Anda di halaman 1dari 3

EPISTAKSIS

No. Dokumen
...

Halaman
1 dari 2

No. Revisi
...
Ditetapkan,

SPO
(STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL)

PENGERTIAN

Direktur RSUD Sungailiat


Tanggal terbit
...
dr. Jasminar

Perdarahan Hidung (Epistaksis, Mimisan) adalah pardarahan yang


berasal dari hidung.
Penyebab
1. Infeksi lokal
Vestibulitis
Sinusitis
2. Selaput lendir yang kering pada hidung yang mengalami cedera
Trauma, misalnya mengorek hidung, terjatuh, terpukul,
adanya benda asing di hidung, trauma pembedahan atau
iritasi oleh gas yang merangsang
Patah tulang hidung
3. Penyakit kardiovaskuler
Penyempitan arteri (arteriosklerosis)
Tekanan darah tinggi
4. Infeksi sistemik
Demam berdarah
Influenza
Morbili
Demam tifoid
Kelainan darah
Anemia aplastik
Leukemia
Trombositopenia
Hemofilia
Telangiektasi hemoragik herediter
6. Tumor pada hidung, sinus atau nasofaring, baik jinak maupun
ganas
7. Gangguan endokrin, seperti pada kehamilan, menars dan
menopause
8. Pengaruh lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir
mendadak (seperti pada penerbang dan penyelam/ penyakit caisson
atau lingkungan yang udaranya sangat dingin
9. Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan mimisan ringan
disertai ingus berbau busuk
10. Idiopatik, biasanya merupakan mimisan yang ringan dan berulang
pada anak dan remaja.
Gejala

Epistaksis dibagi menjadi 2 kelompok: Epistaksis anterior :


perdarahan berasal dari septum (pemisah lubang hidung kiri dan
kanan) bagian depan, yaitu dari pleksus Kiesselbach atau arteri
etmoidalis anterior. Biasanya perdarahan tidak begitu hebat dan
bila pasien duduk, darah akan keluar dari salah satu lubang
hidung. Seringkali dapat berhenti spontan dan mudah diatasi.
Epistaksis posterior : perdarahan berasal dari bagian hidung yang
paling dalam, yaitu dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis
posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada usia lanjut,
penderita hipertensi, arteriosklerosis atau penyakit kardiovaskular.
Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan. Darah
mengalir ke belakang, yaitu ke mulut dan tenggorokan
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan Penunjang untuk memperkuat diagnosis epistaksis:
Pemeriksaan darah tepi lengkap
Fungsi hemostatis
Tes fungsi hati dan ginjal
Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal dan nasofaring

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

Penanganan yang tepat dapat menghindari terjadinya pendarahan lebih


lanjut

Rawat inap bila:


1. Penderita mengalami perdarahan hebat
2. Dari hasil pemeriksaan terdapat tanda syok
3. Penderita usia lanjut
Perhatikan keadaan umum pasien.
2. Tenangkan kondisi pasien dan keluarga
3. Pastikan bahwa pasien tidak dalam keadaan syok.
Jika ada riwayat telah terjadi perdarahan hebat, segera
pasang Infus, periksa darah rutin, pemeriksaan fungsi
pembekuan dan golongan darah dilakukan jika perlu
transfusi darah.
Jika pasien dalam keadaan syok, segera pasang infus
dan pemberian obat-obat yang diperlukan untuk
memperbaiki keadaan umum.
4. Menghentikan perdarahan
4.a. Epistaksis Anterior
Epistaksis anterior Penderita sebaiknya duduk tegak agar
tekanan vaskular berkurang dan mudah membatukkan darah
dari tenggorokan
Epistaksis anterior yang ringan biasanya bisa dihentikan
dengan cara menekan cuping hidung selama 5-10 menit
Jika tindakan diatas tidak mampu menghentikan perdarahan,
maka dipasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan
adrenalin dan lidocain atau pantocain untuk menghentikan
perdarahan dan mengurangi rasa nyeri

Bila dengan cara tersebut perdarahan masih terus


berlangsung, maka diperlukan pemasangan tampon anterior
yang telah diberi salep antibiotika agar tidak melekat
sehingga tidak terjadi perdarahan ulang pada saat tampon
dilepaskan.
Tampon anterior dimasukkan melalui lubang hidung depan,
dipasang secara berlapis mulai dari dasar sampai puncak
rongga hidung dan harus menekan sumber perdarahan.
Tampon dipasang selama 1-2 hari.
Jika tidak ada penyakit yang mendasarinya, penderita tidak
perlu dirawat dan diminta lebih banyak duduk serta
mengangkat kepalanya sedikit pada malam hari.
2. Epistaksis posterior
Pada epistaksis posterior, sebagian besar darah masuk ke
dalam mulut sehingga pemasangan tampon anterior tidak
dapat menghentikan perdarahan
Konsultasi dokter spesialis THT

Unit terkait

UGD,rawat inap,konsul dokter konsulen