Anda di halaman 1dari 9

UTILITAS BANGUNAN

LAPORAN TINJAUAN LAPANGAN TENTANG PENGAPLIKASIAN


AKUSTIK LINGKUNGAN PADA BANGUNAN STUDIO MUSIK

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
yang tak ternilai. Sholawat dan salam selalu tertuju pada Nabi Muhammad SAW
yang senantiasa mendoakan keselamatan umatnya. Tak ada yang pantas terucap
selain Alhamdulillah, kami dapat menyelesaikan laporan survey lapangan ini.
Secara keseluruhan laporan ini melaporkan hasil survey pengumpulan data
primer yang telah dilaksanakan. Laporan ini diselesaikan guna mengetahui
pelaksanaan pekerjaan akustik lingkungan pada bangunan gedung dan
menyelesaikan tugas mata kuliah utilitas bangunan.
Sebagai manusia biasa, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam
isi laporan ini. Keterbatasan pikiran, kemampuan, tidak membatasi kami untuk
terus berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu kami memohon maaf dan
mengharapkan masukan demi kesempurnaan laporan ini.

DAFTAR ISI
Halaman Muka

Kata Pengantar

Daftar Isi
Y

BAB 1 : PENDAHULUAN 8
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan dan Manfaat
BAB 2 : LOKASI

10

BAB 3 : TINJAUAN PUSTAKA

11

3.1 Pengertian akustik11


3.2 Akustik ruang

12

3.3 Material akustik 12


3.4 Penyerapan bunyi 12
3.5 Waktu dengung (RT)

12

BAB 4 : HASIL SURVEY

17

BAB 5 : KESIMPULAN

25

LAMPIRAN 27

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Indera pendengaran merupakan alat komunikasi manusia terpenting kedua

setelah penglihatan. Indera penglihatan atau mata dapat dipejamkan untuk


menghindari pandangan yang tidak menyenangkan sedangkan telinga selalu terbu
ka bagi semua bunyi yang ada, sehingga perlu dipikirkan untuk mengurangi atau
mencegah semaksimal mungkin bunyi yang kurang menyenangkan. Prinsip utama
desain akustik ruang dalam adalah memperkuat atau mengarahkan bunyi yang ber
guna sertamenghilangkan atau memperlemah bunyi yang tidak berguna untuk pen
dengaranmanusia. Dengan demikian, dalam mendesain interior tempat-tempat
berkumpulyang berfungsi untuk menampung orang banyak seperti gedung pertunj
ukan, gedung bioskop, gedung parlemen, gedung sidang, perlu memperhatikan ka
rakter masing-masing akustiknya.
Sebagai mahasiswa teknik sipil tentunya pengetahuan tentang akustik
lingkungan adalah hal yang terpenting untuk dipahami dan dipelajari. Demi
tuntutan di dunia kerja yang sangat diperlukan kompetensi ahli di bidang
pelaksanaan

maupun

perencanaan

akustik

pada

bangunan,

dan

untuk

menyelesaikan tugas mata kuliah utilitas bangunan, maka laporan survey ini kami
buat sedemikian rupa untuk mengetahui pelaksanaan pengaplikasian akustik
lingkungan pada bangunan gedung.

1.2.

Tujuan dan Manfaat


1.2.1

Tujuan
1.Menyelesaikan tugas mata kuliah utilitas bangunan.
2.Mengetahui keadaan asli pengaplikasian akustik pada bangunan.

1.2.2

Manfaat
Mengetahui cara menangani permasalahan akustik bangunan di
lapangan dan mengetahui komponen - komponen dari penaganan
akustik bangunan.

BAB II
LOKASI SURVEY
Lokasi survey lapangan tentang pengaplikasian penanganan akustik lingkungan
pada bangunan, di igos studio yang bertempat di jalan Raya No., Jl. Klampis
Harapan No.12, Klampis Ngasem, Sukolilo, Kota SBY, Jawa Timur 60117.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Pengertian Akustik
Akustik ( dari bahasa Yunani akouein = mendengar) adalah ilmu terapan
yang dimaksudkan untuk memanjakan indra pendengaran Anda di suatu ruang
tertutup terutama yang relatif besar.Arsitek Romawi dari abad ke 1 Marcus Pollio
sudah mulai melakukan pengamatan cermat tentang gema dan interferensi
(getaran-getaran suara asli dan getaran pantulan yang saling menghilangkan) dari
suatu ruangan. Namun baru pada tahun 1856 akustik ini mulai dibangun sebagai
suatu ilmu oleh Joseph Henry dan akhirnya dikembangkan penuh oleh Wallace
Sabine di tahun 1900. Keduanya adalah fisikawan Amerika. Namun sayangnya
kecenderungan sampai saat ini dinegara kita nampaknya menunjukan bahwa
kecuali pada ruangan ruangan khusus seperti untuk ruang konsert, studio rekaman
atau panggung teater, rancangan akustik umumnya diabaikan. Padahal di ruang
manapun , bagi orang-orang yang indra pendengarannya sensitif, berada diruang
yang berakustik buruk merupakan siksaan.
3.2 Akustik Ruang
Dalam Satwiko (2009), akustik adalah ilmu yang mempelajari tentang
suara atau bunyi. Akustik dalam arsitektur sering dibagi menjadi akustika ruang
(room acoustics) yang menangani bunyi yang dikehendaki dan kontrol kebisingan
(noise control) yang menangani bunyi yang tak dikehendaki. Menurut Ching
(2009), kuaitas suara dalam suatu ruang pada hakekatnya tergantung pada sifatsifat penutup ruang. Sehingga penataan bunyi pada bangunan mempunyai dua
tujuan, yaitu untuk kesehatan (mutlak) dan untuk kenikmatan (diusahakan)
(Satwiko, 2009).
3.3 Material Akustik
Dalam Kang (2007), dijelaskan bahwa peredam suara berserat dapat
ditandai dengan adanya pori. Penyerapan suara dari bahan ini tergantung pada
variabel ketebalan, kerapatan, dan orientasi serat. Penyerap suara berpori dapat
diproduksi salah satunya dengan memanfaatkan limbah serat alam menjadi papan
komposit. Menurut Satwiko (2009), pemilihan bentuk, orientasi dan bahan
permukaan ruang akan menentukan kualitas dan kuantitas bunyi yang kemudian
juga akan menentukan karakter bunyi. Cox dan D'Antonio (2009), menjelaskan
bahwa penggunaan bahan penyerap suara terutama untuk mengatasi masaah
akustik, pengurangan kebisingan dan kontrol gema ruang (reverberation time).
Rekayasa material merupakan saah satu usaha arsitek untuk mengatasi
masalah akustik ruang seperti gema, kebisingan dan getaran. Dalam hal ini bahan
berserat dapat memberikan penyerapan suara yang lebih baik, untuk itu

dibutuhkan kemampuan untuk menghitung koefisien penyerapan suara dalam


mendesain suatu material akustik (Cox dan D'Antonio (2009). Disebutkan juga
oleh Satwiko (2009), setiap pengadaan massa dinding, tingkat bunyi akan
berkurang 5 dB.
3.4 Penyerapan Bunyi
Serapan (absorption) adalah perbandingan antara energi yang tidak
dipantulkan kembali dan energi keseluruhan yang datang, diukur dalam Sabine (1
m Sabine = serapan bunyi setara 1 m jendela terbuka). Penyerapan bunyi
(soundabsorbing), kemampuan suatu bahan untuk meredam bunyi yang datang,
dihitung dalam persen, atau pecahan bernilai 0 1 (Satwiko, 2009). Dalam
Everest dan Pohlman (2009), koefisien penyerapan digunakan untuk menilai
keefektifan bahan dalam menyerap suara. Dijelaskan dalam (Cox dan D'Antonio
(2009), metode yang sering digunakan dalam pengukuran penyerapan suara yaitu
metode tabung impedansi, dengan menghitung standing wave ratio. Metode ini
sangat baik untuk penelitian pengembangan bahan tanpa membutuhkan ruang
khusus, sampel ukuran besar yang sulit dan mahal dalam proses pengukuran
penyerapan bunyi. Pengurangan kebisingan suatu ruang sangat dipengaruhi oleh
material akustik. Nilai noise reduction tergantung pada nilai koefisien serap suara
bahan akustik dan luas material akustik yang digunakan.
3.5 Waktu Dengung (RT)
Parameter yang sangat berpengaruh dan umum digunakan dalam desain
akustik auditorium adalah waktu dengung (reverberation time) yang diciptakan
oleh W.C. Sabine pada abad ke-19. Hingga saat ini waktu dengung tetap dianggap
sebagai kriteria yang paling penting dalam menentukan kualitas karakter akustik
suatu auditorium. Waktu dengung tidak tergantung pada lokasi, tetapi merupakan
karakter menyeluruh dari suatu ruang. Faktor yang mempengaruhi waktu dengung
pada temperatur normal 22C adalah volume ruang (V), kapasitas pendengar, serta
bidang lingkup yang absorbtif atau reflektif (A), dengan rumus Sabine sebagai
berikut:
Reverberation Time (RT) = 0,161 . V detik
A + x .V
dimana,
A total = S .
Keterangan:
RT = waktu dengung, dalam detik.

V = volume ruang, dalam m3.


A = jumlah total penyerapan (absorpsi) bunyi dalam ruang oleh bahan dan
permukaan ruang dalam, dalam m2 sabins / sabins
x = koefisien serap bunyi oleh udara.
S = luas bidang bahan, dalam m2
= koefisien absorpsi bahan
Jika volume ruangan semakin besar, maka waktu dengungnya juga semakin besar.
Demikian jika bahan material dari bangunan itu memiliki koefisien dan luasan
yang lebih besar, maka waktu dengung yang didapat semakin kecil. Parameter
waktu dengung (RT) auditoriumberbeda-beda tergantung penggunaannya. RT
yang terlalu pendek akan menyebabkan ruangan terasa mati sebaliknya RT yang
panjang akan memberikan suasana hidup pada ruangan (Satwiko, 2004:91).

BAB IV
HASIL SURVEY