Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan TaufikNya sehingga penulis mampu menyelesaikan
Makalah Mata Kuliah PVBP-B yang membahas tentang Hantavirus ini dengan
tepat waktu.
Kedua kalinya shalawat serta salam penulis curahkan kepada junjungan
Nabi Besar Muhammad SAW, kepada para sahabat beliau, keluarga-keluarga
beliau yang telah berjuang dalam membela agama Allah yaitu Islam.
Semoga Makalah ini bermanfaat dan berguna bagi penulis pribadi dan
kepada pembaca yang budiman pada umumnya.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga Makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca yang budiman. Penulis mohon maaf apabila dalam
pembuatan Makalah ini terdapat banyak kekurangan, dan untuk itu diharapkan
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi perbaikan selanjutnya.
Terima kasih
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Makassar, 06 Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul..................................................................................................i
Kata Pengantar..................................................................................................ii
Daftar Isi............................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................2
C. Tujuan............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................3
A. Sifat-Sifat Hantavirus..................................................................................3
B. Struktur Dan Komposisi Sel Hantavirus ..................................................3
C. Klasifikasi Hantavirus.................................................................................5
D. Replikasi Hantavirus...................................................................................5
E. Patogenesis....................................................................................................7
a.Sejarah Hantavirus.......................................................................................7
b.HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrom)..................................................... 11
F. Pencegahan Dan Pengendalian Hantavirus............................................... 12
C. BAB III PENUTUP.....................................................................................14
A. Kesimpulan.....................................................................................................14
B. Saran...............................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tikus merupakan binatang pengerat yang sudahmenjadi musuh masyarakat


karena sebagai faktor penyakitdan identik dengan image kotor. Selain itu tikus
seringmerusak property rumah kita karena sifat pengeratnya danmenjadi musuh
para petani karena sering merusak tanaman/sawah mereka. Berbagai tindakan
sering kita lakukan untukmembasmi tikus ini seperti dengan jebakan, lem
ataupundengan racun.
Tikus adalah mamalia yang termasuk dalam suku Muridae. Spesies tikus
yang paling dikenal adalah mencit (Mus spp.) serta tikus got (Rattus norvegicus)
yang ditemukan hampir di semua negara dan merupakan suatu organisme
model yang penting dalambiologi. (Wikipedia, 2010).
Klasifikasi Tikus

Dunia : Animalia

Filum : Chordata

Sub Filum : Vertebrata

Kelas : Mammalia

Subklas : Theria

Ordo : Rodentia

Sub ordo : Myomorpha

Famili : Muridae

Sub famili : Murinae

Genus : Bandicota, Rattus, dan Mus


Insect dan rodent, baik disadari atau tidak, kenyataanya telah menjadi

saingan bagi manusia. Lebih dari itu insect dan rodent, pada dasarnya dapat
mempengaruhi bahkan mengganggu kehidupan manusia dengan berbagai cara.
Dalam hal jumlah kehidupan yang terlibat dalm gangguan tersebut, erat kaitanya
dengan kejadian/penularan penyakit.hal demikian dapat dilihat dari pola penularan
penyakit pest yang melibatkan empat faktor kehidupan, yakni Manusia, pinjal,
kuman dan tikus. Beranjak dari pola tersebut, upaya untuk mempelajari kehidupan
tikus menjadi sangat relefan. Salah satunya adalah mengetahui jenis atau spesies
tikus yang ada, melalui identifikasi maupun deskripsi.

Untuk keperluan ini dibutuhkan kunci identifikasi tikus atau tabel


deskripsi tikus, yang memuat ciriciri morfologi masing masimg jenis tikus.
Ciriciri morfologi tikus yang lazim dipakai untuk keperluan tersebut di antaranya
adalah : berat badan ( BB ), panjang kepala ditambah badan (H&B), ekor (T),
cakar (HF), telinga (E), tengkorak (SK) dan susunan susu (M). Disamping itu,
lazim pula untuk diketahui bentuk moncong, warna bulu, macam bulu ekor, kulit
ekor, gigi dan lain-lain. Insect atau ektoparasit yang menginfestasi tikus penting
untuk diketahui, berkaitan dengan penentuan jenis vektor yang berperan dalam
penularan penyakit yang tergolong rat borne deseases.
Di era sekarang, banyak bermunculan penyakit-penyakit baru yang
menggantikan penyakit lama yang mulai jarang ditemukan. Organisme yang
menjadi faktor penyebab penyakit-penyakit

adalah virus. Virus yang

menyebabkan penyakit biasanya bersifat patogen. Salah satu penyakit virus yang
baru-baru ini ditemukan adalah infeksi oleh Hantavirus.
Penyakit yang disebabkan oleh Hantavirus yang ditularkan lewat udara
yang tercemar oleh kotoran rodensia ini merupakan satu ha1 yang perlu
diantisipasi, walaupun dari laporan penelitian yang dilakukan di beberapa daerah
di Indonesia penyakit ini relatif masih endemik pada reservoirnya saja, sedangkan
penularan pada manusia masih sangat kecil, kurang dari 10%. oleh karena
manifestasi klinisnya yang berakibat fatal. Dikenal dua jenis sindroma sebagai
akibat infeksi hantavirus pada manusia yaitu Hemorrhugic Fever wit11 Rend
S'yhdrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) (Wibowo).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya:
a. Bagaimana sifat-sifat dari Hantavirus?

b.
c.
d.
e.
f.

Bagaimana struktur dan komposisi sel Hantavirus?


Apa klasifikasi Hantavirus?
Bagaimana replikasi Hantavirus?
Bagaimana Patogenesis dari Hantavirus?
Bagaimana pencegahan dan pengendalian Hantavirus?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuannya adalah untuk:
a.
mengetahui sifat-sifat dari Hantavirus
b. Mengetahui struktur dan komposisi sel Hantavirus
c. Mengetahui klasifikasi Hantavirus
d. Mengetahui replikasi Hantavirus
e. Mengetahui patogenesis dari Hantavirus
f. Mengetahui cara pencegahan dan pengendalian Hantavirus

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sifat-Sifat Hantavirus
Hantavirus adalah kelompok virus endemik dalam satu, atau paling banyak
tempat, beberapa tikus atau insektivora merupakan host tertentu, pada tempat
yang

yang juga disesuaikan. Setidaknya 20 hantaviruses telah diidentifikasi,

namun perkiraan jumlah yang tepat dari virus bervariasi. Hantaviruses baru
diidentifikasi seiring lokasi di mana virus ditemukan. Namun, beberapa virus ini
kemudian direklasifikasi. Hantaviruses ditemukan di seluruh dunia pada tikus dan
serangga. Distribusi masing-masing virus biasanya dibatasi oleh jangkauan
geografis host spesifik (Anonim.2009).
Hantavirus adalah suatu virus RNA yang termasuk dalam famili
Bunyaviridae, yang memiliki genom, yaitu berupa 3 segmen ssRNA yang bersifat
negatif sens. Genom terdiri atas small segmen (S), medium seginen (M) dan large
segmen (L). Segnen S (1,7-2,O kb) mengkode protein nukleokapsid (N), segmen
M (3.6 kb) mengkode protein prekusor glikoprotein dari dua glioprotein virus (G
1 dan G2) dan segmen L (6,5 kb) mengkode ensim RNA polimerase (1).
Sifat virus Hanta kurang infeksius, kecuali di dalam lingkungan tertentu.
Lamanya waktu virus ini dapat bertahan di lingkungan, setelah keluar dari tubuh
tikus tidaklah diketahui secara pasti. Tetapi percobaan laboratorium menunjukkan
bahwa, daya infektifitasnya tidak dijumpai setelah dua hari pengeringan.
Penyakit akibat infeksi Hantavirus juga merupakan penyakit menular ynag
bisa ditularkan kepada orang-orang terutama melalui aerosolisasi virus yang
terkandung dalam urin, kotoran, atau air liur hewan yang terinfeksi. Aerosolisasi
terjadi ketika virus menyebar ke udara, sehingga mudah terhirup ketika anda
bernapas. Hal ini dapat terjadi (misalnya) ketika sapu yang digunakan untuk
membersihkan kotoran tikus di loteng bersinggungan dengan partikel udara yang
mengandung kotoran hantavirus, kemudian dengan mudah dapat terhirup oleh
manusia.

B. Struktur dan Komposisi Sel Hantavirus


Studi dengan mikroskop elektron diambil sampel tipis

bagian jaringan

postmortem menunjukkan partikel hantavirus memiliki morfologi yang cukup


khas dari anggota keluarga Bunyaviridae, yang membentuk dominasi bulat atau
tidak teratur dengan diameter partikel 80-120 nm. Panjang partikel rata-rata
sekitar 170 nm (Zhenqiang Bi, Pierre B.H. Formenty, Cathy E. Roth)
a. Genom
Analisis molekuler pertama dari HTNV menunjukkan bahwa genom terdiri
dari tiga negatif strain, RNA beruntai tunggal yang terbagi 3 dari tiga segmen
genom. Tiga segmen yaitu S (kecil), M (medium), dan L (besar). Segmen tersebut
mengkodekan nukleoprotein (N), glikoprotein amplop (Gn, Gc, G1, dan G2), dan
protein L atau RNA virus (vRNA) RNA polimerase (RdRp).
b. Virion
Virion Hantavirus memiliki diameter sekitar 80-120 nanometer (nm).
Dengan ketebalan lipid bilayer sekitar 5 nm dan tertanam dengan protein
permukaan virus. Glikoprotein virus ini, dikenal sebagai Gn (G1) dan Gc(G2),
yang dikodekan oleh segmen M genom virus. Kedua protein ini cenderung untuk
saling mengaitkan dengan satu sama lain dan memiliki ekor interior dan eksterior
yang meluas sekitar enam nm luar lapisan permukaan.
Hantavirus memiliki selubung

yang mengandung lipid (lemak) dan

didalamnya juga terdapat nucleocapsids. Selubungnya Ini terdiri dari banyak


salinan nukleokapsid dengan sebuah protein N, yang berinteraksi dengan tiga
segmen tiga genom virus untuk membentuk struktur heliks. Virion tersusun atas
50% protein, lemak 20-30% dan 2-7% karbohidrat. Kepadatan virion adalah 1,18
gram per sentimeter kubik. Fitur ini umum untuk semua anggota Bunyaviridae.
Virion memiliki struktur permukaan dalam pola persegi grid-seperti biasa
dengan setiap unit morphologic menjadi sekitar 8 nm diameter bila dilihat oleh
pewarnaan negatif. Seperti virus lain enveloped, hantaviruses mudah diinaktivasi
dengan panas, deterjen, iradiasi UV, pelarut organik dan hipoklorit solusi.
C. Klasifikasi Hantavirus

Hanta virus adalah genus virus dari familia Bunyaviridae yang


menyebabkan penyakit sindrom paru virus hanta (hantavirus pulmonary
syndrome). Bunyaviridae adalah suatu famili virus yang besar, diantaranya
ditularkan melalui serangga (Bunyamwera, Nairo, dan Phlebovirus), beberapa
mengunfeksi tanaman (Tospovirus) dan beberapa bersifat zoonotik (Hantavirus).
Semuanya adalah virus yang berselubung dan berbebtuk sferis dengan suatu
nukleokapsid (Hart,Tony,Shears, Paul.1996).
Klasifikasi Hantavirus:
Kelas

: kelas Virus ((-)ssRNA)

Ordo

: Unassigned

Family

: Bunyaviridae

Genus

: Hantavirus

Spesies

: Hantaan virus

D. Replikasi Hantavirus
Virus masuk ke dalam sel eukariotik dengan cara interaksi antara
glikoprotein virus dan sel reseptor pada host dibantu oleh ko-faktor Decay yang
mempercepat masuknya virus ke sel inang. Infeksi pada manusia terjadi dengan
adanya aktivitas v3-integrin. Ketika virus sedah berada di permukaan sel inang,
virus ditangkap oleh reseptor clathrin dengan cara endositosis, kemudian RNA
virus rilis ke dalam sitoplasma sel inang melalui fusi endosom, dengan syarat pH
membran virus harus rendah.5
Setelah gen dari virus memasuki sitoplasma, terjadi transkripsi dan replikasi
primer vRNA menjadi mRNA secara bersamaan. Translasi segmen L dan S terjadi
di ribosom. G1 dan G2 glikoprotein membentuk hetero-oligomer dan kemudian
diangkut dari retikulum endoplasma ke kompleks Golgi, di mana glikosilasi
selesai. Protein L menghasilkan genom baru lahir dengan replikasi melalui positifsense RNA. Virion hantavirus diyakini dirakit oleh nukleokapsid dengan
glikoprotein yang tertanam dalam membran Golgi. Virion baru lahir kemudian

diangkut dalam vesikel sekretori ke membran plasma dan dirilis oleh


eksositosis.5,6
1. Partikel virion menuju ke permukaan sel melalui interaksi antara reseptor
permukaan sel inang dan glikoprotein virus.
2. Virion masuk dengan cara endositosis dan terjadi pelepasan struktur
permukaan, serta pelepasan genom virus.
3. Transkripsi RNA komplementer (Crna) dari genom RNA virus (rRNA).
4. Replikasi dan amplifikasi RNA, perakitan dengan protein N, dan transportasi
ke aparatus Golgi.
5. Perakitan semua komponen di aparatus Golgi.
6. Jalan keluar virus melalui fusi dari vesikel Golgi.
Pada proses replikasinya, RNA virion disalin menjadi mRNA dengan
bantuan transkriptasa virion. Dengan bantuan produk translasi mRNA selanjutnya
disintesis RNA komplementer. Tiap segmen RNA komplementer kemudian
menjadi cetakan bagi RNA genom. Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya
melalui proses budding di membran Golgi. Contoh : virus ensefalitis California.
E. Patogenesis
a. Sejarah
Penyakit zoonotik bersumber rodensia terutama penyak itinfeksi
Hantavirus dikenal dengan penyakit demam berdarah dengan sindrom renal
(Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS) yang disebabkan oleh
beberapa spesies virus dari genus Hantavirus, famili Bunyaviridae adalah salah
satu emerging diseases yang penting dengan "angka kematian" menurut WHO.
Genus hantavirus yang menyebabkan penyakit pada manusia diketahui terdiri dari
spesies virus Hantaan (HTNV), virus Seoul (SEOV), virus Dobrava (DOBV),
virus Puumala (PUUV) dan virus sin-nombre (SNV). Penyakit ini disebabkan
oleh beberapa spesies virus dari genus Hantavirus. Salah satunya yang dikenal
dengan demam Korea disebabkan oleh virus Han-taan. Waktu terjadi wabah
dikalangan pasukan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) di Korea pada tahun
1951 (Chan,1987). Angka kematian akibat virus Hantaan berkisar antara 5%-15%
(WHO, 1982). Virus tersebut dapat diisolasi dan ditemukan di daerah wabah yang

kemudian dikenal sebagai virus Hantaan sesuai dengan nama sungai yang
terdapatdi antara Korea Utara dan Korea Selatan. Berbeda dengan empat (4)
spesies virus yang disebut pertama, spesies yang terakhir menyebabkan penyakit
dengan sindrom paru-paru yang disebut hantavirus pulmonary syndrome (HPS)
yang pada tahun 1993 mulai dikenal dan mewabah di Amerika Serikat
(Tambunan, Veny,2008).
Patogenesis infeksi hantavirus tidak jelas karena ada kekurangan model
hewan (tikus dan mencit tampaknya tidak mendapatkan penyakit berat).
Sementara situs replikasi primer tidak jelas, baik HFRS dan HPS, efek utama
adalah dalam pembuluh darah. Ada peningkatan permeabilitas pembuluh darah
dan penurunan tekanan darah akibat disfungsi endotel. Dalam HFRS, kerusakan
paling dramatis terlihat pada ginjal, sedangkan di HPS, paru-paru dan limpa yang
paling terpengaruh (Medical-Net).
Anggota Hantavirus dapat dibedakan menjadi 3 kelompok berdasarkan
penyakit yang ditimbulkannya. pertama kelompok yang menyebabkan HFRS
(Hemorrahagic

Fever

with

Renul

Syndrome).

kedua

kelompok

yang

menyebabkan HPS (Huntavirus Pulmonary Syndrom) dan ketiga yang tidak


menimbulkan penyakit pada manusia (Wibowo).
Penyakit Hantavirus ditularkan melalui kotoran deer mouse (sebangsa
tikus), sejenis binatang pengerat. Hantavirus biasanya terhirup setelah terbawa
udara dalam debu yang mengandung urin atau tinja tikus dan menyerang paruparu (Hantavirus pulmonaary syndrom, HPS),. Hantavirus juga menyebabkan
demam berdarah yang disertai gejala ginjal (hemorrhagic fever renal syndrom)
(Reports from National Centers Disease, Department of Health service, State of
California, dalam Timmerck 2004).
Sumber:http://en.wikipedia.org/wiki/Hantavirus
Sumber: www.aschq.army.mil

b. Hantavirus Pulmonary Syndrom (kardio-) sindrom paru (HPS)


HPS adalah penyakit paru akut yang berat terkait dengan onset cepat gagal
napas dan syok kardiogenik . Sindrom paru hantavirus (HPS) adalah penyakit
mematikan yang ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui urine, kotoran, atau
air liur. Manusia dapat terjangkit penyakit ini ketika mereka menghirup virus
aerosol. HPS pertama kali dikenal pada tahun 1993 dan sejak itu telah
diidentifikasi di seluruh Amerika Serikat. Meskipun jarang, HPS berpotensi
mematikan. Rodent control di dalam dan sekitar rumah tetap menjadi strategi
utama untuk mencegah infeksi hantavirus. Masa inkubasi HPS antara 9-33 hari
(median 14-17 hari). Perjalanan klinis HPS ada tiga fase, yakni fase prodromal,
kardiopulmoner dan fase pemulihan. Sedangkan masa inkubasi HFRS bervariasi
antara 4-42 hari. Tingkat keparahan penyakit bervariasi dari ringan sampai yang
berat, sementara infeksi subklinis dapat terjadi pada anak-anak.
Gejala-gejala ini, yang sangat mirip dengan HFRS, termasuk takikardia dan
takipnea. Kondisi tersebut dapat menyebabkan fase cardiopulmonary, di mana
syok kardiovaskular dapat terjadi, dan pasien rawat inap diperlukan.
HPS memiliki patogenesis yang kompleks terkait dengan infeksi hantavirus
dan sistem kekebalan tubuh yang menghasilkan perubahan permeabilitas
pembuluh darah. Kebanyakan pasien mengalami edema paru diikuti oleh
kegagalan pernapasan, hipotensi, dan syok kardiogenik. Infeksi Hantavirus di
paru dimulai dengan interaksi Gn dan Gc glikoprotein permukaan dengan sel
target endotel, makrofag, dan trombosit yang telah terintegrasi oleh reseptor 3integrin di membran sel. Sel-sel ini memungkinkan replikasi virus, yang
menginduksi aktivasi kekebalan. Aktivasi kekebalan, terutama oleh makrofag dan
sel T CD8, mungkin terlibat dalam patogenesis yang menyebabkan kegagalan
pernafasan dan HPS. Makrofag aktif mensekresi sitokin proinflamasi seperti
TNF-, interleukin-1 (IL-1), dan IL-6. Sel CD4 T setelah mengenali antigen,
membentuk sel helper, T helper 1 (Th1) dan sel Th2. Sel Th1 memproduksi
interferon gamma (IFN-) dan TNF- (atau limfotoksin-), yang bertanggung

jawab untuk imunitas sel, dan diferensiasi ini diatur oleh IL-12. Sel-sel Th2
menghasilkan IL-4 dan IL-5 dan membentuk respon humoral dan alergi.

F. Pencegahan Dan Pengendalian


Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan status hidrasi pasien dan
kondisi hemodinamik. Langkah yang paling penting dalam mengelola HFRS
adalah mempertahankan status sirkulasi dan hemodinamik pasien.8
Penggunaan agen vasoaktif dan albumin intravena selama periode syok
sangat membantu. Namun pemberian berlebihan dapat menyebabkan ekstravasasi
disebabkan oleh kebocoran kapiler, terutama selama tahap demam dan hipertensi.8
Pertimbangkan penggunaan diuretik, seperti furosemide, ketika pasien
memiliki volume yang berlebihan dan oliguria. Antiviral ribavirin digunakan
selama bagian awal (fase demam) penyakit, mengurangi viremia dan tingkat
keparahan penyakit. Antihipertensi yang diindikasikan pada pasien dengan
hipertensi, yang biasanya muncul selama fase oliguria penyakit. Dialisis
diindikasikan jika pasien telah lama oliguria dengan tidak ada respon terhadap
pengobatan medis dan jika gagal ginjal cepat memburuk dengan indikasi
perburukan cairan dan kelainan elektrolit. 8
Langkah-langkah pengendaliannya termasuk menjaga populasi tikus tetap
rendah dan berada di luar bangunan dan menghindari kontak dengan semua jenis
tikus, baik yang hidup maupun yang mati. Jika kotoran tikus ditemukan di rumah
yang jarang ditempati, siramlah dan bersihkan dengan menggunakan masker dan
sarung tangan karet, basahi seluruh tempat yang terkena dengan desinfektan,
kumpulkan kotoran dan letakkan dalam dua lapis kantong plastik antibocor dan
buang bersama alat-alat pembersihnya. Jangan menyapu, menyedot, dengan
vacuum cleaner atau melakukan kegiatan yang dapat menerbangkan debu dan
menjadikan virus terbawa dalam udara (Reports from National Centers Disease,
Department of Health service, State of California, dalam Timmerck 2004).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hantavirus adalah virus RNA strain negatif rantai tunggal dari famili
Bunyaviridae yang menular pada manusia melalui hosper hewan pengerat.
Beberapa strain Hantavirus menyebabkan penyakit fatal pada manusia, seperti
demam berdarah Hantavirus dengan sindrom renal (Hantavirus Hemorrhagic
Fever with Renal Syndrome/HFRS) dan sindrom paru Hantavirus (Hantavirus
Pulmonary Syndrome/HPS).
Langkah pengendalian Hantavirus adalah dengan menjaga populasi tikus
tetap rendah dan berada di luar bangunan dan menghindari kontak dengan semua
jenis tikus, baik yang hidup maupun yang mati.
B. Saran
-

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2009. Hantavirus. (Diakses dari
http://www.cfsph.iastate.edu/Factsheets/pdfs/hantavirus.pdfpada Hari Jumat 10
April 2015 pada pukul 20.30 WITA).
Anonim.2014. Hantavirus. (Diakses dari http://www.news-medical.net pada Hari
Sabtu 11 April 2015 pada Pukul 21.00 WITA).
Hadisaputro,

Suharyo.

Penyakit

Disebabkan

Hantavirus.(Diakses

dari

http://www.suaramerdeka.com pada Hari Sabtu 11 April 2015 pada Pukul 21.10


WITA).
Hart,Tony, Shears, Paul.1996. Atlas berwarna Mikrobiologi kedokteran. Jakarta:
Hipokrates.
Soedarto.2004.Virologi Kedokteran.Jakarta: Erlangga.
Tambunan, Megawati Veny. 2008. Hantavirus. (Diakses dari
http://mikrobio.files.wordpress.com pada Hari Jumat 10 April 2015
pada pukul 10.00 WITA).
Timmreck,C.Thomas.2004.Epidemologi Edisi 2.Jakarta: EGC.
Wibowo.2015.

Epidemologi

Hantavirus

Di

Indonesia.

(Diakses

dari

http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/BPK/article pada Hari Jumat 10


April 2015 pada pukul 10.10 WITA).
Zhenqiang Bi, Pierre B.H. Formenty, Cathy E. Roth.2007.Hantavirus Infection: a
review

and

global

update

(Review

http://www.enivd.de/han_glob_08.pdf pada hari

Article).

(Diakses

dari