Anda di halaman 1dari 68

Pertemuan 3

Proses Audit Tahap 1

Referensi:
Tuanakotta Bab 15-18

Dosen Pengampu:
Anggreni Dian Kurniawati, SE., M.Sc., Ak., CA.

Bagan Proses Audit Tahap 1

Menilai Resiko

Kegiatan Pra
Penugasan

Rencanakan auditnya

Laksanakan prosedur
penilaian resiko

Putuskan terima/tolak
penugasan

Rinci faktor risiko


independensi surat
penugasan

Buat strategi audit menyeluruh


dan rencana audit

Materialitas diskusi tim


audit strategi audit
secara menyeluruh

Identifikasi/nilai RSSM dengan


memahami entitas

Risiko bisnis & fraud


termasuk risiko yang
signifikan

Rancang/Implementasi
PI

Nilai RSSM di tingkat:


LK dan asersi

ISA 315
Tujuan auditor adalah mengidentifikasi dan menilai resiko
salah saji yang material, yang disebabkan oleh
kecurangan maupun kesalahan. Pada tingkat laporan
keuangan dan pada tingkat asersi, dengan memahami
entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian
internal entitas itu, yang menjadi dasar untuk merancang
dan mengimplementasikan tanggapan terhadap resiko
salah saji yang material yang dinilai.
3

Apakah peristiwa yang


diidentifikasi benarbenar terjadi dan
menyebabkan salah saji
yang material dalam
laporan keuangan?

Reporting

Peristiwa apa yang


jika terjadi akan
menyebabkan salah
saji material dalam
laporan keuangan?

Risk Response

Risk Assessment

Bagan Proses Audit

Berdasarkan bukti
audit yang diperoleh,
opini audit apakah
yang tepat untuk
laporan keuangan
tersebut?

Langkah-langkah utama Audit


Tahap 1
Memutuskan untuk menerima
Merencanakan audit
Melaksanakan prosedur penilaian resiko
Dokumentasikan temuan dan segala
perubahan rencana audit semula.

Kendali Mutu
Kendali Mutu Etika, Independensi, dan ISA

Risk Assessment

Putuskan untuk menerima atau melanjutkan penugasan


Kegiatan perencanaan
Tentukan
Materialitas

Pertemuan tim untuk


perencanaan

Strategi audit
menyeluruh

Prosedur Penilaian Risiko


Identifikasi & nilai
risiko bawaan

Identifikasi & nilai


risiko pengendalian

Komunikasikan
kelemahan signifikan

Simpulkan:
RMM di
tingkat LK
dan asersi

Dokumentasikan temuan dan perubahan dalam rencana

Proses menerima/menolak penugasan


Kegiatan

Dokumentasi

Tujuan

Lakukan prosedur
pendahuluan sebelum
menerima/melanjutkan
/menolak penugasan

Putuskan apakah
auditor
menerima/melanjutkan/
menolak penugasan?

Apakah KAP
mempunyai SDM,
waktu, kompetensi
yang memadai untuk
menangani
penugasan
tersebut?

Apakah KAP
independen?
Ada benturan
kepentingan?

Catat hasil investasi semua faktor


risiko, segala masalah yang ada
tentang independensi, dan surat
perikatan (jika diterima)

Jika menerima
penugasan, apakah
resikonya dapat
diterima?

Terima/
lanjutkan?
Ya

Tidak

Dokumentasikan seluruh prosedur dan bagaimana ancaman/issues diatasi

Prakondisi
audit
dipenuhi?

Ada
pembatasan
lingkup?

Sepakati
syarat
perikatan?

Tanda
tangani
surat
perikatan

STOP

Pertimbangan KAP dalam penugasan

Memutuskan dapat diterimanya kerangka pelaporan


keuangan yang diusulkan atau digunakan entitas
Menilai apakah KAP dapat mentaati ketentuan etika yang
relevan.
Dapatkan persetujuan manajemen bahwa ia memahami
sepenuhnya akan tanggung jawabnya berkenaan dengan:

Penyusunan LK entitas sesuai dengan FRF yang diterapkan


Pengendalian internal sebagaimana dianggap perlu oleh manajemen
untuk menyusun LK yang bebas dari SSM
Memberikan kepada auditor akses kepada semua informasi yang
relevan dan informasi tambahan yang dapat diminta auditor
Prosedur menerima dan melanjutkan penugasan.
8

Penilaian atas resiko penugasan

Independen dan tidak mempunyai benturan kepentingan.


Kompeten untuk melaksanakan tugasnya dengan sumber
daya yang diperlukan dan dalam batas waktu yang tersedia.
Bersedia menerima dan menanggung risiko audit. Ini meliputi
penilaian atas integritas manajemen dan sikap manajemen
terhadap pengendalian intern, tren industri, cukup
tersedianya bukti audit yang tepat, dan faktor lainnya.
Tidak tahu atau tidak memiliki informasi baru mengenai klien
yang menyebabkan penolakan penugasan.
9

Menerima penugasan

Memastikan apakah persyaratan awal atau prakondisi bagi


suatu audit memang ada
Menegaskan pemahaman bersama antara auditor dengan
manajemen mengenai syarat penugasan audit.
Pengecekan latar belakang
Prakondisi untuk suatu audit
Menyepakati syarat-syarat perikatan
Memutakhirkan surat penugasan
Perubahan syarat penugasan
10

Strategi audit menyeluruh


Tinjauan Umum:
Perencanaan memastikan bahwa
pelaksanaan tugas berlangsung secara
efektif dan efisien
Resiko audit dapat ditekan sampai ke tingkat
rendah yang dapat diterima.
11

Manfaat perencanaan audit


Anggota tim dapat belajar dari partner dan tim inti
yang berpengalaman.
Penugasan diorganisasi, dilengkapi dengan staf
audit, dan dikelola secara baik.
Pengalaman yang diperoleh dari audit terdahulu
dan dari penugasan lain dimanfaatkan secara
optimal.
Area penting atau rawan dalam audit perlu
mendapat perhatian yang tepat.
Masalah yang mungkin terjadi, diantisipasi, dan
diselesaikan tepat dengan waktunya.
Dokumentasi audit direviu secara tepat waktu.
Pekerjaan oleh orang lain dapat dikoordinasikan.
12

Informasi untuk penyusunan strategi


audit secara menyeluruh

Pengalaman di masa lalu entitas tersebut


Kegiatan-kegiatan pendahuluan
Pembahasan dengan klien mengenai perubahan-perubahan
sejak periode yang lalu, dan hasil operasi perusahaan
Penugasan lain yang dilakukan untuk klien tersebut dalam
periode itu
Pembahasan dan pertemuan dengan anggota tim audit
Sumber-sumber eksternal lainnya
Informasi baru, prosedur audit yang gagal, atau situasi baru
yang mengubah strategi yang direncanakan sebelumnya.
13

Kebutuhan waktu strategi audit

Ukuran dan kompleksitas entitas


Komposisi dan ukuran tim audit
Pengalaman di masa lalu dengan
entitas itu
Situasi yang dihadapi dalam
melaksanakan audit

14

Perencanaan Audit

Strategi audit secara menyeluruh


mendokumentasikan keputusan kunci yang dianggap
penting dalam merencanakan audit
mengkomunikasikan hal-hal penting kepada anggota
tim dengan baik.
Rencana audit terinci
prosedur audit selanjutnya yang harus dilaksanakan
pada tingkat asersi sebagai tanggapan terhadap
resiko yang telah diidentifikasi dan dinilai.
15

Mengkomunikasikan rencana audit


1.
2.

3.

Memahami konsekuensi pekerjaan auditor


Membahas masalah resiko dan konsep
materialitas dengan auditor
Mengidentifikasi area di mana
manajemen/TCWG meminta auditor
melakukan prosedur tambahan.

16

Yang perlu dipertimbangkan auditor


1.

2.

3.
4.

Bagaimana saran auditor dalam menghadapi salah


saji yang material, karena kecurangan, dan
kesalahan.
Pendekatan auditor terhadap pengendalian intern,
dan bagaimana ia memanfaatkan pengendalian yang
relevan dalam prosedur auditnya
Penerapan materialitas dalam konteks audit.
Pandangan, sikap, kesadaran, tindakan, dan
tanggapan TCWG
17

Dokumentasi audit

Strategi audit menyeluruh


Rencana audit
Setiap perubahan signifikan yang dibuat selama
penugasan audit terhadap strategi audit atau
rencana audit, dan alasan melakukan perubahan
tersebut.

18

Menentukan dan menggunakan


materialitas

Materialitas adalah dasar untuk penilaian


resiko dan penentu luasnya prosedur audit.
Menentukan materialitas merupakan
latihan dalam kearifan profesional.
Materialitas digunakan untuk perencanaan
audit, penilaian resiko, dan pelaporan.

19

Materialitas

Materialitas secara keseluruhan


Materialitas untuk LK secara keseluruhan
didasarkan pada kearifan profesional auditor
mengenai jumlah terbesar salah saji dalam
laporan keuangan tanpa mempengaruhi
keputusan ekonomis pemakai LK.
Spesifific materiality
Materialitas pada tingkat jenis transaksi
tertentu, atau saldoo akun tertentu, atau
pengungkapan tertentu.
20

Sifat salah saji

Situasi yang terkait salah saji dapat menyebabkan


auditor mengevaluasi salah saji itu sebagai
sebagai material walaupun besarnya di bawah
materialitas.
Contoh: kasus perbuatan melanggar hukum.

21

Performance Materiality

Digunakan auditor untuk menekan resiko


sampai ke titik yang rendah yang dapat diterima.
Salah saji yang dimaksud adalah salah saji yang
tidak dikoreksi entitas dan salah saji yang tidak
teridentifikasi oleh auditor.
Sengaja ditetapkan pada angka atau jumlah
yang lebih rendah dari materialitas menyeluruh
maupun spesific.
22

Menentukan materialitas

Overall materiality
Didasarkan atas persepsi auditor
mengenai kebutuhan pemakai LK.
Performance materiality
Ditetapkan dalam jumlah yang lebih
rendah, sehingga auditor banyak
melakukan pekerjaan audit dan risiko
audit ditekan ke tingkat rendah dapat
diterima.

23

Materialitas dalam perencanaan


dan penilaian risiko

Penentuan tingkat materialitas bukan


merupakan suatu tahap yang berdiri sendiri
tetapi merupakan proses yang
berkesinambungan
Suatu prosedur menghasilkan temuan,
temuan ini memicu suatu tanggapan dalam
proses audit selanjutnya (itterative process).

24

Materialitas dalam pelaksanaan


prosedur audit

Mengidentifikasi prosedur audit selanjutnya


Menentukan item mana yang harus dipilih untuk sampling
atau testing dan apakah harus menggunakan teknik sampling.
Membantu menentukan banyaknya sampel
Mengevaluasi RSE untuk menentukan salah saji yang mungkin
ada
Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan pada tingkat
akaun sampai tingkat LK
Mengevaluasi gabungan seluruh kesalahan termasuk dampak
neto dari salah saji yang tidak dikoreksi
Menilai hasil prosedur audit.
25

Materialitas dalam pelaporan

ISA 450.11 : auditor wajib menentukan apakah


salah saji yang tidak dikoreksi adalah material
baik sendiri-sendiri maupun digabungkan.
ISA 450.12: auditor wajib mengkomunikasikan
dengan TCWG mengenai salah saji yang tidalk
dapat dikoreksi dan dampaknya, sendiri-sendiri
atau jika digabungkan, terhadap opini auditor,
kecuali jikja dilarang oleh ketentuan UU.
26

Hal-hal lain

Komunikasi dengan Manajemen dan TCWG


Pemutakhiran materialitas
Penurunan tingkat materialitas dari periode
atau tahun yang lalu
Pendokumentasian.

27

Komunikasi tim audit


Pertemuan mengenai
perencanaan dalam tim
Membagi tugas dan peran
kepada anggota tim
Pertimbangkan:
Keterampilan dan
pengalaman
Kebutuhan akan keahlian
tertentu
Kebutuhan previu kendali
mutu

Bahas:
Materialitas
Insights berdasarkan
pengetahuan mengenai
entitas
Potensi resiko bisnis dan
resiko kecurangan
Di mana/bagaimana LK
rentan salah saji material
Rencana audit yang
mencakup siapa, apa, di
mana, kapan.
Supervisi dan reviu.

Selama dan sesudah audit


Bahas:
Hasil,
kemajuan/perkembangan,
dan masalah audit
Perubahan dalam rencana
audit
Informasi baru
Transaksi atau peristiwa
luar biasa
Saran untuk audit yang
akan datang

28

Proses Audit Tahap 1 (Lanjutan)


Mengidentifikasi, menilai resiko bawaan, dan resiko signifikan

Tahap Pertama Proses Audit


Penentuan dan identifikasi resiko
(risk identification)
Penilaian risiko (risk assessment)

Mengidentifikasi Risiko Bawaan


Tujuan: mengidentifikasi sumber-sumber
risiko dan kemudian menilai apakah risikorisiko ini mungkin menjadi sebab salah saji
material dalam laporan keuangan.
Mengarahkan upaya auditnya langsung
pada area di mana risikonya tinggi, dan
menjauhi area di mana risikonya rendah.

Prosedur Identifikasi Risiko


Apa yang bisa salah yang menyebabkan
salah saji dalam laporan keuangan?

Prosedur penilaian risiko


Berupaya mengidentifikasi risiko melalui
pemahamannya terhadap entitas dan lingkungannya:

tujuan entitas

faktor eksternal
sifat entitas
kebijakan akuntansi
pengukuran kinerja keuangan
pengendalian internal

Daftar dari sejumlah faktor risiko bisnis dan faktor


risiko kecurangan.

Jenis Risiko
Risiko bisnis (business risk)

Kondisi, peristiwa, situasi, tindakan, bahkan tidak


mengambil tindakan (inactions) yang berdampak negatif
terhadap kemampuan perusahaan mencapai tujuannya
dan strateginya. Termasuk di dalamnya, penetapan tujuan
dan strategi yang tidak tepat, peristiwa yang timbul karena
perubahan.

Risiko kecurangan (fraud risk)

Berhubungan dengan peristiwa atau kondisi yang


berindikasi adanya insentif atau tekanan untuk melakukan
kecurangan atau adanya peluang untuk melakukan
kecurangan.

Kerentanan terhadap risiko


Risiko rendah (low risk), risiko sedang
(moderate risk), dan risiko tinggi (high risk).
Suatu risiko mungkin berpeluang
merupakan risiko bisnis dan sekaligus
risiko kecurangan.

Sumber informasi mengenai entitas


Sumber internal
Informasi keuangan

Laporan keuangan
Anggaran
Laporan-laporan
Pengukuran kinerja
Retur pajak
Kebijakan akuntansi yang
digunakan
Pertimbangan dan estimasi

Informasi non keuangan

Visi, nilai, tujuan dan stategi


Struktur organisasi
Deskripsi pekerjaan
File SDM
Indikator kinerja
Kebijakan dan manual
prosedur

Sumber eksternal

Informasi dari internet


Informasi Industri
Competitive intelligence
Credit rating agencies
Kreditur
Pemerintahan
Media dan pihak eksternal lainnya

Informasi dari internet


Data asosiasi perdagangan
Peramalan industri
Pemerintahan
Artikel media massa

Sumber risiko

Faktor eksternal
Sifat entitas
Kebijakan akuntansi
Tujuan dan strategi entitas
Pengukuran / reviu kinerja keuangan
Pengendalian internal yang relevan untuk
audit

Risiko kecurangan
Kecurangan: perbuatan yang disengaja oleh
satu atau beberapa orang dalam
manajemen, TCWG, pegawai, atau pihak
ketiga.
Segitiga Kecurangan:
Tekanan (pressure)
Peluang (opportunity)
Pembenaran (rationalization)

Skeptisme Profesional
Kewajiban auditor untuk menggunakan dan
mempertahankan skeptisisme profesional,
sepanjang periode penugasan, terutama
kewaspadaan atas kemungkinan terjadinya
kecurangan.

Mengidentifikasi Risiko Bawaan


Kumpulkan informasi dasar tentang entitas
Rancang, laksanakan, dan dokumentasikan
prosedur penilaian risiko
Hubungkan risiko yang diidentifikasi
dengan area dalam laporan keuangan.

Menilai risiko bawaan


Berapa besarnya peluang terjadinya salah
saji (dalam laporan keuangan) akibat risiko
tersebut?
Berapa besarnya dampak moneternya
(monetary impact) jika risiko itu menjadi
kenyataan?

Penilaian risiko oleh entitas


Dalam entitas yang lebih kecil, proses
penilaian risiko bersifat informal dan tidak
terstruktur.
Risiko dalam entitas kecil sering kali diakui
secara implisit.

Evaluasi Auditor
Pengendalian yang ada terhadap proses
manajemen
Lengkapnya identifikasi risiko bisnis dan risiko
kecurangan
Penilaian manajemen terhadap besaran resiko
atau dampak moneter dan peluang terjadinya
Tanggapan manajemen terhadap risiko yang
dinilai yang merupakan hasil proses penilaian
risiko.

Dokumentasi risiko
Memo
Daftar risiko

Risiko Signifikan
Risiko salah saji material yang dinilai begitu
besarnya, yang menurut pendapat auditor
akan memerlukan pertimbangan audit
khusus.
Risiko dimulai sebelum (atau dengan tidak)
mempertimbangkan pengendalian yang
dapat menanggulangi risiko tersebut.

Mengidentifikasi risiko signifikan

Jika risiko salah saji material sudah


diidentifikasi dan dinilai, yangh diperlukan
adalah menelaah temuan dan kemudian
memilih berdasarkan kearifan profesional
risiko-risiko yang memang signifikan.

Menanggapi dan mendokumentasikan


risiko signifikan

Ketika risiko digolongkan sebagai


signifikan, auditor harus memberikan
tanggapan dan didokumentasikan di satu
tempat yang sekedar perluasan dari
informasi yang sudah didokumentasikan.

Proses Audit Tahap 1 (Lanjutan)


Memahami dan Evaluasi Pengendalian Intern, mengkomunikasikan
kelemahan pengendalian intern, menyelesaikan tahap penilaian resiko

Pengendalian Internal
Proses, kebijakan, dan prosedur yang dirancang oleh
manajemen untuk memastikan pelaporan keuangan yang
andal dan pembuatan laporan keuangan sesuai dengan
kerangka akuntansi yang berlaku.
Hal yang dibahas: sikap manajemen terhadap
pengendalian, kompetensi pegawai kunci, penilaian resiko,
akuntansi, dan sistem informasi keuangan lainnya yang
digunakan, serta kegiatan pengendalian yang tradisional.

Pengendalian Internal
Sekalipun auditor telah memutuskan untuk
menggunakan sepenuhnya pendekatan substantif
dalam menanggapi resiko salah saji yang material
namun auditor juga harus memperoleh pemahaman
mengenai pengendalian internal juga.
Pemahaman mencakup: pelaksanaan prosedur
penilaian resiko untuk mengidentifikasi pengendalian
yang secara langsung atau tidak langsung
menanggulangi salah saji material.

Resiko dan Pengendalian


Manajemen menanggulangi resiko bawaan dengan
merancang dan mengimplementasi pengendalian
intern yang akan menurunkan resiko ini ke tingkat
yang lebih rendah yang dapat diterima.
Resiko yang tersisa sesudah pengendalian intern
dirancang dan diimplementasi disebut resiko sisa
atau resiko salah saji material.

Pengendalian Internal Pervasif dan Spesifik


Pengendalian pervasif: berurusan dengan governance
dan general management. Tujuannya menciptakan
lingkungan pengawasan yang menyeluruh yang
memberikan tone at the top .
Pengendalian spesifik/transaksional: pengendalian
yang secara spesifik dirancang agar:

1. Transaksi dicatat dengan benar untuk membuat laporan keuangan.


2. Catatan pembukuan dibuat cukup rinci untuk mencerminkan
secara benar dan wajar atas semua transaksi dan penggunaan aset.
3. Penerimaan dan pengeluaran hanya dibuat jika ada persetujuan
manajemen.
4. Akuisisi, penggunaan, atau penghapusan aset dicegah atau
terdeteksi dengan cepat.

Lima Komponen Pengendalian Intern


Tujuan pelaporan
keuangan
Lingkungan
pengendalian
Penilaian resiko
Sistem informasi
Kegiatan pengendalian
Pemantauan

Pengendalian Internal Entitas Kecil


Tidak berpusat pada pengendalian spesifik atas
transaksi.
Kehadiran dan partisipasi aktif pemilik yang
merangkap sebagai pengelola bisa merupakan
kekuatan atau kelemahan pengendalian internal.
Didokumentasikan dalam bentuk memo atau
dengan kuisioner.

Tidak Adanya Pengendalian Internal


Yang perlu dipertimbangkan oleh auditor adalah:
1. Apakah mungkin menangani asersi-asersi
relevan dengan melaksanakan prosedur audit
selanjutnya yang terutama merupakan
prosedur substantif ?
2. Apakah ketiadaan kegiatan pengendalian atau
komponen pengendalian lainnya tidak
memnungkinkan auditor memperoleh bukti
audit yang cukup dan tepat?

Tidak Adanya Pengendalian Internal


Hal-hal yang menimbulkan tanda tanya:
1. Keraguan mengenai integritas manajemen,
perilaku non-etis, atau sikap yang mengabaikan
pengendalian internal.
2. Kekhawatiran mengenai kondisi dan keandalan
catatan entitas yang membuat auditor tidak
mungkin memperoleh bukti audit yang cukup
dan tepat untuk memberikan pendapat wajar
tanpa pengecualian.

Pengendalian Memberantas Kecurangan


Management override dalam entitas kecil dapat
ditekan dengan menetapkan kebijakan dan
prosedur inti dan mendokumentasikannya.
Pengendalian mengenai kepatuhan terhadap
perundang-undangan yang tidak relevan dengan
audit tidak perlu ditangani dalam audit tersebut.

Pengendalian internal yang relevan untuk Audit


Pengendalian yang dapat dikeluarkan dari lingkup
audit seperti pengendalian yang:
1. Tidak berurusan dengan pelaporan keuangan
2. Sekalipun tidak ada, kemungkinan terjadinya
salah saji material dalam laporan keuangan
sangat kecil.
Mungkin ada tumpang tindih antara pengendalian
keuangan dan pengendalian operasional dan yang
berurusan dengan tujuan kepatuhan.

Mengevaluasi Pengendalian Internal

Resiko apa yang harus dimitigasi?


Apakah pengendalian yang dirancang manajemen,
memitigasi resiko itu?
Apakah pengendalian yang memitigasi resiko itu
berfungsi?
Apakah operasi pengendalian yang relevan sudah
didokumentasikan?

Pemutakhiran Dokumentasi di Tahun Mendatang


Buat salinan dari kertas kerja tahun yang lalu, sebagai tolok ukur
pemutakhiran di tahun berjalan. Jika tidak ada perubahan, evaluasi
control implementation. Jika pengendalian sudah
diimplemmentasikan dan resikonya tidak berubah, rancangannya
dapat diterima.
Memutakhirkan daftar resiko yang dimitigasi oleh pengendalian.
Identifikasi perubahan dalam pengendalian intern pada tingkat
entitas dan tingkat transaksional.
Jika ditemukan ada perubahan tentukan apakah pengendalian
intern yang baru sudah dirancang dan diimplementasikan.
Memutakhirkan keterkaitan antara pengendalian intern dengan
faktor resiko yang tepat.
Mutakhirkan kesimpulan pada resiko pengendalian.

Mengkomunikasikan kelemahan
Pengendalian Internal
Ketika kelemahan pengendalian internal dinilai
auditor sebagai signifikan, auditor pertama-tama
perlu membahasnya dengan manajemen, dan ia
kemudian harus mengkomunikasikannya secara
tertulis kepada TCWG.
Jika auditor memperoleh bukti tentang adanya
kecurangan, ia secepatnya memberi tahu hal itu
kepada manajemen dan hal ini memerlukan
kearifan profesional.

Menilai Parahnya Kelemahan PI


Dampak kelemahan itu pada salah saji material dalam laporan
keuangan.
Kemungkinan kelemahan itu pada salah saji material dalam laporan
keuangan di kemudian hari.
Kerentanan aset atau utang terhadap kerugian atau kecurangan.
Subyektivitas dan kompleksitas dalam menentukan angka estimasi,
seperti nilai wajar.
Volume kegiatan yang sudah atau akan terjadi dalam saldo akun atau
jenis transaksi yang terekspos oleh kelemahan PI.
Pentingnya PI dalam proses pelaporan keuangan.
Apa sebabnya dan berapa sering terjadinya penyimpangan karena
kelemahan PI
Keterkaitan antara kelemahan PI dengan kelemahan PI lainnya.

Langkah selanjutnya
Tidak ada ketentuan khusus dan luasnya
dokumentasi merupakan keputusan yang
didasarkan kearifan profesional.
Contoh dokumentasi Tabel 24-1
Pembahasan secara lisan membantu auditor
memastikan temuannya benar dan redaksi
sudah tepat menggambarkan situasi yang
ditemukan.

Komunikasi tertulis & Tanggapan Manajemen


Komunikasi tertulis mencerminkan betapa pentingnya temuan audit
itu dan dapat membantu manajemen dan TCWG dalam memenuhi
berbagai kewajiban mereka.
Tanggapan manajemen bisa berupa:
1. Pelaksanaan tindakan perbaikan terhadap kelemahan pengendalian
internal yang ditemukan auditor secara dini.
2. Keputusan untuk tidak melaksanakan tindakan perbaikan yang
direkomendasikan oleh auditor.
3. Tidak bertindak sama sekali.
Bukanlah peran auditor untuk menentukan apakah biaya perbaikan
atas kelemahan pengendalian internal sebanding dengan hasil yang
diperoleh.
Jika ada perubahan dalam manajemen, auditor harus
mengkomunikasikan kembali kelemahan PI.

Menyelesaikan Tahap 1
Mereviu hasil dari pelaksanaan prosedur penilaian
resiko dan kemudian mengikhtisarkan resiko
salah saji material pada tingkat laporan keuangan
dan asersi.
Bukti yang didapat oleh auditor adalah bukti
mengenai resiko yang dihadapi entitas dan PI
untuk menangkal resiko.
Merangkum hasil penilaian resiko untuk menekan
resiko tersebut.

Catatan
Pertimbangkan faktor lain yang relevan sebelum
menyimpulkan tidak ada resiko khusus.
Perlu adanya pengujian untuk menentukan
efektifnya pengendalian untuk mendukung
penilaian.
Resiko pengendalian dinilai sebagai tinggi.
Beberapa auditor menilai resiko pengendalian
sedang.
Penentuan resiko tersisa yang merupakan
pertimbangan kearifan profesional.

Revisi dan Dokumentasi


Informasi baru dan pelaksanaan prosedur audit
saat audit berjalan mungkin menemukan resiko
tambahan, maka harus direvisi dan dilihat
dampaknya.
Dokumentasi melalui tiga cara:
1. Dokumen yang berdiri sendiri,
2. Bagian dari strategi dan rencana audit,
3. Bagian dari dokumen prosedur audit
selanjutnya.

Dokumentasi (Lanjutan)
Bentuk dan luasnya dokumentasi dipengaruhi
oleh:
1. Sifat , ukuran, kompleksitas entitas dan
pengendalian internalnya;
2. Tersedianya informasi pada entitas;
3. Metodologi dan teknologi audit yang
digunakan.