Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Media penyimpanan energi adalah suatu metode atau alat untuk menyimpan
beberapa bentuk energi yang bisa diambil pada suatu waktu tertentu untuk
berbagai kepentingan. Alat yang digunakan untuk menyimpan energi kadangkadang disebut dengan akumulator. Semua bentuk energi yang termasuk ke
dalam energi potensial (misal: energi kimia, energi listrik, dan sebagainya) atau
energi termal dapat disimpan.
Penyimpanan energi termal adalah penyimpanan energi sementara atau
pemindahan panas untuk penggunaan di kemudian hari. Penyimpanan energi
termal yang umum saat ini adalah penyimpanan es yang berguna untuk
memindahkan panas ketika dibutuhkan. Es dibuat di malam hari ketika beban
puncak telah lewat. Metode ini direkomendasikan dan dikembangkan oleh US
Green Building Council dalam program Leadership in Energy Eficiency and
Environmental Design untuk menggugah pengembangan desain bangunan
berkemampuan tinggi yang aman bagi lingkungan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Sistem Penyimpanan Energi ?
2. Apa yang dimaksud tentang Sistem Penyimpanan Energi Panas/Termal ?
3. Bagaimana dan apa saja yang terlibat didalam penyimpanan Energi
Panas ?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan tentang sistem penyimpanan energi.
2. Menjelaskan mengenai sistem penyimpanan energi panas/termal.
3. Memberikan pengetahuan lebih lanjut mengenai penyimpanan energi
panas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Sistem Penyimpanan Energi
Penyimpanan energi adalah proses alami yang usianya setua usia alam
semesta ini. Energi muncul pada penciptaan awal alam semesta dan sudah
disimpan dalam berbagai media seperti bintang, yang saat ini dapat dimanfaatkan
oleh manusia secara langsung (dengan pemanasan surya) ataupun secara tidak
langsung (melalui budidaya pertanian). Penyimpanan energi memungkinkan
manusia untuk menyeimbangkan kebutuhan dan ketersediaan energi.
Penyimpanan energi menjadi faktor utama dalam pembangunan ekonomi
dengan penyebaran energi listrik dan pemurnian bahan bakar kimia seperti bensin,
minyak tanah, dan gas alam pada akhir tahun 1800an. Tidak seperti media
penyimpanan energi organik seperti kayu atau batu bara, listrik telah digunakan
segera setelah dihasilkan pertama kalinya. Listrik seringkali tidak disimpan pada
skala besar, namun suatu saat nanti hal itu akan banyak terjadi dengan
ditemukannya teknologi penyimpanan energi listrik seperti baterai Lithium ion
dan NiMH yang merupakan baterai yang telah dan mampu menyimpan energi
listrik dan mensuplainya bagi mobil listrik yang ada saat ini. Penyimpanan energi
akan sangat diperlukan mengingat beberapa jenis sumber energi tidak dapat
diandalkan selamanya. Angin tidak selamanya bertiup untuk menggerakkan
turbin, cahaya matahari tidak bisa dimanfaatkan secara optimal ketika cuaca
berawan atau di malam hari. Bahkan pembangkit listrik tenaga air saat ini banyak
dihadapkan oleh ancaman kekeringan.
Penyelesaian masalah dalam penyimpanan energi untuk tujuan kelistrikan
dimulai dengan ditemukannya baterai pada pertama kalinya. Alat penyimpan
energi elektrokimia ini digunakan secara terbatas karena kapasitasnya yang kecil
dan biaya dalam pembuatannya yang mahal dibandingkan dengan energi listrik
yang dihasilkan oleh pemangkit listrik pada sejumlah energi yang sama.
Penyelesaian lainnya dari masalah yang sama adalah dengan ditemukannya
kapasitor.

Bahan bakar kimia telah menjadi bentuk yang umum dari penyimpanan
energi, baik dalam pembangkit listrik maupun transportasi, meski sebagian sulit
untuk diproduksi kembali dari pembentuknya. Bahan bakar kimia yang umum
digunakan adalah batu bara, bensin, solar, gas alam, LPG, propana, butana, etanol,
biodiesel, dan hidrogen. Bahan bakar ini dengan segera dapat diubah menjadi
energi mekanis dan listrik dengan mesin kalor (turbin dengan boiler atau mesin
pembakaran dalam). Generator listrik jenis ini digunakan hampir di setiap
pembangkit listrik di seluruh dunia. Alat elektrokimia seperti fuel cell
dikembangkan pada masa yang sama dengan baterai. Namun dengan berbagai
alasan, fuel cell tidak berkembang dengan baik hingga muncul penerbangan luar
angkasa berawak di mana sumber listrik non termal dibutuhkan dalam wahana
antariksa. Perkembangan fuel cell telah meningkat pada tahun-tahun ini akibat
permintaan terhadap sumber energi non hidrokarbon meningkat.
Pada saat ini, bahan bakar hidrokarbon cair menjadi bentuk penggunaan
energi yang dominan. Namun, bahan bakar jenis ini akan menghasilkan gas rumah
kaca ketika digunakan untuk menggerakkan mesin mobil, truk, kereta, kapal, dan
pesawat terbang. Energi non-karbon seperti hidrogen, atau rendah emisi karbon
seperti etanol dan biodiesel, berkembang merespon ancaman yang sangat
mungkin terjadi akibat emisi gas rumah kaca.
Sistem penyimpanan energi secara komersial saat ini dapat dikategorikan
ke dalam energi mekanis, listrik, kimia, termal, dan nuklir.
2.2 Sistem Penyimpanan Energi Panas/Termal
Sistem penyimpanan energi panas terdiri dari :
1. Penyimpanan panas sensible
2. Penyimpanan panas laten
3. Penyimpanan panas quasi-laten
2.2.1

Penyimpanan Panas Sensible


Dalam sistem penyimpanan panas sensible, secara sederhana panas

disimpan dengan cara menaikkan temperature suhu benda padat atau cair.
Jika panas spesifik benda tersebut konstan, maka panas yang disimpan

dalam benda tersebut jumlahnya berbanding langsung dengan kenaikan


temperaturnya.
2.2.2

Penyimpanan Panas Laten


Penyimpanan energi panas sebagai panas laten terjadi dalam proses

isotermal dan terjadi karena ketika material mengalami perubahan fasa,


biasanya dari keadaan padat ke cair. Perubahan fasa seperti itu diikuti
dengan penyerapan (pengisian) atau pelepasan (pengeluaran) energi panas
relatif berjumlah besar. Sistem penyimpanan panas laten mempunyai
kerapatan penyimpanan energi rata-rata lebih besar dibanding dengan
sistem penyimpanan energi panas sensible.
2.2.3

Penyimpanan Panas Quasi-Laten.


Sistem penyimpanan energi panas quasi-laten beroperasi dengan

cara yang sama dan tidak bisa dibedakan dengan sistem penyimpanan
panas laten. Dalam sistem ini energi panas diubah menjadi energi kimia
dalam reaksi dapat-balik endotermis pada temperatur konstan. Untuk
membalik proses, konstanta keseimbangan diubah dengan mengubah
konsentrasi atau tekanan pereaksi dan/atau dengan mengubah temperatur.
Dalam hal terakhir ini, sistem bereaksi sebagai suatu sistem penyimpanan
energi panas sensible dengan panas spesifik yang tinggi.

BAB III
METODE PENULISAN
4

3.1 Flowchart

Penyusunan Data
dari Literatur

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Penyimpan Energi Termal
5

Teknologi

Penyimpan

Panas

dengan

Perubahan

Fasa

atau

sering

disebut Phase Change Energy Storage Technology merupakan teknologi


penyimpanan energi dengan memanfaatkan perubahan fasa dari suatu material
yang berupa perubahan fasa dingin dan panas (Hot-Cold Storage). Hot-Cold
Storage secara umum disebut sebagai Thermal Energy Storage/ TES. Fasa panas
dan dingin yang yang disebutkan merupakan kondisi dari sifat material yang
digunakan dalam penyerapan energi selama beberapa waktu. Metode/ proses yang
digunakan untuk penyimpanan harus reversible, dapat bekrja dalam proses
bersiklus misalnya liquid-solid-liquid. Penyimpanan Energi Termal (Thermal
Energy Storage) dapat diaplikasikan dalam dua bentuk penyimpanan,
yaitu Sensible Heat Storage dan Latent Heat Storage.
Metode yang paling umum digunakan dari semua metode yang ada dalam
penyimpanan energi panas adalah Sensible Heat Storage. Misalnya dalam sistem
pemanas surya (solar heating system), air digunakan untuk penyimpanan panas
dalam sistem berbasis cair. Sementara rock bed digunakan untuk sistem berbasis
udara. Perubahan fasa solid-liquid dalam proses cair dan proses pemadatan dapat
menyimpan sejumlah besar energi dari panas dan dingin. Proses mencair/ melting
ditandai oleh perubahan volume yang semakin kecil umumnya lebih dari 10% dari
volume sebelumnya.
Jika satu wadah berisi material yang berada dalam kondisi cair, maka tekanan
tidak berubah secara signifikan proses pencairan dan pemadatan selanjutnya
diproses pada temperatur yang konstan. Setelah proses mencair, panas ditransfer
ke material penyimpan sehingga material tersebut tetap dapat menjaga
temperaturnya agar tetap konstan. Temperatur dalam perubahan fasa ini disebut
Phase Change Material. jika proses pencairan telah selesai/ komplit panas yang
masih ada di transfer dalam sensible heat storage. Panas yang dibutuhkan selama
proses pencairan adalah panas latent dan disebut proses latent heat storage.

Gambar 1. Proses Sensible dan Latent Heat Storage

Gambar 2. Temperatur control selama phase change energy storage


4.2 Jenis Phase Change Material
Bahan-bahan berubah fasa atau selanjutnya dikenal sebagai Phase Change
Materials (PCMs) yang juga seringkali disebut sebagai bahan-bahan penyimpan
panas laten adalah bahan yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan energi
panas yang sangat tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa perubahan
suhu (Meng 2008). Perpindahaan energi panas terjadi saat bahan berubah bentuk
dari padat ke cair atau cair ke padat. Hal ini dinamakan perubahan bentuk atau
perubahan fasa. Awalnya pada PCMs padat-cair ini terjadi hal seperti bahan
7

penyimpan konvensional dimana energi yang dilepaskan sesuai panas yang


diserap. Tidak seperti halnya bahan penyimpan energi konvensional, PCMs dapat
menyerap dan melepaskan panas mendekati suhu konstan. PCMs dapat
melepaskan panas lebih 4-5 kali setiap satuan volume dibandingkan bahan
penyimpan energi konvensional seperti air atau batu (Sharma et al. 2009).

Tabel 1. Material untuk Penyimpanan Energi Panas.

PCMs merupakan satu cara penyimpanan energi panas yang paling efisien.
PCMs dapat digunakan untuk penyimpanan energi dan kontrol suhu. PCMs
menjadi menarik Karena mempunyai kelebihan yaitu perbandingan yang cukup
tinggi antara panas yang dilepaskan dengan variasi suhu.
Dengan cepatnya perkembangan social masyarakat, kebutuhan energi akan
semakin meningkat. Pada saat yang bersamaan, terjadi krisis sumber energi tak
terbarukan (Wang 2008). Karena itu penelitian tentang energi terbarukan banyak
mendapat perhatian dan menjadi topik utama penelitian di seluruh dunia.
4.2.1

Inargonic PCM
Merupakan rekayasa yang dibuat dari larutan garam dan air, yang

disebut Hydranted Salt. Komposisi kimia dari garam bervariasi dalam


campuran untuk mencapai temperatur yang diperlukan dalam perubahan
fase.

Agen

nukleasi

khusus

ditambahkan

ke

campuran

untuk

meminimalkan pemisahan fase garam dan untuk meminimalkan super


pendinginan, yang dinyatakan karakteristik PCM garam terhidrasi. Salt
hidrat bersifat tidak beracun, tidak mudah terbakar dan ekonomis.
4.2.2

Bio-Based PCM
Adalah bahan organik yang secara alami terdiri atas asam lemak

seperti minyak sayur. Berdasarkan komposisi kimianya, temperatur


perubahan fase yang terjadi dapat bervariasi. Produk-produk ini tidak
beracun, non-korosif dan memiliki siklus hidup yang tak terbatas. Namun
bisa leibih mahal dan mudah terbakar pada suhu tinggi.
4.2.3

Organik PCM
Secara alami terdiri dari minyak bi-produk yang memiliki suhu fase-

perubahan yang unik. Produk-produk ini dibuat oleh perusahaan petrokimia


besar sehingga ketersediaan mereka bisa dibatasi. Mereka bisa menjadi
racun, mudah terbakar dan mahal. Mereka memiliki siklus hidup yang tak
terbatas dan harga bervariasi dengan perubahan harga minyak global.

4.3 Keuntungan Phase Change Energy Storage


Keuntungan dari Phase Change Energy Storage diantaranya adalah :
a. Menyimpan energi panas pada temperatur proses yang diaplikasikan
b. Menyimpan energi panas sebagai panas laten yang memungkinkan
kapasitas penyimpanan energi panas yang lebih tinggi per satuan berat
atau bahan tanpa ada perubahan temperatur
c. Menyimpan energi panas dari sumber energi panas atau sumber energi
listrik bila tersedia dan digunakan bila diperlukan
d. Teknologi ini akan menyebabkan ukuran peralatan HVAC untuk beban
rata-rata daripada beban puncak.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan dari Phase Change Energy Storage
diantaranya adalah :
a. Menyimpan energi panas alami untuk fasilitas pemanasan dan pendinginan
kebutuhan. Permintaan energi berkurang sehingga mengurangi jejak
karbon
b. Menyimpan energi panas selama off jam permintaan dan digunakan
selama permintaan puncak untuk menghemat biaya energi dan membantu
menstabilkan beban jaringan
c. Pergeseran pemanasan dan beban pendinginan juga mengurangi stres
waktu puncak pemanasan dan pendinginan peralatan yang dapat
menyebabkan berkurangnya biaya operasional dan pemeliharaan.

BAB V
PENUTUP

10

5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini didapat beberapa kesimpulan, diantaranya :
Media penyimpanan energi adalah suatu metode atau alat untuk
menyimpan beberapa bentuk energi yang bisa diambil pada suatu waktu
tertentu untuk berbagai kepentingan.
Penyimpanan energi menjadi faktor utama dalam pembangunan ekonomi
dengan penyebaran energi listrik dan pemurnian bahan bakar kimia seperti
bensin, minyak tanah, dll. Sistem penyimpanan energi secara komersial
saat ini dapat dikategorikan ke dalam energi mekanis, listrik, kimia,
termal, dan nuklir.
Sistem penyimpanan energi panas terdiri dari:
a. penyimpanan panas sensible,
b. penyimpanan panas laten
c. penyimpanan panas quasi-laten.
Dengan masing-masing memiliki karakteristik tersendiri.
Salah satu teknik penyimpanan energi panas adalah dengan media Phase
Change Materials (PCMs) yang juga seringkali disebut sebagai bahanbahan penyimpan panas laten, adalah bahan yang mempunyai kemampuan
untuk melepaskan energi panas yang sangat tinggi dalam jangka waktu
yang cukup lama tanpa perubahan suhu.
5.2 Saran
Topik mengenai pembahasan penyimpanan energi panas ini ada baiknya
menjadi salah satu topik penelitian di Universitas Padjadjaran karena merupakan
inovasi teknologi yang baik bagi lingkungan.

11

DAFTAR PUSTAKA

Dailami dan Hamdani, 2011, Kaji Eksperimental Perpindahan Pembekuan


Parafin-Al2O3 Sebagai Material Penyimpan Panas, Politeknik Negri
Lhokseumawe, 50-56.

Pujiastuti, Wiwik. 2011. Jenis-Jenis Bahan Berubah Fasa Dan Aplikasinya. Balai
Besar Kimia dan Kemasan. J. Kimia Kemasan, vol.33 no.1 April 2011 : 118123.
http://www.kizzio.com/555-teknologi-ramah-lingkungan.html diakses tanggal 6
November 2016 (20.38 WIB)
https://en.wikipedia.org/wiki/Thermal_energy_storage

diakses

tanggal

November 2016 (21.49 WIB)


http://www.wikipedia.com/penyimpan_energi diakses tanggal 6 November 2016
(21.40 WIB)