Anda di halaman 1dari 3

Emulsion Problem

Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia Juli 2003


Pertanyaan : (Satya D. Pinem - Petrochina)
Adakah yang bisa memberikan masukan cara untuk mempercepat breaking dari
emulsi yang terjadi pada campuran crude oil-water, selain dengan menggunakan
emulsion breaker maupun heating?
Masalah yg terjadi adalah, produksi di lapangan meningkat, tetapi kapasitas
separator tetap, sehingga settling time -nya semakin kecil. Akibatnya, perubahan
setting level di separator sedikit saja, akan menyebabkan water terikut ke line oil
dan sebaliknya.
Tanggapan 1 : (Cahyo Hardo Premier Oil)
Apakah ada kemungkinan memanfaatkan pertukaran panas dari fluida proses
lainnya?

Tanggapan 2 : (Darmawan Ahmad Mukharror VICO Indonesia)


Bagaimana dengan pemasangan water washing pada separatornya? itupun jika
memungkinkan lho....

Tanggapan 3 : (Satya D. Pinem - Petrochina)


Thanx buat tanggapannya,
Kalo untuk memanfaatkan perpindahan panas dari fluida lainnya sepertinya
enggak mungkin untuk diaplikasikan skrg ini.
Untuk water washing, bisakah dijelaskan lebih detail mengenai hal ini?
Masalah yg terjadi adalah ditemukannya emulsi dalam jumlah yg besar (shg
recycle time menjadi besar shg mempengaruhi waktu transfer) di production
tank.
Kemungkinan emulsi terbentuk kembali di production tank, walaupun sampel
dari well menunjukkan emulsi sudah dapat di- break.
Apakah ada kemungkinan walaupun dari well sudah nge-break, tetapi karena
adanya perubahan temperatur dan tekanan di separator dan tangki menyebabkan
emulsi (yg mungkin belum stabil terpisahnya) tadi terbentuk kembali? Adakah cara
untuk menstabilkan pemecahan emulsi tsb?

Tanggapan 4 : (Holland Simanjuntak)


Adakalanya kita terpaku pada jumalh produksi liquid saja, tanpa melihat
objective sesungguhnya yaitu memproduksi oil.
Pengalaman dilapangan menunjukkan menutup (atau mengurangi produksi)
sumur-sumur yang high water cut/emulsion (BSW > 95%), justru akan menaikkan
produksi oil. Karena disamping akan meringankan beban pipa dan facilitas
produksi yang lain (lowering back pressure to the well), juga akan
menstabilkan process dan menurunkan losses.
Sementara usaha-usaha untuk menghentikan/mengurangi produksi air bisa
dilakukan dengan down-hole work seperti water shut-off.
Mungkin berhasil!

Tanggapan 5 : (Teguh Indra Laksana - PT Ondeo Nalco Indonesia)


Satya,
Saya kira untuk kasus anda, dengan penggunaan emulsion breaker chemical
akan lebih cost effective dibandingkan dengan modifikasi proses atau
penambahan mechanical equipment (yang berarti nambah CAPEX ya?)
Saya pernah menangani waste di Steel Sompany, dimana waste yang akan di
treatment oil in waternya cukup tinggi. Untuk memodifikasi proses butuh
waktu dan effort. Sambil mengerjakan proyek ke arah sana, tentunya waste
harus terus ditreatment kan? Saya pakai emulsion breaker dengan base
ingredient terpolymer acrylamide hasilnya oke tuh..

Tanggapan 6 : (Ardian Nengkoda - Unocal)


Sumbang saran:
Biasanya memang di upstream (i.e. gross Separator) sdh diinjeck "chemical
demulsifier", tapi dgn operasi tertentu di "downstream" jadi emulsi lagi.
Memang kelemahannya itu injeksi demulsifier rate-nya tdk dinamik mengikuti
trendnya BS&W si Oil-Water. Seingat saya ada demulsifier yg basenya "polymer" yg
mampu menjaga kestabilan oil-water sampai downstream. Agak repot memang kalo
ngutak-ngatik facilities dan lebih baik trial atau optimisasi dgn demulsifier.
Kalo reverse demulsifier, di kami, diinjek di inletnya wemco, agar air buangan tetap
berkadar dibawah regulasi. Kalo yg sdh terlanjur masuk storage tank, yaa kita drain
level bawahnya...agar air yg sdh terlanjur masuk bias hilang.
Mungkin rekan-rekan dari Nalco, Baker, Tros, EON bisa cerita...

Tanggapan 7 : (Elwin Rachmat Totalfinaelf E&P Indonesie)


Water shut-off yang saya pernah tahu tidak seefektif yang dimitoskan /
dipromosikan. Water shut-off di sumur bisa (dan memang pernah) menghentikan
keseluruhan produksi sumur yang bersangkutan. Kalau ada cerita sukses dari water
shut-off saya kira banyak anggota yang tertarik untuk mengetahuinya.

Bila reservoir yang diproduksikan ternyata terdiri dari beberapa lapisan, lebih baik
bila dapat dilakukan uji sumur terpisah untuk setiap lapisan dan kemudian lapisan
yang memproduksi air dapat diisolasi secara mekanikal atau dengan metoda squeeze
cementing. Cara ini akan lebih efektif (success ratio bisa mencapai 70%) dari pada
water shut-off yang memiliki success ratio cukup rendah dan biaya yang cukup
mahal.
Jadi mungkin kita harus kembali pada bottle test dan dilanjutkan dengan field test di
sumur dan di separator untuk memilih demulsifier yang paling sesuai dengan kondisi
lapangan yang bersangkutan. Biaya untuk bottle test dan field test memang cukup
tinggi, tapi rasanya itulah cara yang paling efektif yang saya tahu. Atau mungkin
juga dibutuhkan pemasangan heater treater untuk memisahkan emulsi pada
temperatur yang lebih tinggi. Saya kira teman saya pak Deden lebih pandai untuk
menjelaskannya.