Anda di halaman 1dari 5

PENGUJIAN KETAHANAN

TERHADAP KOROSI
Posted on November 13, 2011 by vhynialexa
A. JUDUL : PENGUJIAN KETAHANAN TERHADAP KOROSI
B. TUJUAN : Untuk menguji keetahanan plat kaleng terhadap korosi
C. DASAR TEORI
Kaleng adalah lembaran baja yang disalut timah (Sn) atau berupa wadah yang dibuat
dari baja dan dilapisi timah putih tipis dengan kadar tidak lebih dari 1,00-1,25% dari
berat kaleng itu sendiri. Terkadang lapisan ini dilapisi lagi oleh lapisan bukan metal
yaitu untuk mencegah reaksi dengan makanan ataupun minuman di dalamnya.
Kelebihan menonjol dari kemasan ini adalah bisa dilakukannya proses sterilisasi,
sehingga makanan yang disimpan di dalamnya menjadi steril, tidak mudah rusak, dan
awet. Dan pengertian dari baja adalah logam alloy yang komponen utamanya adalah
besi (Fe), dengan karbon sebagai material pengalloy utama. Baja dengan peningkatan
jumlah karbon dapat memperkeras dan memperkuat besi, tetapi juga lebih rapuh.
Definisi klasik, baja adalah besi-karbon alloy dengan kadar karbon sampai 5,1 persen;
ironisnya, alloy dengan kadar karbon lebih tinggi dari ini dikenal dengan besi (Fe).
Definisi yang lebih baru, baja adalah alloy berdasar besi yang dapat dibentuk secara
plastik (http://id.wikipedia.org/wiki/Baja). Pada kaleng, daya ketahanan timah terhadap
korosi juga tidak sempurna, akan tetapi terhadap reaksi dengan makanan di dalamnya
lebih lambat dibandingkan dengan baja. Bagi orang awam, kaleng sering diartikan
sebagai tempat penyimpanan atau wadah yang terbuat dari logam dan digunakan
untuk mengemas makanan, minuman, atau produk lain. Dalam pengertian ini, kaleng
juga termasuk wadah yang terbuat dari aluminium (Al). Kaleng timah (tin can)
merupakan pengembangan dari penemuan Nicolas Francois Appert pada dasawarsa
1800-an. Produk ini dipatenkan oleh seorang berkebangsaan Inggris, Peter Durand
pada 1810. Berkat penemuan produksi massal, pada akhir abad ke-19, kaleng yang
berbahan dasar timah (Sn) menjadi standar produk konsumen. Produk-produk
makanan maupun minuman yang biasanya mengalami proses pengalengan ataupun
menggunakan kaleng sebagai tempat (wadahnya) adalah produk-produk yang
disterilisasi dengan panas. Proses pembuatan kaleng dapat dilihat pada gambar 1
dibawah ini.
Gambar 1. Proses pembuatan kaleng (Desrosier, 1988)
Keterangan :
(1) Bakal badan kaleng ditakik,
(2) Dibuat kait,
(3) Bakal badan kaleng dibentuk dengan mempertemukan kait ujung satu dengan yang
lain,
(4) Bakal badan kaleng berkait dipipihkan untuk membentuk keliling samping,
(5) Bagian permukaan luar keliling dipatri, dan
(6) Bagian badan kaleng dibengkuk keluar dengan bentuk khusus untuk membuat bibir
kaleng.
Dalam kemasan kaleng, makanan dapat dipanaskan hingga suhu yang sangat tinggi
dan tekanan yang tinggi pula. Dengan demikian semua mikroba yang hidup bersama
makanan tersebut akan mati. Karena kaleng juga ditutup dengan sangat rapat, maka
mikroba baru tidak akan bisa masuk kembali ke dalamnya. Oleh karena itu makanan
kaleng dapat disimpan hingga dua tahun dalam keadaan baik, tidak busuk, dan tidak
beracun. Semua jenis makanan bisa dikemas didalam kaleng. Mulai dari daging, susu,
ikan, sayuran, buah-buahan dan makanan olahan seperti sosis, bumbu nasi goreng
hingga sayur lodeh. Kini kita bisa menyaksikan berbagai jenis makanan yang dikemas
di dalam kaleng ada di warung atau toko kelontong (pasar tradisional) dan
supermarket atau swalayan. Merknyapun bermacam-macam, baik produksi dalam
negeri maupun impor. Jadi, umur tempat jalannya reaksi panas makanan selama
penyimpanan ditentukan oleh daya tahan kaleng terhadap korosi.

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi besarnya korosi pada kaleng bagian dalam,
diantaranya :
a. Tingginya sisa oksigen dalam makanan.
b. Adanya akselator korosi, seperti Nitrat dan senyawa Sulfur lainnya.
c. pH makanan dalam kaleng
d. Suhu dan lama penyimpanan
e. Jenis kaleng dan lapisan penahan korosi
Biasanya besarnya korosi di bagian luar akan lebih mudah terkontrol, hal tersebut
dikarenakan oleh :
a. Komposisi air pendingin (mengandung klor, melarutkan garam, dsb).
b. Ketipisan lapisan timah dan jenis kaleng yang digunakan.
Sedangkan untuk bagian dalam kaleng dihindarkan dari terjadinya karat ataupun
reaksi terhadap makanan di dalamnya terutama reaksi dengan asam, yaitu dengan
cara melapisinya dengan Enamel. Dan biasanya enamel yang dipakai adalah campuran
dari Oleoresin Seng Oksida (ZnO). Oleh karenanya logam timah (Sn) dipilih sebagai
bahan dasar pembentuk kaleng karena relatif tidak beracun dan menambah daya tarik
kemasan karena berkilat dan tahan karat
Pada dasarnya makanan kaleng dibedakan atas tiga kelompok berdasarkan keasaman,
yaitu:
1. Makanan kaleng berasam rendah (pH>4,6), misalnya produk-produ daging dan ikan,
beberapa sayuran (jagung, buncis), dan masakan yang terdiri dari campuran daging
dan sayuran (lodeh, gudeg, opor, dan lain-lain).
2. Makanan kaleng asam (pH 3,7-4,6), misalnya produk-produk tomat, pear, dan
produk-produk lain.
3. Makanan kaleng berasam tinggi (pH4,6), yaitu; Bacillus stearothermophillus yang
dapat menyebabkan flat sour atau busuk asam, Clostridium thermosacharolyticum
yang merupakan bakteri anaerob thermofil, C. botulinnum proteolitik, C. sporogenes, C.
putrefaciens dan beberapa mikroba pembentuk spora lainnya.
Dalam makanan kaleng asam (pH 3,7-4,6), yaitu; Leuconostoc mesentroides,
Byssochlamys fulva, Lactobacillus dextranicum dan Lactobacillus Plantarum yang
dapat merusak buah dalam makanan kaleng.
Dalam makanan kaleng berasam tinggi (pH<3,7), yaitu; Bacillus thermoacidurans (B.
coagullans) yang merupakan bakteri termofil penyebab flat sour pada sari buah tomat,
C. butyricum dan C. pasteuranium yang merupakan bakteri messofil dan beberapa
bakteri tidak berspora yang sebagian besar merupakan bakteri asam laktat.
KOROSI
Perkaratan adalah pembentukan lapisan longgar dari peroksida yang berwarna merah
coklat sebagai hasil proses korosi produk pada permukaan dalam kaleng. Pembentukan
karat memerlukan banyak oksigen, sehingga karat biasanya terjadi pada bagian head
space dari kaleng. Proses korosi jika terus berlangsung dapat menyebabkan
terbentuknya lubang dan kebocoran pada kaleng. Beberapa faktor yang menentukan
terbentuknya karat pada kemasan kaleng adalah :
Sifat bahan pangan, terutama pH
Adanya faktor-faktor pemicu, misalnya nitrat, belerang dan zat warna antosianin.
Banyaknya sisa oksigen dalam bahan pangan khususnya pada bagian atas kaleng
(head space), yang sangat ditentukan pada saat proses blanching, pengisian dan
exhausting.
Faktor yang berasal dari bahan kemasan, misalnya berat lapisan timah, jenis dan
komposisi lapisan baja dasar, efektivitas perlakuan permukaan, jenis lapisan dan lainlain.
Suhu dan waktu penyimpanan, serta kebersihan ruang penyimpanan.
Pengkaratan pada kemasan kaleng ini dapat menyebabkan terjadinya migrasi Sn
ke dalam makanan yang dikemas.
Kandungan Sn Dalam Makanan Kaleng
Timah putih (Sn) baik dalam bentuk alloy maupun murni, sudah sejak lama dikenal
sebagai logam yang aman digunakan untuk menyiapkan dan mengemas makanan. Hal
ini disebabkan karena sifatnya yang tahan korosi dan daya racunnya kecil. Pada saat
ini lebih dari 50% produksi Sn di dunia dipakai untuk melapisi kaleng dalam pembuatan

tin plate yang penggunaan utamanya untuk mengemas makanan. Logam Sn dan Fe
yang merupakan logam dasar pembuat kemasan termasuk ke dalam golongan logam
berat, sehingga jika produk pangan kalengan terkontaminasi oleh logam ini dan
makanan itu dikonsumsi oleh manusia dapat menimbulkan keracunan. Hal ini
disebabkan toksikan dari logam berat mempunyai kemampuan untuk berfungsi
sebagai kofaktor enzim, akibatnya enzim idak dapat berfungsi sebagaimana biasanya
sehingga reaksi metabolisme terhambat.
Secara alami biji-bijian, sayuran dan daging mengandung Sn sekitar 1 mg/kg. Timah
putih (Sn) merupakan logam yang tidak beracun (mikronutrien yang esensial untuk
tubuh). Tikus memerlukan Sn 1-2 mg/kg berat badan/hari untuk dapat tumbuh normal.
Di dalam pencernaan hanya sekitar 1% dari Sn yang diabsorbsi oleh tubuh, sisanya
dikeluarkan kembali melalui urin, sedangkan yang tertahan di dalam tubuh akan
didistribusikan ke dalam ginjal, hati dan tulang. Menurut CODEX, batas maksimum Sn
di dalam makanan adalah 250 mg/kg. Jumlah Sn yang dikonsumsi melalui makanan
tergantung dari pola makan seseorang.
Di Inggris secara normal jumlah Sn yang dikonsumsi adalah 187 g, namun dapat
mencapai jumlah 1.5-3.8 mg untuk orang yang banyak mengkonsumsi makanan yang
terkontaminasi Sn (Tripton et al., 1966 di dalam Herman, 1990)
Dosis racun Sn untuk manusia adalah 5-7 mg/kg berat badan. Keracunan Sn ditandai
dengan mual-mual, muntah dan pada kadar keracunan yang tinggi dapat
menyebabkan kematian, tetapi jarang ditemukan adanya kasus keracunan Sn yang
serius. Konsumsi Sn dalam jumlah sedikit pada waktu yang panjang juga tidak
menimbulkan efek keracunan (Reilly, 1990 di dalam Herman, 1990).
Kontaminasi Sn ke dalam makanan dapat berasal dari peralatan pengolahan atau dari
bahan pengemas. Untuk memperkecil alrutnya Sn ke dalam bahan makanan maka
digunakan enamel sebagai pelapis kaleng. Bahan-bahan makanan yang mendapat
perhatian khusus terhadap kontaminasi Sn adalah sayuran, buah-buahan (nenas,
tomat, jamur, asparagus dan buah-buahan berwarna putih) yang umumnya
dikalengkan dalam kemasan kaleng tin plate tanpa enamel. Hal ini disebabkan karena
kontaminasi Sn dapat menurunkan penampilan produk yaitu perubahan warna
menjadil lebih gelap. Kandungan Sn dalam fraksi padatan dan fraksi cairan dari
makanan kaleng umumnya berbeda (Tabel 6.7.). Fraksi padatan pada umumnya
mengandung Sn lebih tinggi dibandingkan fraksi cairan, yang kemungkinan disebabkan
adanya komponen
kimia tertentu dalam fraksi padatan yang dapat mengikat Sn. Untuk komoditi yang
terdiri dari fraksi padatan yang dicampur dengan fraksi cairan seperti buah dalam
kaleng yang diberi sirup gula, maka penetapan kadar Sn dilakukan setelah kedua fraksi
dicampur secara merata. Tetapi jika komoditi tersebut yang dikonsumsi hanya fraksi
padatannya saja seperi jamur di dalam kaleng, maka penetapan kadar Sn dilakukan
hanya terhadap fraksi padatan saja.
D. BAHAN DAN ALAT
a) Bahan
Na2S2O3
Larutan asam sulfat
Plat kaleng Sprite
Plat kaleng Susu Beruang
Plat kaleng Tango
b) Alat
Desikator
Gelas piala
Gunting
tali
E. PROSEDUR KERJA
Buatlah larutan uji yang terdiri dari 160 ml larutan Na2S2O3 1 % ditambah 40 ml
larutan asam sulfat 0.1 N atau 180 ml larutan Na2S2O3 ditambah 20 ml larutan asam
sulfat.
Potong plat kaleng berukuran 43 inci
Masukkan larutan penguji kedalam wadah gelas tertutup, misalnya deksikator.

Larutan harus mengisi wadah tersebut kira-kira 1/10 kapasitas volumenya.


Gantungkan contoh plat kaleng kira-kira 2 inci diatas permukaan larutan berjarak
kira-kira 1 inci dari sisi ruangan.
Tutup wadah pengujian dan biarkan selama 24 jam.
Angkat contoh plat kaleng dan biarkan menggering kemudian diperiksa
Pemeriksaan dilakukan secara visual berdasarkan penampakan plat (banyak, sedikit
atau ada tidaknya spot berwarna coklat karat) dan bandingkan dengan plat tanpa
perlakuan ( control )
F. DATA PENGAMATAN
Kaleng Korosi
ya tidak
Sprite
Susu beruang
Tango wafer
G. PEMBAHASAN
Perkaratan adalah pembentukan lapisan longgar dari peroksida yang berwarna merah
coklat sebagai hasil proses korosi produk pada permukaan dalam kaleng. Pembentukan
karat memerlukan banyak oksigen, sehingga karat biasanya terjadi pada bagian head
space dari kaleng. Proses korosi jika terus berlangsung dapat menyebabkan
terbentuknya lubang dan kebocoran pada kaleng. Beberapa faktor yang menentukan
terbentuknya karat pada kemasan kaleng seperti sifat bahan pangan, terutama pH,
adanya faktor-faktor pemicu, misalnya nitrat, belerang dan zat warna antosianin,
banyaknya sisa oksigen dalam bahan pangan khususnya pada bagian atas kaleng
(head space), yang sangat ditentukan pada saat proses blanching, pengisian dan
exhausting. Faktor yang berasal dari bahan kemasan juga dapat menyebabkan korosi
seperti berat lapisan timah, jenis dan komposisi lapisan baja dasar, efektivitas
perlakuan permukaan, jenis lapisan dan lain-lain, serta suhu dan waktu penyimpanan,
serta kebersihan ruang penyimpanan.
H. KESIMPULAN
I. KESELAMATAN KERJA
Hati-hati penggunaan bahan kimia berbahaya dan korosif pada percobaan ini. Untuk
keamanan gunakan safety glasses dan sarung tangan.
Hubungi dosen pembimbing atau penanggung jawab laboratorium bila terjadi
kecelakaan kerja.
J. SOAL DAN PERTANYAAN
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan timbulnya karat pada kemasan kaleng ?
Oksigen terlarut ( DO = Dissolved oxygen ) DO berperan dalam sebagian proses
korosi, bila konsentrasi DO naik, maka kecepatan korosi akan naik.
Zat padat terlarut jumlah ( TDS = total dissolved solid ) konsentrasi TDS sangatlah
penting, karena air yang mengandung TDS merupakan penghantar arus listrik yang
baik dibandingkan dengan air tanpa TDS. Aliran listrik diperlukan untuk terjadinya
korosi pada pipa logam, oleh karena itu jika TDS naik, maka kecepatan korosi akan
naik.
pH dan Alkalinitas mempengaruhi kecepatan reaksi, pada umumnya pH dan
alkalinitas naik, kecepatan korosi akan naik.
Temperatur makin tinggi temperatur, reaksi kimia lebih cepat terjadi dan naiknya
temperatur air pada umumnya menambah kecepatan korosi.
Tipe logam yang digunakan untuk pipa dan perlengkapan pipa logam yang mudah
memberikan elektron atau yang mudah teroksidasi, akan mudah terkorosi.
Aliran listrik Aliran listrik yang diakibatkan oleh korosi sangat lemah dan isolasi
dapat menghalangi aliran listrik antara logam-logam yang berbeda, sehingga korosi
galvanis dapat dihindari. Bilamana aliran listrik yang kuat melewati logam yang mudah
terkorosi, maka akan menimbulkan aliran nyasar dari sistem pemasangan listrik di
pelanggan yang tidak menggunakan aarde, hal ini menyebabkan korosi cepat terjadi.

B a k t e r i tipe bakteri tertentu dapat mempercepat korosi, karena mereka akan


menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), selama masa putaran
hidupnya. CO2 akan menurunkan pH secara berarti sehingga menaikkan kecepatan
korosi. H2S dan besi sulfida, Fe2S2, hasil reduksi sulfat (SO42) oleh bakteri pereduksi
sulfat pada kondisi anaerob, dapat mempercepat korosi bila sulfat ada di dalam air.
Zat-zat ini dapat menaikkan kecepatan korosi. Jika terjadi korosi logam besi maka hal
ini dapat mendorong bakteri besi (iron bacteria) untuk berkembang, karena mereka
senang dengan air yang mengandung besi.
2. Bagaimana cara pencegahan karat yang dapat dilakukan ?
Pengecetan. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak
dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel dan zink (seng) akan lebih baik,
karena keduanya melindungi besi terhadap korosi.
Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan
mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air.
Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan
keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan udara dan
air.
Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang
dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut tin plating.
Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi, lapisan timah hanya melindungi
besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah ada yang rusak,
misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu
terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah (E Fe = -0,44 volt; E
Sn = -0,44 volt). Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk
suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah
mendorong korosi besi. Akan tetapi hal ini justru yang diharapkan, sehingga kalengkaleng bekas cepat hancur.
Galvanisasi (pelapisan dengan zink). Pipa besi, tiang telpon dan berbagai barang lain
dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi
sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal ini terjadi karena suatu mekanisme yang disebut
perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink,
maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi
sebagai katode. Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.
Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah digalvanisasi, sehingga tahan karat.
Chromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi
dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk
bumper mobil. Chromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink,
kromium dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.
Sacrificial Protection (pengorbanan anode). Magnesium adalah logam yang jauh lebih
aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium itu akan
berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam
dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.
3. Apa dampak karat terhadap produk pangan yang dikemas dengan kemasan ini ?
K. DAFTAR PUSTAKA
Syarief, R., S. Santausa dan St. Isyana B. 1988/1989. Teknologi Pengemasan Pangan.
Laboratorium Rekayasa Proses Pangan. PAU Pangan dan Gizi. Bogor : IPB.
Suyatma, N.E., D. Herawati, A. W. Permana, S. Nurjanah, S. Dewi. 2001. Pengemasan
Pangan. Jurusan Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. Bogor : IPB