Anda di halaman 1dari 39

Cari

AGUNGKHOZIN
soal sbmptn

Tag Archives: laporan praktikum


pakan dan nutrisi ruminansia

laporan
praktikum
invitro
27 OKTOBER 2014AGUNGKHOZININVITRO, LAPORAN PRAKTIKUM PAKAN DAN NUTRISI
RUMINANSIATINGGALKAN KOMENTAR

LAPORAN PRAKTIKUM
NUTRISI DAN PAKAN RUMINANSIA

PERCOBAAN IN VITRO

Oleh:
Kelompok : 5 (Lima)
Asisten
: Fadlil Ichwani
1.
Guntur Sudarna
D1F011018
2. Dwi Cahyo E.
D1E010008
3.
Sundari Nisa U.
D1E010051
4. Kurniadi
D1E010108
5. Asdini Febrianty
D1E010209

LABORATORIUM ILMU NUTRISI DAN


MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012

DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN.. 1
1.1.
Latar Belakang. 1
1.2.
Tujuan. 2
1.3.
Waktu dan Tempat 2
1. TINJAUAN PUSTAKA.. 3
2.1.
Pengukuran KBK dan KBO.. 3
2.2.
Pengukuran Konsentrasi VFA.. 3
2.3.
Pengukuran Nitrogen Amonia (N-NH3) 4
2.4.
Gast Test 5
III.
MATERI DAN CARA KERJA.. 6
3.1.
Pengukuran KBK dan KBO.. 6
3.2.
Pengukuran Konsentrasi VFA.. 7

3.3.
Pengukuran Nitrogen Amonia (N-NH3) 8
3.4.
Pengukuran Gas Test 9
1. HASIL DAN PEMBAHASAN.. 11
4.1.
Hasil 11
4.2.
Pembahasan. 11
4.2.1.
Pengukuran KBK dan KBO.. 11
4.2.2.
Pengukuran Konsentrasi VFA.. 12
4.2.3.
Pengukuran Nitrogen Amonia (NH3) 13
4.2.4.
Pengukuran Gas Test 14
1. KESIMPULAN DAN SARAN.. 16
5.1.
Kesimpulan. 16
5.2.
Saran. 16
DAFTAR PUSTAKA.. 17
LAMPIRAN
..19

1.

1.1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ternak ruminansia bagi kehidupan manusia


sangatlah penting. Di samping perannya dalam
menyediakan bahan makanan yang bernilai gizi
tinggi berupa susu dan daging, ternak ruminansia
juga menyediakan energy dalam bentuk yang
dapat diperbaharui, serta pupuk kandang yang
sangat penting untuk kegiatan pertanian. Suatu
sifat yang menonjol dari ternak ruminansia adalah
untuk mempertahankan hidupnya. Ternak
ruminansia bergantung pada bahan-bahan pakan
yang berkadar serat tninggi. Ternak ruminansia
mengubah bahan-bahan tersebut menjadi zat-zat
yang bernilai biologis tinggi. Kemampuan yang
unik ternak ruminansia tersebut menggambarkan
adanya proses fisiologis pencernaan yang spesifik
serta menyajikan metabolit sebagai produk-produk
akhir, disebabkan oleh adanya mikroba di dalam
rumen.
Saluran pencernaan ruminansia berbeda dengan
saluran pecernaan non ruminansia. Perbedaan ini
terlihat pada proses pencernaan di dalam
lambung, karena lambung ruminansia terdiri dari 4
bagian dan yang bekerja adalah enzim yang
dihasilkan oleh mikroorganisme (bakteri, protozoa,
dan fungi). Proses pencernaan yang terjadi di
dalam tubuh makhluk hidup di sebut dengan in

vivo. Ada beberapa metode percobaan yang


digunakan untuk mengetahui proses pencernaan
ruminansia. Biasanya metode yang digunakan ini
mendekati kesamaan pada pengukuran in vivo.
Nutrien yang terkandung dalam pakan merupakan
prekursor produksi susu dan daging pada ternak
ruminansia karena dapat mempengaruhi pola
fermentasi rumen. Keseimbangan dan
ketersediaan nutrien dalam ransum penting
diperhatikan selain harga yang murah agar dapat
terjangkau oleh peternak. Pakan yang diberikan
peternak seringkali mengalami defisiensi nutrien
sehingga mempengaruhi kebutuhan ternak untuk
hidup pokok maupun produksi karena peternak
kekurangan biaya. Selain itu, minimnya
pengetahuan peternak dapat membuat kerugian
yang besar karena produksi ternak untuk kualitas
susu dan daging yang tidak memenuhi standar
maupun jumlah mikroba yang melebihi batas
normal. Alternatif yang dapat dilakukan untuk
mengatasi defisiensi nutrien pada sapi perah yaitu
dengan pemberian ransum komplit berkualitas.
Percobaan fermentasi secara in vitro dapat
digunakan untuk mengevaluasi
hilangnya/kecernaan karbohidrat (serat kasar,
selulosa, energi) dan protein. Apabila untuk

mengukur protein yang larut dalam pepsin dapat


dilakukan 2 tahap dari bahan pakan atau ransum
ruminansia, selain itu dapat juga untuk mengukur
konsentrasi VFA, N-NH3 dan gas yang terbentuk.
Hal yang perlu dipahami dan sering menimbulkan
kerancuan adalah metode pengukuran kecernaan
protein secara in vitro tidak sama dengan
mengukur kelarutan protein dalam pepsin
secara in vitro.
Ransum komplit merupakan jumlah total bahan
makanan yang diberikan kepada hewan untuk
periode 24 jam dan mengandung campuran
hijauan, konsentrat maupun suplemen yang
memenuhi kebutuhan nutrisi ternak serta dapat
meningkatkan efisiensi pemberian pakan. Salah
satu sumber pakan hasil limbah yang potensial
untuk digunakan sebagai pakan ternak yaitu
jerami padi. Pada percobaan in vitro ini
menggunakan jerami padi segar maupun
amoniasi.

1.2.
1.

Tujuan

Mengevaluasi kualitas bahan pakan ternak


ruminansia berdasarkan nilai hilangnya atau
Kecernaan Bahan Kering dan Kecernaan Bahan

Organik serta konsentrasi VFA dan NNH3secara in vitro.


2. Mengukur produksi total gas hasil fermentasi
oleh mikroba rumen dari bahan pakan atau
ransum yang diuji.

1.3.

Waktu dan Tempat

Praktikum Invitro yang terdiri dari mengukur


Kecernaan Bahan Kering (KBK) danKecernaan
Bahan Organik (KBO), mengukur kosentrasi VFA,
mengukur kosentrasi N-NH3, dan pengukuran
gasIn vitro yang dilaksanakan pada Senin Jumat,
15 19 Oktober 2012 bertempat di Laboratorium
Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak (INMT) Fakultas
Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto.
1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pengukuran KBK dan KBO

Kecernaan dapat dijadikan salah satu indikator


dalam menentukan kualitas ransum. Persentase
kecernaan bahan kering maupun bahan organik
yang dihasilkan menunjukkan seberapa besar
nutrien dalam pakan dapat dimanfaatkan oleh
mikroba dalam rumen (Sutardi,1977). Pengukuran
kecernaan bahan organik dilakukan karena peran

bahan organik dalam memenuhi kebutuhan ternak


untuk hidup pokok maupun produksi. Kecernaan
ransum berkaitan dengan komposisi nutrisi dari
ransum, terutama kandungan serat kasar.
Peningkatan kandungan serat kasar dapat
menurunkan jumlah bahan organik yang dapat
dicerna karena penurunan aktivitas mikroba
rumen(Rahmawati, 2001).
Berhubungan dengan aktivitas mikroba rumen,
penambahan sumber karbohidrat mudah dicerna
yang diimbangi dengan penambahan sumber
protein mudah dikecernaan dapat meningkatkan
kecernaan bahan kering maupun bahan oorganik
ransum. Hal ini dapat dipengaruhi efektifitas
sintesa mikroba rumen yang berdampak terhadap
peningkatan aktivitas mikroba. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Nurhayati (2008), dengan
adanya penambahan SPM dalam ransum komplit
cenderung dapat meningkatkan kecernaan bahan
kering maupun bahan organik bahan karena
peningkatan kandungan pati maupun protein
dalam ransum komplit.

2.2.

Pengukuran Konsentrasi VFA

Proses pencernaan karbohidrat di dalam rumen


ternak ruminansia akan menghasilkan energi
untuk ternak sebagai induk semang maupun
mikroba rumen yang dalam bentuk asam-asam
lemak atsiriVolatile Fatty Acid (VFA). VFA berasal
dari proses hidrolisis lemak oleh bakteri lipolitik
menjadi asam lemak dan gliserol, kemudian
gliserol mengalami proses fermentasi
menghasilkan asetat, propionat, butirat dan
suksinat (Hungate, 1966).
Perbandingan VFA dalam rumen sapi yaitu 65%
asam asetat, 24% asam propionat, 21% butirat
(Arora, 1989). VFA termasuk sumber energi yang
diserap dari rumen (McDonald et al., 2002). Asam
lemak yang mudah terbang diserap dinding rumen
melalui tonjolan-tonjolan seperti jari yang
disebut vili. Selain itu, menurut McDonaldet
al. (2002), sekitar 75% dari total VFA yang
diproduksi akan diserap langsung di retikulorumen masuk ke darah, sekitar 20,5% diserap di
abomasum dan omasum, dan sisanya sekitar 5%
diserap di usus halus. Sedangkan menurut
Parakkasi (1999), sebagian besar VFA diserap
langsung melalui dinding rumen, sedikit asetat,
propionat dan sebagian besar butirat
termetabolisme dalam dinding rumen. VFA yang
berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroba,

digunakan untuk mensintesis protein mikroba


karena VFA merupakan sumber kerangka karbon
pembentukan protein mikroba (Sutardi, 1977) dan
pertumbuhan sel tubuh mikroba tersebut (Sakinah,
2005).
VFA dalam rumen yang dapat mendukung
pertumbuhan mikroba berkisar antara 70-150 mM
(McDonald et al., 2002). Peningkatan produksi VFA
dapatmengindikasikan kemudahan suatu nutrien
dalam pakan terutama karbohidrat dan protein
dikecernaan oleh mikroba rumen, sehingga
produksi VFA di dalam rumen dapat digunakan
sebagai tolak ukur fermentabilitas pakan yang
berkaitan erat dengan aktivitas dan populasi
mikroba rumen. Perubahan komposisi VFA di dalam
rumen sangat berhubungan dengan bentuk fisik
pakan, komposisi pakan, taraf dan frekuensi
pemberian pakan, serta pengolahan(Hartati,
1998).

2.3.

Pengukuran Nitrogen Amonia (N-NH3)

Amonia berasal dari perombakan protein pakan


oleh mikroba rumen. Mikroba rumen menghasilkan
enzim enzim protease yang memecah protein
pakan menjadi oligopeptida. Oligopeptida yang
terbentuk digunakan untuk menyusun protein

mikroba dan sisanya akan melalui proses


selanjutnya menjadi asam amino dan akan
mengalami deaminasi menjadi asam keto alfa dan
ammonia. Proses ini terjadi terus menerus, tanpa
menghiraukan adanya akumulasi amonia dalam
rumen (Sutardi, 1977). Menurut Sakinah (2005),
amonia tersebut digunakan oleh mikroba sebagai
sumber nitrogen utama untuk sintesis protein
mikroba, karena prekursor pembentukan protein
mikroba yang selanjutnya dibentuk menjadi
protein tubuh adalah NH3 (Astuti et al., 1993).
Arora (1989) menyatakan bahwa produksi amonia
dalam rumen sangat tergantung sifat protein
pakan dalam hal ini sifat kemudahan protein
tersebut untuk dikecernaan oleh mikroba rumen.
Proporsi protein pakan yang masuk ke dalam
tubuh perlu diatur untuk menghindari adanya
produksi amonia berlebih. Amonia yangmelebihi 5
mg% akan diserap dan disekresikan dalam urine.
Menurut McDonald et al (2002), proporsi protein
pakan yang mendukung pertumbuhan mikroba
rumen maupun ternak terdiri atas protein yang
mudah tercerna sebesar 70 80% dan 30 40%
berupa protein yang lebih sulit tercerna. Protein
yang mudah larut dapat berasal dari pakan hijauan
yang kaya akan protein, pakan bentuk bungkil dan
bijian.

2.4.

Pengukuran Gast Test

Metode in vitro yang lain adalah metode gas


test yang lazim digunakan di Eropa untuk
mengukur produksi gas dan laju fermentasi pakan
dalam rumen ternak. Perbedaan antara metode in
vitro dengan metode gas test yaitu pada tahapan
perlakuan. Metodegas test mengukur produksi gas
dan laju fermentasi pakan dalam rumen dalam
satu tahapan pengerjaan. Sedangkan, metode in
vitromengukur fermentabilitas dan kecernaan
pakan dalam dua tahap sehingga metode in
vitro disebut metode two stage in vitro.
Menurut Firsoni (2005), produksi gas
menggambarkan jumlah bahan organik yang dapat
dicerna oleh mikroorganisme rumen. Semakin
tinggi produksi gas yang dihasilkan menunjukkan
semakin banyaknya jumlah bahan organik yang
dapat difermentasi menjadi bentuk lain seperti
VFA. Teknik pengukuran produksi
gasHohenheim mengukur laju produksi CO2 dan
CH4 yang dihasilkan selama inkubasi bahan pakan
dalam cairan rumen. Bahan pakan menunjukkan
laju dan jumlah produksi gas yang berbeda selama
waktu inkubasi sesuai dengan kecernaan masingmasing bahan. Teknik produksi gas in vitro

Hohenheim digunakan untuk memprediksi


kecernaan pakan (Menke et al., 1979).

3.1.

MATERI DAN CARA KERJA

Pengukuran KBK dan KBO


Materi

3.1.1.1 Alat :
1. Tabung erlenmeyer
2. shaker waterbatch (penangas air bergoyang)
3. kertas saring Whatman No.41
4. pompa vakum
5. oven (1050C)
6. tanur listrik (6000C)
7. timbangan analitik
3.1.1.2 Bahan:
1. Jerami padi segar
2. cairan rumen (sumber inokulum)
3. gas CO2
4. larutan McDougalls pH 6.8
5. larutan HgCL jenuh atau H2SO4 pekat
6. larutan pepsin-HCL 0.3%

Cara Kerja
Tahap I (percobaan fermentatif)

1.

Menimbang sampel (media) yang telah digiling


halus seberat 2 g BK dan menempatkannya
dalam tabung e
2. Kemudian menambah larutan Mc Dougalls 24
ml dan menginkubasinya dalam shaker water
batch pada suhu 390C selama 10 menit.
Menambahkan cairan rumen sebanyak 16 ml
setelah suhunya 390C, kemudian menutup
tabung dan menginkubasinya selama 24 jam
sehingga terjadi pencernaan fermentatif. Setiap
4 jam tabung erlenmeyer dialiri gas CO2.
3. Setelah inkubasi selama 24 jam, mengambil
tabung erlenmeyer dari shaker waterbatch dan
membuka tutup tabung, kemudian menambah
HgCl2 sebanyak 2 tetes untuk menbunuh
mikroba.
4. Melakukan guna memisahkan residu endapan
dengan supernatan. Supernatan yang diperoleh
ditampung untuk pengukuran VFA total dan NNH3
Tahap II (percobaan hidrolitis)
1. Menambahkan 40 ml larutan pepsin-HCL 0,3%
pada setiap residu endapan dari setiap tabung,
kemudian menginkubasinya lagi selama 24 jam
sehingga terjadi pencernaan hidrolitis dalam
suasana aerob (tidak ditutup), shaker

waterbatch tetap pada suhu 390C dan tidak


digoyang.
2. Setelah pencernaan 24 jam pencernaan
hidrolitis, isi tabung disaring dengan
menggunakan kertas saring wathman 41, untuk
membantu penyaringan digunakan pompa
vakum.
3. Mengeringkan residu dalam oven (1050C)
kurang lebih 8 jam, untuk menetapkan berat
kering residu.
4. Memasukkan bahan kering tersebut dalam
cawan untuk ditanur 6000C kurang lebih 6 jam,
untuk menetapkan bahan organik.

3.2.

Pengukuran Konsentrasi VFA


Materi

3.2.1.1 Alat:
1. pipet
2. 1 set alat destilasi uap
3. Tabung erlenmeyer
4. buret makro(25-50 ml)
3.2.1.2 Bahan:
1. Supernatan hasil penyaringan KBK KBO
2. H2SO4 15% (15 ml H2SO4 pekat dilarutkan
dalam aquades hingga volumenya 100 ml)

3.

NaOH 0.5 N (20 g NaOH dilarutkan dalam


aquades hingga volume 1 liter).
4. HCl 0.5 N (41.667 ml HCl pekat dilarutkan
dalam aquades hingga volumenya 1 liter)
1.
Cara Kerja
5. Setelah alat destilasi uap pada labu godok
mendidih, tempat sampel dicuci dengan
aquades.
6. Cairan rumen di pipet sebanyak 5 ml,
kemudian dimasukkan ketempat sampel dari
alat deestilasi uap dan ditambah 1 ml H2SO4 15%
7. Destilat ditampung dalam labu Erlenmeyer
250 ml yang telah berisi 5 ml NaOH 0,5 N hingga
volume destilat mencapai 100 ml
8. Kedalam destilat ditambah indikator
phenolphthalein sebanyak 2 tetes.
9. Destilat dititrasi dengan HCl 0.5 N sampai
terjadi perubahan warna
10. Sebagai blangko dititrasi dengan 5 ml NaOH
0.5 N dengan HCl 0.5 N.

3.3.

Pengukuran Nitrogen Amonia (N-NH3)


Materi

3.3.1.1 Alat:
1.

Cawan Conwey

2. Pipet
3.3.1.2 Bahan:
1. Supernatan hasil penyaringan KBK KBO
2. Asam borat
3. Na2CO3 jenuh (larutkan Na2CO3 dalam aquades
50 ml hingga tidak larut).
4. H2SO401 N (0.27 ml H2SO4 pekat dilarutkan
ditambah aquades hingga 1 liter)
5. vaselin
1. Cara Kerja
1.
Cawan Conwey dan tutupnya diolesi
dengan vaselin agar dapat menutup dengan
rapat
2.
1 ml asam borat berindikator di pipet
kemudian dimasukkan kedalam cawan kecil
yang ada ditengah cawan Conwey
3.
1 ml larutan supernatan dipipet kemudian
diteteskan pada sekat sebelah kanan cawan
4.
Cawan sedikit dimiringkan, kemudian 1 ml
Na2CO3 jenuh dimasukkan pada bagian kiri
sekat (diusahakan jangan sampai tercampur
sebelum cawan ditutup)
5.
Cawan Conwey ditutup
6.
Cawan digerakkan dari kiri kekanan
dengan pelan-pelan, sehingga cairan rumen
bercampur dengan Na2CO3 jenuh, dibiarkan
selama 24 jam pada suhu ruang

7.

3.4.

Setelah 24 jam, N-NH3 cairan rumen yang


diikat oleh ion hydrogen dari asam borat
dititrasi dengan H2SO4 0,01 N sampai terjadi
perubahan warna dari warna biru menjadi
merah jambu.

Pengukuran Gas Test


Materi

3.4.1.1 Alat :
1. Tabung menkey
2. Tabung erlenmeyer
3. Pipet
4. Oven
3.4.1.2 Bahan :
1.
2.
3.

Air
Vaseline
Jerami padi segar

2.

Cara Kerja

3.

Piston diolesi dengan vaselin sebelum


dimasukkan ke dalam tabung supaya tetap
dalam keadaan anaerob.
4. Sampel digiling dan ditimbang 0.2 gram.
5. Sampel dimasukkan ke dasar tabung menke
dengan sendok khusus untuk menghindari
tercecernya sampel pada dinding tabung.
6. Larutan medium disediakan dan dialiri CO
7. Cairan rumen diambil dan disaring
menggunakan kain kemudian dimasukkan ke
dalam termos panas.
8. Satu bagian cairan rumen dicampur dengan
dua bagian larutan medium dan diinjeksi ke
dalam tabung menkey.
9. Posisi piston dibaca skalanya 4 jam sekali dan
tabung menkey ditempatkan pada oven untuk
diinkubasi selama 24 jam.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil

Terlampir.

4.2.

Pembahasan
2.1. Pengukuran KBK dan KBO

Kecernaan bahan kering dan bahan organik


mempunyai hubungan yang sangat erat, karena
sebagian besar bahan kering terdiri atas bahan
organik, perbedaan keduanya hanya terletak pada
kadar abunya. Pakan yang mempunyai kandungan
nutrien sama akan memungkinkan kecernaan
bahan organik, mengikuti kecernaan bahan
keringnya. Laju kecernaan bahan organik
berhubungan erat dengan laju kecernaan bahan
kering, karena sebagian besar bahan kering terdiri
atas bahan organik. Perbedaan diantara keduanya
adalah pada kandungan abu masing-masing bahan
(Sutardi, 1977).
Kecernaan menurut Maynard et al., (1979), yaitu
jumlah nutrien yang terlarut atau yang hilang
dapat menunjukkan jumlah yang tercerna.
Kecernaan dipengaruhi oleh suhu lingkungan,
variasi antar individu, jumlah pakan yang diberikan
serta kemampuan mikroorganisme rumen dalam
memanfaatkan pakan. Kecernaan bahan kering

mempunyai hubungan yang erat dengan nilai


energi pakan, tetapi akan lebih tepat dengan
menghitung kadar abu pakan. kadar bahan organik
diperoleh dari selisih antara total bahan kering
dengan kadar abu.
Hasil praktikum diketahui bahwa kecernaan bahan
kering yang tertinggi sebesar 45,21% dan
kecernaan bahan organik yang mempunyai nilai
tertinggi yaitu 49,08%, keduanya berasal dari
jerami padi segar. Hal tersebut menunjukkan
bahwa jerami padi segar mempunyai laju
kecernaan bahan pakan yang lebih tinggi dari
jerami padi amoniasi. Namun seharusnya laju
kecernaan jerami padi amoniasi lebih tinggi
dibandingkan dengan jerami padi segar. Prinsip
amoniasi adalah memanfaatkan amonium
anhidrous baik dalam bentuk cair maupun gas
yang digunakan untuk merenggangkan ikatan
lignoselulosa maupun lignohemiselulosa sehingga
mikroba rumen dapat mencerna jermi padi secara
optimal. Lignin berpengaruh menghambat
aktivitas mikroba dalam mencerna jerami
(Kurniawati, 2007). Tidak sesuainya hasil
praktikum dengan literatur mungkin disebabkan
oleh praktikan yang kurang teliti dalam melakukan
percobaan. Selain itu dimungkinkan sampel yang
digunakan telah rusak.

Kecernaan bahan kering (KBK) dan kecernaan


bahan organik (KBO) menggambarkan nilai
efisiensi kandungan zat makanan dalam ransum
untuk dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen.
Besar nilai kecernaan bahan kering maupun bahan
organik berkorelasi positif dengan kecernaan
ransum dalam tubuh ternak. Hal ini juga
diungkapkan oleh Kurniawati (2007), bahwa pakan
dengan nilai kecernaan rendah memiliki kecernaan
pakan yang rendah sehingga tidak mampu
mengimbangi aktifitas fermentasi dalam rumen.
Hal tersebut berpengaruh terhadap rendahnya
pertumbuhan mikroba dalam rumen. Dengan
demikian dapat diasumsikan bahwa semakin tinggi
nilai kecernaan bahan kering danbahan organik
suatu ransum akan semakin tinggi pula jumlah
ransum yang tertinggal dalam tubuh ternak untuk
dimanfaatkan bagi pertumbuhan dan
perkembangan mikroba.

4.2.2.

Pengukuran Konsentrasi VFA

VFA merupakan produk fermentasi yang berasal


dari bahan yang mengandung karbohidrat maupun
protein (Sutardi, 1977). VFA akan digunakan
sebagai sumber energi bagi ternak ruminansia.

VFA yang terdiri atas asam asetat, propionat dan


butirat yang berperan dalam menyumbang energi
berupa ATP pada jalur perubahan komponen pakan
menjadi VFA serta perubahan propionat menjadi
glukosa pada proses glukoneogenesis. Selain itu,
VFA dapat menyumbangkan kerangka karbon bagi
pertumbuhan dan perkembangan mikroba rumen
(Preston dan Leng, 1987).
Pengukuran VFA dilakukan dengan memasukkan 1
ml supernatan ditambah 1 ml H2SO4 ke dalam
tabung destilasi. NaOH 5 ml 0,05 N ditambah 2
tetes PP dimasukkan dalam tabung erlenmeyer
untuk menampung hasil destilasi. Volume destilasi
setelah mencapai 100 ml dititrasi dengan 0,5 N
HCl sampai berwarna bening.
Praktikum pengukuran konsentrasi VFA didapatkan
hasil bahwa konsentrasi VFA yang tertinggi dari
jerami padi segar sebesar 120mM. Namun
seharusnya konsentrasi VFA dari jerami padi
amoniasi lebih tinggi dibandingkan dengan jerami
padi segar karena jerami padi amoniasi telah
mengalami proses amoniasi untuk meningkatkan
kecernaannya. Bata et al.,(1996) menyatakan
bahwa mudah tidaknya karbohidrat dicerna dan
difermentasi dapat diindikasikan dengan tinggi
rendahnya VFA yang dihasilkan. Semakin tinggi

VFA yang diproduksi maka semakin mudah


karbohidrat tersebut dicerna atau difermentasikan.
Pertumbuhan dan aktivitas mikroba rumen
dipengaruhi oleh kualitas bahan, jumlah dan
tingkat degradasi bahan tersebut.
Konsentrasi VFA pada praktikum ini diukur setelah
inkubasi selama 48 jam. Oleh karena itu,
konsentrasi VFA yang berada dibawah kisaran
optimal pertumbuhan mikroba dapat
disebabkanoleh penggunaan VFA sebagai sumber
kerangka karbon untuk membantu pertumbuhan
mikroba selama waktu inkubasi dalam sintesis
protein mikroba (Sutardi, 1977). Waktu inkubasi 48
jam diduga jumlah komponen sumber energi yang
relatif mudah dicerna seperti BETN dan lemak
untuk diubah menjadi VFA telah berkurang karena
telah terlebih dahulu diubah menjadi VFA pada
waktu inkubasi 3-24 jam, sehingga yang tersisa
pada jam ke-48 adalah sumber energi dalam
bentuk serat kasar untuk diubah menjadi VFA oleh
mikroorganisme rumen pencerna serat. Selain itu,
menurut oleh Ulya (2007), semakin lama waktu
inkubasi akan terjadi penurunan populasi bakteri
amilolitik akibat fase pertumbuhan bakteri yang
lebih cepat dan adanya persaingan dengan
protozoa dalam mencerna pati. Penurunan
populasi bakteri amilolitik ini juga dapat

mempengaruhi produksi VFA yang dihasilkan pada


waktu inkubasi 48 jam.

4.2.3.

Pengukuran Nitrogen Amonia (N-NH3)

Protein pakan pertama kali dihidrolisis oleh


mikroba rumen dengan enzim proteolitik menjadi
bentuk yang lebih sederhana seperti oligopeptida
dan asam amino (Arora, 1989). Kemudian
dilanjutkan dengan kecernaan menjadi amonia dan
menghasilkan produk samping berupa gas CH4,
CO2, asam keto alfa dan VFA. Menurut Sutardi
(1977), amonia berfungsi sebagai sumber N yang
digunakan dalam sintesis protein mikroba,
sehingga dibutuhkan 5-17,65 mM amonia untuk
mendukung pertumbuhan mikroba (McDonald et
al., 2002).
Pengukuran NH3 dilakukan dengan memasukkan 1
ml supernatan cairan rumen di bagian kanan
cawan conwey dan di bagian kiri ditambahkan 1
ml larutan Na2CO3 jenuh serta di bagian tengah
ditambahkan 1 ml larutan asam borat. Cawan
digoyang agar supernatan dan larutan
Na2CO3 jenuh bercampur. Setelah 24 jam dalam
suhu ruang dilakukan titrasi dengan H2SO4 0,01 N
sampai berubah menjadi warna merah muda. Hasil

titrasi dilakukan perhitungan dengan rumus: kadar


N-NH3 = (ml titran x N H2SO4 x (1000/1)) mM.
Hasil percobaan untuk sampel jerami padi segar 1
didapatkan kadar N-NH3sebesar 6,5 mM dan untuk
sampel jerami padi segar 2 percobaantidak dapat
dianalisis karena tidak terlihat perubahan warna
pada cawan conwey. Sutardi (1977) menyatakan
faktor keberhasilan dalam mengukur kadar
NH3 yaitu kualitas cairan rumen, perlakuan pasca
penampungan rumen dan ketelitian dalam
praktikum. Sumber protein bagi ternak ruminansia
harus mampu menyediakan nitrogen yang mudah
terdegradasi dalam rumen untuk sintesis protein
mikroba.Pencernaan protein di dalam rumen hanya
terbatas oleh mikroorganisme yang ada di dalam
rumen. Sekitar 40% bakteri rumen memilik
aktivitas proteolitik.Bakteri ini memiliki enzim
protease yang terikat pada permukaan sel dan
siap kontak dengan subtrat/pakan. Efektivitas
aktivitas mikroba dalam rumen membutuhkan
kondisi yang optimal, misalnya pH 5-6 dengan
temperatur sekitar 39oC seperti yang dilakukan
pada saat praktikum.

4.2.4.

Pengukuran Gas Test

Prinsip dasar dari metode gas test merupakan


pengembangan dariin vitro. Metode ini mencoba
menyempurnakan sistem kerja dari
metode invitro sebelumnya, dengan mengukur
volume gas yang dihasilkan sebagai parameter
untuk menilai kecernaan. Gas yang dihasilkan
selama inkubasi merupakan produk buangan dari
fermentasi substrat didalam tabung fermentor
seperti gas metan, karbondioksida, oksigen dan
gas lainnya. Ini akan memberikan gambaran
intensitas fermentasi yang terjadi didalam tabung
(Menke et al., 1979).
Produksi gas menunjukkan adanya proses
fermentasi pakan oleh mikroba yang terjadi dalam
rumen. Proses fermentasi tersebut akan
mengubah komponen pakan menjadi senyawa
yang berbeda dari molekul awal, seperti
perubahan karbohidrat menjadi VFA (Volatile Fatty
Acids) dan protein pakan menjadi amonia
(McDonald et al., 2002). Produksi gas juga dapat
digunakan sebagai indikator fermentabilitas in
vitro suatu ransum. Volume gas yang dihasilkan
dapat digunakan sebagai indikator proses
fermentasi yang terjadi dalam rumen. McDonald et
al.,(2002) menyatakan bahwa gas yang terdiri atas
CO2 40% dan CH4 30-40% sisanya berupa hidrogen
dan nitrogen merupakan produk sampingan pada

proses hidrolisis karbohidrat menjadi VFA (Arora,


1989).
Tabel.1. Hasil Pengukuran Gas test
Kelompok

Awal

15.30

19.30

23.30

03.30

Blangko

30

30

31

31

31

30.5

37

43

48

52

36

41.5

46

50.5

50.5

30.5

37

49.5

48

52

32

41.5

46

50

54

29.5

42

50

54

58

30

40

50

54.5

58

30

41

49

52.5

55.5

Hasil pengukuran gas test menunjukkan bahwa


terjadi peningkatan produksi gas yang dihasilkan
pada pada sampel setiap kelompok. Hal ini
mengindikasikan adanya aktivitas mikroba rumen
yang mencerna pakan. Gas yang dihasilkan
merupakan hasil fermentasi pakan, terutama
bahan organik menjadi VFA. Jumlah gas yang
diproduksi menunjukkan tinggi rendahnya
kecernaan pakan. Produksi gas yang terlalu tinggi
menunjukkan ketidakefisienan pemakaian pakan

sehingga menimbulkan kembung. Jumlah gas yang


sedikit menunjukkan bahwa bahan organik
terfermentasi digunakan untuk sintesis protein
mikroba.

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan

1.

Kecernaan bahan kering dan bahan organik


yang tertinggi berasal dari jerami padi segar
masing-masing sebesar 45,21% dan 49,08%.
2. Pengukuran konsentrasi VFAdidapatkan hasil
bahwa konsentrasi VFA yang tertinggi dari jerami
padi segar sebesar 120 mM.
3. Semakin tinggi VFA yang diproduksi maka
semakin mudah karbohidrat tersebut dicerna
atau difermentasikan.
4. Hasil percobaan untuk sampel jerami padi
segar 1 didapatkan kadar N-NH3sebesar 6,5 mM
dan untuk sampel jerami padi segar 2 percobaan
tidak dapat dianalisis karena tidak terlihat
perubahan warna pada cawan conwey.
5. Hasil pengukuran gas test menunjukkan
bahwa terjadi peningkatan produksi gas yang
dihasilkan pada pada sampel setiap kelompok

6.

Produksi gas menunjukkan adanya proses


fermentasi pakan oleh mikroba yang terjadi
dalam rumen.

5.2. Saran
Ketelitian dalam melakukan praktikum khususnya
penimbangan dan titrasi lebih diperhatikan
sehingga nilai dari standar deviasi antar perlakuan
tidak terlampau jauh berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada


Ruminansia. Edisi Indonesia. Penerbit Gajah Mada
University Press, Yogyakarta.
Astuti, D. A., Sastradipradja, B. Kiranadi, dan
Budiarti, E.
1993.Pengaruh Perlakuan Jerami Jagung dengan
asam asetat terhadap metabolisme in vitro dan in
vivo pada kambing laktasi. Laporan Praktikum.
Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Bata, M. I. Irawan, S. Rahayu dan M. Pangestu.
1996. Pengaruh Suplementasi Ampas Tahu Pada
Onggok Terhadap Produk Fermentasi Rumen,
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik
Secara In Vitro. Laporan Hasil Penelitian. Fakultas
Peternakan Unsoed. Purwokerto.
Firsoni. 2005. Manfaat tepung daun kelor (Moringa
oleifera, Lam) dan glirisidia (Gliciridia sepium,
Jacq) sebagai sumber protein dalam urea molases
blok (UMB) terhadap metabolisme pakan secara in
vitro dan produksi susu sapi perah. Tesis. Program
Pascasarjana. Universitas Brawijaya, Malang.
Hartati, E. 1998. Suplementasi minyak lemuru dan
seng ke dalam ransum yang mengandung silase
pod kakao dan urea untuk memacu pertumbuhan
sapi Holstein jantan. Disertasi. Program Pasca
Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hungate, R. E. 1966. The Rumen and Its Microbes.


Academic Press, New York.
Kurniawati, A. 2007. Ilmu Makanan Ternak Dasar.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Maynard, L.A., J.K. Loosli, H.F. Hintz and R.G.
warner. 1979.Animal Nutrition, Mc Graw Hill Book
Co., Ithaca, New York.
McDonald, P., Edwards, R., dan Greenhalgh, J.
2002. Animal Nutrition. Sixth Edition, New York.
Nurhayati, M. D. 2008. Kajian in vitro
fermentabilitas dan kecernaan ransum komplit
kombinasi rumput lapang, konsentrat dan
suplemen pakan multinutrien. Skripsi. Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan
Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia, Jakarta.
Preston, T. R. dan R. A. Leng. 1987. Matching
Ruminant Production and Systems with Available
Resources in the Tropics and SubTropics. Penambul
Books, Armidale.
Rahmawati, I. G. A. W. D. 2001. Evaluasi in
vitro kombinasi lamtoro merah (Acacia villosa) dan
gamal (Gliricidia maculata) untuk meningkatkan
kualitas pakan pada ternak domba. Skripsi.
Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Sakinah, D. 2005. Kajian suplementasi probiotik


bermineral terhadap produksi VFA, NH3, dan
kecernaan zat makanan pada domba. Skripsi.
Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Sutardi, T. 1977. Landasan Ilmu Nutrisi. Fakultas


Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Ulya, A. 2007. Kajian in vitro mikroba rumen
berbagai ternak ruminansia dalam fermentasi
bungkil biji jarak pagar (Jatropha curcas L.).
Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.

Lampiran
Hasil Praktikum In vitro

Kelompo Samp
k
el
K5 JPS 1

2,000
4

As
feed

1.
Cawan

Sar Stlh
ing
oven

2,264 21,959
7
8
1,019

Kdr
BK
awal
(%)

24,177 88,33

1,999
9

2,264 20,871
2
9
1,0044

22,991
9
88,33

2,001

2,148
5
18,918 1,0126

21,285
5
93,14

2,001

2,147 17,794
8
7
1,0178

20,139
5
93,14

1,999

2,147 18,335
7
1
0,9975

20,701
7
93,14

1,999

2,147
1
22,905 0,9983

25,219
5
93,14

2,001

2,148 21,039
5
5
0,9955

23,308
8
93,14

1,999

2,147 19,082
2
4
1,0221

21,385
7
93,14

K4 JPA2

2,148 18,742
2
8
1,0135

21,084
5
93,14

K6 JPS1

2,000
1

2,264 20,972
7
2
1,0147

23,088
7
88,33

K6 JPS2

2,000
5

2,264 18,817
2
9
1,014

20,927
7
88,33

K7 JPS1

2,264 18,255
4
5
1,0276

20,522
1
88,33

K7 JPS2

2,264 21,353 1,0378

23,668 88,33

K5 JPS 2
K1 JPA1
K1 JPA2
K2 JPA1
K2 JPA2
K3 JPA1
K3 JPA2
K4 JPA1

3
BLANKO 1

23,541 1,0239

24,531
6

BLANKO 2

22,649
2
1,0153

23,644
8

Berat
abu
residu
(gram)

BO
resid
u

0,284

0,914
2
16,5

0,373675 1
5
3

0,2731

0,842
5
16,5

1
0,373593 7

0,3445

1,010
4
20,44

0,439153 1
4
6

95

104 0,3481

0,978
9
20,44

0,439010 1
32
5

17,

1,030 20,44

0,438989 1

NKelompo
NH
k
VFA 3
K5 JPS 1
K5 JPS 2
K1 JPA1
K1 JPA2

35

6,5

120 0
35

47

kadar
abu
awal
(%)

berat abu B
awal
a

K2 JPA1
K2 JPA2

0,3386

K3 JPA1
K3 JPA2

505 5

88

-20

0,3325

0,983
7
20,44

0,438867 1
24
4

0,3171

0,956
7
20,44

0,439153 1
4
6

0,3135

0,967
7
20,44

0,438887 1
68
1

0,323

1,005
2
20,44

0,439092 1
08
4

0,2705

0,831
3
16,5

0,373675 1
5
3

0,2677

0,828
1
16,5

1
0,373593 7

0,2945

0,944
5
16,5

1
0,373626 1

0,303

0,974
2
16,5

0,373609 1
5
4

4,4

110 6

K4 JPA1

K4 JPA2

250 3

K6 JPS1

66,
115 2

K6 JPS2

32,
5

K7 JPS1
K7 JPS2

75

75
120

Blangko
1

26

Blangko
2

41

Standar
agungkhozin
Blog di WordPress.com.

Ikuti