Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luka bakar adalah cedera pada kulit atau jaringan lain yang disebabkan oleh
kontak dengan sumber-sumber panas, radiasi, listrik, atau bahan kimia. 1 Luka bakar
termal1adalah luka bakar yang terjadi karena adanya sumber panas eksternal. 2 Luka
bakar merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Hal ini disebabkan karena
tingginya angka mortalitas dan morbiditas luka bakar. Pada tahun 2016, World Health
Organization (WHO) memperkirakan bahwa terdapat 265.000 kematian yang terjadi
setiap tahunnya di seluruh dunia akibat luka bakar. Mayoritas terjadi di negara-negara
berpenghasilan rendah dan menengah dan hampir 50% terjadi di Asia Tenggara.1
Menurut data American Burn Association tahun 2016, di Amerika Serikat terdapat
486.000 kasus luka bakar yang menerima penanganan medis, 40.000 diantaranya
harus dirawat di rumah sakit. Selain itu, sebanyak 3.240 kematian terjadi setiap
tahunnya akibat luka bakar. Penyebab terbanyak terjadinya luka bakar adalah karena
api (43%), cairan panas (34%), kontak dengan benda panas (9%), listrik (4%), kimia
(3%).3 Di Indonesia, prevalensi luka bakar pada tahun 2013 adalah sebesar 0.7% dan
telah mengalami penurunan sebesar 1.5% dibandingkan pada tahun 2008 (2.2%).
Provinsi dengan prevalensi tertinggi adalah Papua (2.0%) dan Bangka Belitung
(1.4%). 4
Trauma listrik jarang menyebabkan kematian. Untuk dapat terjadinya trauma
listrik, korban harus menjadi bagian dari sirkuit aliran listrik. Di Amerika Serikat,
kematian akibat trauma listrik selalu terjadi pada listrik bolak-balik (AC). dengan
frekuensi 39 sampai 150 Hz (siklus/detik) yang paling mematikan. Di Amerika
Serikat, arus bolak-balik beroperasi pada frekuensi 60 Hz, termasuk dalam rentang
yang menyebabkan kematian. Manusia memiliki sensitivitas empat hingga enam kali
lebih besar pada arus bolak-balik (AC) dibandingkan dengan arus searah (DC). Luka

bakar secara garis besar dapat disebabkan oleh termal atau non termal. Sumber termal
dapat berupa api, cairan panas, benda panas, atau gas panas. Sedangkan untuk sumber
non termal yaitu listrik dan kimia.2 Dari ke dua kelompok penyebab tersebut, termal
merupakan penyebab terbanyak yang menyebakan luka bakar. Berdasarkan latar
belakang di atas, maka penulis menyusun referat tentang luka bakar akibat termal, api
dan listrik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah adalah bagaimana
mekanisme kematian akibat kebakaran dan luka bakar termal?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui mekanisme kematian akibat kebakaran dan luka bakar termal.
1.3.2 Tujuan Khusus
- Mengetahui definisi luka bakar, luka bakar termal
- Mengetahui klasifikasi luka bakar
- Mengetahui faktor - faktor yang mempengaruhi keparahan luka bakar
- Mengetahui etiologi luka bakar
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaaat bagi penulis dan pembaca
- Memperoleh pengetahuan tentang

mekanisme

kematian

akibat

kebakaran dan luka bakar termal.


- Mempeoleh pengetahuan tentang luka bakar, luka bakar termal.
1.4.2 Manfaat bagi institusi di bidang forensik
Dapat digunakan sebagai kepustakaan di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik
RSUP Dr. Kariadi Semarang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Luka Bakar

Luka bakar adalah cedera atau luka pada kulit atau jaringan lain yang
disebabkan oleh kontak dengan sumber-sumber panas, radiasi, listrik, atau bahan
kimia.1 Secara garis besar luka bakar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu luka
bakar termal dan luka bakar nontermal.2 Luka bakar termal adalah luka bakar yang
terjadi akibat terkena sumber panas eksternal seperti api, cairan panas, benda padat
yang panas, atau gas panas. Sedangkan luka bakar nontermal adalah luka bakar yang
disebabkan oleh radiasi, atau bahan kimia.2
Luka bakar terus menjadi penyebab utama cedera dan kematian di Amerika
Serikat. 34% dari cedera fatal pada anakanak dibawah usia 16 tahun akibat dari luka
bakar. Anak anak dan orang tua usia lanjut merupakan orangorang yang memiliki
resiko tinggi pada kecelakaan kebakaran. Pada semua kasus kematian akibat luka
bakar, ahli forensik harus menentukan:5

Tandatanda kematian yang positif dari jenazah, terutama apabila tubuh

jenazah sudah terbakar hangus dan sulit untuk di kenali.


Apakah korban tersebut masih hidup sebelum terjadinya kebakaran, atau

jenazah korban di bakar untuk menyembunyikan pembunuhan.


Penyebab dan cara kematian.
Apakah ada faktorfaktor lain yang mempengaruhi, seperti alkohol atau
intoksikasi obatobatan.

2.1.1

Klasifikasi Luka Bakar Berdasarkan Kedalaman Luka5


Luka bakar umumnya diklasifikasikan berdasarkan kedalaman

luka

(kerusakan jaringan).

Gambar 1. Derajat Luka

Bakar

A.

Luka bakar derajat 1 didefinisikan sebagai luka


bakar yang terbatas pada superfisial bagian epidermis:6
1. Terdapat eritema dan edema di kulit. Bullae mungkin tidak ada, namun
kulit dapat mengelupas
2. Biasanya nyeri
3. Tidak terdapat jaringan parut pada penyembuhan luka
4. Contohnya: luka bakar ringan karena sinar matahari

Gambar 2. Luka bakar


derajat 1

A Luka bakar derajat 2


sebagai

luka

bakar

didefinisikan
partial

yang

mengenai seluruh bagian epidermis dan sebagian dermis, dengan menyisakan


adneksa kulit. Luka bakar derajat dua mungkin superfisial atau dalam.5
1. Biasanya terdapat bullae
2. Kulit masih dapat merasakan rangsangan, disertai rasa nyeri.
3. Jaringan parut hanya terdapat pada luka bakar derajat dua yang dalam.

Gambar 3. Luka bakar derajat 2

A Luka bakar derajat 3 didefiniskan sebagai luka bakar yang mengenai seluruh
bagian kulit, baik epidermis maupun dermis, yang mengakibatkan nekrosis
pada seluruh bagian kulit, termasuk adneksa kulit.5

1. Daerah yang terkena luka bakar menjadi putih

Gambar 4. Luka bakar derajat 3

2. Tidak dapat merasakan rangsangan apapun di kulit


3. Hampir selalu terdapat jaringan parut yang parah
A Luka bakar derajat 4 didefinisikan sebagai luka bakar yang membakar hangus
jaringan. Seluruh jaringan kutis dan subkutis hangus, begitu juga pada luka
bakar yang mengenai tulang ataupun tidak.5

Gambar 5. Luka bakar derajat 4

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Luka Bakar


Keparahan luka bakar dipengaruhi oleh:
A. Intensitas dari panas. Pada kebakaran rumah, suhu dapat mencapai 1200
hingga 1600F, sedangkan pada kebakaran industri bahan bakar suhu dapat
mencapai 1900 hingga 2100F atau lebih.
B. Lama pajanan. Sebagai contoh, kulit manusia apabila terkena panas pada suhu
45C (113F) selama 2 jam akan menjadi hiperemis tanpa kehilangan bagian
epidermisnya, tetapi jika lama durasi pajanan menjadi di tingkatkan menjadi 3
jam maka akan terjadi necrosis pada bagian epidermis.
C. Untuk mengabukan tubuh manusia di ruangan yang dipanaskan dengan gas,
suhu harus mencapai 1500F selama 1 hingga 11/2 jam.

2.1.3 Dokumentasi Luas dan Pola Luka Bakar


Pada semua kasus luka bakar, luas dan pola harus didokumentasikan, sebaiknya
menggunakan diagram tubuh.5
A. Area yang terkena luka bakar di ekspresikan dalam bentuk presentase dari
total body surface area (TBSA). Presentase TBSA ditentukan berdasarkan
usia individu. Beberapa cara untuk menentukan estimasi presentase dari
TBSA:5
1. Gambar persentase berdasarkan usia dapat di gunakan seperti pada gambar
1.

Gambar 6. Persentase bagian tubuh yang terkena luka bakar

2. Untuk orang dewasa rule of nines dapat digunakan, sementara untuk


bayi dan anak anak menggunakan rule of fives (Tabel 1)

Tabel 1. Estimasi Persentase Luas Permukaan tubuh yang


Terbakar pada Dewasa dan Anak-anak

Gambar 7. Rule of Nines

3. Pusat

luka

dari instansi

menggunakan
sama

yang

bakar

militer

gambar yang
dapat di lihat di gambar
8.

Gambar 8. Grafik Luka bakar yang memudahkan perhitungan yang


lebih tepat dari jumlah luas permukaan tubuh yang terbakar.

B. Pola luka bakar harus didokumentasikan secara hatihati, seringkali pola yang
tepat dapat memberikan petunjuk bagaimana luka bakar tersebut di dapat.
2.1.4 Tingkat Kelangsungan Hidup pada Luka Bakar
Dapat atau tidaknya suatu luka bakar mengakibatkan kematian tergantung pada
usia individu, derajat luka bakar, dan persentase total daerah permukaan tubuh yang
terlibat. Grafik sederhana tentang "probabilitas" ditunjukkan pada Gambar 9, dimana
persentase luka bakar disusun berdasarkan usia pasien. Tabel 2 menunjukkan tingkat
kelangsungan hidup dalam persen pada gabungan derajat dua dan tiga luka bakar,
yang bergantung pada usia pasien.5

Gambar 9. Grafik "probabilitas" menunjukkan bagaimana kesempatan


pemulihan bervariasi dengan usia pasien dan jumlah total luas permukaan tubuh
yang terbakar.

2.1.5 Pakaian dan Luka Bakar


Adanya pakaian dapat mempengaruhi hasil dari luka bakar. Jika terdapat
pakaian, dan pakaian itu menyatu, maka morbiditas dan mortalitas dari luka bakar
menjadi sangat meningkat yang terlibat, ketika mempertimbangkan bahaya kebakaran
dari adanya pakaian, maka terdapat tiga faktor yang terlibat, yaitu:5
A. Jenis bahan pakaian dan kemampuannya untuk terbakar.
B. Jenis atau desain dari pakaian. Pakaian yang pas cenderung lebih aman
dibandingkan dengan pakaian panjang dan longgar, seperti baju tidur.
C. Daerah atau lokasi pakaian yang dipakai.
Tabel 2. Rata-rata tingkat kelangsungan hidup (Dalam persen)

10

2.1.6 Etiologi Luka Bakar


Tergantung pada agen penyebab, luka bakar secara garis besar dapat dibagi
menjadi enam kategori:5
A. Flame Burns terjadi ketika kulit kontak langsung dengan api.
Keparahan tergantung lamanya waktu kulit terpajan dengan api
Bentuk lain dari flame burns adalah flash burns.
a.
Disebabkan oleh ledakan yang berasal dari gas, atau berupa pertikelb.

partikel halus suatu benda panas.


Menyebabkan luka bakar derajat dua dan tiga pada seluruh daerah kulit
yang terkena, termasuk rambut.

B. Contact Burns
Terjadi bila kulit mengalami kontak langsung dengan objek yang panas,
misalnya besi panas, setrika. Jenis luka bakar ini, dapat memberikan mengenai
bentuk benda panas yang menyebabkan luka bakar tersebut.
C. Radiant Burns

11

Terjadi apabila kulit terpajan dengan gelombang panas.


Tidak selalu diperlukan kontak langsung

dengan

benda

yang

menghasilkan gelombang panas untuk menimbulkan luka bakar.


Dapat menimbulkan kulit melepuh dan kemerahan.
Bila pajanan terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan luka
hangus.

D. Luka Bakar Akibat Cairan Panas (Scalding Burns), terjadi ketika kulit kontak
dengan cairan panas (biasanya air).
1. Air pada suhu 158 F (70 C) akan menyebabkan luka bakar derajat tiga
pada kulit orang dewasa dalam 1 detik dari kontak; pada suhu 131 F (55
C), Membutuhkan waktu 25 detik untuk menimbulkan luka bakar yang
sama.
2. Scalding Burns dapat dibagi menjadi 3 jenis:
a. Luka bakar emersi, dapat karena ketidaksengajaan atau kecerobohan
dirumah. Luka bakar imersi akibat kecerobohan di rumah sering terjadi
karena anak kecil ditempatkan di dalam kolam atau bak mandi yang di
penuhi dengan air yang terlalu panas, dengan tujuan untuk
mendisiplinkan atau menghukum si anak. Bentuk khas luka bakar dapat
terlihat, sebagai anak yang terefleksi tenggelam di dalam air. Di
sekeliling area dari kulit yang melingkari tiap-tiap daerah lutut tidak
b.

terkena anak tersebut dipaksa berjongkok di dalam air.


Luka bakar akibat percikan atau tumpahan, biasanya terjadi karena
kecelakaan, yang disebabkan oleh tumpahnya atau terperciknya air
panas ke tubuh. Luka bakar tumpahan tersebut dapat terjadi saat sedang
menuangkan panci yang mendidih dari kompor, dan cairan tersebut

c.

kemudian tumpah ke seluruh tubuh.


Luka bakar akibat uap biasanya terjadi karena kecelakaan. Uap yang
sangat panas (superheated vapor) dapat menyebabkan cedera parah pada
mukosa jalan napas. Dalam beberapa kasus, dapat terjadi edema laring
yang luas yang mengarah pada keadaan asfiksia dan kematian.

12

Gambar

10. Luka bakar

Emersi

E. Luka

bakar

akibat

gelombang

mikro

(Microwave

Burns).

Gelombang

mikro adalah

gelombang elektromagnetik yang memiliki rentang pada frekuensi 30 sampai


300.000 MHz dan memiliki panjang gelombang antara 1 mm dan 30 cm. Radiasi
dari microwave adalah non ionisasi; oleh karena itu, efek biologis utamanya
adalah panas yang dihasilkan melalui agitasi molekul yang terpolarisasi, seperti
air. Dalam sistem biologis, oleh karena sebab tersebut, jaringan dengan kadar air
yang tinggi (seperti otot) akan menjadi lebih panas lagi daripada jaringan dengan
kadar air yang rendah (seperti lemak). Microwave yang terdapat di dapur
biasanya memiliki standar 2450 MHz.
1. Bergantung dari panjangnya gelombang radiasi, dan ketebalan, orientasi, dan
karakteristik target, salah satu atau kombinasi dari tiga hal ini dapat terjadi :
a. Gelombang mikro dapat terpantul
b. Gelombang mikro dapat terserap
c. Gelombang mikro dapat lolos sepenuhnya dari target

13

2. Surell et al. pada tahun 1987 melaporkan studi yang memakai anak babi
yang telah dibius kemudian diberi radiasi gelombang mikro sebesar 750 watt
dari sebuah microwave rumah tangga, pada kekuatan penuh selama 90-120
detik. Penelitian mengungkapkan bahwa:
a. Dalam semua kasus, luka bakar yang dihasilkan adalah berbatas tegas,
dengan mengenai seluruh lapisan kulit (derajat 3).
b. Luka bakar lebih luas pada permukaan tubuh yang terdekat dengan
pancaran perangkat tersebut (biasanya terletak dibagian atas oven)
c. Pada mikroskop cahaya mengungkapkan temuan yang konsisten dari
lemak subkutan yang relatif lebih sedikit, namun membakar kulit dan
otot yang mendasarinya ( jaringan berlapis lebih hemat)
d. Pada mikroskop elektron tidak menunjukkan adanya keunikan seluler
atau kerusakan organel.
3. Kebanyakan luka bakar karena ketidaksengajaan yang terjadi karena
microwave yang belum dimatikan atau menelan cairan panas yang
dipanaskan dalam microwave. Terdapat satu laporan, seorang pria yang
mengenakan patch nitro transdermal menerima luka bakar derajat dua
dibawah patch ketika duduk disamping oven microwave. Tampaknya, plastik
aluminium yang terletak di strip perekat patch yang kemungkinan menjadi
faktor penyebab luka bakar.
4. Sebuah bentuk dari penyiksaan terhadap anak dilaporkan pada tahun 1987
oleh Alexander et al. yang melibatkan dua kasus terpisah di mana bayi yang
berusia 5 minggu dan balita 14 bulan menerima luka bakar konsisten oleh
oven microwave yang telah ditempatkan dan telah diaktifkan.
F. Luka bakar oleh bahan kimia (Chemical Burns), diproduksi oleh agen kimia
seperti asam dan basa kuat, serta agen lain lain seperti fosfor dan fenol. Luka
bakar yang dihasilkan berkembang lebih lambat dibandingkan dengan yang
dihasilkan oleh agen termal.
1. Sejauh mana cedera tersebut tergantung pada:
a. Agen kimia
b. Kekuatan atau konsentrasi agen

14

c. Durasi kontak dengan agen


2. Agen alkali:
a. Cenderung menyebabkan cedera lebih parah dari agen asam
b. Yang menghasilkan luka bakar umumnya memiliki pH lebih dari 11,5
c. Sering menghasilkan cedera dengan ketebalan yang penuh
d. Menghasilkan luka bakar yang tampak pucat, terasa kasar dan licin
3. Agen kimia biasanya hanya menghasilkan luka bakar dengan ketebalan
parsial, yang bisa disertai dengan eritema dan erosi yang dangkal.
2.2 Kematian Akibat Luka Bakar (Segera atau Tertunda)
A. Kematian segera dianggap mati dalam beberapa menit sampai beberapa jam
sesudah cedera. Hal ini mungkin akibat dari:
1. Syok neurogenik akibat sakit yang luar biasa.
2. Luka bakar termal langsung. Kulit yang terbakar kehilangan banyak
cairan, yang dapat menyebabkan hipovolemia, syok, dan gagal ginjal akut.

Gambar 11.

Korban dari
kebakaran rumah

3. Menghirup gas beracun. Hal ini harus dicurigai dalan kasus apapun dimana
jelaga terlihat di daera hidung ataupun mulut.5
a. Adanya kemungkinan cedera termal yang luas dari mukosa saluran napas
yang dapat menyebabkan nekrosis mukosa dan edema, bronkospasme,
atau obstruksi jalan napas bagian atas karena edema laring.

15

b. Gas beracun utama adalah karbon monoksida (CO). Karbon monoksida


adalah gas yang tidak berbau, tidak berwarna yang dihasilkan ketika
bahan yang berkarbon (bensin, propana, gas alam, minyak, kayu, batu
bara atau arang, tembakau) yang pembakarannya tidak lengkap.
Karbonmonoksida mengikat hemoglobin dengan tingkat afinitas lebih
dari 200 kali lebih besar dari oksigen sehingga dapat menggantikan
oksigen yang telah terikat dengan hemoglobin, menyebabkan hipoksia
jaringan

bahkan

kematian

bila

tidak

tertangani.

Kadar

karboksihemoglobin (COHb) dalam darah postmortem harus ditentukan


pada semua kasus luka bakar.
1)

Pada beberapa kasus, kematian akibat karbonmonoksida dapat


terjadi meskipun tanpa adanya jelaga yang terlihat di saluran nafas.

2)

Pada kasus kebakaran atau dimana api secara cepat membakar


korban, kadar CO pada postmortem menjadi rendah, namun masih
tetap ada.

3)

Rentang kadar CO (30 sampai 60%) pada kematian akibat api


cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kematian bunuh diri
akibat menghirup gas buang kendaraan yang memiliki rentang 60
sampai 80% pada orang dewasa sehat.

4)

Rantai-perokok

dapat

mengalami

peningkatan

nilai

dasar

konsentrasi karboksihemoglobin antara 8 sampai 10%


5)

Keracunan karbonmonoksida dengan kematian tertunda dapat


terjadi akibat adanya nekrosis bilateral pada globus pallidus atau
perubahan anoksia di korteks cerebral, hipokampus, cerebellum,
atau substansia nigra. perubahan tersebut tidak spesifik dan dapat
ditemukan pada semua kematian akibat hipoksia.

6)

Jika korban dapat bertahan, kemungkinan terdapat gangguan pada


sistem saraf pusat seperti kebutaan kortikal, inkontinensia,
parkinson, kehilangan memori, atau perubahan kepribadian.

16

7)

Tingkat atmosfer CO yang berbeda akan menyebabkan darah yang


mengandung karboksihemoglobin memiliki konsentrasi dan gejala
yang bervariasi, bergantung pada waktu inhalasi. Tabel 3
menjelaskan gejala yang mungkin muncul pada orang dewasa
dengan konsentrasi COHb yang bervariasi dan hubungannya
terhadap tingkat atmosfer CO dan waktu inhalasi

TABEL 3. Gejala yang Mungkin Terkait Dengan Berbagai Konsentrasi


Carboxyhemoglobin pada Orang Dewasa yang Sehat, Serta Hubungannya
Dengan Konsentrasi CO di Udara dan Waktu Paparan
Karbon Monoksida
(konsentrasi di udara
dalam ppm)
50 ppm*
100 ppm

Waktu Inhalasi
< 8 jam
Beberapa jam

Perkiraan Konsentrasi
Karboksihemoglobin
< 10%
10-20%

Gejala yang Mungkin


Tidak ada
Sesak nafas pada
aktivitas sedang;

200 ppm

2 3 jam

20 30%

tightness across head.


Sakit kepala, lelah,

400 ppm

1-2 jam

30 - 40%

pusing, mual
Sakit kepala berat,
penglihatan redup,
mual, irritability,

3 jam

40 50 %

takikardi
Mengancam

800 ppm

2 jam
2 3 jam

40 50 %
> 50 %

kehidupan
Tidak sadar
Koma, kejang,

1600 ppm

< 20 menit

30 %

meninggal
Sakit kepala, pusing,
mual

17

1 jam
25 30 menit
10 15 menit
1 3 menit

60 %
> 70 %
> 70 %
> 70 %

Meninggal
Meninggal
Meninggal
Meninggal

3200 ppm
6400 ppm
12.800 ppm
* 50 ppm adalah konsentrasi CO maksimum yang diijinkan untuk paparan terus menerus untuk orang dewasa
yang sehat dalam periode 8 jam, menurut Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

c. Selain CO, asap juga berisi bahan berbahaya lainnya5:


1) Sianida bisa terdapat pada asap dari kebakaran perumahan. Gas sianida
dapat cepat diserap dan dapat menghambat sistem oksidase sitokrom
untuk pemanfaatan oksigen seluler. Peran sianida dalam kematian
korban kebakaran masih dalam evaluasi.
2) Akrolein aldehida reaktif yang dihasilkan oleh pembakaran kayu dan
produk minyak bumi; menyebabkan cedera dengan denaturasi protein.
3) Asam klorida dihasilkan oleh pembakaran plastik, perabotan dan
komponen bangunan. Serangan edema paru dapat terjadi lambat, yaitu
2-12 jam setelah terekspos. Derajat toxin dari asam klorida mungkin
masih bisa ada satu jam setelah api dipadamkan.
4) Toluen diisosianat dapat dihasilkan dari pembakaran polieretan
(produk sintesis yang banyak digunakan pada kursi bantal, kasur dan
karpet). Gas ini dapat menyebabkan bronkospasme berat.
5) Nitrogen dioksida bisa terdapat pada kebakaran yang melibatkan
kendaraan atau limbah pertanian. Paparan singkat dengan konsentrasi
tinggi pada gas ini dapat menyebabkan broncho/laringo spasme dan
edema paru. Penyakit paru kronik merupakan komplikasi akhir.
B. Kematian yang berjalan lambat dapat terjadi sebagai akibat dari berbagai
kemungkinan komplikasi.
1. Kehilangan cairan yang terus menerus dapat menyebabkan shock dan/atau
gagal ginjal.
2. Gagal nafas dapat terjadi sebagai komplikasi tertunda dari rusaknya epitel
saluran pernafasan dan perkembangan dari ARDS
3. Sepsis dapat terjadi terutama karena terdapatnya luka bakar luas atau
sekunder akibat pneumponia.

18

4. Kematian mungkin terjadi karena emboli paru sekunder pada imobilisasi


berkepanjangan.
2.3 Tubuh Hangus
Apabila berhubungan dengan tubuh hangus, ahli patologis perlu mengetahui
terhadap beberapa hal unik yang mungkin muncul.
A. Penghangusan pada tubuh dapat menyebabkan terpisahnya jaringan kulit
dan/atau otot. Pemisahan tersebut muncul secara paralel terhadap serat otot,
dan bukan disebabkan oleh trauma antemortem.
B. Tubuh tersebut mungkin menampilkan sikap pugilistic, dengan fleksi pada
ekstremitas atas, menyerupai seorang petinju yang mengangkat kedua
tangannya di hadapan wajahnya. Sikap ini muncul saat tubuh tersebut
mendingin, dan bukan menunjukkan posisi tubuh sebelum terbakar.
C. Kebakaran juga bisa mengakibatkan kehilangan jari-jari tangan, jari-jari kaki,
dan sebagian dari ekstremitas. Kadang, sebagian dari tubuh bisa terlepas
ketika sisanya dibuang dari tempat kebakaran. Fraktur panas pada ekstremitas
bisa terjadi dan seharusnya tidak disamakan dengan fraktur antemortem yang
biasanya terkait dengan perdarahan jaringan lunak.
D. Radiografi postmortem tubuh secara total seharusnya dilakukan pada semua
kasus kebakaran yang parah, untuk memastikan adanya peluru atau alat-alat
identifikasi yang lain seperti jahitan logam dll.
E. Defek kebakaran pada tengkorak harus bisa dibedakan dengan trauma
antemortem. Kadang, epidural panas bisa terbentuk saat darah mendidih
keluar dari sinus vena. Epidural panas post mortem biasanya berwarna
kecokelatan, teraba kenyal atau rapuh, dan terletak atas dari bagian otak
seperti frontal, temporal atau parietal.
F. Pengukuran berat badan dan panjang badan pada tubuh hangus tidak bisa
menjadi acuan dan biasanya dikurangkan dari berat dan panjang badan
antemortem.

19

G. Walaupun bagian luar tubuh tampak hangus, organ dalam dan cairan tubuh
biasanya masih dalam keadaan baik. Organ dalam tubuh bisa menunjukkan
jalur luka pisau atau luka tembak yang tidak terlihat dari luar. Biasanya, darah,
cairan empedu, dan urin bisa digunakan untuk toksikologi.
H. Kewujudan materi karbon hitam (jelaga) di saluran pernapasan atas dan
bawah yang mudah ditemukan saat pemeriksaan kasar adalah dianggap
sebagai indikasi yang dapat dijadikan acuan saat korban tersebut masih hidup
sebelum kebakaran. Namun, intoksikasi karbon monoksida dapat terjadi tanpa
adanya jelaga pada saluran pernapasan. Apabila kematian terjadi disebabkan
kebakaran besar, kemungkinan tidak dapat ditemukan jelaga pada saluran
pernapasan walaupun korban masih hidup sebelumnya.
2.4 Klasifikasi Kematian Akibat Kebakaran5
Mayoritas kematian akibat kebakaran adalah kecelakaan, dimana sebagian
diklasifikasi sebagai pembunuhan dan sebagian akibat dari bunuh diri.
A. Sebagian besar kematian yang secara tidak sengaja adalah terjadi akibat dari
merokok atau akibat dari anak-anak bermain dengan k2orek api, atau dari
kabel listrik yang bermasalah.
B. Jika sebuah kebakaran dimulai dengan sengaja, dan kemudian seorang
individu meninggal akibat dari kebakaran tersebut atau akibat dari komplikasi
oleh luka-luka yang terjadi dari kebakaran tersebut, maka kematian tersebut
diklasifikasikan sebagai pembunuhan. Untuk membenarkan pernyataan ini,
ahli patologis haruslah menunggu atau mendapatkan laporan resmi dari
pemadam kebakaran tentang sumber kebakaran tersebut.
a. Kematian dari kebakaran akibat bunuh diri kadang terjadi ketika
seorang individu menyiram dirinya dengan gasolin atau bahan mudah
terbakar yang lain dan kemudian membakar dirinya. Sisa-sisa dari
pakaian sebaiknya diperiksa dan dianalisis untuk memastikan zat-zat
volatil atau bahan mudah terbakar yang digunakan. Jika tidak ada

20

pakaian yang digunakan sewaktu kejadian, kemungkinan analisis yang


sama juga bisa dilakukan terhadap jaringan tubuh yang terlibat. Sisa
pakaian dan jaringan tubuh yang didapatkan haruslah disimpan di
dalam wadah kedap udara, seperti tabung kaca atau besi dengan
penutup yang kedap udara.
2.5 Trauma Listrik
Kematian akibat listrik trauma jarang terjadi. Sebagian besar kematian akibat
listrik terjadi karena kecelakaan, namun kadang-kadang terjadi akibat bunuh diri.
Trauma listrik jarang menyebabkan kematian. Untuk dapat terjadinya trauma listrik,
korban harus menjadi bagian dari sirkuit aliran listrik.
Di Amerika Serikat, kematian akibat trauma listrik selalu terjadi pada listrik
bolak-balik (AC) dengan frekuensi 39 sampai 150 Hz (siklus/detik) yang paling
mematikan. Di Amerika Serikat, arus bolak-balik beroperasi pada frekuensi 60 Hz,
termasuk dalam rentang yang menyebabkan kematian. Manusia memiliki sensitivitas
empat hingga enam kali lebih besar pada arus bolak-balik (AC) dibandingkan dengan
arus searah (DC). Arus searah dapat ditemukan pada beberapa industri dengan
aktivitas elektrik, seperti pelapisan logam.
2.5.1

Hukum

Ohm
Pemahaman dasar pada Hukum Ohm adalah

variabel
Ohm

yang
dinyatakan

terlibat pada sebagian besar trauma listrik. Hukum


sebagai:

dimana:
I = arus listrik (Ampere)
V = tegangan listrik (Volt)

21

R = hambatan listrik (Ohm)

Arus listrik merupakan faktor terpenting pada sebagian besar trauma listrik. Seperti
yang terlihat pada hukum Ohm, arus listrik berbanding lurus dengan tegangan dan
berbanding terbalik dengan hambatan. Maka dari itu, semakin besar tegangan listrik,
semakin tinggi arusnya, dan semakin besar hambatan listrik, semakin rendah arusnya.

2.5.2

Faktor-faktor yang mempengaruhi keparahan trauma listrik.


Sumber daya listrik akan menyebabkan luka, dan seberapa berat atau luas luka

yang terbentuk bergantung pada beberapa faktor, antara lain:


Sifat arus listrik (AC, DC, atau pulsating DC)
Tegangan listrik
Frekuensi listrik (pada AC)
Nilai arus listrik
Durasi korban terpapar dengan arus listrik
Kondisi lantai (basah atau kering), jika lantai merupakan bagian dari sirkuit
Kekebalan tubuh
Jalur arus listrik melewati tubuh.
2.5.3 Kematian Akibat Tegangan Rendah Dibandingkan Tegangan Tinggi
Kematian yang disebabkan karena listrik dapat disebabkan oleh sumber bertegangan
tinggi maupun rendah.
A. Tegangan yang kurang dari 1000 volts disebut dengan tegangan rendah,
sementara itu bila tegangannya lebih besar dari 1000 volts disebut dengan
tegangan tinggi.

22

1. Di perumahan yang berada di Amerika Serikat, pemasokan utama listrik


ke sebuah saklar sebesar 220 hingga 240 volts. Pada saklar tersebut,
tegangan itu akan dibagi, sehingga membuat tegangan yang ada di rumah
menjadi sekitar 110 hingga 120 volts.
2. Sumber tegangan tinggi meliputi :
a. Distribusi utama dari saluran listrik dengan tegangan antara 2300 dan
23000 volts
b. Tegangan tinggi (transmisi) dari saluran listrik yang membawa
tegangan sekitar 60000 sampai 100000.
B. Pada tegangan rendah yang terdapat di perumahan, luka akibat listrik tersebut
merupakan:
1. Penyebab kematian yang mungkin tidak selalu jelas
2. Harus ada kontak langsung antara korban dan sumber tegangan listrik
(saklar)
3. Kematian tersebut, terutama disebabkan karena fibrilasi ventrikel
4. Jika tegangannya rendah, namun waktu kontaknya lama, kematian masih
mungkin terjadi tetapi mekanisme kematian biasanya oleh karena
kelumpuhan otot dengan asfiksia sekunder.
C. Luka akibat listrik yang bertegangan tinggi dapat terjadi secara tidak sengaja
ketika seorang pekerja yang mengoperasikan mesin pemetik cherry bekerja
dengan kabel listrik yang memiliki tegangan tinggi.
1.Kontak langsung dengan sumber listrik atau kawat listrik tidak selalu
diperlukan,
a. Pancaran listrik dapat menghasilkan suhu yang sangat tinggi, sekitar
4000oC
b. Jarak pancaran dari lompatan listrik tersebut tergangutng dari besar
tegangannya, seperti yang dideskripsikan oleh Somogyi dan Tedeschi

23

2. Kematian akibat listrik dengan tegangan tinggi adalah disebabkan karena


kegagalan sistem respirasi atau cedera elektrotermal karena panas yang dihasilkan
oleh arus tersebut. Luka akibat listrik tersebut biasanya bersifat irreversible.
3. Kematian akibat sambaran petir adalah bentuk dari tegangan listrik (dengan arus
searah).
2.5.4 Ketahanan dan Kelancaran Arus
Sejak tegangan biasanya cukup konstan, perubahan resistensi menjadi faktor penting
dalam menentukan jumlah arus yang akan mengalir melalui tubuh.
A. Kulit manusia merupakan organ yang memiliki resistensi terbesar terhadap
listrik dari semua organ tubuh, diikuti oleh tulang, lemak, saraf dan otot, dan
yang paling rendah resistensinya adalah darah dan cairan tubuh.
B. Perbedaan jenis kulit juga kan menghasilkan derajatt resistensi yang berbeda.
Tipe Kulit
Kering, Kapalan atau Tebal
Kering tetapi tidak kapalan
Lembab
Lembab, tipis

Resistensi (ohms)
1.000.000
100.000
1.000
100

C. Jumlah hambatan juga tergantung pada jenis pakaian yang yang digunakan,
sepatu karet dapat melindungi kaki dari tanah, sedangkan sarung tanagan karet
dapat melindungi tangan dari konduktor

24

2.5.5. Aliran Arus yang Melewati Tubuh


Ketika arus listrik mengalir melalui tubuh, arus tersebut akan mengikuti jalur
terpendek, tetapi tidak selalu pada jalur yang paling sedikit resistensinya.
A. Arus dapat mengambil jalur berbeda yang melalui tubuh, tergantung pada
daerah masuk dan keluarnya. Misalnya, jalurnya bisa saja dari tangan ke kaki,
tangan ke tangan melewati dada, kepala ke kaki, dada ke kaki, atau dada ke
tangan. Ketika srus mengikuti jalur yang mencakup jantung dan otak, maka
hasil yang fatal akan lebih mungkin terjadi di bandingkan jika tidak melewati
jalur yang melintasi salah satu dati organ-organ ini, seperti jalur kaki ke tanah.
B. Jumlah yang berbeda dari arus yang melalui tubuh akan memiliki efek yang
berbeda pada tubuh.
Arus (mA)
1
5
15
40
75-100
2000 (2 Amps)

Efek pada tubuh


Persepsi ambang, kemungkinan
menggelenyar
Kejang otot
Kontraksi otot
Kemungkinan hilangnya kesadaran
Fibrilasi ventrikel
Ventricuar arrest

Pada kasus, dimana sebuah arus yang sangat kuat (2 Amp atau lebih besar) dapat
mempengaruhi jantung dan menyebabkan ventrikel gagal berkontraksi, jantung harus
memulai berdenyut spontan setelah kontak dengan arus terputus, jika tidak ada cidera
elektrotermal yang ireversibel.
2.5.6. Trauma Listrik dan Kehilangan Kesadaran
Kehilangan kesadaran mungkin tidak langsung terjadi dalam kasus trauma
listrik. Hal ini terutama terjadi pada tegangan rendah, di mana kejutan listrik
menghasilkan fibrilasi ventrikel. Dalam kasus ini, otak memiliki sekitar 10 sampai 15
detik dari cadangan oksigen, yang memungkinkan aktivitas otak untuk terus bekerja
meskipun curah jantung tidak efisien. Korban mungkin terdengar menangis atau
berbicara. Dalam beberapa kasus, korban telah ditemukan beberapa meter dari

25

sumber listrik, atau perangkat yang rusak ditemukan dimatikan atau dicabut. Dalam
kasus dengan depolarisasi berkelanjutan, seketika rigor mortis mungkin terjadi.
2.5.7. Luka Bakar Listrik pada Kulit
Ketika listrik kontak dengan tubuh, produksi panas yang dihasilkan oleh listrik
akan menimbulkan luka bakar pada kulit. Terjadi atau tidaknya luka bakar yang
disebabkan oleh listrik bergantung pada besarnya tegangan (voltase), jumlah aruh,
luasnya daerah yang terkena kontak,dan lamanya kontak dendan sumber listrik.
A. Tegangan listrik rendah
1. Luka bakar listrik pada jenis ini hanya terjadi pada 50% kasus
2. Jika arus listrik merata dan luas, komponen luka bakar biasanya tidak
terlihat. Contoh seperti pada individu yang berada di bak air, yang dimana
suatu alat jatuh ke dalam bak air tersebut. Dalam kasus ini, alat tidak perlu
aktif, tetapi alat tersebut terhubung ke stopkontak.
3. Bila korban tetap kontak dengan sumber listrik tersebut, hal ini mungkin
dapat menyebabkan luka bakar yang lebih berat.
4. Luka bakar listrik mungkin tersembunyi pada mulut atau bibir, hal ini
dapat terjadi pada anak kecil yang menempatkan kabel listrik yang rusak
atau kabel listik yang hidupke dalam mulutnya.
B. Tegangan listrik tinggi
1. Luka bakar listrik ini terjadi hampir pada semua kasus.
2. Luka bakar yang dihasilkan bisa berat, dengan jaringan yang hangus,
terutama jika ada kontak lama dengan sumber listrik.
3. Bintik luka bakar terjadi karena arus yang berpindah-pindah pada tubuh
(Gambar 12)
4. Panas yang dihasilkan dalam tubuh dapat menyebabkan cedera ledakan,
termasuk kehilangan ekstremitas atau pecahnya organ.

26

Gambar
12. Luka bakar
multiple
C. Bila luka bakar listrik terjadi akibat kontak atau kontak dekat dengan sumber
listrik:
Cenderung terjadi pada ujung jari atau telapak tangan (biasanya tempat
masuknya arus), dan telapak kaki (biasanya tempat keluarnya arus), seperti
terlihat pada Gambar 12. Bentuk luka bakar khas yaitu berwarna putih, atau
kuning/coklat, daerah tengah membentuk kawah dengan tepi menonjol dan
disekitarnya berwarna pucat. Beberapa luka bakar mungkin memiliki fokus,
dengan area yang menghitam. Luka bakar dapat dikelilingi oleh zona eritema.
Ukuran luka bakar bervariasi, mulai dari pungtata (beberapa milimeter)
sampai dengan 1 sampai 2 cm. Luka bakar listrik yang tidak cukup parah,
dapat berukuran kecil beberapa millimeter, dengan derajat luka bakar tipe II.
D. Baru baru ini dikatakan, luka bakar listrik yang baru mungkin memiliki bau
yang khas, yaitu digambarkan seperti bau gabus yang dibakar
E. Pemeriksaan mikroskopik luka bakar listrik:
Hal ini termasuk sulit, karena kulit yang terkena biasanya tegas, menyebabkan
susah untuk mendapatkan bagian histologis yang baik
2.5.8. Bunuh Diri Akibat Arus Listrik
Bunuh diri akibat arus listrik jarang terjadi. Biasanya korban yang
melakukannya adalah seorang teknisi di bidang kelistrikan atau mempunyai

27

pengetahuan tentang kelistrikan. Pada beberapa kasus korban merakit sendiri suatu
perangkat yang dapat mengalirkan arus listrik atau korban mengaruskan listrik ke air
yang ada di sebuah bak mandi.
2.5.9. Ground-Fault Circuit Interrupter (GFCIs)
Sejak tahun 1979 hingga 1982, sekitar 100 kematian terjadi akibat sengatan
listrik (paling sering akibat pengering rambut) yang melalui bak mandi. Ground-fault
circuit interrupters (GFCIs) adalah sebuah perangkat yang berfungsi untuk mencegah
kematian akibat arus listrik. Perangkat ini melindungi dengan cara menginterupsi arus
listrik ketika selisih antara sisi panas sirkuit dan ground mencapai 5 mA. Pemutusan
aliran listrik ini terjadi kurang dari satu detik namun orang yang terkena akan tetap
merasa terkejut akibat sengatan listrik tersebut. Orang yang sehat tidak akan
merasakan sakit, tetapi bayi dan anak kecil dapat merasakan sakit akibat sengatan
listrik. GFCI tidak selalu melindung individu dari sengatan listrik secara penuh.
2.5.10. Investigasi Pada Korban Akibat Arus Listrik
Pada semua kasus kemungkinan akibat sengatan arus listrik,
A. Baju yang dikenakan korban harus diteliti secara seksama adakah kerusakan
akibat kebakaran yang terjadi karena kontak dengan sumber arus listrik, dan
area sekitar tubuh korban juga harus di periksa dengan teliti.
B. Perangkat yang dicurigai sebagai sumber arus listrik harus di periksa, untuk
mengetahui bukti apakah pernah berkontak dengan kulit atau rambut korban.
Bantuan dari seorang teknisi listrik terkadang di perlukan pada beberapa
kasus. Evaluasi harus disertai dengan dokumentasi kerusakan yang lengkap
jika memungkinkan ditambah dengan foto foto atau foto x ray. Pada semua
kasus, bukti-bukti harus di pertahankan sesuai bentuk aslinya saat ditemukan
2.5.11. Arus Listrik pada Rel Ke tiga Kereta Api
Sengatan listrik dapat terjadi ketika kontak dengan third-rail (rel ke tiga) dari
sebuah kereta cepat. Beberapa kasus kematian di New York telah dilaporkan, dimana

28

kematian akibat buang air kecil di third-rail yang dialiri arus listrik sebesar 600 volt
DC.
2.5.12. Renjatan Listrik dan Kehamilan
Dalam kasus di mana seorang ibu hamil menerima renjatan listrik, tingkat
keparahan cedera maternal tidak sama seperti tingkat keparahan cedera fetal.
A. Fetus lebih sensitif terhadap renjatan listrik dikarenakan besarnya bayi, kulit
yang tipis, dan tingginya konduksi dari cairan amniotik dan plasenta yang
terpenuhi darah.
B. Renjatan listrik pada ibu hamil bisa mengakibatkan terjadinya bermacammacam hal:
1. Kemungkinan tiada kesan dan kehamilan tersebut bersambung seperti biasa
tanpa sebarang masalah dan kesan jangka panjang.
2. Renjatan tersebut bisa mengakibatkan kematian pada si ibu dan juga
janinnya.
3. Tiada kesan pada ibunya, tetapi si janin mungkin akan mati dan bisa terjadi
aborsi setelah renjatan tersebut.
C. Hasil autopsi terhadap janin tersebut biasanya non-spesifik dan mungkin
melibatkan maserasi dan perdarahan di dalam otak, ginjal, paru-paru, dan hati.
D. Pada tahun 1993, Fatovich melaporkan hasil literaturnya tentang kasus-kasus
renjatan listrik pada ibu hamil. Hasil stadi tersebut melaporkan:
1. Terdapat lima belas kasus ibu hamil yang dalam berbagai umur kehamilan
(minggu ke-9 sampai minggu ke-10) yang terpapar pada renjatan listrik
2. 14 dari 15 kasus tersebut melibatkan arus AC di rumah.
3. Walaupun tidak terdapat kematian ibu atau penurunan kesadaran, kematian
janin berlaku pada 73% dari kasus-kasus tersebut.
4. Waktu interval antara terjadinya cedera dan kelahiran bisa dari beberapa jam
sampai 21 weeks.
5. Oligohidramnion dan/atau retardasi pertumbuhan dilaporkan dalam beberapa
kasus.
6. Beberapa ibu mengatakan bahwa terdapat kehilangan pergerakan janin secara
tiba-tiba setelah terjadinya renjatan tersebut.

29

7. Dalam setiap kasus tersebut, alur arus adalah dari tangan ke kaki(uterus juga
terlibat). Pada renjatan listrik yang tidak melibatkan uterus dalam alurnya
(cth: terapi elektrokonvulsif dan cardioversi DC), biasanya janinnya tidak
terjadi apa-apa.
2.5.13. Stun Gun
Stun gun adalah sejenis alat yang didesain untuk menghantarkan sejumlah
tenaga listrik kecil yang bisa mengakibatkan paralisis otot sementara.
A. Stun gun adalah:
1. Alat non-lethal yang biasanya digunakan oleh polisi untuk menangani
pelanggar hukum yang tidak menurut perintah.
2. Juga digunakan sebagai alat mempertahankan diri dan bisa didapatkan
secara legal di beberapa negeri di toko senjata.
B. Stun gun dilaporkan banyak digunakan dalam beberapa kasus penyiksaan,
pemerkosaan dan kejahatan pada anak.
C. Apabila stun gun diaktifkan sewaktu bersentuhan dengan kulit manusia, luka
berpola dan berkarakteristik bisa terhasil. Lesi yang terhasil biasanya kecil,
bulat atau abrasi yang agak sejajar atau daerah yang eritem, dengan atau tanpa
tengah yang pucat, dimana terjadi dalam pasangan. Jarak antara pasangan lesi
kulit tersebut seharusnya bersamaan dengan jarak antara elektroda stun gun
yang digunakan. Elektroda tersebut adalah sebenarnya elektroda luaran stun
gun tersebut.
D. Hasil mikroskospik pada lesi kulit tersebut bisa menunjukkan perubahan yang
tidak spesifik, atau perubahan mirip dengan luka bakar thermal pada kulit.
E. Ikeda et al. Melaporkan berdasarkan sebuah kasus pembunuhan secara
perjeratan dimana korban juga mempunyai beberapa lesi kulit yang
disebabkan oleh penggunaan stun gun. Untuk mengetahui apakah luka dari
stun gun tersebut terjadi saat sebelum kematian atau setelah kematian, mereka
menggunakan stun gun terhadap babi yang dibius saat sebelum mati dan juga
setelah mati. Ketika stun gun tersebut digunakan sebelum babinya mati, lesi

30

kulit yang mirip seperti pada manusia muncul pada babi tersebut. Tetapi
ketika stun gun digunakan setelah kematian babi, tidak ada lesi yang muncul.
2.5.14. Elektrokusi Judisial
Penggunaan

elektrokusi

sebagai

hukuman

kapital

diperkenalkan

di

pertengahan 1900-an, di New York, diakibatkan dari hasil hukuman gantung judisial
yang tidak diprediksi.
A. Eksekusi pertama dengan menggunakan kursi listrik berlaku di New York
1890, dimana arus AC 1400-volt, 150 Hz digunakan pada tahanan selama 17
detik sebelum kematian. Sewaktu beberapa menit sebelum kematian, tahanan
tersebut dilaporkan mengerang dan pergerakan napas semakin mendalam.
Alur listrik diaplikasikan lagi selama 2 menit sebelum tahanan tersebut
dinyatakan meninggal. Saksi eksekusi tersebut mengatakan tampak asap
keluar dari tubuh hangus tersebut.
B. Autopsi yang dilakukan terhadap tahanan yang telah dielektrokusi
menunjukkan bahwa terdapat luka bakar yang luas pada jaringan tubuh.
C. Kerusi listrik merupakan metode tunggal eksekusi di Nebraska.
D. Di Alabama, Florida, South Carolina and Virginia, tahanan diberi pilihan
antara injeksi lethal dan kursi listrik.
E. Di Oklahoma dan Illinois, kursi listrik digunakan sebagai metode eksekusi
jika injeksi lethal didapati tidak dibenarkan oleh undang-undang.
2.6 Luka Bakar Antemortem Versus Postmortem
Biasanya, mustahil untuk dibedakan luka bakar antemortem dan postmortem.
A. Dalam kasus dimana terdapat seorang korban yang masih hidup dalam
beberapa menit setelah terbakar, pemeriksaan mikroskopik pada luka bakar
tersebut tidak akan mengungkapkan reaksi vital seperti infiltrat inflamatori.
Ini mungkin disebabkan oleh thrombosis panas pada pembuluh darah di kulit,
mencegah influx neutrophil ke dalam jaringan yang rosak, atau mungkin
disebabkan oleh akumulasi sejumlah besar sel-sel inflamatori di bagaian tubuh

31

yang

lain,

seperti

paru-paru

dikarenakan

pneumonia

yang

sedang

berkembang.
B. Ada kemungkinan bahwa luka bakar postmortem yang terhasil pada kulit bisa
mempunyai sifat-sifat kasar yang identikal seperti luka bakar antemortem.
Jika sebuah api diaplikasikan ke kulit tersebut setelah kematian, kulit tersebut
akan melepuh memberikan suatu penampilan yang hiperemis.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Luka bakar adalah cedera atau luka pada kulit atau jaringan lain yang
disebabkan oleh kontak dengan sumber-sumber panas, radiasi, listrik, atau bahan
kimia. Sedangkan luka bakar termal adalah luka bakar yang terjadi akibat terkena
sumber panas eksternal seperti api, cairan panas, benda padat yang panas, atau gas
panas. Luka bakar dibagi menjadi 4 jenis berdasarkan kedalaman luka yaitu luka
bakar derajat 1-4. Terdapat faktor- faktor yang mempengaruhi keparahan luka bakar
seperti intensitas dari panas, lama pajanan, dan pakaian. Penyebab luka bakar dibagi
menjadi 6 kategori yaitu Flame Burn, Contact Burns, Radiant Burns, Scalding Burns,

32

Microwave burns, dan Chemical Burns5. Yang termasuk ke dalam luka bakar termal
adalah Flame Burn, Contact Burns, dan Scalding Burns.
Mekanisme kematian akibat luka bakar dapat terjadi segera atau tertunda.
Dikatakan Kematian segera, bila dalam beberapa menit sampai beberapa jam
meninggal sesudah cedera. Hal ini dapat disebabkan oleh karena syok neurogenik,
luka bakar termal, menghirup gas beracun terutama karbon monoksida. Kematian
tertunda atau yang berjalan lambat dapat terjadi sebagai akibat dari kemungkinan
komplikasi, seperti: gagal ginjal, gagal nafas, sepsis, emboli paru.
3.2 Saran
Diharapkan pada penulisan berikutnya dapat menambahkan jenis luka bakar
yang lain seperti luka bakar akibat bahan kimia dan radiasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Word Health Organization (WHO). Burns. Media Centre WHO. 2016. Diakses
tanggal 26 November 2016. Available at:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs365/en/
2. Valerie J Rao. Forensic Pathology of Thermal Injuries.Medscape. 2016. Diakses
tanggal 26 November 2016. Available at:
3. American Burn Association (ABA). Burn Incidence and Treatment in the United
States: 2016.
4. Balitbang Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Balitbang
Kemenkes RI. Jakarta. 2013.
5. Dimaio, VJM, Dana SE. Handbook of Forensic Pathology, Second Edition.
Washington DC: CRC Press. 2006.

33

6. Snepherd R, Simpsons. Forensik Medicine 12th edition. USA: Oxoford


University Prees, 2003.

34