Anda di halaman 1dari 18

Laporan Kasus Hipertensi dengan Pendekatan

Kedokteran Keluarga di Puskesmas Kelurahan


Jelambar I Kecamatan Grogol Petamburan

Laporan Disusun Oleh :


Anggela Tiana
102013143
E2

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
2013
1 | Page

Pendahuluan
Segitiga Epidemiologi
Timbulnya penyakit merupakan suatu interaksi antara berbagai faktor penyebab. Ditinjau
dari sudut ekologis (ekologi: ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk
hidup dengan lingkungannya), ada tiga faktor yang dapat menimbulkan suatu kesakitan,
kecacatan, ketidakmampuan dan kematian pada manusia yang disebut sebagai Trias Ekologi
(Ecological Triad) atau Trias Epidemiologi (Epidemiological Triad), yaitu: pejamu (host), kuman
(agent), dan lingkungan (environment), melalui suatu proses yang dikenal sebagai rantai
penularan yang terdiri dari 6 komponen, yaitu (1) penyebab, (2) sumber penularan, (3) cara
keluar dari sumber penularan, (4) cara penularan, (5) cara masuk ke pejamu, dan (6) pejamu.
Dalam keadaan normal terjadi suatu keseimbangan yang dinamis antara ketiga trias ekologi
tersebut, atau dalam kata lain adalah sehat. Pada suatu keadaan terjadinya gangguan pada
keseimbangan dinamis ini, misalnya akibat menurunnya kualitas lingkungan hidup sampai pada
tingkat tertentu maka akan memudahkan agen penyakit masuk ke dalam tubuh manusia dan
keadaan tersebut disebut sakit. Dengan mengetahui proses terjadinya infeksi atau rantai
penularan penyakit maka intervensi yang sesuai dapat dilakukan untuk memutuskan mata rantai
penularan tersebut.1
Menurut Blum, derajat kesehatan seseorang di pengaruhi oleh 4 faktor diantaranya adalah
faktor genetik, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Faktor yang tidak dapat di
intervensi diantara ketiga faktor lainnya adalah faktor genetik, sedangkan sebaliknya adalah
faktor perilaku yang dapat diubah seiring dengan pengetahuan dan kemauan dari diri sendiri.
Tingkat Pencegahan Penyakit
Konsep yang paling penting mengenai pencegahan penyakit pertama kali dipopulerkan
oleh Leavell dan Clark, sehingga disebut Leavells levels. Berdasarkan konsep ini, semua
kegiatan yang dilakukan para klinisi dan profesional kesehatan lainnya berakhir dengan tujuan
untuk mencegah. Tingkat pencegahan penyakit terbagi dalam tiga tahap. Faktor yang akan
dicegah tergantung kepada tingkat kesehatan atau tingkat penyakit individu yang sedang
mengalami perawatan pencegahan.1

2 | Page

Pencegahan primer adalah untuk mencegah proses penyakit terjadi dengan mengeliminasi
penyebab dari suatu penyakit atau dengan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap penyakit
tersebut, dengan kata lain mencegah awitan suatu penyakit atau cedera selama masa
prepatogenesis (sebelum suatu proses penyakit dimulai). Pencegahan sekunder adalah untuk
menginterupsi proses penyakit sebelum menjadi simptomatik, yaitu diagnosis dini dan
pengobatan segera suatu penyakit atau cedera untuk membatasi disabilitas dan mencegah
patogenesis penyakit lebih parah. Pencegahan tersier adalah untuk membatasi komplikasi fisik
dan sosial pada penyakit yang sudah simptomatik. Tingkat pencegahan mana yang akan
dilakukan bergantung kepada kondisi tertentu.1
Defenisi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah
di atas normal yang di tunjukkan oleh angka sistolik dan diatolik pada pemeriksaan tensi darah
menggunakan alat pengukur tekanan darah baik berupa air raksa (sphygmomanometer) ataupun
alat digital lainnya. Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat
badan, tingkat aktivitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHg. Dalam
aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. Tetapi
secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat di waktu
beraktivitas. The Joint National Community on Preventation, Detection evaluation and treatment
of High Blood Preassure dari Amerika Serikat dan badan dunia WHO dengan International
Society of Hipertention membuat definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah seseorang
tekanan sistoliknya 140 mmHg atau lebih atau tekanan diastoliknya 90 mmHg atau lebih atau
sedang memakai obat anti hipertensi.2,3

Epidemiologi
Prevalensi Hipertensi atau tekanan darah di Indonesia cukup tinggi. Selain itu, akibat
yang ditimbulkannya menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hipertensi, merupakan salah satu
faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah.
Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala, sehingga baru disadari bila telah menyebabkan
gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung atau stroke. Tidak jarang hipertensi ditemukan
3 | Page

secara tidak sengaja pada waktu pemeriksaan kesehatan rutin atau datang dengan keluhan lain.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, sebagian besar kasus hipertensi di
masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18
tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7%, dimana hanya 7,2%
penduduk yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4% kasus yang minum obat
hipertensi.3,4

Etiologi
Penyakit darah tinggi digolongkan menjadi 2 yaitu :5
1. Hipertensi Primer, suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi akibat dampak
dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola makannya tidak
terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan obesitas, merupakan
pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula seseorang yang
berada dalam lingkungan atau kondisi stressor tinggi sangat mungkin terkena penyakit
tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang kurang olahraga pun bisa mengalami tekanan
darah tinggi.
2. Hipertensi Sekunder, suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akiba
seseorang engalami atau menderita penyakit lainnya, seperti gagal jantung, gagal ginjal
atau kerusakan sistem hormon tubuh. sedangkan pada ibu hamil, tekanan darah secara
umum meningkat saat kehamilan usia 20 minggu. Terutama pada wanita yang berat
badannya diatas normal atau gemuk.

Faktor Resiko
Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan serta
faktor yang tidak dapat dimodifikasi.
a

Faktor yang tidak dapat dimodifikasi atau dikendalikan5


1. Genetik

4 | Page

Individu dengan orangtua hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk
menderita hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan
riwayat hipertensi.
2. Umur
Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia, sering terjadi
pada umur 40-60 tahun.
3. Jenis Kelamin
Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal.
Laki-laki juga mempunyai resiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan
mortalitas kardiovaskuler.
4. Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang berkulit
putih.
5. Penyakit Ginjal
6. Obat-obataan
Penggunaan obat-obatan seperti beberapa obat hormon (Pil KB), Kortikosteroid,
Siklosporin, Eritropoietin, Kokain, dan Kayu manis (dalam jumlah sangat besar),
termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus menerus
(sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Minuman yang
mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan
terjadinya tekanan darah tinggi
7. Preeklampsi pada kehamilan
Preeklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90
mmHg setelah kehamilan 20 minggu.
b

Faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan5


5 | Page

Stress
Meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan
menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan
pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.

Obesitas

Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting dari hipertensi esensial, asupan garam yang tinggi
akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara
tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah.

Merokok

Kurang olahraga

Manifestasi Klinis
Hipertensi sering kali tidak memberikan keluhan dan tanda klinis khusus, tetapi kadang
terdapat keluhan pusing, sakit kepala, migrain, rasa berat di tengkuk, susah tidur, kunangkunang, mudah marah, rasa lelah, palpitasi, nokturia, epistaksis, gelisah, muka merah. Diagnosis
hipertensi ditegakkan apabila kenaikan tekanan darah ini bersifat menetap pada pemeriksaan
ulang dalam waktu 1-2 minggu.6

Pemeriksaan Fisik
Dilakukan dengan mengukur tekanan darah kedua lengan sebanyak dua kali atau lebih
dengan interval waktu 1-2 minggu. Berdasarkan JNC VII (The Joint Committee on Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure) 6

6 | Page

Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi JNC VII5


Pemeriksaan Penunjang
Berdasarkan tujuan untuk melihat target organ yang terkena dan untuk mencari kausa 24
jam pertama dapat dilakukan pemeriksaan EKG dapat dilihat adanya pembesaran ventrikel kiri,
pembesaran atrium kiri, adanya penyakit jantung korener atau arimia, dari pemeriksaan darah
rutin dapat diketahui kadar hemoglobin/ hematokrit untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
terhadap volume cairan (visikositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor resiko seperti
hiperkoagulabilitas dan anemia, sedangkan kadar kreatinin dan kalium memberikan informasi
tentang perfusi/ fungsi ginjal dan hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama
(penyebab) atau menjadi efek samping terapi deuretic dan pemeriksaan selanjutnya yaitu
urinalisis yaitu darah, protein, glukosa mengisyaratkan adanya disfungsi ginjal dan adanya
diabetes.6
Patogenesis
Peningkatan tekanan darah yang disebabkan oleh peningkatan kardiak output atau
peningkatan tahanan pembuluh darah perifer. Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui
terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). Dan
mengakibatkan 2 aksi, pada aksi pertama meningkatkan ADH, dan aksi kedua meningkatkan
aldosteron.6
Komplikasi
Komplikasi dari hipertensi antara lain pada otak dapat terjadi TIA atau stroke, mata dapat
menyebabkan retinopati, pada jantung dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri, angina atau
AMI, gagal jantung dan yang terakhir pada ginjal dapat mengalami gagal ginjal kronik. 6
Penatalaksanaan
7 | Page

Non Farmakologis6
1. Menurunkan berat badan pada obesitas
2. Pembatasan konsumsi garam dapur
3. Hentikan konsumsi alkohol
4. Hentikan merokok dan olahraga teratur
5. Pola makan yang sehat
6. Istirahat cukup dan hindari stres
7. Pemberian kalium dalam bentuk makanan (sayur dan buah)

Farmakologis6
1. Hidroklorotiazid (HCT) 12,5-25 mg/hr dosis tunggal pagi hari
2. Propanolol 2 x 20-40 mg sehari
3. Methyldopa
4. MgSO4
5. Kaptopril 2-3 x 12,5 mg sehari
6. Nifedipin long acting 1 x 20-60 mg
7. Tensigard 3 x 1 tablet
8. Amlodipine 1 x 5-10 mg
9. Diltiazem (3 x 30-60 mg sehari) kerja panjang 90 mg sehari

Prognosis
Prognosis pasien sebenarnya tergantung pada kepatuhan pasien untuk mengikuti
pengobatan. Pada dasarnya pengobatan hipertensi berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu
komunikasi dokter-pasien harus terjalin dengan baik sehingga pasien mau patuh pada
pengobatan. Jika pasien mematuhi rencana pengobatan, kemungkinan untuk terjadinya
komplikasi bisa dicegah sehingga dapat dikatakan prognosisnya baik.6

8 | Page

Laporan Kasus Hasil Kunjungan Rumah

Puskesmas

: Puskesmas Kelurahan Jelambar I Grogol Petamburan

Tanggal kunjungan

: Kamis, 28 Juli 2016

A. Pasien Utama
1. Identitas Pasien
a. Nama

: Ibu Yohana Leonarda

b. Umur

: 64 tahun

c. Jenis kelamin

: Perempuan

d. Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga (IRT)

e. Pendidikan : SMP (tamat)


f. Alamat

: Jl.Satria II No.16 RT 002 / RW 04 kelurahan jelambar, Jakarta


Barat

g. No Telp

: 081212894486

9 | Page

2. Menanyakan keluhan utama


Hipertensi sejak 1 bulan yang lalu
3. Keluhan tambahan
Merasa kaki dan tangan pegal-pegal. Kaki sudah sembuh karena berobat ke kiai namun
tangan sebelah kanan masih terasa kaku sampai sekarang. Pasien mengaku tangan kanan
lebih sering digunakan untuk mengangkut air. Pasien juga merasa sakit gigi baru-baru ini
namun tidak ada gigi yang berlobang dan minum obat paracetamol merasa mendingan.
Pasien mengaku bahwa sakit gigi yang dirasakan yaitu setelah selesai operasi katarak
mata sebelah kiri sekitar seminggu yang lalu. Mata kanan juga mengalami katarak namun
belum dioperasi.
4. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengaku sudah mengalami hipertensi sejak 1 bulan yang lalu yaitu saat lebaran, namun
tidak rutin minum obat. Pasien mengaku suka mengkonsumsi makanan yang asin dan

berlemak yaitu pasien sering mengkonsumsi makanan masakan padang. Terdapat


peningkatan berat badan dari 59 kg menjadi 61 kg.
5. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mempunyai riwayat katarak
6. Riwayat penyakit dalam keluarga
Ibu dari pasien memiliki riwayat sesak nafas namun tidak pernah berobat
dan kini
sudah meninggal.
7. Riwayat kebiasaan sosial
Pola olahraga : sudah tidak pernah berolahraga, namun pasien mengaku dirumah selalu
bergerak untuk melakukan pekerjaan rumah
Pola jajan
: sering membeli makanan dari luar karena pasien saat ini dalam masa
pemulihan usai operasi katarak pada mata sebelah kiri
Pola makan : sehari bisa 4 kali makan karena sering merasa lapar pada malam hari
Pola rekreasi : sering di ajak jalan-jalan saat anak libur kerja
Merokok
: tidak merokok
10 | P a g e

Alkohol

: tidak minum minuman beralkohol

8. Hubungan psikologis dengan keluarga


Pasien mengaku menjalin hubungan baik dengan keluarga maupun tetangga sekitar
9. Aktifitas sosial
Pasien mengaku mengikuti pengajian setiap jumat dan sering mengikuti kegiatan
lainnya.
10. Kegiatan kerohanian
Pengajian
B. Keluarga
I. Riwayat Biologis Keluarga
Ibu Yohana tinggal bersama anak perempuan dan menantunya. Menantu ibu
Yohana sudah meninggal karena kecelakaan motor.
a. Keadaan kesehatan sekarang
Keadaan kesehatan pasien dapat dikatakan baik karena pasien terlihat aktif, nafsu
makan baik dan pasien dapat bercakap-cakap dengan baik serta kesadarannya baik.
Pasien juga tidak tampak merasa kesakitan begitu juga anggota keluarga lain.
b. Kebersihan perorangan
Kebersihan pasien dapat dikatakan baik karena terlihat dari hygiene yaitu mandi 2
kali sehari, rambut tidak terlihat lusuh, tangan dan kaki tidak kotor, pakaian yang
dikenakan tampak bersih, serta kuku tidak panjang begitupun kebersihan anggota
keluarga lainnya.
c. Penyakit yang sedang diderita (oleh anggota keluarga):
Ibu Yohana memiliki seorang anak perempuan bernama Ningsih, anak perempuannya
mengeluh kaki sebelah kiri terasa ngilu dan juga kedua pergelangan tangannya. Sedangkan
saudara perempuan ibu Yohana mengalami stroke sebelah kiri.
d. Penyakit keturunan: tidak ada
e. Penyakit kronis/ menular: tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga: tidak ada
g. Pola makan
Pola makan dapat dikatakan sedang karena pasien sering mengkonsumsi makanan
berlemak namun pasien mengaku suka mengkonsumsi sayuran dan buahan setiap
harinya. Anak perempuan dari ibu Yohana mengaku suka mengkonsumsi gorenggorengan.
h. Pola istirahat
Pola istirahat akhir-akhir ini kurang sebab pasien mengaku bahwa sulit tidur pasca
operasi katarak.
11 | P a g e

i. Jumlah anggota keluarga: 2 orang.


II. Psikologi Keluarga
a. Kebiasaan buruk: tidak ada
b. Pengambilan keputusan: anak perempuan
c. Ketergantungan obat: tidak ada
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: puskesmas dekat rumah
e. Pola rekreasi
Pola rekreasi dapat dikatakan baik karena pasien mengaku sering berpergian
bersama anak perempuannya.
III. Identifikasi keadaan rumah/lingkungan (beresiko/tidak)
a. Jenis bangunan: semi permanen yaitu bagian ruang tamu dindingnya dari
tembok yang sudah diberi cat, langit-langit terdiri dari kayu triplek, dapur dan jamban
dari semen, kayu dan seng. Rumah ini merupakan rumah dinas yang sudah ditempati dari
puluhan tahun lamanya.
b. Lantai rumah: sebagian dari keramik dan sebagian lainnya dari semen
c. Luas rumah: 3 x 16 m2
d. Penerangan
Penerangan dapat dikatakan kurang karena tidak memenuhi seluruh bagian
rumah, penerangan matahari hanya dapat masuk dari pintu utama rumah dan jendela
depan dekat ruang tamu sekaligus ruang tidur. Penerangan buatan yang digunakan dalam
rumah keluarga ini adalah lampu listrik.
e. Kebersihan
Kurang sebab rumah ada serangga dan semut di bagian ruang tamu, ada beberapa
barang yang ditumpuk diatas lemari dan tempat tidur, panci kuali yang bertumpukan dan
dibiarkan begitu saja didapur, di dalam rumah tidak ada lalat, dan banyak barang-barang
yang tidak tertata dengan baik dan berdebu.
f. Ventilasi
Kurang sebab hanya mengandalkan dari pintu yang dibuka dan ventilasi yang berada
di bagian langit-langit pada bagian dapur.
g. Dapur: ada, namun ventilasi didapur kurang hanya mengandalkan dari celah
seng-seng yang terbuka
h. Jamban keluarga: ada, lantai jamban terbuat dari semen dan tampak sangat
kotor serta tempat buang air besar atau kecil yang seadanya.
i. Sumber air minum: air mineral/galon.
j. Sumber pencemaran air: tidak ada
k. Pemanfaatan pekarangan: ada yaitu dengan menanam beberapa bunga
l. Sistem pembuangan air limbah: ada, melalui selokan di belakang rumah dan
langsung mengalir ke sungai.
12 | P a g e

m. Tempat pembuangan sampah: ada namun biasa sampah hanya dimasukkin ke


dalam kantong plastik dan langsung diletakkan di depan pagar rumah, tiap 2 hari sekali
diambil petugas sampah
n. Sanitasi lingkungan: baik, setiap minggu selalu melakukan gotong royong
IV. Spiritual keluarga
a. Ketaatan beribadah: baik
b. Keyakinan tentang kesehatan: baik, pasien dan keluarga selalu berobat ke
puskesmas / klinik jika sakit.

V. Keadaan sosial keluarga


a. Tingkat pendidikan: sedang, Ibu Atjah tamat SMP
b. Hubungan antar anggota keluarga: baik, anak
memperhatikan keadaan ibunya
c. Hubungan dengan orang lain: baik
d. Kegiatan organisasi sosial: baik yaitu ikut pengajian

perempuan

sangat

e. Keadaan ekonomi: Sedang, yang mencari nafkah di rumah tersebut yaitu ibu
Ningsih, anak perempuan dari ibu Yohana. Penghasilan ibu Ningsih sebulan nya sesuai
UMR yaitu Rp 3.100.000. Ibu Ningsih mengaku gajinya cukup untuk menghidupi mereka
berdua.
VI. Kultural keluarga
a. Adat yang berpengaruh: tidak ada
b. Lain-lain: tidak ada
VII. Daftar anggota keluarga
Keluarga pasien terdiri dari 2 orang , yaitu Ibu dan anak.
No

Nama

Hub dgn

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

Agama

Keadaan

KB

Yohana

KK
Ibu

64 thn

SMP

IRT

Islam

kesehatan
Kurang

Leonarda
Ningsih

anak

44 thn

SMK

Karyawan

Islam

Sehat

Leonarda

Pemeriksaan fisik
13 | P a g e

Ibu Yohana:
Keadaan dan kesadaran umum
: Baik, Compos Mentis
Tekanan darah
: 160/100 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
Nafas
: 20 x/menit
Suhu
: 36,5oC
Status Gizi
: 25
TB : 155 cm
Pemeriksaan Thoraks
:
a. Paru : Simetris, tidak ada retraksi sela iga. Pada palpasi tidak teraba
massa, perkusi tidak dilakukan, auskultasi didapatkan normal-vesikular.
b. Jantung : Pulsasi iktus cordis tidak terlihat. Palpasi, iktus cordis teraba
pada ICS 4 linea midclavicular sinistra, tidak kuat angkat. Perkusi tidak di
lakukan. Tidak terdapat murmur dan gallop pada auskultasi.

Pemeriksaan Abdomen: perut datar, pada palpasi tidak teraba massa, tidak
terdapat pembesaran hepar dan lien. Pada perkusi hasilnya timpani dan auskultasi
bising usus positif.

Ibu Ningsih:

Keadaan dan kesadaran umum


Tekanan darah
Nadi
Nafas

: Baik, Compos Mentis


: 120/80 mmHg
: 80 x/menit
: 22 x/menit

Suhu
: 36,5oC
Status Gizi
: (
TB : 170 cm, BB : 80 kg
Pemeriksaan Thoraks
:
a. Paru : Simetris, tidak ada retraksi sela iga. Pada palpasi tidak teraba
massa, perkusi tidak dilakukan, auskultasi didapatkan normal-vesikular.
b. Jantung : Pulsasi iktus cordis tidak terlihat. Palpasi, iktus cordis teraba
pada ICS 4 linea midclavicular sinistra, tidak kuat angkat. Perkusi tidak di
lakukan. Tidak terdapat murmur dan gallop pada auskultasi.
Pemeriksaan Abdomen: tampak sedikit membucit, pada palpasi tidak teraba
massa, tidak terdapat pembesaran hepar dan lien. Pada perkusi hasilnya timpani
dan auskultasi bising usus positif.

14 | P a g e

Pemeriksaan Penunjang yang dianjurkan


Diagnosis
Secara Biopsikososial
Biologi

: Hipertensi Grade 2

Psikologi

: tidak ada

Sosial

: tidak ada

Penatalaksanaan Penyakit dan Edukasi


A. Health Promotion : meningkatkan derajat kesehatan perorangan, mengurangi peranan
penyebab dan derajat resiko, dan meningkatkan lingkungan yang sehat secara optimal.
Penyediaan makanan sehat bernutrisi dan cukup (kualitas dan kuantitas).
- Menjaga higienitas alat makan.
- Menjaga higienitas pribadi seperti mandi, kebersihan pakaian, cuci tangan dengan sabun
sebelum dan sesudah makan, sesudah buang air besar dan membersihkan kotoran.
- Perbaikan sanitasi lingkungan, seperti penyediaan air bersih, pembuangan limbah,
ventilasi rumah yang baik, kebersihan rumah, pembuangan tinja dengan jamban, sinar
matahari yang cukup masuk ke dalam rumah.
- Pendidikan kesehatan kepada masyarakat, seperti penyuluhan

Menjelaskan tentang hipertensi itu penyakit seperti apa pada keluarga pasien,
terutama mengenai apa penyebabnya, apa akibatnya, bagaimana cara mengobati
dan pencegahannya.

Edukasi kepada keluarga pasien mengenai masalah-masalah yang dapat


memunculkan hipertensi dan bagaimana cara mengatasinya.

Melakukan penyuluhan kepada keluarga di lingkungan sekitarnya mengenai pola


hidup yang sehat agar terhindari dari hipertensi dan bagaimana cara mengontrol

hipertensi.
- Olahraga secara teratur.
- Dapat memiliki kesempatan untuk berekreasi dan istirahat.
- Mengikuti kegiatan di lingkungan sosial dan keagamaan.
- Tidak merokok dan minum-minuman alkohol.
15 | P a g e

- Memperhatikan pola hidup sehat dan teratur


- Lebih memperhatikan konsumsi garam yang baik
- Berusaha untuk tidak banyak pikiran, stress dan mengendalikan emosi.
B. Spesific Protection : Tindakan untuk mencegah penyakit, menghentikan proses
interaksi penyakit, tetapi sudah terarah pada penyakit tertentu.
- Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat karsinogenik, dan bersifat
membahayakan.
- Mengikuti program diet dan konsultasi gizi pada yang sudah mulai obesitas dan
menopause atau yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tertentu.
- Minum obat penambah daya tahan tubuh.
- Menggunakan insektisida untuk vector penyakit.
- Menghindari asap rokok dan polusi.
- Mengkonsumsi obat hipertensi.
- Melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin sehingga dapat mengetahui tekanan
darah yang terkontrol.
- Menghindari makanan dapat memicu terjadinya hipertensi.
C. Early Diagnosis and Prompt Treatment : merupakan tindakan menemukan penyakit
sedini mungkin dan melakukan penatalaksanaan segera dengan terapi yang tepat. Untuk
mencegah meluasnya penyakit dan mendeteksi dan menghentikan proses penyakit sejak
dini.
- Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan . Misalnya mengikuti
skrining, pemeriksaan darah
- Berobat segera ke petugas medis begitu ada gejala walau sedikit
- Mengecek kesehatan jantung dan ginjal bila sudah terkena hipertensi atau peningkatan
kolesterol atau gula darah
- Penyaringan (screening) yakni pencarian penderita secara dini untuk penyakit yang
secara klinis belum tampak gejala pada penduduk secara umum atau pada kelompok
risiko tinggi
- Diagnosis dini dari penyakit hipertensi biasanya akan timbul rasa sakit kepala,
kelelahan
- Konsultasi ke dokter dan konsumsi obat anti hipertensi
D. Disability Limitation : Tindakan penatalaksanaan terapi yang adekuat pada pasien
dengan penyakit yang telah lanjut, mencegah penyakit menjadi lebih berat,
menyembuhkan pasien, serta mengurangi kemungkinan terjadinya kecacatan yang akan
timbul
16 | P a g e

- Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi
komplikasi, dan mengecek kemungkinan komplikasi agar tidak berkembang lanjut,
dengan cara kontrol rutin ke petugas kesehatan
- Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan dengan cara tidak melakukan gerakan
gerakan yang berat atau gerakan yang dipaksakan pada kaki
- Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan
perawatan yang lebih intensif atau mengikuti saran untuk dirujuk ke tingkat yang lebih
tinggi dan lebih lengkap
- Saat sakit mematuhi perintah dokter untuk melakukan pengobatan dan kontrol teratur
- Memperbaiki nutrisi saat sakit
- Membantu memantau pengobatan penderita terutama penyakit kronis
- Melakukan pantangan makanan tertentu yang dapat memperparah penyakit secara
disiplin

E. Rehabilitation : sasaran utamanya adalah penderita penyakit tertentu yang sudah


sembuh atau terkontrol dalam usaha memulihkan fungsinya serta program rehabilitasi,
untuk mengembalikan pasien ke masyarakat dan berfungsi sebaik mungkin agar mereka
dapat hidup dan bekerja secara wajar, atau agar tidak menjadi beban orang lain
- Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberikan
dukungan moral setidaknya bagi yang bersangkutan untuk bertahan
- Ikut Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang
setelah ia sembuh dari suatu penyakit.
- Memperbaiki nutrisi dan melakukan pencegahan faktor risiko penyakitnya atau
komplikasinya setelah sembuh dari sakit atau setelah terkontrol penyakitnya
- Ikut serta membantu menolong penderita yang baru sembuh dalam

menjalankan

rehabilitasi atau membantunya memulihkan kemampuan bekerja dan menjalani


kehidupan secara baik.

Prognosis
17 | P a g e

A. Penyakit Pasien: Ibu Yohana tidak mengkonsumsi obat hipertensi secara teratur, maka
prognosis penyakit pasien adalah buruk/jelek (dubia ad malam).
B. Keluarga: Kondisi kesehatan anggota keluarga yang lain dalam keadaan baik dan rajin
memeriksakan diri ke puskesmas apabila merasakan suatu gejala maka prognosis
keluarga adalah baik (dubia ad bonam).
C. Masyarakat: Untuk masyarakat sekitar pasien tinggal, karena hipertensi yang diderita
pasien tidak menular, maka prognosisnya ad bonam.

Resume
Dari hasil kunjungan rumah pada tanggal 28 Juli 2016, didapatkan bahwa pasien
menderita hipertensi. Pasien sudah mengalami hipertensi selama 1 bulan dan pasien tidak teratur
minum obat. Pasien akhir-akhir ini sering merasa lapar terutama pada malam hari sehingga
sering makan pada malam hari dan berat badannya pun naik. Pasien memiliki tempat tinggal
yang tergolong kurang baik, terdapat kotak kardus yang diletakkan di atas lemari yang jarang
dibersihkan sehingga berdebu dan juga panci dan alat dapur lainnya yang terlalu banyak
sehingga dibiarkan begitu saja didapur. Pasien disarankan untuk tetap menjaga kesehatan dan
melakukan tindakan pencegahan berupa pola hidup yang baik, serta rajin kontrol ke puskesmas
ataupun ke dokter agar bisa terkontrol dengan baik. Keluarga pasien juga diharapkan dapat
menjaga kesehatan dan pola hidup dengan lebih baik.

Daftar Pustaka
1. Azwar A. Perencanaan program kesehatan. Pengantar administrasi kesehatan. edisi ke-3.
Jakarta. Binarupa Aksara; 2007.h. 200-06.
2. Kasper DL, Fauci AS, Lonjo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL: Harrison's
Principles Of Internal Medicine, 16 th ed, Mc Graw Hill Med. Publ.Div., 2005.
3. Ghanie A, Manurung D. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III. Edisi ke-5. Jakarta:
Internal publishing; 2009. h.1586-601.
4. Gunawan L. Hipertensi, tekanan darah tinggi. Yogyakarta. Kanisius; 2007.h.16.
5. http://www.depkes.go.id/article/view/1909/masalah-hipertensi-di-indonesia.html,
diunduh 27 Juli 2016
6. Irwan. Epidemiologi penyakit tidak menular. Yogyakarta. Deepublish; 2016.h.37-43.

18 | P a g e