Anda di halaman 1dari 11

BAB I

LATAR BELAKANG
Pencemaran lingkungan banyak menjadi perhatian dan topik pembicaraan
global, karena berhubungan dengan kehidupan baik manusia, tumbuhan, hewan,
maupun organisme lainnya. Salah satu pencemaran lingkungan yang menjadi
perhatian adalah pencemaran logam berat. Persoalan spesifik logam berat adalah
dapat terakumulasi dalam makhluk hidup melalui rantai makanan. Salah satu
logam berat yang perlu diwaspadai adalah kromium, dikarenakan penggunaannya
yang luas di bidang industri seperti penyamakan kulit, pelapisan logam, tekstil,
cat, pengawetan kayu, pembuatan kertas, pembakaran minyak dan batu bara,
pencegahan terhadap korosi dan reaktor nuklir.
Kromium merupakan kontaminan yang berbahaya bagi ekosistem, karena
logam kromium, khususnya kromium heksavalen bersifat mudah larut, beracun,
karsinogenik, dermatoksis, dan dalam jumlah berlebih dapat mengakibatkan
kematian pada hewan, manusia, dan mikroorganisme.
Lahan pertanian yang terkontaminasi kromium penting untuk ditangani
karena menentukan pergerakan trace element logam dari tanah ke tumbuhan.
Bioakumulasi logam dalam tanah berakibat pada serapan logam oleh tanaman,
kemudian dapat memunculkan/meningkatkan kadar logam dalam rantai makanan.
Hal tersebut berpotensi memberikan efek meracun pada tanaman dan
manusia/hewan dalam jangka panjang.
Penanganan tanah tercemar logam selama ini dilakukan secara fisis dan
khemis, seperti: memindahkan/membuang tanah (soil removal), reklamasi lahan
(land filling), stabilisasi atau pemadatan, ekstraksi secara fisis-khemis, pencucian
dan pelindian tanah. Perlakuan ini seringkali digunakan sebagai cara penanganan
yang bersifat sementara, energi dan biaya yang dibutuhkan cukup besar jika
diaplikasikan pada area yang luas, dan secara ekologis kurang menguntungkan
karena merusak struktur dan ekosistem tanah. Oleh sebab itu, diperlukan metode
alternatif remediasi tanah tercemar logam yang murah, aman dan ramah
lingkungan. Salah satu metode yang direkomendasikan adalah penanganan secara
biologis melalui proses bioremediasi.
Bioremediasi adalah penggunaan mikroorganisme atau sistem biologi lain
untuk mendegradasi/mengubah bentuk pencemar di bawah kondisi yang
dikendalikan. Bioremediasi adalah alihrupa (transformation) pencemar menjadi
senyawa tidak berbahaya, utamanya menggunakan bakteri, fungi, algae dan
tanaman. Secara alami tanaman memiliki kemampuan menyerap logam dari
dalam tanah, dan mengakumulasinya di dalam akar dan trubus. Sementara

mikroorganisme memiliki kemampuan mengalihrupa logam dari bentuk


berbahaya (toksis) menjadi bentuk tidak berbahaya (tidak toksis).

BAB II
ISI

2.1

PENGERTIAN BIOREMEDIASI
Bioremediasi adalah pemanfaatan mikrooganisme (jamur, bakteri) untuk
membersihkan senyawa pencemar (polutan) daril ingkungan. Bioremendasi juga
dapat dikatakan sebagai proses penguraiaan limbah organik/ anorganik polutan
secara biologi dalam kondisiter kendali.
Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemarmen jadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbondioksida
dan air) atau dengan kata lain mengontrol, mereduksi atau bahkan mereduksi
bahan pencemar dari lingkungan.
Proses ini terjadi biotransformasi atau biodetoksifikasi senyawa toksik
menjadi senyawa yang kurang toksik atau tidakt oksik. Saat Bioremediasi terjadi,
enzim-enzim yang produktif oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun
dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut
biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujungpadabiodegradasi,
dimana polutan beracun terdegradasi, struktur nyamenadi tidak kompleks, dan
akhirnya menjad imetabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun pendeka
tanumum untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi/biodegradasi adalah
dengan cara:
1. Seeding, mengoptimalkan populasi dan aktifitas mikroba
(Bioremediasi instrinsik) dan penambahan mikroorganisme
(bioaugmentasi).

indigenous
exogenous

2. Feeding, memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi)


dana erasi (bioventing).
2.2

APLIKASI BIOREMEDIASI
Banyak aplikasi-aplikasi baru menggunakan mikroorganisme untuk
mengurangi polutan yang sedang diujicobakan. Bidang bioremediasi saat ini telah
didukung oleh pengetahuan yang lebih baik mengenai bagaimana polutan dapat
didegradasi jenis-jenis miroba yang baru dan bermanfaat, dan kemampuan untuk
meningkatkan bioremediasi melalui teknologi genetik. Teknologi genetik
molecular sangat penting untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengkodeenzim
yang terkait pada bioremediasi. Karakteristik dari gen-gen yang bersangkutan
dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bangaimana mikroba-mikrobame

modifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya. Aplikasi bioremediasi


sebagai berikut :
Degradasi Plastik Saat ini plastik dan polimer sintetik semakin meluas
penggunaan dan produksinya. Plastik ini dibuat dari senyawa petrokimia yang
bersifat persisten pada lingkungan dan merupakan salah satu penyebab polusi
yang paling tinggi. Plastik petrokimia ini membutuhkan waktu ratusan tahun
untuk didegradasi. Beberapa usaha mengurangi polusi akibat plastik tersebut
dengan:

Degradasi Hidrokarbon Alifatik Hidrokarbon alifatik didegradasi secara


aerobik oleh bakteri, fungi atau yeast. Reaksi degradasinya meliputi oksidasi
pada ujung metil: alkana alkohol asam lemak keton CO2 dan
H2O. Hidrokarbon rantai pendek, hidrokarbon dengan rantai cabang atau
berbentuk cincin lebih sulit untuk didegradasi.

Degradasi Hidrokarbon Aromatik Mikroorganisme mampu mendegradasi


hidrokarbon aromatis cincin tunggal secara aerobik. Hidrokarbon aromatik
dengan dua atau tiga cincin seperti naphthalene, anthracene, dan phenanthrene
dapat didegradasi secara lambat ketika terdapat oksigen. Sedangkan
hidrokarbon aromatik dengan emat cicin sulit didegradasi da bersifat
presistent.
Degradasi Hidrokarbon Alifatik Terklorinasi Degradasi dapat berlangsung
secara kimiawi atau biologis. Degradasi dengan menggunakan
mikroorganisme hanya menghasilkan degradasi parsial. Hanya sedikit karbon
terklorinasi yang dapat digunakan sebagai substrat primer untuk sumber energi
dan pertumbuhan.
2.3

JENIS BIOREMEDIASI
Jenis-jenis bioremediasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu bioremediasi
yang melibatkan mikroba dan bioremediasi berdasarkan lokasinya.

I.

Bioremediasi yang melibatkan mikroba


Teknologi bioremediasi dalam menstimulasi pertumbuhan mikroba dilakukan
dengan tiga cara yaitu:
a.

Biostimulasi

Biostimulasi adalah suatu proses yang dilakukan melalui penambahan zat gizi
tertentu yang dibutuhkan oleh mikroorganisme (misalnya nutrien dan oksigen)
atau menstimulasi kondisi lingkungan sedemikian rupa (misalnya pemberian
aerasi) agar mikroorganisma tumbuh dan beraktivitas lebih baik. Nutrien dan
oksigen dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang
tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang
telah ada di dalam air atau tanah tersebut. Namun sebaliknya, jika kondisi yang
dibutuhkan tidak terpenuhi, mikroba akan tumbuh dengan lambat atau mati.
b.

Bioaugmentasi

Bioaugmentasi merupakan penambahan atau introduksi satu jenis atau lebih


mikroorganisme baik yang alami maupun yang sudah mengalami perbaikan sifat
(improved/genetically engineered strains). Mikroorganisme yang dapat membantu
membersihkan kontaminan tertentu kemudian ditambahkan ke dalam air atau
tanah yang tercemar. Tetapi proses ini mempunyai hambatan yaitu sangat sulit
untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat
berkembang dengan optimal, karena mikroorganisme yang dilepaskan ke
lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi. Dalam beberapa hal,
teknik bioaugmentasi juga diikuti dengan penambahan nutrien tertentu.
c.

Bioremediasi Intrinsik

Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami (tanpa campur tangan manusia) dalam
air atau tanah yang tercemar.
II.

Bioremediasi berdasarkan lokasi


Bioremediasi berdasarkan lokasi dapat dilakukan secara in-situ dan ex-situ.
Bioremediasi in-situ, yaitu proses pengelolaan limbah di lokasi limbah itu berada
dengan mengandalkan kemampuan mikroorganisme yang telah ada di lingkungan
tercemar untuk mendegradasinya.
Bioremediasi ex-situ, yaitu bioremediasi yang dilakukan dengan mengambil
limbah di suatu lokasi lalu ditreatment di tempat lain, setelah itu baru
dikembalikan ke tempat asal. Kemudian diberi perlakuan khusus dengan
memakai mikroba. Bioremediasi ini bisa lebih cepat dan mudah dikontrol
dibanding in-situ, ia pun mampu me-remediasi jenis kontaminan dan jenis tanah
yang lebih beragam.

Secara umum proses bioremidiasi memiliki beberapa kelebihan, namun


kelebihan tersebut selalu diimbangi dengan kelemahan walaupun sedikit. Berikut
ini merupakan perbandingan kelebihan dan kelemahan dalam bioremediasi.

2.4

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BIOREMEDIASI


A. Kelebihan bioremediasi

Bioremediasi sangat aman digunakan karena menggunakan mikroba yang


secara alamiah sudah ada dilingkungan.

Bioremediasi tidak menggunakan atau menambahkan bahan kimia berbahaya


(ramah lingkungan).
Tidak melakukan proses pengangkatan polutan.
Teknik pengolahannya mudah diterapkan dan murah biaya.
Dapat dilaksanakan di lokasi atau di luar lokasi.

Menghapus resiko jangka panjang.

B. Kelemahan bioremediasi
Tidak semua bahan kimia dapat diolah secara bioremediasi.
Membutuhkan pemantauan yang intensif.
Berpotensi menghasilkan produk yang tidak dikenal.
Membutuhkan lokasi tertentu
2.5

FAKTOR YANG MENENTUKAN BIOREMEDIASI

Keberhasilan proses biodegradasi banyak ditentukan oleh aktivitas enzim.


Dengan demikian mikroorganisme yang berpotensi menghasilkan enzim
pendegradasi hidrokarbon perlu dioptimalkan aktivitasnya dengan pengaturan
kondisi dan penambahan suplemen yang sesuai. Dalam hal ini perlu diperhatikan

faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi proses bioremediasi, yang meliputi


kondisi tanah, temperature, oksigen, dan nutrient yang tersedia.
1.

Tanah
Proses biodegradasi memerlukan tipe tanah yang dapat mendukung
kelancaran aliran nutrient, enzim-enzim mikrobial dan air. Terhentinya
aliran tersebut akan mengakibatkan terbentuknya kondisi anaerob sehingga
proses biodegradasi aerobik menjadi tidak efektif. Karakteristik tanah yang
cocok untuk bioremediasi in situ adalah mengandung butiran pasir ataupun
kerikil kasar sehingga disp.ersi oksigen dan nutrient dapat berlangsung
dengan baik. Kelembaban tanah juga penting untuk menjamin kelancaran
sirkulasi nutrien dan substrat di dalam tanah.

2.

Temperatur
Temperatur yang optimal untuk degradasi hidrokaron adalah 30-40oC.
Temperatur yang digunakan pada suhu 38oC bukan pilihan yang valid
karena tidak sesuai dengan kondisi di Inggris untuk mengontrol
mikroorganisme patogen. Pada temperatur yang rendah, viskositas minyak
akan meningkat mengakibatkan volatilitas alkana rantai pendek yang
bersifat toksik menurun dan kelarutannya di air akan meningkat sehingga
proses biodegradasi akan terhambat. Suhu sangat berpengaruh terhadap
lokasi tempat dilaksanakannya bioremediasi.

3.

Oksigen
Langkah awal katabolisme senyawa hidrokaron oleh bakteri maupun kapang
adalah oksidasi substrat dengan katalis enzim oksidase, dengan demikian
tersedianya oksigen merupakan syarat keberhasilan degradasi hidrokarbon
minyak. Ketersediaan oksigen di tanah tergantung pada (a) kecepatan
konsumsi oleh mikroorganisme tanah, (b) tipe tanah dan (c) kehadiran
substrat lain yang juga bereaksi dengan oksigen. Terbatasnya oksigen,
merupakan salah satu faktor pembatas dalam biodegradasi hidrokarbon
minyak.

4.

Nutrien
Mikroorganisme memerlukan nutrisi sebagai sumber karbon, energy dan
keseimbangan metabolism sel. Dalam penanganan limbah minyak bumi
biasanya dilakukan penambahan nutrisi antara lain sumber nitrogen dan
fosfor sehingga proses degradasi oleh mikroorganisme berlangsung lebih
cepat dan pertumbuhannya meningkat.

5.

Interaksiantarapolusi
Fenomena lain yang

juga

perlu

mendapatkan

perhatian

dalam

mengoptimalkan aktivitas mikroorganisme untuk bioremediasi adalah


interaksi antara beberapa galur mikroorganisme di lingkungannya. Salah
satu bentuknya adalah kometabolisme. Kometabolisme merupakan proses
transformasi senyawa secara tidak langsung sehingga tidak ada energi yang
dihasilkan.

BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat di ambil dari pembahasan ini adalah:
1. Teknik Bioremediasi adalah aplikasi pemanfaatan mikrooganisme (jamur, bakteri)
untuk membersihkan senyawa pencemar (polutan) dari lingkungan mengunakan
rekayasa.
2. Teknik Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemarmen jadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun
(karbondioksida dan air) atau dengan kata lain mengontrol.
3. Meningkatkan kecepatan biotransformasi / biodegradasi adalah dengan cara,
Seeding, Feeding.
4. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi proses bioremediasi, yang meliputi
kondisi tanah, temperature, oksigen, dan nutrient yang tersedia.

DAFTAR PUSTAKA
Ciroeksoko, P. 1996. Pengantar Bioremediasi. Dalam Prosiding Pelatihan dan
Lokakarya : Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan. P.
Citroeksoko, A. Setiana, M.A. Subroto dan D. T. Djaja (Edt). Cibinong, 24 28
Juni 1996.
Crawford. 1996. Bioremediation Principles and Application. Cambridge University
Press. USA.
Munir, Erman. 2006. Pemanfaatan Mikroba dalam Bioremediasi: Suatu Teknologi
Alternatif Pelestarian Lingkungan. USU Press. Medan
Priadie, Bambang. 2012. Teknik bioremediasi sebagai alternatif dalam upaya
pengendalian pencemaran air. Bandung. ISSN 1829-8907
Walter, M. V. 1997. Bioaugmentation. Ch. 82 in Manual of Environmental
Microbiology. Christon J. Hurst (Ed). ASM Press. Washington DC