Anda di halaman 1dari 21

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Histerektomi adalah mengangkat rahim dengan organ di sekitarnya.
(Yatim, 2005)
Histerektomi adalah suatu prosedur pembedahan mengangkat rahim
yang dilakukan oleh ahli kandungan. (Rasjidi, 2008).
Histerektomi adalah pengangkatan uterus melalui pembedahan paling
umum dilakukan untuk keganasan dan kondisi bukan keganasan tertentu
(contoh endometriosis tumor), untuk mengontrol perdarahan yang
mngancam jiwa, dan kejadian infeksi pelvis yang tidak sembuh-sembuh
atau rupture uterus yang tidak dapat di perbaiki (Marylin 2008).
Jadi, dapat di simpulkan histerektomi adalah suatu prosedur
pembedahan mengangkat rahim yang umum di lakukan untuk keganasan
atau bukan keganasan.
B. Indikasi dan kontraindikasi
1. Indikasi
a. Ruptur uteri
b. Perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan cara-cara yang
ada, misalnya pada :
1) Atonia uteri
2) Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia pada solusio
plasenta dan lainnya.
3) Couvelaire uterus tanpa kontraksi.
4) Arteri uterina terputus.
5) Plasenta inkreta dan perkreta.
6) Hematoma yang luas pada rahim.
c. Infeksi intrapartal berat.
d. Pada keadaan ini biasanya dilakukan operasi Porro, yaitu uterus
dengan isinya diangkat sekaligus.
e. Uterus miomatosus yang besar.
f. Kematian janin dalam rahim dan missed abortion dengan
kelainan darah.

g. Kanker leher rahim. 3


2. Kontraindikasi
a. Atelektasis
b. Luka infeksi
c. Infeksi saluran kencing
d. Tromoflebitis
e. Embolisme paru-paru.
f. Terdapat jaringan parut, inflamasi, atau perubahan endometrial
pada adneksa
g. Riwayat laparotomi sebelumnya (termasuk perforasi appendix)
dan abses pada cul-de-sac Douglas karenadiduga terjadi
pembentukan perlekatan.
C. Klasifikasi Histerekomi
1. Histerektomi parsial (subtotal)
Pada histerektomi jenis ini, rahimn diangkat, tetapi mulut rahim
(serviks) tetap dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena
kanker mulut rahim sehingga masih perlu pemeriksaan pap smear
(pemeriksaan leher rahim) secara rutin.
2. Histerektomi total
Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim diangkat secara
keseluruhan.
Keuntungan dilakukan histerektomi total adalah ikut diangkatnya
serviks yang menjadi sumber terjadinya karsinoma dan prekanker. Akan
tetapi, histerektomi total lebih sulit daripada histerektomi supraservikal
karena insiden komplikasinya yang lebih besar.
Operasi dapat dilakukan dengan tetap meninggalkan atau mengeluarkan
ovarium pada satu atau keduanya. Pada penyakit, kemungkinan
dilakukannya ooforektomi unilateral atau bilateral harus didiskusikan
dengan pasien. Sering kali, pada penyakit ganas, tidak ada pilihan lain,
kecuali mengeluarkan tuba dan ovarium karena sudah sering terjadi
mikrometastase.

Berbeda dengan histerektomi sebagian, pada histerektomi total seluruh


bagian rahim termasuk mulut rahim (serviks) diangkat. Selain itu,
terkadang histerektomi total juga disertai dengan pengangkatan
beberapa organ reproduksi lainnya secara bersamaan. Misalnya, jika
organ yang diangkat itu adalah kedua saluran telur (tuba falopii) maka
tindakan itu disebut salpingo. Jika organ yang diangkat adalah kedua
ovarium atau indung telur maka tindakan itu disebut oophor. Jadi, yang
disebut

histerektomi

bilateral

salpingo-oophorektomi

adalah

pengangkatan rahim bersama kedua saluran telur dan kedua indung


telur. Pada tindakan histerektomi ini, terkadang juga dilakukan tindakan
pengangkatan bagian atas vagina dan beberapa simpul (nodus) dari
saluran kelenjar getah bening, atau yang disebut sebagai histerektomi
radikal (radical hysterectomy).
Ada banyak gangguan yang dapat menyebabkan diputuskannya
tindakan histerektomi. Terutama untuk keselamatan nyawa ibu, seperti
pendarahan hebat yang disebabkan oleh adanya miom atau persalinan,
kanker rahim atau mulut rahim, kanker indung telur, dan kanker saluran
telur (falopi). Selain itu, beberapa gangguan atau kelainan reproduksi
yang sangat mengganggu kualitas hidup wanita, seperti miom atau
endometriosis

dapat

menyebabkan

dokter

mengambil

pilihan

dilakukannya histerektomi.
3. Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral
Histerektomi ini mengangkat uterus, mulut rahim, kedua tuba falopii,
dan kedua ovarium. Pengangkatan ovarium menyebabkan keadaan
penderita seperti menopause meskipun usianya masih muda. 5,6,7
4. Histerektomi radikal
Histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina, jaringan dan kelenjar
limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan pada
beberapa jenis kanker tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa
penderita.
Histerektomi dapat dilakukan melalui 3 macam cara, yaitu abdominal,
vaginal dan laparoskopik. Pilihan ini bergantung pada jenis histerektomi
yang akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai
pertimbangan lainnya. Histerektomi abdominal tetap merupakan pilihan jika
3

uterus tidak dapat dikeluarkan dengan metode lain. Histerektomi vaginal


awalnya hanya dilakukan untuk prolaps uteri tetapi saat ini juga dikerjakan
pada kelainan menstruasi dengan ukuran uterus yang relatif normal.
Histerektomi vaginal memiliki resiko invasive yang lebih rendah
dibandingkan histerektomi abdominal. Pada histerektomi laparoskopik, ada
bagian operasi yang dilakukan secara laparoskopi (garry, 1998).

D. Patofisiologi

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. USG
Untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium
dan keadaan adnexa dalam rongg apelvis. Mioma juga dapat dideteksi
dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal
dan

tidak

memvisualisasi

uterus

sebaik

USG.

Untungnya

leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya


dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnose jaringan.
2. Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai masaa di rongga
pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter
3. Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa
disertai dengan infertilitas.
4. Laparoskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis
5. Laboratorium, darah lengkap, urine lengkap, gula darah, tes fungsi hati,
ureum, kreatinin darah.

6. Tes kehamilan
7. D/K (dilatasi dan kuretase) pada penderita yang disertai perdarahan
untuk menyingkirkan kemungkinan patologi pada rahim (hyperplasia
atau adenokarsinoma endometrium). 5,6,7
F. Teknik Operasi Histerektomi
Pilihan teknik pembedahan tergantung pada indikasi pengangkatan uterus,
ukuran uterus, lebarnya vagina, dan juga kondisi pendukung lainnya. Lesi
prekanker dari serviks, uterus, dan kanker ovarium biasanya dilakukan
histerektomi abdominal, sedangkan pada leimioma uteri, dilakukan
histerektomi abdominal jika ukuran tumor tidak memungkinkan diangkat
melalui histerektomi vaginal. 1
1. Histerektomi abdominal
Pengangkatan kandungan dilakukan melalui irisan pada perut, baik
irisan vertikal maupun horisontal (Pfanenstiel). Keuntungan teknik ini
adalah dokter yang melakukan operasi dapat melihat dengan leluasa
uterus dan jaringan sekitarnya dan mempunyai cukup ruang untuk
melakukan pengangkatan uterus. Cara ini biasanya dilakukan pada
mioma yang berukuran besar atau terdapat kanker pada uterus.
Kekurangannya, teknik ini biasanya menimbulkan rasa nyeri yang lebih
berat, menyebabkan masa pemulihan yang lebih panjang, serta
menimbulkan jaringan parut yang lebih banyak.
2. Histerektomi vaginal
Dilakukan melalui irisan kecil pada bagian atas vagina. Melalui irisan
tersebut, uterus (dan mulut rahim) dipisahkan dari jaringan dan
pembuluh darah di sekitarnya kemudian dikeluarkan melalui vagina.
Prosedur ini biasanya digunakan pada prolapsus uteri. Kelebihan
tindakan ini adalah kesembuhan lebih cepat, sedikit nyeri, dan tidak ada
jaringan parut yang tampak.
3. Histerektomi laparoskopi
Teknik ini ada dua macam yaitu histeroktomi vagina yang dibantu
laparoskop (laparoscopically assisted vaginal hysterectomy, LAVH) dan
histerektomi supraservikal laparoskopi (laparoscopic supracervical
hysterectomy, LSH). LAVH mirip dengan histerektomi vagnal, hanya
6

saja dibantu oleh laparoskop yang dimasukkan melalui irisan kecil di


perut untuk melihat uterus dan jaringan sekitarnya serta untuk
membebaskan uterus dari jaringan sekitarnya. LSH tidak menggunakan
irisan pada bagian atas vagina, tetapi hanya irisan pada perut. Melalui
irisan tersebut laparoskop dimasukkan. Uterus kemudian dipotongpotong menjadi bagian kecil agar dapat keluar melalui lubang
laparoskop. Kedua teknik ini hanya menimbulkan sedikit nyeri,
pemulihan yang lebih cepat, serta sedikit jaringan parut.
Tindakan pengangkatan rahim menggunakan laparoskopi dilakukan
menggunakan anestesi (pembiusan) umum atau total. Waktu yang
diperlukan bervariasi tergantung beratnya penyakit, berkisar antara 40
menit hingga tiga jam. Pada kasus keganasan stadium awal, tindakan
histerektomi radikal dapat pula dilakukan menggunakan laparoskopi.
Untuk ini diperlukan waktu operasi yang relatif lebih lama. Apabila
dilakukan histerektomi subtotal, maka jaringan rahim dikeluarkan
menggunakan alat khusus yang disebut morcellator sehingga dapat
dikeluarkan melalui llubang 10 mm.Apabila dilakukan histerektomi
total, maka jaringan rahim dikeluarkan melalui vagina, kemudian
vagina dijahit kembali. Operasi dilakukan umumnya menggunkan
empat lubang kecil berukuran 5 10 mm, satu di pusar dan tiga di perut
bagian bawah.
G. Prosedur Histerektomi
a. Persiapan Pre Operasi 1 hari sebelum operasi
1. Persiapan urogenital
Dilakukan pengosongan kandung kemih dengan kateterisasi
nkandung kemih.
2. Obat-obat Premedikal
Yaitu penyuntikan pengantar pada pendrita yang sudah ditentukan
oleh ahli bius
3. Bahan yang harus dibawa bersama pasien ke kamar operasi
a. Status klien
b. Hasil-hasil laboratorium
7

4. Persiapan psikologis
a. Pasien dan keluarga perlu diberi kesempatan bertanya
mengenai fungsi reproduksi dan seksnya.
b. Beri penjelasan tentang operasi histerektomi yang akan
dilakukannya.
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Cek gelang identitas
b. Lepas tusuk konde, wig, tutup kepala dengan mitella.
c. Lepaskan perhiasan, cincin dan jam tangan.
d. Bersihkan cat kuku
e. Lepaskan kontak lens
f. Alat bantu pendengaran dapat dipasang bila pasien tidak
dapat mendengarkan tanpa alat.
g. Pasang kaos kaki anti emboli bila pasien resiko tingi terhadap
syok.
h. Ganti pakaian operasi
6. Transportasi ke kamar operasi
Perawat menerima status pasien, memeriksa gelang pengenal,
menandatangani inform concent, pasien dilindungi dari kedinginan
dengan memberi selimut katun.
b. Persiapan Operasi
1. Inform Concent
Surat

persetujuan

kepada

pasien

dan

keluarga

mengenai

pemeriksaan sebelum operasi, alasan, tujuan, jenis operasi,


keuntungan dan kerugian operasi.
2. Puasa
Pada operasi kecil, tidak perlu ada perawatan khusus. Hanya perlu
puasa beberapa jam sebelum operasi dan makan makanan ringan
yang mudah dicerna malam hari sebelumnya
Pada operasi besar, pada hari akan dilakukan operasi, pasien hanya
mendapatkan terapi cairan saja. Pada persiapan praoperatif
penderita malnutrisi, juga diberikan hiperalimentasi per oral atau
intravena.
8

3. Persiapan usus, persiapan usus praoperatif berguna untuk hal-hal


berikut:
a. Pengurangan isi gastrntestinal memberi ruang tambahan pada
pelvis dan abdomen sehingga memperluas lapangan operasi.
b. Pengurangan jumlah flora patgen pada usus menurunkan
resiko infeksi pascaoperasi
Cedera usus saat pembedahan tidak selalu berhasil untuk
dihindari, terutama sering terjadi pada pasien yang menjalani
operasi karsinoma, endometriosis, penyakit peradangan pelvis,
pasien dengan prosedur pembedahan berulang atau penyakit
peradangan usus.
4. Persiapan kulit
Persiapan kulit disarankan untuk dilakukan pada are pembedahan,
bukan karena takut terjadi kontaminasi, akan tetapi lebih karea
alasan teknis. Pasien dicukur hanya pada area disekitar insisi.
Pencukuran sebaiknya dilakukan segera sebelum operasi, untuk
mengurangi resiko infeksi pasca perasi. Membersihkan kulit
dengan sabun antiseptic pada malam hari sebelum operasi atau pagi
hari dapat mengurangi frekuensi infeksi luka pascaoperasi.
5. Persiapan vagina
Apabila terdapat infeksi vagina, sebaiknya diterapi sebelum
operasi. Vaginosis bacterial dapat diterapi dengan metrodinazole
atau krim klindamisin 2%. Pada wanita pasca menopause dengan
atrofi mucosa vagina, krim estrogen meningkatkan penyembuhan
luka setelah operasi vagina. Segera sebelum operasi, vagina
dibersihkan dengan larutan antisepsis, seperti iodine PVB,
chlorhexidine atau octenidindil-hydricloride.
6. Persiapan kandung kencing dan ureter
Segera sebelum pemeriksaan di bawah anestesi,kandung kencing
dikosngkan dengan kateterisasi. Jik akan dilakukan operasi denga
durasi lama, sebelumnya dipasang kateter folley.
c. Prosedur Histerektomi

Histerektomi dapat dilakukan melalui sayatan di perut bagian bawah


atau vagina, dengan atau tanpa laparoskopi. Histerektomi lewat perut
dilakukan melalui sayatan melintang seperti yang dilakukan pada operasi
sesar. Histerektomi lewat vagina dilakukan dengan sayatan pada vagina
bagian atas. Sebuah alat yang disebut laparoskop mungkin dimasukkan
melalui sayatan kecil di perut untuk membantu pengangkatan rahim lewat
vagina.
Histerektomi vagina lebih baik dibandingkan histerektomi abdomen
karena lebih kecil risikonya dan lebih cepat pemulihannnya. Namun
demikian, keputusan melakukan histerektomi lewat perut atau vagina tidak
didasarkan hanya pada indikasi penyakit tetapi juga pada pengalaman dan
preferensi masing-masing ahli bedah.
Histerektomi adalah prosedur operasi yang aman, tetapi seperti halnya
bedah besar lainnya, selalu ada risiko komplikasi. Beberapa diantaranya
adalah pendarahan dan penggumpalan darah (hemorrgage/hematoma) pos
operasi, infeksi dan reaksi abnormal terhadap anestesi.
H. Efek Samping dan Komplikasi
1. Efek Samping
Efek samping yang utama dari histerektomi adalah bahwa seorang
wanita dapat memasuki masa menopause yang disebabkan oleh suatu
operasi, walaupun ovariumnya masih tersisa utuh. Sejak suplai darah
ke ovarium berkurang setelah operasi, efek samping yang lain dari
histerektomi yaitu akan terjadi penurunan fungsi dari ovarium,
termasuk produksi progesterone.

Efek samping Histerektomi yang terlihat :


a. Perdarahan intraoperatif
Biasanya tidak terlalu jelas, dan ahli bedah ginekologis sering kali
kurang dalam memperkirakan darah yang hilang (underestimate).
Hal tesebut dapat terjadi, misalnya, karena pembuluh darah
mengalami retraksi ke luar dari lapangan operasi dan ikatannya
lepas
10

b. Kerusakan pada kandung kemih


Paling sering terjadi karena langkah awal yang memerlukan
diseksi untuk memisahkan kandung kemih dari serviks anterior
tidak dilakukan pada bidang avaskular yang tepat.
c. Kerusakan ureter
Jarang dikenali selama histerektomi vaginal walaupun ureter
sering kali berada dalam resiko kerusakan. Kerusakan biasanya
dapat dihindari dengan menentukan letak ureter berjalan dan
menjauhi tempat tersebut.
d. Kerusakan usus
Dapat terjadi jika loop usus menempel pada kavum douglas,
menempel

pada

uterus

atau

adneksa.

Walaupun

jarang,

komplikasi yang serius ini dapat diketahui dari terciumnya bau


feses atau melihat material fekal yang cair pada lapangan operasi.
Pentalaksanaan memerlukan laparotomi untuk perbaikan atau
kolostomi
e. Penyempitan vagina yang luas
Disebabkan oleh pemotongan mukosa vagina yang berlebihan.
Lebih baik keliru meninggalkan mukosa vagina terlalu banyak
daripada terlalu sedikit. Komplikasi ini memerlukan insisi lateral
dan packing atau stinit vaginal, mirip dengan rekonstruksi vagina.
2. Komplikasi
a. Hemoragik
Keadaan hilangnya cairan dari pembuluh darah yang biasanya
terjadi dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini
diklasifikasikan dalam sejumlah cara yaitu, berdasarkan tipe
pembuluh darah arterial, venus atau kapiler, berdasarkan waktu
sejak dilakukan pembedahan atau terjadi cidera primer, dalam
waktu 24 jam ketika tekanan darah naik reaksioner, sekitar 7-10
hari sesudah kejadian dengan disertai sepsis sekunder, perdarahan
bisa interna dan eksterna.
b. Thrombosis vena

11

Komplikasi hosterektomi radikal yang lebih jarang terjadi tetapi


membahayakan jiwa adalah thrombosis vena dalam dengan
emboli paru-paru, insiden emboli paru-paru mungkin dapat
dikurangi dengan penggunaan ambulasi dini, bersama-sama
dengan heparin subkutan profilaksis dosis rendah pada saat
pembedahan dan sebelum mobilisasi sesudah pembedahan yang
memadai.
c. Infeksi
Infeksi

oleh

karena

adanya

mikroorganisme

pathogen,

antitoksinnya didalam darah atau jaringan lain membentuk pus.


d. Pembentukan fistula
Saluran

abnormal

yang

menghubungkan

organ

atau

menghubungkan 1 organ dengan bagian luar. Komplikasi yang


paling berbahaya dari histerektomi radikal adalah fistula atau
striktura ureter. Keadaan ini sekarang telah jarang terjadi, karena
ahli bedah menghindari pelepasan ureter yang luas dari
peritoneum parietal, yang dulu bisa dilakukan. Drainase
penyedotan pada ruang retroperineal juga digunakan secara
umum yang membantu meminimalkan infeksi.
I.

Pencegahan komplikasi
a. Pencegahan perlekatan
Perlekatan dapat dicegah dengn cara manipulasi jaringan secara
lembut dan hemostasis yang seksama. Untuk mempertahankan
integritas serosa usus, pemasangan tampon dgunakan apabila usus
mengalami intrusi menghalangi lapangan pandang operasi. Untuk
mencegah infeksi, darah harus dievakuasi dari kavum peritonei.
Hal ini dapat dilakukan dengan mencuci menggunakan larutan RL
dan melakukan reperitonealisasi defek serosa dengan hati-hati
b. Drainase
Pada luka bersih (aseptic), pemasangan drain untuk mengevakuasi
cairan yang berasal dari sekresi luka dan darah berguna untuk
mencegah infeksi. Pada luka terinfeksi pemasangan drain dapat
membantu evakuasi pus dan sekresi luka dan menjaga luka tetap
12

terbuka. System drainase ada yang bersiat pasif (drainase penrose),


aktif (drainase suction) da juga ada yang bersiat terbuka atau
tertutup.
c. Pencegahan thrombosis vena dalam dan emboli
1) Saat praoperasi, perlu dicari faktor resiko. Usahakan
menurunkan berat badan dan memperbaiki keadaan umum
pasien sampai optimal. Kontrasepsi oral harus dihentikan
minimal empat minggu sebelum operasi. Mobilisasi pasien
dilakukan sedini mungkin dan diberikan terapi fisik dan latihan
paru.
2) Upaya intraoperasi, dilakukan hemostasis yang teliti san
pencegahan infeksi. Selain itu, cegah juga hipoksia dan
hipotensi selama pembiusan. Hindari statis vena sedapat
mungkin, terutama dengan memperhatikan posisi kaki.
3) Pada pascaoperasi, antikoagulasi farmkologis dan fisik
dilanjutkan. Upaya fisik meliputi mobilisasi dini pada 4-6 jam
pertama

pascaoperasi,

bersamaan

dengan

fisioterapi.

Disamping itu bisa juga dnegan pemakaian stocking ketat dan


mengankat kaki.
J. Penatalaksanaan
1. Preoperative
Setengah bagian abdomen dan region pubis serta perineal dicukur
dengan sangat cermat dan dibersihkan dengan sabun dan air
(beberapa dokter bedah tidak menganjurkan pencukuran pasien).
Traktus intestinal dan kandung kemih harus dikosongkan sebelum
pasien dibawa keruang operasi untuk mencegah kontaminasi dan
cidera yang tidak sengaja pada kandung kemih atau traktus
intestinal. Edema dan pengirigasi antiseptic biasanya diharuskan
pada malam hari sebelum hari pembedahan, pasien mendapat
sedative. Medikasi praoperasi yang diberikan pada pagi hari
pembedahan akan membantu pasien rileks.
2. Postoperative

13

Prinsip-prinsip umum perawatan pasca operatif untuk bedah


abdomen diterapkan, dengan perhatian khusus diberikan pada
sirkulasi perifer untuk mencegah tromboflebitis dan TVP (perhatikan
varicose,

tingkatkan

sirkulasi

dengan

latihan

tungkai

dan

menggunakan stoking.
K.

Askep Histerektomi
a.

Pengkajian
Pengkajian

adalah

langkah

awal

dalam

melakukan

asuhan

keperawatan secara keseluruhan. Pengkajian terdiri dari tiga tahapan


yaitu ; pengumpulan data, pengelompakan data atau analisa data dan
perumusan diagnose keperawatan (Depkes RI, 1991 ).
1.

Pengumpulan Data.

2.

Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun


imformasi (data-data) dari klien. Data yang dapat dikumpulkan
pada klien sesudah pembedahan Total Abdominal Hysterektomy
and Bilateral Salphingo Oophorectomy (TAH-BSO ) adalah
sebagai berikut :

3.

Keluhan Utama

4.

Keluhan yang timbul pada hampir tiap jenis operasi adalah rasa
nyeri karena terjadi torehant tarikan, manipulasi jaringan
organ.Rasa nyeri setelah bedah biasanya berlangsung 24-48 jam.
Adapun yang perlu dikaji pada rasa nyeri tersebut adalah :
a. Lokasi nyeri
b. Intensitas nyeri
c. Waktu dan durasi
d. Kwalitas nyeri.

14

5. Riwayat Reproduksi
a. Haid
Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir, sebab
mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum menarche dan
mengalami atrofi pada masa menopause
b. Hamil dan Persalinan
1) Kehamilan mempengaruhi pertubuhan mioma, dimana
mioma uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini
dihubungkan dengan hormon estrogen, pada masa ii
dihasilkan dalam jumlah yang besar.
2) Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi
psikologi klien dan keluarga terhadap hilangnya oirgan
kewanitaan.
6. Data Psikologi.
Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat berpengaruh
terhadap emosional klien dan diperlukan waktu untuk memulai
perubahan yang terjadi. Organ reproduksi merupakan komponen
kewanitaan, wanita melihat fungsi menstruasi sebagai lambang
feminitas, sehingga berhentinya menstruasi bias dirasakan sebgai
hilangnya perasaan kewanitaan.
Perasaan seksualitas dalam arti hubungan seksual perlu
ditangani . Beberapa wanita merasa cemas bahwa hubungan
seksualitas terhalangi atau hilangnya kepuasan. Pengetahuan klien
tentang dampak yang akan terjadi sangat perlu persiapan
psikologi klien.
7. Status Respiratori
Respirasi bias meningkat atau menurun . Pernafasan yang ribut
dapat terdengar tanpa stetoskop. Bunyi pernafasan akibat lidah
jatuh kebelakang atau akibat terdapat secret. Suara paru yang
kasar

merupakan gejala terdapat secret pada saluran nafas .

Usaha batuk dan bernafas dalam dilaksalanakan segera pada klien


yang memakai anaestesi general.
15

8. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang
harus dijawab oleh klien atau di suruh untuk melakukan perintah.
Variasi tingkat kesadaran dimulai dari siuman sampai ngantuk ,
harus di observasi dan penurunan tingkat kesadaran merupakan
gejala syok.
9. Status Urinari
Retensi urine paling umum terjadi setelah

pembedahan

ginekologi, klien yang hidrasinya baik biasanya baik biasanya


kencing setelah 6 sampai 8 jam setelah pembedahan. Jumlah
autput urine yang sedikit akibat kehilangan cairan tubuh saat
operasi, muntah akibat anestesi.
10. Status Gastrointestinal

16

b. Diagnose Keperawatan
1. Gangguan Rasa Nyaman (nyeri ) berhubungan dengankerusakan
jaringan otot dan system saraf yang di tandai dengan keluhan nyeri,
ekpresi wajah neyeringai.
2. Gangguan Fungsi Gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam
setelah pembedahan, tergantung pada kekuatan efek narkose pada
penekanan intestinal. Ambulatori dan kompres hangat perlu
diberikan untuk menghilangkan gas dalam usus.
3. Gangguan eleminasi miksi

(retensi urine ) berhubungan

dengantrauma mekanik , manipulasi pembedahan adanya edema


pada jaringan sekitar dan hematom, kelemahan pada saraf sensorik
dan motorik.
4. Gangguan konsep diri berhubungan dengankekawatiran tentang
ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah
kewanitaan, akibat pada hubungan seksual .
5. Kurang pengetahuan tentang efek pembedahan dan perawatan
selanjutnya

berhubungan

dengansalah

dalam

menafsirkan

imformasi dan sumber imformasi yang kurang benar.

17

c. Rencana Tindakan
1. Intervensi keperawatan pada diagnose Gangguan rasa nyaman
(nyeri) berhubungan dengankerusakan jaringan otot an system
saraf.
a. Kaji tingkat rasa tidak nyaman sesuai dengan tingkatan nyeri.
b. Beri posisi fowler atau posisi datar atau miring kesalah satu
sisi.
c. Ajarkan teknik releksasi seperti menarik nafas dalam,
bimbing untuk membayangkan sesuatu.Kaji tanda vital :
tachicardi,hipertensi, pernafasan cepat.
d. Motivasi klien untuk mobilisasi didni setelah pembedahan
bila sudah diperbolehkan.
e. Laksanakan pengobatan sesuai indikasi seperti analgesik
intravena.
f. Observasi efek analgetik (narkotik )
g. Obervasi tanda vital : nadi ,tensi,pernafasan.
2. Intervensi keperawatan pada diagnose keperawatan gangguan
eleminasi miksi (retensi urine ) berhubungan dengantrauma
mekanis, manipulasipembedahan, oedema jaringan setempat,
hemaloma, kelemahan sensori dan kelumpuhan saraf.
a. Catat poal miksi dan minitor pengeluaran urine
b. Lakukan palpasi pada kandung kemih , observasi adanya
ketidaknyamanan dan rasa nyeri.
c. Lakukan tindakan agar klien dapat miksi dengan pemberian air
hangat, mengatur posisi, mengalirkan air keran.
d. Jika memakai kateter, perhatikan apakah posisi selang kateter
dalam keadaan baik, monitor intake autput, bersihkan daerah
pemasangan kateter satu kali dalamsehari, periksa keadaan
selang kateter (kekakuan,tertekuk )
18

e. Perhatikan kateter urine : warna, kejernihan dan bau.


f. Kolaborasi

dalam

pemberian

dalam

pemberian

cairan

perperental dan obat obat untuk melancarkan urine.


g. Ukur dan catat urine yang keluar dan volume residual urine
750 cc perlu pemasangan kateter tetap sampai tonus otot
kandung kemih kuat kembali.

3. Intervensi keperawatan pada diagnose keperawatan Ganguan


konsep

diri

berhubungan

dengankekawatiran

tentang

ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah


kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.
1) Beritahu klien tentang sispa saja yang bisa dilakukan
histerektomi dan anjurkan klien untuk mengekpresikan
perasaannya tentang histerektomi
2) Kaji apakah klien mempunyai konsep diri yang negatif.
3) Libatkan klien dalam perawatannya
4) Kontak dengan klien sesering mungkin dan ciptakan suasana
yang hangat dan menyenangkan.
5) Memotivasi

klien

untuk

mengungkapkan

perasaannya

mengenai tindakan pembedahan dan pengaruhnya terhadap diri


klien
6) Berikan dukungan emosional dalam teknik perawatan,
misalnya perawatan luka dan mandi.
7) Ciptakan lingkungan atau suasana yang terbuka bagi klien
untuk membicarakan keluhan-keluhannya.
4. Intervensi keperawatan pada diagnose keperawatan Kurangnya
pengetahuan

tentang

perawatan

luka

operasi,

tanda-tanda

komplikasi, batasan aktivitas, menopause, therapy hormon dan


perawatan selanjutnya berhubungan denganterbatasnya imformasi.
1) Jelaskan bahwa tindakan histerektomi abdominal mempunyi
kontraindikasi yang sedikit tapi membutuhkan waktu yang

19

lama untuk puli, mengguanakan anatesi yang banyak dan


memberikan rasa nyeri yang sangat setelah operasi.
2) Jelaskan dan ajarkan cara perawatan luka bekas operasi yang
tepat
3) Motivasi klien melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
4) Jelaskan efek dari pembedahan terhadap menstruasi dan
ovulasi
5) Jelaskan aktivitas yang tidak boleh dilakukan.
6) Jelaskan bahwa pengangkatan uterus secara total menyebabkan
tidak bisa hamil dan menstruasi
7) Jika klien memakai therapy estrogen maka ajari klien :

Bahwa estrogen itu biasanya diberikan dengan dosis renda,


dengan sirklus penggunaannya adalah selama 5 hari
kemudian berhenti selama dua hari begitu seterusnya
sampai umur menopause.

Diskusi

tentang

rasional

penggunaan

therapy

yaitu

memberikan rasa sehatdan mengurangi resiko osteoporosis

Jelaskan resiko penggunaan therapy

Ajarkan untuk melapor jika terjadi perubahan sikap


( depresi ), tan da troboplebitis, retensi cairan berlebihan,
kulit

kuning,rasa

mual/muntah,

pusing

dan

sakit

kepala,rambut rontok, gangguan penglihatan,benjolan pada


payudara.

DAFTAR PUSTAKA
Rasjidi, Imam. 2008. Manual Histerektomi. Jakarta: EGC
Kasdu, Dini. 2008. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa Swara
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jilid 2. Edisi 2. Jakarta: EGC.
20

Leveno, Kenneth J . 2009. Obstetric wiliam. Jakarta : EGC.


Bagian obstetri & gineekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Bandung : Elstar
Friedman, Borten, Chapin. 1998. Seri skema Diagnosa & penatalaksanaan
Ginekologi Edisi 2. Jakarta : Bina Rupa Aksara
Saifudin, Abdul Bari, dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
& JNKKR-POGI.
Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku saku Keperawatan, edisi 8. EGC. Jakarta
http://jama.ama-assn.org/content/291/12/1526.full.pdf+html
http://www.nature.com/bjc/journal/v90/n9/full/6601763a.html

21

Anda mungkin juga menyukai