Anda di halaman 1dari 16

Pasien Meninggal Akibat Syok Anafilaktik dan

Kelalaian Dokter
Anggela Tiana
102013143
Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara, No 6, Jakarta 11510
angelatiana@yahoo.co.id

Abstract
Medical malpractice so far seems to be understood as a criminal matter rather than
of civil matter by the public in Indonesia. It is possible because the Indonesian Penal Code
(KUHP) provides some provisions which are relevant to several medical malpractice cases,
mainly if the cases in question involving bodily injury even though it happened because of
negligence. Negligence which causes bodily injury or death constitutes as criminal act under
Indonesian Penal Code. Since the cases involved bodily injury of the patients or even death,
most of the people associated the settlement of medical malpractice cases to the work of the
police. That is why we can see from the news that most of the victims or their family submit
the cases mentioned to the police for seeking justice. Yet, there were only a few in number
those who sued the defendants in civil court.
Keyword: Negligence, Medical malpractice

Abstrak
Malpraktik medis sejauh ini tampaknya dipahami sebagai masalah criminal daripada
materi sipil oleh masyarakat di Indonesia.Hal ini dimungkinkan karena KUHP Indonesia
(KUHP) memberikan beberapa ketentuan yang relevan dengan beberapa kasus malpraktik
medis, terutama jika kasus tersebut melibatkan cedera meskipun itu terjadi karena kelalaian.
Kelalaian yang menyebabkan luka-luka atau kematian merupakan sebagai tindak pidana di
bawah KUHP Indonesia. Karena kasus melibatkan cedera pasien atau bahkan kematian,
sebagian besar orang terkait penyelesaian kasus malpraktik medis untuk pekerjaan polisi.
Itulah sebabnya kita bisa melihat dari berita bahwa sebagian besar korban atau keluarga
mereka menyerahkan kasus disebutkan kepada polisi untuk mencari keadilan namun, hanya
ada sedikit jumlahnya mereka yang menggugat terdakwa di pengadilan sipil.

Kata kunci: Kelalaian, Malpraktik medis

Pendahuluan
Zaman sekarang ini tidak jarang ditemui kasus-kasus antara dokter dan pasien,
dimana pasien menuntut sang dokter. Situasi tersebut bisa dikarenakan kesalahan seorang
dokter maupun bukan kesalahan dokter. Tidak jarang juga karena tindakan yang dilakukan
seorang dokter sampai menyebabkan pasien meninggal. Sebagai seorang dokter harus
melakukan segala sesuatu dengan baik dan benar sesuai ketentuan yang berlaku. Meskipun
begitu sering kali sebagai seorang dokter lupa akan apa yang harus dilakukan dan yang tidak
harus dilakukan.

Definisi Malpraktek
Blacks Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai professional misconduct
or unreasonable lack of skill atau failure of one rendering professional services to exercise
that degree of skill and learning commonly applied under all the circumstances in the
community by the average prudent reputable member of the profession with the result injury,
loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them
(bahasa mudahnya: lalai). 1
Dari segi hukum, di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa malpraktik
dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti misconduct tertentu,
tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu kekurang-mahiran/ ketidak-kompetenan yang
beralasan. Malpraktik dapat dilakukan oleh profesi apa saja, tidak hanya oleh dokter.
Profesional dibidang hukum, perbankan dan akuntansi adalah beberapa profesional lain di
luar kedokteran yang dapat ditunjuk sebagai pelaku malpraktik dalam pekerjannya masingmasing. 1
Professional misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam bentuk
pelanggaran ketentuan etik, ketentuan disiplin profesi, hukum administratif, serta hukum
pidana dan perdata, seperti melakukan kesengajaan yang merugikan pasien, fraud,
penahanan pasien, pelanggaran wajib simpan rahasia kedoktean, aborsi ilegal, euthanasia,
penyerangan seksual, misrepresentasi atau fraud, keterangan palsu, menggunakan iptekdok
yang belum teruji/diterima, berpraktek tanpa SIP, berpraktek di luar kompetensinya, sengaja
melanggar standar, dan lain-lain. 1

Selain itu malpraktik juga dapat terjadi sebagai akibat kelalaian. Sementara itu
ketidak-kompetenan dapat menuju ke suatu tindakan misconduct ataupun suatu kelalaian. 1
Dengan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kesimpulan adanya malpraktik
bukanlah dilihat dari hasil tindakan medis pada pasien melainkan harus ditinjau dari
bagaimana proses tindakan medis tersebut dilaksanakan. 1
Suatu hasil yang tidak diharapkan di bidang medik sebenarnya diakibatkan oleh
beberapa kemungkinan yaitu:
1. Hasil dari suatu perjalanan penyakitnya sendiri, tidak berhubungan dengan
tindakan medis yang dilakukan dokter.
2. Hasil dari suatu risiko yang tak dapat dihindari, yaitu risiko yang tak dapat
diketahui sebelumnya (unforseeable), atau risiko yang meskipun telah diketahui
sebelumnya tetapi dianggap acceptable, sebagaimana telah diuraikan di atas.
3. Hasil dari suatu kelalaian medik.
4. Hasil dari suatu kesengajaan. 1
Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak
sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya.
Ini berdasarkan prinsip hukum De minimis noncurat lex, yang berarti hukum tidak
mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian
materi, mencelakakan bahkan merenggut nyawa orang lain, maka ini diklasifikasikan sebagai
kelalaian berat (culpa lata), serius dan kriminil.1 Tolak ukur culpa lata adalah:
1. Bertentangan dengan hukum
2. Akibatnya dapat dibayangkan
3. Akibatnya dapat dihindarkan
4. Perbuatannya dapat dipersalahkan.1

Jadi malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran di
bawah standar.1
Malpraktek medik murni (criminal malpractice) sebenarnya tidak banyak dijumpai.
Misalnya melakukan pembedahan dengan niat membunuh pasiennya atau adanya dokter yang
sengaja melakukan pembedahan pada pasiennya tanpa indikasi medik, (appendektomi,
histerektomi dan sebagainya), yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, jadi semata-mata untuk
mengeruk keuntungan pribadi. Memang dalam masyarakat yang menjadi materialistis,
hedonistis dan konsumtif, di mana kalangan dokter turut terimbas, malpraktek di atas dapat
meluas.2
Pasien/keluarga menaruh kepercayaan kepada dokter, karena:

1. Dokter mempunyai ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk menyembuhkan


penyakit atau setidak-tidaknya meringankan penderitaan.
2. Dokter akan bertindak hati-hati dan teliti
3. Dokter akan bertindak berdasarkan standar profesinya.2
Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika:
1. Dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum di kalangan
profesi kedokteran
2. Memberikan pelayanan kedokteran di bawah standar profesi (tidak lege artis).
3. Melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan dengan tidak hati-hati.
4. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum.2
Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik kedokteran,
maka ia hanya telah melakukan malpraktek etik. Untuk dapat menuntut penggantian kerugian
karena kelalaian, maka penggugat harus dapat membuktikan adanya 4 unsur berikut:
1. Adanya suatu kewajiban bagi dokter terhadap pasien
2. Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim dipergunakan
3. Penggugat telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya
4. Secara factual kerugian itu disebabkan oleh tindakan di bawah standar.2

Kadang-kadang penggugat tidak perlu membuktikan adanya kelalaian yang tergugat.


Dalam hukum terdapat suatu kaedah yang berbunyi Res Ipsa Loquitur, yang berarti
faktanya telah berbicara, misalnya terdapatnya kain kasa yang tertinggal di rongga perut
pasien, sehingga menimbulkan komplikasi pasca bedah. Dalam hal ini maka dokterlah yang
harus membuktikan tidak adanya kelalaian pada dirinya.2
Kelalaian dalam arti perdata berbeda dengan arti pidana. Dalam arti pidana (kriminil),
kelalaian menunjukkan kepada adanya suatu sikap yang sifatnya lebih serius, yaitu sikap
yang sangat sembarangan atau sikap sangat tidak hati-hati terhadap kemungkinan timbulnya
resiko yang bisa menyebabkan orang lain terluka atau mati, sehingga harus bertanggung
jawab terhadap tuntutan kriminal oleh negara.2 Kelalaian dapat terjadi dalam tiga bentuk,
yaitu: 2
a. Malfeasance: melakukan tindakan melanggar hukum atau tidak tepat atau tidak layak
(unlawfull/improper), misalnya: melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang
memadai (pilihan tindakan medis tersebut sudah inproper).
b. Misfeasance: melakukan pilihan tindakan medis yang tepat namun dilaksanakan
dengan tidak tepat (improper performa), misalnya: melakukan tindakan medis
menyalahi prosedur.

c. Nonfeasance: tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban.

Macam-macam Malpraktek
Malpraktek dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu malpraktek etik dan malpraktek
yuridis, ditinjau dari segi etika profesi dan segi hukum.3
1. Malpraktek etik
Yang dimaksud dengan malpraktek etik adalah kesalahan profesi karena kelalaian
dalam melaksanakan etika profesi, maka sanksinya adalah sanksi etika yang berupa sanksi
administrasi

sesuai

dengan

tingkat

kesalahannya.

Contoh konkrit yang merupakan malpraktek etik ini antara lain:


a. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan terhadap pasien kadangkala tidak
diperlukan bilamana dokter mau memeriksa secara lebih teliti. Namun karena
laboratorium memberikan janji untuk memberikan hadiah kepada dokter
yang mengirimkan pasiennya, maka dokter kadang-kadang bisa tergoda juga
mendapatkan hadiah tersebut.
b. Berbagai perusahaan yang menawarkan antibiotika kepada dokter dengan janji
kemudahan yang akan diperoleh dokter bila mau menggunakan obat tersebut,
kadang-kadang juga bisa mempengaruhi pertimbangan dokter dalam
memberikan terapi kepada pasien. Orientasi terapi berdasarkan janji-janji
pabrik obat yang sesungguhnya tidak sesuai dengan indikasi yang diperlukan
pasien juga merupakan malpraktek etik.3
2. Malpraktek yuridis
Malpraktek yuridis dibagi menjadi malpraktek civil, malpraktek pidana dan
malpraktek administratif.
a. Malpraktek perdata (civil malpractice)
Terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak dipenuhinya isi
perjanjian (wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain, atau terjadinya perbuatan melanggar hukum (onrechmatige
daad)

sehingga

menimbulkan

kerugian

pada

pasien.

Adapun isi dari tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa:

Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.

Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

terlambat melaksanakannya.
Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

tidak sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.


Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya
dilakukan.3

Sedangkan untuk perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum haruslah


memenuhi beberapa syarat seperti:

Harus ada perbuatan (baik berbuat naupun tidak berbuat)


Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupuntidak

tertulis)
Ada kerugian
Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang

melanggar hukum dengan kerugian yang diderita.


Adanya kesalahan (schuld)3

Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi) karena


kelalaian dokter, maka pasien harus dapat membuktikan adanya empat unsure
berikut:
Adanya suatu kewajiban dokter terhadap pasien.
Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim.
Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan
ganti ruginya.
Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.3

Namun ada kalanya seorang pasien tidak perlu membuktikan adanya kelalaian
dokter. Dalam hukum ada kaidah yang berbunyi res ipsa loquitor yang
artinya fakta telah berbicara. Misalnya karena kelalaian dokter terdapat kain
kasa yang tertinggal dalam perut sang pasien tersebut akibat tertinggalnya kain
kasa tersebut timbul komplikasi paksa bedah sehingga pasien harus dilakukan
operasi kembali. Dalam hal demikian, dokterlah yang harus membuktikan
tidak adanya kelalaian pada dirinya.3
b. Malpraktek pidana (criminal malpractice)
Terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat akibat dokter
atau tenaga kesehatan lainnya kurang hati-hati atua kurang cermat dalam

melakukan upaya penyembuhan terhadap pasien yang meninggal dunia atau


cacat tersebut. Malpraktek medis yang dipidana membutuhkan pembuktian
adanya unsure culpa lata atau kelaalaian berat atau zware schuld dan pula
adanya akibat fatal atau serius.

Malpraktek

pidana

karena

kesengajaan

(intensional)

Misalnya pada kasus-kasus melakukan aborsi tanpa indikasi medis,


euthanasia, membocorkan rahasia kedokteran, tidak melakukan
pertolongan pada kasus gawat padahal diketahui bahwa tidak ada
orang lain yang bisa menolong, serta memberikan surat keterangan

dokter yang tidak benar.


Malpraktek
pidana

karena

kecerobohan

(recklessness)

Misalnya melakukan tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai
dengan standar profesi serta melakukan tindakn tanpa disertai

persetujuan tindakan medis.


Malpraktek
pidana

karena

kealpaan

(negligence)

Misalnya terjadi cacat atau kematian pada pasien sebagai akibat


tindakan dokter yang kurang hati-hati atau alpa dengan tertinggalnya
alat operasi yang didalam rongga tubuh pasien.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu

malfeasance,

misfeasance dan nonfeasance. Malfeasance berarti melakukan


tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak (unlawful atau
improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang
memadai

(pilihan

tindakan

medis

tersebut

sudah

improper).

Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat


tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu
misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur.
Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan
kewajiban baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan
bentuk-bentuk error(mistakes, slips and lapses) yang telah diuraikan
sebelumnya, namun pada kelalaian harus memenuhi ke-empat unsur
kelalaian dalam hukum khususnya adanya kerugian, sedangkan error
tidak selalu mengakibatkan kerugian. Demikian pula adanya latent
error yang tidak secara langsung menimbulkan dampak buruk.

Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis,


sekaligus merupakan bentuk malpraktik medis yang paling sering
terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang dengan tidak
sengaja, melakukan sesuatu (komisi) yang seharusnya tidak dilakukan
atau tidak melakukan sesuatu (omisi) yang seharusnya dilakukan oleh
orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan
dan situasi yang sama. Perlu diingat bahwa pada umumnya kelalaian
yang dilakukan orang-per-orang bukanlah merupakan perbuatan yang
dapat dihukum, kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya
(berdasarkan

sifat

profesinya)

bertindak

hati-hati,

dan

telah

mengakibatkan kerugian atau cedera bagi orang lain.3


c. Malpraktek administrative (administrative malpractice)
Terjadi apabila dokter atau tenaga kesehatan lain melakukan pelanggaran
terhadap hukum Administrasi Negara yang berlaku, misalnya menjalankan
praktek dokter tanpa lisensi atau izinnya, manjalankan praktek dengan izin
yang sudah kadaluarsa dan menjalankan praktek tanpa membuat catatan
medik.
Dua macam pelanggaran administrasi tersebut adalah:

Pelanggaran

kedokteran
Pelanggaran administrasi mengenai pelayanan medis3

hukum

administrasi

tentang

kewenangan

praktek

Pembuktian Malpraktek di Pelayanan Kesehatan


Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan
dengan dua cara yakni :
1. Cara langsung
Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni:
a. Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga dokter dengan pasien, dokter haruslah
bertindak berdasarkan:

Adanya indikasi medis


Bertindak secara hati-hati dan teliti
Bekerja sesuai standar profesi
Sudah ada informed consent
b. Dereliction
of
Duty
(penyimpangan

dari

kewajiban)

Jika seorang dokter melakukan tindakan menyimpang dari apa yang


seharusnya atau tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut
standard profesinya, maka dokter dapat dipersalahkan.
c. Direct Cause (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)
Dokter untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan kausal (langsung)
antara penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang diderita oleh karenanya
dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela diantaranya., dan hal ini haruslah
dibuktikan dengan jelas. Hasil (outcome) negatif tidak dapat sebagai dasar
menyalahkan dokter. Sebagai adagium dalam ilmu pengetahuan hukum, maka
pembuktiannya adanya kesalahan dibebankan/harus diberikan oleh si
penggugat (pasien).4
2. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien, yakni dengan
mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res
ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada
memenuhi kriteria:
a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila dokter tidak lalai
b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab dokter
c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak
ada contributory negligence.4

Adverse Event
Ketika memberikan pelayanan kepada pasien, terjadilah hubungan yang disebut
kontrak terapeutik. Dalam hubungan tersebut timbul hak, kewajiban dan tanggungjawab yang
mengikat para pihak dengan dilandaskan pada niat baik, kepercayaan dan kesetaraan. Di satu
pihak pasien dengan jujur menjelaskan masalahnya dan mempercayakan pengobatannya
kepada dokter dan di pihak lain dokter akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk
menolong pasien tersebut. Dalam perikatan ini, dokter harus berupaya sebaik mungkin

(inspannings verbintenis) sesuai standar profesi namun tidak dibenarkan untuk menjamin
hasil pengobatannya karena memang bukan perikatan hasil (resultaat verbintenis).5 Sekalipun
dokter telah berupaya sebaik mungkin, adakalanya hasil pengobatan tidak sesuai dengan
harapan pasien ataupun dokter, ketidakberhasilan itu dapat berupa antara lain timbulnya nyeri
kronik, kecacatan, koma atau bahkan kematian. Kejadian tidak diharapkan (KTD) ini disebut
dengan adverse event. KTD dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Perjalanan penyakit yang tidak dapat dihentikan misal karena keganasan atau stadium
yang sudah lanjut; atau karena komplikasi penyakit yang terjadi kemudian.
2. Merupakan risiko yang tidak dapat diketahui atau dibayangkan sebelumnya

(unforeseeable risk)
3. Merupakan risiko yang sudah dapat diketahui namun dapat diterima oleh pasien

(foreseeable but accepted)


4. Akibat dari kegagalan dokter melaksanakan pelayanan yang layak (reasonable care)

dalam melaksanakan tugas profesionalnya, tanpa alasan yang dapat dibenarkan.5


Dalam hal nomer 1,2,3 diatas, dokter tidak harus bertanggungjawab selama dokter
tersebut telah melakukan asuhan medis sesuai standar profesi. Bila terjadi yang nomer 4,
dokter dapat dimintai pertangungjawaban karenanya.5
Mengingat adanya risiko pada tindakan pengobatan oleh dokter, maka dipandang perlu
diterbitkan Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang mengatur
praktik kedokteran di Indonesia. Pengaturan Praktik Kedokteran dilaksanakan oleh Konsil
Kedokteran Indonesia (KKI) sebagai perwujudan otonomi profesi dalam melakukan
pengaturan diri (self regulation) pada profesi kedokteran dan kedokteran gigi. Pengaturan
praktik kedokteran oleh KKI bertujuan 1) untuk melindungi masyarakat dan 2) untuk
meningkatkan mutu praktik kedokteran dan kedokteran gigi.5
Untuk mencapai tujuan tersebut, pengaturan dilakukan oleh KKI melalui berbagai
kegiatan diantaranya:
1. Meregistrasi dokter/dokter gigi praktik (practitioner) melakui penilaian kredential.
Bila dinilai memenuhi persyaratan mutu, kepada yang bersangkutan akan diberikan
surat tanda registrasi (STR) sebagai bukti kewenangannya untuk melaksanakan
asuhan medis.
2. Melakukan pembinaan dan pengawasan kepada para praktisi diatas, melalui
penyusunan standar-standar praktik kedokteran diantaranya standar pendidikan

10

profesi, standar kompetensi, standar perilaku profesional dan manual-manual teknis


lainnya.
3. Melakukan penegakan disiplin profesi kedokteran berupa penilaian kinerja dan
perilaku profesional dari dokter/dokter gigi yang berpraktik, yang dalam hal ini
dilakukan oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)5
MKDKI adalah bagian dari KKI yang bersifat otonom dalam melaksanakan tugas
fungsionalnya. Tugas pokok MKDKI adalah menegakkan disiplin profesi kedokteran, yang
meliputi keahlian profesional (professional expertise) dan perilaku profesional (professional
behaviour).6 Keluhan pasien pada umumnya adalah, hasil pengobatan yang tidak sesuai
harapan dan komunikasi yang tidak adekuat, baik karena pasien tidak memahami penjelasan
dokter atau karena informasi dokter yang tidak memadai sehingga pasien tidak memahami
permasalahnya dan kemudian menimbulkan respons emosional.5 Bila pasien tidak puas pada
pelayanan dokter/dokter gigi, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Menanyakan kepada dokter atau manajemen rumah sakit dalam rangka meminta
penjelasan tentang penanganan terhadapnya.
2. Bila pasien menduga adanya pelanggaran disiplin yang serius, dan dalam rangka

meningkatkan kinerja dokter/dokter gigi, sebaiknya pasien mengadukan keluhannya


kepada MKDKI. Pengaduan tentang kinerja dokter/dokter gigi dapat disampaikan
oleh pasien atau keluarganya, atau oleh otoritas kesehatan seperti dinas kesehatan,
departemen kesehatan, sarana kesehatan, dan lain-lain.5
Setelah menerima laporan/pengaduan, MKDKI akan mengumpulkan fakta data dan
informasi untuk kemudian membentuk majelis yang akan melakukan pemeriksaan dalam
rangka menemukan ada atau tidaknya pelanggaran disiplin profesi yang telah dilakukan oleh
seorang dokter/dokter gigi.5
Bila ditemukan pelanggaran disiplin profesi maka MKDKI akam memberikan sanksi
disiplin dalam rangka memperbaiki inerja yang bersangkutan berupa peringatan tertulis,
reedukasi, pencabutan sementara STR dan SIP, atau pencabutan selamanya bila dipandang
kinerja dokter/dokter gigi tersebut tidak dapat diperbaiki lagi.5
MKDKI tidak berwenang menyelesaikan sengketa medik atau memerintahkan pihak
lain untuk memberikan kompensasi atau ganti rugi, maka bila menginginkan hal tersebut
pengadu dapat memanfaaatkan lembaga mediasi atau peradilan umum.5

Upaya Pencegahan Malpraktek


11

Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga dokter, bidan dan
ahli kesehatan lainnya karena adanya mal praktek diharapkan para dokter,bidan dan ahli
kesehatan lainnya dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena
perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan
berhasil (resultaat verbintenis).
b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
e. Memperlakukan

pasien

secara

manusiawi

dengan

memperhatikan

segala

kebutuhannya.
f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.5

Penanganan Malpraktek
Walaupun dalam KODEKI telah tercantum tindakan-tindakan yang selayaknya
dilakukan oleh seorang dokter dalam menjalankan profesinya, akan tetapi sanksi bila terjadi
pelanggaran etik tidak dapat diterapkan dengan seksama. Dalam etik sebenarnya tidak ada
batas-batas yang jelas antara boleh atau tidak, oleh karena itu kadang kala sulit memberikan
sanksi-sanksinya.
Di negara-negara maju terdapat suatu Dewan Medis (Medical Council) yang bertugas
melakukan pembinaan etik profesi dan menanggulangi pelanggaran-pelanggaran yang
dilakukan terhadap etik kedokteran. Di negara kita IDI telah mempunya Majelis Kehormatan
Etik Kedokteran (MKEK), baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Walaupun
demikian, MKEK ini belum lagi dimanfaatkan dengan baik oleh para dokter ataupun
masyarakat. 6

12

Gambar 1. Skema pengaduan kasus malpraktik.6


Selama ini pasien dan atau keluarga mengadukan dokter yang diduga melakukan
malpraktek ke berbagai instansi dan badan seperti polisi, jaksa pengacara, IDI/MKEK, Dinas
Kesehatan, Menteri Kesehatan, LSM, Komnas HAM, dan media cetak/elektronik.
Dengan terbitnya UU R.I. No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, diharapkan
bahwa setiap orang yang merasa kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter dapat
mengadukan kasusnya ke Majelis Kehormatan Disipin Kedokteran Indonesia (MKDKI)
secara tertulis, atau lisan jika tidak mampu secara tertulis. Pengaduan ini tidak
menghilangkan hak setiap orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak pidana kepada
pihak berwenang dan atau menggugat kerugian perdata kepada pengadilan.
MKDKI memeriksa dan memberikan keputusan terhadap pengaduan tersebut.Apabila
ditemukan pelanggaran etik, MKDKI meneruskan pengaduan dimaksud kepada MKEK IDI.
Jika terdapat pelanggaran disiplin oleh dokter, MKDKI dapat memberikan sanksi disiplin
berupa peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR), atau Surat
Izin Praktik (SIP) atau wajib mengikutin pendidikan/pelatihan kembali di Institusi Pendidikan
Kedokteran. Tujuannya adalah untuk penegakan disiplin dokter, yaitu penegakan aturanaturan dan atau ketentuan penerapan keilmuan dalam hubungannya dengan pasien.

13

Jika terdapat bukti-bukti awal adanya dugaan tindak pidana, MKDKI meneruskan
pengaduan tersebut kepada pihak yang berwenang dan atau pengadu penggugat kerugian
perdata ke pengadilan.6

Syok anafilaktik
Syok

anafilaktik

adalah

suatu

respons

hipersensitivitas

yang

diperantarai

oleh Immunoglobulin E (hipersensitivitas tipe I) yang ditandai dengan curah jantung dan
tekanan arteri yang menurun hebat. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu reaksi antigenantibodi yang timbul segera setelah suatu antigen yang sensitif masuk dalam sirkulasi. Syok
anafilaktik merupakan salah satu manifestasi klinis dari anafilaksis yang merupakan syok
distributif, ditandai oleh adanya hipotensi yang nyata akibat vasodilatasi mendadak pada
pembuluh darah dan disertai kolaps pada sirkulasi darah yang dapat menyebabkan terjadinya
kematian. Syok anafilaktik merupakan kasus kegawatan, tetapi terlalu sempit untuk
menggambarkan anafilaksis secara keseluruhan, karena anafilaksis yang berat dapat terjadi
tanpa adanya hipotensi, seperti pada anafilaksis dengan gejala utama obstruksi saluran napas.
Mekanisme umum terjadinya reaksi anafilaksis dan anafilaktoid adalah berhubungan
dengan degranulasi sel mast dan basophil yang kemudian mengeluarkan mediator kimia yang
selanjutnya bertanggung jawab terhadap symptom. Degranulasi tersebut dapat terjadi melalui
kompleks antigen dan Ig E maupun tanpa kompleks dengan Ig E yaitu melalui pelepasan
histamine secara langsung. Mekanisme lain adalah adanya gangguan metabolisme asam
arachidonat yang akan menghasilkan leukotrien yang berlebihan kemudian menimbulkan
keluhan yang secara klinis tidak dapat dibedakan dengan meknisme diatas. Hal ini dapat
terjadi pada penggunaan obat-obat NSAID atau pemberian gama-globulin intramuscular.

Penatalaksanaan Syok Anafilaktik


Bila kita mencurigai adanya reaksi anafilaksis segera bertindak dan jangan ditunggutunggu. Salah seorang penulis mengatakan Do not wait until it is fully developed artinya
segeralah bertindak.7 Apakah yang harus kita lakukan bila berhadapan dengan penderita
syok anafilaksis?
1.

Posisi: Segera penderita dibaringkan pada posisi yang nyaman /comfortable dengan
posisi kaki ditinggikan (posisi trendelenberg), dengan ventilasi udara yang baik dan

jangan lupa melonggarkan pakaian.


2. Airways : Jaga jalan nafas dan berikan oksigen nasal/mask 5-10 I/menit, dan jika
penderita tak bernafas disiapkan untuk intubasi.

14

3. Intravena access : Pasang IV line dengan cairan NacL 0,9% / Dextrose 5% 0,5-1
liter/30 menit
4. Drug: Epinefrin / Adrenalin adalah drug of choice pada syok anafilaksis dan diberikan
sesgera mungkin jika mencurigai syok anafilaksis (TD sistolik turun < 90 MmHg).
Namun harus hati-hati dengan penderita yang dalam sehari-hari memang hipotensi. 7
Untuk itu perlunya dilakukan pemeriksaan TD sebelum dilakukan tindakan.
Dosis : 0,3-0,5 ml/cc Adrenalin/Epinefrin 1 : 1000 diberikan IM (untuk anak-anak
dosis : 0,01 ml/KgBB/.dose dengan maksimal 0,4 ml/dose). Bila anafilaksis berat atau tidak
respon dengan pemberian dengan cara SK/IM pemberian Epinefrin/adrenalin dapat langsung
melalui intavena atau intratekal (bila pasien sudah dilakukan intubasi melalui ETT) dengan
dosis 1-5 ml (Epi 1 : 10.000, dengan cara membuatnya yaitu mengencerkan epinefrin 1 ml1:
1000 dengan 10 ml NaCl). Dapat diulang dalam 5-10 menit. Jika belum ada respons
diberikan adrenalin perdip dengan dosis ug/menit (cara membuat : 1 mg Epinefrin1: 1000
dilarutkan dalam DX5% 250 cc). 7
Selain pemberian Epi/Adrenalin pemberian antihistamin ternyata cukup efektif untuk
mengontrol keluhan yang ditimbulkan pada kulit atau membantu pengobatan hipotensi yang
terjadi. Dapat diberikan antihistamin antagonist H1 yaitu Dipenhidram dengan dosis 25-50
mg IV (untuk anak-anak 2 mg/KgBB) dan bila dikombinasikan dengan antagonis H2 ternyata
lebih superioar yaitu denagn Ranitidin dosis 1 mg/kgbb IV atau dengan Cimetidine 4
mg/kgbb IV pemberian dilakukan secara lambat. 7 Pemberian golongan kortikosteroid dapat
diberikan walaupun bukan first line therapy. Obat ini kurang mempunyai efek untuk jangka
pendek, lebih berefek untuk jangka panjang. Dapat diberikan Hidrokortison 250-500 mg IV
atau metal prednisolon50-100 mg IV. 7
Bila terdapat bronkospasme yang tak respon dengan adrenalin dapat diberikan
aminophylin dengan dosis 6 mg/KgBB dala 50 ml NaCL 0.9% diberikan secara Iv dalam 30
menit. 7 Bila penderita menunjukan tanda-tanda perbaikan harus diobservasi minimal 6 jam
atau dirujuk ke RS bila belum menujukan respons.

Penutup
Malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran di
bawah standar. Malpraktek dapat dibagi menjadi malpraktek etik dan malpraktek yuridis.
Selain itu dalam pelayanan kedokteran meskipun dokter telah berusaha sebaik mungkin,
terkadang timbul kejadian yang tidak diinginkan (adverse event) yang dapat berakibat

15

merugikan pasien. Apabila dokter sebenarnya dapat mencegah adverse event tetapi tidak
dilakukan maka dokter melakukan malpraktek.
Pada kasus ini terjadi reaksi syok anafilaktik, dr.A tidak dapat dipersalahkan karena
merupakan unforeseeable risk. Namun dr.A dipersalahkan karena ia tidak memberikan
penanganan kepada pasiennya pada saat terjadi syok anafilaktik. Seharusnya seorang dokter
dapat memberikan penanganan sesuai prosedur pada pasien anafilaktik dan dikategorikan
sebagai tindakan malpraktek.

Daftar Pustaka
1. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Jakarta: EGC; 2009.
h.87-9.
2. Sage WM, Kersh R. Medical malpractice. New York: Cambridge University; 2010.
p.52-3.
3. McCellan FM. Medical malpractice:law, tactics, and ethics. Philadelphia: Temple
University; 2011. p.39.
4. Isfandyarie, Anny. Malpraktek dan resiko medik dalam kajian hukum pidana. Jakarta:
Prestasi Pustaka; 2010. h.46-7.
5. Samil RS. Etika kedokteran Indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2012. h.178-180.
6. Jayanti NK. Penyelesaian hukum dalam malapraktik kedokteran. Yogyakarta:
Yustisia; 2009. h. 95-100.
7. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga; 2005. h. 128-9.

16