Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH LAPORAN KUNJUNGAN KE SANGIRAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Budaya


Dosen Pengampu : Selly Astriana, S.Psi., M.A

Oleh :

Nadiva Tania Sari (G0116082)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

a)

Wilayah Museum Sangiran

Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia.Sangiran memiliki area sekitar 48
km. Secara fisiografis sangiran terletak pada zona Central Depression, yaitu berupa dataran
rendah yang terletak antara gunung api aktif, Merapi dan Merbabu di sebelah barat serta
Lawu di sebelah timur.
Secara administratif Sangiran terletak di Kabupaten Sragen (meliputi 3 Kecamatan yaitu
Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Kecamatan Gondangrejo) dan kabupaten
Karanganyar, Jawa Tengah.Sangiran terletak di desa Krikilan, Kec. Kalijambe ( + 40 km dari
Sragen atau + 17 km dari Solo) situs ini menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen
( + 2 juta tahun lalu).
Situs Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup kawasan seluas 32 km dengan
bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih 8 km dan dari barat ke timur kurang lebih 4
km. Daerah ini meliputi 12 kelurahan di 4 kecamatan, yaitu kecamatan kalijember,
gemolong, plupuh, dan godangrejo. Daerah sangiran memiliki sebuah sungai yang membelah
daerah tersebut menjadi dua yaitu kali cemara yang bermuara di bengawan solo.
Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50% di seluruh
dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum,
sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya, berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Selanjutnya
keputusan itu dikuatkan oleh Komite World Heritage UNESCO pada peringatannya yang ke20 di Merida, Mexico yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai kawasan World Heritage
(warisan dunia) No. 593.

b)

Sejarah Situs Sangiran

Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von
Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh
Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan pada masa itu.Setiap hari Toto Marsono atas perintah
Von Koeningswald mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari balung buto (Bahasa
Jawa = tulang raksasa).Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang

berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang mereka.Balung buto
tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad hidup purba yang terawetkan di
dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan
penelitian Von Koeningswald, maupun para ahli lainnya.Fosil-fosil yang dianggap penting
dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan
menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Setelah Von Koeningswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan
mengumpulkan fosil masih diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo
Kelurahan semakin melimpah.Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal
Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari semakin bertambah maka pada tahun
1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di Desa
Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Saragen di atas tanah seluas 1000 m. Museum
tersebut diberi nama Museum Pestosen. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan
kemudian dipindahkan ke Museum tersebut.Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah
dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga
sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Godangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum ini
difungsikan sebagai basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan
di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi selatan.Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan
bangunannya dipindahkan dan dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Desa Ngampon,
Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.Kompleks Museum ini didirikan di
atas tanah seluas 16.675 m. Bnagunannya antara lain terdiri dari Ruang Pameran, Ruang
Pertemuan/ Seminar, Ruang Kantor/ Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage,
Ruang Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar
Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di Museum
Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini.Museum ini selain berfungsi untuk memamerkan
fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkonservasi temuan yang ada
dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.

Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa Tengah melengkaspi Kompleks Museum
Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di sisi timur museum.Dan tahun 2004 Bupati
Sragen mengubah interior Ruang Knator dan Ruang Pertemuan menjadi Ruang Pameran
Tambahan.
Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih representative
menggantikan museum yang ada secara bertahap.Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan
bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri dari ruang basemen untuk gudang, lantai I
untuk Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat
ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah,
ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.

c)

Pembagian Ruang di Museum Sangiran

Ruang Pamer 1 bertemakekayaan Sangiran dan berbagai fosil yang ditemukan di


daerah Sangiran oleh Prof. Dr. Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald dan sejumlah
peneliti lainnya. Di Ruang ini banyak fosil yang berhasil ditemukan, antara lain fosil
binatang darat (gajah, harimau, dll), binatang air (kudanil, buaya, dll), bebatuan dan
berbagai peralatan yang terbuat dari batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan
manusia purba yang tinggal di Sangiran.
Di Ruang Pamer 1, juga terdapat buku kegiatan digital yang berisi tentang Evolusi
Manusia Purba. Buku ini berisi tentang Teori Darwin, Teori Migrasi dan tokoh lainnya
lengkap dengan penjelasan mengenai temuan. Serta terdapat penemuan-penemuan
terbaru di Sangiran

Ruang Pamer 2, bertema Langkah-Langkah Kemanusiaan dan berisi diorama manusia


purba serta profil para peneliti Indonesia setelah merdeka. Langkah-langkah
kemanusiaan dijelaskan pada teori evolusi.Mulai dari Seleksi Alam, Adaptasi
danVariasi. Seleksi Alammenjelaskan tentang keturunan suatu makhluk tampaknya
sama dengan induk atau saudaranya, kemudian makhluk yang mampu menyesuaikan
diri (adaptasi) akan bertahan hidup dan hingga bisa menciptakan suatu variasi.Setiap
makhluk yang dilahirkan itu mempunyai unsur keturunan masing-masing, unik. Di
Ruang Pamer 2, di sini terdapat beberapa diorama lain dari yang lain.
Terdapat diorama G.H.R. von Koenigswald .Seorang geolog dan salah satu penemu
tengkorak Sangiran II yang kemudian disebut sebagai Pithecanthropus erectus.
Koenigswald terlihat gagah, tapi bajunya sepertinya terlalu kecil.Selain diorama para
penetili, terdapat patung manusia purba.Patung Manusia purba disajikan seakan-akan
menggambarkan kegiatan mereka ketika masa itu.Disana tampak menggambarkan
menyalakan api dengan sebuah alat. Menurut keterangan dari pemandu, meski ada
patung yang menggambarkan sedang menyalakan api, namun sampai sekarang belum
ditemukan fosil alat yang digunakan untuk menyalakan api. Entah itu menggunakan
batu atau sejenisnya, tapi sampai sekarang belum ditemukan.Masih banyak patung
yang menggambarkan kegiatan mereka pada jaman dahulu, misalnya; berburu, masak
dan makan bersama. Di ruangan ini pun terdapat banyak penemuan mengenai evolusi
manusia.

Ruang Pamer 3, bertema tentang Homo Erectus dan berisi replika kehidupan species
Homo erectus. Pada tahun 2004, ditemukan sisa-sisa prasejarah dari goa Leang Boa di

Flores yang kemudian terkenal dengan namaHomo Floresiensis. Temuan ini


menggemparkan dunia, karena dia merupakan individu dewasa tetapi berpostur
pendek, dengan tinggi bandan kira-kira 106 cm. Hidup pada 18.000-13.000 tahun
yang lalu. Berdasarkan penelitian perkakas yang ditemukan, Homo Floresiensis
tergolong manusia yang cerdas, mampu menggunakan alat kayu dan bambu sebagai
alat utama untuk mengadakan pemburuan.

d)

Koleksi Museum Sangiran

Koleksi Museum Sangiran


1. Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus , Pithecanthropus mojokertensis
(Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus , Pithecanthropus erectus , Homo
soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens .

2. Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon
trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis
palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak), Bovidae (sapi,
banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

3. Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu,
Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp
(kura-kura), dan foraminifera .

4. Batu-batuan , antara lain Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis.

5. Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan
kapak perimbas-penetaan

Bagi ilmuwan yang bergerak dibidang Geologi, anthropologi dan arkeologi Sangiran sangat
menarik untuk wisata ilmu pengetahuan. Banyak ahli Geologi, anthropologi dan arkeologi
datang ke situs ini untuk melakukan riset dan belajar, diantaranya: Van Es (1939), Duyfyes
(1936), Van Bemmelen (1937), Van Koeningswald (1938), Sartono (1960), Suradi (1962) dan
Otto Sudarmaji (1976). Van Koeningswald menemukan paling tidak ada lima fosil manusia
purba yang berbeda beda jenisnya yang ditemukan di Sangiran, dan ini sangat
mengagumkan.
Tidak ada tempat lain di dunia ini yang kekayaan fosilnya menyamai apalagi melebihi
Sangiran. Fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran sangat beragam, ada fosil mahluk hidup

dari daratan, maupun fosil mahluk hidup dari lautan. Dari hasil temuan ini, ada kemungkinan
bahwa pulau Jawa terangkat dari dasar laut jutaan tahun yang lalu.
Pada tahun 1891, Eugene Dubois, ahli antropologi dari Perancis menemukan fosil
Pithecanthropus Erectus, manusia purba tertua dari Jawa. Kemudian di tahun 1930 dan 1931,
di desa Ngandong, Trinil-Mojokerto, ditemukan juga fosil-fosil manusia purba yang berasal
dari jaman Pleistocene. Penemuan-penemuan ini mengungkap sejarah manusia yang hidup
berabad-abad yang lalu.
Prof. Dr. Van Koenigswald di tahun 1936 menemukan lebih banyak lagi bukti-bukti yang
mendukung teori evolusi manusia. Fosil-fosil yang ditemukannya mendukung teori yang
menyatakan bahwa manusia berevolusi dari manusia kera menjadi manusia seperti bentuk
saat ini.
Fosil lain yang ditemukan di Sangiran, seperti fosil mammoth (gajah dari jaman pra sejarah)
saat ini disimpan di Museum Geologi Bandung. Pada pertengahan tahun 1980 an, penemuan
mammoth utuh setinggi 4 meter mengejutkan dunia ilmu pengetahuan.
Saat ini, penduduk desa disekitar Sangiran banyak yang menjadi pengrajin souvenir dari batu
yang dibentuk menyerupai kapak, telur, cincin dan bentuk-bentuk patung lain untuk menarik
wisatawan.
Karena kekayaan jenis fosil yang dikandungnya, bumi Sangiran telah ditetapkan UNESCO
sebagai salah satu warisan budaya dunia