara masing-masing variabel independen.
Sebuah nilai p yang kurang dari 0,05 menunjukkan bahwa faktor secara
signifikan berinteraksi dengan respon. Hal ini diamati bahwa semua niali-nilai p
yang lebih kecil dari 0,05, kecuali konsentrasi dan suhu pada metanol-alkali yang
memiliki nilai kalori. Nilai -p 0,00004 diperoleh dari konsentrasi metanol (X1 X1)
menunjukkan bahwa metanol jauh lebih besar memiliki dampak pada nilai kalor
dari alkali dan suhu. Pada perhitungan regresi memberikan nilai koefisien
determinasi r2 yang dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. nilai r2 untuk analisis ANOVA dari tiga respon output.

4.2

Analisis Nilai Kalor oleh Permukaan Respon

Plot Hubungan antara variabel dan tanggapan kode dapat lebih dipahami
dengan memeriksa rangkaian garis 3D pada plot. Garis-garis 3D menampilkan
efek variasi dua faktor sementara yang ketiga dipertahankan untuk konstan karena
tiga macam kode dan tiga variabel kode, total sembilan kombinasi yang mungkin

untuk setiap respon. Plot yang dibuat bertujuan untuk mengamati kondisi
optimum dari nilai prediksi.
Minyak kelapa biodiesel yang dapat dilihat pada Gambar 1 merupakan efek
dari metanol, konsentrasi NaOH dan suhu pada nilai kalorinya. Ketika suhu dijaga
konstan pada 55 C. Nilai maksimum kalori sebesar 9297.206 kcal / kg diamati di
0,4 gm NaOH dan 12,5 ml metanol. Pada 0,3 gm NaOH dan suhu 50 C memiliki
nilai kalor minimum sebesar 9190 kcal / kg, dimana konstan saat penambahan
12,5 ml metanol. Suhu berbanding lurus dengan nilai kalor, dimana suhu
meningkat nilai kalori pun meningkat. tetapi setelah suhu mencapai 57 C maka
nilai kalor akan menurun. Efek yang sama telah ditunjukkan untuk konsentrasi
lainnya pada NaOH. Jadi gabungan NaOH dan suhu memiliki efek lebih besar
pada nilai kalori daripada masing-masing seperti NaOH saja atau suhu saja. Nilai
maksimum diperoleh pada suhu 55 C dan 0,4 gm konsentrasi NaOH ketika 12,5
ml metanol yang akan membuatnya menjadi konstan [Gbr.3 (B)]. Ketika metanol
tidak disimpan konstan [Gbr. 3 (A)] kenaikan atau penurunan konsentarasi NaOH
akan terlihat nilai kalor
dengan sedikit perubahan, tapi ketika NaOH
dipertahankan konstan [Gbr.3 (B)] kenaikan atau penurunan konsentrasi metanol,
hasil nilai kalor akan terjadi perubahan yang lebih besar. Hal ini menunjukkan
bahwa perubahan konsentrasi metanol memiliki efek yang lebih pada hasil nilai
kalor yang di dapat dari perubahan konsentrasi NaOH.

Gambar 3. 3-D respon permukaan plot untuk semua kondisi. (A) Pengaruh suhu
dan NaOH pada nilai kalor dengan volume metanol yang konstan (mL), (B)
Pengaruh suhu dan metanol pada nilai kalor pada konsentrasi NaOH yang konstan
(gm), dan (C) Pengaruh metanol dan NaOH pada nilai kalori di suhu yang konstan
(C).
Berdasarkan sembilan plot permukaan pada nilai kalor jelas bahwa metanol,
konsentrasi NaOH dan suhu di nilai-nilai sentral menghasilkan nilai kalori yang
maksimal. Perubahan dalam metanol, konsentrasi NaOH dan suhu dari pusat nilai
diminimalkan nilai kalori yang mendukung teori. Jadi, 12,5 ml metanol, 0,4 gm
NaOH dan suhu 55 C

4.3

Optimasi dan Validasi

Metode aspek yang optimal untuk proses produksi dikonfirmasi dengan


yang membantu dari plot kontur. plot dikembangkan dengan membuat konsentrasi
NaOH (y-axis) terhadap konsentrasi metanol (x-axis) untuk serangkaian nilai-nilai
kalori yang konstan pada suhu 55 C. Gambar 4 merupakan kurva kontur dimana
nilai-nilai yang berbeda diartikulasikan sebagai zona yang berbeda. Di sini, X
adalah konsentrasi metanol (ml / 50 ml minyak), Y adalah konsentrasi NaOH
(gram / 50 ml minyak) dan Z adalah nilai kalor (kcal / kg). Eksperimental, hanya
menghasilkan satu kombinasi niali kalor maksimum (Tabel 2). Dari kurva,
ditemukan bahwa beberapa kombinasi dari konsentrasi NaOH dan metanol
cenderung menghasilkan garis yang sama. Hal ini dapat diamati bahwa porsi yang
lebih kecil di tengah-tengah kurva terdiri dari besarnya zona nilai kalor (9290
kcal / kg) dan lebih kecil yang lebih rendah zona nilai kalornya (9150 kcal / kg)
pada sudut kiri.
Sebuah zona nilai kalori yang lebih tinggi dapat diperoleh dengan
menggunakan konsentrasi NaOH berkisar dari 0,375-0,440 gm / 50 ml minyak
dan metanol 12,4-12,6 ml / 50 ml minyak. Sementara zona kalori yang lebih
rendah dapat diperoleh dengan dihasilkan dengan berbagai konsentrasi NaOH 0,30,31 gm / 50 ml minyak dan metanol 11-11,1 ml / 50 ml minyak. kurva ini
menandakan bahwa nilai kalori yang tinggi lebih responsif terhadap efek
gabungan dari NaOH dan konsentrasi metanol.
Tabel 5. Eksperimental dan nilai kalor diprediksi untuk percobaan metode
validasi.

Validasi proses dilakukan dengan memilih beberapa nilai acak dari


kombinasi. Hasil disajikan dalam Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai-nilai
eksperimental yang dekat dengan nilai prediksi. konsentrasi NaOH dan suhu di
nilai-nilai sentral menghasilkan nilai kalori yang maksimal. Perubahan dalam
metanol, konsentrasi NaOH dan suhu dari nilai pusat diminimalkan nilai kalori
yang mendukungnya.
5 PENUTUP
5.1 Simpulan
Dalam penelitian ini metodologi respon permukaan, dan persamaan
kuadrat polynomial yang digunakan diperoleh untuk setiap nilai dengan analisis

regresi kuadrat. Total terdapat 15 kombinasi metanol, NaOH dan suhu yang
digunakan untuk mengembangkan rancangan eksperimen pada Kotak-Behnken,
kualitas produk yang dihasilkan dievaluasi dalam hal nilai kalori. Ditemukan
bahwa 12,5 ml metanol / 50 ml minyak dan 0.4gm NaOH / 50 ml minyak dan 55
C suhu yang optimum kondisi, di mana nilai kalor dari biodiesel sawit maksimum
9297.206 kkal / kg. Kondisi optimum akan digunakan untuk mengetahui pengaruh
metanol, konsentrasi NaOH dan suhu pada waktu reaksi dan lainnya dengan sifat
bahan bakar biodiesel.

DAFTAR PUSTAKA
Dewajani, H. 2011. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Sawit Secara Kontinyu
dalam Model Reaktor Berisian. Prosiding Seminar Nasional Teknik
Kimia.ISSN 1693-4393.
Febrina D.P, dkk. 2015. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Sawit Off-Grade
Menggunakan Katalis CaO Melalui Proses Dua Tahap. Jurnal Rekayasa
Kimia dan Lingkungan. 10(3) : 99-105.
Julianti, N. Dkk. 2014. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa Sawit RBD
dengan menggunakan katalis berpromotor Ganda Berpenyangga Alumina
(CaO/MgO/Al2O3) dalam Reaktor Fluidized Bed. Jurnal Teknik POMITS.
2(3) : 143-148.
Muryanto. 2009. Bahan Baku Biodiesel. Berita IPTEK Tahun ke-47,Nomor 1,
hal.72-77, LIPI Tangerang. http: //isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/4710
97277.pdf diunduh 1 Februari 2011.
Sari, F.A. 2011. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Biji Ketapang (Terminalia
catappa L.) dengan Katalis KOH. Tugas Akhir. Teknik Kimia DIII,
Universitas Negeri Semarang.
Susilo A. 2010. Rafinasi Minyak Sawit (CPO) dengan Clay Teraktivasi Sebagai
Alternatif Bahan Baku Biodiesel. Prosiding Seminar Nasional Basic
Science MIPA UB.
Suwarso,W.P., Gani,I.Y, dan Kusyanto. ND. Sintesis Biodiesel dari Minyak Biji
Ketapang Terminalia catappa L.) yang Berasal dari Tumbuhan di Kampus
UI
Depok.
hal.42-49
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1
2084250.pdf diunduh 11 Mei 2011.
Vollhardt,K.P.C & Schore, N.E. 1995. Organische Chemie, Zweite Auflage,
VCH-Verlagschemie, Weinheim, New York, Basel dalam Suwarso, W.P.,
Gani,I.Y, dan Kusyanto. Sintesis Biodiesel dari Minyak Biji Ketapang
Ketapang (Terminalia catappa L.) yang berasal dari Tumbuhan di
Kampus UI Depok.
hal.42-49
http://isjd.pdii.lipi.go.id/
admin/jurnal/12084250.pdf diunduh 11 Mei 2011.