Anda di halaman 1dari 2

Materi Persiapan Renungan dalam Ibadah Hari Minggu, 18 Desember 2016

KASIH YANG KEKAL


Mazmur Yeremia 31 : 1 - 6
A.

Pengantar
Witing tresno jalaran soko kulino, adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang sudah tidak asing
lagi bagi kita semua. Artinya, cinta tumbuh karena terbiasa. Terbiasa berjumpa, terbiasa bercerita
atau ngobrol bersama, terbiasa bepergian bersama. Lalu karena kebiasaan-kebiasaan tersebut
munculnya perasaan suka lalu perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan kasih. Cinta atau
kasih memang selalu dipahami sebagai perasaan semata-mata.
Akan tetapi, sebenarnya cinta itu bukanlah perasaan saja, tapi juga perbuatan. Kata cinta bukan
sekedar kata benda tapi juga kata kerja. Dalam Alkitab cinta atau kasih yang Allah nyatakan kepada
manusia menunjukkan betapa Allah tidak hanya menyatakan perasaannya, tapi juga
mendemonstrasikan atau menunjukkan cintanya dengan perbuatan nyata. Tuhan membebaskan
umat-Nya dari perbudakan Mesir. Tuhan menolong umat Israel melewati keganasan padang gurun.
Tuhan memerdekakan Israel dari pembuangan di Babel. Puncak dari perbuatan cinta-Nya adalah
karya penebusan melalui Yesus Kristus.
B.

Konteks
Yeremia 31, khususnya ayat 1-6 yang telah kita tadi memuat tentang karya cinta atau kasih
Tuhan kepada umat-Nya Israel. Saat itu, bangsa Israel, tepatnya Israel Selatan atau Yehuda sedang
berada dalam pembuangan di Babel. Mereka mengalami pembuangan di Babel bukan karena Allah
lupa akan kasih-Nya kepada mereka. Tidak pula karena Tuhan Allah kurang kuat dan kalah
menghadapi dewa-dewa bangsa Babel. Bukan karena semua itu. Mereka mengalami nasib naas
dibuang ke Babel, karena ulah mereka yang meninggalkan cinta kasih Tuhan. Yehuda hidup dalam
pembuangan karena mereka iman dan kesetiaan mereka kepada Tuhan, kalah dengan godaan dan
rayuan untuk iku-ikutan pada penyembahan berhala. Cinta kasih Tuhan berlalu dari kehidupan
mereka karena tindakan Israel sendiri yang tidak lagi peduli dan mengasihi Allah dan sesama
manusia.
Itulah sederetan pesan yang diberikan Tuhan kepada nabi Yeremia untuk diteruskan kepada
bangsa Israel, agar mereka memahami maksud dan rencana Allah dalam kehidupan mereka. Dengan
mendengar berita pengharapan dari nabi Yeremia umat akan kembali sanggup bangkit dan hidup
baru menyambut pemulihan yang Allah anugerahkan. Demikian latar belakang dan intisari bagian
Alkitab yang telah kita baca saat ini.
C. Pemaknaan Teks
Ayat 1-2 : Kata, Pada waktu itumenunjuk pada saat Tuhan akan memulihkan umat Israel. Ketika
Tuhan menyelematkan mereka dari pembuangan di Babel. Saat itu, terbukti bahwa Tuhan adalah
benar-benar adalah Allah yang berkuasa dalam kehidupan seluruh bangsa Israel dan bangsa Israel
adalah umat yang dikasihi Tuhan. Meskipun umat Israel merasa bahwa sudah tidak ada harapan lagi
mereka untuk selamat dan kembali ke tanah perjanjian, ibarat orang yang hidup mengembara dan
menderita akibat keganasan padang gurun, kering dan gersang, tapi, kasih karunia Tuhan telah
meluputkan mereka dari celaka yang digambarkan dengan kata, pedang. Dan saat itu merupakan
waktunya umat Israel beristirahat. Istirahat hidup sebagai budak dan hidup sebagai bangsa
bebas/merdeka.
Ayat 3 : Hidup dalam pembuangan di Babel, membuat bangsa Israel merasa bahwa Tuhan telah
menjauh dan meninggalkan mereka. Tuhan sudah enggan peduli dengan kondisi umat-Nya. Itulah
persepsi atau anggapan mereka terhadap musibah yang melanda. Akan tetapi, melalui nabi Yeremia,
Tuhan Allah berfirman bahwa dari jauh Tuhan menampakkan diri kepada umat-Nya. Tuhan
mengatakan bahwa Dia mengasihi umat-Nya dengan kasih yang kekal dan Dia akan melanjutkan
kasih setia-Nya kepada umat-Nya. Hal itu, berarti bahwa meskipun umat menganggap bahwa Tuhan
telah menjauh atau meninggalkan umat-Nya sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk
menggapai umat-Nya dan memberikan pertolongan. Cinta kasih Tuhan itu kekal, tidak akan ada ada
habis-habisnya. Tidak mengenal kedaluwarsa atau habis jangka waktunya. Sebab itu, Tuhan bilang
kasih setia-Nya akan berlanjut dalam kehidupan umat.
Ayat 4 6 : Cinta kasih Tuhan kepada umat-Nya bukan sekedar perasaan atau sederetan perkataan
yang memotivasi dan membangkitkan semangat, tapi benar-benar perbuatan nyata yang
menghasilkan perubahan nyata. Tuhan berfirman, Aku akan membangun engkau kembali, sehingga

2
engkau dibangun kembaliArtinya, Tuhan akan memulihkan kembali kondisi umat-Nya yang telah
mengalami keruntuhan. Runtuh kepercayaan dirinya, runtuh kebanggaannya sebagai umat yang
diberkati dan menjadi berkat, runtuh bangunan persekutuannya sebagai satu umat Allah. Semua yang
runtuh itu akan Tuhan bangun kembali. Dengan demikian, mereka akan kembali mengalami
kepercayaan diri untuk bangkit dari keterpurukan hidup selama ini (ayat 4, Engkau akan menghiasi
dirimu kembali denga rebana dan akan tampil dalam tari-tarian orang yang bersukaria). Israel akan
kembali tekadnya untuk berkarya. Kerja mereka akan diberkati Tuhan dan hasil yang mereka peroleh
akan menjadi berkat bagi orang lain (ayat 5) dan kebersamaan mereka sebagai umat Allah yang
harus bersatu dan bersekutu dalam iman dan ketaatan kepada Tuhan akan kembali pulih (ayat 6).
D.

1.

Relevansi
Beratnya pergumulan kadang membuat kita mengambil kesimpulan bahwa sudah tidak ada
harapan lagi. Bisa jadi kita pun akan berkata bahwa Tuhan sudah menjauh dan meninggalkan
kita. Kehidupan kita terasa kering dan gersang. Bahkan, persoalan hidup yang datang silih
berganti mengancam kita seperti pedang yang siap membinasakan kita. Tapi, melalui FirmanNya kita menerima penguatan dari Tuhan, bahwa di saat-saat seperti itulah Tuhan akan
membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang berkuasa dalam kehidupan kita. Dan justru di
tengah pergumulan hidup kita akan menikmati bahwa betapa besarnya cinta kasih Tuhan dalam
kehidupan kita.

2.

Cinta kasih Tuhan itu kekal, tidak akan kedaluwarsa. Tidak musiman, musim Natal, musim
Tahun Baru, musim Paskah atau Musim Baptisan atau musim Perjamuan. Kasih setia Tuhan itu
terus berlangsung dalam kehidupan kita. Dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Sebab
itu, sudah seharusnya kita yang menikmati hidup karena kasih setia Tuhan juga dengan senang
hati, tulus dan setia mau juga mengasihi Tuhan di sepanjang waktu kehidupan kita. Apapun
musimnya, kasih kita kepada Tuhan selalu berkobar dan tidak pernah padam.

3.

Kalau kita mendengarkan Firman Tuhan atau perkataan pengkhotbah bahwa Tuhan adalah
kasih dan kasih setia-Nya kekal, itu bukan hanya kata-kata kosong atau hampa, tanpa bukti
nyata. Dalam minggu Advent terakhir ini kita kembali diingatkan bahwa Kasih setia Tuhan itu
akan sanggup membangun kehidupan manusia yang sudah runtuh dan terpuruk sekalipun.
Dalam Yesus Kristus, kasih setia Allah itu nyata bagi kita. Sebab itu, marilah kita menyambut
Natal Kristus nanti dengan keyakinan bahwa Tuhan akan membangun kepercayaan diri kita
sehingga tetap semangat dan tidak kehilangan pengharapan dalam penderitaan. Kerja dan
usaha kita pasti diberkati Tuhan dan hasil kerja-usaha kita akan menjadi berkat bagi keluarga,
jemaat dan masyarakat di mana Tuhan mengutus kita dan kebersamaan mereka sebagai umat
Allah yang harus bersatu dan bersekutu dalam iman dan ketaatan kepada Tuhan akan semakin
kokoh-teguh.

Pendeta Romy Fardo Pelupessy