Anda di halaman 1dari 29

REKAYASA SISTEM KENYAMANAN TERMAL

(TF1372)
PERHITUNGAN COOLING LOAD DI RUANG UKM UKTKGEDUNG SCC ITS
Kelompok x :
Ahmad Fatih Barkah
Nadya Feriza
Maharani Devi Dhieniaty
Muhammad Alief Rizal Romadhoni

2413 100 092


2413 100 095
2413 100 101
2413 100 104

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK FISIKA


DEPARTEMEN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem tata udara merupakan sistem pengkondisian udara yang berfungsi untuk mengatur
tingkat kenyamanan, baik keadaan suhu maupun kelembaban udaranya. Kenyamanan
tersebut memiliki beberapa aspek yang dapat mempengaruhinya, seperti salah satunya adalah
temperatur ruangan dan kelembaban ruangan. Dewasa ini, hampir seluruh bangunan
menggunakan penghawaan buatan dengan menggunakan pendingin ruangan (Air
Conditioner).
Prinsip penghawaan buatan tersebut adalah untuk mengatur temperatur dan kelembaban
ruang sehingga penyaluran udara dalam ruangan memperoleh keadaan yang diinginkan sesuai
dengan fungsi ruangan tersebut. Dengan banyaknya penghawaan buatan dengan pendingin
ruangan sebagai ganti ventilasi, sering terjadi ketidaksesuaian beban pendinginan.
Ketidaksesuaian beban pendinginan tersebut dapat membuat ketidaknyamanan dan boros
energi listrik.
Sehingga perlu dilakukan perhitungan beban pendinginan (cooling load) pada suatu
ruang atau gedung sehingga sesuai dengan kenyamanan ruang atau gedung tersebut. Selain
itu, dengan melakukan perhitungan beban pendinginan juga dapat diketahui konsumsi energi
listrik pada ruang atau gedung tersebut.
Pada praktikum kali, dilakukan perhitungan beban pendinginan pada ruang UKM UKTK
yang terletak pada gedung SCC ITS. Ruang yang memiliki luas 2345678 seringkali
digunakan sebagai ruang pertemuan dan meeting room. Perhitungan beban pendinginan di
ruangan ini perlu dilakukan untuk mencapai kenyaman termal ruang yang sesuai dengan
fungsinya dengan energi listrik yang hemat dan efisien.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari praktikum ini adalah:
1. Berapa besar beban pendinginan pada ruang UKM UKTK ITS?
2. Apakah kenyamanan ruang UKM UKTK ITS sudah sesuai dengan fungsinya?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan masalah dari praktikum ini adalah:

1. Mengetahui beban pendinginan pada ruang UKM UKTK ITS.


2. Mengetahui apakah ruang UKM UKTK ITS sudah nyaman sesuai dengan fungsinya.
1.4 Sistematika Penulisan
Laporan ini tersusun dari lima BAB. Pada BAB 1 dijelaskan pendahuluan dari
dilakukannya praktikum ini yang berisi latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan. Pada
BAB 2 dijelaskan materi-materi penunjang dilakukannya praktikum ini. Metodologi
dilakukannya praktikum ini dijelaskan pada BAB 3 yang kemudian dilakukan analisa dan
perhitungan pada BAB 4. Kemudian ditarik kesimpulan dari praktikum ini yang dirangkum
dan disusun pada BAB 5.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengkondisian Udara


Mengondisikan udara adalah perlakuan terhadap udara untuk mengatur suhu,
kelembaban, kebersihan dan pendistribusiannya secara simultan guna mencapai kondisi
nyaman yang dibutuhkan oleh penghuni yang ada didalamnya. Pengkondisian udara
dilakuakn dengan pengaturan kondisi udara yang meliputi temperatur, kelembaban, kualitas,
dan sirkulasi.
Pengkondisian udara adalah salah satu aplikasi dari refrigerasi. Refrigerasi adalah proses
penurunan temperatur dan menjaga agar temperatur ruang atau material tetap di bawa
temperatur lingkungannya. Secara umum dapat dikatakan bahwa proses pada sistem
refrigerasi bersifat terus menurus (kontinyu) dan menyangkut adanya suatu fenomena
perpindahan dari kondisi satu ke kondisi dua dan berlangsung secara bolak balik (siklus).
2.2 Kenyamanan Termal
Kenyamanan termal adalah suatu kondisi termal yang dirasakan oleh manusia dengan
yang dikondisikan oleh lingkungan dan benda-benda di sekitar arsitekturnya. Menurut
ASHERE (1989), mendefinisikan kenyamanan termal sebagai suatu pemikiran dimana
kepuasan didapatkan. Oleh karena itu, kenyamanan adalah suatu pemikiran mengenai
persamaan empiric. Meskipun digunakan untuk mengartikan tanggapan tubuh, kenyamanan
termal merupakan kepuasan yang dialami manusia yang menerima suatu keadaan termal, baik
secara sadar maupun tidak sadar. Pemikiran suhu netral atau suhu tertentu yang sesuai untuk
seseorang dinilai kurang tepat karena kenyamanan bukan merupakan nilai yang pasti dan
selalu berbeda bagi setiap individu.
Prinsip dari kenyamanan termal yaitu terciptanya keseimbangan antara suhu tubuh
manusia dengan suhu lingkungannya. Karen ajika suhu tubuh manusia dengan lingkungannya
memiliki perbedaan yang signifikan maka akan terjadi ketidaknyamanan yang diwujudkan
melalui kepanasan atau kedinginan yang dialami oleh tubuh. Faktor-faktor alami yang
dirasakan manusia sehingga merasa nyaman dengan lingkungannya secara sadar maupun
tidak disebut dengan daerah nyaman (comfort zone).

Berikut merupakan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kenyamanan termal:


1. Suhu udara

Suhu udara erat kaitannya dengan kalor. Kalor tercipta karena adanya perbedaan
suhu. Kalor mengalir dari suhu tinggi ke suhu rendah. Suhu udara dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu suhu udara normal dan suhu udara rata-rata (MRT). MRT dapat
mempengaruhi tubuh seseorang sebesar 66%. Kenyamanan termal akan tercipta jika
perbedaan antara MRT dan suhu udara normal kurang dari 5 o. Kenyamanan termal
pada manusia adalah pada suhu tubuh 37o dan jika naik sampai 5o atau turun sampai
2o akan timbul ketidaknyamanan. Sedangkan suhu udara dilingkungan dikatakan
nyaman pada suhu sekitar 25o. Jika suhu lingkungan mencapai 26o maka tubuh
manusia sudah akan berkeringat. Maka, selain kemampuan tubuh manusia untuk
mempertahankan suhu diperlukan juga pengkondisian lingkungan yang optimal
2. Kelembaban udara
Kelembaban udara adalah kandungan uap air di udara. Kelembaban udara
mempengaruhi pelepasan kalor dari tubuh manusia. Kelembaban udara yang tinggi
akan menyebabkan kalor di dalam tubuh manusia sulit dilepaskan sehingga timbul
ketidaknyamanan. Begitupun dengan kelembaban udara yang rendah akan banyak
mengambil kalor dari tubuh sehingga akan timbul kulit kering.
3. Kecepatan aliran angin
Angin adalah udara yang bergerak. Udara yang bergerak ini membantu mempercepat
pelepasan kalor pada permukaan kulit seseorang. Angin akan membantu mengangkat
uap-uap air yang menghambat pelepasan kalor. Akan tetapi jika angina terlalu
kencang maka kalor yang dilepaskan tubuh menjadi berlebih sehingga akan timbul
kondisi kedinginan yang mengurangi kenyamanant ermal.
4. Radiasi matahari
Radiasi matahari sampai ke bumi untuk menghangatkan permukaan bumi. Radiasi
matahari akan membuat ruangan terasa hangat. Pada siang hari radiasi matahari
melimpah sehingga jika terlalu banyak akan mengakibatkan suhu udara di dalam
ruangan meningkat, sebaliknya pada malam hari radiasi matahari sangat minim
sehingga menimbulakan kedinginan pada tubuh seseorang. Maka dari itu diperlukan
perancangan bangunan yang dapat mengatasi kelebihan dan kekurangan dari efek
radiasi matahari ini.
5. Aktivitas manusia
Aktivitas manusia pada umumnya menghasilkan kalor yang akan dilepaskan ke
lingkungan. Kalor ini berbeda-beda untuk setiap aktivitas. Aktivitas berat seperti
berolahraga, mengangkat beban, dan pekerjaan berat lain yang memerlukan energy
yang besar akan menghasilkan kalor yang besar pula. Sedangkan aktivitas seperti
istirahat atau tidur menghasilkan kalor yang minimum.

6. Bukaan jendela atau ventilasi yang baik


Ventilasi adalah suatu celah atau lubang tempat mengalirnya udara untuk tujuan
pertukaran kalor. Ventilasi ini biasanya merupakan bukaan jendela pada suatu
bangunan. Arah bukaan jendela biasanya tergantung dari keadaan iklim suatu daerah
dengan memperhatikan arah radiasi matahari. Pada daerah tropis maka orientasi
bangunannya menghindari arah radiasi matahari langsung. Biasanya untuk keperluan
ini dirancang bangunan dengan orientasi Utara-Selatan, artinya bukaan jendela
terdapat di sisi Utara dan Selatan sehingga radiasi matahari yang masuk melalui
bukaan jendela dapat diminimumkan. Bukaan jendela ini berkaitan juga dengan arah
aliran angin. Untuk mendapatkan udara yang sejuk maka arah bukaan jendela harus
searah dengan arah aliran angin. Aliran angin ini akan sangat membantu adanya
konveksi di dalam ruangan sehingga kalor yang ada di dalam suatu ruangan akan
dilepaskan dengan mudah.
7. Perancangan palfon yang tinggi
Plafon yang dirancang dengan ketinggian hingga 3,15 m akan menurunkan suhu
ruangan 0,15 oC. Dengan plafon yang tinggi maka akan tercipta ruang konveksi yang
besar. Udara panas akan cenderung naik ke atas, maka pada bangunan dengan plafon
yang tinggi udara panas akan berkumpul di atas sehingga aktivitas manusia yang
berada di bawah tidak akan terganggu dengan panas. Perancangan plafon ini akan
maksimal jika ditambah perancangan ventilasi di bagian atas ruangan sehingga udara
panas dari bagian atas ruangan akan bersirkulasi dengan udara segar dari luar.
8. Pemilihan material bangunan
Material bangunan biasanya digunakan pada dinding untuk berbagai keperluan.
Untuk meningkatkan kenyamanan termal, misalnya pada bangunan dengan orientasi
bukaan jendela Utara-Selatan maka dinding yang menghadap Timur dan Barat
haruslah memiliki material yang lambat dalam menghantarkan kalor dari radiasi
matahari. Sehingga pada malam hari ketika radiasi matahari minimum, kalor yang
merambat melalui dinding akan sampai di dalam ruangan dan menghangatkan
ruangan. Pemilihan material ini bertujuan untuk memaksimalkan sirkulasi udara di
dalam ruangan.
2.3 Beban Pendinginan
Beban pendinginan adalah jumlah total energy panas yang harus dihilangkan dalam
satuan waktu dari ruangan yang didinginkan. Beban ini diperlukan untuk megatasi beban
panas eksternal dan internal. Bebam panas eksternal diakibatkan oleh panas yang masuk
melalui konduksi (dinding, langit-langit, kaca, partisi, lantai), radiasi (kaca), dan konveksi

(ventilasi dan infiltrasi). Beban panas internal diakibatkan oleh panas yang timbul karena
penghuni, lampu, dan peralatan atau mesin.
2.3.1

Beban Pendinginan Internal

Beban pendinginan internal terjadi akibat dilepaskannya kalor sensible maupun


kalor laten dari sumber yang ada di dalam ruangan yang dikondisikan. Sumber kalor
internal ruangan yang termasuk beban pendinginan adalah kalor sensible dari penghuni,
lampu (pencahayaan), dan peralatan atau mesin.
2.3.2

Beban Pendinginaan Eksternal

Beban pendinginan eksternal terjadi karena adanya penambahan kalor di dalam


ruangan yang dikondisikan karean sumber kalor dari luar yang masuk melalui selubung
bangunan termasuk dindin partisi. Sumber kalor luar yang termasuk beban pendinginan
adalah konduksi, radiasi, dan konveksi.
2.4 Cara Menentukan Beban Pendinginan
Dalam air conditioning dikenal beberapa istilah jumlah aliran panas yaitu:
1. Space heat gain. Jumlah aliran panas pada waktu tertentu adalah jumlah

panas yang mengalir masuk dan atau dihasilkan dalam suatu ruangan pada
waktu tertentu tersebut. Heat gain dapat dibedakan berdasarkan cara aliran
panasnya (radiasi matahari melalui permukaan transparan; penerangan dan
peralatan

didalam

ruangan;

konduksi

panas

melalui

dinding

dan

atap;

konduksi panas melalui partisi, plafon dan lantai; panas yang dihasilkan
penghuni; pertukaran panas akibat ventilasi dan infiltrasi udara luar; dan
lain-lain) dan jenis panasnya (sensible; latent).
2. Space cooling load. Jumlah panas yang harus dikeluarkan dari ruangan
untuk menjaga temperatur dalam ruangan konstan. Total space heat gain
pada waktu tertentu tidak langsung menjadi total space cooling load pada
waktu tersebut. Hal ini dikarenakan panas

dari radiasi tidak langsung

menjadi cooling load melainkan diserap oleh permukaan-permukaan dan


objek-objek dalam ruangan dahulu. Setelah mereka menjadi lebih panas
dari udara ruangan, panas baru dilepaskan ke udara ruangan dengan cara
konveksi.
3. Space heat extraction rate. Jumlah panas yang dikeluarkan dari ruangan
akan sama dengan space cooling load apabila temperatur ruangan dijaga
konstan.

Biasanya

dalam

sistem

air

conditioning

perubahan

kecil

temperatur ruangan masih diizinkan (temperature swing) sehingga space


heat extraction rate tidak sama dengan space cooling load.

4. Cooling coil load. Jumlah panas yang harus dikeluarkan oleh cooling coil

yang

melayani

beberapa

ruangan.

Akan

sama

dengan

jumlah

space

cooling load (jumlah heat extraction rate bila temperatur dijaga konstan)
ruangan-ruangan

yang

dilayani

coil

ditambah

dengan

beban-beban

external.
Teknik perhitungan space cooling load yang diperkenalkan oleh ASHRAE ada 3, yaitu:
1. Total equipment temperature differential/time averaging method (TETD/TA).

Konsepnya menggunakan teknik respon faktor untuk berbagai tipe dinding dan atap
untuk menghitung nilai TETD sebagai fungsi dari sol-air temperature dan
temperature ruangan yang ingin dipertahankan. Berbagai komponen space heat gain
dihitung dengan TETD yang bersangkutan dan hasilnya ditambahkan dengan elemen
internal heat gain, menghasilkan instantaneous total rate of space heat gain. Ini
diubah menjadi instantaneous cooling load dengan teknik timeaveraging (TA),
terhadap komponen radiasi heat gain untuk waktu tertentu berdasarkan nilai waktu
sebelumnya.
2. Transfer function methode (TFM).

Konsepnya adalah menggunakan koefisien conduction transfer function (CTF), sol


air temperature dan temperatur ruangan yang diinginkan dipertahankan untuk
menghitung space heat gain permukaan eksterior non-transparan. Solar heat gain
dan internal load dihitung untuk langsung pada waktu pembebanan. Kemudian
digunakan koefisien room transfer function (RTF) untuk mengkonefersikan heat
gain yang mengandung komponen radiasi menjadi cooling load, dengan menghitung
storage effect dan nilai cooling load pada waktu sebelumnya.
3. CLTD/SCL/CLF Method.

Metode ini menggunakan data penghitungan dengan TFM untuk mendapatkan data
cooling load temperature differential (CLTD). Juga dikembangkan reset untuk
memperoleh data-data cooling load factor (CLF) dan solar cooling load (SCL).
Dengan metode ini perhitungan cooling load dapat dilakukan dalam satu langkah
perhitungan.
2.5 Metode TETD
Perhitungan heat gain pada ruang perkantoran menggunakan metode TETD. Secara
ringkas cara perhitungan sebagai berikut:

a. Atap dan dinding


q = A x U x TETD
q = heat flow, Btu per hr
A = Area, ft2
U = Over-all heat transfer coefficient
TETD = Total equivalent temperature difference
b. Partisi, ceiling, dan lantai
q = A x U x TD
TD = (t2 t1) = Difference in temperature between the bounding surface, F
c. Kaca
q = {A} x {[direct radiation] x [shade factor] + [convection] x [type factor]}
A =Area, ft2
d. Manusia
qs = n x sensible heat gain
ql = n x latent heat gain
qs = q sensible
ql = q latent
n = Number of people in space
e. Penerangan
q = Watt x 3.4 x Allowance factor
f. Ventilasi dan infiltrasi
qs = 1.08 x Q x (to - ti)
ql = 0.7 x Q x (HRo - HRi)
Q = Air flow rate, cfm
to = Outside air temperature
ti = Room air temperature
HRo = Humadity ratio of outside air, grains per lb
HRi = Humadity ratio of room air, grains per lb
2.6 Metode CLTD

2.6.1 Beban Pendinginan Luar


a. Beban radiasi matahari melalui kaca:
Radiasi Matahari pada kaca
Q = A . SC . SHGF . CLF
b. Konduksi matahari/beban panas melalui kaca, atap dan dinding:
Beban Panas Dinding, Kaca dan Atap
Untuk dinding yang tertutupi oleh bayangan
Q = U . A . T
Untuk dinding yang terkena sinar matahari secara langsung
Q = U . A . CLTDCORR
CLTDCORR = {CLTDwall + (78 tR) + (to 85)}
dimana: CLTDwall = Cooling Load Temperature Difference pada dinding
Nilai U-value untuk kaca
RTotal = Rkaca
RTotal = 1,79 m2. oK.Watt

U = 1/RTotal = 3,105 Watt/m2. oK = 0,56 Btu/hr. ft2.oF


Beban Panas Atap
CLTDCORR = {CLTDroof + (78 ti) + (to 85)}
CLTDroof = 23
U = 0,082 Btu/hr.ft2.oF
ti = 81.14 ; to = 86
Qatap = U . ATot . CLTDCORR

2.6.2 Beban Pendinginan Dalam


a. Orang
Panas Sensible
QS = N0 . SHG . CLF
SHG = 230 Btu/h ; CLF (Cooling Load Factor) = 0.8; No = Jumlah Orang
Penambahan Panas Laten
QL = N0 . LHG
LHG = 190 Btu/h
b. Pencahayaan
Q = W. BF. CLF. N
BF = 1.25 ; W = Daya Lampu; CLF = 1; N = Jumlah Lampu
c. Peralatan Lainnya
Penambahan Panas Sensible
QS = SHG . CLF
SHG = total daya peralatan lainnya (watt) ; CLF = 0.8
Penambahan Panas Laten
QL = 0,32 x QR (10)
Qr(10) = 190 Btu/h

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan dilakukannya percobaan ini adalah:
1. RH meter
2. Meteran
3.2 Langkah Percobaan
Adapun langkah-langkah dilakukannya percobaan ini adalah, sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Alat dan bahan disiapkan.


Luas ruangan diukur.
Lemari dan benda lain yang ada di dalam ruangan diukur.
Suhu dan kelembaban di dalam ruangan diukur.
Suhu dan kelembaban di luar ruangan (setiap sisi) diukur.
Semua hasil pengukuran dicatat.
Kemudian hasil pengukuran (RH dalam dan luar ruangan, suhu dalam dan luar
ruangan digunakan sebagai data untuk mencari cooling load dengan metode CLTD.

BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Analisa Data


Berikut merupakan analisa data dari pengukuran yang telah dilakukan pada ruangan
UKM UKTK SCC seperti di bawah :

Gambar 4.1 Desain Ruangan UKTK SCC ITS


4.1.1 Dinding
ICLdinding = UxAxCLTDcorr
a. Dinding A:

Orientasi : Selatan

Luas penampang (A): (6 + 3,96) = 23,76 m2 = 255,75 ft2

Susunan material : plaster-batu bataplaster


U = 1,4277 (Lampiran 1)

CLTD (Lampiran 2)

LMT (Lampiran 3)

ICL = A x U x CLTDcorr

CLTDdinding =((CLTD+LMT)0,65)+(25,5-ti)+(to-29,4)
CLTDdinding A =((5+5,5)0,65)+(25,5-30,8)+(29,7-29,4)
=6,825-5,3+0,3
=1,825
ICLdinding A = UxAxCLTDdinding

ICLdinding A = 1,4277 x 255,75 x 1,825


= 666,37 Btuh
b. Dinding B:
Orientasi : Timur

Luas penampang (A): (2,09 x 3,96) = 8,28 m 2 = 89,12 ft2

Susunan material : plaster-batu bataplaster


U = 1,4277 (Lampiran 1)

CLTD (Lampiran 2)

LMT (Lampiran 3)

ICL = A x U x CLTDcorr

CLTDdindin g
CLTDdinding B

= ((CLTD+LMT)0,65)+(25,5-ti)+(to-29,4)
= ((13+(-5,5))0,65)+(25,5-30,8)+(29,7-29,4)
= 4,875-5,3+0,3
= -0,125

ICLdinding = UxAxCLTDdinding
ICLdinding B = 1,4277x(89,12)x(-0,125)
= 15,9 Btuh
c. Dinding C:
Orientasi : North East

Luas penampang (A): (4,96 x 3,96) = 19,64 m2 = 211,4 ft2

Susunan material : plaster-batu bataplaster


U = 1,4277 (Lampiran 1)

CLTD (Lampiran 2)

LMT (Lampiran 3)

ICL = A x U x CLTDcorr

CLTDdinding = ((CLTD+LMT)0,65)+(25,5-ti)+(to-29,4)
CLTDdinding C = ((13-5,5)0,65)+(25,5-30,8)+(29,5-29,4)
= 4,875-5,3+0,1
= -0,325
ICLdinding
ICLdinding C

= UxAxCLTDdinding
= 1,4277x(211,4)x(-0,325)
= 101,48 Btuh

d. Dinding D:
Orientasi : North West

Luas penampang (A): (6,02 x 3,96) = 23,84 m2 = 256,61 ft2

Susunan material : plaster-batu bataplaster


U = 1,4277 (Lampiran 1)

CLTD (Lampiran 2)

LMT (Lampiran 3)

ICL = A x U x CLTDcorr

CLTDdinding
CLTDdinding D

= ((CLTD+LMT)0,65)+(25,5-ti)+(to-29,4)
= ((7-5,5)0,65)+(25,5-30,8)+(30-29,4)
= 1,625-5,3+0,6
= -3,075

ICLdinding
ICLdinding D

= UxAxCLTDdinding
= 1,4277x256,61x1,825
= 668,61 Btuh

e. Dinding E:
Orientasi : South West

Luas penampang (A): (2,25 x 3,96) = 8,91 m2 = 95,9 ft2

Susunan material : plaster-batu bataplaster


U = 1,4277 (Lampiran 1)

CLTD (Lampiran 2)

LMT (Lampiran 3)

ICL = A x U x CLTDcorr

CLTDdinding
CLTDdinding E

= ((CLTD+LMT)0,65)+(25,5-ti)+(to-29,4)
= ((5+0)0,65)+(25,5-30,8)+(30,2-29,4)
= 3,25-5,3+0,8
= -1,25

ICLdinding
ICLdinding E

= UxAxCLTDdinding
= 1,4277x95,9x(-1,25)
= 170,07 Btuh

4.1.2 Beban pada Jendela


a. Jendela 1
Orientasi : Timur
Jumlah : 10 jendela
Susunan material : single glazing, frame alumunium 1/8 in (3 mm)

ICLjendela = {(direct radiation) (shade factor ) + (convection) (type factor )} x


{area}
Direct radiation
Convection
Shade factor
Type factor

ICLjendela B

(Lampiran 4)
(Lampiran 5)
(Lampiran 6)
(Lampiran 7)

=((17,4x0,95)+(13,2x1))x(2,95x5,41x4)
= (29,73)(63,84)
=1897,9 Btuh

b. Jendela 2 :
Orientasi : North East
Jumlah : 10 jendela
Susunan material : single glazing, frame alumunium 1/8 in (3 mm)

ICLjendela = {(direct radiation) (shade factor ) + (convection) (type factor )} x


{area}
Direct radiation (Lampiran 4)
Convection
(Lampiran 5)
Shade factor
(Lampiran 6)
Type factor
(Lampiran 7)
ICLjendela C
=((52,1x0,95)+(14,2x1))x(2,95x5,41x6)
= 63,7 x 95,76
= 6099,72 Btuh
4.1.3 Beban dari Manusia
Jumlah 10 orang, termasuk zona type B (carpet, concrete block, inside shade full)
CLF untuk kegiatan 8 jam yaitu 0,13 (Lampiran 8)
IHGmanusia = (75 W/orang)(10 orang)
=750 W
ICLsen
= IHG x CLF
= 750X 0,13
= 97,5 W
ICLlat
= 55 W/orang x 10 orang
= 550 W

4.1.4 Beban Lampu


Lampu penerangan : tipe lampu pijar halogen (fluorescent), pemakaian tidak penuh, FSA
= 1.2 untuk fluorescent

ICL

= 3.41 x W x FUT x FSA x (CLF)


= 3,41 x 8 x 4 x 1,2 x 1
= 130,944 Btuh

4.1.5 Ventilasi
Ventilasi = 25 cfm per orang (untuk aplikasi meeting room, tidak ada yang merokok)
(Lampiran 9)
ICLs
ICLL

= 1,08 x CFM x n x (to-ti)


= 0,7 x CFM x n x (HRo-HRi)

ICLs

= 1,08 x 25 x 10 x (56-56,24)
= 64,8 Btuh

ICLL

= 0,7 x 25 x 10 x (75,5-71,6)
= 682,5 Btuh

4.1.6 Infiltrasi
Infilrasi untuk jendela terbuka dan tertutup Air Change Methode / hour = 2
Crack
= (ACM x lebar jendela) + (ACM x panjang jendela)
= (2 x 2,95) + (2 x 5,4)
= 16,7
Wind Velocity menggunakan bahan metal sash, unlocked, weatherstripped (Lampiran
10)
ICL

= (wind velocity x crack)/ 60


= (34 x 16,7)/60
= 18,93 CFM

Infiltrasi untuk jendela terbuka


ICLs
ICLL

= 1,08 x CFM x n x (to-ti)


= 0,7 x CFM x n x (HRo-HRi)

ICLs

= 1,08 x 18,93 x 10 x (56-56,24)


= 49,07 Btuh

ICLL

= 0,7 x 18,93 x 10 x (75,5-71,6)


=516,79 Btuh

4.1.7 Total Cooling Load


Dibawah ini adalah jumlah total cooling load yang terjadi saat jam dimana
penggunaan ruangan maksimal:
Tabel 4.1 Load Estimate Sheet Ruang UKM UKTK SCC ITS
No

Item

Sensible Heat Gain

Laten Heat Gain

1
2
3
4
5
6
7

Dinding A (S)
Dinding B (E)
Dinding C (NE)
Dinding D (NW)
Dinding E (SW)
Jendela 1 (E)
Jendela 2 (NE)
Total transmission and solar
Total Body Heat
Total Equipment heat gains
Ventilasi
Infiltration heat gains
Total Heat Gains
Total Cooling Load

666,37
15,9
101,48
668,61
170,07
1897,9
6099,72
8953,68
97,5
550
130,944
64,8
682,5
49,07
516,79
9295,994
1749,29
11045,284 Btu/h

Tabel 4.2 Cooling Load berdasarkan tiap komponen


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Item
Dinding A (S)
Dinding B (E)
Dinding C (NE)
Dinding D (NW)
Dinding E (SW)
Jendela 1 (E)
Jendela 2 (NE)
Manusia
Lampu
Ventilasi
Infiltrasi
Total

Cooling Load (Btu/h)


666,37
15,9
101,48
668,61
170,07
1897,9
6099,72
647,5
130,944
747,3
565,86
11711,654

4.1.8

Percentage
5.69
0,14
0,87
5,71
1,45
16,21
52,08
5,53
1,12
6,38
4,83
100

Kapasitas Pendingin Ruangan


Kemudian nilai kapasitas pendingin ruangan diperoleh dengan melakukan
perhitungan dengan kapasitas pendigin ruangan 1 PK adalah sebesar 9000 btu/hr.
Sehingga diperoleh perhitungan berikut.
1 PK=9000 Btu /hr
Q

total

=11711,654 Btu /hr

( Btu
hr )

Total Kapasitas Pendingin Ruangan=


1 ,301 PK 1,5 PK

11711,654 Btu /hr


9000 Btu/hr

BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari dilakukannya perhitungan beban pendinginan (cooling load)
menggunakan metode TETD didapatkan cooling load sebesar 11045,284 Btu/h dengan
sensible heat ratio sebesar 84,2 sehingga dapat dikatakan bahwa ruangan UKM UKTK
gedung SCC ITS nyaman karena mempunyai sensible heat ratio diatas 75. Dari data
perhitungan juga didapatkan kapasitas pendinginan yang dibutuhkan adalah sebesar 1, 301
PK 1,5 PK, sehingga ruangan membutuhkan 1 unit air conditioner berkapasitas
pendinginan 1,5 PK.

LAMPIRAN

Lampiran 1

Lampiran 2

Lampiran 3

Lampiran 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Lampiran 7

Lampiran 8

Lampiran 9

Lampiran 10