Anda di halaman 1dari 60

Laporan Praktek Kerja Lapangan

ANALISIS SAMPEL BATUAN GUNUNG PAPANDAYAN DAN MARAPI DI


LABORATORIUM PETROGRAFI BALAI PENYELIDIKAN DAN
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KEBENCANAAN GEOLOGI (BPPTKG)

Muhammad Nur Maulidin Mahmud


13630021

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
i

ANALISIS SAMPEL BATUAN GUNUNG PAPANDAYAN DAN MARAPI DI


LABORATORIUM PETROGRAFI BALAI PENYELIDIKAN DAN
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KEBENCANAAN GEOLOGI (BPPTKG)
Disusun oleh :
NAMA : MUHAMMAD NUR MAULIDIN MAHMUD
NIM

: 13630021

Dosen Pembimbing

Pembimbing Lapangan

Khamidinal, M.Si.
Andika Bayu Aji,S.T
NIP.196911040 200003 1 002
NIP. 19871010 201402 1 002
Mengetahui
Kepala BPPTKG
a.n Dekan
Ketua Program Studi Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ir. IGM. Agung Nandaka DEA


NIP. 19641227 199303 1 005

Dr. Susy Yunita Prabawati, M.SI


NIP. 19760621 199903 2 005

ii

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillahirobbilalamin, puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kepada


Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis
mampu menyelesaikan Praktek kerja Lapangan (PKL) di Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kebencenaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta dan laporan
PKL yang berjudul Analisis Sampel Batuan Gunung Papandayan Dan Marapi Di
Laboratorium Petrografi

Balai Penyelidikan Dan Pengembangan Teknologi

Kebencanaan Geologi (BPPTKG).


Laporan Praktek Kerja Lapangan ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban
dari pelaksaan PKL penulis yang dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2016 sampai
dengan

Februari

2016.

Selama

proses

PKL

yang

dimulai

dengan

persiapan,pelaksanaan kegiatan dan penyusunan laporan ini,banyak pihak yan


memberikan kontribusi demi terlaksananya semua proses tersebut. Untuk itu dengan
segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terimaksih kepada :
1. Ibu Dr. Maizer Said Nahdi, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Bapak Khamidinal M,Si. selaku Dosen Pembimbing dan Andhika Bayu Aji ST
selaku Pembimbing Lapangan yang telah memberikan motivasi dan
pengarahan selama Praktek Kerja Lapangan sekaligus sebagai pembimbing
laporan yang secara ikhlas dan sabar telah meluangkan waktunya unutk
membimbing, mengarahkan, dan memotivasi penyusun dalam menyelesaikan
laporan ini.
3.

Ibu Dr. Susy Yunita Prabawati, M.SI selaku Ketua Program Studi Kimia yang
telah memberikan motivasi dan pengarahan selama PKL.

iii

4. Seluruh Staf Karyawan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah membantu sehingga penyusunan
laporan ini dapat berjalan lancar.
5. Muhammad Taufiq Hidayat dan Widya Tri Septi Saputri, selaku rekan
kelompok PKL di BPPTKG yang telah memberikan semangat selama PKL
berlangsung.
6. Semua pihak yang telah ikut membantu dalam pelaksanaan PKl dan
penyusunan laporan ini.
Akhirnya,laporan Praktek Kerja Lapangan ini telah tersusun. Namun sebagai manusia
yang tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan laporan ini masih kurang adanya
sehingga diharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga laporan
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Yogyakarta, 9 Februari 2016

Penulis

iv

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. vii
DAFTAR TABEL ...................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 2
C. Tujuan PKL ....................................................................................... 3
D. Manfaat PKL ..................................................................................... 3
BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT PKL ........................................... 4
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Latar Belakang Organisasi ................................................................ 4


Sejarah Organisasi ............................................................................. 5
Struktur Organisasi ............................................................................ 9
Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi ............................................... 10
Visi dan Misi Organisasi ................................................................. 13
Fasilitas dan Layanan ...................................................................... 14
Ruang Lingkup Pekerjaan Pada Seksi Pelayanan Laboratorium .... 15

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 17


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Gunung Api .................................................................................. 17


Tipe - Tipe Gunung Api .............................................................. 17
Macam-Macam Jenis Letusan Gunung Api ................................ 18
Komposisi Batuan Gunung Api .................................................. 18
Interaksi Materi dengan Sinar , , .......................................... 19
X-ray Fluorescence (XRF) ........................................................... 20
Metode Gravimetri ....................................................................... 26

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ............................................................... 27


A. Bahan .............................................................................................. 27
B. Alat ................................................................................................. 27
C. Prosedur dan Pengumpulan Data ................................................... 27
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 30
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 44
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 46
LAMPIRAN ............................................................................................................ 48

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Infografis sejarah institusi pemantauan gununungapi di 7


Indonesia sejak jaman pendudukan Belanda, penjajahan
Jepang dan masa setelah kemerdekaan Indonesia

Gambar 2.2

Sejarah Pemantauan Merapi

Gambar 3.1

Skema Alat XRF

20

Gambar 3.2

Prinsip Kerja WDXRF

22

Gambar 5.1

Kurva Kalibrasi Standar SiO2

33

Gambar 5.2

Kurva Kalibrasi Standar TiO2

33

Gambar 5.3

Kurva Kalibrasi Standar Al2O3

34

Gambar 5.4

Kurva Kalibrasi Standar MgO

34

Gambar 5.5

Kurva Kalibrasi Standar CaO

34

Gambar 5.6

Kurva Kalibrasi Standar Na2O

35

Gambar 5.7

Kurva Kalibrasi Standar K2O

35

Gambar 5.8

Kurva Kalibrasi Standar P2O5

35

Gambar 5.9

Kurva Kalibrasi Standar Fe2O3

36

Gambar 5. 10

Tipe Batuan Sampel Berdasar Total Alkali Silika

39

Gambar Alat Gergaji

48

Gambar Jaw Chrusher

48

Gambar Pulvulizer

49

Gambar Neraca Analitis

49

Gamabar Alat Pengocok

50

Gambar Cup Almunium

50

Gambar Alat Press Hidrolik

51

Gamabar X-ray Fluorescence

51

vii

DAFTAR TABEL

TABEL 3.1

Perbedaan WDXRF dengan EDXRF

22

Tabel 3.2

Unsur Mayor dan Minor Batuan Andesit

25

Tabel 5.1

Data Hasil Pengujian Unsur dengan X-ray Fluorescence

37

dan Gravimetri (% berat)


Tabel 5.2

Data Hasil Pengujian Unsur dengan X-ray Fluorescence

38

dan Gravimetri (ppm)


Tabel 5.3

Hasil Anlisis Senyawa Habis Dibakar

viii

41

ix

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Potensi yang dimiliki Indonesia sangat bervariasi dan banyak. Salah
satu potensinya adalah banyak terdapat gunung berapi di Indonesia.
Gunung berapi banyak ditemui dari Sabang hingga Merauke. Banyaknya
gunung berapi di Indonesia disebabkan karena Indonesia memiliki
permukaan daratan yang sangat bervariasi dari pantai,dataran rendah dan
dataran tinggi. Selain itu,juga Karena juga dilintasi oleh dua jalur
pegunungan muda yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania atau yang
dikenal dengan lintasan cincin api (ring of fire).
Gempa merupakan salah satu penyebab gunung berapi meletus.
Gunung api meletus mengeluarkan magma dari perut bumi dan mongering
di kulit bumi membentuk batuan atau pun pasir. Batuan yang terbentuk
dinamakan batuan vulkanik. Setiap bataun memiliki banyak mineral dan
senyawa kimia yang lain. Dari batuan vulkanik dapat diperoleh data yang
akan digunakan para geologi untuk menentukan kandungan mineral dan
senyawa kimia lain sehingga diperoleh tipe letusan gunung berapi dan tipe
magmatis gunung berapi. Dua aspek utama yang digunakan untuk
melakukan kajian erupsi gunung api adalah aspek geokimia dan geofisika,
berdasarkan aspek geokimia, faktor yang mengontrol sifat erupsi gungung
api adalah komposisi mgma, temperatur magma, dan kandungan gas yag
terdapat di dalam magma. Faktor-faktor tersebut sagat memoengaruhi
mobilitas (viskositas) dari magma dan densitas magma. Komposisi kimia
magmatersebut berada dalam jumlah seagai unsur mayor, unsur minor,
unsur runut (trace), maupun unsur jarang (rare earth element, REE) baik
yang bersifat volatil maupun non volatil. Namun demikian, komponen

volatil mempunyai peranan yang sangat penting dalam sifat erupsi suatu
gunung api. Untuk melakukan tugas diatas maka pemerintah membentuk
salah satu badan yaitu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.
Material yang dikeluarkan oleh setiap gunung berapi saat meletus
memiliki kandungan unsur-unsur kimia yang berbeda-beda. Misalnya
didalam batuan yang berasal dari gunung api terdapat kandungan SiO2,
Al2O3 ,Fe2O3, CaO, MgO, MnO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5, H2O dan HD
(Habis Dibakar). Dari unsur-unsur tersebut kandungan SiO2 adalah yang
paling besar. Kadar keseluruhan senyawa-senyawa yang terdapat dalam
batuan serta parameter lainnya seperti komposisi total batuan, geokimia
gas, geofisik , dan lain-lain dapat digunakan sebagai indicator untuk
mengetahui aktivitas gunung api.

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang diselidiki dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) di
BPPTKG ini,adalah
1. Mengetahui cara menganalisa unsur yang terkandung dalam batuan
gunung api.
2. Mengetahui dan menentukan konsentrasi dari unsur yang
terkandung dalam batuan gunung api.
3. Mengetahui metode yang digunakan untuk menganalisa kandungan
dari batuan gunung api.

C. TUJUAN PKL
1. Tujuan Umum
Bertujuan untuk mempelajari dan menerapkan ilmu pengetahuan
tentang X-ray Fluorescence (XRF) di dunia kerja.
2. Tujuan Khusus
a) Mempelajari cara preparasi batuan gunung api dari bentuk
bongkahan hingga dianalisis dengan X-Ray Fluorescence
(XRF).
b) Mengetahui kadar SiO2, Al2O3 ,Fe2O3, CaO, MgO, MnO,
Na2O, K2O, TiO2, P2O5 dalam batuan gunung api.
c) Mengetahui jenis batuan sampel gunung api.

D. MANFAAT PKL
1. Mahasiswa
a. Mahasiswa mampu mengaplikasikan ilmunya dalam dunia
kerja secara langsung.
b. Mahasiswa

diharapkan

memperoleh

pengetahuan

dan

ketrampilan terutama dalam bidang kimia analitik dan analisis


instrumen.
2. Perguruan Tinggi
a. Dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik diantara
perguruan tinggi dengan instansi.
b. Dapat dijadikan untuk mengembangkan dan meningkatkan
mutu pendidikan.
3. Balai/Instansi
Sebagai wujud pengabdian kepada masyakarat khususnya dalam
bidang pendidikan dengan memberiksn kesempatan kepada mahasiswa
untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan.

BAB II
GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. LATAR BELAKANG ORGANISASI


Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geolog
dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor.11
tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penyelidikan dan Pengembangan
Teknologi Kebencanaan Geologi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kebencanaan Geologi merupakan unit pelaksana teknis yang berada di bawah dan
bertanggungjawab langsung kepada Pusat

Vulkanologi dan Mitigasi Bencana

Geologi.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi
mempunyai tugas yaitu melaksanakan mitigasi bencana Gunung Merapi ,
pengembangan metoda,teknologi dan instrumentasi dan pengelolaan laboratorium
kebencana geologi.
Dalam melaksanakan tugas tersebut Balai Penyelidikan dan Pengembangan
Teknologi Kebencanaan Geologi menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan rencana dan program serta pengelolaan kerja sama dan informasi.
b. Pelayanan mitigasi bencana Gunung Merapi.
c. Pemberian rekomendasi penetapan status tingkat aktivitas dan rekomendasi
teknis mitigasi bencana Gunung Merapi.
d. Pelaksanaan, penelitian, penyelidikan, dan pengembangan metoda, teknologi
dan instrumentasi kebencana geologi.
e. Pengelolaan laboratorium kebencana geologi.

f. Pengelolaan sarana dan prasarana


g. Pelaksanaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga.

B. SEJARAH ORGANISASI
Erupsi gunung api di Indonesia mulai tercatat dalam sejarah yang diperkirakan
ditemukan di Cina berupa tulisan mengenai erupsi Krakatau yang terjadi pada abad
ke 3 Masehi. Pada abad 15 paling tidak sekitar 17 catatan sejarah ditemukan yang
melaporkan aktivitas gunungapi Kelut sebagaimana juga Krakatau (Simkin et.al,
1994). Namun catatan-catatan tersebut itu secara ilmiah banyak diliputi
ketidakpastian karena adanya keraguan baik dari sisi ketepatan lokasi (nama
gunungapi) maupun waktu kejadian erupsi. Catatan tertulis pertama erupsi
gunungapi di Indonesia dibuat oleh orang Eropa pada jaman pendudukan Portugis
yaitu tentang erupsi Gunung Wetar dan Sangeang Api pada tahun 1512. Serikat
dagang Belanda (VOC) berkuasa di kepulauan Indonesia dari 1602 sampai 1780
yang dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda diselingi oleh Inggris pada abad
19 memberikan perhatian cukup besar terhadap masalah-masalah kegunungapian
terbukti

dengan

cukup

banyaknya

dokumen,

catatan

dan

jurnal-jurnal

kegunungapian yang diterbitkan. Jepang masuk ke Indonesia pada era perang dunia
II dan berkuasa relative singkat dari 1942 sampai 1945 masih sempat mendirikan
badan yang bertugas mengawasi
Secara singkat sejarah lembaga yang mengurus masalah kegunungapian di
Indonesia dapat kita uraikan sebagai berikut. Tahun 1920 pada tanggal 16
September pemerintah Hindia Belanda mendirikan badan khusus penyelidikan
gunungapi yang merupakan awal era penelitian dan pemantauan gunungapi secara
sistematis. Badan ini terbentuk tidak lama setelah erupsi dan terjadinya lahar
Gunung Kelut di Jawa Timur tahun 1919 yang menimbulkan korban manusia lebih
dari 5000 orang. Badan itu dalam bahasa Belanda disebut Vulkaan Bewakings
5

Dients (Dinas Penjagaan Gunungapi) di bawah naungan Dients Van Het


Mijnwezen.

Pada

tahun

1922

badan

tersebut

diresmikan

menjadi

VolcanologVolcanological Survey. Sepanjang tahun 1920-1941, Volcanologische


Onderzoek ini telah membangun beberapa pos penjagaan gunungapi diantaranya
yaitu Pos Gunung Krakatau di Pulau Panjang, Pos Gunung Tangkuban Parahu, Pos
Gunung Papandayan, Pos Kawah Kamojang, Pos Gunung Merapi (Babadan,
Krinjing, Plawangan dan Ngepos), Pos Gunung Kelut, Pos Gunung Semeru dan Pos
Kawah Ijen. Pada saat pendudukan Jepang, kegiatan penjagaan gunungapi
ditangani oleh Kazan Chosabu selama periode 1942-1945. Setelah Indonesia
merdeka dibentuk Dinas Gunung Berapi (DGB) di bawah Jawatan Pertambangan,
kemudian 1966 dirubah menjadi Urusan Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi
dan selanjutnya pada tahun 1976 berubah lagi menjadi Sub Direktorat Vulkanologi
di bawah Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan. Berdasarkan Keputusan
Menteri Pertambangan dan Energi No. 734 Tahun 1978 terbentuklah Direktorat
Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen
Pertambangan dan Energi. Perkembangan organisasi Departemen Pertambangan
dan Energi berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1092
Tahun 1984 dan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1748 Tahun
1992 terbentuk Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Geologi dan
Sumber daya Mineral.
Sejak tahun 2001 sampai 2005, berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan
Sumberdaya Mineral Nomor 1915 Tahun 2001, urusan gunung api, gerakan tanah,
gempabumi, Tsunami, erosi dan sedimentasi ditangani oleh Direktorat Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi, lalu setelah bergabung dengan Badan Geologi,
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi berubah nama institusinya
menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dasar
hukum pembentukan Badan Geologi dan unit-unit di bawahnya adalah Peraturan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0030 tahun 2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Gambar 2.1 Infografis sejarah institusi pemantauan gununungapi di Indonesia


sejak jaman pendudukan Belanda, penjajahan Jepang dan masa setelah
kemerdekaan Indonesia

Pemantauan Merapi
Sejarah pemantauan Merapi tentu saja tidak lepas dari sejarah
pemantauan kegunungapian Indonesia seperti yang telah disebutkan di
atas. Namun demikian Merapi unik karena merupakan satu-satunya
gunungapi Indonesia yang mempunyai 6 pos pengamatan dengan lima
diantaranya masih berfungsi aktif. Aktivitas Merapi yang tinggi dengan
selang erupsi yang pendek hanya beberapa tahun saja menarik minat
penelitian sejak jaman penjajahan sampai saat ini.
Beberapa saat setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk
di Yogyakarta dibangun sebuah kantor Urusan Gunungapi yang
selanjutnya disebut sebagai Pos Penjagaan Merapi. Pada 8 Agustus 1973,
PPM berubah nama menjadi Cabang Sub Direktorat Vulkanologi. Namun

hanya bertahan 2 tahun namanya dirubah lagi menjadi Dinas Vulkanologi


Cabang Yogyakarta. Tahun 1978 menjadi Seksi Geokimia Gunungapi
sebagai bagian dari Direktrorat Vulkanologi. Memasuki tahun 1984 dengan
pertimbangan pentingnya penanganan Merapi secara lebih dalam maka
dibentuk Seksi Penyelidikan Gunung Merapi (PGM) dengan tugas dan
fungsi utama pemantauan aktivitas vulkanik Merapi. BPPTK dibentuk
pada 28 Oktober 1997 dengan demikian fungsi kantor ini diperluas dengan
mitigasi bencana geologi lainnya.
Secara garis besar ada tiga tugas yang diemban BPPTK yaitu
melaksanakan mitigasi Gunung Merapi, pengembangan metoda dan
analisis, teknologi dan instrumentasi serta pengelolaan sarana dan
prasarana laboratorium kegunungapian dan mitigasi bencana geologi di
samping tugas umum ketata-usahaan yang mencakup administrasi,
kepegawaian, keuangan dan kerumahtanggaan untuk mendukung
pelaksanaan tugas fungsi tersebut.

Gambar 2.2 Sejarah Pemantauan Merapi


C. STRUKTUR ORGANISASI
Susunan Organisasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kebencanaan Geologi (BPPTKG) terdiri dari :
1. Subbagian Tata Usaha;
2. Seksi Gunung Merapi;
3. Seksi Metoda dan Teknologi;
4. Seksi Pengelolaan Laboratorium; dan
5. Kelompok Jabatan Fungsional.

BALAI PENYELIDIKAN DAN PENGEMBANGAN


TEKNOLOGI KEBENBANAAN GEOLOGI

SUBBAGIAN TATA USAHA

SEKSI

SEKSI METODA DAN

GUNUNG MERAPI

TEKNOLOGI

SEKSI PENGELOLAAN
LABORATORIUM

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

D. TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI


Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanan merupakan
Unit Pelaksana Tenis di lingkungan Direktorat Jendral Geologi dan Sumber Daya
Mineral yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi. Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Nomer 0030 Tahun 2005 bahwa menetapkan BPPTK berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi. Sebagai Unit pelaksana Tekis di lingkungan Badan Geologi, BPPTKG
merupakan Satuan Kerja yang diberi kewenangan mengelola Daftar Isian Pelaksana
Anggaran dan dalam rangka pelaksanaan tugas fungsi serta kebijakan organisasi
pembinaannya berada di bawah Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi.

10

Secara garis besar ada tiga tugas pokok BPPTK yaitu melaksanakan mitigasi
Gunung Api Merapi, pengembangan metoda dan analisis, teknologi dan instrumentasi
serta pengelolaan sarana dan prasarana laboratorium kegunungapian dan mitigasi
bencana geologi di samping tugas umum ketatausahaan yangmencakup administrasi
kepegawaian, keuangan, dan kerumahtanggan untuk mendukung pelaksanaan tugas
pokok tersebut. Untuk menjalankan tugas fungsi tersebut maka disusun program kerja
tahunan dan jangka menengah. Saat ini rencana strategis janga menengah adalah 20152019 yang meliputi visi dan misi, tujuan, dan sasaran yang hendal dicapai. Tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan, dilaksanakan secara bertahap melalui (RKT). Sasaran
yang ditetapkan merupakan penjabaran dari tujuan jangka menengah sebagaimana
tercantum di dalam Rencana Kinerja Tahunan (RKT). Sasaran yang ditetapkan
merupakan penjabaran dari tujuan jangka menengah sebagaimana tercantum dalam
Rencana Strategi Jangka Menengh BPPTK 2015-2019. Butir-butir Rancangan Strategi
BPPTK 2015-2019, sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas perencaan dan evaluasi kinerja.
2. Meningkatkan kemampuan pegawai dalam analisis data, pengolahan dta dan
informasi.
3. Meningkatnya kecepatan dan kulitas produk rancangan bangun untuk
mendukung mitigasi bencana geologi.
4. Mengembangkan metoda penyelidikan sumber ancaman bencana geologi.
5. Meningkatkan kulitas mitigasi bencana Gunung Merapi.
6. Meningkatnya kualitas pelayanan laboratorium kimia gunung api.
7. Melakuka penyelig adikan geokimia gunung api Indonesia.
8. Meningkatkan pelayanaan ketatausahaan.
9. Meningkatkan kinerja pegawai.
Sasaran garis besar BPPTK berfungsi sebagai pemantau segala gejala ataupun
aktivitas yang ditimbukan oleh Gunung Merapi. Perngamatan tersebut sangat perlu,
berguna untuk menghindari kemungkinan adanya bahaya dari gunung api baik

11

berupa letusan, lahar, maupun bahaya akan timbulnya awan panas. Bahaya tersebut
dapat meninpa masyarakat dan kehidupan di sekitarnya. Apabila tidak diketahui
dari dini akan lebih banyak masyarakat yanng dirugikan. Setelah gejala-gejala
tersebut, melalui pemantauan langkah selanjutnya adalah memberikan tanda berupa
peringatan memalui pos penjagaan yang berupa himbauan ataupun sirine yang
berada di stasiun-stasiun di desa sekitar gunung api yang diperkirakan adanya
bahaya tersebut .
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11
Tahun 2013, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan
Geologi (BPPTKG) Yogyakarta merupakan unit pelaksanaan teknis di lingkungan
Badan Geologi yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, yang mempunyai tugas
melaksanakan pengembangan metode analisis teknologi dan instrumentasi,
pengelolaan sarana dan prasarana laboratorium kegunungapian dan mitigasi
bencana geologi serta penyelidikan gunung api.
Fungsi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan
Geologi (BPPTKG) Yogyakarta adalah:
1. Penyusunan program dan pelaksanaan penyelidikan Gunung Merapi dan
pengelolaan sarana dan prasarana laboratorium alam Gunung Merapi.
2. Pelayanan pemberian rekomendasi perubahan dan penetapan status aktivitas
Gunung Merapi.
3. Pelayanan pemberian rekomendasi teknis berkaitan dengan mitigai benca
Gunung Merapi.
4. Pelayanan penyelidikan, analisis

dan kajian kegunungapian serta

pengembangan metode , teknologi, dan instrumentasi kegunungapian serta


mitigasi bencana geologi.

12

5. Pengembangann kerja sama ddi bidang penyelidikan, metode, teknologi dan


instrumentasi kegunungapian serta mitigasi bencana geologi.
6. Pengelolaan sarana dan prasarana serta pelayanan laboratorium Gunung
Merapi, kegunungapian dan mitigasi bencana geologi.
7. Pengelolaan tata usaha, rumah tangga, keuangan dan kepegawaian BPPTKG
serta informasi Gunung Merapi.

E. VISI DAN MISI ORGANISASI


Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi mempunyai
visi yaitu, Menjadi pusat pengembangan mitigasi bencana geologi yang bertumpu
pada kemampuan sendiri .
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi memiliki
misi, untuk mewujudkan visi tersebut, diantaranya sebagai berikut:
1. Melaksanakan mitigasi bencana Gunung Merapi secara efektif dan efisien.
2. Melakukan rancang bangun instrumentasi dan meningkatkan aplikasi metoda
dan teknologi baru bidang gunung api dan mitigasi bencana geologi untuk
mengurangi ketergantungan peralatan pemantauan terhadap bantuan asing.
3. Melakukan penelitian dan penyelidikan di bidang kebencanaan geologi untuk
mendukung upaya mitigasi bencana.
4. Mengembangkan sistem informasi Gunung Merapi yang padat, mudah, cepat,
dan aktual.
5. Melakukan analisis, kajian laboratorium dan penyelidikan geokimia
gunungapi.
6. Menjadi motor penggerak dalam aksi pengurangan resiko bencana bencana di
tingkat lokal dengan melibatkan para pemangku kepentingan di masyarakat.

13

F. FASILITAS DAN LAYANAN


Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi : Laboratorium Elektronika dan
Instrumentasi berfungsi dalam pengembangan metoda, teknologi dan instrumentasi di
bidang mitigasi dan bencana geologi meliputi pengembangan sistem transmisi data
analog maupun digital, membuat program-program antarmuka (interface) dari
berbagai peralatan instrumentasi yang disertai dengan pengembangan software
sebagai perangkat lunak untuk pengoperasian sistem.
Laboratorium Geokimia : Laboratorium Geokimia memberikan layanan jasa analisis
sampel-sampel gas, padatan, dan cairan, dalam konsentrasi major, minor, maupun
trace-element. Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan instrumentasi yang
modern dan metoda analisis berstandar nasional maupun internasional.
Laboratorium Petrografi : Sayatan tipis dan analisisnya dapat dilakukan di
Laboratorium Petrografi BPPTKG untuk mengetahui ragam dan jenis maupun
komposisi mineral/kimia. Dari jenis atau komposisi batuan tersebut dapat dipelajari
sifat-sifat batuan dan proses yang terjadi.
Perpustakaan : Sebagai suatu institusi di bidang kebumian khususnya di bidang
vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, BPPTKG mempunyai sarana perpustakaan
dengan berbagai macam buku pustaka kebumian. Koleksi perpustakaan selain
berbagai buku, jurnal, bulletin dan majalah dari luar BPPTKG, juga mengkoleksi
seluruh publikasi dan laporan penyelidikan BPPTKG. Koleksi buku yang tersedia
mencakup teks book dibidang kebumian dan kebencaan, Jurnal kebumian
internasional.
Pos Pengamatan Gunungapi : Untuk mengamati Merapi secara optimal, BPPTKG
dilengkapi dengan lima pos pengamatan yang terletak di sekeliling lereng Merapi.

14

Beberapa pos pengamatan sudah berdiri sejak jaman kolonial Belanda seperti Pos
Ngepos dan Pos Babadan.
Ruang Monitoring : BPPTKG mempunyai ruangan pemantauan khusus yang
berfungsi sebagai terminal penerima data dari stasiun pengamatan lapangan baik itu
terletak di Merapi maupun gunungapi lainnya. Data yang masuk ke sini secara realtime dan kontinyu antara lain data pemantauan kegempaan, deformasi (tiltmeter), data
pemantauan suhu dan data pemantauan gas.

G. Ruang Lingkup Pekerjaan Pada Seksi Pelayanan Laboratorium


a)

Laboratorium Gas (GC)


Pada laboratorium gas vulkanik dilakukan analisis gas yang tidak
terlarut dan analisis gas terlarut dan analisis gas terlarut dalan NaOH 4N.
i.

Analisis gas yang tidak larut dalam NaOH 4N meliputi : H2, N2, O2,
AR,CO dengan gas kromatografi.

ii.

Analisis gas yang terlarut dalam NaOH 4N meliputi: titrasi iodine


alkaline, analisis CO2, analisis SO2 , analisis HCl, analisis NH3, analisis
HF.

b) Laboratorium Batuan
Pada laboratorium batuan, analisis yang dilakukan meliputi:
i.

Analisis kadar TiO2 dan P2O5 secara spektrofotometri.

ii.

Analisis kadar H2O dan HD secara gravimetri.

iii.

Analisis kadar MnO, CaO, MgO, K2O, Al2O3, Na2O, Fe2O3, dan SiO2.

c) Laboratorium Air
Pada laboratorium air dilakukan analisis gas yang larut dalam NaOH
4N yang meliputi SO2, NH3, HF, secara spektrofotometri dan CO2, HCl,
H2S secara volumetri.

15

d) Laboratorium AAS
i.

Pada laboratorium AAS terdapat alat AAS (Atomic Absorption


Spectrofotometri) yang berguna untuk menganalisis logam/senyawa
oksidasi yang terdapat dalam air maupun batuan. Senyawa kimia yang
di analisis di BPPTK Yogyakarta: MnO, CaO, MgO, K2O, Al2O3, Na2O,
Fe2O3, SiO2, TiO2 dan P2O5.

16

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gunung Api
Menurut Wittiri (2007) gunung api adalah bentuk tumpukan (kerucut dan
lainnya) di permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan remah letusan, atau tempat
munculnya batuan lelehan/ remah keluar dan batuan penutup tidak sanggup
menahannya, maka akan terjadi letusan. Gunung api adalah salah satu fenomena serius
yang ada di alam raya dan tidak dapat dipelajari hanya dari satu disiplin ilmu saja.
Vulkanologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kegunungapian mengadopsi ilmuilmu geologi,fisika dan kimia.
Gunung api di Indonesia terbentang dari pulau Sumatra menyusuri pulau jawa
kemudian menyebrang ke pulau Bali., Nusa Tenggara, bagian Timur Maluku dan
berbelok ke utara Pulau Sulawesi. Bila digambarkan seolah-olah melingkari
Kepulauan Indonesia. Itulah sebabnya sering disebut Lingkaan Api Indonesia atau
Jalur Tektonik Indonesia ( Wittiri,2007).

B. Tipe-Tipe Gunung Api


Gunung api Indonesia dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan sejarah
kegiatannya, yaitu :
a.

Gunung Api Tipe A


Adalah gunung api yang penah meletus dan meningkat kegiatannya sejak
tahun 1600 sampai sekarang.

b.

Gunung Api Tipe B


Adalah gunung api yang tidak memiliki sejarah letusan sejak 1600 atau
sebelumnya, tapi ada lubang bekas letusan (kawah tidakaktif) di puncaknya.
Ada 30 gunung api tipe B di Indonesia (Wittiri,2007).

17

c.

Gunung Api Tipe C


Adalah gunung api yang hanya memiliki manifestasi panas bumi di
permukaan, tetapi tidak ada sejarah letusan sejak 1600 atau sebelumnya
maupun lubang bekas letusan di tubuh atau puncaknya. Terdapat 21 gunung
api tipe C di Indonesia ( Wittiri,2007).

C. Macam-Macam Jenis Letusan Gunung Api


Dikenal tiga macam jenis letusan gunung api, yaitu letusan freatik,
letusan magmatik, dan letusan freatomagnetik. Latusan freatik (letusan gas)
dipicu oleh murni tekanan gas yang berada di bawah permukaan. Gunung api
yang sering mengalami letusan ini adalah Gunung Dieng, Tangkuban Perahu,
Papandayan, Amabang, dsb. Letusan magmatik adalah jenis letusan gunung api
yang sangat berbahaya. Penyebab letusan ini murni karena desakan fluida
magma, sedangkan letusan freatomagnetik atau hidrovulkanik terjadi akibat
adanya interaksi antara air tanah dengan kantong magma. Pada umumnya
gunung api yang berdanau kawah atau berada di tengah laut (gunung pulau)
sering mengalami letusan jenis ini (Wittiri,2007).

D. Komposisi Batuan Gunung Api


Komposisi batuan gunung api adalah cerminan dari keberadaan magma
di dalam tubuh gunung api. Secara garis besar komposisi kimia magma terdiri
dari magma asam dan magma basa. Magma asam viskositasnya relatif lebih
kental jika dibandingkan dengan magma basa, hal tersebut terjadi karena
kandungan

silica

(SiO2).

Berdasarkan

komposisi

kandungan

silica

(SiO2),batuan beku dapat dibedakan menjadi :


a. Batuan beku ultra basa memiliki kandungan silika kurang dari 45%.
Contoh : Dunit dan Peridotit.

18

b. Batuan beku basa memiliki kandungan silika antara 45% - 52%. Contoh ;
Gabro, Basalt.
c. Batuan beku intermediet memiliki kandungan silika antara 52% - 66%.
Contoh : Andesit dan Syenit.
d. Batuan beku asam memiliki kandungan silica lebih dari 66%. Contoh :
Granit, Riolit. Dari segi warna, batuan yang komposisinya semakin basa
akan lebih gelap dibandingkan yang komposisinya asam (Hugnes,1962).
Adakalanya magma atau batan cenderung lebih bersifat asam, terkadang
juga sebaliknya lebih bersifat basa. Apabila kecenderungannya bersifat asam,
maka sifat letusannya akan eksplosif (meledak) secara vertikal karena magma
asam memiliki kandungan gas yang relatif besar. Pengaruh kandungan gas
itulah yang menjadi penyebab besarnya suatu letusan. Sebaliknya bila magma
bersifat basa,maka sifat letusannya akan efusif membentuk lelehan lava atau
kubah lava selain viskositasnya relatif encer juga kandungan gasnya relatif
kecil. Komposisi kimia batuan gunung api adalah SiO2, Al2O3 ,Fe2O3, CaO,
MgO, MnO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5, H2O dan senyawa habis dibakar
(Nelson,2012).
E. Interaksi Suatu Materi dengan Sinar , ,
1. Interaksi Materi dengan Sinar
Terkadang suatu electron yang terlepas dari orbital atom oleh partikel
dan terlempar melewati ruang dengan energy tertentu berakibat
electron ini mampu menghasilkan pasangan ion (Pusdiklat,2012).
2. Interaksi Materi dengan Sinar
Interaksi sinar dengan materi menyerupai sinar namun
menghasilkan kerapatan pasangan ion jauh lebih sedikit (4-8 pasangan
ion per mm lintasan) dan mengalami pembiasan arah karena adanya
gaya coulomb yang dikenal dengan difusi electron (Pusdiklat,2012).

19

3. Interaksi Materi dengan Sinar


Ada 3 proses utama yang terjadi pada radiasi melewati bahan,yaitu
efek fotolistrik, hamburan Compton, dan produksi pasangan. Ketiga
proses

tersebut

melepaskan electron

yang selanjutnya dapat

mengionisasi atom-atom lain dari bahan (Pusdiklat,2012).

F. X-ray Fluorescence (XRF) Spectrometry

Gambar 3.1 Skema Alat XRF

Spektrometri pendar sinar-X adalah suatu metode analisis yang didasarkan


pada pengukuran energi dan intensitas spectra sinar-X yang dihasilkan sebagai akibat
interaksi atom-atom unsur cuplikan yang dikenai radiasi sumber pengeksitasi.
Menurut teori Bohr, atom terdiri dari inti atom yang bermuatan positif dan elektronelektron yang bermuatan negatif. Elektron-elektron mengelilingi inti pada kulit-kulit
diskrit dan terikat pada inti dengan gaya Colomb. Bila atom dari suatu unsur dikenai
radiasi dengan energi radiasi yang lebih besar dari energi ikat elektron terhadap inti
dalam atom tersebut, maka elektron dari atom tersebut akan terpental dan
meninggalkan tempat kosong. Tempat kosong tersebut akan diisi oleh elektron dari
kulit lebih luarnya lagi. Jadi atom dalam keadaan dasar secara bertahap, dimana setiap
tahap terjadi loncatan elektron dari energi lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih

20

rendah. Kelebihan energi ini dipancarkan dalam bentuk sinar-X. Energi radiasi sinarX tersebut adalah karakteristik setiap atom unsur yang memancarkan. Sinar-X tersebut
merupakan hasil eksitasi electron suatu unsur setelah disinari suatu sumber sinar.
Prinsip spektrometer pendar sinar-X berdasarkan lepasnya electron pada bagian dalam
dari atom akibat terkena adiasi sehingga menyebabkan emisi. Proses emisi ini
menghasilkan sinar-X karakteristik yang menjadi identitas unsur-unsur digunakan
untuk anaisis kualitatif. Sedeangkan intentitas spektrum sinar-X digunakan sebagai
dasar perhitungan analisis kuantitatif. Teknik analisis dengan spektrometer pendar
sinar-X ini lebih banyak digunakan daripada analisis konvensional lainnya seperti
polarografi,gravimetri dan sebagainya, karena mengingat metode ini cepat, multi
unsur, tidak merusak bahan, dapat digunakan pada cuplikan berbentuk padat, bubuk,
cair maupun pasta. Aplikasi spektrometri pendar sinar-X dalam bidang analisis
semakin berkembang pesat. Kelebihan lain dari teknik analisis ini adalah dapat
menganalisis campuran yang sukar dipisahkan dengan cara analisis biasa. Metode ini
bersifat tidak merusak terhadap cuplikan, sehingga dapat digunakan secara luas dalam
berbagai bidang seperti industry, geologi dan arkeologi. Selain itu, cuplikan yang
dibutuhkan

untuk

analisis

menggunakan

metode

ini

juga

relatif

sedikit

(taftazani,2013).
Jenis XRF saat ini ada 2 jenis yaitu WDXRF (Wavelength dispersive X-ray
Fluorescence) dan EDXRF ( Energy Dispersive X-ray Fluorescence). Perbedaan yang
mendasar pada kedua jenis tersebut adalah keberadaan Kristal yang hanya terdapat
pada WDXRF Kristal tersebut akan membentuk sudut 2 sedangkan EDXRF tidak
menggunakan kristal.

21

TABEL 3.1 Perbedaan WDXRF dengan EDXRF


WDXRF

EDXRF

Lebih besar , lebih kompleks , menggunakan water

Lebih kecil,lebih sederhana, tidak menggunakan water

chiller

chiller

Analisa B (5) U (92), lebih sensitive, lebih akurat,

Analisa Na (11) U (92), Vacuum pump optional

menggunakan vacuum pump


Unggul pad analisa unsur ringan ( B Mg)

Analisa unsur berat (K U) hasil hamper sama dengan

dibandingkan EDXRF

WDXRF

Menggunakan gas p10 (Argon Methane ), He

Menggunakan He (optional, untuk unsur ringan Na

(optional, untuk analisa cairan)

Cl)

Gambar 3.2 Prinsip Kerja WDXRF

Prinsip kerja alat WDXRF adalah sebagai berikut sinar-X karakteristik yang
dipancarkan oleh sampel dihasilkan dari penyinaran sampel dengan sinar-X (X-Ray
Tube), yang dibangkitkan dengan energi listrik dari sumber tegangan sebesar 200 volt.
Sampel yang terkena radiasi sinar-X akan mengemisikan radiasi ke segala arah.
Radiasi dengan arah yang spesifik yang dapat mencapai collimator, sehingga refleksi
sinar radiasi dari Kristal ke detector akan membentuk sudut . Sudut ini akan terbentuk
jika panjang gelombang yang diradiasikan sesuai dengan sudut dan sudut 2 dari kisi
Kristal. Maka hanya panjang gelombang yang sesuai akan terukur oleh detektoe.

22

Karena sudut refleksi sepsifik bergantung panjang gelombang, msks untuk


oengukuran elemen yang berbeda,perlu dilakukan pengaturan pengaturan posisi
collimator, kristal serta detector. Dalam analisis Spektrometri X-ray fluoresensi (XRF)
untuk bahan geologi ada bebrapa metode preparasi sampel yaitu metode fused glass
bead dan metode pressed powder pellet (Gosseau,2009).
Pada metode pressed powder pellet analisis XRF diawali dengan batu
ditumbuk halus kemudian ditekan hingga menjadi flat. Sampel disiapkan dengan cara
ini masih memiliki kekurangan yaitu kekasaran permukaan ,grainisize, efek
mineralogi dan sering mengalami kerusakan. Perssed powder pellet optimum untuk
menganalisis unsur-unsur trace elemen pada batuan. Metode fused glass bead
optimum untuk menganalisis unsur mayor pada batuan tetapi tidak bagus untuk trace
element karena rasio aditif dan rasio sampel hampir sama sehingga menyebabkan
pengenceran pada trace element (Hattori,1971).

Analisis kualitatif dilakukan dengan mengidentifikasi panjang gelombang


spesifik atau energy sinar X dan nomor atom elemen yang dianalisis. Analisis
kuantutatif dilakukan dengan metode kurva kalibrasi dan paramteter fundamental.
Analisis menggunakan XRF berdasarkan identifikasi dan pencacahan sinar X
karakteristik yang terjadi dari peristiwa efek fotolistrik. Efek fotolistrik terjadi karena
electron dalam atom target karena sinar berenergi tinggi, bila energi sinar tersebut
lebih tinggi daripada energy ikatan electron dalam orbit K, L, atau M atom target, maka
electron atom target akan keluar dari orbitnya dan akan mengalami kekosongan
electron. Kekosongan electron ii akan diisi oleh electron dari orbital yang lebihluar
diikuti dengan pelepasam energy yang serupa sinar X. Sinaar C yang dihasilkan
merupakan gabungan spektrim sinambung dan spektrum berenergi tertentu (diskrit)
dari sampel target yang tertumbuk elektron. Jenis spektrum diskrit tergantung pada
pepindahan elektron yang terjadi dalam atom sampel. Spektrum ini dikenal dengan

23

spektrum sinar X karakteristik. Alat XRF memanfaatkan sinar X yang dipancarkan


oleh bahan yang selanjutnya diteruskan ke detector dan akan diubah menjadi sinyal
yang intensitasnya sesuai dengan jumlah analit yang terdapat dalam sampel ( Amptek
Inc,2009).

1. Pembuatan Aplikasi
Aplikasi

dibuat menggunakan softwer untuk menentukan model

analisis yang digunakan. Supaya model analisis antara bahan standar dan
sampel sama.
a. Penentuan bahan standar, bahan standar adalah powder batuan gunung
yang sudah terstandarifikasi oleh perusahaan. Bahan standar memiliki
sertifikat konsentrasi tiap komponen mayor dan minor. Bahan standar yang
digunakan di BPPTKG diantaranya adalah JA1, JA2, JA3 merupakan
bahan standar dari Jepang.AGV2 merupakan bahan standar dari Amerika.
Tiap aplikasi dapat ditentukan bahan standarnya, disesuaikan dengan
kebutuhan pengguna. Semakin banyak bahan standar makan semakin
bagus keakuratan. Dilakukan input data dari sertifikat untuk masingmasing komponen yang akan diidentifikasi. Salah satu metode untuk
mengurangi kesalana adalah menginput bahan standar dengan konsentrasi
tertinggi pada komponen tertentu.
b. Perbandingan antara sampel dan wax, serta sampel dan bahan standar harus
sama. Wax adalah bahan tambahan yang digunakan sebagai perekat
sampel. Mengingat sampel berwujud serbuk, jika tidak diberi perekat maka
akan mudah pecah dan membuat kerja vakum semakin besar. Perbandingan
antara wek dan sampel adalah 1:8 dengan total massa 9 gram. Perbandingan
antara sampel dan bahan standar hendaknya ama supaya akurasi tinggi.

24

c. Input data komponen yang akan dianalisis


Komponen yang dapat dianalisis berupa komponen mayor dan trus atau
minor. Komponen mayor biasanya mineral dan logamnya dalam
konsentrasi besar, diinformasikan dalam bentuk persen Sedangkan,
komponen minor adalah komponen yang hanya sedikit ditemui dalam
sampel batuan ataupun bahan standar. Sehingga diinformasikan dalam
skala ppm. Berikut adalah data komponen mayor dan minor
Tabel 3.2 Unsur Mayor dan Minor Batuan Andesit
Unsur
Mayor

Minor

SiO2 (%)

Ba (ppm)

Ni (ppm)

TiO2 (%)

Ce (ppm)

Pb (ppm)

Al2O3 (%)

Co (ppm)

Pr (ppm)

MgO (%)

Cr (ppm)

Rb (ppm)

CaO (%)

Cu (ppm)

Sc (ppm)

Na2O (%)

Dy (ppm)

Sr (ppm)

K2O (%)

Ga (ppm)

Th (ppm)

P2O5 (%)

Hf (ppm)

U (ppm)

HD (%)

Mn (%)

V (ppm)

H2O- (%)

Mo (ppm)

Y (ppm)

T-Fe2O3 (%)

Nb (ppm)

Zn (ppm)

Nd (ppm)

Zr (ppm)

d. Input data standar yang akan dianalisis, data yang diinput adalah data yang
berasal dari sertifikat daftar mineral yang sudah terstandarifikasi. Tidak
semua komponen harus dimasukan. Tetapi hanya komponen yang ingin
dianalisis saja.

25

e. Waktu lama analisis, lamanya waktu analisis kurang lebih 20 menit untuk
setiap sampel. Hal ini karena setiap komponen dalam sampel memiliki
rentan waktu relase yang berbeda sehingga waktu yang paling lama
dijadikan acuan, karena dianggap setelah waktu maksimal tersebut semua
komponen sudah dapat dilihat datanya (Panalylitical,2012).

G. Metode Gravimetri
Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau
senyawa tertentu bagian terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri meliputi
transformasi unsur atau radikal ke senyawa murni stabil yang dapat segera diubah
menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dihitung
berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur-unsur yang menyusunnya.
Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan beberapa
cara seperti : metode pengendapan, metode penguapan, metode elektroanalisis atau
berbagai macam metode lainnya. Pada praktinya,dua metode pertama adalah yang
terpenting. Metode gravimetri memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor
pada konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor-faktor koeksi dapat digunakan
(Khopkar,2008).

26

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Bahan
Bahan yang digunakan meliputi batuan yang diperoleh dari kuba magma, dipilih
bagian batu muda dengan melihat batu yang melapisi, artinya batu itu yang baru saja
terbentuk dari letusan, material standar (AGV-2, JA 1-3 dan RGM), serbuk weaks
sebanyak 100 gram, dan akuades.
B. Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah WDXRF Panalytical Axios Max PW 4400, cup
alumunium, alat pemotong batuan, alat press, timbangan digital, desikator, krus,
pulvulizer, jaw chrusher, oven merk memmer , gelas beker, alat furnace.
C. Prosedur dan Pengumpulan Data
Analisis menggunakan XRF Axios 4KW panalytical. Analisis didahului dengan
pembuatan aplikasi, preparasi sampel, preparasi standar, analisis bahan standard dan
analisis sampel.
1. Kalibrasi Standar
Standar Andesit Guano Valley (AGV-2), Japan Andesite-1 (JA-1), Japan Andesite2 ( JA-2), Japan Andesite-3 (JA-3), Rhyolite Glass Mountain (RGM) yang sudah
diketahui kadar unsur. Kemudian diuji dengan WDXRF yang sebelumnya telah
dioptimalisasi dengan bantuan computer. Didapatkan spectra unsur dengan sudut
2 dan intensitas. Dipilih intensitas yang tertinggi.

2. Preparasi Sampel
a. Sampel berupa bongkahan batu dihaluskan,

27

1. Pertama batu harus dipotong untuk dipilih bagian batu yang paling
representatif dari batu yang akan dianalisisi, untuk menentukan batu tua
dan batu muda.
2. Setelah dipotong,bomgkahan agak besar kemudian di potong denagn
jaw chrusher.
3. Kemudian batu kecil di cuci dengan akuades,setelah itu dioven selama
12 jam.
4. Setelah dioven,batu digerus dengan dengan pulvulizer.
b. Setelah benar-benar halus kemudian dicampur dengan wax dengan
perbandingan 8:1, kemudian diperlakukan sama dengan standar dicampur
selama 10 menit, supaya campuran homogen.
c. Campuran homogen tersebut kemudian dibentuk palet yang perlu
diperhatikan sebelum alat dibuka harusnya direalese terlebih dahulu supaya
tekanan alat stabil dan tidak mudah rusak. Supaya palet tidak mudah retak
saat memutar bagian atas alat tidak boleh terlalu bergesekan dengan bahan.

3. Analisis Sampel
Sampel dimasukan ke dalam cup analizer, palet yang dibuat berjumlah tujuh ,
masing-masing palet dibuat dari sampel yang berbeda masig-masing dilakukan 1
kali pengukuran, sehingga untuk masing-masing komponen baik trace maupun
mayor akan diperoleh kemudian beri nama di komputer sampel yang sedang
dianalisis. Kemudian loading sampel dan ditunggu sampai selesai.

28

4. Analisis Unsur Volatil (Habis Dbakar dan H2O) dengan Metode Gravimetri
Sampel batuan yang telah digerus ditimbang sebanyak 1 gram. Sampel
dimasukkan didalam krus. Dimasukkan didalam oven selama 2 jam pada suhu
100oC. kemudian sampel ditimbang. Kemudian di furnace hingga suhu 1000oC
kemudian didinginkan ke dalam desikatro. Ditimbang dan dicatat beratnya.

29

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktek Kerja Lapangan ini berjudul analisis sampel batuan dengan
menggunakan XRF, yang mempunyai tujuan mempelajari cara preparasi batuan
gunung api dari bentuk bongkahan hingga dianalisis dengan X-Ray Fluorescence
(XRF), mengetahui kadar SiO2, Al2O3 ,Fe2O3, CaO, MgO, MnO, Na2O, K2O, TiO2,
P2O5, H2O dan HD (Habis Dibakar) dalam batuan gunung api, mengetahui jenis batuan
sampel gunung api. Prinsip pada praktek ini adalah menganalisa batuan dari bentuk
bongkahan menjadi serbuk sehingga dapat dianalisa menggunakan X-ray
Fluorescence (XRF) serta mengetahui kandungan batuan dan termasuk pada jenis
batuan apa. Pada analisa ini menggunakan batuan yang berasal dari gunung api, batuan
yang terletak pada kawah dan kuba dari gunung api. Batu yang digunakan adalah batu
yang masih muda, dengan cara melihat lapisan pada batu tersebut.
Instrumen yang digunakan adalah X-ray Fluorescence. X-ray Fluorescence
merupakan salah satu metode analisis yang didasarkan pada pengukuran tenaga dan
intensitas spektra sinar-X yang dihasilkan sebagai akibat interaksi atom-atom unsur
cuplikan yang dikenai radiasi sumber pengeksitasi. Diawali dengan pembentukan
sinar-X. Sinar-X dibentuk ketika electron-elektron bebas melepaskan sebagian
energinya ketika berinteraksi dengan electron yang mengorbit pada inti atom. Electron
bebas berasal dari sumber listrik mengenai filament yang berisikan logam kemudian
electron bebas dari listrik akan mengemisikan energi yang nantinya akan menjadi
sinar-X. Energy yang dilepaskan oleh electron adalah foton sinar-X. Salah satu sumber
electron adalah filamen. Umumnya logam dipilih sebagai filament karena unsur logam
memiliki banyak electron yang mengorbit di kulit atomnya. Yang perlu dilakukan
adalah melepaskan electron yang mengorbit tersebut sehingga menjadi electron bebas.
Dengan mengalirkan arus pada filament, maka akan terjadi efek emisi termionis yang
menyebabkan electron terlepas dari kulit atom. Umumnya Tungsten digunakan

30

sebagai bahan filament karena tungsten memiliki titik lebur yang tinggi (3370oC),
fungsi kerja 4,52 eV yang tidak terlalu tinggi, dan strukturnya yang solid memiliki
daya tahan mekanis yang tinggi. Nomor atom dari tungsten juga tinggi (74), yang
artinya banyak elektron yang mengorbit inti atomnya, sehingga mudah dilepaskan.
Selanjutnya sinar-X yang tebentuk dari sumber sinar- X akan melewati
kolimator. Fungsi kolimator adalah memfokuskan sinar X yang berasal dari sumber
sinar yang awalnya sinar-X arahnya menyebar ke segala arah supaya mengarah teopat
ke sampel. Pada saat ini dilakukan secara vakum, karena jika tidak dilakukan pada
keadaan vakum maka ketika electron bergerak aka nada unsur atau partikel lain yang
menghalangi lintasan electron menuju target yang bisa menyebabkan perubahan arah
electron sehingga tidak menumbuk target, atau berkurangnya kecepatan electron
karena terhambat sehingga energy yang seharunsya dipancarkan besar akan menjadi
kecil.
Setelah melewati kolimator, sinar-X menabrak target yang berupa pellet.
Sampel dapat berupa pressed powder pellet atau fused glass bead. Perbedaan dari
keduanya yaitu perlakuan sampel batuan. Pada pressed powder pellet, batuan yang
berbentuk serbuk dicampur dengan weaks kemudian di press dengan alat press dengan
tekanan sebesar 25 ton. Sementara pada fused glass bead, serbuk batuan dipanaskan
hingga mencair kemudian didinginkan sehingga tebentuk bead. Ketika sampel yang
terkena sinar-X, ionisasi mungkin terjadi. Ionisasi terdiri dair pengusiran satu atau
kebih elektron dari atom, dan dapat terjadi jika atom terkena radiasi dengan energy
yang lebih besar daripada potensial ionisasinya. Sinar-X dapat mengusir electron yang
berikatan dengan erat dari orbital atom. Elektron akan berpindah ke orbital yang lebih
tinggi akan mengalami ketidak stabilan sehingga elektron akan turun ke orbital yang
rendah dengan melepaskan energi. Energi yang dilepaskan dalam bentuk foton.
Sehingga materi memancarkan radiasi, yang memiliki karakteristik atom yang dikenal
dengan sinar X karakteristik. Setiap atom memiliki sinar-X karakteristik masingmasing. Ini dikarenakan setiap atom memiliki tingkat-tingkat energi elektron yang

31

berbeda-beda, seperti transisi dari kulit L ke K akan menghasilkan K sementara


transisi dari kulit M ke K menghasilkan K, dan transisi dari M ke L akan
menghasilkan L. Kemudian sinar-X karakteristik melewati kollimator yang berguna
untuk memfokuskan sinar-X karakteristik menuju ke detektor.
Detektor yang digunakan dua yaitu detektor isian gas dan detektor sintilasi.
Detektor isian gas terdiri dari dua elektroda positif dan negatif. Sinar yang masuk ke
detektor akan mengalami ionisasi gas dan menghasilkan ion positif dan negatif karena
ada bagian anoda dan katoda. Sementara detektor sintilasi terdiri dari bahan sintilator
dan photomultiplier. Dua detektor tersebut dijalankan secara bergantian, jika unsur
yang akan dianalisis berada pada sebelum unsur Fe dalam sistem periodik unsur maka
digunakan detektor isian gas (flow). Sementara untuk detektor sintilasi digunakan
untuk analisis setelah unsur Fe dalam sistem periodik unsur. Setelah melewati detector
kemudian hasilnya akan ditampikan di computer berupa kandungan senyawa dalam
persen berat dan ppm.
Sebelum digunakan untuk analisis sampel batuan, dibuat terlebih dahulu
aplikasi standar pada computer. Pada pembuatan aplikasi tersebut,ada 5 standar yang
digunakan yaitu standar Andesit Guano Valley (AGV), Japan Andesit-1 (JA-1), Japan
Andesit-2 (JA-2), Japan Andesit-3 (JA-3), Rhyolite Glass Mountain( RGM-2) yang
sudah diketahui kadar unsurnya, dengan cara menggunakan perbandingan 8:1 antra
standar dengan licowax. Kemudian dikocok selama sepuluh menit kemudian
dimasukkan ke dalam cup alumunium. Setelah itu,dipadatkan dengan alat press
hidrolik. Selanjutnya dianalisis dengan x-ray fluorescence.
Optimasi alat dilakukan agar perhitungan standard dan sampel dapat diukur
secara optimal dan akurat dengan intensitas yang tinggi. Optimalisasi alat ini dapat
dilakukan secara manual atau dengan bantuan aplikasi computer. Setelah dilakukan
optimalisasi alat kemudian diukur kalibrasi standar. Lalu dilakukan plot garis linear
dan kalibrasi serta didapatkan data dari setiap unusr berikut :

32

Gambar 5.1 Kurva Kalibrasi Standar SiO2

Gambar 5.2 Kurva Kalibrasi Standar TiO2

Gambar 5.3 Kurva Kalibrasi Standar Al2O3

33

Gambar 5.4 Kurva Kalibrasi Standar MgO

Gambar 5.5 Kurva Kalibrasi Standar CaO

Gambar 5.6 Kurva Kalibrasi Standar Na2O

34

Gambar 5.7 Kurva Kalibrasi Standar K2O

Gambar 5.8 Kurva Kalibrasi Standar P2O5

Gambar 5.9 Kurva Kalibrasi Standar Fe2O3

35

Sebelum batuan di analisis, bongkahan batuan dipotong dahulu untuk


membuang lapisan batuan bagian luar. Lapisan batuan bagian luar dibuang karena
bagian luar menagalami pelapukan yang nantinya akan menganggu hasil analisis.
Bongkahan batu dipotong dengan menggunakan gergaji dan air. Air digunakan untuk
mngurangi percikan api saat gergaji memotong batu. Batu dipotong hingga berukuran
sedang kemudian dimasukan ke dalam jaw chrusher. Jaw chrusher berguna untuk
memotong batuan sehingga berukuran kecil. Kemudian batuan dicuci dengan air untuk
melarutkan debu-debu yang menempel di batuan. Setelah itu, batuan dioven selama 12
jam agar mengurangi kandungan air dalam batuan. Kemudian digerus dengan
pulvulizer hingga berbentuk serbuk. Serbuk batuan akan dijadikan pellet untuk analisis
menggunakan x-ray fluorescence. Serbuk batuan dicampur dan licowax dengan
perbandingan 8:1. Kemudian dikocok selama 10 menit, pengocokan bertujuan untuk
menghomogenkan campuran antara serbuk batuan dengan licowax. Setelah tercampur
rata, dimasukkan ke cup alumunium. Kemudian dipress dengan alat press dengan
tekanan 25 ton selama 1 menit. Setelah itu, dianalisis dengan x-ray fluorescence.
Berikut data yang didapat dari analisis x-ray fuorescence.

36

Tabel 5.1 Data Hasil Pengujian Unsur dengan X-ray Fluorescence dan Gravimetri
(% berat)

Sampel

Kawah

Kawah

Kawah

Nangklak-

Elevasi

Elevasi 2716

manuk- G.

Welirang-

Emas- G.

G.Papandayan

2706

mdpl G.

Pasir

mdpl

marapi

Laweh G.

papandayan G.Papandayan Papandayan

G.Marapi

Senyawa

Sungai

Marapi

SiO2 (%)

64,971

64,227

68,669

63,634

59,097

58,588

55,487

TiO2 (%)

0,736

0,735

0,544

0,735

0,744

0,786

0,861

Al2O3 (%)

15,605

15,545

15,372

15,531

15,619

15,665

16,084

MnO (%)

0,070

0,100

0,082

0,095

0,121

0,124

0,136

MgO (%)

2,81

2,567

1,579

3,038

2,142

2,122

2,679

CaO (%)

5,375

5,332

3,666

5,519

5,803

5,9

8,135

Na2O (%)

3,24

3,276

3,109

3,173

3,361

3,446

3,452

K2O (%)

1,828

1,913

2,816

1,846

2,488

2,432

1,342

P2O5 (%)

0,158

0,167

0,113

0,16

0,193

0,203

0,209

T-Fe2O3 (%)

5,756

5,866

5,467

5,616

6,715

6,804

8,057

HD

20,47

H2O

35,49

35,44

-18,42

35,20

34,72

35,01

35,54

37

Tabel 5.2 Data Hasil Pengujian Unsur dengan X-ray Fluorescence dan Gravimetri
(ppm)
Sampel

Kawah

Kawah

Kawah

manuk- G.

Welirang-

Emas- G.

Elevasi

papandayan G.Papandayan Papandayan

Nangklak-

2706

G.Papandayan

mdpl
G.Marapi

Senyawa

Elevasi
2716 mdpl
G. marapi

Sungai
Pasir
Laweh G.
Marapi

Ba (ppm)

321,858

306,642

436,358

306,823

409,738

416,236

276,111

Ce (ppm)

20,22

10,803

15,969

20,803

18,167

17,387

50,044

Cr (ppm)

<LLD

<LLD

<LLD

<LLD

9,876

5,773

1,495

Cu (ppm)

31,982

36,644

41,347

33,074

25,219

25,996

24,242

Dy (ppm)

2,167

2,901

2,309

2,605

3,602

3,815

4,327

Ga (ppm)

16,822

16,278

16,132

16,818

17,01

17,056

19,124

Hf (ppm)

3,698

3,489

3,81

3,706

4,457

4,491

3,981

Mo (ppm)

2,081

0,057

3,853

1,492

0,722

0,849

1,069

Nb (ppm)

7,406

5,484

7,243

6,907

5,224

5,571

5,404

Nd (ppm)

9,531

8,32

10,676

10,697

12,185

12,372

20,315

Ni (ppm)

6,564

6,317

5,869

6,049

8,183

7,413

8,875

Pb (ppm)

19,899

19,779

18,52

15,635

8,607

9,434

6,218

Pr (ppm)

0,181

<LLD

0,187

1,21

0,928

0,876

7,049

Rb (ppm)

67,599

73,987

145,165

69,291

82,663

80,015

30,832

Sc (ppm)

17,157

16,866

8,514

19,132

15,086

14,767

30,128

Sr (ppm)

230,858

223,886

172,623

233,949

343,188

360,404

451,201

Th (ppm)

6,113

5,468

9,779

5,354

5,612

5,703

4,748

U (ppm)

1,402

1,213

2,459

1,286

1,287

1,382

1,451

V (ppm)

97,38

96,837

85,538

97,021

99,676

102,277

111,129

Zn (ppm)

127,737

61,214

51,797

57,996

62,717

64,472

72,897

Zr (ppm)

147,594

143,839

151,496

146,183

179,825

178,826

124,932

38

Batu dapat digolongkan jenisnya salah satu karena besar tidaknya kandungan
silica (SiO2). Batuan yang mengandung silica lebih dari 66% termasuk batuan ryolit,
sementara jika kandungan batuan 52-66% merupakan silica termasuk batuan andesit.
Selain itu yaitu jenis batuan basalt yang mengandung silica sebesar 45-52% dalam
batuan, sedangkan apabila kandungan silica 45% dari batuan termasuk dalam batuan
peridotite. Dari ketujuh sampel diatas enam sampel termasuk batuan andesit yaitu
kawah manuk- gunung papandayan, kawah welirang-gunung papandayan, nangklakgunung papandayan, elevasi 2706 mdpl gunung marapi, elevasi 2716 mdpl gunng
marapi, dan sungai pasir laweh gunung marapi, sementara satu sampel termasuk
batuan ryolit adalah kawah emas- gunung papandayan. Sebagian besar dari sampel
batuan berwarna gelap karena tingginya kandungan mineral feromagnesia. Sedangkan
satu sampel yang termasuk batuan ryolit yang berwarna cerah dibandingkan dengan
batuan andesit.

Gambar 5. 10 Tipe Batuan Sampel Berdasar Total Alkali - Silika

39

Namun analisis dengan x-ray fluorescence saja tidak cukup, karena untuk
menyimpulkan jenis batuan saja tidak cukup hanya melihat kandungan silica.
Selanjutnya dilakukan plotting data. Sebenarnya banyak cara untuk plotting data
seperti IUGS, total alkali silica, diagram QAPF, dan sebagainya. Pada laporan ini
digunakan plotting data berdasarkan total alkali silica. Gambar diatas merupakan hasil
dari kandungan sampel yang dipindahkan ke dalam diagram. Hasil antara penentuan
awal yang berdasarkan diagram total alkali silika sangat berbeda. Maka dari itu, hasil
yang digunakan adalah yang berdasarkan total alkali silica karena tidak hanya melihat
pada kandungan dari silica saja namun pada Na2O dan K2O sehingga hasilnya lebih
akurat daripada penentuan berdasaarkan kandungan dari silika saja.
Dilihat dari diagram berdasarkan total alkali silica, empat sampel termasuk batuan
jenis dasit yaitu serta 2 yang lain termasuk ke dalam batuan andesit dan 1 sampel
sisanya termasuk batuan basaltic andesit. Dasit merupakan batuan beku yang termasuk
dalam jenis vulkanik, karena dasit dalam proses pembentukannya mengalami
pendinginan magma yang cepat. Proses terbentuknya dasit pada suhu sekitar 900C
1200C. (Bishop & Hamilton, 1999). Kandungan silika yang terdapat pada
dasit berkisar diantara 52% 66%. Dalam proses pembentukannya dasit adalah batuan
ekstrusif felsik yang menengah dalam komposisi antara andesit dan riolit. (Dietrich,
1924). Dalam pembentukannya sering ditemukan bergabung dengan andesit, dan
membentuk aliran lava, serta tanggul. (Suharwanto, 2014).
Dasit ini termasuk dalam jenis batuan vulkanik karena permukaan batu tersebut
halus.Warna pada dasit ini adalah jenis felsik yaitu putih keabu-abuan.Struktur pada
dasit ini adalah masif karena tidak terdapat aliran atau jejak gas. Derajat kristalin pada
dasit ini adalah holokristalin karena dasit seluruhnya tersusun oleh massa
kristal (Sukandarrumidi, 2009). Granularitas pada dasit ini yaitu fanerik karena dapat
terlihat dengan mata. Bentuk butir pada dasit ini adalah subhedral karena bentuk kristal
dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna (Gautama,
2012).

40

Andesit merupakan abau-abu untuk batu vulkanik yang hitam dengan


memiliki kandungan silica sekitar 52-63%. Andesit berisi kristal yang terdiri dari
plagioclasefeldspar dan datu atau lebih dari mineral piroksen. Magma andesit sering
meletus dari gunung api tipe strato sebagai aliran lava tebal, mencapai panjang
beberapa kilometer. Magma andesit juga dapat menghasilkan letusan yang kuat untuk
membentuk piroklastik dan lonjakan dan kolom letusan besar. Andesit merupakan
karakteristik dari subduksi tektonik lingkungan di margin samudra yang aktif (Terry
,2005 ).
Selanjutnya adalah analisis senyawa habis dibakar. Analisis gravimetric
digunakan untuk elemen volatile : H2O, CO2, SO2, F, Cl, dll. Volatile merupakan suatu
elemen atau komponen yang berupa gas pada tekanan dan temperature magmatik.
Volatile dapat larut dalam cairan silica, dapat berupa gelembung gas yang terlepas dan
dapat crystallize. Analisis ini dilakukan dengan menimbang serbuk batuan sebanyak
satu gram dan dimasukkan ke dalam krus (cawan porselin). Kemudian cawan
dimasukkan didalam oven dengan suhu 110,4oC untuk menghilangkankandungan
H2O selama 2 jam. Senyawa H2O akan hilang pada suhu 100oC karena memiliki titik
didih 100oC. Krus ( cawan porselin) dikeluarkan dari oven kemudian dimasukkan ke
dalam desikator ditunggu hingga dingin. Setelah dingin, ditimbang kembali dan catat.
Kemudian dimasukkan ke dalam furnace pada suhu 1000oC unutk menghitung
senyawa organic yang habis dibakar. Krus (cawan porselin) dikeluarkan dari furnace
dan didinginkan dalam desikator. Setelah dingin, ditimbang dan dicatat beratnya.

41

Tabel 5.3 Hasil Anlisis Senyawa Habis Dibakar

Kode Sampel

Kawah

Kawah

Kawah

manuk- G.

Welirang-

Emas- G.

papandayan G.Papandayan Papandayan

Berat Krus Kosong

Elevasi
Nangklak-

2706

G.Papandayan

mdpl
G.Marapi

Sungai
Elevasi

Pasir

2716 mdpl

Laweh

G. marapi

G.
Marapi

16,7897

15,9656

13,5206

16,7586

17,4631

17,5296

17,5649

17,7838

16,9622

14,5267

17,7576

18,4663

18,5242

18,5688

17,431

16,609

14,712

17,406

18,118

18,176

18,212

17,7642

16,9412

14,5061

17,7419

18,4683

185.263

18,5677

Kadar H2O (%)

35,49

35,44

-18,42

35,20

34,72

35,01

35,54

Kadar HD (%)

0,00

0,00

20,47

0,00

0,00

0,00

0,00

HD Asli

-33,52

-33,33

20,47

-33,62

-34,92

-18,6

-35,43

(gr)
Berat Krus +
Sampel (gr)
Berat Pemanasan
1000C (gr)
Berat Pemanasan
10000C (gr)

Dari data diatas, dari ketujuh sampel yang dianalisis dengan metode gravimetri
terdapat enam sampel yang beratnya mengalami penurunan sedangkan satu sampel
mengalami kenaikan berat. Naik atau tidaknya berat suatu sampel merupakan
gabungan dari LOI (Loss On Igniton) dan GOI (Gain On Ignition) (Mitsuru,2013).
Loss on ignition merupakan berkurangnya berat setelah mengalami furnace. Gain on
ignition merupakan kenaikan dari berat setelah mengalami furnace. Jika antara
penambahan dan pengurangan lebih besar yang pengurangan maka berat dari sampel
akan berkurang. Namun, jika penambahan berat lebih besar daripada pengurangan
berat maka berat sampel akan naik. Enam sampel mengalami penurunan berat sampel
dikarenakan kadar yang dimiliki Fe diatas dari 5,5% sementara dari senyawa yang lain
lebih banyak yang menyebabkan penurunan berat, maka keenam sampel tersebut

42

mengalami penurunan berat sampel. Keenam sampel tersebut adalah kawah manukgunung papandayan, kawah welirang- gunung papandayan, nangklak- gunung
papandayan, elevasi 2706 mdpl gunung marapi, elevasi 2716 mdpl gunung marapi,
sungai pasir laweh gunung marapi. Sementara satu sampel mengalami penambahan
berat yaitu kawah emas- gunung papandayan. Kandungan dalam batuan seperti Fe dan
Mn mengalami kenaikan setelah dipanaskan dalam suhu 1000oC yang akan mengalami
reaksi oksidasi yang berawal dari FeO berubah menjadi Fe2O3 menyebabkan kenaikan
dari berat sampel kawah emas- gunung papandayan. Factor yang lain yaitu
penjumlahan antara loss on ignition dan gain on ignition. Pada sampel kawah emasgunung papandayan berkurangnya senyawa organic karena pemanasan hanya sedikit
sementara oksidasi dari besi, mangan, dan silica lebih besar. Reaksi oksidasi Feo
menjadi Fe2O3 sebesar 1,429 kali dari persen awal,sedangkan MnO menjadi Mn3O4
sebesar 1,388 kali dari persen awal. Untuk keenam sampel lain yaitu kawah manukgunung papandayan, kawah welirang- gunung papandayan, nangklak- gunung
papandayan, elevasi 2706 mdpl gunung marapi, elevasi 2716 mdpl gunung marapi,
sungai pasir laweh gunung marapi yang lebih besar terjadi yaitu hilangnya senyawa
organik daripada oksidasi dari besi dan mangan.

43

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan :
1. Preparasi sampel batuan dimulai dengan cara memoting bongkahan
batuan dan membuang bagian luar dari batuan kemudian dipotong
menjadi batu kecil-kecil dengan mesin jaw chrusher dan dicuci dengan
air. Setelah itu, dioven selama 12 jam dan kemudian di gerus dengan
pulvulizer hingga terbentuk serbuk. serbuk batuan dicampur dengan
licowax dengan perbandingan 8:1 kemudian dikocok selama 10 menit.
Setelah itu dimasukkan ke dalam cup alumunium dan dipress dengan
mesin press.
2. Kawah manuk gunung papandayan memiliki kandungan SiO2 64,971% ;
TiO2 0,736%; Al2O3 15,605; MnO 0,0704%; MgO 2,81%; CaO 5,375%;
Na2O 3,24%; K2O 1,828%; P2O5 0,158%; Fe2O3 5,756%. Kawah
welirang gunung papandayan memiliki kandungan SiO2 64,227% ; TiO2
0,735%; Al2O3 15,545; MnO 0,1006%; MgO 2,567%; CaO 5,332%;
Na2O 3,276%; K2O 1,913%; P2O5 0,167%; Fe2O3 5,866%. Kawah emas
gunung papandayan memiliki kandungan SiO2 68,669% ; TiO2 0,544%;
Al2O3 15,372; MnO 0,0819%; MgO 1,579%; CaO 3,666%; Na2O
33,109%; K2O 2,816%; P2O5 0,113%; Fe2O3 5,467%. Nangklak gunung
papandayan memiliki kandungan SiO2 63,634% ; TiO2 0,735%; Al2O3
15,531; MnO 0,0950%; MgO 3,038%; CaO 5,519%; Na2O 3,173%; K2O
1,846%; P2O5 0,16%; Fe2O3 5,616%. Gunung marapi elevasi 2706 mdpl
memiliki kandungan SiO2 59,097% ; TiO2 0,744%; Al2O3 15,619%;
MnO 0,1217%; MgO 2,142%; CaO 5,803%; Na2O 3,361%; K2O
2,488%; P2O5 0,193%; Fe2O3 6,715%. Gunung marapi elevasi 2716 mdpl

44

memiliki kandungan SiO2 58,588% ; TiO2 0,786%; Al2O3 15,665; MnO


0,1244%; MgO 2,122%; CaO 5,9%; Na2O 3,446%; K2O 2,432%; P2O5
0,203%; Fe2O3 6,804%. Sungai pasir laweh gunung marapi memiliki
kandungan SiO2 55,487% ; TiO2 0,861%; Al2O3 16,084; MnO 0,1363%;
MgO 2,679%; CaO 8,135%; Na2O 3,452%; K2O 1,342%; P2O5 0,209%;
Fe2O3 8,057%.
3. Sampel yang termasuk batuan dasit yaitu kawah emas- gunung
papandayan, kawah manuk- gunung papandayan, kawah weliranggunung papandayan, nangklak-gunung papandayan. Sedangkan yang
termasuk batuan andesit adalah gunung marapi dengan elevasi 2706
mdpl dan 2716 mdpl, sementara yang termasuk batuan basaltic andesit
yaitu sungai pasir laweh- gunung marapi.
B. Saran
Dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan selanjutnya diharapkan agar:
1. Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk dapat mempelajari efek dari
penambahan berat setelah dilakukan furnace.
2. Hasil analisis sampel dari gunung marapi dan gunung papandayan
diharaokan menjadi informasi bagi pembaca.
3. Diharapkan kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kebencanaan
Geologi (BPPTKG) Yogyakarta agar lebih mengembangkan mutu untuk
pengujian yang lebih canggih.
4. Diharapkan kepada mahasiswa dapat memahami dalam penggunaan Xray Fluorescence (XRF) dan metode gravimetri untuk analisis SiO2, TiO2,
Al2O3, MnO, MgO, CaO, Na2O, K2O, P2O5, Fe2O3, H2O dan HD (Habis
Dibakar).

45

Daftar Pustaka
Amptel Inc ,X-ray fluorescence (Online) 2009 http://www.amptek.com/pdf/xrf.pdf, (diakses
tanggal 03 Februari 2016 pukul 13.30)

Bishop,A.R, Hamilton,W.R, 19999, Mineral Rocks & Fossils , George Philip Limited
:London
Gautama,R. S, 2012. Pengelolaan Air Asam Tambang.Bandung:Institut Teknologi
Bandung.
Gosseau,D.,2009, Introduction to XRF Spectroscopy (Online), http;//users.skynet.be/,
diakses tanggal 3 Februari 2016 Pukul 10.00 WIB
Hattori, H., 1971, Preparation of Glass Disc Sample of Rock for Light Element
Analysis by X-ray Spectrometry. Bulletin of the Geological Survey of Japan,
22:103-106.
Khopkar, S.M, 2008, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta: Universitas Indonesia.
Mitsuru,W., Hisashi Inoue, Yasujiro Yamada,Michael Feeney, Laura Oelofse and
Yoshiyuki Kataoka,2013, Xrf Analysis Of High Gain-On-Ignition Samples By
Fusion Method Using Fundamental Parameter Method,Texas: JCPDS
Panalytical, X-ray Fluorescence, ,(Online) 2012 http://www.panalytical.com/Xrayfluorescence-software/SuperQ.htm (diakses tanggal 03 februari 2016 pukul
14.00)
Pusdiklat,2012,Petugas Protekesi Radiasi. Jakarta: BATAN.
Simkin, T., Siebert,L., 1994, Volcanoes of The World, A Regional Directory,
Gazetteer, and Cronology of Vulcnoes During the Last 10,000 Years.
Suharwanto., 2014, Penuntun Praktikum Mineralogi Petrologi, Yogyakarta : PSTL
UPN Veteran.

46

Sukandarrumidi, 2009 , Bahan Galian Industri, Cetakan Kedua,Gadjah Mada


University Press, Yogyakarta, p 272.
Taftazani,A,2013, Kimia Instrumen Analisis 2,Yogyakarta: BATAN.
Terry, M., 2005. Intisari Ilmu Batuan, Mineral dan Fosil. Jakarta: Erlangga.
Wittiri,S.R, 2007, Gunung api Indonesia,Pusat Volkanologi dan Mitigasi
Bencana,Bandung

47

Lampiran

Gambar Alat Gergaji

Gambar Jaw Chrusher

48

Gambar Pulvulizer

Gambar Neraca Analitis

49

Gamabar Alat Pengocok

Gambar Cup Almunium

50

Gambar Alat Press Hidrolik

Gamabar X-ray Fluorescence

51