Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal merupakan salah satu unsure penentu status
kesehatan neonatal dimulai sebelum bayi dilahirkan melalui pelayanan kesehatan yang diberikan
kepada ibu hamil.
Pertumbuhan dan perkembangan bayi periode neonatal merupakan periode yang paling klinis
karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bayi.
Setiap tahun diperkirakan 4 juta bayi meninggal dan pertiganya meninggal pada minggu
pertama, penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah kompikasai pada
kehamilan dan persalinan seperti afeksia, Sepsis dan komplikasi berat lahir rendah kurang lebih
98% kematian ini terjadi dinegara berkembang dan sebagian besar kematian ini dapat dicegah
dengan pencegahan dini dan pengobatan yang tepat.
B.

Tujuan Pedoman
1.

Tujuan Umum :
Meningkatkan Pelayanan Maternal dan Perinatal yang bermutu dalam upaya penurunan
Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia.

Tujuan Khusus :

C.

Mengurangi angka kematian Bayi lahir di RS Vita Insani.


Mengurangi angka kematian ibu Bersalin di RS Vita Insani.
Mengurangi angka kecatatan dan kesakitan di RS Vita Insani

Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan yang mencakup :
Ruang IGD,Instalasi bersalin dan neonatus ,ruangan OK,rawat inap kebidanan,nifas dan

ruang ICU,ruang bayi


D.

Batasan Operasional
Instalasi Gawat Darurat
IGD adalah pelayanan di rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama pada pasien

dengan ancaman kematian dengan melibatkan berbagai multi disiplin.


E.

Landasan Hukum
Yang menjadi landasan hokum pelaksanaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal :
1.

Undang- undang No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

2.
3.
4.
5.

Undang undang No 44Tahun 2009 tentang Rumah Sakit


Undang undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
Undang- undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Keputusan Menteri Kesehatan RI No 129/Menkes/SK/II/2008 Tentang Standar

pelayanan Minimal Rumah Sakit


6. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 0701/Yan Med/RSKS/60/VII/1991 Tentang
pelayanaan Gawat Darurat
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 1601/Menkes/PER/VII/ 2001 tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakitn.
8. Keputusan MenteriKesehatan No 369/ Menkes /SK III 2007 tentang Standar Profesi
Bidan.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM)
1. Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) INSTALASI BERSALIN DAN NEONATUS RS
No
1
2
3
4
5

Jabatan
Dokter K ebidanan
Dokter Anak
Kepala Ruangan
Penanggung jawap shift
Bidan Pelaksana

Pendidikan
Dr.spOG
Dr.Spa
D3 Kebidanan
D3, Kebidanan
D3, Kebidanan

Jumlah Kebutuhan
6 orang
4 orang
1 orang
7 orang
6 orang

A. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan di Instalasi bersalin dan neonatus
Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

a. Untuk dinas pagi


Yang bertugas 5 orang, 1 orang kepala ruangan,4 orang bidan pelaksana
b. Untuk dinas sore
Yang bertugas 4 orang, 1 orang penanggung jawab,3 orang bidan pelaksana
c. Untuk dinas malam
Yang bertugas 3 orang 1 orang penanggung jawab, 2 orang bidan pelaksana.

BAB III
STANDAR FASILITAS
I.

Alat kedokteran
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Nama Alat
Cateter metal
Setengah kocher
Gunting tali pusat
Gunting episiotomi
Pinset anatomis
Pinset chirurgis
Gunting benang
Arteriklem
Nald fouder
Tromel besar
Tromel sedang
Tromel kecil
Bak intrumen besar
Bak intrumen partus
Bak intrumen hecting
Bak intrumen kecil
Jangka panggul
Tensi meter
Stetoskop
Dopler bistos
Alat KTG
Standart infus
Alat vakum
Infan warmer

Satuan
5 set
5 set
15 set
5 set
5 set
5 set
5 set
10 set
3 set
2 set
4 set
2 set
2 set
2 set
2 set
4 set
2 set
2 set
2 set
2 set
1 set
5 set
5 set
2 set

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

Alat suction
Tempat tidur ginekologi
Lampu sorot
Nierbekken
Timbangan dewasa
Timbangan bayi
Laringoscop bayi
Jackson ress set
Infus pam
Oxymetri

3
2
2
6
1
2
2
2
1

set
set
set
set
set
set
set
set
set

35

Alat ressusitasi bayi

1 set
3 set

36
37

Alat ressusitasi dewasa


Inkubator

1 set
3 set

38

Box Bayi

28 set

39

Lampu Light Therapy

1 set

40

Set Suction

1 set

41
42
43

Baby Safe
Oxirate Wilamed
Breast Pump

2 set

44

Mesin Biopure

1 set

45
46

Timbangan Bayi digital


Alat Resusitasi Bayi

1 set
1 set

47

Stetoskop Bayi

2 set

48

Irigator Set

1 set

1 set
1 set

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

2. Daftar Nama Obat


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Nama Obat
Gentamycin
Nipedipin
Buscopan
Abocat 18
Cat Gut Chromic
Cefotaxime
Dextrose
Folley Chateer
Infus set
Dexamethasone
Lidocain
Magnesium Sulfat 40 %
Magnesium Sulfat 20 %
Meylon 40 % 25 ml
Blestop
Nacl 0,9 %
Neo K
Ringa Lactat
Plain gut3-0
Suction Chateter
Syntosinon
Plain gut 2-0
Spuit 3,5,10
Handscoen no 7.7,5.

Satuan
20
10
1
20
1
10
10
10
20
10
20
6
0
2
10
5
20
20
5
20
10
5
20,20,20
50,50

3. Alat Tenun
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama alat tenun


Sprei besar
Selimut
Sarung bantal
Baju pasien
Topi
Sprei bayi
Baju bayi
Popok bayi

Satuan
10 set
10 set
10 set
5 set
5 set
40 set
50 set
50 set

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

4. Alat rumah tangga


No
1
2
3
4
5
6
7
8

Nama alat
Meja kerja
Dispenser
Jam dinding
Container besar
Cotainer sedang
Cotainer rak obat
Mesin biopure
Meja
computer

Satuan
2 set
1 set
3 set
3 set
5 set
3 set
1 set
dan 1 set

computer
9

Lemari loker bidan

12 set

10

Lemari etalase

2 set

11

Kulkas vaksin

1 set

12

Kulkas penyimpanan ASI

1 set

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
TATA LAKSANA PENDAFTARAN PASIEN
1. Petugas Penanggung Jawab
- Bidan Instalasi Bersalin Dan Neonatus ( Terlampir dalam SPO)
- Petugas pendaftaran rawat inap dan rawat jalan (Terlampir dalam SPO)
2. Perangkat Kerja
Berkas keterangan status pasien (pembayaran umum atau asuransi kesehatan lainnya)
Status rekam medis pasien
3. Tata Laksana pendaftaran pasien Instalasi Bersalin Dan Neonatus
Bila pasien dalam keadaan gawat darurat ataupun mau rawat inap,pasien ataupun keluarga
pasien mendaftar di Registrasi rawat inap, setelah itu pasien dapat naik langsung ke Instalasi
Bersalin Dan Neonatus

atau kamar bersalin untuk dilakukan pemeriksaan berdasarkan hasil

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

pemeriksaan atau observasi keadaan ibu, jika tidak diteruskan diupayakan penanganan keadaan
fisiologis. Setelah selesai observasi pasien diantar di rawat inap apabila ditemukan masalah pada
saat observasi dan memerlukan tindakan khusus seperti ( pembedahan), pasien akan ditangani dan
diantar ke Ok untuk dilakukan tindakan dalam upaya penyelamatan keadaan ibu dan bayi. Setelah
selesai pasien akan diantar di ke ruang rawat inap tetapi apabila ditemukan kendala atau
penanganan yang serius pasien dapat masuk ke ruangan ICU dan jika keadaan sudah membaik
keruangan rawat inap dan setelah itu pasien boleh pulang.
TATA LAKSANA SISTEM KOMUNIKASI
1. Petugas Penanggung Jawab
- Petugas Operator
- Dokter / bidan Instalasi Bersalin Dan Neonatus
2. Perangkat Kerja
- Pesawat telepon
- Status rekam medis pasien
3. Tata Laksana Sistem Komunikasi
- Antara Instalasi Bersalin Dan Neonatus dengan unit lainnya didalam RS Vita I nsani
-

mempunyai no extension masing-masing


Antara Instalasi Bersalin Dan Neonatus dan dokter konsulen/ rumah sakit lain/ yang terkait
dengan pelayanan diluar rumah sakit adalah menggunakan pesawat telepon langsung dari Instalasi
Bersalin Dan Neonatus

dengan menekan angka 0 (nol) yang akan tersambung melalui

operator
Antara Instalasi Bersalin Dan Neonatus dengan petugas ambulans yang berada dilapangan
menggunakan pesawat telepon yang disambungkan oleh operator kepada supir ambulans

yang sedang diluar


Dari luar RS Vita I nsani dapat langsung melalui operator

4. Tata Laksana Pengisian Informed Consent


1. Petugas penanggung jawab
- Dokter jaga
- Bidan Instalasi Bersalin Dan Neonatus
-

2. Perangkat Kerja
Formulir persetjuan tindakan kedokteran
Formulir persetujuan tindakan anastesi

5. Tata Laksana Informed Consent


1. Tata laksana informed consent
Perawat Instalasi Bersalin Dan Neonatus

yang sedang bertugas menjalankan tindakan

yang akan dilakukan sampai pasien mengerti dan penjelasan tentang tujuan dari pengisian
informed consent pada pasien atau keluarga pasien
Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

2. Meminta persetujuan dengan mengisi informed consent dengan lengkap ditandatangani


oleh pasien/ keluarga dan saksi
3. Setelah diisi dimasukkan dalam status rekam medis pasien
6. Tata Laksana Transportasi Pasien
1. Petugas penanggung jawab
- Bidan Instalasi Bersalin Dan Neonatus / ruangan
- Supir ambulance
2. Perangkat Kerja
- Ambulance
- Alat tulis
3. Tata laksana transportasi pasien dari yang terkait
1. Bagi pasien yang memerlukan pengguna ambulane RS Vita I nsani sebagai
transportasi maka perawat terkait menghubungi supir vita insani via intercom.
2. Petugas ambulance memerlukan data data pengguna ambulance nama pasien, ruang
raat inap, waktu penggunaan dan tujuan penggunaan.
3. Petugas ambulance menghubungi bagian/ supir ambulance untuk menyiapkan keadaan
4. Perawat ruangan yang memesan ambulance menyiapkan alat medis sesuai dengan
kondisi pasien
7. Tata Laksana Transportasi Pasien Intra Rumah Sakit
1. Petugas penanggung jawab
- Dokter jaga
- Bidan terkait
2. Perangkat kerja
- Brankard
- Rostul

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

BAB V
LOGISTIK

A. Prosedur permintaan barang habis pakai ke gudang farmasi seperti kapas, alcohol, betadine,
sarung tangan, masker, plester, fixomull, bettol, dll.
Kepala Instalasi bersalin dan neonatus akan mengorder kebutuhan barang habis pakai
melalui permintaan dari sim .
Apabila barang sudah ada diambil oleh petugas Instalasi bersalin dan neonatus ,
Kepala ruangan/ perawat yang menerima barang tersebut yang menerima barang harus
menandatangani bukti sudah terima barang.
B. Prosedur permintaan barang tidak habis pakai seperti Alkes Medis dan Non Medis
Jika ada barang yang rusak baik alat medis atau non medis, maka kepala ruangan akan
berkoordinasi dengan ke bagian teknisi medis dan non medis untuk memeriksa alat
tersebut
Jika alat tersebut tidak bisa diperbaiki oleh teknisi akan memuat berita acara memakai
barang tersebut
Kepala ruangan akan memuat permintaan barang tersebut dengan mengisi form
pergantian barang tersebut dengan melampirkan berita acara dari teknisi baik medis dan
non medis
Form tersebut kemudian ditandatangani ke bidang perawatan dan Direktur medis &
keperawatan
Belangko isian tersebut diserahkan ke bagian logistic untuk di tandatangan oleh Direktur
Administrasi dan keuangan dan jika sudah disetujui agar barang segera dipenuhi sesuai
permintaan
Petugas logistic memberikan barang/alat ke perawat dengan mendatangani serah terima
barang.
C.

Penyimpanan Barang

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. Pengertian
Keselamatan pasien (pasien safety) adalah suatu system dimana RS membuat asuhan lebih
aman. Sistem tersebut meliputi :
Assessment risiko
Identifikasi dan pengolahan yang berhubungan dengan risiko pasien
Pelaporan dan analisa insiden
Kemampuan belajar dan insiden dan tidak lanjutnya
Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
-

Kesalahan akibat
Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil

B. Tujuan
Terciptanya budaya keselamatan pasien Rumah Sakit
Meningkatnya akuntabilitas RS terhadap pasien dan masyarakat
Menurunkan kejadian tidak diharapkan (KTD) di Rumah Sakit
Terlaksananya program pencegahan sehingga tidak terjadi kejadian tidak diinginkan
(KTD)
C. Standar Keselamatan Pasien
Hak pasien
Mendidik pasien dan keluarga
Keselamatan pasien dan keseimbangan pelayanan
Penggunaan metode-metode peningkatan kerja untuk melakukan evaluasi dan program

peningkatan keselamatan pasien


Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
Komunikasi merupakan sarana bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

D. Ruang lingkup keselamatan pasien


1. Kejadian tidak diharapkan (KTD) adverse Want adalah suatu kejadian yang tidak
diharapkan yang mengakibatkan cedera pasien akibat melaksanakan suatu tindakan atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil dan bukan karena penyakit dasarnya
atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan
medis karena tidak dapat dicegah
Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

10

2. Kejadian Yang Tidak Dapat Dicegah (Unprevebtable Adverse Event)


Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi penyakit tersebut yang tidak dapat dicegah
dengan pengetahuan muktahir
3. Kejadian Nyata Cedera (KNC) Near Miss
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil yang dapat mencederai pasien tetapi cedera serius
tidka terjadi
Karena keberuntungan
Karena pencegahan
Karena peringatan
4. Kesalahan Medis (Medical Errors)
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien
5. Kejadian Sentinel (Sentinel Evants)
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian dan cedera yang serius biasanya
dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima seperti :
operasi pada bagian tubuh yang salah, pemilihan luka Sentinel terkait dengan
keseriusan yang terjadi ( seperti amputasi pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta
terhadap kejadian ini mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan.
E. Tata Laksana
a. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada pasien
b. Melaporkan pada dokter
c. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
d. Mengobservasi keadaan umum pasien
e. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir pelaporan insiden keselamatan

BAB VII
KESELAMATAN KERJA
A. Pendahuluan
HIV/AIDS adalah ancaman global.Ancaman penyebaran HIV menjadi lebih tinggi karena
mengidap HIV tidak menampakkan gejala. Setiap hari ribuan anak berusia kurang dari 15 tahun
dan14.000 penduduk berusia 15-45 tahun terinfeksi HIV dan keseluruhan kasus bar 25% terjadi di
Negara-negara berkembang yang belum mampu menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang
memadai.
Angka pengidap HIV /AIDS di Indonesia terus meningkat dengan peningkatan kasus yang
sangat bermakna ledakan kasus HIV/AIDS terjadi akibat masuknya harus secara langsung ke
masyarakat cukup tinggi melalui penduduk migrant. Sementara potensi penularan di masyarakat
cukup tinggi (misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa pelindung pelayanan kesehatan yang
Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

11

belum aman karena belum ditetapkan kewaspadaan umum dengan baik penggunaan bersama
peralatan menembus kulit,tato,tindik, dan lain-lain).
Penyakit Hepatitis B dan C yang keduanya potensial untuk menular melalui tindakan pada
pelayanan kesehatan sebagai ilustrasi di kemudian bahwa menurut data PMI angka kesakitan
Hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,8 % pada tahun 1998 dan angka kesakitan
Hepatitis C di masyarakat menurut perkiraan WHO adalah 2,10% kedua penyakit ini sering tidak
dapat dikenali secara klinis Karena tidak memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat keinginan untuk
mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi semua pihak dari penyebaran
infeksi.Upaya penyebaran infeksi dikenal melalui kewaspadaan umum atau universal precation
yaitu dimulai sejak dikenalnya infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman petugas kesehatan.
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan kontak langsung
dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya mempunyai risiko terjangkit
infeksi oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan dicurigai dari
risiko tertular penyakit agar dapat bekerja maksimal.
B. Tujuan
- Petugas kesehatan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dapat melindungi diri
-

sendiri pasien dan masyarakat dari penyebaran infeksi


Petugas kesehatan di dalam menjalankan tugas dan kewajibannya mempunyai risiko
terinfeksi penyakit menular di lingkungan tempat kerjanya, untuk menghindarkan
paparan tersebut setiap petugas harus menerapkan prinsip Universal Precaution

C. Tindakan Berisiko Terpajan


- Cuci tangan yang kurang benar
- Pengguna sarung tangan yang kurang tepat
- Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman
- Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman
- Teknik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat
- Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai
D. Prinsip Keselamatan Kerja
Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan kerja adalah menjaga
higine sanitasi individu. Higine sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan ketiga prinsip tersebut
dijabarkan menjadi lima (5) kegiatan pokok yaitu :
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah kontak
dengan darah serta cairan infeksi yang lain
3. Pengelolaan alat yang bekas pakai
4. Pengelolaan jarum tajam untuk mencegah perlukaan
Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

12

5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
I.

Pendahuluan
Peningkatan mutu pelayanan merupakan prioritas utama di semua rumah sakit,dimana
masyarakat cenderung menurut pelayanan yang lebih baik, ramah, dan lebih bermutu termasuk pula
dalam pelayanan maternal dan neonatal. Pelayanan kesehatan yang tepat dimulai dari masa
kehamilan sehingga dapat menghasilkan generasi penerus yang berkualitas di Rumah Sakit Vita
Insani menyadari pentingnya pelayanan kesehatan tersebut sehingga mengembangkan pelayanan
kesehatan

maternal

dan

neonatal

dalam

satu

unit

pelayanan

yaitu

unit

pelayanan

perinatal.Pengendalian mutu dalam bidang perinatal sangat diperlukan sebagai dasar untuk
meningkatkan pelayanan terhadap maternal dan neonatal.
Tingginya angka kelahiran setiap tahunnya membuktikan bahwa Rumah Sakit Vita Insani
sebagai salah satu tempat pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Disamping
tingginya angka kelahiran sering ditemukan adanya masalah dalam proses persalinan yang
membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai. Pada kenyataannya sepanjang tahun 2016
pelayanan maternal dan neonatal di RS Vita Insani sudah memberikan 1091 kasus, pelayanan
antenatal,560 kasus pelayanan intranatal dan postnatal. Dimana ada terdapat kasus kematian ibu
ditahun 2016 tetapi terdapat 10 kasus kematian neonatus atau sekitar 1,77% dari kelahiran hidup.
Unit pelayanan maternal dan neonatal di RS Vita I nsani merupakan salah satu pelayanan yang
menerima rujukan untuk penanganan masalah dan tindakan yang tepat dan akurat. Oleh sebab itu
dibutuhkan kontroling terhadap mutu pelayanan yang akan menghasilkan berbagai hal perbaikan dn
juga mengetahui kekurangan di pelayanan maternal dan perinatal.

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

13

II.

Tujuan
1. Meningkatkan mutu pelayanan maternal dan neonatal
2. Meningkatkan kualitas manajemen program-program sumber daya kesehatan
3. Meningkatkan kepuasan pasien tehadap pelayanan maternal dan neonatal
4. Meningkatkan mutu kesehatan ibu dan anak

III.

Indikator Mutu
1.Kejadian kematian ibu karena Perdarahan.
2.Kejadian kematian ibu karean eklamsia dan pre eklasia.
3.Kejadian kematian ibu karena sepsis.
4.Pelaksanaan rawat gabung.
5.Pertolongan persalinan melalui seksio sesaria.
6.Pertolongan persalinan melalui normal.
7.Dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD) dan Asi esklusif.
8Ketidakmampuan menangani BBLR 1000 gr- 2500gr.
9.Dilakukan KMC( Kanguru Mader Care).

IV.

Laporan
1. Setiap bulannya dibuat laporan angka kelahiran dan angka kematian ibu dan bayi dan
dilaporkan ke Direktur Medis dan Keperawatan dan laporan tersebut diantar ke Dinas
Kesehatan
2. Setiap tahun di evaluasi secara keseluruhan apakah terjadi kenaikan atau penurunan AKI
dan AKB

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

14

BAB IX
PENUTUP
I. Kesimpulan
1. Standar ketenagaan pelayanan Neuratik RS Vita I nsani terdiri dari kepala ruangan,
dokter jaga, penanggung jawab shift,dan pelaksana dengan jadwal yang sudah ditentukan
oleh kepala ruangan.
2. Fasilitas di pelayanan maternal dan neunatus di RS Vita I nsani sesuai dengan pedoman
pelayanan maternal dan neonatus.
3. Tata laksana pasien pelayanan maternal dan neonatus dilakukan cara systematis.
4. Prosedur permintaan barang habis dan tidak habis pakai dilakukan secaar prosedur.
5. Keselamatan pasien RS Vita I nsani diatur secara sistematis untuk membuat asuhan
pasien.
6. Setiap ketenagaan RS Vita I nsani wajib bekerja sesuai prinsip keselamatan pasien.
7. Pengendalian mutu pelayanan maternal dan neunatus di RS Vita I nsani dinilai 9
indikator yaitu keterlambatan pelayanan dan emergency ketelitian pasien
II.

Saran
1. Dilakukan sosialisasi pedoman pelayanan maternal dan neunatus.
2. Dipatuhi dan dilaksanakan setiap tindakan di pelayanan maternal dan neunatus sesuai
dengan pedoman pelayanan.
3. Dilakukan pengawasan terhadap pelaksana pedoman pelayanan maternal dan neunatus.

Pedoman Pelayanan Instalasi Bersalin dan Neonatus

15