Anda di halaman 1dari 30

Laporan Tutorial Skenario D

Blok XI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Blok Sistem Respirasi adalah blok kesebelas pada semester IV dari
Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Palembang.
Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario D
yang memaparkan kasus Ali berusia 15 tahun yang mengalami keluhan
utama sukar menelan sejak 2 hari yang disertai batuk, demam tinggi dan
ada pembesaran kelenjar dibawah rahang bawah kanan dan kiri. Gejala
seperti ini dialami setiap 2 3 bulan dan membaik setelah diobati.

1.2

Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari
system pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan
metode analisis dan pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Data Tutorial

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 1

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Laporan Tutorial 6
Skenario C
Tutor
Moderator
Sekretaris Meja
Sekretaris Papan
Waktu

:
:
:
:
:

dr. Achmad Azhari, DAHK


Shinta Anggraini
Tri Widyastuti
Rizki Amelia
Selasa, 6 April 2010
Kamis, 8 April 2010

Rule tutorial

: 1. Ponsel dalam keadaan nonaktif atau diam


2. Tidak boleh membawa makanan dan minuman
3. Angkat tangan bila ingin mengajukan pendapat
4. Izin terlebih dahulu bila ingin keluar masuk
ruangan

2.2

Skenario
Ali, umur 15 tahun, datang ke dokter dengan keluhan utama merasa
sakit dan sukar menelan, sejak 2 hari yang lalu. Gejala tersebut disertai
batuk, demam tinggi dan ada pembesaran kelenjar dibawah rahang bawah
kanan dan kiri.
Ali menderita gejala seperti ini setiap 2 - 3 bulan dan gejala membaik
setelah berobat ke Puskesmas.
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum
Tampak sakit sedang, compos mentis
Vital Sign

: T : 39,10C, N : 112 x/menit reguler, TD : 100/70Hg,


RR : 24 x/menit.

Pemeriksaan Leher : teraba pembesaran kelenjar submandibular


Status THT
Telinga

: membrana timpani utuh, refleks cahaya +/+

Hidung

: cavum nasi = lapang, mukosa normal, massa -/-

Tenggorokan

: faring kemerahan, lateral band, dan granula membesar


Tonsil T3/T3, detritus +/+, kripta melebar

2.3

Seven Jump Step

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 2

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

2.3.1 Klarifikasi Istilah


1.

batuk (cough)
Eksplusi udara tiba-tiba sambil mengeluarkan udara dari paru-paru
membantu untuk membersihkan udara dari mukus dan iritan.

2.

demam tinggi
Peningkatan suhu basal tubuh diatas 370C.

3.

sukar menelan (dysphagia)


Suatu gejala atau keluhan yang diakibatkan adanya di dalam saluran
pencernaan yang paling atas, yaitu nasopharynx dan esophagus.

4.

pembesaran kelenjar submandibular (cervical adenopathy)


Pembesaran kelenjar lymph pada daerah cervical atau di bawah
mandibula.

5.

membrana timpani
Membran yang mengelilingi fenesta coclecnis.

6.

detritus
Bahan partikulat yang dihasilkan dengan atau sisa pengausan atau
disintegrasi substansi atau jaringan.

7.

kripta melebar
Lipatan partikulat yang dihasilkan dengan atau sisa pengausan atau
disintegrasi substansi atau jaringan yang mengalami pelebaran.

8.

lateral band
Daerah di belakang pilar posterior yang berbatas tegas dengan dinding
pharynx lateral, kadang dapat menonjol, merah seperti daging

9.

tonsil
Massa jaringan yang bulat dan kecil khususnya jaringan lymphoid,
umumnya digunakan tersendiri untuk menunjukkan tonsil palatinum.

2.3.2 Identifikasi Masalah


1. Ali, 15 tahun, keluhan utama sakit dan sukar menelan sejak 2 hari lalu.
2. Gejala disertai batuk, demam tinggi, dan ada pembesaran kelenjar di
bawah rahang bawah kanan dan kiri.
3. Ali menderita gejala seperti ini setiap 2 3 bulan dan membaik setelah
diobati ke Puskesmas

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 3

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

4. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum : tampak sakit sedang, compos mentis
Vital Sign : T : 39,10C, N : 112 x/menit reguler, TD : 100/70Hg,
RR : 24 x/menit.
Pemeriksaan Leher : teraba pembesaran kelenjar submandibular
5. Status THT
Telinga

: membrana timpani utuh, refleks cahaya +/+

Hidung

: cavum nasi = lapang, mukosa normal, massa -/-

Tenggorokan

: faring kemerahan, lateral band, dan granula


membesar, tonsil T3/T3, detritus +/+, kripta
melebar

2.3.3

Analisis Masalah

1.

Organ apa yang terlibat pada kasus ini?

2.

Bagaimana anatomi dari organ yang terlibat pada Ali?

3.

Bagaimana fisiologi dari organ yang terlibat pada Ali?

4.

Bagaimana histologi organ yang terlibat pada Ali?

5.

Mengapa Ali mengalami sakit dan sukar menelan? (penyebab)

6. Bagaimana mekanisme sakit dan sukar menelan yang dialami Ali?


7. Bagaimana hubungan sukar menelan, batuk, dan demam yang dialami Ali?
8.

Mengapa terjadi pembesaran kelenjar di bawah rahang bawah kanan dan kiri
pada Ali?

9.

Bagaimana mekanisme terjadi pembesaran kelenjar di bawah rahang bawah


kanan dan kiri pada Ali?

10. Bagaimana anatomi kelenjar di bawah rahang bawah kanan dan kiri yang
terlibat pada Ali?
11. Bagaimana fisiologi dan histologi kelenjar di bawah rahang bawah kanan dan
kiri yang terlibat pada Ali?
12. Mengapa gejala sakit dan sukar menelan disertai batuk, demam tinggi dan
pembesaran kelenjar di bawah rahang bawah kanan dan kiri dialami Ali setiap
2 3 bulan?

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 4

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

13. Obat apa yang dapat digunakan untuk mengatasi gejala yang dialami oleh
Ali? (farmakokinetik dan farmakodinamik)
14. Bagaimana interpretasi dan mekanisme pemeriksaan fisik :
a. KU = tampak sakit sedang, compos mentis?
b. vital sign = T : 39,10C?
c. vital sign = N : 112 x/menit?
d. vital sign = TD : 100/70 mmHg?
e. vital sign = RR : 24 x/menit?
f. leher = teraba pembesaran kelenjar submandibular?
15. Bagaimana interpretasi status THT :
a. telinga : membrana timpani utuh, refleks cahaya +/+?
b. hidung : cavum nasi = lapang mukosa normal, massa -/-?
c. tenggorokan : faring kemerahan?
d. tenggorokan : lateral band dan glandula membesar?
e. tenggorokan : tonsil T3/T3?
f. tenggorokan : dentritus +/+?
g. tenggorokan : kripta melebar?
16. Bagaimana diagnosa bandingnya?
17. Bagaimana pemeriksaan penunjangnya?
18. Bagaimana diagnosis kerjanya?
19. Bagaimana penegakan diagnosis?
20. Bagaimana etiologinya (mikrobiologi)?
21. Bagaimana epidemiologinya?
22. Bagaimana faktor risikonya?
23. Bagaimana pemeriksaan lajutannya?
24. Bagaimana penatalaksanaannya?
25. Bagaimana komplikasi?
26. Bagaimana prognosisnya?
27. Bagaimana preventif & promotifnya?
28. Bagaimana padangan islam mengenai penyakit?
29. Berapakah tingkatan kompetensi dokter umum pada kasus ini?

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 5

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

2.3.4 Hipotesis
Ali, , 15 tahun, menderita sakit dan sukar menelan disebabkan oleh
tonsillopharyngitis cronic eksaserbasi acute.

Ali, , 15 tahun

Nasopharyngitis (sakit dan


sukar menelan)
Batuk
Demam tinggi
Pembesaran kelenjar
submandibula

Terinfeksi bakteri, virus,


mikoplasma, klamidia
Tonsillopharyngitis acute

Pengobatan tidak
adekuat
DD/ :
Angina Plaut Vincent
Tonsillitis Diphteria
Tonsillopharyngitis

Kemungkinan =
Bakteri :
Streptococcus hemolitikus grup
A
Streptococcus grup C dan G
Neisseria gonorrhoeae
Corynebacterium diptheriae
Virus :
Adenovirus
Rhinovirus
Coronavirus
Epstein-Barr Virus
Mikoplasma :
Mycoplasma pneumoniae
Klamidia :
Chlamydia pneumoniae

Proses peradangan
berulang
(tonsillopharyngitis
cronic eksaserbasi acute)
Epitel mukosa dan
jaringan limfoid terkikis

Jaringan lymphoid
digantikan
jaringan parut
Kerangka Konsep
:
yang mengalami
pengerutan
Kripta melebar dan diisi
detritus
Menembus kapsul tonsil
melekat di sekitar fosa
tonsilaris disertai
kelenjar lymph
submandibula membesar

Copyright Tutorial 6 FK UMP08

Page 6

Sakit dan sukar menelan

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

2.3.5 Learning Issue


Pokok Bahasan

What I Know

Tonsillopharyngitis

Ali, , 15 tahun,

cronic eksaserbasi

keluhan utama

acute

berupa sakit dan


sukar menelan

What I Dont Know

What I Have to

How I Will

(Learning Issue)
1. anatomi, histologi,

Prove
Ali, , 15 tahun

Learn
Text Book,

mengalami sakit

Pakar Lain

pharynx

dan sukar menelan

(internet)

2. mikrobiologi

karena mengalami

fisiologi, patologi

sejak 2 hari dengan 3. dysphagia


gejala ikutan

tonsillopharyngiti

4. anatomi, histologi,

s cronic

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 7

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

berupa batuk,
demam tinggi, dan

fisiologi, patologi

eksaserbasi acute.

kelenjar

pembesaran

submandibula

kelenjar

5. farmakokinetik dan

submandibula.

farmakodinamik
6. interpertasi
pemeriksaan fisik
dan THT
7. Tonsillopharyngitis
8. Tonsilitis Dipheria
9. Angina Plaut Vincent
10. Penatalaksanaan
11. Prognosis
12. Komplikasi
13. Rehabilitasi Medik
14. Pandangan Islam
tentang kesehatan
15. Kompetensi Dokter
Umum

2.3.6 Sintesis
1.

Organ apa yang terlibat pada kasus ini?


Jawab :
Mulut, Phaynx dan Tonsil

2.

Bagaimana anatomi dari organ yang terlibat pada Ali?


Jawab :
MULUT

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 8

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Gambar 2.1 Struktur Mulut


Ada 4 perbatasan mulut (cavum oris), yaitu :
1. Perbatasan anterior

: bibir.

2. Perbatasan posterior : arcus anterior.


3. Perbatasan superior : palatum durum & palatum mole.
4. Perbatasan inferior

: dasar mulut.

Isthmus faucial merupakan bagian perbatasan antara mulut (cavum oris)


dan oropharynx. Isthmus faucial akan naik secara simetris saat kita
mengucapkan "aaa".

Ada 3 perbatasan isthmus faucial, yaitu :


1. Perbatasan lateral

: lengkungan arcus anterior.

2. Perbatasan medial : uvula.


3. Perbatasan inferior : pangkal lidah.
PHARYNX

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 9

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Gambar 2.2 Anatomi pharynx potongan sagital


Ada 3 pembagian pharynx, yaitu :
1. Epipharynx (nasopharynx).
2. Mesopharynx (oropharynx).
3. Hypopharynx (laryngopharynx).
Terdapat granula lateral band pada dinding posterior pharynx. Granula
lateral band merupakan jaringan lymphoid dan bagian dari lingkaran
Waldeyer. Selain granula lateral band, lingkaran Waldeyer juga dibentuk
oleh adenoid, tonsilla palatina, dan tonsilla lingualis.
TONSIL

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 10

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Gambar 2.3 Anatomi tonsil potongan sagital


Tonsil berada dan menonjol dari fossa tonsillaris. Ada 3 perbatasan tonsil,
yaitu :
1. Perbatasan anterior

: arcus palatoglossus (arcus anterior).

2. Perbatasan posterior : arcus palatopharynx (arcus posterior).


3. Perbatasan lateral

: ruangan peritonsilair.

Ruangan peritonsilair berisi jaringan peritonsil dan m. Constrictus medius.


Tonsil terdiri atas jaringan lymfoid dengan banyak saluran (canaliculus)
yang bercabang-cabang dan saling berhubungan. Ujungnya berada pada
permukaan tonsil yang akan tampak seperti lubang.
Terdapat detritus pada ostia tonsil yang tampak seperti titik putih. Detritus
sendiri merupakan kumpulan leukocyte, epitel dan bakteri yang telah mati.

3.

Bagaimana fisiologi dari organ yang terlibat pada Ali?


Jawab :

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 11

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

MULUT

menerima makanan

memecah makanan menjadi zat-zat gizi

pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah.


pertahanan dari bakteri melalui ludah yang mengandung antibodi dan
enzim lisozim
PHARYNX
berperan dalam proses penelanan makanan
sebagai tempat pertemuan saluran dari hidung, mulut dan saluran
eustachii.
TONSIL
menghasilkan mukus yang sebagian besar terdiri dari lympocyte
pertahanan terhadap infeksi yang tersebar dari hidung, mulut, dan
tenggorok.
4.

Bagaimana histologi organ yang terlibat pada Ali?


Jawab :
MULUT
Rongga mulut dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk sebagai
pelindung, yang juga melapisi permukaan dalam bibir.
a. Bibir
Kulit bibir dilapisi epidermis, terdiri dari epitel berlapis gepeng
bertanduk. Di bawah terdapat dermis dengan kelenjar sebasea, folikel
rambut, dan kelenjar keringat.
Mukosa bibir dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Di
bawahnya terdapat lamina propia jaringan ikat yang merupakan padanan
dermis dari epidermis. Dalam submukosa, terdapat kelenjar labialis yang
tubuloasinar terdiri dari mukosa dan sedikit serosa bentuk bulan sabit.
b. Lidah

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 12

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Mukosa lidah terdiri dari epitel berlapis gepeng dan lamina propia tipis
berpapil yang mengandung lymphoid difus. Permukaan dorsal lidah
ditandai tonjolan mukosa disebut papila. Papila terdiri dari papila
filiformis dan papila fungiformis.

Gambar 2.5 Histologi anterio lidah pembesaran 40x pewarnaan H.E.


PHARYNX
Pharynx dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis. Lamina Propia dari
pharynx berisi kelenjar liur minor.

Gambar 2.6 Histologi Pharynx pembesaran 4x. Pewarnaan H.E.

TONSIL

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 13

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Tonsila lingualis merupakan kelompok kecil tonsila dengan kriptus


tonsilanya. Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk melapisi tonsila dan
kriptusnya membentuk invaginasi ke bagian dalam lamina propia. Di bawah
lamina propia, di bawah epitel berlapis gepeng, terdapat limfonoduli,
beberapa terdapat germinal center.
Dalam lamina propia, terdapat sel lemak jaringan adiposa dan asini
mukosa kelenjar lingualis posterior. Saluran keluar kecil kelenjar lingualis
menyatu membentuk duktus ekskretorius yang lebih besar, dan beberapa
bermuara ke kriptus tonsila dan permukaan lidah.
5.

Mengapa Ali mengalami sakit dan sukar menelan? (penyebab)


Jawab :
Terjadi peradangan pada pharynx dan tonsil akibat agen infeksi sehingga saat
terjadi proses penelanan makan Ali merasakan sakit dan sukar menelan.

6.

Bagaimana mekanisme sakit dan sukar menelan yang dialami Ali?


Jawab :

Makanan di kunyah dan


bercampur liur
membentukan bolus makanan
Bolus bergerak dari rongga
mulut melalui dorsum lidah

Kontraksi otot
intrinsik lidah

Agen infeksius (bakteri, virus,


mycoplasma, atau chlamydia)

Rongga lekukan dorsum lidah


diperluas menekan palatum
durum

Kontraksi
m.levator veli
palatine

Mengivasi mucosa pharynx

Bolus terdorong ke posterior

Terjadi inokulasi dari agen


infeksius di pharynx

Palatum mole dan bagian


dinding pharinx posterior
terangkat dan menutup
nasopharynx

Respon peradangan
(melibatkan nasopharynx,
uvula, dan palatum mole)

Terjadi dysphagia
Copyright Tutorial 6 FK UMP08
Page 14

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

7.

Bagaimana hubungan sukar menelan, batuk, dan demam yang dialami


Ali?
Jawab :

8.

Mengapa terjadi pembesaran kelenjar di bawah rahang bawah kanan


dan kiri pada Ali?
Jawab :
Karena ada penumpukan eksudat di membran-membran tonsil.

9.

Bagaimana mekanisme terjadi pembesaran kelenjar di bawah rahang


bawah kanan dan kiri pada Ali?
Jawab : Agen infeksius (bakteri, virus,
mycoplasma, atau chlamydia)
Peradangan pada
tonsil dan pharynx akut
Pengobatan inadekuat
Peradangan berulang
menjadi kronis
Epitel mukosa dan
jaringan limfoid terkikis
Jaringan lymphoid
digantikan jaringan parut
yang mengalami
pengerutan
Kripta melebar dan diisi
detritus
Menembus kapsul tonsil
melekat di sekitar fosa
tonsilaris disertai
kelenjar lymph
submandibula membesar
Page 15

Copyright Tutorial 6 FK UMP08

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

10. Bagaimana anatomi kelenjar di bawah rahang bawah kanan dan kiri
yang terlibat pada Ali?
Jawab :

Gambar 2.8 Anatomi Submandibular Gland


Keterangan : 1. parotid gland, 2. submandibular gland, 3. sublingual gland
Kelenjar submandibular dibagi menjadi lobus superfisialis dan profunda,
yang dipisahkan oleh m. Mylohyoid.
Bagian superfisialis lebih besar. M. mylohyoid terdapat pada bagian
dalam.
Bagian profunda merupakan terekcil. Sekresi dikirimkan ke ductus
Wharton di bagian superfisialis setelah berkaitan mengelilingi tepi
posterior m. mylohyoid dan ke permukaan superior lateral. Ductus
dilewati oleh n. lingualis, dan berakhir di caruncles sublingual di kedua
sisi dari frenulum lingualis bersama dengan saluran sublingual mayor
(Bartholin).

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 16

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

11. Bagaimana fisiologi dan histologi kelenjar di bawah rahang bawah


kanan dan kiri yang terlibat pada Ali?
Jawab :
FISIOLOGI
Sel-sel sekretori kelenjar submandibular memiliki fungsi yang berbeda.
Secara khusus, sel serosa menghasilkan amilase liur, yang membantu
pemecahan pati di mulut. Sel mukosa mengeluarkan musin yang membantu
pelumasan dari bolus makanan saat dikirimkan melalui kerongkongan. Sel-sel
mukosa yang paling aktif dan oleh karena itu produk utama dari kelenjar
submandibular adalah air liur kental.
Kelenjar asinus submandibular yang sangat aktif untuk sekitar 70% dari
volume air liur. Kelenjar parotis dan sublingual untuk 30% sisanya.
HISTOLOGI
Lobus mengandung lobulus lebih kecil, yang berisi adenomeres, unit-unit
yang keluar dari kelenjar. Setiap adenomere berisi satu atau lebih asinus, atau
alveoli, yang merupakan kelompok kecil sel-sel yang mengeluarkan produk
mereka ke sebuah saluran. Asinus dari masing-masing adenomere baik terdiri
dari sel-sel serosa atau lendir, dengan adenomeres serosa mendominasi.
Beberapa adenomeres lendir mungkin juga dibatasi dengan demilune serosa,
lapisan sel serosa mensekresi lisozim (menyerupai setengah bulan).
Seperti kelenjar eksokrin lainnya,

kelenjar

submandibular

dapat

diklasifikasikan oleh anatomi mikroskopis sel sekretori. Karena kelenjar yang


bercabang, dan karena tubulus membentuk cabang mengandung sel sekresi,
kelenjar submandibular diklasifikasikan sebagai kelenjar tubuloacinar
bercabang. Selanjutnya, karena sel-sel sekretori yang kedua serosa dan
mukosa jenis, kelenjar submandibular adalah kelenjar campuran, meskipun
sebagian besar serosa.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 17

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Gambar 2.9 Histologi Submandibular Gland


Keterangan :
1 - serous secretory unit
2 - mixed secretory unit
3 - intercalated excretory duct
4 - striated excretory duct
5 - interlobular excretory duct
6 - interlobular connective tissue septa
7 - mucous part of mixed secretory unit
8 - serous part (serous demilune) ofmixed secretory unit
12. Mengapa gejala sakit dan sukar menelan disertai batuk, demam tinggi
dan pembesaran kelenjar di bawah rahang bawah kanan dan kiri
dialami Ali setiap 2 3 bulan?
Jawab :
Karena terapi yang diberikan kepada Ali inadekuat, sehingga gejala berulang
pada Ali.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 18

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

13. Obat apa yang dapat digunakan untuk mengatasi gejala yang dialami
oleh Ali? (farmakokinetik dan farmakodinamik)
Jawab :
Untuk meringkan keluhan nyeri tenggorok di berikan gargles (obat kumur)
dan lozenges (obat hisap).
Untuk demam, dapat diberikan asetaminofen [paracetamol]
Farmakokinetik dan farmakodinamik :
Diabsobsi dengan cepat dan hampir sempurna dalam saluran cerna.
Konsetrasi dalam plasma mencapai puncak dalam 30 60 menit, waktu
paruh 2 jam setelah dosis teraupetik. Terdistribusi seragam ke hampir
seluruh cairan tubuh. Pengikatan obat ini pada protein plasma beragam;
hanya 20% 50% yang mungkin terikat pada konsentrasi yang ditemukan
selama intoksikasi akut. Setelah dosis teraupetik, 90% - 100% obat ini
ditemukan pada urin selama hari pertama, terutama setelah konjugasi
hepatik dengan asam glukoronat (60%), as. sulfat (35%), atau sistein (3%).
Asetaminofen mengalami N-hidroksilasi diperantarai sitokrom P450
membentuk N-asetil-benzokuinoneimin, suatu senyawa yang sangat
reaktif. Biasanya bereaksi dengan gugus sulfhidril pada glutation. Namun
setelah ingerti asetaminofen dosis besar, metabolit terbentuk dalam jumlah
cukup untuk menghilangkan glutation hepatik.
Untuk batuk diberikan pengobatan simptomatis, misalnya ekspektoran
(gliseril guayalokolat) atau antitusif untuk mengatasi batuk sedatif untuk
menenangkan pasien
14. Bagaimana interpretasi dan mekanisme pemeriksaan fisik :
a. KU = tampak sakit sedang, compos mentis?
Jawab :
Menunjukkan kondisi pasien lemah dengan tingkat keseriusan penyakit
sedang dengan tingkat kesadaran yang baik, sadar sepenuhnya, respon baik
dan dapat berinteraksi dengan sekeliling dengan GCS 15.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 19

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

b. vital sign = T : 39,10C?


Jawab :
< 350C

: hipotermia

350 37,80C

: normal

37,90 38,20C

: subpebris

38,30 41,50C

: pebris

> 41,60C

hiperpireksia

Pada Ali, dengan T : 39,10C tergolong pebris.


Mekanisme :
Pirogen endogen sitokin (IL-1,IL-6, TNF) aliran darah
hipotalamus

PGE2

meningkatkan

setpoint

(mengubah

termoregulator) peningkatan suhu tubuh demam


c. vital sign = N : 112 x/menit?
Jawab :
Bradikardia

: < 60 x/menit

Normal

: 60 100 x/menit

Takikardia

: >100 x/menit

Pada Ali dengan N : 112 x/menit menunjukkan Ali mengalami Takikardi.


Mekanisme :
Hipotensi aliran darah berkurang jantung melakukan kompensasi
dengan meningkatkan kerja jantung stroke volume meningkat
cardiac output meningkat takikardi
d. vital sign = TD : 100/70 mmHg?
Jawab :
Berdasarkan klasifikasi WHO, maka TD Ali : 100/70 tergolong hipotensi.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 20

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

e. vital sign = RR : 24 x/menit?


Jawab :
Nomal
f. leher = teraba pembesaran kelenjar submandibular?
Jawab :
Teraba massa yang agak keras di bawah mandibula yang pembesaran
kelenjarnya cepat dan disertai fluktuasi rasa nyeri.
15. Bagaimana interpretasi status THT :
a. telinga : membrana timpani utuh, refleks cahaya +/+?
Jawab :
Normal
b. hidung : cavum nasi = lapang mukosa normal, massa -/-?
Jawab :
Normal

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 21

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

c. tenggorokan : faring kemerahan?


Jawab :
Hiperemis pharynx yang menunjukkan adanya peradangan
d. tenggorokan : lateral band dan glandula membesar?
Jawab :
Lateral band :
Menunjukkan daerah di belakang pilar posterior yang berbatas tegas
dengan dinding faring lateral, kadang dapat menonjol, merah seperti
daging
Glandula membesar :
Menunjukkan adanya pembesaran kelenjar, terutama kelenjar lymph.
e. tenggorokan : tonsil T3/T3?
Jawab :
1. T 0 = Tonsil telah diangkat.
2. T 1 = Bila besarnya 1/4 jarak arkus anterior dan ovula.
3. T 2 = Bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan ovula.
4. T 3 = Bila besarnya 3/4 jarak arkus anterior dan ovula.
5. T 4 = Bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih.
Maka pada Ali, dengan hasil pemeriksaan T3/T3 menunjukkan tonsil kiri
dan kanan Ali telah mengalami pembesaran jarak arkus anterior dan
ovula.
f. tenggorokan : dentritus +/+?
Jawab :
Menunjukkan adanya bercak putih yang mengisi kripta tonsil yang terdiri
dari leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan, dan sisa-sisa
makanan yang tersangkut.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 22

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

g. tenggorokan : kripta melebar?


Jawab :
Menunjukkan

saat

folikel

mengalami

peradangan,

tonsil

akan

membengkak dan membentuk eksudat yang akan mengalir ke canal lalu


mengisi kripta. Karena terjadi penumpukan eksudat di kripta, maka
sebagai kompensasi, kripta melebar.
16. Bagaimana diagnosa bandingnya?
Jawab :
Indikator

Etiologi
Dysphagia
Sakit
tenggorokan
Batuk
Demam
Pembesaran
kelenjar lymph
Hiperemis
pharynx
Lateral band
Granula
Tonsil
Detritus
Kripta
melebar

Tonsillitis
Diphteria

Angina Plaut Vincent


(Stomatitis Ulsero
Membranosa)

Corynebacterium
diphteriae

Bakteri sprirochaeta
atau triponema

Dapat berupa
bakteri, virus,
mycoplasma, atau
chlamydia
+

+
+
(mencapai 400C)
+
(cervical
adenopathy
dan nyeri)

+
(subpebris)

+
(mencapai 390C)

+
+
(39,10C)

+
(bull neck)

+
(pembesaran
submandibula)

+
(pembesaran
submandibula)

+
+

+
+

+
(membengkak dengan
membran putih
keabuan di atasnya)

+
(T3/T3)

+/+

+
(membengkak
ditutupi bercak
putih kotor yang
meluas)
-

+/+

Tonsillopharyngitis
Tersering virus dan
bakteri
Streptoccocus
hemolitikus grup A
+

+
(membengkak)

Kasus

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 23

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

17. Bagaimana pemeriksaan penunjangnya?


Jawab :
- Pemeriksaan apusan tenggorokan
Dilakukan pembiakan apus tenggorokan di laboratorium untuk mengetahui
bakteri penyebabnya.

Leukositosis adalah peningkatan sel darah putih (leukosit) di atas nilai


normal. Nilai normal leukosit berbeda pada bayi, anak, dan dewasa.
Leukositosis dapat disebabkan oleh infeksi, radang (inflamasi), reaksi
alergi, keganasan, dan lain-lain.
Pada anak, leukositosis sebagian besar disebabkan infeksi bakteri,
namun bisa juga disebabkan infeksi virus. Untuk menentukan apakah
infeksi bakteri atau infeksi virus tetap mengacu pada klinis anak.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 24

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Keterangan:

Nilai normal tersebut dapat berbeda antar beberapa rumah sakit atau
laboratorium. Setiap rumah sakit dan laboratorium biasanya memiliki
nilai rujukan sendiri.

Gunakanlah nilai rujukan sesuai rumah sakit atau laboratorium tempat


anda periksa darah

18. Bagaimana diagnosis kerjanya?


Jawab :
Tonsillopharingitis cronic eksaserbasi acute.
19. Bagaimana penegakan diagnosis?
Jawab :
Anamnesis :
a. Sakit dan sukar menelan sejak 2 hari
b. Batuk
c. Demam tinggi
d. Pembesaran kelenjar di bawah rahang bawah kanan dan kiri
e. Riwayat penyakit berulang setiap 2-3 bulan, hilang setelah diobati
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum
Tampak sakit sedang, compos mentis
Vital Sign

T : 39,10C, N : 112 x/menit reguler, TD : 100/70Hg,

RR : 24 x/menit.
Pemeriksaan Leher : teraba pembesaran kelenjar submandibular
Status THT
Telinga

: membrana timpani utuh, refleks cahaya +/+

Hidung

: cavum nasi = lapang, mukosa normal, massa -/-

Tenggorokan : faring kemerahan, lateral band, dan granula membesar

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 25

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Tonsil T3/T3, detritus +/+, kripta melebar


20. Bagaimana etiologinya (mikrobiologi)?
Jawab :
Tonsilofaringitis biasanya disebabkan oleh virus, lebih sering disebabkan
oleh virus common cold (adenovirus, rhinovirus, influenza, coronavirus,
respiratory syncytial virus), tapi kadang-kadang disebabkan oleh virus
Epstein-Barr, herpes simplex, cytomegalovirus, atau HIV. Sekitar 30% kasus
disebabkan oleh bakteri. Group A -hemolytic streptococcus (GABHS)
adalah yang paling sering, namun Staphylococcus aureus, Streptococcus
pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae, dan Chlamydia pneumoniae juga
dapat menjadi penyebab.2
21. Bagaimana epidemiologinya?
Jawab :
Tonsilofaringitis dapat mengenai semua umur, dengan insiden tertinggi
pada anak-anak usia 5-15 tahun. Pada anak-anak, Group A streptococcus
menyebabkan sekitar 30% kasus tonsilofaringitis akut, sedangkan pada orang
dewasa hanya sekitar 5-10%. Tonsilofaringitis akut yang disebabkan oleh
Group A streptococcus jarang terjadi pada anak berusia 2 tahun ke bawah.
22. Bagaimana faktor risikonya?
Jawab :
Daya tahan tubuh menurun, baik local atau umum
Infeksi virus atau bakteri
Kelelahan, kedinginan
Usia 5 18 tahun
23. Bagaimana pemeriksaan lajutannya?
Jawab :
- Uji resistensi antigen dan antibodi
- Skrining terhadap bakteri streptokokus

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 26

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

24. Bagaimana penatalaksanaannya?


Jawab :
Untuk meringkan keluhan nyeri tenggorok di berikan gargles (obat kumur)
dan lozenges (obat hisap) atau asetaminofen.
Untuk demam, dapat diberikan asetaminofen [paracetamol]
Farmakokinetik dan farmakodinamik :
Diabsobsi dengan cepat dan hampir sempurna dalam saluran cerna.
Konsetrasi dalam plasma mencapai puncak dalam 30 60 menit, waktu
paruh 2 jam setelah dosis teraupetik. Terdistribusi seragam ke hampir
seluruh cairan tubuh. Pengikatan obat ini pada protein plasma beragam;
hanya 20% 50% yang mungkin terikat pada konsentrasi yang ditemukan
selama intoksikasi akut. Setelah dosis teraupetik, 90% - 100% obat ini
ditemukan pada urin selama hari pertama, terutama setelah konjugasi
hepatik dengan asam glukoronat (60%), as. sulfat (35%), atau sistein (3%).
Asetaminofen mengalami N-hidroksilasi diperantarai sitokrom P450
membentuk N-asetil-benzokuinoneimin, suatu senyawa yang sangat
reaktif. Biasanya bereaksi dengan gugus sulfhidril pada glutation. Namun
setelah ingerti asetaminofen dosis besar, metabolit terbentuk dalam jumlah
cukup untuk menghilangkan glutation hepatik.
Untuk batuk diberikan pengobatan simptomatis, misalnya ekspektoran
(gliseril gualokolat) atau antitusif untuk mengatasi batuk sedatif untuk
menenangkan pasien
Terapi Antibiotik
Pemberian antibiotik jika hasil pemeriksaan kultur positif pada usapan
tenggorokan, sedangkan pada penyebab virus tidak perlu diberikan
antibiotik karena tidak akan mempercepat waktu penyembuhan atau
mengurangi derajak keparahan.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 27

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Antibiotik pilihan, yaitu ;


a. Penisilin V oral 15-30 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari.
b. Benzatin penisilin G IM dosis tunggal dengan dosis 600.000 IU
(BB<30 kg) dan 1.200.000 IU (BB>30 kg).
Apabila hasil kultur kembali postif, maka pilihan obat berupa :
a. Obat oral klidamisin 20-30 mg/kgBB/haru selama 10 hari
b. Amoksisilin-kalvulanat 40 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis selama
10 hari
c. Injeksi Benzhantine penicillin G IM dosis tunggal 600.000 IU (BB<30
kg) atau 1.200.00 IU (BB>30 kg).
Tonsilektomi
Biasa dilakukan pada tonsillopharyngitis berulang atau kronis.
Indikator klinis yang digunakan yaitu kriteria Childrens Hospital of
Pittsburgh Study, yaitu :
a. 7 atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik
pada 1 tahun sebelumnya.
b. 5 atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi antibiotik setiap
tahun selama 2 tahun sebelumnya.
c. 3 atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi antibiotik setiap
tahun selama 3 tahun sebelumnya.
Keputusan tonsilektomi di Indonesia harus berdasarkan pada gejala dan
tanda yang terkait seperti hipertropi, obstruksi, dan infeksi kronis pada
tonsil dan struktur terkait
Tonsilektomi sedapat mungkin dihindarkan pada anak < 3 tahun. Bila
ada infeksi aktif, tonsilektomi haru di tunda hingga 2-3 minggu.
Pada kasus, Ali telah mengalami tonsillopharyngitis berulang dan telah
dikategorikan kronik karena pemberian antibiotik tidak adekuat dan
mengatasi masalah Ali. Di samping itu usia Ali telah 15 tahun, maka di dapat
diambil keputusan untuk tonsilektomi.
25. Bagaimana komplikasi?
Jawab :
- Abses peritonsil dan abses parafaring
-

Toksemia dan septicemia

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 28

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

Bronchitis

Nefritis akut

Miokarditis

Arthritis

26. Bagaimana prognosisnya?


Jawab :
Baik bila telah dilakukan tonsilektomi.
27. Bagaimana preventif & promotifnya?
Jawab :
Minum air cukup
Pola hidup sehat
Hindari konsumsi alkohol, rokok, dan air dingin
Cuci tangan.
28. Bagaimana padangan islam mengenai penyakit?
Jawab :
Keberadaan berbagai penyakit termasuk sunnah kauniyyah yang
diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Penyakit-penyakit itu merupakan
musibah dan ujian yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas hambahamba- Nya. Dan sesungguhnya pada musibah itu terdapat kemanfaatan bagi
kaum mukminin. Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu 'anhu berkata: Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh mengagumkan perkara
seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan. Yang
demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika
ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur. Maka yang demikian itu baik
baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu
baik baginya." (HR. Muslim no. 2999)
Termasuk keutamaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang diberikan kepada
kaum mukminin, Dia menjadikan sakit yang menimpa seorang mukmin

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 29

Laporan Tutorial Skenario D


Blok XI

sebagai penghapus dosa dan kesalahan mereka. Sebagaimana tersebut dalam


hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim ditimpa
gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan
kesalahan-kesalahan

nya

sebagaimana

pohon

menggugurkan

daun-

daunnya." (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)


Di sisi lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan
penyakit, Dia pun menurunkan obat bersama penyakit itu. Obat itupun
menjadi rahmat dan keutamaan dari-Nya untuk hamba-hamba- Nya, baik
yang mukmin maupun yang kafir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu: "Tidaklah Allah
menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya." (HR.
Al-Bukhari no. 5678)
29. Berapakah tingkatan kompetensi dokter umum pada kasus ini?
Jawab :

Tingkat kompetensi 4 : Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh
dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter
dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga
tuntas.

Copyright Tutorial 6 FK UMP08


Page 30