Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN BAB II

PRAKTIKUM JARINGAN TRANSMISI RADIO

MENENTUKAN LINE OF SIGHT PADA PATH PROFILE

Nama Anggota Kelompok :


Ahmad Nauval Wildani
Arifian Putra Hutama
Intan Wahyu Septiana
Marina Annisa Fitri
Rizky Puspa Arum Sari
Septian henrizal Umam M.
KELAS

(1431130048)
(1431130037)
(1431130055)
(1431130043)
(1431130003)
(1431130067)

: TT-3B

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI MALANG


2016

BAB II
MENENTUKAN LINE OF SIGHT PADA PATH PROFILE
1. Tujuan
1.1 Untuk menentukan LOS pada path profile
1.2 Untuk menentukan LOS padapathloss
1.3 Untuk memandingkan LOS secara manual pada path profile dengan cara otomatis
pada path loss
2. Alat dan Bahan
2.1 Software Google Earth
2.2 Software pathloss
2.3 Path Profile 3/4
2.4 Perangkat GPS
3. DasarTeori
3.1 Line of Sight
Line of sight adalah suatu teknik pentransmisian sinyal dimana antara dua terminal
yang saling berhubungan benar-benar tidak ada obstacle yang menghalanginya (bebas
pandang) sehingga sinyal dari pengirim dapat langsung mengarah dan diterima di sisi
penerima. Sistem LOS biasanya digunakan pada sistem transmisi gelombang mikro, yaitu
sistem radio yang mentransmisikan informasi dalam kapasitas kanal yang cukup besar.
Sebelum dikirimkan sinyal biasanya diubah dulu ke frekuensi tinggi melalui proses modulasi.
Dalam proses pentransmisian sinyal, faktor-faktor yang mempengaruhi propagasi sinyal
dalam sistem LOS ini adalah : redaman, refleksi, refraksi atmosfer, fading, dan difraksi
sepanjang permukaan bumi. Sistem modulasi pada sistem radio gelombang mikro ini
dilakukan dengan cara mengubah sinyal informasi menjadi bentuk sinyal RF dengan
memperhatikan parameter BER (bit error rate). Parameter-parameter pada komunikasi LOS
adalah:
1. Freznel Zone
Gelombang radio akan merambat lurus dari transmitter menuju receiver. Pada saat
terdapat halangan pada jalurnya, gelombang radio terpantul atau terdifraksi oleh obyek

halangan dan dapat menyebabkan interferensi desktruktif yang dapat melemahkan daya
sinyal yang diterima receiver. Interferensi yang terjadi juga dapat menghasilkan maksima,
tergantung pada posisi antena sesuai rasio S+N/N. Itu sebabnya mengapa orang suka
mengkalibrasi ketinggian antena.
Pada zona Fresnel, zona ganjil mempunyai interferensi konstruktif dan zona genap
mempunyai interferensi destruktif. Hal ini terjadi karena halangan pada zona Fresnel yang
pertama akan menghasilkan sinyal dengan fase 0 - 90 derajat, pada zona yang kedua berkisar
antara 90 - 270 derajat, zona ketiga akan berfase 270 - 450 derajat dan seterusnya.

Perhitungan

Beberapa contoh disrupsi yang dapat terjadi pada zona Fresnel.


Konsep kejernihan zona Fresnel dapat digunakan untuk menganalisa interferensi dan
gangguan yang disebabkan oleh halangan yang terdapat pada jalur sorotan gelombang radio.
Zona yang pertama harus diletakkan pada suatu ketinggian yang bebas hambatan untuk
menghindari interferensi pada penerimaan gelombang radio. Walaupun demikian, sejumlah
tingkat hambatan masih dapat ditoleransi, sesuai aturan tangan kanan, hambatan maksimum
yang dapat ditoleransi adalah 40%, hambatan yang disarankan adalah kurang dari 20%.

Untuk membuat sebuah zona Fresnel, pertama kali haruslah ditentukan RF Line of
Sight (RF LoS), yaitu suatu garis lurus antara antena pemancar dan penerima. Zona di sekitar
RF LoS tersebut akan menjadi zona Fresnel.[3]
Persamaan zona Fresnel pada titik P sepanjang garis lurus RF LoS adalah:

Dimana :

Fn adalah radius zona Fresnel urutan ke n (meter)

d1 adalah jarak dari titik P ke salah satu antena (meter)

d2 adalah jarak dari titik P ke antena yang lain (meter)

adalah panjang gelombang dari sinyal yang dipancarkan (meter)

Radius maksimal penampang melintang dari zona Fresnel yang pertama yang terletak pada
titik tengah garis lurus RF LoS dapat dihitung:

Dimana :
r adalah radius (feet)
D adalah jarak antara antena pemancar dan penerima (mil)
f adalah frekuensi gelombang yang dipancarkan (gigahertz).
Atau :

Dimana :

r adalah radius (meter)

D adalah jarak antara antena pemancar dan penerima (kilometer)


f adalah frekuensi gelombang yang dipancarkan (gigahertz)
2. Parameter Propagasi

Free space loss


Nilai dari free space loss tergantung pada panjang lintasan (jarak) antara kebua

titik (d dalam km) dan frekuensi pembawa yang digunakan dalam proses transmisi ( f
dalam GHz atau MHz). Besarnya loss jenis ini dapat dihitung dengan persamaan 9.5
dan persamaan 9.6
Lfs = 92,4 + 20 log d (km) + 20 log f (GHz) .(9.5)
atau,
Lfs = 32,4 + 20 log d (km) + 20 log f (MHz) .(9.6)

Feeder loss

Dinyatakan dalam spesifikasi peralatan, panjangnya dapat diperkirakan dengan


mengalikan tinggi antena di masing-masing sisi dengan 1,5.

Branching loss

Besar redaman jenis ini berkisar antara 2 dB 8 dB

Adaptor dan connection loss

Loss jenis ini terjadi pada perpindahan bumbung gelombang, adaptor dan
konektor yang termasuk bagian dari sistem feeder. Besarnya loss jenis ini adalah
berkisar antara 0,5 dB 1 dB.

Loss-loss lainnya

Loss-loss lainnya yang cukup berpengaruh pada sistem komunikasi ini adalah loss
atmosfer, loss difraksi, dan loss hujan.

Penguatan antena

Besarnya penguatan antena ditentukan oleh diameter (dimensi) antenna dan


frekuensi kerja yang diguanakan untuk transmisi. Nilainya dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan 9.7.

Gant = 17,8 + 20 log f (GHz) + 20 log D(m).(9.7)


3. Sistem diversitas dan cadangan
Sistem diversitas digunakan untuk mengurangi fading dan mempertinggi
keandalan sistem operasi. Sistem ini bekerja berdasarkan sinyal datang dengan
pemancaran yang berbeda-beda sehingga tingkat peredaan pun akan berbeda-beda.
Sistem diversitas yang banyak digunakan ada dua teknik, yaitu:

Teknik diversitas ruang


Pada sistem ini penerimaan menggunakan dua atau lebih antena penerima
yang dipasang sedemikian rupa sehingga antena yang satu posisinya di atas
antena yang lainnya pada suatu bidang vertikal secara terpisah

Teknik diversitas frekuensi


Pada sistem ini biasanya menggunakan dua pasang perangkat pemancar dan
penerima yang mana setiap pasangan di tala pada frekuensi kerja yang berbeda
satu sama lainnya sekitar 2-3 % darifrekuensi kerja pasangannya yang lain.

Selain sistem yang beroperasi, ada peralatan cadangan yang juga perlu
dipersiapkan dalam sistem komunikasi LOS ini. Sistem cadangan ini disebut
sebagai sistem stand by, dimana peralatan cadangan ini akan mengambil alih
fungsi peralatan yang beroperasi jika sistem mengalami gangguan atau terjadi
kerusakan.

4. LangkahPercobaan
a. Penentuan LOS secara manual
1) Mengubah jarak yang awalnya km menjadi meter serta membuat perbandingan
skala untuk mempermudah proses menggambar pada path profil.
2) Menentukan antenna pada titik A dan titik B.
3) Menentukan tinggi Fresnel, dihitung setelah tinggi antenna. Untuk mencari Fresnel

digunakan rumus F1=17,3

d 1x d2
f (d 1+ d 2)

4) Menentukan 5 titikdimana untuk menentukan panjang Fresnel dari A ke B.

5) Mencari daerah Fresnel sehingga akan terlihat jelas pada path profil seperti yang
ada pada path loss
b. Penentuan LOS mengguanakan software pathloss V.4
1) Menjalankan software pathloss
2) Mengisi bagian-bagian yang ada pada module terrain dat (bagian yang diisiyaitu
site name, call sign, latitude, longitude, tower height serta TR antenna height).
Setelah terisi maka elevation serta jarak akan secara otomatis keluar.
3) Setelah langkah 2, maka pada langkah ini lakukan konfigurasi pada configure
terrain data base setup primary index close close ok. Hal itu
berfungsi untuk memasukkan serta menyimpan geo yang ada di Malang, dengan
memasukkan geo tersebut data yang ada di Malang akan bisa digunakan untuk
memperoleh hasil yang benar.
4) Kemudian langkah terakhir yaitu kembali ke module print profile, untuk
mengetahui kontur tanah, tinggi antenna, elevasi serta Fresnel. Apabila Fresnel
masih menyentuh bagian tanah atau pohon berarti harus ditinggikan sampai Fresnel
tidak menyentuh bagian bawah.
5. Hasil Percobaan
Lokasi
Lokasi Existing

Alamat
Jalan Soekarno Hatta No 9

Keterangan
Elev : 534 m

Malang

070 56 40.80 S
1120 36 54.50 E

Lokasi Baru

No.

1.

Goedang Oleh Oleh, Jalan


Simpang Tenaga 2,

Elev : 454.5 m

Purwantoro, Kota Malang,

070 56 56.42 S

Jawa Timur, Indonesia.

1120 38 43.79 E

Jarak dari

Jenis

Polinema

Halangan

t MSL (m)

t AGL(m)

T = t MSL + t
AGL

Keterangan

1. Penentuan LOS secara manual


F1 17,3

F 1=17,3

F 1=17,3

d1.d 2
f (d1 d 2)

1,3 km x 2,1 km
2.4 GHz(1,3 km+2,1 km)
2,73
8,16

F 1=17,3 x 0,335
F 1=5,796 m

Karena faktor Clearance adalah 125% maka nilai F1=7,26 m


Keterangan: Hasil path profile dilampirkan.

6. Analisa Data
Dari hasil kegiatan dalam pembuatan path loss untuk menentukan LOS (Line Of
Sight) ini menggunakan 2 metode yakni metode konvensional (menggambar secara
manual pada path profil) dan mengguanakan media software (Path Loss dan google earth).
Dengan menggunakan kedua metode tersebut maka LOS yang dihasilkan seharusnya
berada pada titik yang sama atau setidaknya nilainya mendekati. Untuk menentukan tinggi
obstacle perlu didapatkan dengan cara pengukuran real mengguanakan instrument seperti
clinometers atau sejenisnya. Tampilan obstacle, jarak obstacle dari site existing maupun
jarak obstacle dari new site, koordinat site, kontur site, dan detail lain dapat diketahui
secara baik melalui aplikasi software.
Dari hasil pengamatan kelompok kami didapatkan obstacle berupa pohon dan gedunggedung yang ada di perumahan padat penduduk sepanjang BTS Polinema hingga new site
yang ada di Simpang Tenaga (Belakang Goedang Oleh-Oleh), namun dengan tinggi tower

Polinema 42 m dan tinggi BTS Simpang Tenaga (Belakang Goedang Oleh-Oleh) 42m
namun tinggi MSL new site lebih rendah dari tower yang ada di Polinema membuat
keadaan antara kedua site LOS (Line Of Sight) tanpa adanya obstacle.
7. Kesimpulan
Penentuan Path Loss untuk menetukan LOS (Line Of Sight) dalam perencanaan
pembangunan sebuah site baru dapat mengguanakan 2 metode yaitu metode konvensional
dan menggunakan aplikasi software. Metode konvensional (menggambar secara manual
pada path profil) dan mengguanakan media software (Path Loss dan google earth).
Penggunaan software dalam perencanaan atau pembuatan path profile sangat
disarankan, karena parameter-parameter data yang didapatkan lebih lengkap, tingkat
presisi tinggi, serta penyajian data yang lebih atraktif dan dinamis membuat kita dengan
mudah mendapatkan hasil yang ingin kita peroleh.