Anda di halaman 1dari 18

III.

Analisis Masalah
1. a. Bagaimana anatomi, fisiologi, dan histologi sistem respirasi?
Jawab : (berli,ranty,friska)
b. Apa penyebab sesak nafas bertambah berat sejak 3 hari yang lau pada kasus ini?
Bagaimana mekanismenya?
Jawab : (dewi,vidro,vera)
Asapmengiritasi jalan nafas hipersekresi lendir dan inflamasi.
Karena iritasi yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan selsel goblet meningkat jumlahnyafungsi silia menurun dan lebih banyak lendir
yang dihasilkanSebagai akibat bronkiolus dapat menjadi menyempit dan
tersumbat Sesak nafas .
Pada orang normal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal,tekanan
yang menarik jaringan paru akan berkurang ,sehingga saluran-saluran pernafasan
bagian bawah paru akan tertutup.
Pada penderita bronchitis kronik dan emfisema, saluran-saluran pernafasan
tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak tertutup. Akibat cepatnya saluran
pernafasan tertutup serta dinding alveoli yang rusak, akan menyebabkan ventilasi
tidak seimbang..Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan
ventilasi kurang atau tidak ada, akan tetapi perfusi baik ,sehingga penyebaran
udara pernafasan maupun aliran darah ke alveoli tidak sama dan merata , atau
dapat dikatakan juga tidak ada keseimbangan antara ventilasi dan perfusi di
alveoli yang akhirnya menimbulkan hipoksia dan sesak nafas.
c. Apa saja macam-macam sesak nafas hebat pada kasus ini?
Jawab: (chika,berli,rini)
d. Apa dampak sesak nafas hebat pada kasus ini ?
Jawab: (adri,dewi,chika)
e. Bagaimana hubungan jenis kelamin & umur dengan sesak nafas hebat pada kasus
ini ?
Jawab : (rini,chika,adri)

f. Bagaimana faktor yang memperberat sesak nafas hebat pada kasus ini?
Jawab : (vera,adri,dewi)
2. a. Apa penyebab batuk kronik dengan dahak? Bagaimana mekanismenya?
Jawab: ( friska,vera,ranty)
Asapmengiritasi jalan nafas hipersekresi lendir dan inflamasi. Karena iritasi
yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel goblet
meningkat jumlahnyafungsi silia menurun dan lebih banyak lendir yang
dihasilkan Dahak Batuk sebagai kompensasi banyak mucus (Batuk dengan
Dahak)
Dahak/ sputum diproduksi sel goblet dan epitel untuk mengikat kotoran/ benda
asing yang masuk ke dalam saluran napas agar lebih mudah dikeluarkan oleh
silia.
b. Bagaimana hubungan cuaca dingin dengan keluhan pada kasus ini ?
Jawab : (adri,rini,vidro)
c. Apa saja macam-macam dahak?
Jawab : (ranty,siska,berly)
Adapun dahak yang diproduksi di tenggorokan memiliki kandungan zat
kimia yang bervariasi tergantung iklim, genetik dan kondisi sistem pertahanan
tubuh. Umumnya berupa larutan kental yang mengandung gel yang merupakan
larutan glicoprotein, imunoglobin, lipid, dll. Warna dahak mengindikasikan
parahnya gejala penyakit batuk:
1. Dahak yang sehat warnanya bening atau putih
2. Dahak berwarna kuning pertanda gejala demam batuk pilek biasa
3. Dahak berwarna hijau pertanda adanya indikasi pneumonia
4. Dahak berwarna coklat pertanda perokok berat
5. Dahak bercampur darah pertanda TBC
3.

a. Apa saja kandungan rokok ?


Jawab :(vidro,friska,siska)

1. Ammonia : Digunakan untuk meningkatkan tingkat absorpsi nikotin. Zat kimia


ini adalah zat yang digunakan untuk membersihkan toilet
2. Arsenik :

Digunakan sebagai pestisida tanaman tembakau. Zat kimia ini terus


menempel pada tembakau yang sudah menjadi rokok. Arsenik juga
digunakan untuk membunuh tikus.

3. Cadmium : Campuran logam yang terdapat pada tembakau. Jika batereimu


lemah, gunakan Cadmium untuk me-recharge-nya.
4. Formaldehyde :

Terdapat pada asap rokok. Gas tak berwarna ini biasanya


digunakan untuk mengawetkan mayat.

5. Aseton :

Diproduksi dari hasil pembakaran rokok. Digunakan untuk


membersihkan toilet juga.

6. Butane :

Diproduksi dari korek api.

7. Propylene Glycol : Digunakan pada rokok agar tetap kering. Dapat menambah
kecepatan pengiriman nikotin untuk menghancurkan otak.
8. Turpentine :

Digunakan pada rokok menthol. Digunakan juga untuk


melukis dan mempernis kayu.

9. Benzene :

Dihasilkan dari pembakaran rokok. Bisa ditemukan juga


pada pestisida dan gasoline

Ada 3 jenis bahan kimia beracun yang paling mematikan di dalam asap rokok.
Bahan tersebut adalah tar, nikotin dan karbon monoksida. Tar dapat mengiritasi paru-paru
dan menyebabkan kanker. Nikotin adalah racun yang menyebabkan kecanduan. Zat yang
dapat bergabung dengan zat beracun lain ini dapat menyebabkan penyempitan pembuluh
darah. Sedangkan karbon monoksida adalah gas beracun yang menghalangi masuknya
oksigen ke dalam tubuh.
b. Dampak rokok bagi tubuh ?
Jawab : (berly rini friska)

CO, Tar, dan Nikotin tersebut berpengaruh terhadap syaraf yang menyebabkan :
- Gelisah, tangan gemetar (tremor)
- Cita rasa / selera makan berkurang
- Ibu-ibu hamil yang suka merokok dapat kemungkinan keguguran kandungannya
Tar dan Asap Rokok
Tar dan asap rokok merangsang jalan napas, dan tar tersebut tertimbun
disaluran itu yang menyebabkan :
- Batuk-batuk atau sesak napas
- Tar yang menempel di jalan napas dapat menyebabkan kanker jalan napas, lidah
atau bibir
Nikotin
Nikotin merangsang bangkitnya adrenalin hormon dari anak ginjal yang
menyebabkan :
- Jantung berdebar-debar
- Meningkatkan tekanan darah serta kadar kholesterol dalam darah,
tang erat dengan terjadinya serangan jantung
Gas CO (Karbon Mono Oksida)
Gas CO juga berpengaruh negatif terhadap jalan napas dari pembuluh darah.
Karbon mono oksida lebih mudah terikat pada hemoglobin daripada oksigen
Oleh sebab itu, darah orang yang kemasukan CO banyak, akan berkurang daya

angkutnya bagi oksigen dan orang dapat meninggal dunia karena keracunan karbon
mono oksida. Pada seorang perokok tidak akan sampai terjadi keracunan CO, namun
pengaruh CO yang dihirup oleh perokok dengan sedikit demi sedikit, dengan lambat
namun pasti akan berpengaruh negatif pada jalan napas dan pada pembuluh darah.
c. Bagaimana hubungan merokok dengan keluhan Tn X ? jelaskan mekanismenya !
Jawab : (rini,adri,vera)
Asapmengiritasi jalan nafas hipersekresi lendir dan inflamasi. Karena
iritasi yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel
goblet meningkat jumlahnyafungsi silia menurun dan lebih banyak lendir yang
dihasilkanSebagai

akibat

bronkiolus

dapat

menjadi

menyempit

dan

tersumbat Sesak nafas .


Asapmengiritasi jalan nafas hipersekresi lendir dan inflamasi. Karena
iritasi yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel
goblet meningkat jumlahnyafungsi silia menurun dan lebih banyak lendir yang
dihasilkanBatuk dengan Dahak.
Alveoli yang berdekatan dengan bronkiolus dapat menjadi rusak dan
membentuk fibrosis, mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar yang
berperan penting dalam menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Pasien
kemudian menjadi lebih rentan terhadap infeksi pernapasan. Penyempitan
bronkial lebih lanjut terjadi sebagai akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam
jalan napas. Pada waktunya mungkin terjadi perubahan paru yang ireversibel,
kemungkinan mengakibatkan emfisema dan bronkiektasis.
d. Bagaimana pandangan islam tentang merokok ?
Jawab : (chika,vera,rini)
Sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Taala- telah memerintahkan kepada
hamba-Nya untuk memakan dengan makanan yang halal dari rizki yang Allah
-Subhanahu wa Taala- telah berikan kepada hamba-Nya, Allah -Subhanahu wa
Taala- berfirman yang artinya:

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di
bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena
sesungguhnya syaithon itu adalah musuh yang nyata bagimu (QS. AlBaqarah:168)
Dan juga Allah -Subhanahu wa Taala- berfirman pada ayat yang lain.

Artinya:
Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu
(Al-Ayah)
Maka jelaslah 2 ayat di atas tersebut perintah dari Allah -Subhanahu wa Taalakepada hamba-Nya untuk makan makanan yang halal juga yang baik yang tidak
ada kemudharatan atau bahaya bagi badan atau menyakiti tetangga atau menyianyiakan harta karena Allah Subhanahu wa Taala mengharamkan segala sesuatu
yang buruk yang dapat mendatangkan kemudharatan, Allah Subhanahu wa Taala
berfirman yang artinya:
Dan Rasul menghalalkan yang baik bagi mereka dan mengharamkan bagi
mereka segala yang buruk. (QS. Al-Araf:157)
Diantara kemudharatan pada zaman sekarang ini yang banyak dari kaum
muslimin lalai dari padanya, baik dari kalangan pemuda ataupun yang dewasa
yang kebanyakan dari mereka tidak mengetahui keburukan-keburukannya adalah
apa yang terdapat pada rokok.
Sehingga tidak sedikit dari meteka yang secara terang-terangan merokok di depan
orang banyak tanpa mengenal rasa malu, mereka tidak menjaga kehormatankehormatan orang-orang yang berada di sekelilingnya, sehingga mereka
menganggap ini merupakan suatu hal yang biasa. Padahal sudah jelas bahwasanya
rokok merupakan sesuatu yang haram dan juga merupakan sesuatu yang buruk

yang dapat mendatangkan bahaya bagi diri dia sendiri dan bagi orang lain. Dari
Said Al-Khudriy Radliallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda:

Artinya:
Tidak boleh memberi mudharat (kepada orang lain) dan tidak boleh saling
menimpakan mudharat satu sama lain (HR. Ibnu Majah dan Ad-Daruqutni dll
dan hadits hasan)
4. Bagaimana interpretasi dan mekanisme dari:
a. Keadaan umum?
Jawab : (siska,chika,adri)
b. TD 130/85 ?
Jawab : (dewi,berly,chika)
c. RR 28/ minute?
Jawab : (vera,berly,dewi)
RR : 28 x/menit = takipneu
Normal : 16-24 x/menit
Mekanisme :
Rokok/iritan lain mengiritasi saluran nafas mudah terjadi infeksi
dinding bronkial meradang dan menebal obstruksi jalan nafas hipoventilasi
alveolus takipneu.
d. Temperatur 380 C?
Jawab : (ranty,vidro,siska)
e. Thorax (+ cara pemeriksaan) Terdapat penurunan batas paru hepar dan terdapat
wheezing ekspirasi ?
Jawab : (siska,ranty.vidro)
f. Pemeriksaan Laboratorium
jawab : (friska,siska,ranty)
- Hb : 14,5 gr%
Jawab :

Dalam batas normal


Normal :

: 13,5 17 g%
: 12 15 g%

- Leukosit : 12.500/mm3
Meningkat
Normal

: 5000-11000

- LED : 30 mm/jam
Meningkat
Normal

<50 tahun : 0-15 mm/jam


>50 tahun : 0-20 mm/jam
<50 tahun : 0-20 mm/jam
>50 tahun : 0-30 mm/jam

g. RO Thorax ?
- Hiperlusensi
- Peningkatan Corakan pembuluh darah
Jawab : (vidro,friska,vera)
h. Spirometry (+ cara pemeriksaan)?
FEV1% = 45%, FEV1/FVC% = 60%
Jawab : (berly,vera,friska)
Obstruksi Reversible Parsial
Derajat I

VEP1 / KVP < 70 %

(PPOK

VEP1 80% Prediksi

Ringan)

5. Bagaimana cara mendiagosis pada kasus ini?


Jawab : (dewi,rini,adri)

Penderita COPD akan datang ke dokter dan mengeluhkan sesak nafas,


batuk-batuk kronis, sputum yang produktif, faktor resiko (+). Sedangkan COPD
ringan dapat tanpa keluhan atau gejala. Dapat ditegakkan dengan cara :1
1.

Anamnesis
Anamnesis riwayat paparan dengan faktor resiko, riwayat penyakit
sebelumnya, riwayat keluarga PPOK, riwayat eksaserbasi dan perawatan di
RS sebelumnya, komorbiditas, dampak penyakit terhadap aktivitas, dll.

2.

Pemeriksaan Fisik, dijumpai adanya :

Pernafasan pursed lips

Takipnea

Dada emfisematous atu barrel chest

Tampilan fisik pink puffer atau blue bloater

Pelebaran sela iga

Hipertropi otot bantu nafas

Bunyi nafas vesikuler melemah

Ekspirasi memanjang

Ronki kering atau wheezing

Bunyi jantung jauh

3.

Pemeriksaan Foto Toraks, curiga PPOK bila dijumpai kelainan:

Hiperinflasi

Hiperlusen

Diafragma mendatar

Corakan bronkovaskuler meningkat

Bulla

Jantung pendulum

4.

Uji Spirometri, yang merupakan diagnosis pasti, dijumpai :

VEP1 < KVP < 70%

Uji bronkodilator (saat diagnosis ditegakkan) : VEP 1 paska


bronkodilator < 80% prediksi

5.

Uji Coba kortikosteroid

6.

Analisis gas darah

Semua pasien dengan VEP1 < 40% prediksi

Secara klinis diperkirakan gagal nafas atau payah jantung kanan

6. Bagaimana DD pada kasus ini?


Jawab : (chika,adri,rini)

Onset
Riwayat

PPOK
usia pertengahan
lama merokok

Asma
usia dini

CHF
Usia tua atau

alergi, rintis dan

pertengahan
Riwayat hipertensi

atau eksim
Riyawat asma
Batuk dengan

dalam keluarga
Gejala bervariasi

dahak, Sesak

dari hari ke hari

terutama pada cuaca

Gejala pada waktu

Pemeriksaan Fisik

dingin.
Hipersonor ,

malam/dini hari
Wheezing

Ronki basah halus

Radiologi

wheezing
Hiperinflasi,

Kebanyakan normal

di basal paru
pembesaran jantung

Keluhan

Hiperlusen,
Hambatan aliran

Diafragma mendatar
umumnya
umumnya reversibel

udara

ireversibel

7. Bagaimana diagnosis pasti pada kasus ini?


Jawab : (adri,chika,dewi)

sesak

dan edema paru

8. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini?


Jawab : (rini,dewi,chika)
Adapun tujuan dari penatalaksanaan COPD ini adalah :1
Mencegah progesifitas penyakit
Mengurangi gejala
Meningkatkan toleransi latihan
Mencegah dan mengobati komplikasi
Mencegah dan mengobati eksaserbasi berulang
Mencegah atau meminimalkan efek samping obat
Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru
Meningkatkan kualitas hidup penderita
Menurunkan angka kematian
Program berhenti merokok sebaiknya dimasukkan sebagai salah satu tujuan
selama tatalaksana COPD.5
Tujuan tersebut dapat dicapai melalui 4 komponen program tatalaksana, yaitu :1

1.

Evaluasi dan monitor penyakit

PPOK merupakan penyakit yang progresif, artinya fungsi paru akan menurun
seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, monitor merupakan hal yang
sangat penting dalam penatalaksanaan penyakit ini. Monitor penting yang
harus dilakukan adalah gejala klinis dan fungsi paru.
Riwayat penyakit yang rinci pada pasien yang dicurigai PPOK atau pasien
yang telah di diagnosis PPOK digunakan untuk evaluasi dan monitoring
penyakit :

Pajanan faktor resiko, jenis zat dan lamanya terpajan

Riwayat timbulnya gejala atau penyakit

Riwayat keluarga PPOK atau penyakit paru lain, misalnya asma, tb paru

Riwayat eksaserbasi atau perawatan di rumah sakit akibat penyakit paru


kronik lainnya

Penyakit komorbid yang ada, misal penyakit jantung, rematik, atau


penyakit-penyakit yang menyebabkan keterbattasan aktifitas

Rencanakan pengobatan terkini yang sesuai dengan derajat PPOK

Pengaruh penyakit terhadap kehidupan pasien seperti keterbatasan


aktifitas, kehilangan waktu kerja dan pengaruh ekonomi, perasaan depresi /
cemas

Kemungkinan untuk mengurangi faktor resiko terutama berhenti merokok

Dukungan dari keluarga

2.

Menurunkan faktor resiko


Berhenti merokok merupakan satu-satunya intervensi yang paling efektif
dalam mengurangi resiko berkembangnya PPOK dan memperlambat
progresifitas penyakit.
Strategi untuk membantu pasien berhenti merokok 5 A :
1).

Ask (Tanyakan)
Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi semua perokok pada setiap
kunjungan

2).

Advise (Nasehati)

Memberikan dorongan kuat untuk semua perokok untuk berhenti merokok


3).

Assess (Nilai)
Memberikan penilaian untuk usaha berhenti merokok

4).

Assist (Bantu)
Membantu pasien dengan rencana berhenti merokok, menyediakan
konseling praktis, merekomendasikan penggunaan farmakoterapi

5).

Arrange (Atur)
Jadwal kontak lebih lanjut

3.

Tatalaksana PPOK stabil

Terapi Farmakologis
a.

Bronkodilator

Secara inhalasi (MDI), kecuali preparat tak tersedia / tak


terjangkau

Rutin (bila gejala menetap) atau hanya bila diperlukan (gejala


intermitten)

3 golongan :
Agonis

-2:

fenopterol,

salbutamol,

albuterol,

terbutalin, formoterol, salmeterol


Antikolinergik:

ipratropium

bromid,

oksitroprium

bromid
Metilxantin: teofilin lepas lambat, bila kombinasi -2

dan steroid belum memuaskan

Dianjurkan bronkodilator kombinasi daripada meningkatkan dosis


bronkodilator monoterapi

b.

Steroid
-

PPOK yang menunjukkan respon pada uji


steroid

PPOK dengan VEP1 < 50% prediksi (derajat


III dan IV)

Eksaserbasi akut

c.

Obat-obat tambahan lain


Mukolitik

(mukokinetik,

mukoregulator) : ambroksol, karbosistein, gliserol iodida

Antioksidan : N-Asetil-sistein

Imunoregulator (imunostimulator,
imunomodulator): tidak rutin

Antitusif : tidak rutin

Vaksinasi

influenza,

pneumokokus

Terapi Non-Farmakologis
a.

Rehabilitasi : latihan fisik, latihan endurance,


latihan pernapasan, rehabilitasi psikososial

b.

Terapi oksigen jangka panjang (>15 jam sehari):


pada PPOK derajat IV, AGD=
PaO2 < 55 mmHg, atau SO2 < 88%

dengan atau tanpa hiperkapnia

PaO2 55-60 mmHg, atau SaO2 <

88% disertai hipertensi pulmonal, edema perifer karena gagal


jantung, polisitemia
Pada pasien PPOK, harus di ingat, bahwa pemberian oksigen harus
dipantau

secara ketat. Oleh karena, pada pasien PPOK terjadi

hiperkapnia kronik yang menyebabkan adaptasi kemoreseptorkemoreseptor central yang dalam keadaan normal berespons terhadap
karbon dioksida. Maka yang menyebabkan pasien terus bernapas
adalah rendahnya konsentrasi oksigen di dalam darah arteri yang terus
merangsang kemoreseptor-kemoreseptor perifer yang relatif kurang
peka. Kemoreseptor perifer ini hanya aktif melepaskan muatan apabila
PO2 lebih dari 50 mmHg, maka dorongan untuk bernapas yang tersisa
ini akan hilang. Pengidap PPOK biasanya memiliki kadar oksigen

yang sangat rendah dan tidak dapat diberi terapi dengan oksigen
tinggi. Hal ini sangat mempengaruhi koalitas hidup. Ventimask adalah
cara paling efektif untuk memberikan oksigen pada pasien PPOK.
c.

Nutrisi

d.

Pembedahan: pada PPOK berat, (bila dapat


memperbaiki fungs paru atau gerakan mekanik paru)

DERAJAT
Semua

Penatalaksanaan menurut derajat PPOK1

KARAKTERISTIK

derajat

Derajat I

VEP1 / KVP < 70 %

a.

(PPOK

VEP1 80% Prediksi

Ringan)

REKOMENDASI PENGOBATAN
Hindari faktor pencetus
Vaksinasi influenza
Bronkodilator kerja singkat (SABA,
antikolinergik kerja pendek) bila perlu

b.

Pemberian antikolinergik kerja lama


sebagai terapi pemeliharaan
Pengobatan reguler Kortikosteroid

Derajat II

VEP1 / KVP < 70 %

(PPOK

50% VEP1 80%

dengan bronkodilator:

sedang)

Prediksi

a.

dengan

1.

atau

inhalasi bila uji

Antikolinergi steroid positif


k kerja lama sebagai

tanpa gejala

terapi pemeliharaan

Derajat III

VEP1 / KVP < 70%;

(PPOK

30% VEP1

Berat)

prediksi
Dengan

50%

b.

LABA

c.

Simptomatik
Rehabilitasi
Pengobatan reguler Kortikosteroid

2.
1.

dengan 1 atau lebih inhalasi bila uji


bronkodilator:

atau

tanpa

a.

steroid

Antikolinergi atau eksaserbasi


k kerja lama sebagai berulang

gejala

terapi pemeliharaan
b.

positif

LABA

Simptomatik

c.

Rehabilitasi
Pengobatan reguler dengan 1 atau

2.
1.

Derajat IV

VEP1 / KVP < 70%;

(PPOK

VEP1 < 30% prediksi

lebih bronkodilator:

sangat berat)

atau gagal nafas atau

a.

gagal jantung kanan

Antikolinergik

kerja

lama

sebagai terapi pemeliharaan


b.

LABA

c.

Pengobatan komplikasi

d.

Kortikosteroid
memberikan

respons

inhalasi

bila

klinis

atau

eksaserbasi berulang
2.

Rehabilitasi

3.

Terapi oksigen jangka


panjang bila gagal nafas

pertimbangkan terapi bedah


4.

Tatalaksana PPOK eksaserbasi


Penatalaksanaan PPOK eksaserbasi akut di rujmah : bronkodilator seperti
pada PPOK stabil, dosis 4-6 kali 2-4 hirup sehari. Steroid oral dapat diberikan
selama 10-14 ahri. Bila infeksi: diberikan antibiotika spektrum luas (termasuk
S.pneumonie, H influenzae, M catarrhalis).
Terapi eksaserbasi akut di rumah sakit:

Terapi oksigen terkontrol, melalui kanul nasal atau venturi mask

Bronkodilator: inhalasi agonis 2 (dosis & frekwensi ditingkatkan) +


antikolinergik.

Pada

eksaserbasi

akut

berat:

aminofilin

mg/kgBB/jam)

Steroid: prednisolon 30-40 mg PO selama 10-14 hari.


Steroid intravena: pada keadaan berat

Antibiotika terhadap S pneumonie, H influenza, M catarrhalis.

Ventilasi mekanik pada: gagal akut atau kronik

(0,5

Indikasi rawat inap :

Eksaserbasi sedang dan berat

Terdapat komplikasi

Infeksi saluran napas berat

Gagal napas akut pada gagal napas kronik

Gagal jantung kanan

Indikasi rawat ICU :


Sesak berat setelah penanganan adekuat di ruang gawat darurat atau ruang
rawat.
Kesadaran menurun, letargi, atau kelemahan otot-otot respirasi
Setelah pemberian oksigen tetapi terjadi hipoksemia atau perburukan PaO 2
> 50 mmHg memerlukan ventilasi mekanik (invasif atau non invasif)

9. Bagaimana komplikasi pada kasus ini?


Jawab : (vera,vidro,berly)
1. Gagal nafas,
2. kor pulmonal,
3. septikemia Penyakit sistemik yg berhubungan dengan adanya dan bertahannya
mikroorganisme pathogen atau toksnnya di dalam darah,
10. Bagaimana prognosis pada kasus ini?
Jawab : (friska,berly,ranty)
Dubia, tergantung dari stage / derajat, penyakit paru komorbid, penyakit
komorbid lain.
Berdasarkan Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD)
2007, dibagi atas 4 derajat :
1.

Derajat I: COPD ringan

Dengan atau tanpa gejala klinis (batuk produksi sputum). Keterbatasan aliran
udara ringan (VEP1 / KVP < 70%; VEP1 > 80% Prediksi). Pada derajat ini, orang
tersebut mungkin tidak menyadari bahwa fungsi parunya abnormal.
2.

Derajat II: COPD sedang


Semakin memburuknya hambatan aliran udara (VEP1 / KVP < 70%; 50% < VEP1
< 80%), disertai dengan adanya pemendekan dalam bernafas. Dalam tingkat ini
pasien biasanya mulai mencari pengobatan oleh karena sesak nafas yang
dialaminya.

3.

Derajat III: COPD berat


Ditandai dengan keterbatasan / hambatan aliran udara yang semakin memburuk
(VEP1 / KVP < 70%; 30% VEP1 < 50% prediksi). Terjadi sesak nafas yang
semakin memberat, penurunan kapasitas latihan dan eksaserbasi yang berulang
yang berdampak pada kualitas hidup pasien.

4.

Derajat IV: COPD sangat berat


Keterbatasan / hambatan aliran udara yang berat (VEP 1 / KVP < 70%; VEP1 <
30% prediksi) atau VEP1 < 50% prediksi ditambah dengan adanya gagal nafas
kronik dan gagal jantung kanan.

11. Bagaimana KDU pada kasus ini?


Jawab : (siska, ranty,vidro)