Anda di halaman 1dari 13

TEKNIK KULTUR MIKROALGA

UNTUK MEMENUHI MATA KULIAH


Fikologi
yang dibimbing oleh Ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si

oleh
Anisa Fariantika
140342601189

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
November 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat berlimpah, termasuk di
dalamnya adalah keanekaragaman hayati mikroalga. Mikroalga adalah tanaman yang paling
efisien dalam menangkap dan memanfaatkan energi matahari dan CO 2 untuk keperluan
fotosintesis (Jati, 2007). Selain itu, CO2 dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas. Di
Indonesia sendiri dapat dijumpai ratusan jenis mikroalga. Pada sisi lain, fungsi ekologis

mikroalga sangat membantu dalam pencegahan terjadinya pemanasan global. Beberapa jenis
mikroalga yang banyak dijumpai pada wilayah perairan serta dibudidayakan antar lain
Chlorella vulgaris, Chlorella sp. dan Nannochloropsis oculata.
Mikroalga merupakan tumbuhan air yang memiliki berbagai potensi yang dapat
dikembangkan sebagai sumber pakan, pangan, dan telah dimanfaatkan untuk berbagai
macam keperluan mulai dari bidang perikanan sebagai makanan larva ikan, organisme
penyaring, industri farmasi, dan makanan suplemen dengan kandungan protein, karbohidrat,
lipid, dan berbagai macam mineral. Selain itu, mikroalga juga digunakan dalam pengolahan
limbah logam berat sebagai pengikat logam dari badan air dan mengendapkannya pada dasar
kolam serta dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk biodiesel (Kabinawa, 2006).
Sel mikroalga dapat dibagi menjadi beberapa divisi, dan setiap divisi mempunyai
karakteristik yang ikut memberikan andil pada kelompoknya, tetapi spesies-spesiesnya cukup
memberikan perbedaan-perbedaan dari lainnya. Ada empat karakteristik yang digunakan
untuk membedakan divisi mikroalga yaitu; tipe jaringan sel, ada tidaknya flagella, tipe
komponen fotosintesa, dan jenis pigmen sel. Selain itu morfologi sel dan bagaimana sifat sel
yang menempel berbentuk koloni atau filamen adalah merupakan informasi penting di dalam
membedakan masing-masing kelompok.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa saja teknik dari kultur mikroalga?
1.2.2 Faktor apa saja yang mempengaruhi kultur mikroalga?
1.2.3 Bagaimana scale up dari kultur mikoralga?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui teknik dari kultur alga.
1.3.2 Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi kultur mikroalga
1.3.3 Untuk mengetahui scale up dari kultur mikroalga.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kultur Mikroalga
Proses kultur mikroalga dapat dilakukan dengan sistem tertutup maupun terbuka, baik
secara indoor atau outdoor ,dengan berbagai metode seperti metode batch, kontinu dan,
semi kontinu. Masing-masing sistem dan metode kultur bisa dikombinasikan sesuai
dengan target yang ingin dicapai. Proses pemanenan umumnya dilakukan setelah
mikroalga mencapai konsentrasi 107 sel/ml. Proses pemanenan kultur mikroalga untuk
memperoleh konsentrat mikroalga menggunakan cara kovensional berupa teknik
flokulasi kimia dan sentrifugasi (Lannan, 2011). Kultur dalam ruangan memungkinkan kontrol
atas pencahayaan, temperatur, tingkat gizi, kontaminasi denganpredator,danpersainganalga.
Beberapa

metode

kultivasi

mikroalga

dapat

diterapkan

sesuai

dengan

kenginginan. Kultivasi ini dapat ditinjau dari berbagai segi seperti dari segi nutrien, cara
pemanenan, dan sistem pond yang ingin digunakan.
Kultivasi mikroalgae dibedakan menjadi dua, open pond dan closed pond
photobioreactor. Masing masing cara kultivasi memiliki kelebihan dan kekurangan
ditinjau dari beberapa aspek seperti biaya investasi, kontaminasi dan sebagainya.
a. Open Pond
Sistem kultivasi open pond rentan terhadap serangan mikroalgae dan protozoa asing.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan untuk mikroalga jenis tertentu yang
hidup pada lingkungan ekstrim seperti Spirulina yang dapat tumbuh pada alkalinitas yang

tinggi, Dunaliella yang tumbuh pada salinitas yang tinggi, dan Chlorella yang tumbuh
pada medium dengan nutrien yang tinggi dan kompleks. Ditinjau dari produktivitas
biomas, sistem open pond kurang efisien dibanding photobioreaktor sistem tertutup. Hal
ini dikarenakan potensi evaporasi medium, temperatur yang fluktuatif, dan pengadukan
yang kurang sempurna.

Gambar 2.1 Budidaya mikroalga sistem open pond.

Pada umumnya, kultivasi mikroalgae secara komerisial menggunakan metode open


pond karena dipilih berdasarkan biaya investasinya yang murah. Di antara desain open
pond lainnya, desain raceway lazim ditemui dalam industry pengolahan mikroalga.
Sistem raceway ini ditujukan untuk menghindari sedimentasi biomas dan mempermudah
pencampuran nutrien dengan medium. Pond memiliki kedalaman 0.2-0.5 meter, dan
medium diaduk menggunakan paddle wheel.

Gambar 2.2 Komponen Open Pond Photobioreactor

b. Closed Pond Photobioreactor


Sistem kultivasi ini lebih memiliki ketahanan terhadap kontaminan bakteri dan algae
lain dibanding sistem terbuka, sehingga spesies algae tunggal dapat terjaga dan
menaikkan yield biomass.

Gambar 2.3 Budidaya mikroalgae sistem tertutup / closed pond

Closed pond biasanya didesain dalam bentuk tubular, plate, dan bentuk kolom. Sistem
ini juga lebih fleksibel, reaktor dapat dioptimasi sesuai karakterisasi mikroalgae.
Parameter seperti pH, temperatur, konsentrasi CO2 dan nutrient dapat dikontrol dengan
mudah. Kelemahan dari sistem ini adalah biaya yang tinggi apabila diterapkan dalam
skala komersial dan kesukaran dalam proses scale up. Dalam skala kecil, luas area

permukaan terhadap rasio volume dapat dengan mudah didapatkan. Akan tetapi jika skala
desain dinaikkan, rasio antara volume dan luas permukaan cenderung menurun. Di lain
hal, terjadinya akumulasi oksigen pada sistem tertutup juga dapat merugikan
pertumbuhan mikroalgae (Lannan, 2011).

Gambar 2.4 komponen closed pond photobioractor

Beberapa metode kultivasi terkadang cocok dibiakkan pada kondisi lahan tertentu,
atau mikroalga jenis tertentu, atau didasarkan pada kondisi iklim/pencahayaan. Beberapa
metode terkadang cocok digunakan di satu tempat dan juga didasarkan pada aspek
ekonominya, kemudahan dalam perawatan, efisiensi energi, dan biomas yang didapatkan.
2.2 Teknik Kultur Mikroalga dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kultur Alga
2.2.1 Jenis-jenis teknik kultur mikroalga yang sering digunakan, antara lain:
a. Kultur Batch
Sistem ini merupakan sistem kultur sederhana dan rendah biaya. Kultur batch menggunakan sistem
tertutup dengan volume terbatas (sumber dayanya terbatas). Kepadatan sel populasi alga terus meningkat
sampai ambang batas (kelelahan) dari beberapa faktor pembatas, sedangkan komponen nutrisi yang lain
dari medium kultur menurun dari waktu ke waktu. Setelah sumber daya dimanfaatkan oleh sel-sel, kultur
akan mati kecuali disediakan medium baru.
b. Kultur Kontinue
Pada kultur ini sumber daya tidak terbatas. Kultur continue memungkinkan pemeliharaan kultur
sangat dekat dengan tingkat pertumbuhan maksimum, karena kultur tidak pernah kehabisan nutrisi. Ada
2 kategori yang termasuk dalam kultur continue:
-Kultur Turbidostat

Media segar ditambahkan hanya ketika kepadatan sel kultur mencapai beberapa titik yang telah
ditentukan, yang diukur dengan sedikit cahaya yang melewati kultur. Pada titik ini, medium segar
ditambahkan ke kultur dan volume kultur yang seimbang akan dihilangkan. Kultur yang diencerkan
meningkatkan kepadatan sel hingga proses diulang
-Kultur Chemostat
Aliran medium segar ditambahkan ke dalam kultur pada tingkat stabil yang telah ditentukan.
Terakhir menambahkan nutrisi pembatas penting (misalnya, nitrat) pada tingkat tetap dan dengan cara
ini tingkat pertumbuhan dan bukan kepadatan sel dipertahankan konstan.
c. Kultur Semi Kontinue
Kultur semi kontinyu adalah sistem di mana bagian dari kultur

dipanen dan

digunakan sebagai makanan, dan jumlah yang dipakai diganti dengan medium kultur
segar (air laut bersih dan garam nutrisi). Setelah memungkinkan 2-3 hari untuk sisa sel
tumbuh dan membelah, proses ini diulang. Kultur semi kontinyu dapat dioperasikan
hingga 7 sampai 8 minggu.
2.2.2

Faktor faktor yang mempengaruhi kultur mikrolaga

Dengan melihat berbagai manfaat alga, untuk membudidayakannya membutuhkan


berbagai kondisi untuk pertumbuhannya seperti :
a. Cahaya
Cahaya menjadi faktor penting dalam pertumbuhan mikroalga karena dibutuhkan
dalam proses fotosintesis. Intensitas cahaya sering disebutkan dalam satuan
microEinsteins/m2s atau setara dengan satu mol photons. Beberapa satuan lain seperti
micromol/ m2s, Lux dan W/m2 juga digunakan. Jeon et al (2005) melaporkan bahwa
aktivitas fotosintesis naik seiring kenaikan intensitas cahaya. Hal ini menjadi penting
apabila mikroalga dibiakkan dalam kedalaman tertentu, semakin dalam medium
mikroalga, intensitas cahaya yang dibutuhkan juga semakin tinggi. Choochote et al,
(2010) melaporkan bahwa Chlorella sp dapat tumbuh dalam keadaan maksimum pada
kondisi intensitas cahaya 5000 lux.
Sebagian besar mikroalga tidak dapat tumbuh dengan baik dalam keadaan
pencahayaan yang konstan, karena membutuhkan waktu istirahat untuk menyimpan

makanan. Terkadang dilakukan manipulasi durasi pencahayaan light .dark (L/D) antara
lain 16:8, 14:10 atau 12:12 waktu pencahayaan.
b. Suhu
Kebanyakan jenis ganggang tumbuh dengan baik pada suhu 17 o C hingga 20oC. Suhu
yang lebih rendah biasanya tidak akan membuat ganggang mati, tetapi akan mengurangi
laju pertumbuhan mereka. Suhu diatas 27oC sebagian jenis alga akan mati. Jika perlu
kultur dapat didinginkan oleh aliran air dingin diatas permukaan pembuluh atau dengan
mengendalikan suhu udara dengan AC. Studi tentang pengaruh temperatur dan growth
rate mikroalga telah dilakukan oleh Goldman dan Carpenter (1974), dan dilaporkan
bahwa kenaikan temperatur pada range tertentu dapat menaikkan growth rate mikroalga.

c. Nutrisi
Nutrient adalah faktor penting dalam produksi biomass alga. Sebagian besar
mikroalga membutuhkan makronutrien seperti karbon, (C), nitrogen (N), hydrogen (H),
sulfur (S), kalium (K), magnesium (Mg), dan fosfor (P) Sedangkan mikronutrient
digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan sel dan metabolisme. Keberadaan
mikronutrien tidak bisa diganti oleh zat lain. Kebutuhan mikronutrien juga berbeda beda
berdasarkan habitat mikroalga (air laut, payau, tawar). Beberapa unsur mikronutrien di
antaranya, zat besi (Fe), boron (B), mangan (Mn), vanadium (Va), silikon (Si), selenium
(Se), cuprum (Cu), nikel (Ni), dan molybdinum (Mo).
d. Pengadukan
Pengadukan pada medium mikroalga dibutuhkan agar tidak terjadi pengendapan
biomass, selain itu difungsikan untuk pencampuran nutrient, dan meningkatkan
difusifitas gas CO2. Beberapa metode pengadukan yang umum digunakan adalah bubling
menggunakan udara (dapat membahayakan sel), dan paddle atau pengaduk otomatis.
Beberapa mikroalga dapat tumbuh baik tanpa pengadukan jika konsentrasinya tidak
terlalu pekat.
e. Karbon dioksida
Karbon dioskida digunakan mikroalgae untuk proses fotosintetis layaknya tumbuhan
berklorofil lainnya. Ugwu et al (2008) melakukan penelitian tentang transfer massa CO2

pada medium mempengaruhi laju pertumbuhan mikroalgae. Namun tingginya kadar CO2
dalam medium juga dapat mempengaruhi pH. Kong et al (2010) melakukan penelitian
tersebut dan mendapatkan hasil bahwa semakin tinggi kadar CO2 di atas 33% dari
komposisi udara normal, laju pertumbuhan mikroalgae menjadi terhambat.
f. pH
Sebagian besar algae tumbuh pada kondisi pH normal antara 6 sampai 8. Akan tetapi
beberapa algae jenis cyanobacteria seperti Spirulina platensis hanya dapat tumbuh pada
kondisi alkali/basa. Sementara Chlorella secara umum dapat hidup dalam kondisi pH
antara 7-8.
g. Salinitas
Mikroalga air laut umumnya rentan terhadap perubahan salinitas pada medium.
Dunaliella salina dan Spirulina platensis adalah contoh mikroalga yang dapat tumbuh
subur pada salinitas yang tinggi (Graneli dan Salomon, 2010).
h. Kebersihan
Air laut yang mengandung ganggang harus bersih atau tidak diinginkan jenis ganggang
dan kontaminan lainnya, yang dapat memakan atau bersaing dengan ganggang, akan
tumbuh dalam kultur. Jumlah kecil (sampai sekitar 10 liter) air laut dapat diautoklaf
(disterilkan dengan uap pada tekanan tinggi - pressure cooker adalah autoklaf kecil), atau
dipasteurisasi (dipanaskan sampai 80oC selama 1-2 jam, pendinginan sampai suhu kamar
selama setidaknya 18 jam, kemudian dipanaskan sampai 80oC.
3.3 Scale up Mikroalga
Secara umum budidaya mikroalga didasarkan pada tiga tahap. Tahap pertama dimulai
dengan skala laboratorium / pembibitan, dilanjutkan pada skala semi massal, dan berakhir
pada skala komersial (Chaumont, 1993 dan Kabinawa, 2006).
a. Skala laboratorium
Pada skala laboratorium, dilakukan kulturisasi mikroalga yang diperoleh dari
beberapa laboratorium yang membudidayakan mikroalga jenis tunggal. Sebagai contoh
laboratorium penyedia bibit adalah BBPBAP Jepara, BBPBAP Bogor, LIPI, dan
sebagaianya. Pada tahap inokulasi (transfer ke medium yang lebih besar), mikroalga yang
digunakan sebagai bibit harus benar-benar steril, memiliki kepekatan yang tinggi. Pada
skala laboratorium, mikroalga ditempatkan pada erlenmeyer atau gelas kaca yang steril,

dan benar-benar dijaga kondisi lingkungan seperti pH, intensitas cahaya, nutrien, dan
pertumbuhannya.
b.

Skala semi massal


Skala semi massal digunakan untuk mempersiapkan mikroalga ke skala komersial.

Kabinawa (2006) menyarankan, pada fase ini sebaiknya kultur mikroalga dilakukan pada
rumah kaca untuk menghindari kontaminan dan air hujan. Pada tahap ini mikroalga akan
beradaptasi ke lingkungan semi steril sebelum dijadikan skala komersial. Kolam kultur
berbentuk bulat dengan tinggi maksimum 50 cm, dan diameter antara 2- 5 m, dengan
jumlah kultur 10-15% dari total volume. Intensitas cahaya berada pada range 3500-5000
lux, dengan penambahan lampu TL sebagai back-up apabila terjadi mendung/hujan.
Pengadukan kultur dilakukan dengan kecepatan 50-60 cm/detik dengan durasi 2 jam pada
pagi hari (08.00-10.00), (12.00-14.00) dan (16.00-18.00), untuk menghindari
pengendapan, penyebaran nutrien yang merata, dan pencahayaan yang seragam. Pada
kurun waktu selama 6-10 hari, mikroalgae sudah dapat dipindah ke skala komersial /skala
pilot.
c.

Skala komersial
Pada skala komersial, keberhasilan mikroalga tergantung pada cuaca luar, lingkungan

dan kontaminan lain. Beberapa metode kultivasi skala komersial yang umum digunakan
adalah open pond raceways (sistem bak terbuka), dan photobioreactor (sistem tertutup),
dan masing-masing metode memiliki kelebihan serta kekurangan tersendiri. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam budidaya secara komersial adalah factor kontaminan dari
mikroorganisme atau mikroalga lain. Beberapa mikroalga dapat dimanipulasi keadaan
lingkungannya untuk menghindari atau memperkecil kontaminan lain. Seperti contoh,
Spirulina platensis dapat hidup di lingkungan ber pH dan salinitas yang tinggi. Kondisi
ini menguntungkan bagi Spirulina dan dapat mematikan beberapa kontaminan mikroba
lain. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah durasi pemanenan, serta peremajaan
medium. Beberapa mikroalga hanya dapat digunakan pada rentang pemanenan 3 sampai
4 kali, untuk itu perlu dilakukan peremajaan atau pengurasan bak.

Gambar 2.5 Beberapa contoh pengembangan mikroalga skala komersial.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Proses kultur mikroalga dapat dilakukan dengan system open pond dan closed pond
photobioreactor. Masing masing cara kultivasi memiliki kelebihan dan kekurangan ditinjau dari
beberapa aspek seperti biaya investasi, kontaminasi dan sebagainya.
3.2 Teknik kultur alga terdiri dari kultur batch, kultur semi kontinyu, dan kultur kontinyu. Factorfaktor yang mempengaruhi kultur alga meliputi intesitas cahaya, suhu, pH, salinitas, karbon
dioksida, pengadukan, dan nutrisi.
3.3. Budidaya mikroalga didasarkan pada tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan skala
laboratorium / pembibitan, dilanjutkan pada skala semi massal, dan berakhir pada skala komersia

DAFTAR RUJUKAN
Chaumont, Daniel. 1993. Biotechnology of algal biomass production: A Review of Systems for
Outdoor Mass Culture. Journal of Applied Phycology. 5,593-604.
Choochote, W., Paiboonsin, K., Ruangpan, S., Phauruang, A.2010.Effects of Urea and Light
Intensity on the Growth of Chlorella sp.The 8th International Symposium on Biocontrol
and Biotechnology

Goldman, JC., and Carpenter, EJ. 1974. A Kinetic Approach to the Effect of Temperature on
Algal Growth. Limnol. Oceanogr.19, 756-766.
Graneli, Enda., & Salomon, PS.2010.Factor Influenceing Allelopathy And Toxicity in
Prymnesium parvum. Journal of The American Water Resources Association.46,1
Jeon MW, Ali MB, Hahn EJ, Paek KY.2005.Effect of photon flux density on the morphology,
photosynthesis, and growth of a CAM orchid, Doritaenopsis during
postmicropropagation acclimatization. Plant Growth Regul .45,139147
Kabinawa, I.N.K. 2006. Spirulina; Ganggang Penggempur Aneka Penyakit. Jakarta: Agromania
Lannan, Eric. 2011.Scale-up of Algae Growth System to Cleanse Wastewater and Produce Oils
for Biodiesel Production. Master Thesis. Rochester Institute of Technology.Rochester,
New York.
Stein, J. 1973. (Ed.) Handbook of Phycological methods. Culture methods and growth
measurements. Cambridge University Press. 448 pp.
Ugwu, CU., Aoyagi, H., dan Uchiyama, H. 2008. Photobioreactors for mass cultivation of
algae.Bioresource Technology. 99, 4021-4028.

Anda mungkin juga menyukai