Anda di halaman 1dari 3

.

PEMBAHASAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk memisahkan dan mengidentifikasi kation-kation yang ada dalam
sampel. Kation-kation yang diidentifikasi antara lain Ag+, Pb2+, Co2+, Fe3+ dan Al3+. Untuk
mengidentifikasi kation ini digunakan berbagai macam reagnesia (untuk mengetahui kation-kation
yang ada).
Kation dalam tiap kelompok diendapankan sebagai senyawa dengan menggunakan pereaksi
pengendap golongan tertentu. Endapan yang dihasilkan nantinya akan mengandung kation-kation
dalam suatu golongan. Pemisahan endapan dari larutannya dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi,
selanjutnya larutan yang masih berisi sebagian besar kation kemudian diendapkan kembali
membentuk kelompok kation baru. Prosesnya diteruskan dengan cara dekantasi. Kemudian pereaksi
pengendap golongan berikutnya ditambahkan pada larutan hasil dekantasi. Jika dalam kelompok
kation yang tertendapkan masih berisi beberapa kation maka kation-kation tersebut dipisahkan lagi
menjadi kelompok kation yang lebih kecil, demikian seterusnya sehingga pada akhirnya dapat
dilakukan uji spesifik untuk satu kation.
Dalam praktikum yang telah dilakukan, tahap identifikasi diawali dengan pemisahan kation-kation ke
dalam golongan masing-masing. Dolongan yang dimaksudkan dapat dilihat seperti di bawah ini :
Golongan I : pada golongan ini kation akan membentuk endapan jika di reaksikan dengan asam
klorida encer
Golongan II : kation dalam golongan ini tidak bereaksi dengan laritan asam klorida encer, tetapi
membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam keadaan asam.
Golongan II : kation dalam golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida maupun dengan
hidrogen sulfida dalam keadaan asam, tetapi larutan ini membentuk endapan dengan amonium.
Golongan IV : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III.
Kation-kation ini membentuk endapan dengan amonium karbonat, dengan adanya amonium klorida
dalam suasana netral atau sedikit asam.
Golongan V : merupakan kation yang paling umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia golongan
sebelumnya.
Sesuai dengan pembagian di atas kita dapat mengidentifikasi kation-kation dalam larutan sampel
(Svehla, 1985).
Pada percobaan ini, identifikasi dimulai dengan penambahan NaCl 1M ke dalam larutan sampel. Hal
ini bertujuan untuk mengendapkan kation-kation yang ada dalam laritan sampel. Berdasarkan hasil
pengamatan, larutan sampel yang berwarna merah muda berubah warna menjadi larutan berwarna
merah muda keputihan dengan terbentuknya endapan. Setelah disentrifugasi akan terbentuk endapan
berwarna putih dan larutan berwarna merah muda. pada proses tersebut, dengan ditambahkannya
larutan NaCl akan menyebabkan sebagian kation akan bereaksi dengan ion Cl- (dari proses penguraian

NaCl menjadi ion Na+ dan Cl-) sehingga terbentuklah endapan AgCl dan PbCl2 setelah sebelumnya
melalui proses sentrifugasi agar endapan dapat terpisah dari larutannya secara baik. Selanjutnya
dilakukan dekantasi yaitu pemisahan endapan dari larutannya secara langsung dan perlahan-lahan ke
dalam tabung reaksi yang lain. Dengan ditandainya pembentukan endapan setelah ditambahkan
larutan NaCl pada larutan sampel menyebabkan kation yag mengendap termasuk dalam golongan I.
dalam golongan I terdapat 3 macam kation yaitu Ag+, Pb2+ dan Hg2+. Akan tetapi, berdasarkan hasil
pengamatan diperoleh endapan berwarna putih yang kemungkinan merupakan kation Ag+ dan Pb2+
karena Hg+ dalam proses penambahan NaCl menimbulkan endapan berwarna putih abu-abu, sehingga
kemungkinan besar Hg+ tidak terdapat di dalam larutan sampel (Mursyidli: 2006).
Untuk memisahan kation Ag+ dan Pb2+ dapat dilaakukan dengan penambah air panas. Kation Pb2+
akan larut di dalam air panas. Hal ini terjadi karena kelarutan PbCl2 akan meningkat seiring dengan
peningkatan suhu. Sehingga PbCl2 akan terpisah sempurna dengan AgCl, karena AgCl tetap
mengendap pada dasar tabung reaksi berupa endapan berwara putih.
Untuk lebih meyakinkan bahwa benar terdapat kation Pb2+ maka filtrat yang telah dipisahkan dari
AgCl yang berwarna putih ditambahkan dengan K2CrO4, sehingga terbentuk endapan kuning yang
menandakan bahwa benar terdapat kation Pb2+ dalam sampel. Selain itu, untuk meyakinkan
terdapatnya kation Pb2+ dapat pula dilakukan dengan menambahkan larutan H2SO4 sehingga
nantinya akan terbentuk endapan putih. Terbentuknya edapan putih dikarenakan kelarutan dari timbal
sulfat yang terbentuk sangatlah kecil. Hal ini pula yang terjadi pada penambahan K2CrO4 ke dalam
Pb2+, sehingga terbentuk endapan PbCrO4 (Rohman: 2006). Terbentuknya endapan PbSo4 lebih
sedikit dibandingkan dengan endapan PbCrO4, yang menandakan bahwa Pb2+ lebih reaktif terhadap
anion CrO42- daripada SO42-, selain itu pula nilai Ksp yang terdapat dalam PbCrO4 lebih kecil
dibandinkan dengan nilai Ksp pada PbSO4 yang menyebabkan PbCrO4 lebih cepat mengendap dan
membentuk endapan yang lebih banyak (Masruri: 2008).
Pada identifikasi selanjutnya untuk filtrat hasil penambahan NaCl pada larutan sampel ditambahkan
dengan NaOH berlebih untuk mendapatkan endapan dan filtrat kembali. Proses sentrifugasi dilakukan
untuk memisahkan endapan dengan filtrat, sehingga diperoleh endapan berwarna orange kecoklatan
dan filtratnya berwarna bening. Endapan yang terbentuk menandakan adanya kation Fe3+ dan Co2+.
Karena dalam reaksinya pada penambahan NaOH berlebih membentuk endapan Fe(OH)3 dengan
Co(OH)2. Selanjutnya antara kation Fe3+ dan Co2+ ditambahkan dengan larutan NH3 untuk
memisahkan Fe(OH)3 dengan Co(OH)2 sehingga dapat dibedakan kation Co2+ dan Fe3+, dimana
kation Co2+ akan larut dan menghasilkan warna coklat (mendekati kuning) karena bereaksi dengan
NH3 dan membentuk ion [Co(NH3)6]2- heksaanima kobaltat (II), sedangkan Fe(OH)3 tidak bereaksi
dengan NH3 sehingga tetap membentuk endapan coklat kemerahan pada dasar tabung. Hasil kali
kelarutan Fe(OH)3 begitu kecil (3,81038), sehingga terjadi pengendapan sempurna, bahkan dengan
adanya garam-garam amonium (Svehla:1985).

Proses selanjutnya untuk filtrat yang mengandung Al3+ dibagi menjadi 2 bagian. Perlakuan untuk
filtrat pertama ketika ditambahkan dengan HNO3 dan NH3 larutan menjadi putih keruh dan terdapat
endapan ketika dilakukan sentrifuge. Perubahan yang terjadi menandakan terbentuknya endapan
Al(OH)3, artinya terdapat kation Al3+. Dalam proses identifikasinya, Al3+ yang ditambahkan dengan
NaOH berlebih akan membentuk ion kompleks [Al(OH)4]. Pada tabung pertama ion kompleks
[Al(OH)4] akan bereaksi dengan amonium (NH4+) sehingga akan terbentuk endapan Al(OH)3 ,
H2O dan gas NH3 yang di bebaskan. Sedangkan pada penambahan NH3 pada tabung 2 seharusnya
terbentuk endapan Al(OH)3 dan NH3 (pada suasana sedikit basa) (Sudjadi : 2004)
H. PENUTUP
KESIMPULAN
1. Dalam sampel yang telah diidentifikasi diperoleh kation Ag+, Pb2+, Fe3+, Ce2+, dan Al3+.
2. Identifikasi kation-kation dalam larutan sampel dapat dilakukan dengan analisis kualitatif
berdasarkan sifat-sifat dari kation tersebut terhadap reagensia.
3. Reagensia digunakan untuk mengidentifikasi kation didasarkan pada kemampuan untuk bereaksi
dengan pereaksi lain dan membentuk warna yang khas.
4. Kation golongan I akan mengendap bila ditambahakan dengan anion Cl (dari NaCl) dalam
praktikum diperoleh endapan putih yang menandakan adanya kation Ag+ dan Pb+2
5. Pb2+ akan larut dalam air panas, sedangkan Ag+ tidak, karena kelarutan PbCl2 meningkat seiring
dengan kenaikan suhu.
6. Pada proses identifikasi endapan (2) diperoleh filtrat (c) yang merupakan kation Co2+ dari ion
kompleks [Co(NH3)6]2+ dan endapan (3) yang merupakan kation Fe3+ dari endapan coklat
Fe(OH)3.
7. Al3+ bersifat amfoter, karena pada penambahan ion OH yang berlebih, endapanya perlahan-lahan
akan larut dan membentuk senyawa kompleks [Al(OH)4]
8. Pemisahan endapan dari larutannya dapat dilakukan dengan cara sentrifuge.