Anda di halaman 1dari 4

Mohammad Agung 140410140069 Kelompok 3A

PENGARUH KADAR AIR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN


1.

Hasil
Pot
A
B
C
D

Warna Daun
Hijau

Pot
A
B
C
D

Warna Daun
Hijau

Pot
A
B
C
D

Warna Daun
Hijau
Rata-rata

Minggu 1 ( November 2016)


Warna Batang
Tinggi (cm)
Hijau
0,3
Hijau muda
14,8
Minggu 2
Warna Batang
Tinggi (cm)
Hijau pucat
35,7
Minggu 3
Warna Batang
Tinggi (cm)
Hijau pucat
52,8
Pot A
0,1
Pot B
Pot C
Pot D
34,27

Jumlah Daun
2
Jumlah Daun
- (berjamur)
4
Jumlah Daun
5

3,67

Keterangan:
Pot A: 80 ml air
Pot B: 120 ml air
Pot C: 160 ml air
Pot D: 200 ml air
2.

Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan pengujian pengaruh pemberian air dengan

volume yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan tanaman. Tanaman uji yang


digunakan adalah tanaman jagung (Zea mays). Kadar air yang diberikan pada
masing-masing tanaman adalah 80 ml (pot A), 120 ml (pot B), 160 ml (pot C), dan
200 ml (pot D). Parameter yang diukur pada percobaan ini adalah warna daun,
warna batang, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Tujuan dari percobaan ini adalah
mengetahui pengaruh pemberian air terhadap pertumbuhan biji jagung.
Percobaan ini dilakukan dengan cara menanam biji jagung yang sebelumnya
telah direndam dalam air hangat. Perendaman biji jagung dalam air hangat

Mohammad Agung 140410140069 Kelompok 3A

bertujuan untuk memecah masa dormansi biji sehingga proses imbibisi akan lebih
mudah. Biji jagung ditanam pada gelas plastik yang telah diberi tanah dan label.
Setiap gelas disiram sesuai kadar air yang telah ditentukan. Pengamatan dilakukan
selama tiga minggu.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, pada minggu ke-1 setelah penanaman,
biji jagung pada pot A mengalami perkembangan berupa muncul batang setinggi
0,3 cm, namun belum muncul daun. Pada pot B dan C, biji jagung tidak
mengalami perkembangan apapun. Pada pot D, biji jagung mengalami
perkembangan berupa muncul batang berwarna hijau muda setinggi 14,8 cm serta
dua helai daun berwarna hijau.
Pada minggu ke-2 setelah penanaman, biji jagung pada pot A mengalami
gangguan perkembangan berupa muncul jamur pada batang dan belum muncul
daun. Pada pot B dan C, biji jagung tidak mengalami perkembangan apapun. Pada
pot D, biji jagung mengalami pertambahan tinggi batang menjadi 35,7 cm
berwarna hijau pucat serta jumlah daun bertambah menjadi empat helai dan
berwarna hijau.
Pada minggu ke-3 setelah penanaman, biji jagung pada pot A tidak
mengalami peningkatan perkembangan. Pada pot B dan C, biji jagung tidak
mengalami perkembangan apapun. Pada pot D, biji jagung mengalami
pertambahan tinggi batang menjadi 52,8 cm berwarna hijau pucat serta jumlah
daun bertambah menjadi lima helai dan berwarna hijau.
Rata-rata pertumbuhan dari pot A adalah tinggi tanaman sebesar 0,1 cm
karena pada minggu kedua ditumbuhi jamur, pot B dan C tidak mengalami
perkembangan apapun, dan pot D tinggi tanaman sebesar 34,27 cm serta jumlah
helai daun sebanyak 3,67 ( 4).
Berdasarkan hasil tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa air
memberikan pengaruh nyata terhadap perkembangan biji jagung pada kadar 200
ml. Hal ini terlihat dari tinggi tanaman dan jumlah daun yang mengalami
peningkatan setiap minggunya. Menurut Suhartono et al. (2008), pemberian
interval air dalam kondisi optimum memungkinkan hormon tertentu bekerja
secara aktif dalam dinding sel untuk merentang. Kondisi ini memacu
pembentukan gula yang dapat memperbesar sel-sel sehingga terbentuk vakuola

Mohammad Agung 140410140069 Kelompok 3A

dalam ukuran besar. Keberadaan hormon perentang sel memacu sel-sel untuk
memanjang dan dinding sel menebal. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian
kadar air sebanyak 200 ml merupakan jumlah yang optimum bagi pertumbuhan
biji jagung.
Pada saat perkecambahan, faktor air menjadi sangat penting karena akan
berpengaruh pada proses pertumbuhan. Kebutuhan air akan bertambah seiring
dengan bertambahnya umur tanaman. Air merupakan salah satu komponen fisik
yang sangat penting dan diperlukan dalam jumlah banyak untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Air juga berfungsi sebagai stabilisator suhu tanaman.
Bagi tanaman, air berfungsi sebagai pelarut, yaitu untuk melarutkan unsur unsur
hara yang diberikan maupun yang tersedian di dalam tanah, yang selanjutnya
digunakan untuk proses fotosintesis. Dengan cukupnya ketersediaan hara, maka
fotosintesis berlangsung dengan baik dan fotosintat yang dihasilkan juga banyak
dan diantara fotosintat tersebut selanjutnya digunakan untuk pembentukan daun
(Nugraha et al., 2014). Air juga berfungsi sebagai pelarut hara, penyusun
protoplasma, bahan baku fotosintesis dan lain sebagainya (Kurniawan et al.,
2014).
Pada biji jagung dengan kadar air 80 ml, 120 ml, dan 160 ml, biji jagung
tidak mengalami perkembangan yang signifikan (baik dari parameter tinggi
batang ataupun jumlah daun). Hal ini dapat disebabkan karena kadar air dengan
jumlah tersebut belum mampu untuk menunjang keberlangsungan pertumbuhan
tanaman.
Cekaman (kelebihan maupun kekurangan) air dapat berakibat buruk karena
akan mengganggu proses-proses metabolisme dalam tubuh tanaman (Jasminarni,
2008). Pengaruh awal dari tanaman yang mendapat cekaman air adalah terjadinya
hambatan terhadap pembukaan stomata daun yang kemudian berpengaruh besar
terhadap proses fisiologis dan metabolisme dalam tanaman (Mapegau, 2006).
Tanaman yang kekurangan air akan memicu pembentukan hormon penghambat
asam absisat dan penghambat hormon perangsang pertumbuhan. Kondisi
kekurangan air juga mengurangi ketersediaan hara bagi tanaman karena jumlah air
dalam tanah akan memperngaruhi konsentrasi hara dalam larutan tanah dan laju
pergerakan hara ke akar melalui difusi dan transpor massa.

Mohammad Agung 140410140069 Kelompok 3A

Selain pengaruh air, faktor genotip tanaman juga merupakan salah satu hal
yang paling menentukan terhadap besar kecilnya hasil suatu tanaman disamping
faktor lingkungan. Hasil dari suatu tanaman ditentukan oleh faktor genetik yang
meliputi ketahanan terhadap suhu, ketersediaan air, cahaya matahari dan
komposisi tanah (Jasminarni, 2008). Pengaruh cekaman air terhadap pertumbuhan
tanaman tergantung pada tingkat cekaman yang dialami dan jenis atau kultivar
yang ditanam (Mapegau, 2006).
Daftar Pustaka
Jasminarni. 2008. Pengaruh Jumlah Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan
Hasil Selada (Lactucas sativa L.) di Polybag. Jurnal Agronomi. Vol. 12
No. 1. ISSN 1410-1939.
Kurniawan, B. A., Sisca F., dan Ariffin. 2014. Pengaruh Jumlah Pemberian Air
terhadap Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tembakau (Nicotiana
tabaccum L.). Jurnal Produksi Tanaman. Volume 2. Nomor 1. hlm. 59-64.
Mapegau. 2006. Pengaruh Cekaman Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr). Jurnal Ilmiah Pertanian
Kultura. Vol. 41. No. 1.
Nugraha, Y. S., Titin S., dan Roedy S. 2014. Pengaruh Interval Waktu dan
Tingkat Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Kedelai (Glycine max (L) Merril.). Jurnal Produksi Tanaman. Volume 2.
Nomor 7. hlm. 552-559.
Suhartono, R. A. Sidqi Z. Z. M., dan A. Khoiruddin. 2008. Pengaruh Interval
Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glicine
max (L.) Merril) pada Berbagai Jenis Tanah. Embryo. Vol. 5. No. 1. ISSN
0216-0188.