Anda di halaman 1dari 14

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1

Tata Cara Perpajakan

ISTILAH-ISTILAH DALAM KUP


Dalam pembahasan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan akan

KETENTUAN UMUM
DAN TATA CARA
PERPAJAKAN

dijumpai pengertian-pengertian atau istilah-istilah yang sudah baku.


Pengertian-pengertian atau istilah-istilah antara lain:
1.

Wajib Pajak (MP) adalah pribadi atau badan yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan
kewajiban perpajakan, termasuk pemungutan pajak atau pemotongan
pajak tertentu.

2.

Badan adalah sekumpulan orang yang merupakan kesatuan baik yang


melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi

3.

perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik Negara atau daerah dengan
nama dan dalam bentuj apapun, firma koperasi, dana pension, perkumpulan, yayasan, organisasi, massa,
organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga. Bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.

4.

Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan takwim atau jangka waktu lain yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan paling lama tiga bulan.

5.

Tahun Pajak adalah jangka waktu satu tahun kecuali bila wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama.

6.

Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu satu tahun pajak.

7.

Pajak yang Terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat. Dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak
atau Bagian Tahun Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

8.

Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk
wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban wajib pajak menurut ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.

9.

Surat Paksa adalah surat perintah untuk membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak sesuai dengan UU
No. 19 Tahun 1997 tentang penagihan pajak dengan surat paksa sebagaimana telah diubah dengan UU No. 19
Tahun 2000.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)


Wajib Pajak
Badan
Masa Pajak
Tahun Pajak
Bagian Tahun Pajak
Surat Pemberitahuan
Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa)
Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan)

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.

Surat Ketetapan Pajak Nihil


Surat Tagihan Pajak (STP)
Pajak yang terutang
Surat Paksa
Kredit pajak untuk Pajak Pertambahan
Nilai
Pekerjaan bebas
Pemeriksaan
Penanggung pajak

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

10.
11.
12.
13.
14.

Surat Setoran Pajak (SSP)


Surat KetetapanPajak (SKP)
Surat KetetapanPajak Kurang Bayar
Surat Ketatapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar

23.
24.
25.
26.
27.
28.

Pembukuan
Penelitian
Penyidikan tindak pedana di bidang
perpajakan
Surat Keputusan Pembetulan
Surat Keputusan Keberatan
Putusan Banding

KEWAJIBAN DAN HAK WAJIB PAJAK

Kewajiban Wajib Pajak

1.

mendaftarkan diri untuk mendapat NPWP

2.

Menghitung sendiri dan membayar kewajiban pajak dengan benar

3.

Mengisi dengan benar SPT dan memasukkan ke kantor pelayanan pajak dalam batas waktu yang telah
ditentukan

4.

Menyelanggarakan pembukuan /pencatatatn

5.

jika diperiksa wajib:

a.

Memperlihatkan atau meminjamkan buku atau catatan dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang
berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas wajib pajak, atau objek yang
terutang pajak

b.

Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna
kelancaran pemeriksaaan

6.

Apabila dalam waktu mengungkapkan pembukuan, pencatatan ataupun dokumen serta keterangan yang diminta.
Wajib pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan maka kewajiban untuk merahasiakan itu
ditiadakan oleh pemerintah untuk keperluan pemeriksaaan

Hak-hak wajib Pajak

1.

mengajukan surat keberatan dan surat banding

2.

menerima tanda bukti pemasukan SPT

3.

Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan

4.

Mengajukan permohonan penundaaan pemasukkan SPT

5.

Mengajukan permohonan penundaaan atau pengangsuran pembayaran Pajak

6.

Mengajukan permohonan perhitungan Pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan Pajak

7.

Meminta kembalian kelebihan pembayaran Pajak

8.

Mengajukan permohonan penghapusan dan pemgurangan sanksi, serta pembetualan surat ketetapan Pajak yang
salah

9.

Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban Pajaknya

10. Apabila wajib Pajak dipotong oleh pemberi kerja, wajib Pajak berhak untuk meminta bukti pemotongan PPh
pasal 21 kepada pemotong Pajak, mengajukan surat keberatan dan permohonan Pajak

SANKSI-SANKSI PERPAJAKAN DALAM KUP


Sanksi-sanksi di bidang perpajakan sebagaimana yang diatur dalam ketentuan umum dan tata cara perpajakan (KUP)
dapat berupa:
1.

Sanksi administrasi, terdiri atas:

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

a.

sanksi administrasi berupa bunga, yang dihitung dalam bentuk persentase tertentu pada umumnya sebesar 2%

b.

sanksi administrasi berupa denda, yang dihitung dalam bentuk jumlah uangnya atau dalam persentase

c.

sanksi administrasi berupa kenaikan, yang terhitung dalam bentuk persentase yang besarnya 50% atau lebih

2.

Sanksi pidana, yang dikenakan beberapa hal antara lain:

a.

alpa, yaitu dikarenakan tidak menyampaikan SPT

b.

sengaja, yaitu dikarenakan tidak mendaftarkan diri atau tidak menyampaikan SPT dan sebagainya

c.

pengulangan, yaitu dikarenakan jika seseorang melakukan tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat
satu tahun sudah mengulanginya lagi

d.

percobaan, yaitu dikarenakan melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana penyalahgunaan di bidang
perpajakan

PEMUNGUTAN DAN POTONGAN PAJAK TERTENTU SEBAGAI WAJIB PAJAK


Wajib pajak yang juga termasuk pemungut dan pemotong pajak tertentu berkewajiban untuk melakukan penungutan
atau pemotongan pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Beberapa Undang-undang yang menjelaskan hal tersebut, antara lain:
1.

Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 yang telah diubah dengan UU No. 11 Tahun 1994 pasal 1

2.

Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 yang telah diubah dengan Undang Nomor 10 Tahun 1994 pada Pasal
22 ayat (1)

3.

Keppres No. 56 Tahun 1988, antara lain mengatur:

4.

Keppres No. 16 Tahun 1994 atau No. 24 tahun 1995 pasal 2 ayat2

Wajib pajak yang juga termasuk pemungut dan pemotong pajak tertentu menurut UU diatas antara lain:

KPN

Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah (TK I + TK II)

Pertamina

Kontraktor bagi hasil dan kontrak karya di bidang minyak dan gas bumi

Pertambangan umum lainnya

BUMN dan BUMD

Bank Pemerintah dan BPD

NOMOR POKOK WAJIB PAJAK (NPWP)


Nomor Pokok Wajib Pajak adalah suatu sarana administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal
diri atau identitas Wajib Pajak. Adapun fungsi Nomor Pokok Wajib Pajak yaitu Sebagai tanda pengenal diri atau
identitas Wajib Pajak dan untuk menjaga ketertiban dalam membayar pajak dan dalam pengawasan administrasi
perpajakan. Nomor Pokok Wajib Pajak harus ditulis dalam setiap dokumen perpajakan, antara lain pada formulir
pajak yang diperlukan wajib pajak, surat menyurat dalam hubungan dengan perpajakan, dalam hubungan dengan
instansi tertentu yang mewajibkan mengisi NPWP.

Pendaftaran NPWP
Semua wajib pajak berdasarkan system Self Assesment wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jendral Pajak
yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak untuk dicatat sebagai wajib pajak
sekaligus mendapat NPWP. Kewajiban mendaftarkan ini berlaku pula untuk wanita kawin yang dikenakan pajak

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan
perjanjian pemisah penghasilan dan harta.
Apabila berdasarkan data yang diperoleh NPWP dibatasi jangka waktunya, karena hal ini berkaitan dengan saat pajak
terutang dan kewajiban mengenakan pajak NPWP secara jabatan. Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh
NPWP dibatasi jangka waktunya, karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan
pajak terutang jangka waktu pendaftaran NPWP adalah:

Bagi wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan wajib pajak badan, wajib
mendaftarkan diri paling lambat satu bulan setelah usahanya mulai dijalankan.

Wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau pekerjaan bebas apabila sampai dengan
suatu bulan memperoleh penghasilan yang jumlahnya telah melebihi PTKP setahun, wajib mendaftarkan diri
paling lambat pada akhir bulan berikutnya.

Terhadap wajib pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP akan dikenakan sanksi perpajakan.
Bagi mereka yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri, atau menyalahgunakan atau tanpa hak NPWP sehingga
menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan denda
paling tinggi empat kali jumlah pajak yang terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Penghapusan NPWP
Nomor Pokok Wajib Pajak dapat dihapus, antara lain karena:

Wajib pajak orang pribadi meninggal dan tidak meninggalkan warisan;

Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan;

Warisan yang telah selesai dibagi;

Wajib pajak badan yang telah dibubarkan secara resmi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku;

Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang telah kehilangan setatusnya sebagai bentuk usaha tetap;

Wajib pajak orang pribadi lainnya selain yang dimaksud diatas yang tidak memenuhi syarat sebagai wajib pajak.

Format NPWP
Nomor Pokok Wajib Pajak terdiri dari 15 digit, yaitu 9 digit pertama merupakan kode wajib pajak dan6 digit
berikutnya merupakan kode administrasi perpajakan. Formatnya adlah sebagai berikut: XX. XXX. XXX. X. XXX.
XXX

Wajib pajak yang tidak diwajibkan mendaftarkan diri apabila memerlukan NPWP, dapat mendaftar diri dan
kepadanya akan diberikan NPWP.

Setiap wajib pajak hanya mempunyai satu NPWP untuk semua jenis pajak.

Untuk perusahaan perseorangan > NPWP atas nama pemiliknya.

Untuk badan (misalnya PT) yang baru berdiri sebaiknya tetap mempunyai NPWP karena apabila rugi dapat
dikompensasi dengan tahun berikutnya.

NOMOR PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK (NPPKP)


Setiap pengusaha yang berdasarkan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dikenakan pajak, wajib
melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jendral Perpajakan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

(PKP). Terhadap pengusaha yang telah memenuhi syarat PKP tetap tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai PKP akan dikenakan sanksi perpajakan. Adapun fungsi dari NPPKP adalah sebagai berikut:
a.

Untuk mengetahui identitas PKP yang sebenarnya.

b.

Untuk memenuhi pemenuhan kewajiban pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang meah.

c.

Untuk pengawasan administrasi perpajakan.

Pelaporan atau Pengukuhan PKP


Bagi pengusaha orang pribadi berkewajiban melaporkan usahanya pad kantor Direktorat Jendral pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal penhusaha dan tempat kegiatan usha dilakukan. Sedangkan bagi pengusaha badan
pada kantor Direktorat Jedral Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal penhusaha dan tempat kegiatan
usha dilakukan. Jika pengusaha orang pribadi atau badanmempunyai tempat kegiatan usaha diwilayah beberapa
kantor Direktorat Jedral Pajak, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP baik dikantor Direktorat
Jedral Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan usaha pengusaha maupun
dikantor Direktorat Jedral Pajak pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal penhusaha dan tempat kegiatan
usha dilakukan.

Apabila berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktorat Jedral Pajak pengusaha telah memenuhi syarat
untuk dikukuhkan sebagaiPKP tetapi tidak melaporkan usahanya, dapat diterbitkan NPPKP secara jabatan.
Kewajiban melaporkan untuk dikukuhkan menjadi PKP dibatasi jangka waktunya, karena hal ini berkaitan dengan
saaat pajak terutang adalah selambat-lambatnya satu bulan setelah usaha dimulai.

Sanksi
Bagi mereka yang dengan sengaja tidak mendftarkan, atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPPKP
sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya enam
tahun denda setinggi-tingginya empat kali jumlah pajak yang terutang atau kurang dibayar. Mulai 1998 Nomor
Pengukuhan Kena Pajak sama dengan Nomor Pokok Wajib Pajak, sehingga format NPPKP juga dari 15 digit.

SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)


Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan
pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Adapun fungsi
SPTadalah:
1.

Fungsi SPT bagi Wajib Pajak Penghasilan:

Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah pajak yang sebenarnya
terutang.

Untuk melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan atau melalui
pemotongan pajak atau pemungutan pajak lain dalam satu tahun pajak atau bagian tahun pajak.

Untuk melaporkan pembayaran dari pemotongan atau pemungutan tentang pemotongan atau pemungutan pajak
orang pribadi atau badan ;ain dalam satu masa pajak, yang ditentukan peraturan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku.

2.

Fungsi SPT bagi Pengusaha Kena Pajak

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sebenarnya terutnag.

Untuk melaporkan perkriditan Pajak masukan terhadap pajak keluaran.

Untuk melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dialksanakan oleh pengusaha kena pajak dan
atau pihak lain dalam satu masa pajak, yang telh ditentukan oleh peraturan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku.

3.

Fungsi SPT bagi pemotong atau pemungut pajak


Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan
disetorkannya.

Prosedur Pengisian dan Penyetoran SPT


Adapun prosedur pengisian dan penyetoran SPT adalah sebagai berikut:
a.

Datang sendiri ke KPP mengambil berkas SPT.

b.

Mengisi SPT sesuai ketentuan yang berlaku kemudian menyerahkan kembali ke KPP dalam batas yang sudah
ditentukan.

c.

Jika terjadi kekeliruan, maka wajib pajak dapat membetulkan sendiri dengan menyampaikan pernyataan tertulis
dalam jangka waktu 2 tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhir masa pajak, dengan syarat:

Direktur Jendral Pajak belum melakukan pemeriksaan dan pembetulan tersebut menyebabkan utang pajak
menjadi lebih besar, maka dikenakan sanksi 2% sebulan.

Walaupum sudah dilakukan pemeriksaan tetapi belum dilakukan penyidikan, wajib pajak dapat
mengungkapkan ketidak benaran pengisian SPT.

Hal-hal yang Harus Tercantum Dalam SPT

Jumlah pajak yang sebenarnya terutang menurut perhitungan yang benar.

Jumlah pembayaran pajak yang telah dibayar sendiri oleh wajib pajak maupun dipotong melalui pihak lain.

Jumlah pajak yang masih harus dibayar atas kekurangan dan jumlah pajak yang lebih dibayar.

Jenis-Jenis SPT

SPT Masa adalah SPT yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak
terutang dalam suatu masa pajak (suatu saat tertentu).

SPT Tahunan adlah SPT yang digunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak
terutang dalam suatu tahun pajak.

SURAT SETORAN PAJAK (SPP) DAN PEMBAYARAN PAJAK


Surat Setoran Pjak adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran
pajak yang terutang ke kas negara melalui Kantor Pos dan atau bank Badan Usaha Milik Negara atau bank Badan
Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Adapun fungsi SPP adalah
sebagai sarana untuk membayar pajak dan sebagai bukti dan laporan pembayaran pajak. Tempat pembayaran dan
penyetoran pajak dapat dilakukan di bank-bank yang ditunjuk oleh Direktorat Jendral Anggaran, Kantor Pos, bankbank BUMN atau BUMD, tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

SURAT TAGIHAN PAJAK (STP)

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa denda dan/atau
bunga. Surat Tagihan Pajak diatur dalam pasal 14 Undang-undang KUP. STP diterbitkan oleh kantor pajak dalam hal
sebagai berikut:
1.

pajak penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar

2.

dari hasil penelitian surat pemberitahuan terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis/atau
salah hitung

3.

wajib pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga

4.

pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN, tetapi tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai PKP

5.

pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak (PKP) tetapi membuat faktur pajak atau
pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP tetapi tidak membuat atau tidak mengisi faktur pajak secara
lengkap.

Penerbitan STP biasanya diikuti dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan untuk selama-lamanya
24 bulan (maks. 48%).
Contoh:
Apabila pajak penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. Pajak penghasilan pasal 25 tahun 1995
setiap bulan sebesar Rp 100.000.000 dan jatuh tempo misalnya tiap tanggal 15. pada bulan Juni 1995 dibayar tepat
waktu sebesar Rp 40.000.000. atas kekurangannya diterbitkan STP tangggal 18 September 1995, maka
penghitungannya adalah:
-

kekurangan pajak penghasilan pasal 25


bulan Juni tahun 1995 .Rp 60.000.000

bunga (3 x 2% x Rp 60.000.000)..Rp 3.600.000 +

jumlah yang masih harus dibayar .Rp 63.600.000

fungsi STP adalah sebagai berikut:


1.

Sebagai koreksi atas jumlah pajak yang terutang SPT wajib pajak.

2.

Sarana mengenakan sanksi administrasi berupa bunga atau denda.

3.

alat untuk menagih pajak.

Selain itu STP (Surat Tagihan Pajak) mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak. Sehingga
dalam hal penagihannya dapat juga dilakukan dengan Surat Paksa.

SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR (SKPKB)


Surat ketetapan pajak kurang bayar diatur dalam pasal 13 Undang-undang KUP. SKPKB adalah surat keputusan yang
menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak,
besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar. SKPKB ini akan diterbitkan dalam jangka waktu
10 tahun sesudah saat terutangnya pajak, berakhirnya masa pajak, atau bagian tahun pajak atau tahun pajk, yaitu
dalam hal sebagai berikut:
1.

berdasrkan hasil pemeriksaan atau keterngan lain pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

2.

surat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dan telah ditegur secara
tertulis, tidak disampaikan juga seperti ditentukan dalam surat teguran

3.

berdasrkan hasil pemeriksaan atas PPN dan PPnBM ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih
pajak atau tidak segarusnya dikenka tarif 0%

4.

tidak melakukan kewajiban pembukuan dan tidak memenuhi permintaan dalam pemeriksaan pajak, sehingga
tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang.

SKPKB dapat dilakukan setelah lewat jangka waktu 10 tahun ditambah sanksi bunga sebesar 48% dari jumlah yang
tidak atau kurang dibayar. Pengenaan sanksi administrasi berupa kenaikan yaitu suatu jumlah proporsional yang
harus ditambahkan pada jumlah yang harus ditagih. Sanksi administrasi berupa kenaikan ini untuk jenis pajak
penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam 1 tahun, sanksi kenaikannya sebesar 50%. Untuk jenis pajak
penghasilan yang dipotong oleh orang atau badan lain dan jenis pajak PPN dan PPnBM ditetapkan sebesar 100% dari
besarnya pajak yang tidak atau kurang dibayar. Adapun fungsi SKPKB adalh sebagai kreksi atas jumlah yang
terutang menurut SPT-nya, sarana untuk mengenakan sanksi dan alat untuk menagih pajak.

SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPKBT)


SKPKBT telah diatur dalam pasal 15 Undang-undang KUP. SKPKBT adalah surat keputusan yang menentukan
tambahan atau jumlah pajak yang telah ditetapkan. Penerbitan SKPKBT dimaksudkan untuk menampung beberpa
kemungkinan yang terjadi seperti:
1.

adanya SKPKB yang telah ditetapkan ternyata lebih rendah daripada perhitungan yang sebenarnya

2.

adanya proses pengembalian pajak yang telah ditetapkan dalam SKPLB yang seharusnya tidak dilakukan

3.

adanya pajak terutang dalam surat ketetapan pajak nihil (SKPN) yang ditetapkan ternyata lebih rendah

SKPKBT merupakan koreksi atas SKPKB, artinya SKPKBT baru dapat diterbitkan bila sudah pernah diterbitkan
SKPKB, SKPLB, dan SKPN. Diterbitkannya SKPKBT ini juga harus ada syarat adanya data baru (novum) dan/atau
data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan pajak yang terutang dalam ketetapan pajak
sebelumnya. SKPKBT yang kedua bias diterbitkan jika ternyata masih ditemukan lagi adanya data baru (novum)
dan/atau data yang semula belum terunkap yang baru diketahui belakangan oleh direktur jenderal pajak. Jadi
penerbitan SKPKBT bisa dilakukan lebih dari satu kali.

Kekurangan pajak dalam SKPKBT akan ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% dari
jumlah kekurangan pajak tersebut. Penerbitan SKPKBT juga dapat dilakukan setelah lewat jangka waktu 10 tahun
ditambah sanksi bunga sebesar 48% dari jumlah yang tidak atau kurang dibayar apabila wajib pajak terbukti telah
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan telah diputus oleh hakim serta mempunyai kekuatan hokum yang
tetap (in kracht van gewijsde). Funsi SKPKBT adalah sebagai berikut:

Koreksi atau jumlah yang terutang menurut SPT-nya.

Saran untuk mengenakan sanksi.

Alat untuk menagih pajak.

SURAT KETETAPAN PAJAK LEBIH BAYAR (SKPLB)

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

SKPLB diatur dalam pasal 17 Undang-undang KUP. SKPLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah
kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak
seharusnya terutang.
SKPLB akan diterbitkan jika ada permohonan secara tertulis dari wajib pajak. SKPLB harus sudah diterbitkan
selambat-lambatnya 12 bulan sejak permohonan diterima secara lengkap. Apabila kepala KPP tidak memberikan
keputusan, permohonan pengembalian dianggap dikabulkan, dan SKPLB harus diterbitkan selambat-lambatnya 1
bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir. Fungsinya sebagai alat atau sarana untuk mengambil kelebihan
pembayaran pajak.

SURAT KETETAPAN PAJAK NIHIL (SKPN)


SKPN diatur dalam pasal 17A Undang-undang KUP. SKPN adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kredit
pajak atau jumlah pajak yang dibayar sama dengan jumlah pajak yang tertang, atau pajak tidak terutang dan tidak ada
kredit pajak atau tidak ada pembayaran pajak.

Penerbitan SKPN dilakukan baik untuk jenis pajak penghasilan maupun untuk pajak pertambahan nilai dan pajak
pejualan barang barang mewah. Untuk pajak penghasilan, SKPN diterbitkan apabila jumlah kredit pajak sama dengan
jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Untuk pajak pertambahan nilai,
SKPN diterbitkan apabila jumlah kredit pajak sama dengan jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak terutang dan
tidak ada kredit pajak. Sedangkan untuk pajak penjualan barang mewah, SKPN diterbitkan apabila jumlah pajak yang
dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak terutang dan tidak ada pembayaran pajak.

SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK TERUTANG (SPPT)


SPPT diatur dalam pasal 10 ayat 1 Undang-undang No. 12 tahun 1994 tentang pajak bumi dan bangunan (PBB).
SPPT akan dikeluarkan berdasarkan surat pemberitahuan objek pajak (SPOP) yang telah disampaikan oleh wajib
pajak atau berdasrkan data objek pajak yang telah ada pada kantor pelayanan pajak bumi dan bangunan (KPPBB).
SPPT yang telah diterbitkan oleh KPPBB, pelunasannya harus diselesaikan selambat-lambatnya 6 bulan sejak tanggal
diterimanya SPPT oleh wajib pajak. Bila SPPT tidak dilunasi, maka akan dikenakan sanksi berpa denda administrasi
sebesar 2% sebulan dihitung dari saat jatuh tempo sampai hari pembayaran utnuk jangka waktu selama-lamanya 24
bulan.

DALUWARSA PENETAPAN
Daluwarsa penetapan menurut pasal 13 Undang-undang KUP adalah selama 10 tahun. Artinya, direktorat jenderal
pajak diberikan batas waktu sampai dengan 10 tahun untuk mengeluarkan ketetapan pajak (SKPKB) atas utang wajib
pajak. Apabila dalam waktu 10 tahun direktorat jenderal pajak tidak mengeluarkan ketetapan pajak (SKPKB),
pengeluaran SKPKB tidak dapat lagi dilakukan. Dengan demikian utang wajib pajak menjadi daluwarsa.

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

PENCATATAN DAN PEMBUKUAN


Setelah anda membaca Bab ini, diharapkan anda memahami dan mampu menjelaskan tentang :
a.

Pentingnya pembukuan dan pencatatan dalam kaitannya dengan pemeriksaan


pajak;

b.

Kewajiban menyelenggarakan pembukuan dan pencatatan bagi wajib pajak;

c.

Syarat-syarat penyelenggaraan pembukuan dan pencatatan;

d.

Apa saja yang dimaksud dengan elemen pembukuan dan pencatatan;

e.

Metode pembukuan yang terdiri dari metode actual dan metode kas yang
diperkenankan oleh ketentuan perpajakan;

f.

Pengertian mengenai penggunaan dan penyebutan tahun pajak.

Undang-undang perpajakan menggunakan istilah pembukuan dan bukan Akuntansi (Pasal 28 UUKUP). Akuntansi
berdimensi lebih luas, yaitu meliputi pembukuan itu sendiri, penyusunan system akuntansi, interpretasi laporan
keuangan dan penyajian informasi.

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi
keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan, dan biaya serta jumlah harga perolehan.dan
penyerahan barang atau jasa yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan rugi/laba
pada setiap tahun pajak terakhir. Sedangkan Laporan Keuangan sebagai lampiran yang melengkapi SPT, yang
minimal diisyaratkan terdiri dari neraca dan laporan rugi/laba, dapat disebut sebagai laporan keuangan fiscal,
sepanjang sudah disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan.
Dengan demikian, tujuan pembukuan untuk keperluan perpajakan adalah pembukuan yang dapat dipakai untuk
membuktikan kebenaran angka-angka yang dilaporkan dalam SPT, lebih-lebih pada saat wajib pajak diperiksa atau
dilakukan penyelidikan tarhadapnya. Oleh karena itu, apabila wajib pajak ternyata menyelenggarakan pembukuan
berdasarkan standart akuntansi yang belaku, maka harus melakukan penyesuaian atau rekonsiliasi (fiskal) terlebih
dahulu, yaitu melakukan koreksi-koreksi fiskal, baik koreksi fiskal positif maupun koreksi fiskal negative, atas
elemen-eleman dalm neraca dan daftar laba/rugi sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

Pencatatan merupakan ikhtisar atau daftar ringkasan penerimaaan penghasilan dari penjualan atau sumber-sumber
penghasilan yang diterima wajib pajak dari waktu ke waktu.

Kewajiban Menyelenggarakan Pembukuan dan Pencatatan


a.

Kewajiban Pembukuan
Kewajiban

pembukuan diatur dalam ketentuan PPN, yaitu dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1983

sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 11 Tahun 1994 disebutkan dalam pasal 6 sebagai
berikut :
1.

Setiap pengusaha kena pajak diwajibkan diwajibkan mencatat semua jumlah harga perolehan dan
penyerahan barang kena pajak dalam pembukuan perusahaan.

2.

Dalam pembukuan ini harus dicatat secara terpisah dan jelas, jumlah harga perolehan dan penyerahan
barang atau jasa, terutang tidak dipungut, dikenakanan tarif 0%, serta mendapat pembebasan pengenaan
pajak

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

3.

Pengusaha memilih dikenakan PPh berdasarkan norma penghitungan penghasilan neto, wajib membuat
catatan nilai peredaran bruto secara teratur, sepanjang terutang pajak pertambahan nilai atas barang dan
jasa.

b.

Penggunaan Norma Perhitungan


Dalam pasal 14 ayat (2) Undang-Undang No. 7 Tahun1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang No. 17 Tahun 2000, dinyatakan bahwa jumlah peredaran bruto yang menjadi
batas kewajiban tidak menyelenggarakan pembukuan adalah kurang dari Rp. 600.000.000,00 dalam satu tahun
buku.

Undang-undang PPN juga menganut asas yang sama, yaitu setiap wajib pajak yang menjadi pengusaha kena
pajak wajib menyelenggarakan pembukuan. Terhadap pengusaha kena pajak semacam ini berlaku ketentuan
mengenai pedoman pengkreditan pajak masukan, yaitu untuk menghitung PPN yang harus dibayar dengan
menggunakan suatu norma penghitungan yang berlaku untuk pengkreditan pajak masukan selama masa pajak
tertentu.

Syarat-Syarat Pembukuan dan Pencatatan


Pembukuan diselenggarakan wajib pajak sesuai dengan ketentuannya harus memenuhi syarat antara lain sebagai
berikut :
a.

Pembukuan harus dilaksanakan di Indonesia dengan menggunakan dengan menggunakan huruf latin, angka
arab, satuan mata uang rupiah dan disusun dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing yang diizinkan oleh
Menteri Keuangan;

b.

Pembukuan harus meliputi seluruh kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang dilakukan wajib pajak;

c.

Pembukuan harus didukung dengan bukti-bukti transaksi yang dapat dipertanggung jawabkan kebenaran dan
keabsahannya;.

d.

Pembukuan harus dilakukan secara teratur dan diselenggarakan dengan prinsip taaat asas;

e.

Pembukuan harus ditutup dengan membuat neraca dan perhitungan laba/rugi pada setiap akhir tahun pajak;

f.

Pembukuan harus dapat ditelusuri kembali apabila diperlukan;

g.

Pembukuan ssekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta, utang, atau kewajiban, modal,
penghasilan, biaya, penjualan sehingga dapat dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak-pajak yang
terutang.

Sementara untuk pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan
bruto atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang
bukan objek pajak atau penghasilan yang dikenakan pajak bersifat final. Tujuan Kewajiban Menyelenggarakan
Pembukuan dan Pencatatan adalah agar dapat digunakan untuk menghitung besarnya pajak yang terutang, jumlah
pajak yang sudah dibayar sendiri atau melalui pemotongan dan pemungutan pihak lain, penghasikan yang bukan
objek pajak, tetapi telah dikenakan pajak bersifat final maupun tidak final.

Unsur-Unsur Pembukuan
Berdasarkan ketentuan pasal 28 ayat (7) UUKUP, bahwa pembukuan yang diselenggarakan wajib pajak paling sedikit
terdiri dari :

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

a.

Pembukuan Kas/Bank

Pembukuan mengenai kas dan bank untuk menggambarkan keadaan kas/bank pada periode akuntansi tertentu,
dengan mencatatat semua penerimaan dan pengeluaran melalui kas/bank, sehingga dari pembukuan ini dapat
diketahui :
1.

Saldo kas/bak pada suatu saat tertentu, dan

2.

Seluruh mutasi kas/bank selama periode akuntansi tertentu.

b.

Pembukuan Piutang
Pembukuan Piutang digunakan untuk menyajikan informasi mengenai keadaan/posisi saldo piutang pada saat
tertentu dan mutasi piutang selama periode akuntansi tertentu, termasuk adanya penambahan atau pengurangan
piutang.

c.

Pembukuan Persediaan
Pembukuan persediaan barang diselenggarakan untuk menyajikan informasi mengenai posisi persediaan barang
atau bahan pada saat tertentu, termasuk mutasi barang/bahan selama periode tertentu, baik menggenai kuantum
atau nilainya, sehingga dari pembukuan persediaan dapat dikalkulasikan harga pokok penjualan barang/bahan
yang dijual atau dipakai untuk keperluan lainnya.

d.

Pembukuan Harta Yang Dapat Disusutkan/Diamoritisasi


Harta yang dapat disusustkan adalah harta berwujud dimiliki dan digunakan dalam kegiatan usaha, dan
pekerjaannya yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun kecuali tanah.

e.

Pembukuan Harta Lainnya


Disini yang dimaksudkan dengan harta lainnya adalah semua harta yang tidak termasuk ke dalam golongan
kas/bank, piutang, persediaan, dan harta yang dapat disusutkan atau diamortisasi, misalnya : tanah, surat-surat
berharga, deposito berjangka dan penyertaan.

f.

Pembukuan Utang
Pembukuan utang dimaksudkan agar dapat menyajikan informasi mengenai saldo utang pada saat tertentu dan
mutasi utang selama periode tertentu, penambahan atau pengurangan utang.

g.

Pembukuan Modal
Yang dimaksud dengan modal, disini meliputi modal yang disetor oleh pemilik/pemegang saham dan laba
ditahan yang tidak/belum diambil oleh pemilik. Pembukuan modal bertujuan untuj menyajikan data atau
keterangan secara rinci mengenai besarnya modal awal periode akuntansi.

h.

Pembukuan Penghasilan
Pengertian penghasilan sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan undang-undang pajak penghasilan, tidak
terikat ada atau tidaknya sumber-sumber penghasilan tertentu, seperti yang dianut oleh undang-undang
perpajakan yang lama.

i.

Pembukuan Biaya
Dari pembukuan biaya dapat diketahui secara jelas mengenai biaya-biaya yang boleh dikurangkan dan tidak
boleh dikurangkan dari penghasilan bruto sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

j.

Neraca dan Perhitungan Laba Rugi


Dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2000, dinyatakan bahwa pembukuan pada setiap tahun pajak berakhir,
ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi.

Metode Pembukuan

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

Metode Pembukuan sebagai aturan yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya penghasilan dan biaya dalam
suatu periode akuntansi tertentu atau uantuk menentukan dasar pengenaan PPN yang terutang.

Metode akrual ialah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya, yaitu bahwa penghailan diakui pada waktu
diperoleh dan biaya diakui pada saat terutang.
Metode kas adalah suatu metode penghitungan yang didasarkan atas penghasilan yang diterima dan biaya yang
dibayar secara tunai. Pemakaian metode kas dalam UUPPN/PPn.BM digunakan sebagai dasar pengenaan pajak atas
penyerahan dan perolehan BKP/JKP secara tunai.

Dokumen Pembukuan
Berdasarkan ketentuan pasal 28 ayat (11) UUKUP, pembukuan dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas wajib pajak, harus disimpanselam 10 tahun, sehingga apabila pada suatu saat
nanti Direktur Jendral Pajak akan mengeluarkan surat ketetapan pajak bahan pembukuan yang diperlukan masih tetap
tersedia.
Wajib pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing dan mata uang selain rupiah adalah :
1)

Wajib pajak dalam rangka penanaman modal asing;

2)

Wajib pajak dalam rangka kontrak karya;

3)

Wajib pajak dalam rangka kontrak bagi hasil;

4)

Bentuk usaha tetap;

5)

Wajib pajak yang berafiliasi dengan usaha induk di luar negeri.

Bahasa asing dan mata uang selain rupiah yang diperbolehkan untuk dipergunakan dalm pembukuan wajib pajak
adalah bahasa Inggris dan mata uang dolar Amerika Serikat sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan No.
533/KMK.04/2000. Bagi wajib pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan
mata uang dolar Amerika Serikat, berlaku ketentuan konversi ke mata uang dolar Amerika Serikat Sebagai berikut :

Pada Awal Tahun


Penyelenggaraan pembukuan dalam mata uang dolar Amerik Serikat untuk pertama kali dilakukan dengan
bertitik tolak dari neraca akhir tahun buku sebelumnya yang dikonversi ke mata uang dolar Amerika Serikat.

Dalam Tahun Berjalan


Untuk transaksi yang dilakukan dalam mata uang dolar Amerika Serikat
Untuk transaksi, baik dalam negeri maupun luar negeri yang menggunakan mata uang selain dolar Amerika
Serikat, yang dikonversikan ke mata uang dolar Amerika Serikat.

TAHUN PAJAK
Tahun pajak pada hakekatnya adalah tahun takwim (tahun kalender). Wajib pajak dapat menggunakan tahun buku
yang tidak sama dengan tahun takwim, sepanjang tahun buku yang dipilihnya meliputi periode selama 12 bulan.
Tahun takwim atau tahun buku digunakan sebagai dasar perhitungan penghasilan kena pajak.

PPN/PPn.BM menganut masa pajak yang lamanya satu bulan takwim. Penghitungan PPN/PPn.BM yang terutang
dilakukan uantuk semua transaksi penjualan, pembelian, dan penerimaan uang muka, atau termin pembayaran yang
terjadi setiap bulan takwim.Pada umumnya tahun pajak sama dengan tahun kalender. Akan tetapi wajib pajak

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang

BAB 1 / Ketentuan Umum dan 1


Tata Cara Perpajakan

menggunakan tahun pajak tidak sama dengan tahun kalender dengan syarat konsisten (taat asas) selama 12 bulan, dan
melapor atau memberitahu kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat. Cara menentkan suatu tahun pajak
adalah sebagai berikut:

Tahun pajak sama dengan tahun takwin.

1 Januari 2000

31Desember

Pembukaaan dimulai 1 Januari 2000 dan berakhir 31 Desember 2000, disebut tahun pajak 2000

Tahun pajak tidak sama dengan tahun takwim.

1 Juli 1999

30 Juni 2000

Pembukuan dimulai 1 Juli 1999 dan berakhir 30 Juni 2000. disebut tahun pajak 1999 karena 6 bulan pertama
jatuh pada tahun 1999.

1 Oktober 1999

30 september 2000

Pembukuan dimulai 1 oktober 1999 dan berakhir 30 September 2000. disebut tahun pajak 2000 karena lebih dari
6 bulan pada tahun 2000.

Jurusan Administrasi Niaga


Politeknik Negeri Malang