Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Di indonesia tercatat 10-20% pasangan yang infertil. Pasangan usia subur yang ada di
indonesia ialah sekitar 25 juta, berarti terdapat 2,5-5 juta pasangan infertil. Pada masa
sekarang pola kehidupan keluarga cenderung bergeser, dari jumlah anggota yng besar
menjadi jumlah anggota yang kecil dalam 1 unit keluarga, sehingga keluarga yang tidak atau
sukar memperoleh keturunan berhak mendapat pertolongan. Dengan semakin berkembang
dan majunya ilmu kedokteran ini sebagian besar dari penyebab infertilitas atau ketidak
suburan telah dapat diatasi dengan pemberian obat atau operasi.
Sekarang ini sudah muncul berbagai kecanggihan yang dapat di gunakan untuk mengatasi
kendala-kendala kehidupan.Salah satunya adalah kesulitan mempunyai anak dengan
berbagai faktor.Tetapi terkadang kecanggihan teknologi mempengaruhi etika-etika terhadap
islam. Kemungkinan kehamilan dipengaruhi oleh usia dan kadar FSH basal. Secara umum,
makin muda usia makin baik hasilnya. Kemungkinan terjadinya kehamilan juga tergantung
pada jumlah embrio yang dipindahkan. Walaupun makin banyak jumlah embrio yang
dipindahkan akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan, tapi kemungkinan
terjadinya kehamilan multipel dengan masalah yang berhubungan dengan kelahiran
prematur juga lebih besar. Pengertian mandul bagi wanita ialah tidak mampu hamil karena
indung telur mengalami kerusakan sehingga tidak mampu memproduksi sel telur.
Sementara, arti mandul bagi pria ialah tidak mampu menghasilkan kehamilan karena buah
pelir tidak dapat memproduksi sel spermatozoa sama sekali.
Pelayanan terhadap bayi tabung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah fertilisasiin-vitro yang artinya adalah pembuahan sel telur oleh sel sperma di dalam tabung petri yang
dilakukan oleh petugas medis. Pada mulanya program pelayanan ini bertujuan untuk
menolong pasangan suami istri yang tidak mungkin memiliki keturunan secara alamiah
karena tuba falopii istrinya mengalami kerusakan yang permanen.. Pihak yang pro dengan
program ini sebagian besar berasal dari dunia kedokteran dan mereka yang kontra berasal
dari kalangan alim ulama.

1.2 RumusanMasalah
1.

Apa pengertian Bayi Tabung ?

2.

Apakah ada perbedaan pandangan tentang bayi tabung dari segi medis, dari segi agama,
dan juga hukum perundang-undangan Indonesia?
3.

Apa saja faktor yang mendorong diadakannya bayi tabung?

1.3 Tujuan
1.

Untuk mengetahui Bayi tabung

2.

Untuk Mempelajari hal-hal yang ada dalam islam dan mengetahuan tentang hukumhukum nya.

3.

Untuk Mengetahui faktot di adakanya Bayi Tabung

BAB II
PEMBAHASAN
1. BayiTabung
a. Pengertian
Bayi tabung atau pembuahan in vitro adalah sebuah teknik pembuahan dimana
sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode
untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya
terdiri dari mengendalikan ovulasi secara hormonal, memindahkan sel telur dari
ovarium dan melakukan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair.
(Teknologi ini dirintis oleh P.C Steptoe dan R.G Edwards pada tahun 1977).
Bayi tabung atau dalam bahasa kedokteran disebut In Vitro Fertilization (IVF)
adalah suatu upaya memperoleh kehamilan dengan jalan mempertemukan sel sperma
dan sel telur dalam suatu wadah khusus. Pada kondisi normal, pertemuan ini
berlangsung di dalam saluran tuba. Pada awalnya tekhnik reproduksi ini ditunjukkan
untuk pasangan infertile, yang mengalami kerusakan saluran telur. Namun saat ini
indikasinya telah diperluas, antara lain calon ibu yang mempunyai lendir mulut rahim
abnormal, mutu calon ayah kurang baik, adanya antibody terhadap sperma, tidak
kunjung hamil walaupun endometriosis telah diobati, serta pada gangguan kesuburan
yang tidak diketahui penyebabnya maka program bayi tabung ini bisa dilakukan.
Proses fertilisasi in vitro berlangsung di laboratorium ini dilaksanakan sampai
menghasilkan suatu embrio yang akan ditempatkan pada rahim ibu. Embrio ini juga
dapat disimpan dalam bentuk beku (cryopreserved) lalu dapat digunakan kelak jika
dibutuhkan.
Dalam melakukan fertilisasi in-vitro ada dua metode yang bisa digunakan.
Metode pertama adalah pembuahan menggunakan pipet yang disuntikkan ke sel telur
sedangkan metode ke dua adalah pembuahan yang terjadi di dalam tabung reaksi. Hal
yang di khawatirkan dari metode pertama adalah terjadinya kecacatan bawaan dari
hasil pembuahan. Cacat bawaan adalah cacat yang kelihatan maupun yang tidak,
seperti kelainan pada jantung, ginjal dan organ tubuh lainnya sejak lahir.

Kekhawatiran lainnya adalah, sel sperma dan sel telur mengalami kerusakan akibat
panas atau manipulasi.
Berlandaskan dugaan semacam itu, Prof. Bertelsmann mengimbau komisi
kedokteran federal di Jerman, yang merupakan lembaga tertinggi administrasi
kedokteran dengan anggota para dokter, rumah sakit dan asuransi kesehatan, untuk
melakukan penelitian terpadu serta penelitian data secara sistematis. Tujuannya untuk
meneliti risiko munculnya cacat bawaan pada berbagai metode pembuahan buatan.
Sejauh ini memang belum diketahui secara pasti apa penyebab meningkatnya kasus
cacat bawaan pada bayi tabung itu. Dalam 10 kasus yang diamati, menyangkut
perbedaan metode in-vitro sejauh ini tidak ditemukan hasil yang signifikan. Artinya,
kemungkinan besar metode fertilisasi in vitro juga tidak meningkatkan risiko
munculnya cacat bawaan.Beberapa ilmuan berpendapat bahwa cacat bawaan ini
dimungkinkan karena resiko yang dimiliki oleh orang tua, karena pada dasarnya
akibat dari resiko yang dimiliki orang tua juga fertilisasi alami tidak terjadi.
Selain itu, tingkat keberhasilan pembuahan buatan juga relatif rendah. Hanya
40% pembuahan buatan yang sukses menimbulkan kehamilan. Sementara jumlah
sukses kehamilan hingga melahirkan anak jauh lebih rendah lagi, yakni hanya 15%
dari seluruh kehamilan melalui metode pembuahan buatan. Karena itulah, cukup
banyak pasangan suami istri yang memutuskan, melakukan pembuahan buatan
beberapa sel telur sekaligus dan mencangkokan sel embryo tersebut dalam rahim.
Dengan begitu diharapkan salah satu embryo akan berhasil berkembang menjadi janin
di dalam rahim. Akan tetapi, juga muncul masalah lainnya. Kadang-kadang beberapa
sel telur yang sudah dibuahi secara buatan, berkembang bersamaan di dalam rahim.
Terjadi kehamilan kembar lebih dari dua bayi. Dampaknya adalah berkurangnya
peluang janin untuk terus berkembang dalam rahim.
Masalah lainnya yang dihadapi di beberapa negara, misalnya Jerman adalah
kendala hukum. Aturan yang berlaku untuk pembuahan buatan, tidak mengizinkan
orang tua menggugurkan salah satu bayi kembar yang dikandungnya meskipun lebih
dari dua. Dilihat kedokterannya, memberikan peluang kepada janin yang memiliki
kemungkinan paling baik untuk terus berkembang dalam rahim, dengan
menyingkirkan saingannya yang kemungkinan cacat. Terlepas dari aturan yang

berlaku, teknologi pembuahan buatan atau program bayi tabung, walaupun sudah
berumur 30 tahun, tetap mengandung banyak misteri dan pertanyaan yang belum
terjawab tuntas secara ilmu kedokteran, menyangkut kemungkinan risiko cacat
bawaan.
b. Faktor-Faktor yang mempengaruhi mengapa bayi tabung diadakan
Ada beberapa factor yang menjadi penyebab diadakannya bayi tabung. Yang
termasuk diantara factor-faktor tersebut yaitu Infertilitas dan Ketidakmampuan rahim
ibu untuk janin bisa hidup di dalamnya.
Banyak faktor yang menjadi penyebab infertilitas sehingga pasangan suami
istri tidak mempunyai anak, antara lain:

Faktor hubungan seksual, yaitu frekuensi yang tidak teratur (mungkin terlalu
sering atau terlalu jarang), gangguan fungsi seksual pria yaitu disfungsi ereksi,
ejakulasi dini yang berat, ejakulasi terhambat, ejakulasi retrograde (ejakulasi ke
arah kandung kencing), dan gangguan fungsi seksual wanita yaitu dispareunia
(sakit saat hubungan seksual) dan vaginismus.

Faktor infeksi, berupa infeksi pada sistem reproduksi pria maupun wanita,
misalnya infeksi pada buah pelir dan infeksi pada rahim.

Faktor hormon, berupa gangguan fungsi hormon pada pria maupun wanita
sehingga pembentukan sel spermatozoa dan sel telur terganggu.

Faktor fisik, berupa benturan, temperatur dan tekanan pada buah pelir sehingga
proses produksi spermatozoa terganggu.

Faktor psikis, misalnya stress yang berat sehingga mengganggu pembentukan


spermatozoa dan sel telur.
Untuk menghindari terjadinya gangguan kesuburan pada pria maupun wanita,

maka faktor-faktor penyebab tersebut tersebut harus dihindari. Tetapi kalau gangguan
kesuburan telah terjadi, diperlukan pemeriksaan yang baik sebelum dapat ditentukan
langkah pengobatannya.
c.

Macam-macam Proses Bayi Tabung

1) Pembuahan pada Pasangan Suami Istri di Luar Rahim


Pembuahan ini dilakukan oleh sperma dan ovum yang didapat dari pasangan
suami istri. Dengan teknik bayi tabung, suami dan istri bisa mendapatkan
keturunan tanpa harus melakukan hubungan seksual. Sperma dan ovum
dipertemukan di luar tubuh, setelah menjadi embrio akan dimasukkan ke dalam
rahim sang istri.
2) Teknik Sewa Rahim
Ada kemungkinan bahwa benih dari suami-istri tidak bisa dipindahkan ke
dalam rahim sang istri, oleh karena ada gangguan kesehatan atau alasan-alasan
lain. Dalam kasus ini, maka diperlukan seorang wanita lain yang disewa untuk
mengandung anak bagi pasangan tadi. Dalam perjanjian sewa rahim ini
ditentukan banyak persyaratan untuk melindungi kepentingan semua pihak yang
terkait. Wanita yang rahimnya disewa biasanya meminta imbalan uang yang
sangat besar. Suami istri bisa memilih wanita sewaan yang masih muda, sehat
dan punya kebiasaan hidup yang sehat dan baik. praktik seperti ini biasanya
belum ada ketentuan hukumnya, sehingga kalau muncul kasus bahwa wanita
sewaan ingin mempertahankan bayi itu dan menolak uang pembayaran, maka
pastilah sulit dipecahkan.
3) Sel Telur atau Sperma dari Seorang Donor.
Masalah ini dihadapi kalau salah satu dari suami atau istri infertil. Itu berarti
bahwa benih yang infertil itu harus dicarikan penggantinya melalui seorang donor.
Masalah ini akan menjadi lebih sulit karena sudah masuk unsur baru, yaitu
benih dari orang lain. Pertama, apakah pembuahan yang dilakukan antara sel telur
istri dan sel sperma dari orang lain sebagai pendonor itu perlu diketahui atau
disembunyikan identitasnya. Kalau wanita tahu orangnya, mungkin ada bahaya
untuk mencari hubungan pribadi dengan orang itu. Kedua, apakah pria pendonor
itu perlu tahu kepada siapa benihnya telah didonorkan. Masih banyak masalah
lain lagi yang bisa muncul.
4) Munculnya Bank Sperma
Praktik bayi tabung membuka peluang didirikannya bank-bank sperma.
Pasangan yang infertil bisa mencari benih yang subur dari bank-bank tersebut.

Bahkan orang bisa menjual belikan benih-benih itu dengan harga yang sangat
mahal misalnya karena benih dari seorang pemenang Nobel di bidang kedokteran,
matematika, dan lain-lain. Praktek bank sperma adalah akibat lebih jauh dari
teknik bayi tabung. Kini bank sperma menyimpannya dan memperdagangkannya
seolah olah benih manusia itu suatu benda ekonomis.
Tahun 1980 di Amerika sudah ada 9 bank sperma non-komersial. Sementara itu
bank-bank sperma yang komersil bertumbuh dengan cepat. Wanita yang
menginginkan pembuahan artifisial bisa memilih sperma itu dari banyak
kemungkinan yang tersedia lengkap dengan data mutu intelektual dari
pemiliknya. Identitas donor dirahasiakan dengan rapi dan tidak diberitahukan
kepada wanita yang mengambilnya, kepada penguasa atau siapapun.
2. PersepsiBayiTabungMenurutPandangan Islam, Undang-Undang, danDuniaMedis
a. Pandangan Islam
Apabila mengkaji tentang bayi tabung dari hukum islam,maka harus dikaji
dengan memakai metode ijtihad yang lazim dipakai oleh para ahli ijtihad agar hukum
ijtihadnya sesuai dengan prinsip-prinsip dan jiwa al-Quran dan sunnah. Selain itu,
ulama yang akan melaksanakan pengkajian ijtihad tentang bayi tabung ini
memerlukan informasi yang cukup tentang teknik dan proses terjadinya bayi tabung
dari cendekiawan muslim yang ahli dalam bidang studi yang tersebut, misalnya ahli
kedokteran dan ahli biologi.
Adapun pandangan islam tentang hukum bayi tabung diantaranya :
a) Islam membenarkan bayi tabung / inseminasi buatan apabila dilakukan antara sel
sperma dan ovum suami istri yang sah dan tidak ditransfer embrionya ke dalam
rahim wanita lain termasuk istrinya sendiri yang lain (bagi suami yang
berpoligami), baik dengan cara mengambil sperma suami kemudian disuntikkan
ke dalam uterus istri, maupun dengan cara pembuahan dilakukan diluar rahim,
kemudian buahnya (vertilized ovum) ditanam di dalam rahim istri. Proses ini
dihalalkan apabila pasangan suami istri benar-benar tidak bisa menempuh cara
lain untuk mendapat keturunan. Hal ini sesuai dengan hukum Fiqih Islam :Hajat
(kebutuhan

yang

sangat

penting

itu)

diperlukan

seperti

dalam

keadaanterpaksa

(emergency).

Padahal

keadaan

darurat/terpaksa

itu

membolehkanmelakukan hal-hal terlarang.


b) Islam mengharamkan kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan
donor sperma dan atau ovum, maka hukumnya sama dengan zina (prostitusi).
Sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi tersebut tidak sah dan nasabnya
hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Oleh karena itu pemerintah
harus melarang adanya bank sperma atau donor spema karena itu melanggar
hukum islam.
Menurut sumber yang saya dapatkan, dalil-dalil syari yang dapat menjadi
landasan hukum untuk mengharamkan inseminasi buatan dengan donor, ialah sebagai
berikut:

Menurut Al-Quran Surat Al-Isra ayat 70


Artinya: Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam,Kami
angkut mereka didaratan dan lautan,Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna

atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.



HaditsNabi :

Artinya:
Tidak
halal
bagiseseorang

yang

berimankepadaAllashdanhariakhirmenyiramkanairnya (sperma) padatanaman


orang lain (vagina istri orang lain). (HaditsRiwayat Abu Daud, Al-Tirmidzi,
danhaditsinidipandangshahiholehIbnuHibban)
Maksudnya Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan
di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan. Inseminasi buatan dan
donor itu pada hakikatnya merendahkan harkat manusia sejajar dengan hewan yang di
inseminasi.

Menurut Fatwa MUI (hasil komisi fatwa tanggal 13 Juni 1979), Dewan
Pimpinan MajelisUlama Indonesia memfatwakan sebagai berikut :

1. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami isteri yang sah
hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhiar berdasarkan kaidahkaidah agama.
2. Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim isteri yang lain
(misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri pertama) hukumnya haram
berdasarkan kaidah Sadd az-zariah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah
yang rumit dalam kaitannya dengan masalah percampuran nasab.
3. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia
hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zariah, sebab hal ini akan
menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab
maupun dalam kaitannya dengan hal warisan.
4. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangna suami isteri
yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin
antar lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina). Didasarkan pada sebuah
hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda, Tidak ada
dosa yang lebih besar setelah

syirik dalam pandangan Allah SWT,

dibandingkan perbuatan seorang lelaki yang meletakkan spermanya (berzina)


di dalam rahim perempuan yang tidak halal baginya.
b. PandanganUndang-Undang
Undang-undangNomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 73 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pelayanan
Teknologi Reproduksi Buatan menjelaskan bahwa inseminasi buatan yang
diperbolehkan di Indonesia adalah inseminasi buatan yang dilakukan oleh pasangan
suami-isteri yang sah.
Hukumpositiftentang status hukumseoranganak di Indonesia yang
diaturdalamKitabUndang-UndangHukumPerdatadanUndang-Undang No 1 tahun
1974 tentangPerkawinantidakmengatursecarategastentangkedudukanhukumanak yang
dilahirkanmelalui proses bayitabungbaik yang
menggunakanbenihdaripasangansuami-isteri yang kemudianpre-

embrionyaditransplantasikankerahimsiisteri, dimanasalahsatubenihnyaberasaldari
donor kemudianditransplantasikandalamrahimisterimaupunbenih yang
berasaldaripasangansuami-isterikemudianditanamkankerahimibupengganti
(Surrogate Mother). Hukumnegarakitahanyamengatursecarategasmengenaianaksah,
pengesahan
anakluarkawin, danpengakuanterhadapanakluarkawin. Pasal 250 KitabUndangUndangHukumPerdatadanPasal

42

Undang-UndangNomor

Tahun

1974

tentangPerkawinanmenyatakan anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau


sebagai akibat dari perkawinan yang sah, kemudian dipertegas lagi mengenai anak
sah ini di Pasal 250 KUHP yang menyebutkan bahwa tiap-tiap anak yang dilahirkan
atau ditumbuhkan sepanjang, perkawinan, memperoleh si suami sebagai bapaknya.
KeduarumusanPasaltersebuttidakmempersoalkanataupunmenyinggungtentangasalusulsel

air

manidanovum

yang

digunakan.

Peraturanhukumtersebuthanyaterkesanmenjelaskanbahwajikaanakitudilahirkandalam
perkawinan

yang

sahmakasahlahkedudukananaktersebutdalamhukum.Laluakantimbulpertanyaan,
bagaimanakedudukanhukumdengananak yang dilahirkanmelaluirahimibupengganti
(Surrogate

Mother)

atauanakdari

orang

tuapemilikbenih.

Dilanjutkandenganpermasalahandarisegihukum Islam, mengenaipandanganhukum


Islam terhadapperbuatanpenitipanjaninatausewarahimtersebut.
c. PandanganMedispadaBayiTabung
Di

Indonesia

praktikfertilisasi

in

vitro

initelahmulaidilakukanpadabeberapaRumahSakit.Untukmenunjangkeamanandaripros
eduriniselanjutnyaKeputusanMenKes
dibuatsebagaiPedomanPelayananBayiTabung
olehDirektoratRumahSakitKhususdanSwasta,

RI
di

RumahSakit,
DepKes

RImenyatakanbahwa:
1. Pelayananteknikreprodukasibuatanhanyadapatdilakukandenganse
lspermadanseltelurpasangansuami-istri yang bersangkutan.
2. Pelayananreproduksibuatanmerupakanbagiandaripelayananinfertil
itas,

sehinggakerangkapelayannyamerupakanbagiandaripengelolaanpe
layananinfertilitassecarakeseluruhan.

3. Embrio
dipindahkankerahimistridalamsatuwaktutidaklebihdari

yang
3,

bolehdipindahkan 4 embriodalamkeadaan:
a) Rumahsakitmemiliki

tingkatperawatanintensifbayibarulahir.
b) Pasangansuamiistrisebelumnyasudahmengalamisekurangkurangnyadua kali prosedurteknologireproduksi yang gagal.
c) Usiaistritidaklebihdari 35 tahun.
4. Dilarangmelakukansurogasidalambentukapapun.
5. Dilarangmelakukanjualbeli spermatozoa, ovum atauembrio.
6. Dilarangmenghasilkanembriomanusiasematamatauntukpenelitian.
Penelitianatausejenisnyaterhadapembriomanusiahanyadapatdilak
ukanapabilatujuannyatelahdirumuskandengansangatjelas
7. Dilarangmelakukanpenelitiandenganataupadaembriomanusiadeng
anusialebihdari 14 harisetelahfertilisasi.
8. Selteluryangtelahdibuahioleh spermatozoa
manusiatidakbolehdibiakkan in vitro lebihdari 14 hari
(tidaktermasukwaktuimpanbeku).
9. Dilarangmelakukanpenelitianataueksperimenterhadapataumengg
unakansel ovum, spermatozoa atauembriotanpaseijindarisiapasel
ovum atau spermatozoa ituberasal.
10.Dilarangmelakukanfertilisasi trans-spesies, kecualifertilisasitranspesiestersebutdiakuisebagaicarauntukmengatasiataumendiagno
sisinfertilitaspadamanusia. Setiap hybrid yang
terjadiakibatfretilisasi transspesiesharusdiakhiripertumbuhannyapadatahap 2 sel.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bayi tabung merupakan salah satu metode untuk mendapatkan keturunan bagi
pasanganyang kesulitan untuk mendapatkannya (memiliki masalah kesuburan). Metode
bayi

tabungmenjadi

pro-kontra

dalam

masyarakat

jika

dipandang

dari

segi

hukum,agama,dan sosial.Keabsahan metode ini berbeda-beda menurut sudut pandang


berbagai agama di Indonesia.Menurut agama Islam, bayi tabung dengan sperma dan
ovum dari pasangan suami isteri yangsah hukumnya mubah (boleh) sebab hal ini
termasuk ikhiar berdasarkan kaidah agama.
Kebutuhan untuk melanjutkan keturunan adalah naluri setiap insan yang
normal. Oleh karena itu, secara naluri pula setiap insan normal akan mencari pasangan
yang sesuai bagi dirinya. Sebagai satu pasangan suami istri yang normal, manakala
keturunan yang idamkan belum juga diperoleh, maka keadaan ini memunculkan keraguan
akan kesuburannya. Pada masa kini keraguan tersebut dapat dihilangkan setelah setelah
semua pemeriksaan yang diperlukan selesai dilakukan. Tekhnik rekayasa reproduksi yang
meliputi pembiakan gamet dan embrio invitro telah begitu maju dan sangat jauh
berkembang. Namun dibutuhkan tanggung jawab etik berkadar tinggi dari setiap ilmuwan
dan seoptimal mungkin baik bagi pasutri maupun embrio hasil pembuahan.
2.

Saran

DAFTAR PUSTAKA
Al QuraanulKarim
http://BayiTabungmenuruthukum Islam _ .htm
Referensi :
Guwandi. J S.H. 2007. HUKUM dan DOKTER. Jakarta : diterbitkan
oleh CV. Sagung Seto.
Hanafiah, Jusuf. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan.Jakarta: EGC
Soimin, Soedharyo S.H. 1995. Kitab undang-undang hukum perdata.
Jakarta :

Diterbitkan oleh

sinar grafika.

http://fachri-kencana.blogspot.com/2010/11/bayi-tabung.html
http://www.scribd.com/doc/28605655/Bayi-Tabung
http://www.kesuburanwanita.com/artikel/Gizi+dan+Kesehatan/Prakonsep
si/alasan.mengikuti.program.bayi.tabung/001/001/1539/1
http://keperawatanreligionsrikandipuspaamandaty.wordpress.com/2010/1
2/17/bayi-tabung-dalam-pandangan-islam/
http://tauvhk.wordpress.com/2008/11/17/bayi-tabung-dalam-persepsiislam/
http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/13/bayi-tabung/
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopediaislam/fatwa/10/05/08/114856-apa-hukum-bayi-tabung-menurut-islam http://shohwatulislam.multiply.com/journal/item/16
http://All about knowledge Makalah Tinjauan Hukum Islam Tentang Bayi Tabung.htm