Anda di halaman 1dari 27

PANCASILA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Kaitannya Dengan Ideologi Negara)

Makalah Ini Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Untuk Materi: Ulumul Qur’an Program Magister (S2) Pendidikan Islam Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta

Pendidikan Islam Pascasarjana Institut PTIQ – Jakarta Oleh : AHMAD MULYONO NIM: 162520003 KONSENTRASI MANAJEMEN

Oleh :

AHMAD MULYONO NIM: 162520003

KONSENTRASI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA INSTITUT PTIQ JAKARTA 2016 M./1437 H.

PANCASILA DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN

A. Pendahuluan

Salah satu hidayah Ilahi yang diberikan Allah SWT kepada bangsa Indonesia ialah berhasilnya diperoleh satu titik temu antara bangsa kita yang berbeda-beda agama dan kepercayaan, berbeda-beda suku dan bahasa, sehingga dapat tegak di atas satu landasan yang dinamakan Pancasila.

Baik dilihat dari sudut historis maupun dipandang dari materi pancasila itu, kaum Muslimin mempunyai partisipasi yang langsung dalam penyusunannya itu; sedang materi atau sila-sila Pancasila itu sesuai dengan ajaran Islam. 1

Namun realitasnya, ada sebagian kelompok warga Negara Indonesia yang menentang dengan tegas rumusan Pancasila sebagai ideology Negara, mereka berpendapat bahwa Pancasila tidak dapat dijadikan sebagai ideologi dan dasar Negara.

Diantara kelompok tersebut adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI dengan tegas menolak demokrasi sebagai asas ketatanegaraan dengan memandang demokrasi tidak sejalan dengan ajaran Islam. Indonesia harus berubah menjadi negara Islam dengan cara mengganti sistem pemerintahan, bentuk negara dan Pancasila menjadi ideologi Islam. Dengan mengusung Ideologi Islam maka mereka menginginkan penanaman nilai Islam dalam setiap sendi kehidupan secara menyeluruh baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, mapun budaya.

Selain HTI, kelompok yang juga dalam pandangannya menolak Pancasila sebagai ideology Negara ialah ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) dimana kelompok ini juga mendapat disebagian masyarakat Indonesia. Lain dari itu, kebangkitan kembali paham komunis ditengah-tengah masyarakat juga menambah jumlah kelompok masyarakat yang menentang ideology Negara, Pancasila.

Berdasar penjelasan di atas, demi mendapatkan pengetahuan yang utuh relasi Islam dan Pancasila, penulis tertarik untuk membuat kajian tentang “Pancasila Dalam Perspektif Al-Qur’an” yang nantinya akan menjelaskan sejarah, kandungan makna dan fungsinya sebagai ideology Negara. Lalu bagaimana penjelasannya dalam perspektif Al-Qur’an dari masing-masing sila tersebut.

1 Yunan Nasution, Islam dan Problema-problema Kemasyarakatan (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1998), hal. 193

B. Pancasila: Sejarah, Kandungan Makna dan Fungsinya Sebagai Ideologi Negara

1. Sejarah lahirnya Pancasila

Ketika Jepang terdesak oleh serangan tentara Sekutu yang dipimpin oleh Amerika

Serikat, pemerintah Jepang di Jawa mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik

Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 29 April

1945. Meskipun pembentukan ini merupakan upaya Jepang untuk mengulur waktu bagi

kemerdekaan Indonesia, tapi kesempatan itu direspon oleh para pejuang Indonesia

dengan serius sebagai batu loncatan untuk mengubah situasi dan bahkan merebut

kedaulatan dari pihak Jepang. Secara politis, tujuan pihak Jepang membentuk BPUPKI

adalah untuk mengulur waktu bagi kemerdekaan Indonesia. Setelah pembentukan,

pihak Jepang menunda cukup lama untuk menyelenggarakan sidang pertama pada

tanggal 29 Mei 1945 di Gedung Pejambon (Gedung Tyuuoo Sangi-In Jakarta), yang

diketuai oleh Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat.

Secara formal BPUPKI bertugas menyelidiki perkara-perkara penting dan

mendasar terkait kemerdekaan seperti politik, ekonomi, tata pemerintahan, dll. Hal-hal

mendasar yang dibahas dalam sidang pertama, antara lain, mengenai syarat-syarat

hukum suatu negara, bentuk negara, pemerintahan negara, dan dasar negara. Pertanyaan

pembuka sidang yang dilontarkan oleh ketua sidang adalah “apakah dasar negara

Indonesia merdeka”? Para peserta sidang pun mulai berdiskusi dengan serius.

Pemikiran-pemikiran yang berkembang sejak awal sidang masih belum menunjukkan

kejelasan arah. Sukarno bahkan menegaskan bahwa pidato-pidato para anggota sidang

belum sama sekali menunjukkan atau menjawab permintaan ketua sidang. Kata

Sukarno:

“Maaf beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang Mulia yaitu bukan dasarnya Indonesia merdeka. Menurut anggapan saya yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda:

Philosofische grondslag” daripada Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat, yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi”. 2

2 Radjiman Wedyodiningrat, Lahirnja Pantja Sila (Jogjakarta: Oesaha Penerbitan Goetoer, 1947), hal. 24 (Buku ini adalah hasil risalah pidato Soekarno pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945. Buku ini tanpa nama

Dalam pidatonya didepan sidang BPUPKI Soekarno memaparkan gagasannya tentang dasar Negara Indonesia. Soekarno mengemukakan bahwa dasar Negara Indonesia adalah yaitu: 3

a. Kebangsaan Indonesia Indonesia seharusnya negara kebangsaan dalam pengertian luas. Dalam Memberikan pengertiannya tentang negara kebangsaan, Soekarno menjelaskan bahwa bangsa Indonesia bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan "le desir d'etre ensemble" di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Jogja, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia adalah seluruh manusia, yang menurut geopoltik, yang telah ditentukan oleh Allah SWT tinggal di kesatuannya semua pulau dari ujung Sumatera sampai ke Irian. Dan kebangsaan yang bulat menurut Soekarno

bukanlah kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan Kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain, tetapi Kebangsaan Indonesia yang bersama menjadi dasar Nationale State.

b. Internasionalisme - atau peri-kemanusiaan Internasionalisme bagi Soekarno bukanlah kosmopolitisme yang mengingkari kebangsaan. Antara internasionalisme dan nasionalisme menurut Soekarno terdapat saling hubungan mesra. yang satu hanya dapat hidup subur dengan hanya yang lain

c. Mufakat - atau demokrasi Dasar ketiga adalah mufakat, dasar permusyawaratan, dasar perwakilan. Negara

buat

semua, semua buat satu". Syarat yang mutlak untuk kuatnya negara ialah permusyawaratan, perwakilan. Dengan cara mufakat diperbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan

bukanlah untuk satu orang atau satu golongan. Negara adalah "

satu

dalam Badan Perwakilan Rakyat

d. Kesejahteraan Sosial Prinsip keempat adalah kesejahteraan. Tidak akan ada kemiskinan di dalam negara. Kaum kapitalis tidak merajalela, sedang semua orang cukup makan,

penulis, Radjiman Wedyodiningrat dicantumkan dalam catatn kaki ini karena beliaulah yang memberikan kata pengantar pada buku tersebut). 3 Gazalba, Pantjasila Dalam Persoalan (Jakarta: Tintamas Djakarta, 1957), hal. 8-11 (Buku asli masih ditulis dalam tulisan yang belum memenuhi standar EYD. Penulis sengaja merubah tulisan catatan di atas agar lebih mudah dipahami)

cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan. Indonesia bukan hanya demokrasi politik, tapi juga demokrasi ekonomi.

e. Ketuhanan Yang Berbudaya Prinsip kelima ialah bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Soekarno menjelaskan prinsip ini bahwa Prinsip Ketuhanan bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al- Masih, orang Islam ber-Tuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadahnya menurut kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang ber-Tuhan. Dan agama haruslah saling hormat-menghormati, saling bertoleransi

Kelima pokok di atas diistilahkan Soekarno dengan Pancasila. Pancasila ini ditawarkannya kepada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia untuk diterima sebagai dasar negara. Kalau sidang menghendaki jumlah pokok yang lebih kecil, ia dapat memeras yang lima itu menjadi 3. Dua pokok pertama:

Kebangsaan dan internasionalisme (perikemanusiaan) diperasnya menjadi socio- nationalisme. Dua pokok berikutnya: demokrasi dan kesejahteraan sosial (demokrasi politik dan demokrasi ekonomi) diperasnya pula menjadi: socio-democratie. Maka bersama-sama dengan Ketuahan terjadilah 3 pokok yang diistilahkannya dengan Trisila.

Tetapi jumlah ini bagi Soekarno tidaklah mutlak. Kalau sidang mengingini hanya satu dasar saja, maka ia dapat memeras yang tiga itu menjadi satu. Dan yang satu itu ialah gotong-royong. Negara Indonesia yang didukung oleh semua rakyat, menganut faham: semua buat semua. Negara Indonesia didasarkan semua untuk semua, yang istilah Indonesia tulennya: gotong-royong. Kalau Trisila akan dijadikan Eka SIla, maka negara Indonesia itu menurut Soekarno adalah negara Gotong-Royong.

Demikianlah konsepsi asli Soekarno yang pertama kali dari Pancasila. Urutan sila kelima (Ketuhanan) dari konsepsi Soekarno, semenjak dirumuskan Piagam Jakarta (22

Juni 1945) oleh 9 orang tokoh nasional 4 berubah menjadi sila pertama. Dalam

sejarahnya, Pancasila mengalami perubahan sehingga sekarang menjadi 5 :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kerakyatan

3. Kebangsaan

4. Perikemanusiaan

5. Keadilan social

Dalam hal terjadinya perubahan Pancasila yang digagas oleh Soekarno, diawali

oleh Panitia Sembilan yang dibentuk oleh Soekarno dimasa akhir sidang BPUPKI yang

bertugas untuk menyelidiki usul-usul mengenai perumusan dasar Negara yang

melahirkan konsep rancangan Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945. Konsep rancangan pembukaan ini disetujui pada 22 Juni 1945.

Oleh Soekarno rancangan Pembukaan Undang-undang Dasar ini diberi nama

“Mukaddimah”, oleh M. Yamin dinamakan “Piagam Jakarta”, dan oleh Sukiman

wirjosandjojo disebut “Gentlemen’s Agreement”.

Rumusan dari rancangan Pembukaan Undang-undang Dasar (Piagam Jakarta) itu

sebagai berikut: 6

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian

4 9 tokoh nasional yang terdiri dari Soekarno (Ketua), Mohammad Hatta, M Yamin, A.A Maramis, Soebardjo, (golongan kebangsaan), K.H Wachid Hasjim, K.H Kahar Muzakir, H. Agoes Salim, dan R. Abikusno Tjokrosoesojo (golongan Islam), ini dikenal dengan “Panitia Sembilan” dibentuk oleh Soekarno di masa akhir Sidang BPUPKI.

5 Gazalba, Pantjasila Dalam Persoalan, hal. 12

6 MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2014), cet 4, hal. 36-37

abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk- pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."

Tanggal 18 Agustus 1945 kesepakatan yang terdapat dalam Piagam Jakarta tersebut

diubah pada bagian akhirnya oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Hal penting yang diubah oleh panitia ini adalah tujuh kata setelah Ketuhanan, yang

semula berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi

pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa. Juga diubahnya

klausul pada batang tubuh Undang-undang Dasar 1945 Pasal 6 ayat (1) mengenai syarat

presiden. Semula ayat itu mensyaratkan presiden harus orang Islam, tetapi kemudian

diubah menjadi hanya “harus orang Indonesia asli”.

Perubahan hasil Piagam Jakarta dilakukan karena adanya keberatan dari wakil-

wakil agama lain, dalam hal ini Protestan dan Katolik dimana mereka mengakui bahwa

bagian kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya mengenai rakyat yang beragama

Islam. Tetapi tercantumnya ketetapan seperti itu di dalam suatu dasar yang menjadi

pokok Undang-undang Dasar berarti mengadakan diskriminasi terhadap golongan

minoritas. Jika diskriminasi itu ditetapkan juga, mereka lebih suka berdiri di luar

republik Indonesia.karena hal ini dipandang penting dalam menjaga bangsa, maka pada

18 Agustus 1945 sebelum dimulainya rapat PPKI, Hatta berinisiatif mengajak beberapa

orang, yakni Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasjim, Kasman Singodimejo dan Teuku

Mohammad Hasan dari sumatera, untuk mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk

membicarakan masalah itu. Dari hasil rapat inilah, yang lamanya kurang dari 15 menit,

perubahan hasil Piagam Jakarta, yakni “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan

syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha

Esa”. 7

Dari hasil rangkaian peristiwa di atas akhirnya lahirlah rumusan baru Pembukaan

Undang-Undang Dasar 1945 dan juga Pancasila yang merupakan bagian di dalamnya.

7 MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, hal. 38-40 (keterangan di atas telah diringkas oleh penulis)

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."

2. Kandungan Makna Pancasila

a. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila pada prinsipnya menegaskan

bahwa bangsa Indonesia dan setiap warga negara harus mengakui adanya Tuhan.

Oleh karena itu, setiap orang dapat menyembah Tuhannya sesuai dengan

keyakinannya masing-masing. Segenap rakyat Indonesia mengamalkan dan

menjalankan agamanya dengan cara yang berkeadaban yaitu hormat, menghormati

satu sama lain. 8

Abdurrahman Wahid memberikan pandangannya tentang sila pertama

Ketuhanan Yang Maha Esa, terkait posisinya sebagai ideologi negara dengan

keragaman agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Beliau mengatakan

bahwa dalam keadaan demikian banyak kalangan agama dan kepercayaan terhadap

Tuhan Yang Maha Esa melihat adanya keharusan bagi Pancasila membatasi diri

dalam batas-batas minimal untuk pengaturan kehidupan beragama dan

8 MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, hal. 45

berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, Pancasila diharapkan berperan sebagai "polisi lalu lintas" kehidupan beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa belaka. Kesulitan yang dirasakan dalam mempertimbangkan ini adalah kenyataan bahwa pengaturan lalu lintas memerlukan aturan yang disepakati dan ditunduki bersama, dan itu berarti harus ada pihak yang membuat aturan itu. Fungsi Pancasila lalu jelas harus terwujud juga dalam membuat aturan permainan antara beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ungkapan lain, fungsi minimal itupun memerlukan batasan-batasan minimalnya sendiri, yang tidak boleh ditundukkan kepada kehendak agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Tugas kita sebagai bangsa saat ini justeru adalah menemukan garis batas yang jelas, mana yang wewenang Pancasila tanpa mengganggu kebebasan beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sebuah contoh dapat dikemukakan dalam hal ini, agama Islam mengajarkan bahwa Islam adalah satu- satunya agama yang benar dan diterima disisi Allah. Karenanya banyak kalangan kaum muslimin yang tidak dapat menerima adanya persamaan agama (umumnya tertuang dalam pernyataan bahwa "semua agama adalah sama"). Kalau Pancasila memaksakan persamaan mutlak seperti tergambar dalam pernyataan di atas, tentunya independensi Islam sebagai agama menjadi terganggu. Sebaliknya jika Pancasila mampu menemukan titik temu dalam pandangan yang saling berbeda itu, dengan sendirinya ia berperan menjadi jembatan penghubung tanpa menganggu kedaulatan theologis masing-masing. Rumusan seperti "Semua Agama diperlakukan sama dimuka Undang-undang dan diperlakukan sama oleh negara" mungkin akan lebih mengena dalam hal ini. 9

b. Sila Kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab

Sila ini menegaskan bahwa kebangsaan Indonesia merupakan dari kemanusiaan universal, yang dituntut mengembangkan persaudaraan dunia berdasarkan nilai- nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemanusiaan berasal dari kata “manusia”, yaitu makhluk yang berbudaya dengan memiliki potensi pikir, rasa,

9 Oetojo Usman dan Alfian, Pancasila Sebagai Ideologi: Dalam Berbagai Bidang Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara (Jakarta: BP-7 Pusat, 1991), hal. 164. (Buku ini adalah himpunan makalah yang disampaikan dalam seminar "Pancasila Sebagai Ideologi: Dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara" yang dilaksanakan oleh Kelompok Studi Pengembangan Pemikiran Pancasila dan UUD 1945 BP-7 Pusat tanggal 24-26 Oktober 1989 di Jakarta.)

karsa dan cipta. Karena potensi seperti yang dimilikinya itu manusia tinggi martabatnya. Dengan budi nuraninya manusia menyadari nilai-nilai dan norma. Kemanusiaan terutama berarti hakikat dan sifat-sifat khas manusia sesuai dengan martabatnya. Adil berarti patut, tidak memihak atau berpegang pada kebenaran. 10

c. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Sila Persatuan Indonesia (Kebangsaan Indonesia) dalam Pancasila pada prinsipnya menegaskan bahwa bangsa Indonesia merupakan negara kebangsaan. Bangsa yang memiliki kehendak untuk bersatu, memiliki persatuan perangai karena persatuan nasib, bangsa yang terikat pada tanah airnya.

Persatuan berasal dari kata satu, yang berarti utuh tidak perpecah-pecah. Persatuan juga menyiratkan adanya keragaman, dalam artian bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan. Sila ketiga ini mencakup persatuan dalam arti ideologi, politik, ekonomi sosial budaya, dan keamanan. Persatuan Indonesia ialah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Yang bersatu karena didorong untuk mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat. 11

d. Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (mufakat/demokrasi) dalam Pancasila pada prinsipnya menegaskan bahwa bangsa Indonesia akan terus memelihara dan mengembangkan semangat bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam perwakilan.

Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yaitu sekelompok manusia yang berdiam dalam satu wilayah Negara tertentu. Rakyat meliputi seluruh manusia itu, tidak dibedakan oleh tugas (fungsi) dan profesi (jabatannya. Kerakyatan adalah asas yang baik serta tepat sekali jika dihubungkan dengan maksud rakyat hidup dalam ikatan Negara.

10 MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, hal. 51

11 MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, hal. 63

Sila keempat Pancasila “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” mengandung beberapa ciri alam pemikiran demokrasi di Indonesia . dalam pokok pikiran ketiga dari Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disebutkan bahwa kedaulatan itu berdasar “kerakyatan” dan “permusyawaratan”. Dengan kata lain, demokrasi itu hendaknya mengandung ciri: (1) Kerakyatan (daulat rakyat), dan (2) permusyawaratan (kekeluargaan).

Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk merumuskan dan/atau memutuskan suatu hal berdasarkan kehendak rakyat, hingga tercapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau mufakat. Perwakilan adalah suatu system dalam arti tata cara (prosedur) mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan bernegara, antara lain dilakukan dengan melalui badan-badan perwakilan.

Selain kedua ciri tersebut, demokrasi Indonesia juga mengandung ciri “hikmat- kebijaksanaan”. Cita hikmat-kebijaksanaan merefleksikan orientasi etis, sebagaimana dikehendaki oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat itu hendaknya didasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan, perikemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan. 12

e. Sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (kesejahteraan) dalam Pancasila pada prinsipnya menegaskan bahwa seyogyanya tidak akan ada kemiskinan dalam Indonesia merdeka. Bangsa Indonesia bukan hanya memiliki demokrasi politik, tetapi juga demokrasi ekonomi. Indonesia harus memiliki kehidupan yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara khusus, keadilan social dalam sila kelima Pancasila ini menekankan prinsip keadilan dan kesejahteraan ekonomi, atau apa yang disebut Soekarno sebagai prinsip sociale rechtvaardigheid. Yakni, bahwa persamaan, emansipasi dan partisipasi yang dikehendaki bangsa ini bukan hanya bidang politik, melainkan juga di bidang perekonomian. Prinsip keadilan dan kesejahteraan sosial menurut sila kelima Pancasila tidaklah sama dengan prinsip komunisme (yang menekankan

12 MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, hal. 68-71

kolektivitas), dan liberalisme (yang menekankan individualisme). Sila kelima

bertolak dari pengertian bahwa antara pribadi dan masyarakat satu-sama lain tidak

bisa dipisahkan. 13

3. Pancasila Sebagai Ideologi Negara Republik Indonesia.

Soerjanto Poespowardojo dalam seminar BP-7 Pusat tahun 1991 menyampaikan

pandangannya tentang maksud Ideologi Negara berdasar Pancasila. Beliau

menyampaikan pandangannya sebagai berikut 14 .

Pembukaan UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa Pancasila adalah Dasar Negara. Dengan demikian Pancasila merupakan nilai dasar yang normatif terhadap seluruh penyelenggaraan Negara Republik Indonesia. Dengan Perkataan lain Pancasila merupakan Dasar Falsafah atau Ideologi Negara, karena memuat norma-norma yang paling mendasar untuk mengukur dan menentukan keabsahan bentuk-bentuk penyelenggaraan negara serta kebijaksanaan-kebijaksanaan penting yang diambil dalam proses pemerintahan.

Ideologi Pancasila yang merupakan Dasar Negara itu berfungsi baik dalam menggambarkan tujuan negara RI maupun dalam proses pencapaian tujuan negara tersebut. Ini berarti bahwa tujuan negara yang secara material dirumuskan sebagai "melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" harus mengarah kepada terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur dan sejahtera sesuai dengan semangat dan nilai Pancasila. Demikian pula proses pencapaian tujuan tersebut dan perwujudannya melalui perencanaan, kebijaksanaan dan keputusan politik harus tetap memperhatikan dan bahkan merealisasikan dimensi-dimensi yang mencerminkan watak dan ciri wawasan Pancasila.

Dalam hal Pancasila sebagai Ideologi Negara, Alamsjah Ratu Perwiranegara di

dalam bukunya Islam dan Perkembangan Politik di Indonesia menjelaskan bahwa:

Perbedaan yang timbul pada saat pembahasan dasar Negara dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan kemudian dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tahun 1945, sampai klimaksnya pada Badan Konstituante tahun 1959, di sekitar Islam sebagai dasar Negara (ideology kenegaraan) terus-menerus berkembang.

13 MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, hal. 78-79 14 Oetojo Usman dan Alfian, Pancasila Sebagai Ideologi: Dalam Berbagai Bidang Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara, hal. 44-46 (diringkas oleh penulis)

Dalam pada itu pernah timbul ide tentang sosialisme religious untuk menggambarkan sosialisme yang terkandung dalam Pancasila, tetapi ada juga konotasi sosialisme religious sebagai sosialisme Islam, yang ternyata tidak dapat diterima oleh umat Islam.

Dalam mengakhiri pembahasan di atas agaknya suatu pemikiran yang lebih obyektif dapat dikemukakan bahwa agama (Islam) mengajak menciptakan suatu system kemasyarakatan yang baik, yang konsisten, selaras serasi dan seimbang, yang mutual conceivable dan non contradictory. Jalan pemikiran mana sejajar dengan pendapat bahwa Al-Qur’an memuat tuntunan bagi manusia, dan tidak memuat hal yang lebih teknis seperti ideology kenegaraan, bentuk dan tipe Negara, dan sebagainya.

Jalan pikiran ini pulalah yang agaknya yang dapat diterima oleh kaum politisi Muslim Indonesia, sehingga pada Sidang Umum MPR-RI 1983 bersama wakil- wakil rakyat lainnya, menerima dan menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal bagi organisasi social-politik di Indonesia.

Dan dengan demikian, jelas bahwa bagi kaum muslimin Indonesia, agama bukan ideology kenegaraan, serta pula tiada perbedaan pendapat apalagi pertentangan sekitar hubungan Islam dengan ideologi Negara. 15

Pendapat menarik dikemukakan oleh Tokoh Islam Moh. Natsir tentang Pancasila

sebagai dasar atau ideologi Negara dan kaitannya dengan ajaran Al-Qur’an. Natsir

menyampaikan bahwa: 16

Pancasila sebagai perumusan dari lima cita kebajikan seperti yang telah diceritakan di atas telah disampaikan kepada masyarakat dan tidak ada seorangpun penyusunya memegang monopoli untuk menafsirkan sendiri dan memberi isi pada perumusan itu. Dalam membanding Islam dan Pancasila, ia mengemukakan "Dalam pangkuan Al-Qur'an", pancasila akan hidup subur. Satu dengan lain tidak a priori bertentangan dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa. Bagaimana mungkin Qur'an yang ajaran-ajarannyapenuh dengan kewajiban menegakkan adalah ijtima'iyah bisa a priori bertentangan dengan keadilan sosial. Bagaimana mungkin Qur'an yang justeru memberantas sistem feodal dan pemerintahan sewenang- wenang, serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintahan dapat a priori bertentangan dengan apa yang dinamakan Kedaulatan Rakyat. Bagaimana mungkin Qur'an yang menegakkan istilah islahu bainannas sebagai dasar-dasar yang pokok yang harus ditegakkan oleh umat Islam dapat a priori bertentangan dengan apa yang disebut perikemanusiaan. Bagaimana mungkin Qur'an yang mengakui adanya bangsa-bangsa dan meletakkan dasar yang sehat bagi

15 Alamsjah Ratu Perwiranegara, Islam Dan Perkembangan Politik Di Indonesia (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1987), hal. 50-51

16 Gazalba, Pantjasila Dalam Persoalan, hal. 18

kebangsaan, a priori dapat dikatakan bertentanga dengan kebangsaan? Dalam mengemukakan sikap seorang muslim terhadap sesama manusia yang beragama lain (pada bidang pertemuan mereka dalam sila pertama). Natsir mengucapkan ajaran Qur'an "Aku disuruh supaya berlaku adil terhadap kamu. Allah adalah Tuhan kami dan kamu, bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu." Tidak ada persengketaan agama diantara kamu dengan kami. Allah juga yang akan mempertemukan kita dan kepadanyalah kita kembali semuanya."

Demikianlah Natsir menafsirkan Pancasila berdasarkan pandangan Islam. Dan

harapan yang dikemukakannya ialah agar Pancasila dalam perjalanannya mencari isi

semenjak ia dilancarkan, tidaklah akan diisi dengan ajaran yang menantang Al-Qur'an.

Pandangan Natsir ini juga diamini oleh Hamka. Hamka dalam risalahnya "Urat

Tunggang Pantjasila" menyatakan bahwa "Tiap-tiap orang yang beragama atau tiap-

tiap orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila bukanlah sesuatu

yang perlu dibicarakan lagi, karena sila yang empat daripada Pancasila sebenarnya

hanyalah akibat saja daripada sila yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa 17 .

Dari penjelasan Natsir dan Hamka, penulis berkesimpulan bahwa Pancasila dapat

kita dijadikan Ideologi Negara karena tidak ada pertentangan antara Pancasila dan

ajaran Islam.

C. Ajaran Pokok Pancasila Dalam Perspektif Al-Qur’an

Dari penjelasan mengenai Pacasilaejarah, kandungan makna dan perannya sebagai

ideology Negara, penulis melihat ada beberapa pokok bahasan penting yang harus

dijelaskan dari sudut pandang Islam dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagai

sumber utama ajaran Islam. Hal ini untuk memberi penjelasan dan penguatan terhadap

kesimpulan penulis di atas bahwa Pancasila yang sudah dirumuskan oleh para pendiri

bangsa, yang dijadikan dasar ideology Negara tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam.

Adapun ajaran pokok tersebut adalah sebagai berikut.

1. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Konsep Tauhid dan Toleransi Beragama

Di dalam membahas konsep tauhid sangatlah tepat kiranya penulis menjelaskan

firman Allah SWT di dalam surat Al-Ikhlas sebagai dalil utama, dimana Allah SWT

berfirman.

٤

َ

ُۢ د ُ ح أ ا ف

ً

و

ُ

َ

ك ۥ لَّ ن ك َ م ل

ُ

ُ

ه

َ

ُ

ي

ۡ

َ

و ٣

َ

لَو ُ م و لِد َ م

ۡ

ي

ۡ

ل

َ

ۡ

ي

ۡ

ل

َ

َ

٢

د ُ َ صلٱ

م

ه

للَّٱ ُه ١

َ

د ح أ للَّٱ و ه ل

ٌ

َ

ُه

َ

ُ

ۡ ُ ق

Artinya: “Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (QS Al Ikhlas:

1-4)

Sebab turunnya ayat ini yaitu; Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ubay bin Ka'ab bahwa orang-orang musyrik pernah berkata kepada Nabi SAW; "Hai Muhammad, terangkanlah kepada kami nasab Rabbmu. "Maka Allah Ta'ala menurunkan firman- Nya, "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Demikianlah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Jarir dari Ahmad bin Mani'. 18

Adapun penjelasan tafsir yang disampaikan oleh Ibu Katsir adalah sebagai berikut. 19

Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa’, yakni, Dia Yang Tunggal dan satu-satunya, yang tiada tandingannya, tanpa pembantu, juga tanpa sekutu, serta tidak ada yang menyerupai dan menandinginya. Dan kalimat itu tidak bisa dipergunakan pada seorang pun dalam memberikan penetapan kecuali hanya kepada Allah, karena Dia yang sempurna dalam semua sifat dan perbuatan-Nya.”

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Ikrimah mengatakan dari Ibnu' Abbas " Yakni Rabb yang bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam memenuhi segala hal kebutuhan dan permintaan mereka."

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan’, maksudnya adalah Dia tidak memiliki anak dan tidak juga dia sebagai ayah atau ibu. Mengenai firmannya 'dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Mujahid mengatakan "Yakni, Dia tidak mempunyai pendamping."

Ali bin Abi Thalib, mengatakan bahwa tidak ada penafsiran untuk surah ini karena maknanya jelas dan tidak terselubung. 20

18 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2004), jilid 8, hal. 571

19 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, hal.574-575 (diringkas oleh penulis)

20 Syekh Fadhlullah Haeri, Cahaya Al-Qur’an: Tafsir Juz ‘Amma (Jakarta: Serambi, 2001), hal. 334

Lebih jauh, Sayyid Quthb memberikan penjelasan-penjelasan berharga mengenai konsep Tauhid dalam Islam yang disampaikan ketika beliau menafsirkan surat Al-Ikhlas ini. Menurut beliau keistimewaan tauhid dalam akidah Islam ialah kedalamannya untuk menjadi fondasi kehidupan secara total. Juga ditegakkan kehidupan di atasnya sebagai fondasinya dan sebagai kaidah (landasan) bagi manhaj ‘amali‘ aturan kerja/aktivitas’ yang nyata di dalam kehidupan, yang tampak bekas-bekasnya baik di dalam syariat maupun kepercayaan. Adapun bekas pertama yang tampak ialah bahwa hanya syariat Allah saja yang mengatur kehidupan. 21

Dari sini lahirlah manhaj kehidupan yang sempurna, yang ditegakkan di atas penafsiran itu dengan segala pengaruh yang ditimbulkannya di dalam jiwa yang berupa tashawwur, perasaan, dan arahan-arahan. Manhaj kehidupan itu meliputi manhaj-manhaj sebagai berikut: 22

a. Manhaj untuk beribadah kepada Allah saja.

b. Manhaj untuk mengarah dan menuju kepada Allah di dalam berharap dan takut, kesenangan dan kesulitan, kebahagiaan dan penderitaan.

c. Manhaj untuk menerima sesuatu dari Allah saja. Yaitu menerima akidah, tashawwur ‘pandangan hidup’, tata nilai, norma-norma, syariat, undang-undang peraturan, adab, dan tradisi.

d. Manhaj untuk bergerak dan beramal karena Allah semata. Yaitu, untuk

mendekat kepada hakikat yang sebenarnya, dan untuk melepaskan diri dari tabir-tabir yang mengahalangi dan noda-noda yang menyesatkan, baik di dalam lubuk jiwa sendiri maupun pada segala sesuatu di sekitarnya.

e. Disamping itu adalah sebagai manhaj yang menghubungkan antara hati manusia dengan segala maujud dengan hubungan cinta, kasih sayang, lemah-lembut, dan saling merespon. Dari penafsiran-penafsiran di atas dapat disimpulkan bahwa konsep Tauhid di dalam Islam adalah ber-Tuhan, beribadah dan beramal hanya kepada Allah SWT serta meniadakan sifat-sifat ataupun pemahaman yang tercela dalam konsep ke- Esa-an Allah SWT sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al Ikhlas di atas. Dan ini adalah keyakinan yang benar dan diridhoi oleh Allah SWT.

21 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), Jilid 24, hal. 295-296

22 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, hal. 294-295

ُ

ُ

م ه َ

ٓ

ء

ج ا م دد

ا

َ

َ

ع

ۡ ب َ نمد ُۢ

١١

د

ه

لٱ ۡ ْ او ُ تو أ نيد لَّٱ ف ل َ ت خٱ ا م و ُۗ م ل س لۡٱ د للَّٱ دنعد

َ

ه

َ

َ

ۡ

َ َ

ُ

َ

َٰ

ۡ

ۡ

د

ه

َ

ُ

لَّ د إ ب َٰ تكد

َ

َ

نيد لَٱ

َ

د

ه

إ

ن د

ۡ

بد ِٱ ٱ ِ للَّٱ

ا

َ

ُ

د

َ

َه

ن د ّ َ ِ د للَّٱ ٱد َٰ يَٰ بِ‍َٔا

ه

ه

َ

ك َ ي ن َ و َ ُۗ م ۡ ه ُ ن َ ي َ ب

ۡ

ر

ُ

ف

ۡ

م

ۡ

ۡ

ا َُۢ ي

ب

ُ

غ َ م لدع

ۡ

ۡ

ل

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.(QS. Ali Imran: 19) Ajaran Tauhid yang merupakan inti ajaran Islam yang dibawa sejak Nabi Adam AS sampai kepada Nabi Muhammad SAW, bukanlah suatu hal yang harus dipaksakan kepada semua manusia untuk meyakininya. Sebab Allah SWT berfirman.

٢٥٢

نيد لَٱ فِ َ ر

د

د

ها

َ

ۡ

ك د

إ َٓ

لَّ

د

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)(QS. Al Baqarah: 256) Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Sa'id atau Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, dia berkata, "Firman Allah "Tidapk ada paksaan dalam memeluk agama Islam," turun pada seorang lelaki dari Anshar yang berasal dari Bani Salim bin 'Auf yang bernama al-Hushain. Dia mempunyai dua orang anak yang keduanya beragama Nasrani, sedangkan dia sendiri adalah seorang Muslim. Maka diapun mengadu kepada Nabi SAW, "Apakah saya perlu memaksa mereka berdua untuk masuk Islam karena mereka tetap ingin memeluk agama Nasarani?" Maka Allah menurunkan firman- Nya dalam surat Al Baqarah ayat 256. 23 Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat di atas adalah maksudnya, janganlah kalian memaksa sesorang memeluk agama Islam. Karena sesungguhnya dalil-dalil dan bukti-bukti sudah demikian jelas dan gamblang, sehingga tidak perlu ada pemaksaan terhadap seseorang untuk memeluknya. Tetapi barangsiap yang diberi petunjuk oleh Allah dan dilapangkan dadanya serta diberikan cahaya bagi hati nuraninya, maka ia akan memeluknya. Dan barangsiapa yang dibutakan mata

23 Jalaludin As Suyuthi, Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an (Jakarta: Gema Insani, 2008), diterjemahkan oleh Tim Abdul Hayyie, hal. 108

hatinya oleh Allah Ta'ala, dikunci mati pendengaran, dan pandangannya, maka tidak akan ada manfaat baginya paksaan dan tekanan untuk memeluk Islam. 24 Dalam substansi dan inti ajaran agama ini tidak terdapat pemaksaan, karena pemaksaan berlawanan dengan ruh agama ini. Islam menjadikan kehendak dan pilihan sebagai prinsip dasar. Islam membangun semua muamalatnya di atas asa tersebut. Karena itu, perbuatan yang dilakaukan terpaksan tidak dilihat dan tidak diterima, entah itu dalam persoalan akidah, ibadah, maupun muamalat, karena berbenturan dan tidak sesuai dengan prinsip “perbuatan itu dengan niat Sebagaimana tidak membolehkan adanya paksaan dalam muamalat, Islam juga tidak boleh memaksakan orang lain untuk memeluk agama Islam. Agama ini bukanlah tatanan yang diterapkan dengan kekuatan dan paksaan, sebab unsur terpentingnya adalah Isman. Iman adalah persoalan hati dan perasaan murni. Tidak ada kekuatan yang bisa memaksa hati dan perasaan. Karena itu, tidak mungkin manusia menerima keimanan kecuali dengan dorongan kejiwaan dari dalam. Jadi, inilah arti “tidak ada paksaan dalam agama.” 25 Karena itu, di dalam Islam, dalam hal relasi antar pememluk agama yang dibangun adalah sikap toleransi dan saling menghormati. Seorang muslim tidak boleh menghina peribadatan orang non muslim sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT.

َ

كدل ا ه ز كدل َٰ ك م لعد

دُ

د

ه َ

ن

َ

َ

ذ

ۡ

يۡ غ ب ا و د ع للَّٱ ْ او ب ُّ ب ي ِ د للَّٱ نو د ُ نمد

د

ۡ َ

د

ُۢ َ

ۡ

َ

َه

ُ

َ

َ

ه

د

١٠١

َ

نو م ع ْ او ُ ان ا م د ب م ه ب ُ ي م ع

َ

ُ

ل

َ

ۡ َ

ع

و

َ

ُ ُ

ه

د

َ

ب ي

د

َ

ۡ

ُ ُ

ه

د

ۡ

ه

ر

َ

نو ع د ي نيد لَّٱ ْ او ب ُّ ب ت لَّ و

ُ

ع ةٍ م أ

ه

َ

ُ

د َ

ه

ب

ۡ َ

َ

َ

ه

ُ

َ

َ

ه

ُ

ل َٰ د إ م ث م ل

ۡ

ُ

َ

َ

َ

ه م

ج َ م ِ

د د

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al An’am:

108)

Abdurrazzaq mengatakan dari Ma'mar dari Qatadah: "Dahulu kaum muslimin mencaci berhala-berhala orang kafir, lalu orang kafir mencaci maki Allah secara

24 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2004), jilid 1, hal. 515

25 Fethullah Gulen, Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Jakarta: Republika, 2011), edisi terjemahan Indonesia oleh Fauzi Bahreisy, hal. 313-314.

berlebihan dan tanpa didasari ilmu pengetahuan, lalu Allah menurunkan ayat "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sebahan yang mereka ibadahi selain Allah.". Hal ini menunjukkan bahwa meninggalkan kemaslahatan untuk menghindari kerusakan yang lebih parah adalah lebih diutamakan. 26 Seorang muslim juga harus memberikan kebebasan bagi non muslim beribadah dan beramal dengan cara mereka sendiri.

ۥ

َ

لَّ

ُ

َ

ۡ

ُ

ن

َ

نَ و

ۡ

ُ

ُ

ل َٰ َ ع أ م ك و ا َ

ۡ

َ

ۡ

ُ

َ

ل

َ

َ

ن ل َٰ َ ع أ ٓ لَ

ُ

ۡ

َ

م ك م

َ

ا َ و

م

ِ

م ۡ ك ُ ُّ

و َ ا َ

ب َ

ن

ِ

ُّ َ

ۡ ُ

ُ َ د للَّٱ فِ ا َ نو ج تُ أ ل ق

مُ ُۡ

ن

َ

ب و و

ه

ٓ

ا

َ

نو صدل

َ

ُ

ُ

َ

َ

ُّ

ه

د

١٣١

Artinya: “Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS Al Baqarah: 139).

2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab Kemanusiaan yang adil dan beradab dalam pandangan Islam

Allah SWT berfirman.

ه

ن د إ

ْ

ا ٓ ْۚ

و با َ لِد

ِ

َ

َ

ع

ُ

َٰ َ

ۡ

ُّ أ ََٰٓ

ل ج و ثَو و ر ك ذ َ ند م م ك ن ق ل خ ا ه إ سا ه لَٱ ا ه ع ي

َ

م َ َ ك أ

ۡ

ُ

أ َ

َ

ل َ د ئ ٓ ب َ و ا ِو ٗ

ا َ

ق

َ

ُ

ع

ُ

َ

ش م ك ن ع

١٣

ٞ

يۡ د

َ

ٌ

ۡ

ُ

َ

َ

َ

َٰ َ

َ

د

ُ

ُ

ۡ

ى َ ت

َ

َٰ َ

د ه

ۡ

َ

َ

َ

و د

ُ

ۡ

ُ

َ

ب خ ميدل ع للَّٱ ن إ م ك َٰ ق أ للَّٱ دنعد

ْۚ ۡ

َه

ه

د

م ك ر

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13)

Salim Bahreisy menjelaskan ayat ini bahwa menurut konsepsi Qur’ani, perbedaan warna kulit, suku dan bangsa adalah untuk saling kenal-mengenal. Perbedaan itu tidak dimaksudkan untuk pertentangan atau unggul-unggulan satu dengan yang lain. Namun,

26 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2004), jilid 3, hal. 272

perbedaan itu justru dimaksudkan untuk saling tolong-menolong, saling gotong-royong di dalam melaksanakan kepentingan bersama.

Perbedaan apapun bentuknya, dihadapan-Nya tidak berharga sama sekali. Oleh sebab itu, Allah menilai kehormatan dan kemuliaan seseorang hanya berdasar amal perbuatan yang namanya takwa. Sebab, dengan takwa yang merupakan indikator (tolak ukur) kemuliaan di hadapan-Nya. Adapun orang yang bertakwa adalah mereka yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan

Islam adalah universal, oleh sebab itu, ajaran-ajaran-Nya mengikis habis yang namanya fanatik, sukuisme, rasialisme, dan nasionalisme yang semuanya adalah warisan zaman jahiliah. Ajaran Islam tidak memperkenankan seseorang untuk membangga-banggakan asal-usul atau keturunannya. 27

Konsekuensi logis dari konsepsi Qur’ani ini adalah sifat adil (lawan kata zhalim) karena pada dasarnya manusia memiliki kedudukan yang sama satu dengan lainnya, mereka dilarang untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan sesama dan merendahkan satu dengan yang lain.

َ

َ

ل َٰٓ

ٍ

َ

ۡ

و

ق

ٓ

ا

َ

َ

ه

َ

ْ

ُ

ه

َ

ُ

لَّ و طد بدق لٱ ب َ د ش د للَّد

د

ۡ

ُ

نا ن َ ش

َ

َ

م ۡ ك ُ ه

ُ

ل

َ

َ

ۡ َ

َ

َ

ر

د

َ

ن م يَ

ۡ

ُ

ه

َ

ء

ْۚ للَّٱ َه ْ

ينمد

َ

ى ق ه

و تلدل

ۡ

هَٰ

و

َ

ق ْ او ُ وو ك ْ او ُ ما ء َ

ُّ أ ََٰٓ

نيد لَّٱ ا ع ي

َ

ر أ و ه او لدد عٱ او ْۚ لدد ع ت لَّ أ

ۡ

َ

َ

ُ

ۡ

َ

َ ق

َ

ُ

ن

ْ

ُ

ه

ۡ َ

ه

او ُ تٱ ه و َ ٰۖ َٰ

ق

١

نو م َ ۡ ت ا

ع

يۡ د ب خ للَّٱ َه

ب ُۢ ُ

د

م

َ

ه

إ

ن د

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah,” maksudnya, jadilah kalian sebagai penegak kebenaran karena Allah, bukan karena manusia atau mencari popularitas. “Menjadi saksi dengan adil”, maksudnya, secara adil dan bukan secara curang. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil”,

27 Salim Bahreisy, Tatakrama Qur’ani: Kandungan Makna Surat Al-Hujurat (Surabaya: Pustaka Progresif, 1994), hal. 79-80

maksudnya, janganlah kebencian kepada suatu kaum menjadikan kalian berlaku tidak adil terhadap mereka, tetapi terapkanlah keadilan itu kepada setiap orang, baik itu teman maupun musuh kalian. Oleh karena itu Allah berfirman "Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan". Maksudnya keadilan kalian itu lebih dekat kepada takwa daripada meninggalkannya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” maksudnya, Allah akan memberikan balasan kepada kalian berdasarkan ilmu-nya terhadap perbuatan yang kalian kerjakan, jika baik akan dibalas dengan kebaikan, dan jika buruk akan dibalas dengan keburukan pula 28 . Oleh karena itu ayat selanjutnya Allah SWT berfirman.

١

َ

ميظد ع ر ج أ

ٞ

ٌ

ۡ

و ة ردف غ م م ه ل ٱد

َ

َ

َ

ٞ

ۡ

ه

ُ

َ

َ

َٰ حدل صلٱ ْ او لمد ع و ْ او ن ُ ما ء َ نيد لَّٱ للَّٱ د ع و

َٰه

ُ

ه

َ

َ

َ

َ

َ

ُه

َ

َ

Artinya: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al Maa’idah: 9)

Dalam pandangan penulis, dari konsep kemanusiaan Qur’ani ini akan mendorong manusia untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan sehingga muaranya nanti adalah terciptanya sebuah peradaban yang luhur, yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam hal ini penulis sepakat dengan konsep peradaban Islam yang dikemukakan oleh Yusuf Qardhawi, dimana beliau menjelaskan bahwa tidak diragukan lagi, Islam merupakan risalah perdaban, tujuannya luhur, meningkatkan derajat kehidupan manusia dan membawa mereka dari alam keterbelakangan kea lam kemajuan yang berperadaban. Namun yang harus diketahui adalah bahwa peradaban Islam tidak sama dengan peradaban-peradaban lainnya yang dimiliki oleh ummat-ummat non-islam yang lebih mementingkan aspek materi, jasmani dan gharizy. Peradaban Islam bukanlah peradaban yang menjadikan dunia sebagai tujuan segala obsesinya dan hasil yang hendak dicapai dengan ilmu yang dimilikinya. Ia bukan peradaban yang tidak pernah menyebut nama Allah dalam fasafat kehidupannya, yang tidak pernah melibatkan akhirat dalam aturan pola piker dan pengajarannya. Peradaban Islam adalah peradaban yang menyampaikan manusia kepada Allah, mempertalikan bumi dengan langit, menjadikan dunia sebagai ajang membekali diri untuk kehidupan akhirat, menjamu ruh dengan materi, menyeimbangkan akal dengan hati, memadukan ilmu dengan iman,

28 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 46-47 (diringkas oleh penulis)

sangat menjunjung tinggi keluhuran akhlak pada saat manusia menjunjung kemajuan materi. 29

3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia Ukhuwah Islamiyah Allah SWT berfirman.

١٠

ْ

َ

نو َُ ر

َ

ۡ

ُ

َ

ل للَّٱ ْ او ق تٱ َ م

َ ۡ َ

و ْۚ ك ۡ َ خ أ ين ب او حدل ص ِ ٞ و

َ

و

َ

ۡ

أ َ

ة

َ

ۡ

إ

خ د

حَ ت م ك ع

ۡ

ُ

ه

ل

َ

َه

ُ ه

ۡ

ُ

ُ

نو ُ

َ

ؤ م ۡ لٱ ا م ن د إ

نمد

ۡ

ُ

َ

ه

Di dalam surat Al Hujurat ayat 10 ini, Allah berfirman bahwa kaum mukminin adalah bersaudara. Oleh karena itu, sesama saudara sudah selaiknya saling mencintai, saling membantu dan menolong antara satu dengan lainnya yang dijiwai oleh hati yang ikhlas karena-Nya. Kiranya sesama Muslim hendaklah selalu memperbaiki hubungan satu dengan lainnya. Juga perlu direnungkan akan hakekat dari persaudaraan yang mengandung pengertian menjaga pelaksanaan kesejahteraan bersama. Dengan demikian kaum muslimin selalu dilindungi-nya, juga diberi rahmat dan cinta kasih-Nya. 30 Sejarah perjuangan bangsa Indonesia merupakan bahan renungan yang amat berharga, terutama sekali bagi kaum Muslim Indonesia. Sejak zaman prakebangkitan nasional, disusul lagi dengan zaman pergerakan merintis kemerdekaan hingga era revolusi fisik, selalu ditemukan orang-orang yang berani mempertaruhkan jiwa raga untuk bangsa dan negaranya. Dengan menyimak sejarah itu, ternyata yang menjadi punggung perjuangan bangsa adalah orang-orang yang tidak hanya berkemampuan pemikiran intelektual, melainkan cenderung pada manusia-manusia takwa. Kesadaran mereka sebagai hamba Allah Tuhan Yang Maha Esa mampu menjadikannya ikhlas berkorban. Mereka tidak memperhitungkan untung rugi secara matematis maupun ekonomis, melainkan penghayatan dan pengamalan terhadap tuntutan agamanya secara intensif yang membuatnya ikhlas dalam berkorban. 31

29 Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), cet 1, hal. 296-297

30 Salim Bahreisy, Tatakrama Qur’ani: Kandungan Makna Surat Al-Hujurat, hal. 56-58 (diringkas oleh

penulis) 31 Alamsjah Ratu Perwiranegara, Islam dan Pembangunan Politik di Indonesia, hal. 149

4. Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Prinsip Musyawarah dalam Islam (Sila Keempat) Allah SWT berfirman.

ف عٱ َ كدل ح نمد ْ

ُ

ُ

ۡ

ِٰۖ َ

ۡه

ل لٱ ظيدل غ ا ظ ي ٱن ك و و ٰۖ ه

ۡ

َ

ۡ

َ

َ

ًّ َ

َ

ُ

ۡ

َ

ل

َ

ۡ

ُ

م

َ

ل ٱلَد د للَّ ٱ

َ

ه

َ

ت

َ

ي ٱ ز

َ

َ

م ع ا َ

ۡ َ

ذ

ّ َ

د

ِ

ۡ

َ

ر

د

َ

لۡٱ فِ م ب

د

ۡ

ۡ

ۡ

ه وا

ُ

د

و م ل

ش

َ

ۡ

َ

َ

ه ُ

ۡ

َ

ۡ

َ

و

ۡ

او

َ

ض فو لَ ب ق

ُّ

َ

ند َ م د

ۡ

ردف ت

ة َۡ َ

ۡ

حَ ب ا ب

َ

م

د

ِ

ۡ

ُ ۡ

َ

ه ع

د

بد ُّ يُ للَّٱ َه

ه

إ

ن د

دْۚ للَّٱ ل كَّ َ

ه

َ

َ

و

و

غ َ سٱ َ م ن

َ

د

ك َ

َ م ُ ۡ لٱ

١٥١ ين دد و ت

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 159) Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah senantiasa mengajak para sahabatnya bermusyawarah mengenai suatu persoalan yang terjadi untuk menjadikan hati mereka senang dan supaya mereka lebih semangat dalam berbuat. Sebagaimana beliau pernah mengajak mereka bermusyawarah pada waktu perang Badar mengenai keberangkatan menghadang pasukan orang-orang kafir. Para sahabat berkata "Ya Rasulullah, jika engkau menyeberangi lautan, niscaya kami akan ikut menyeberanginya bersamamu. Dan jika engkau menelusuri daratan dlam kegelapan ke Barkil Ghimad, niscaya kami akan ikut berjalan bersamamu. Kami tidak akan mengatakan apa yang dikatakan kaum Musa kepadanya, "Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah, kami akan duduk-duduk disini saja." Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, "Pergilah, dan kami akan senantiasa bersamamu, di depan, di kanan dan kirimu untuk ikut berperang." selain itu Rasulullah juga pernah mengajak mereka bermusyawarah, hingga akhirnya al-Mundzir bin 'Amr menyarankan untuk bertempat di hadapan lawan. Hal ini (bermusyawarah) juga terjadi pada perang uhud, perang khandaq, perjanjian Hudaibiyah, bahkan pada saat membahas

perceraiannya dengan 'Aisyah dalam peristiwa haditsul ifki beliaupun bermusyawarah,

meminta pendapat Ali dan Usamah. Demikianlah, beliau bermusyawarah dengan para

sahabatnya baik dalam masalah perang atau masalah-masalah lainnya. 32

Jimly Ash-Shiddiqie memberikan penjelasan tentang relas filsafat hukum Islam,

Negara, dan system musyawarah sebagai berikut.

Dalam filasafat hukum Islam, hukum ada sebelum terwujudnya negara. Artinya, negara itu dibentuk dan dijalankan atas dasar hukum yang bersumber dari Allah SWT. Negara didirikan justeru untuk mendukung usaha penegakan itu. Seperti dikatakan oleh Ibn Taimiyah "Memimpin umat merupakan kewajiban, dan agama tidak akan tegak kokoh tanpa pemimpin. Karena Allah telah mewajibkan kaum muslimin untuk menyeru kepada kebaikan dan melarang setiap kemungkaran, membela orang teraniaya, berjihad, melaksanakan ketentuan- ketentuan Allah, berlaku adil dalam menjatuhkan hukum, hal mana memerlukan kekuasaan dan komando."

Sejalan dengan itu Abdul Karim Zaidan menyatakan bahwa negara harus diadakan untuk terlaksananya hukum (Islam). Artinya negara dalam konsep Islam pertama-tama adalah non demokrasi. Namun demikian, untuk mendirikan negara dan menajalankan fungsi-fungsi negara itu sendiri, selain harus didasarkan kepada standar yang ditentukan oleh hukum syariat, harus pula didasarkan kepada musyawarah mufakat antar sesama warga masyarakat.

Prinsip musayawarah ini penting karena dalam Islam, setiap manusia mempunyai predikat sebagai 'khalifah' Allah di atas muka bumi. Setiap manusia disebut oleh Alah dengan predikat khalifah Allah di atas muka bumi. Bahkan, Nabi Muhammad menyatakan kullukum masulun an roiyatihi.

Karena itu setiap manusia memiliki kualitasnya masiang-masing sebagai pribadi otonom dalam menentukan kehendak atas dasar batasan-batasan yang ditentukan oleh Tuhan. Kedudukan antar sesama manusia dalam masyarakat adalah sederajat (egaliter), dan untuk itu diperlukan suatu mekanisme hubungan antar mereka dalam mengambil keputusan-keputusan yang dapat mengikat mereka bersama. Mekanisme pengambilan keputusan inilah yang dikenal dalam Islam dengan prinsip 'musyawarah'. Dalam Al-Qur'an setiap orang diperintahkan agar mengadakan musyawarah untuk menyelesaikan berbagai urusan duniawi yang dihadapi (wa syawirhum fi al amri wa amruhum syuro bainahum). 33

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa musyawarah

adalah ajaran pokok di dalam Islam serta keteladanan yang sudah dicontohkan

Rasulullah SAW dalam mengambil keputusan-keputusan bersama.

32 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, hal. 174 (diringkas oleh penulis)

33 Jimly Asshiddiqie, Islam dan Kedaulatan Rakyat (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 18-19

5.

Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Arahan Islam dalam Keadilan Sosial dan Ekonomi

Nabi Muhammad memahami benar bahwa masyarakat Arab harus menghilangkan ketidakadilan sosial dan harus menghapuskan kelas-kelas yang mempunyai hak istimewa di dalam masyarakat. Dia tidak dapat menemukan alasan kenapa harus ada perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain karena kelahirannya di dalam keluarga, suku, bangsa atau marga tertentu. Karena itulah dia menegakkan ajaran persamaan di antara manusia dengan manusia. Dia menganggap bahkan dirinya sendiri pun sebagai anggota umat manusia yang biasa sebagai mana sabdanya: Sesungguhnya aku adalah manusia sebagaimana kamu semua. Laki-laki dan wanita, majikan dan hamba sahaya, serta raja dan rakyatnya mempunyai hak yang sama di hadapan Allah dan di hadapan hukum. Dengan kata lain, semuanya mempunyai hak sosial yang sama. Hal ini cukup terlihat di dalam salat yang biasa dilakukan sehari-hari ketika orang yang berkedudukan rendah dan tinggi, kaum kaya dan kaum miskin, berdiri berdampingan di hadapan Dzat Yang Maha Tinggi. Di bawah sistemnya seorang budak memperoleh hak yang sama sebagai warga Negara, sebagai manusia yang merdeka. 34

Hal ini sebagaimana disebutkan pada firman Allah SWT.

ه

ن د إ

ْ

ا ٓ ْۚ

و با َ لِد

ِ

َ

َ

ع

ُ

ُ

َ

ل َ د ئ ٓ ب َ و ا ِو ٗ

ا َ

ق

َ

ُ

ع

ُ

ۡ

ُ

َٰ َ

ۡ

ُّ أ ََٰٓ

ل ج و ثَو أ و ر ك ذ َ ند م م ك ن ق ل خ ا ه إ سا ه لَٱ ا ه ع ي

َ

أ

َ

َ

َ

َ

َٰ َ

َ

َ

َه

د

ُ

ُ

ى

َ ۡ

ت

َ

َٰ َ

د

ه

ۡ

َ

َ

ش م ك ن ع

١٣

ٞ

يۡ د

َ

ٌ

َ

و د

ُ

ُ

َ

ۡ

ب خ ميدل ع للَّٱ ن إ م ك َٰ ق أ للَّٱ دنعد

ْۚ ۡ

ه

د

م ك َ ر

ۡ

َ

م ك

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13)

Terkait keadilan ekonomi di dalam Islam, salah satu arahan-Nya tercantum di dalam firman "Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu." (QS Al Hasyr: 7). Menurut Ibnu Katsir maksud ayat tersebut, yakni,

34 Syed Mahmudunnasir, Islam: Konsepsi dan Sejarahnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1933), cet 3, hal. 119.

kami jadikan pihak-pihak yang memperoleh bagian harta fai' ini agar tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang kaya saja, lalu mereka pergunakan sesuai kehendak dan hawa nafsu mereka, serta tidak mendermakan harta tersebut kepada fakir miskin. 35

Selain itu, konsep keadilan ekonomi di dalam Islam juga tergambar jelas dalam ajarannya untuk berzakat, infaq, wakaf, memberi makan orang miskin, peduli kepada yatim dan lain sebagainya.

D. Kesimpulan

Dari berbagai pemaparan yang telah disebutkan di atas, penulis berkesimpulan bahwa.

1. Lahirnya Pancasila merupakan sebuah hasil mufakat yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia di awal kemerdekaan. Dijadikannya Pancasila sebagai dasar Ideologi Negara adalah keputusan besar yang diterima oleh semua kalangan, baik dari perbedaan suku ataupun agama (muslim dan non-muslim). Penerimaan ini demi maslahat besar, yakni persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia.

2. Pancasila sebagai dasar Negara tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, karena Pancasila telah merangkum sebagian besar ajaran-ajaran pokok yang terdapat di dalam Islam, diantaranya ialah

a. Tauhid

b. Kemanusiaan

c. Bersikap adil terhadap sesama manusia

d. Bermusyawarah dalam mengambil keputusan-keputusan bersama

e. Keadilan social dan keadilan ekonomi.

35 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8, hal. 109

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim

As-Suyuthi, Jalaludin, Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an, dalam edisi

terjemahan oleh Tim Abdul Hayyie, Jakarta: Gema Insani, 2008.

Asshiddiqie, Jimly, Islam dan Kedaulatan Rakyat, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

Bahreisy, Salim, Tatakrama Qur’ani: Kandungan Makna Surat Al-Hujurat, Surabaya: Pustaka

Progresif, 1994.

Fethullah Gulen, Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, edisi terjemahan oleh Fauzi Bahreisy Jakarta:

Republika, 2011.

Gazalba, Pantjasila Dalam Persoalan, Jakarta: Tintamas Djakarta, 1957.

Haeri, Syekh Fadhlullah, Cahaya Al-Qur’an: Tafsir Juz ‘Amma, dalam edisi terjemahan oleh

Satrio Wahono, Jakarta: Serambi, 2001.

Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir, dalam edisi terjemahan oleh: M Abd Ghofar EM, Bogor:

Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004, Jilid 1, cetakan ke 4.

Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir,

Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir,

Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir,

Mahmudunnasir, Syed, Islam: Konsepsi dan Sejarahnya edisi terjemahan oleh: Adang Affandi,

, Jilid 2, cetakan ke 4.

, Jilid 3 cetakan ke 4.

, Jilid 8, cetakan ke 4.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1933, cet 3.

MPR RI, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Jakarta: Sekretariat Jenderal

MPR RI, 2014, cet 4.

Perwiranegara, Alamsjah Ratu, Islam Dan Perkembangan Politik Di Indonesia, Jakarta: CV.

Haji Masagung, 1987.

Qardhawi, Yusuf, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, dalam edisi terjemahan oleh:

Abad Badruzzaman, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001, cet 1.

Quthb, Sayyid, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Jakarta: Gema Insani Press, 2002, Jilid 24.

Usman, Oetojo dan Alfian, Pancasila Sebagai Ideologi: Dalam Berbagai Bidang Kehidupan

Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara, Jakarta: BP-7 Pusat, 1991.

Wedyodiningrat, Radjiman Lahirnja Pantja Sila, Jogjakarta: Oesaha Penerbitan Goetoer,

1947.