Anda di halaman 1dari 20

KEBIJAKAN EKONOMI

BANTUAN LANGSUNG SEMENTARA MASYARAKAT (BLSM)

Makalah
Disusun untuk menenuhi salah satu tugas mata kuliah
Ekonomi Publik

Irvan Nugraha
1010044

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


SEKOLAH TINGGGI ILMU EKONOMI LATIFAH
MUBAROKIYAH
SURYALAYA-TASIKMALAYA

2014

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan

puji

syukur kehadirat Alloh SWT, yang

telah memberikan berkat, rahmat, serta karunia-Nya, sehingga


saya dapat menyelesaikan makalah tentang Kebijakan Bantuan
Langsung Sementara Masyarakat ini.
Dalam

penyusunannya, penulis menyadari

masih banyak

kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,


dengan rendah hati saya menanti saran dan kritik yang sifatnya
membangun dari semua pembaca.
Dalam kesempatan ini perkenankanlah saya menyampaikan rasa
terimakasih

kepada

semua

pihak

yang

membantu

terselesaikannya makalah ini.


Satu harapan yang saya inginkan semoga makalah ini dapat
berguna bagi semua pembaca.

Tasikmalaya, Agustus 2014


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................1
C. Tujuan Penulisan...................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................3
A. Efesiensi Pemberian BLT/BLSM Untuk Masyarakat Miskin....3
B. Apakah Merupakan Beban Baru BLT/BLSM Untuk Masyarakat
Miskin.........................................................................................4
C. BLT/BLSM Sarat Kepentingan Politik.....................................7
D. BLT/BLSM picu konflik...........................................................9
E. Salah Kaprahkah Pengelolahan Subsidi (BLSM/BLT)...........10
F.

Bantuan Sosial Bersyarat (BLT/BLSM) dan BLT/BLSM

Dinegara Lain...........................................................................12
BAB III KESIMPULAN....................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau sekarang yang sudah
berganti

nama

menjadi

Bantuan

Langsung

Sementara

Masyarakat (BLSM) merupakan salah satu tindakan yang


diambil oleh pemerintah kita untuk memberikan subsidi
kepada masyarakat yang membutuhkan di Indonesia. Begitu
banyak pro dan kontra yang muncul atas kebijkan yang
diambil

pemerintah

Indonesia.

Sebelum

dalam
kita

membantu
membahas

masyarakat
lebih

di

mendalam

mengenai kebijakan yang diambil pemerintah ini mari kita


pahami dulu bagaimana BLT/BLSM ini bisa menjadi kebijakan
yang diambil oleh pemerintah kita. Tingkat kesejahteraan di
negara kita dianggap masih sangat kuramg dikarenakan
masih begitu banyak masyarakat yang memiliki kehidupan
yang kurang layak yang diakibat oleh beberapa faktor seperti
pengangguran,

kelaparan,

kemiskinan,

dll.

Hal

tersebut

menjadi hal yang paling sering dibahas didalam ruang DPR


mengingat

tentang

bagaimana

mencari

sosuli

untuk

mengatasinya, dari hasil yang dibicarakan oleh pemerintah


kita maka diambilah sebuah keputuan mengenai subsidi yang
diberikan kepada masyarakat yang kurang mampu yang
diharapkan dapat membangun semangat untuk mendapatkan
penghidupan yang lebih baik kedepannya.
B. Rumusan Masalah

Adapun masalah masalah yang dapat dirumuskan sebagai


berikut :

Seefisien apakah pemberian BLT/BLSM untuk masyarakat

miskin?
Apakah

masyarakat miskin?
BLT/BLSM sarat kepentingan politik?
BLT/BLSM picu konflik?
Salah kaprahkah pengelolahan subsidi (BLSM/BLT)
Pertimbangkan bantuan sosial bersyarat (BLT/BLSM) dan

merupakan

beban

baru

BLT/BLSM

untuk

bandingkan dengan BLT/BLSM dinegara lain?


C. Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas
soft skill dari mata kuliah Perekonomian Indonesia yang
dibimbing oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan. Selain
itu juga banyak hal yang didapat untuk penulis terutama
dalam kegiatan ekspor impor.

BAB II
PEMBAHASAN

A Efesiensi

Pemberian

BLT/BLSM

Untuk

Masyarakat

Miskin
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) ditengarai
bertujuan untuk membantu rakyat miskin menikmati subsidi
yang diberikan pemerintah. Demikian dikatakan Sekretaris
Eksekutif

Tim

Nasional

Percepatan

Penanggulangan

Kemiskinan (TNP2K), Bambang Widianto. Menurut dia, BLSM


adalah pengalihan kompensasi yang tepat guna mengurangi
subsidi bahan bakar minyak (BBM) agar dinikmati rakyat
miskin.

Bambang

mengatakan,

ratusan

triliun

yang

dikucurkan pemerintah dalam bentuk subsidi BBM, sebanyak


80 persen dinikmati orang kaya. Adapun warga miskin hanya
menikmati sisa kecil dari subdisi yang dikucurkan pemerintah.
Karena itu, dia menilai lebih tepat kalau subsidi BBM diganti
dengan BLSM, sekitar Rp 18 triliun yang diberikan kepada
18,5 juta warga miskin.
Adapun sebanyak 30 persen warga miskin lapisan terbawah
mendapat kucuran dana Rp 900 ribu selama enam bulan atau
Rp 150 ribu per bulan. "Pemerintah menilai pemberian subsidi
ke orang langsung lebih tepat daripada subsidi BBM yang
sebagian besar dinikmati orang kaya," kata Bambang dalam
sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (30/3). Pihaknya tidak
memungkiri kalau terjadi penyimpangan penyaluran BLSM
bakal menciptakan masalah di tataran masyarakat. Namun,
mengacu pada data Badan Pusat Statistik 2011, sebagian
besar para penerima adalah memang orang-orang yang
3

membutuhkan. Dia melanjutkan, rencana menaikkan harga


BBM bukan berarti pemerintah antisubsidi harga premium.
Namun, lebih baik kalau efektivitas keekonomian disalurkan
dalam bentuk BLSM, yang dijadikan rakyat miskin sebagai
tambahan penghasilan untuk membeli bahan pokok.
Sementara itu, Ketua DPP Partai Demokrat, Kastorius Sinaga,
mengatakan penetapan 30 persen warga berpenghasilan
terendah

berdasarkan

hasil

survei

Pendataan

Program

Perlindungan Sosial 2011. Di tengah perdebatan hebat bahwa


BLSM

dipergunakan

sebagai

isu

tumpangan

untuk

menjalankan agenda politik, dia menilai tudingan itu tidak


relevan. "BLSM adalah program pemerintah untuk meredam
dampak inflasi dan penurunan daya beli masyarakat yang
biasanya terjadi setelah kenaikan harga BBM. "Pemerintah
tak sekadar memindahkan beban kepada masyarakat, karena
kenaikan

BBM

berlanjut

dengan

pemberian

paket

kompensasi," terangnya.

D. Apakah Merupakan Beban Baru BLT/BLSM Untuk


Masyarakat Miskin
Pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM)
membebani masyarakat. Beragam konflik sosial baru bakal
menghantui pelaksanaannya jika rencana kenaikan harga
BBM disetujui. "Dengan BLSM, pemerintah mengalihkan
tanggungjawab terhadap masyarakat di bidang ekonomi
karena kemiskinan hanya dipandang sebagai sebuah kondisi,"
jelas Ketua Institute for Ecosoc Rights, Sri Palupi. Menurut Sri,
sejak kenaikan harga BBM perdana pada tahun 2005,
bantuan langsung menjadi salah satu pilihan dalam paket
4

kebijakan kompensasi. Kali ini penerima bantuannya adalah


18,5 juta rumah tangga.
Palupi melihat di balik niat meredam dampak inflasi dan
penurunan daya beli masyarakat dalam waktu beberapa
bulan, malah muncul banyak kontroversi. "Kontroversi terjadi
karena pencabutan subsidi, terutama di maraknya korupsi
dan tingginya beban utang. Sehingga melukai masyarakat
karena beban makin besar ditanggung bersama," paparnya.
Beban yang dimaksudnya karena pembayaran utang dan
bunga dari luar negeri semakin bertambah. Sementara dari
sektor

internal

ada

ketidakmampuan

mengoptimalkan

penerimaan pajak.
Alokasi APBN pun tak mampu memberi perbaikan bagi
pelayanan publik
Palupi meminta pemerintah agar mempertimbangkan kembali
penggelontoran BLSM untuk tahun 2012 ini. Pasalnya, ada
berbagai pengalaman negatif terkait BLT tahun 2004. Mulai
dari pencairannya dilakukan jelang Pemilu, akurasi dan
validitas RT sasaran menciptakan konflik, hingga adanya
penolakan para kepala desa menyalurkan bantuan langsung.
Selain membebani pemerintah daerah, Palupi menganalisa
timbulnya konflik di masyarakat karena ketiadaan mekanisme
komplain.

Kondisi

ini

karena

ada

berbagai

masalah

penyaluran di lapangan. Penetapan kebijakan BLSM, imbuh


Palupi,

tak

didasari

transparansi

perekonomian

negara.

Ekonom dari Centre for Strategic and International Studies


(CSIS), Pande Radja Silalahi, mengakui jika kenaikan BBM
membebani ekonomi negara sekitar Rp 150 triliun hingga Rp
370 triliun. Jenis kompensasi berupa bantuan langsung justru

efektif secara cepat meringankan beban masyarakat kurang


mampu. Pasalnya, data yang dipakai mencakup semua
kelompok masyarakat kurang mampu.
Tidak

disetujuinya

pengajuan

pemerintah

atas

APBN-P

berdampak pada program penanggulangan kenaikan harga


BBM. Termasuk bantuan langsung sementara masyarakat
(BLSM) yang pada akhirnya dihilangkan. Kalau misalnya
tidak ada kenaikan, tentu BLSM-nya tidak relevan, kata
Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, sebelum
sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden. Ia menegaskan,
program BLSM sangat erat kaitannya dengan kenaikan BBM.
Kalau BBM tidak jadi naik, maka BLSM itu menjadi tidak
diperlukan. Tak hanya itu, program-program lainnya yang
semula disiapkan pemerintah untuk antisipasi kenaikan BBM
pun otomatis tidak ada. Kita bisa me-manage dengan
adanya keputusan itu, me-manage yang baik, kata Hatta.
Sebelumnya, pemerintah lewat Menko Kesra, Agung Laksono,
menggawangi program penanggulangan kenaikan BBM.
Ada empat program yang disiapkan. Yakni Bantuan Langsung
Sementara Masyarakat (BLSM) yang sifatnya cash transfer;
penambahan subdisi siswa miskin; penambahan jumlah
penyaluran

raskin;

dan

subsidi

pengelola

angkutan

masyarakat/desa. Sebagai tindak lanjut rencana pemerintah


menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), program
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) digulirkan.
BLSM hampir sama dengan program Bantuan Langsung Tunai
yang sudah pernah digulirkan pemerintah pada 2005 dan
2009 lalu. Hanya bedanya, jika sebelumnya setiap kepala
keluarga memperoleh Rp100.000, kini meningkat menjadi
Rp150.000 dan diberikan untuk setiap warga. Mereka akan
6

mendapatkan selama sembilan bulan. Tercatat 74 juta jiwa


bakal

mendapatkan

kucuran

dari

pemerintah

tersebut.

Seperti penyaluran BLT yang sudah-sudah, kantor pos bakal


menjadi tempat untuk menguangkan. Berdasarkan data pada
2009, jumlah penerima BLT di Jogja tercatat 19.111 rumah
tangga sasaran (RTS), Bantul 63.642 RTS, Gunungkidul
95.374 RTS, Kulonprogo 42.078 RTS serta Sleman 52.446 RTS.
Berkaca pada pembagian yang sudah-sudah, banyak masalah
timbul dari program pemerintah. Pendataan bagi warga yang
berhak mendapatkan BLT itu sendiri seringkali menimbulkan
masalah. Banyak warga masyarakat yang berhak justru tidak
mendapat,

demikian

sebaliknya,

mereka

yang

sudah

berkecukupan justru mendapatkan. Salah satu contohnya


pada pembagian BLT pada 2009 lalu di Kota Jogja, tercatat
sebanyak 977 RTS tidak mengambil. Faktor sudah meninggal
dan pindah alamat menjadi alasan RTS tidak mengambil
haknya.
Meski pemerintah pusat sudah merilis jumlah penerima,
hingga saat ini pemerintah di daerah belum mengetahui
jumlah warganya yang akan mendapatkan. Padahal dari
sejumlah pernyataan dari pejabat di Jakarta, April atau saat
harga

BBM

Karenanya,

dinaikkan,
mumpung

menjadi
masih

waktu

ada

pencairan

waktu

satu

BLT.

bulan,

hendaknya pemerintah baik di pusat maupun di daerah harus


segera mendata secara pasti jumlah penerima. Jangan
sampai, program baru justru mendatangkan permasalahan
baru di masyarakat. Hindari sedini mungkin konflik di
masyarakat dengan cara memastikan data yang valid bagi
penerima BLSM. Masalah lain yang terjadi adalah saat
pembagian. Meski sudah ada mekanisme yang jelas, korban

jiwa masih saja terjadi dalam antrean BLT. Berkaca dari kasus
yang lalu juga, mekanisme pencairan hendaknya segera
dirumuskan.
Faktor

kemudahan

pencairan

dan

manusiawi

harus

ditekankan dalam proses pencairan. Jangan sampai korban


timbul

lagi

dalam

pencairan

kali

ini.

Selain

itu,

baik

pemerintah maupun pihak lain harus mengawasi secara ketat


pencairan BLSM kali ini. Pasalnya dalam pencairan program
sebelumnya

dengan

dalih

kearifan

lokal,

pemotongan-

pemotongan masih saja terjadi. Jika sejumlah masalah itu


tidak diatasi, tujuan BLSM untuk membantu warga miskin
justru akan terjadi sebaliknya.
E. BLT/BLSM Sarat Kepentingan Politik
Proses penyaluran Bantuan Langsung Sementara Masyarakat
(BLSM) yang rencananya akan dilakukan pada awal April
2012,

sarat

dengan

adanya

kepentingan

partai

politik

tertentu. Ada beberapa partai besar di DPR RI meminta agar


penyaluran BLSM tersebut melalui Kementerian Sosial, dan
sebagian partai lain meminta agar penyaluran BLSM tersebut
harus

melalui

kepala

daerah

masing-masing,

kata

Koordinator Nasional Konsorsium Masyarakat Sipil untuk


Transparansi BLSM, Willy Kurniawan, di sela-sela acara
Deklarasi Satgas Pengawasan BLSM. Menurut dia dengan
adanya perbedaan tentang proses penyaluran dana BLSM
kepada masyarakat miskin itu, maka parpol akan melakukan
negosiasi. Tarik menarik kepentingan tersebut terjadi dalam
pembahasan BLSM di DPR RI. Hal ini terlihat ada fraksi yang
menerima dan menolak kenaikan BBM dan fraksi yang lain
menanyakan berapa besar bantuan tersebut. Jadi ada dua

proses yang berbeda tetapi ada keterkaitan. Ada korelasi


positif dari pertentangan ini, jelasnya. Oleh karena itu,
masyarakat

juga

harus

ikut

mengawasi

agar

proses

penyaluran dana BLSM itu tepat sasaran. Kita sudah


menghimpun relawan di Jabodetabek yang siap diterjunkan
untuk mengawasi penyaluran.
Yang ingin kita lakukan adalah mengumpulkan data, karena
kita tahu bahwa data ini sangat rentan untuk dimanipulasi.
Jadi kita akan betul-betul mengawasi penyaluran dana BLSM
ini

agar

tidak

terjadi

penyelewengan,

ujarnya

seraya

mengatakan agar tidak terjadinya konflik sosial. Menurut dia


dalam proses penyaluran dana BLT pada periode lalu banyak
sekali permasalahan dalam proses penyalurannya Kita tahu
bahwa yang namanya BLT selama ini banyak masalah. Kita
akan

mengawasi

penyalurannya,

kata

Willy.

Bukan

Penanggulangan Kemiskinan Di tempat yang sama, Sekretaris


Eksekutif

Tim

Nasional

Percepatan

Penanggulangan

Kemiskinan Bambang Widianto mengatakan pemberian dana


BLSM kepada 18,5 juta kepala keluarga yang ada di Indonesia
sebesar

Rp150

ribu/bulan

bukan

dimaksudkan

untuk

penanggulangan kemiskinan. Bantuan ini diberikan oleh


pemerintah

untuk

mempertahankan

kesejahteraan

masyarakat yang rentan terhadap kemiskinan, bila terjadi


kenaikan

harga

bahan

bakar

minyak

(BBM),

katanya.

Menurut dia, metode penyaluran dana BLSM akan diperbaiki,


sehingga penyalurannya tepat sasaran.
Penyaluran dana BLT pada tahun 2005 banyak masalah
karena kurangnya pengawasan. Konsultasi kepada pemuka
agama juga menjadi masalah karena yang bersangkutan,
malah memberikan dana BLT tersebut sanak saudaranya
9

yang seharusnya tidak masuk dalam data penerima BLT,


Bambang. Ke depan, lanjut dia, pihaknya hanya akan
berkonsultasi

kepada

masyarakat

miskin,

sehingga

penyalurannya lebih efektif dan tepat sasaran. Pemberian


dana BLSM sebesar Rp150 ribu/bulan selama kurun waktu
enam bulan itu akan disalurkan melalui kantor Pos, sehingga
masyarakat bisa datang sendiri ke kantor pos terdekat.

F. BLT/BLSM picu konflik


Proses distribusi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat
(BLSM) sebagai bentuk kompensasi kenaikan harga BBM
bersubsidi dapat mengakibatkan terjadinya konflik sosial jika
proses penyalurannya tidak tepat sasaran. "Yang namanya
BLT selama ini banyak masalah, dan ini akan menjadi parah,
karena mengarah ke konflik sosial, karena dampak kenaikan
harga BBM ini akan lebih besar dari dampak kenaikan yang
lalu. Ini terbukti dengan banyaknya penolakan terhadap
kenaikan harga BBM," kata Koordinator Nasional Konsorsium
Masyarakat Sipil untuk Transparansi BLSM Willy Kurniawan
saat ditemui dalam acara deklarasi Satgas Pengawasan BLSM
di Jakarta. Oleh karena itu pihaknya berinisiatif melakukan
pengawasan, agar tidak terjadi masalah kembali terkait
penyaluran tersebut, terkait siapa yang berhak mendapatkan
bantuan dan siapa yang tidak mendapatkan bantuan.
Karena tanpa diawasi, diyakini akan terjadi pengulangan
kesalahan tersebut. "Selama ini kita sudah menghimpun
relawan

di

Jabodetabek

yang

siap

diterjunkan

untuk

mengawasi penyaluran, yang ingin kita lakukan adalah


mengumpulkan data, karena kita tahu data ini sangat rentan
10

untuk dimanipulasi. Jadi kita akan betul-betul mengawasi


penyaluran dana BLSM ini agar tidak terjadi penyelewengan,"
Hingga kini belum semua fraksi sepakat dengan bantuan
langsung sementara masyarakat (BLSM) sebagai kompensasi
dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya,
BLSM

dianggap

sebagai

sebuah

alat

politik

dan

menguntungkan pemerintah serta partainya. "Jangan ada


partai politik ambil keuntungan dari BLSM," kata Wakil Ketua
DPR Pramono Anung di DPR. Selain soal BLSM, kata Pram,
hampir

semua

pendistribusian.

fraksi

juga

Sehingga

mempersoalkan

hampir

dipastikan,

cara
semua

keputusan bakal diambil di paripurna. "Kita setuju semua


bentuk kompensasi itu asal saja itu tepat sasaran," ujarnya.
Mengenai postur anggaran yang masih alot di dua opsi,
menurut Pram akan menjadi agenda pokok dalam paripurna
besok.
Dari dua agenda itu, opsi pertama menawarkan besaran
subsidi energi sebesar Rp 225 triliun. Sedangkan opsi kedua
adalah Rp 266 triliun.

G. Salah Kaprahkah Pengelolahan Subsidi (BLSM/BLT)


Tundingan berbagai kalangan bahwa pemerintah lebih gemar
memberi ikan daripada menyerahkan kail bukan isapan
jempol. Fakta itu bisa kita lihat dari mengototnya pemerintah
membagikan

bantuan

langsung

sementara

masyarakat

(BLSM) sebagai kompensasi penaikan harga bahan bakar


minyak

(BBM)

ketimbang

memberi

porsi

besar

untuk

infrastruktur. Pemerintah berniat menaikkan harga BBM

11

Rp1.500 per liter demi mengejar penghematan subsidi sekitar


Rp38 triliun. Namun, sebagian besar hasil penghematan itu,
yakni Rp25,6 triliun atau sekitar 70%, akan dibagi-bagikan
langsung seperti bantuan langsung tunai (BLT) kepada 18,5
juta rumah tangga miskin selama sembilan bulan.
Hanya 5 triliun rupiah yang digunakan untuk kompensasi bagi
angkutan

umum

sisanya

digunakan

untuk

beasiswa,

mensubsidi beras bagi rakyat miskin dan untuk tambahan


pembangunan

infrastruktur.

Ironisnya

pada

saat

yang

bersamaan pemerintah justru berniat memangkas subsidi


pupuk dan benih untuk para petani. Subsidi pupuk yang
semula 16,94 triliun rupiah dipangkas dalam rancangan APBN
perubahan 2012 hingga 2,98 triliun rupiah hingga menjadi
13,94 triliun rupiah. Subsidi benih yang semula 279,9 miliar
rupiah dalam APBN 2012 dipangkas hingga 53,7% atau
berkisar menjadi 129,5 miliar rupiah dalam RAPBN 2012.
Pemerintah beralasan karena rendahnya realisasi
penyaluran subsidi pupuk & benih tahun tahun sebelumnya.
Padahal dampak terbesar akibat meningkatnya harga BBM
ialah melambungnya harga pangan, lonjakan harga pangan
terjadi salah satunya karena produksi pangan yang anjlok
lantaran petani mengalami rupa rupa tekanan seperti cuaca
ekstrim, hama, irigasi yang buruk serta harga pupuk dan
benih yang sangat maha. Mestinya jika pemerintah ingin
mengamankan harga pangan dari lonjakan harga BBM maka
produksi pangan harus digenjot, untuk menggenjot produksi
pangan maka tekanan bertubi-tubi yang dialami petani harus
dihilangkan dan salah satunya memberi subsidi pupuk, benih,
dan mengalokasikan dana infrastruktur untuk irigasi yang
jauh lebih besar. Karena itu sangat wajar jika petani menolak
12

skema BLT yang kini disebut BLSM sebagai kompensasi


kenaikan BBM selain tidak produktif
signifikan.
sebelum

Bagi

mereka

kenaikan

bantuan

BBM

itu

dan tidak berdampak


darurat

dianggap

yang
hanya

muncul
untuk

menyelamatkan citra Susilo Bambang Yudhoyono dan partai


Demokrat. Hasil survey menyebutkan jika BLT dipresentasikan
sebesar

53,7%

responden

menyatakan

SBY

disebutkan

sebagai pihak yang berjasa dan 46,7% menyatakan partai


demokrat paling berjasa. Subsidi sejatinya ialah suatu usaha
bagi rakyat yang didera kesulitan untuk bangkit namun
subsidi yang salah kelola dan hanya bagi bagi uang saja
justru melahirkan ketergantungan, kemalasan, dan justru
petaka yang berkepanjangan.

H. Bantuan Sosial Bersyarat (BLT/BLSM) dan BLT/BLSM


Dinegara Lain
Pemerintah akan meluncurkan program bantuan langsung
sementara masyarakat (BLSM) sebagai kompensasi kenaikan
harga BBM. Sudah gagal sejak 2005, lebih baik prioritaskan
program anti kemiskinan yang berorientasi produktivitas dan
jangka

panjang.

Padahal,

kebijakan

ini

dinilai

hanya

mengulangi kesalahan di masa lalu. Apalagi tidak ada yang


baru dari kebijakan BLSM ini selain jumlahnya yang naik
menjadi Rp 150.000. perbedaannya, kebijakan ini ganti baju
dari BLT (2005), BLT Plus (2008), dan BLSM (2012).
Tak pelak, program tersebut langsung menuai kritik berbagai
kalangan lantaran diyakini tidak efektif karena memberikan

13

bantuan yang bersifat sementara. Selain itu, pemberian dana


tunai melalui program BLT juga telah membentuk budaya
sedekah yang mengakibatkan masyarakat menjadi malas
dalam berusaha. Kekhawatiran tersebut didasarkan pada
pengalaman BLT tahun tahun sebelumnya yang dinilai
gagal.

Sudah

banyak

penelitian

dilakukan

LSM

dalam

mengkaji efektivitas program BLT. Intinya kelemahan BLT


terjadi disetiap aspek mulai dari tidak akuratnya pendataan
rumah tangga sasaran (RTS) hingga pencairan dana di kantor
pos.
Database penetapan RTS yang tidak akurat, minimnya
petugas pendata, hingga indikator RTS yang tidak sesuai
dengan kondisi di lapangan yang mengakibatkan BLT salah
sasaran.

Ada warga yang bukan merupakan warga miskin

menerima

BLT

dan

justru

yang

warga

miskin

tidak

mendapatkan BLT. Hal ini justru akan menimbulkan gejolak


sosial dimasyarakat. Diteknis pencarian dana, sering kali
letak kantor pos jauh sehingga menyulitkan warga yang
berada

dipelosok,

terutama

sosialisasi

dari

pemerintah

membludak

pada

hari

kaum

manula.

Minimnya

menyebabkan

yang

sama

dan

tidak

antrean
jarang

menyebabkan korban jiwa. Padahal BLT tidak hangus dan bisa


diambil dilain hari.
Karena

itu,

pemerintah

sudah

seharusnya

memikirkan

program lain yang bersifat jangka panjang. Program sosial


tersebut tidak hanya meredam kenaikan BBM, tapi juga
membuat

masyarakat

juga

keluar

dari

kemiskinan.

Pemerintah juga ada baiknya mencontoh program bantuan


tunai bersyarat untuk pendidikan dan juga kesehatan seperti
dinegara negara lain. Selama ini pemberian dana tunai
14

tanpa syarat boleh dikatakan hanya ada di Indonesia. Di


negara negara lain program bantuan tunai dilakukan secara
kondisional

dan bersyarat. Di brasil misalnya program

bantuan tunai bersyarat tersebut bernama Bolsa Escola. Ini


merupakan

program

pemberian

bantuan

tunai

kepada

penduduk miskin dengan persyaratan tertentu. Mekanisme


tersebut mengharuskan penduduk miskin memprioritaskan
penggunaan dananya untuk pendidikan dan kesehatan. Hal
ini agar masyarakat tidak menggunakan dana tersebut untuk
hal

yang

konsumtif.

Program

ini

juga

berpotensi

meningkatkan kesejahteraan anggota keluarga dimasa yang


akan datang. Pendidikan dan kesehatan anggota keluarga
dianggap sebagai aset yang dapat membantu keluarga
bersangkutan untuk keluar dari jerat kemiskinan dimasa yang
akan datang. Masih banyak program program sosial
bersyarat yang dilakukan dinegara lain. Jika melihat contoh
dinegara brasil tadi mengenai mekanisme pemberian dana
bersyarat tadi memang tidak memberikan efek yang dapat
dirasakan

secara

langsung

namum

beberapa

tahun

kemudian. Program program tersebut lebih berorientasi


jangka

panjang

dengan

tujuan

pembangunan manusia.

BAB III
KESIMPULAN

15

meningkatkan

kualitas

Perlunya pengkajian ulang mengenai tidakan yang seharusnya


diambil

pemerintah

mengenai

peningkatan

kesejahteraan

manusia sangat perlu dilakukan. Melihat hal yang diambil saat ini
oleh pemerintah mengenai cara peningkatan kesejahteraan
masyarakat sangat kurang tepat dikarenakan hal yang sama
pernah dilakukan dan hasilnya pun sangat tidak memuaskan.
Solusi yang seharunya dikeluarkan pemerintah saat ini harus
yang bersifat jangka panjang yang bukan hanya dapat langsung
dinikmati

hasilnya

saat itu

saja

oleh

penduduk

miskin.

Pendidikan dan kesehatan bisa dikatakan sebagai kunci untuk


membuat solusi baru dimana dapat meningkatkan kualitas
pembangunan

manusia

di

Indonesia.

Mekanisme

yang

ditawarkan dalam program BLSM pun dapat dikatakan sangat


tidak efektif karena banyak BLSM yang jatuh pada sasaran yang
tepat dan bisa dikatakan pula kebijakan BLSM yang tidak
memiliki

syarat

yang

kongkrit

tentang

bagaimana

cara

memperolehnya justru malah membuat ketergantungan bagi


penduduk miskin dinegara kita.

16