Anda di halaman 1dari 15

NDP BAB I

Manusia memerlukan kepercayaan percaya merupakan fitrah manusia dan salah satu k
ebutuhan dasar manusia.
Keperluan untuk percaya itu dimulai tentang hal-hal yang merupakan pengalaman ke
seharian.

Orang perlu percaya bahwa yang duduk di sebelahnya tidak akan berbuat jah
at;

Orang perlu percaya bahwa gedung yang dimasukinya tidak akan runtuh;

Orang perlu percaya bahwa sekolah yang dimasukinya akan memberi ilmu yang
memadai, bahwa tempat kerjanya akan memberinya nafkah yang cukup, dan sebagainy
a
Tanpa kepercayaan orang akan resah dan tidak menemukan kebahagiaan. Orang perlu
percaya bahwa besok masih ada matahari, bahwa ada keteraturan di dalam alam, bah
wa akan terus ada makanan, rizki, dan sebagainya orang perlu percaya akan adanya
Tuhan! kepercayaan kepada Tuhan itu merupakan kebutuhan pokok manusia.

Dr. Julian Huxley (Biolog) menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan itu memp
unyai akar yang kuat pada diri manusia.

Prof. Dr. Carl Gustav Yung (Psikolog) menyatakan bahwa kepercayaan kepada
Tuhan merupakan kecenderungan manusia yang alamiah (naturaliter relogiosa).

Apa sebenarnya yang perlu dipercayai oleh manusia? Kebenaran ! kepercayaan kepad
a Tuhan itu harus benar. (Ada pakar yang menyatakan: Percayalah kepada Tuhan ka
rena kepercayaan seperti itu baik bagi manusia tidak logis dan menyesatkan !).
Karena kepercayaan kepada Tuhan itu diperlukan di dalam masyarakat terdapat berb
agai bentuk kepercayaan kepada apa yang dipercayai sebagai tuhan atau dewa diyak
ini sebagai kekuatan di atas manusia, kekuasaan yang tertinggi, diri yang mengat
ur alam, dsb.

Ada
Ada
Ada
Ada

dewa-dewa
dewa-dewa
dewa-dewa
dewa-dewa

alam (matahari, bulan, gunung, lautan)


kemanusiaan (pahlawan, pemimpin)
keluarga (sesembahan bangsa Cina)
penguasa kegiatan manusia (perang, perburuan, cinta dsb).

Tiap-tiap kepercayaan itu melahirkan tata nilai, norma yang dianut masyarakat, t
radisi. Misalnya: percaya kepada dewa gunung orang tidak mengutik-utik gunung. A
da suku bangsa yang merasa berkewajiban untuk terus berperang untuk memenuhi kei
nginan dewa perang.
Nilai, norma dan tradisi yang salah pasti merugikan kepercayaan kepada Tuhan har
us merupakan kepercayaan yang benar, dan yang benar pasti tidak merugikan manusi
a.
orang harus membuang kepercayaan yang salah dan menganut kepercayaan yang benar:
Syahadat Tauhid menyatakan:
Asyhadu Anlaa Ilaaha illalooh
Aku menyatakan kebenaran yang aku yakini, bahwa ti
dak ada Tuhan selain Allah!
Laa Ilaaha menolak segala kepercayaan yang tidak benar.
Illalloh menerima kepercayaan yang benar, yaitu kepercayaan kepada Tuhan YME, Al
lah swt.
Iman kepada Tuhan YME merupakan fitrah manusia. Secara metaforik digambarkan ole
h al-Qur-an, s. al-A raf : 172. Pada ayat itu digambarkan bahwa ketika Allah menge
luarkan calon bayi dari tulang sulbi ayahnya, Allah bertanya kepada bakal manusi
a itu:
Maka calon manusia itu menjawab:
Benar, Engkau adalah Tuhan kami! Kami menjadi saksi tentang hal itu!

Iman kepada Tuhan YME sudah ditanamkan Tuhan sendiri kepada jiwa manusia manusia
perlu me-recall apa yang tertanam dalam jiwanya itu sehingga muncul ke permukaa
n. Recalling itu dilakukan orang dengan beberapa jalan:

Melakukan tafakur dengan akalnya.

Mempertajam perasaan untuk menghayati eksistensi Allah.


Manusia dapat mengenal adanya Tuhan YME, tetapi dengan usaha sendiri tidak akan
tahu siapa dan bagaimana Tuhan itu. Seandainya Tuhan tidak memperkenalkan diriNy
a kepada manusia manusia akan tersesat dalam menemukan Dia.
Manusia perlu informasi dari Tuhan sendiri, tentang siapa DiriNya, bagaimana sif
at-sifatNya, apa yang Dia kehendaki untuk dilakukan oleh manusia. Sesuai dengan
kebutuhan manusia itu, Tuhan memberikan informasi langsung kepada manusia.
Sebagai yang Mahakuasa Tuhan sangat bisa memberikan informasinya dengan cara-car
a yang dahsyat (menuliskan keteranganNya di langit, menyatakannya dengan suara gur
uh dsb). tidak sesuai dengan kondisi manusia sebagai makhluk yang berakal. Allah
menyampaikan informasiNya melalui wahyu, yang dikirimkan kepada Rasul-rasulNya.
Rasul-rasul Allah itu dipilih dan ditetapkan di antara manusia dapat menyampaika
n keterangan Allah dengan bahasa dan cara-cara yang sesuai untuk manusia.
Tugas Rasul :

Menyampaikan Risalah Allah

Memberi keterangan dan penjelasan tentang Risalah

Menjadi uswatun hasanah di dalam melaksanakan Risalah.


Rasul diturunkan pada tiap-tiap umat dan zaman

(Yunus : 47)
jumlah Rasul seluruhnya tidak diketahui.
Sebagian di antara Rasul tersebut diceriterakan di dalam Al-Quran, sebagian tida
k.
yang diketahui adalah yang diceriterakan di dalam al-Qur-an, yaitu 25 orang.
Para Rasul itu menyampaikan ajaran pokok yang sama yaitu tauhid
Tuhan. Ada beberapa perbedaan antara ajaran Rasul

meyakini keesaan

Masalah yang dihadapi oleh masing-masing umat tidak sama


mengikuti perkembangan zaman, pemikiran, cara hidup.

Allah SWT menetapkan Muhammad SAW sebagai Rasul yang terakhir ajarannya sempurna
dan berlaku untuk semua generasi dan tempat.
Kita mengucapkan syahadat kedua:
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Rasulullah SAW menyampaikan Al-Quran, himpunan wahyu Allah yang terakhir (sempur
na) tibyaanan likulli syai-in (menerangkan segala informasi yang diperlukan oleh
manusia).
Kewajiban umat Muhammad adalah:

Membaca Al-Quran

Mempelajari Al-Quran

Mengamalkan Al-Quran

Menda wahkan Al-Quran

Pertama-tama Allah menerangkan tentang diriNya:


Allah memperkenalkan diriNya dengan asma-asmaNya yang berjumlah 99 (Asma-ul Husn
a). Masing-masing nama menunjukkan sifat Asma-ul Husna memperlihatkan sifat-sifa
t Allah yang perlu diketahui manusia.
Allah mencipta alam raya dan segala makhluk yang berada di dalamnya. Dia bukan s
aja Pencipta tetapi juga Pembina (Rabbul alamin) mengatur, mengembangkan, memelih
ara unsur-unsur alam ini berinteraksi s.s.l. secara harmonis.
Allah mencipta manusia Ahsanu taqwim. Manusia mempunyai akal pikiran yang mampu
menganalisis alam, mengambil kesimpulan dan memanfaatkan hasil analisisnya.
(Kelebihan Adam dibandingkan dengan malaikat).
Manusia mempunyai dua fungsi :

Sebagai Abdullah harus taat kepada Allah

Sebagai Khalifah fil Ardhi mengelola bumi ini untuk kemanfaatan semua mak
hluk termasuk manusia sendiri.

NDP BAB II
BAB II : PENGERTIAN-PENGERTIAN DASAR
TENTANG KEMANUSIAAN
Manusia adalah makhluk Allah yang khas perbedaan antara manusia dengan hewan tid
ak gradual tetapi fundamental. Perbedaan yang fundamental ini bukan fisiknya tet
api ruhaninya karena kemampuan ruhaninya itu manusia memiliki kelebihan yang nya
ta di atas makhluk-makhluk bumi lainnya. Surat al-Isra ayat 70:
.. dan Kami lebihkan manusia itu di atas kebanyakan dari makhluk-makhluk Kami den
gan kelebihan yang nyata .
Surat At-Tin ayat 4 menyatakan manusia sebagai puncak ciptaan:
Sungguh Kami Allah mencipta manusia itu sebagai sebaik-baik ciptaan .
Dalam posisi Ahsanu Taqwim manusia bahkan lebih tinggi derajatnya dibandingkan d
engan malaikat ( Adam tidak diperintah untuk sujud menghormat
kepada malaikat te
tapi malaikat yang disuruh sujud kepada Adam !).

Akan tetapi posisi itu sangat rentan terhadap perubahan pada ayat 5 surat yang s
ama dinyatakan:
Kemudian Kami jatuhkan manusia itu ke tempat yang serendah-rendahnya .
Manusia jatuh ke tempat yang sangat rendah karena ulahnya sendiri tidak mampu me
njaga martabatnya yang tinggi. supaya tidak jatuh dia harus memelihara dirinya.
Tidak akan jatuh ke tempat yang rendah, orang-orang yang beriman dan beramal sha
lih bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya . (at-Tin : 6).
Manusia lahir dalam keadaan fitrah (Hadits : Kullu mauluudin yuuladu alal fitrah)
.
Fitrah berarti:

Suci manusia dilahirkan dalam keadaan tidak berdosa, tidak membawa dosa a
yahnya, ibunya, apa lagi kakek moyangnya. Illustrasi: anak haram.

Memiliki kecenderungan kepada kesucian dan kebaikan

Manusia diperlengkapi Allah dengan nafsu perangkat pada diri manusia yang merasa
kan kesenangan, keindahan.
Nafsu ini perlu untuk mendorong perkembangan budaya. Tetapi bila nafsu berkemban
g melewati batas merugikan manusia sendiri.
manusia harus mengendalikan nafsunya.
Karena adanya nafsu dan upaya mengendalikan nafsu Martabat manusia itu tidak st
abil naik-turun, berfluktuasi dalam lintasan waktu, bergerak naik dan turun.

Di tempat yang tertinggi martabat manusia lebih dari malaikat.


Di tempat yang rendah dia lebih rendah dari binatang

. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah oran
g-orang yang lalai (s. Al-A raf: 179).
Ayat 6 surah at-Tin menyatakan bahwa supaya manusia tetap berada pada martabat y
ang tinggi menjaga dua hal :
1.
Iman percaya kepada Allah, kepada malaikat Allah, Kitab Allah, Rasul Alla
h, hari akhirat, taqdir Allah. Kepercayaan itu bukan sekedar diucapkan tetapi di
hayati mendasari seluruh sikap dan perbuatannya.

Iman kepada Allah tunduk, taat, patuh kepada Allah. Tidak sombong karena
merasa sangat kecil di hadapan Allah. Tidak cemas dan resah dalam menghadapi kea
daan apapun karena yakin akan perlindungan Allah.

Iman kepada malaikat yakin bahwa sikap dan perbuatannya selalu diawasi da
n dicatat Raqib dan Atid.

Iman kepada Kitab mendasarkan seluruh aktivitasnya kepada nilai-nilai yan


g ada di dalam Kitabullah.

Iman kepada Rasul menjadikan Rasul sebagai Uswatun hasanah.

Iman kepada Hari Akhir yakin akan pertanggungjawa-ban amal hati-hati.

Iman kepada taqdir ikhtiar, tawakal dan berdo a.


2.
Iman itu kemudian direalisasikan ke dalam amal amal perbuatan yang didasa
rkan kepada iman itu disebut amal shalih (perbuatan yang selaras, yakni selaras
dengan imannya).
Kehidupan manusia itu dinyatakan dalam amal perbuatannya. Nilai kebaikan yang ad
a pada dirinya (karena iman) belum akan berarti apabila belum direalisasikan dal
am amalnya.
Orang yang bekerja keras di dalam kebaikan, dia akan memperoleh kebahagiaan di d
unia dan akhirat.
Barangsiapa yang berbuat baik, laki-laki maupun perempuan, dan dia itu beriman, n
iscaya Kami berikan kepadanya kehidu-pan yang bahagia, dan pasti Kami berikan pa
hala kepadanya, dengan sebaik-baik pahala, karena apa yang telah mereka kerjakan .
(An-Nahl : 97).
sebaliknya orang yang berbuat buruk, pasti akan mendapat balasan yang buruk:

Barangsiapa yang berbuat keburukan, sesungguhnya dia mengerjakannya untuk kemadha


ratan dirinya sendiri. (s. An-Nisa: 111).
Manusia yang hidupnya bermakna (memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat) ada
lah mereka yang:


Bekerja keras mensyukuri karunia Allah dengan memanfaatkannya untuk kebai
kan. Inilah yang disebut Jihad
menggunakan kemampuan akal, tenaga secara optimal
.

Kerja kerasnya itu didasarkan kepada semangat mengabdi kepada Allah. meng
awali setiap kerjanya dengan Basmalah. Kerja keras yang tidak diniatkan karena Al
lah akan sia-sia, tidak berbekas di akhirat.
(s. An-Nur ayat 39).
Menyerap segala sesuatu yang baru dan menyempurnakan nilai-nilai serta buah piki
ran yang lama maju. Orang yang beriman itu mempunyai ciri:
mendengarkan perkataan orang dan memilih yang terbaik
(Az-Zumar: 18).
Insan Kamil (manusia sempurna):

Kegiatan fisik dan mentalnya merupakan kesatuan

Tidak membagi dua (dikotomi) antara kerja untuk diri sendiri dan masyarak
at, ibadah kepada Allah dan mencari kebaikan untuk diri sendiri.

Melaksanakan perintah Allah dengan memenuhi kecenderungan hati nuraninya.


Dengan menyatukan segala sesuatu dia akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki.

NDP BAB III


BAB III : KEMERDEKAAN MANUSIA (IKHTIAR)
DAN KEHARUSAN UNIVERSAL (TAKDIR)
Manusia memiliki dua kehidupan, yakni:
1.
Kehidupan dunia. Di sini orang dianugerahi kebebasan oleh Allah swt untuk
berkehendak dan mengusahakan apa yang dikehendakinya itu. Dalam kehidupan dunia
pula orang memperoleh sebagian dari hasil usahanya. (Orang yang bekerja keras m
emperoleh rizki cukup, yang giat belajar mendapatkan ilmu).
2.

Kehidupan akhirat. Di sini orang tidak lagi berusaha akan tetapi hanya memetik h
asil usahanya di dunia. Wujud dan corak kehidupan akhirat seseorang bergantung k
epada amalnya di dunia.
Dan berhati-hatilah kepada hari Kiamat, yang seorang tidak dapat membela orang l
ain sedikitpun, dan tidak diterima syafa at dan tebusan darinya, dan tidaklah mere
ka akan ditolong. (S. Al-Baqarah : 48).
Manusia lahir di dunia sebagai individu, tetapi begitu berada di dunia, dia hidu
p dalam lingkungan alam dan sosial yang memberi pengaruh kepadanya. Sebagai indi
vidu, orang punya kebebasan penuh, tetapi karena berada di dalam lingkungan, keb
ebasannya itu dibatasi oleh unsur-unsur yang berada dalam lingkungannya itu.
Allah mengatur alam semesta dengan sejumlah tatanan dan aturan, yang menjadikan
unsur-unsur alam berinteraksi satu terhadap yang lain secara harmonis. Aturan Al
lah untuk alam semesta itu disebut Taqdir atau Sunnatullah.
Dan Allah mencipta segala sesuatu dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih

-rapihnya

(S. Al-Furqon:2)

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya, Demikianlah taqdir yang Mahaperkas


a lagi Mahamengetahui
(S. Yasin: 38).
Hukum-hukum Allah itu tetap dan teratur, meliputi semua makhlukNya, termasuk man
usia.
Sunnatullah itu telah berlaku sejak dahulu dan kamu tidak akan menjumpai perubah
an dalam sunnatullah itu sedikitpun. (S. Al-Fath 48:23).
Maka manusia tidak bisa membebaskan diri dari aturan-aturan Allah tersebut (tund
uk kepada hukum gravitasi, pemuaian, penguapan, dan sebagainya). kebebasan priba
di harus diletakkan dalam konteks keterikatan kepada Taqdir.
Manusia perlu mempelajari dan dapat mengetahui taqdir-taqdir Allah yang ada di a
lam pengetahuan manusia tentang hal-hal itu dihimpun dan disestematisasikan ilmu
. Jadi ilmu (science) adalah pemahaman manusia terhadap taqdir Allah / Sunnatull
ah. Ilmu kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan-keperluan manusia (tekno
logi). Ilmu bukan sekedar the body of knowledge, tetapi mencakup the way of thin
king. Mestinya orang memahami bukan saja obyek yang dipelajari tetapi juga hubun
gan antara obyek dengan Pencipta dan Pengaurnya, Allah Swt. Orang yang demikian
disebut Ulul Albab
Ulul Albab adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Allah pada waku berdiri,
duduk, atau berbaring. Dan selalu memkirkan ciptaan-ciptaan Allah di langit dan
di bumi sampai hatinya berkata: Wahai Tuhan kami, tidak Engkau jadikan segala se
suatu ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Maka jauhkanlah kami dari pikiran-pikiran se
sat yang membawa kami ke dalam siksa neraka. (S Ali Imran: 191).
Manfaat ilmu bagi Ulul Albab:

Memenuhi kebutuhan manusiawi untuk tahu apa yang dapat diketahui dengan i
ndera dan akalnya.

Sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan, lahir dan batin.

Memantapkan keyakinan kepada Allah, Pencipta dan Pengatur segala sesuatu.


Tidak semua taqdir Allah dapat dipahami manusia Ilmu manusia hanya sedikit sekal
i.
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditamb
ahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis
-habisnya
(dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(S. Luqman: 27).
Pengetahuan manusia atas taqdir Allah itu sedikit. Bagaimana sikap manusia terha
dap Taqdir? Tidak boleh menyerah begitu saja penyerahan meniadakan kebebasan. Ma
ka orang harus terus menerus ikhtiar memanfaatkan taqdir-taqdir Allah untuk meng
hasilkan yang terbaik bagi dirinya. (memanfaatkan taqdir yang berupa gaya gravit
asi justru untuk meninggalkan bumi, memanfaatkan friksi antara dua benda untuk d
apat bergerak lebih mudah, dsb).
Ikhtiar tidak selalu berhasil tidak semua taqdir diketahui manusia. Maka ikhtiar
harus disertai dengan Tawakkal.
Yang menentukan segala sesuatu adalah Allah orang harus berdo a. Maka ikhtiar, taw

akkal dan do a merupakan kesatuan perbuatan yang harus dilakukan serentak dan bers
ama-sama.

NDP BAB IV
BAB IV : KETUHANAN YANG MAHAESA
DAN KEMANUSIAAN
Keyakinan kepada Tuhan yang Mahaesa (Tauhid) yaitu Allah swt mengandung konsekue
nsi :

Mengabdi kepada Allah dan mematuhi ketetapan Allah.

Menggantungkan pertolongan dan harapan hanya kepada Allah, Tuhan yang Mah
aesa.
(al-Fatihah : 5).
Karena keyakinan tauhid itu didasarkan kepada kesadaran fitrahnya, dan ditopang
oleh telaah akal pikiran dan pengalaman perasaannya ketundukan, kepatuhan dan ke
terikatan kepada Tuhan yang Mahaesa itu tidak karena terpaksa dan tidak karena k
ebodohan atau ketakpedulian, tetapi dilakukan secara sukarela.
Sikap yang demikian itu disebut Islam dan pelakunya dinamai Muslim. Dr. Hobohm m
enyatakan: Islam is submission to the Will of God with love and joy
Islam adalah
tunduk patuh kepada Kehendak Tuhan dengan cinta dan gairah .
Makhluk alami selain manusia, yaitu benda mati, tumbuh-tumbuhan dan hewan juga t
unduk dan patuh kepada Tuhan yang Mahaesa :

Air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih re
ndah karena terikat kepada gaya gravitasi bumi yang merupakan salah satu hukum A
llah untuk alam.

Angin senantiasa bergerak dari kawasan yang rapat udara ke yang kurang ra
pat karena sifat udara itu mengisi semua ruangan di bumi; sifat inipun merupakan
hukum Allah untuk alam.

Akar pepohonan menyeruak tanah mencari makanan, daun-daunan yang berwarna


hijau bekerja sama dengan cahaya matahari memproses udara kotor menjadi udara b
ersih. ketentuan Allah untuk mengconservasi alam.

Berbagai jenis hewan lahir, tumbuh, beranak Allah menghendaki keberadaan


populasi hewan di bumi.
Akan tetapi ketaatan air, angin, pepohonan dan hewan itu tanpa kesadaran taat ta
npa cinta dan taat tanpa gairah.
Jasmani manusiapun senantiasa patuh kepada ketentuan Tuhan yang berlaku untuk al
am, tetapi ketaatan tubuh itupun tanpa kesadaran.

Darah dipompa oleh jantung yang terus berdenyut mengalir ke seluruh tubuh
kemudian kembali ke jantung.

Rambut dan kuku tumbuh memanjang, mata melihat benda yang disinari cahaya
, telinga mendengar suara, dst.
Ruhani manusia memiliki kemerdekaan untuk memilih apakah patuh atau ingkar kepad
a Allah.
Orang yang ruhaninya menyertai jasmaninya untuk tunduk dan patuh kepada Allah ad
alah Muslim.
Orang yang ruhaninya bertentangan dengan jasmaninya karena memilih tidak taat ke
pada Allah adalah Kafir.

Allah tidak memaksakan kebenaran kepada manusia tetapi menawarkan kebenaran ters
ebut. Selanjutnya terserah kepada masing-masing orang untuk memilih secara bebas
, apakah taat atau ingkar. Kepada RasulNya Allah menyatakan:
Katakanlah: kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka barangsiapa mau silakan beriman dan
barangsiapa mau silakan kufur .
(al-Kahfi : 29).
Maka menjadi Muslim adalah sebuah pilihan bebas dengan memilih tunduk kepada All
ah, orang melepaskan diri dari ketundukan dan ketergantungan kepada segala sesua
tu yang lain, yang pada hakekatnya adalah makhluk Allah.
Lawan dari sikap tauhid adalah syirik (menyekutukan Allah, menganggap ada kekuas
aan atau kekuatan yang setara dengan Allah). Pelakunya disebut musyrik. Sikap sy
rik berarti menghambakan diri secara tidak benar menghancurkan kemerdekaan dan k
emanusiaan. Maka syirik adalah kejahatan yang terbesar.
(Surat Luqman : 13).
Para ulama menyimpulkan bahwa ada:

Syirik Akbar menyembah segala sesuatu selain Allah.

Syirik Asghor syirik kecil riya (suka dipuji, disanjung).

Syirik Khafi
syirik samar-samar (menggantungkan diri kepada harta, pangka
t, kedudukan, ilmu pengetahuan)
Berdasarkan kenyataan bahwa:

Sikap Tauhid menghasilkan kemerdekaan.

Kemerdekaan adalah hakekat kemanusiaan.


Kemanusiaan (yang sejati) dihasilkan oleh sikap Tauhid, dan kemanusiaan yang tid
ak didasarkan tauhid adalah tidak sejati.
Kemanusiaan yang berintikan kemerdekaan itu milik setiap orang masyarakat harus
mengusahakan tegaknya kemanusiaan dan mencegah hancurnya kemanusiaan.
Ciri-ciri kemanusiaan antara lain:
1.
Musawah persamaan derajat, hak dan kewajiban.

Setiap orang adalah makhluk Allah mempunyai derajat yang sama di hadapan
Allah, memperoleh hak hidup dan penghidupan, menyandang kewajiban yang sama untu
k beribadah kepada Allah.

(al-Hujurat: 13).
tidak ada kemuliaan yang diperoleh dengan sendirinya. (karena suku, bangsa, ketu
runan, kekayaan). Kemuliaan didapatkan karena usahanya untuk bertakwa kepada All
ah.

Al-Quran mengecam orang-orang yang menganggap dirinya lebih dari orang la


in, seperti Fir aun (karena kekuasaannya) dan Qarun (karena hartanya).
2.

Ukhuwah (Persaudaraan).

Manusia disebut sebagai Bani Adam (keturunan Adam) bersaudara, senasib da


n sepenanggungan. Rasulullah saw menyatakan: Antum Banuu Adama wa Aadamu min tur

aab

kamu semua adalah keturunan Adam dan Adam itu dari tanah.

Persaudaraan yang murni, didasarkan kepada kasih sayang silaturahim merup


akan pondasi ukhuwah. Rasulullah bersabda: Irhamuu ahlal ardhi yarhamkum man fis
samaa-i
sayangilah penduduk bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangimu .

Persaudaraan yang kokoh itu dilandasi oleh kesamaan iman kesatuan tujuan
hidup, kesamaan nilai dan cara dalam menjalani kehidupan. Rasulullah menyatakan:
Al-mu minu lil mu mini kal bunyaani yasyuddu ba dhuhu ba dha orang mu min terhadap mu min
in bagaikan sebuah bangunan, yang bagian-bagiannya saling menguatkan .
3.

Ta awun

Kerja sama / gotong royong.

Setiap orang mempunyai kelebihan, tetapi juga kekurangan dan keterbatasan tidak
ada siapapun yang dapat mencukupi kebutuhannya sendiri kebutuhan hidup manusia i
tu tidak berbatas. manusia harus bekerja sama untuk saling memberi dan saling me
nerima. Kerja sama ditujukan untuk kebaikan. Al-Maidah ayat 2 :

Termasuk bekerja sama adalah : saling memberi nasihat, saling mengingatka


n, dan saling mencegah berbuat buruk
Rasulullah saw menyatakan: Tolonglah saudaramu, yang didhalimi dan yang dhzalim . S
ahabat bertanya: Bagaimana menolong orang yang dhzalim?
Dengan menahan tangannya (d
ari melakukan kedhzaliman) .
4.

Musyawarah

Salah satu bentuk kerjasama di antara manusia adalah dalam memutuskan apa yang b
aik dilakukan di dalam memenuhi kepentingan bersama. Masing-masing orang di dala
m masyarakat merdeka untuk mempunyai aspirasi, ide, rencana. Gagasan-gagasan itu
tidak selalu sama dilakukan musyawarah untuk memperoleh yang terbaik dan member
i kepuasan optimal kepada semua pihak.

Musyawarah hanya berkenaan dengan hal-hal yang belum ditetapkan secara qa


th i (tegas) oleh Allah musyawarah dilakukan untuk menafsirkan atau menjabarkan ke
tetapan Allah.

Musyawarah harus didasari oleh sikap Tasamuh (toleran) terhadap pendapat


orang-orang lain.
5.

Musabaqoh fil Khairat (Berlomba dalam kebaikan).

Setiap orang mempunyai potensi yang khas. Potensi insani perlu dikembangkan, tet
api harus didasari dengan ukhuwah. Jangan sampai pengembangan potensi individu m
enghancurkan kebersamaan. Maka yang harus dilakukan bukan bersaing tetapi berlom
ba (Musabaqoh), dan perlombaan itu harus ditujukan untuk kebaikan (fil khairat).
Bersaing mengandung konotasi menjatuhkan lawan
berlomba adalah mengembangkan pot
ensi individu dengan niat saling menguntungkan.

Sunday, 15 February 2015


NDP BAB V
BAB V : INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Telah dibicarakan bahwa manusia adalah makhluk yang lahir sebagai individu tetap
i hidup bermasyarakat. Setiap orang mempunyai kemerdekaan individual ini merupak
an hak asasinya yang utama. Tetapi hak asasi tersebut harus diletak-kan dalam ke
rangka kehidupan bersama di masyarakat. Bermasyarakat bukan saja merupakan kenya
taan tetapi juga keharusan yang tak terhindari. Mengapa? Karena kebutuhan perora
ngan tidak mungkin dipenuhi secara memuaskan kecuali dengan kerja sama yang baik
antara anggota masyarakat.
Manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan hidup tak berbatas.

Manusia bukan hanya perlu makan sekedar mengandung unsur-unsur yang diper
lukan tubuh tetapi memerlukan makanan yang bermacam-macam : karbohidrat, sayuran
, telor, daging, susu. Makanan itu harus bervariasi, nikmat di lidah, sedap dipa
ndang, dimakan dalam suasana indah, dll.

Manusia bukan hanya perlu pakaian sekedar menutupi tubuh, akan tetapi mem
erlukan pakaian yang bervariasi, enak dipakai, indah dipandang, sesuai dengan ke
pribadian pemakainya, dsb.

Manusia bukan hanya perlu tempat tinggal sekedar dapat memenuhi kebutuhan
berteduh tetapi memerlukan tempat tinggal yang nyaman, hangat, indah, bisa digu
nakan untuk melakukan berbagai aktivitas seperti tidur, menerima tamu, makan, ma
ndi, berolah raga, dan sebagainya.

Manusia pun membutuhkan kehormatan, rasa memiliki, rasa mampu, kekuasaan,


cinta kasih, dan banyak lagi.
semua kebutuhan manusiawi itu hanya bisa dipenuhi dengan cara bekerja sama di da
lam masyarakat. Mengapa?
Karena kemampuan individual itu sangat terbatas. Manusia tidak mungkin memenuhi
kebutuhannya bila setiap orang harus menaman padi sendiri, berburu hewan sendiri
, memasak sendiri, menenun dan menjahit pakaiannya sendiri, mengajar anak-anakny
a sendiri kemampuan yang ada pada masing-masing orang tidak akan berkembang.
Tiap orang mempunyai sifat dan potensi yang berlain-lainan. Masing-masing orang
mempunyai kelebihan dan kekurangan.
NDP BAB VI
VI. KEADILAN SOSIAL DAN KEADILAN EKONOMI
Telah kita bicarakan pada Bab V bahwa di dalam masyarakat terjadi tarik menarik
antara kepentingan perorangan dengan kepentingan bersama.

Bila setiap anggota masyarakat hanya mengutamakan kepentingan sendiri kon


flik dan kerugian bersama.

Bila kepentingan bersama saja yang dipikirkan potensi individual tidak be


rkembang secara optimal.
harus ditetapkan aturan-aturan yang disepakati dan ditaati oleh semua anggota ma
syarakat. Dengan kata lain: harus ditegakkan keadilan di dalam masyarakat.
Siapa yang harus menegakkan keadilan? Pada hakekatnya semua orang. Dalam kenyata
an, tidak mungkin semua orang bekerja untuk melakukan hal yang sama. Maka harus
ada sejumlah orang yang mendapatkan legitimasi atau kewenangan dari masyarakat u
ntuk mengatur masyarakat itu pemimpin-pemimpin masyarakat.
Para pemimpin itu harus memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi berpancar dari ima
n yang kokoh kepada Allah swt.

Mereka memiliki kasih sayang tulus kepada sesama (pancaran dari Rahman da
n Rahim Allah)

Mereka terhindar dari pamrih pribadi yang berlebihan

Mereka tidak memihak kepada seseorang atau suatu kelompok yang disenang
inya.

Para pemimpin dengan kualitas taqwa akan mampu menegakkan keadilan di dalam masy
arakat. Mereka sadar, bahwa mereka bukan saja bertanggung jawab kepada masyaraka
t juga dan terutama kepada Allah swt. Kullukum raa in wa kullukum mas-uulun an ra iyya
tih setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggungjawab kepada Allah at
as kepemimpinanmu .
Masyarakat itu bertingkat-tingkat, dari unit terkecil (keluarga) unit-unit masya
rakat yang besar. Unit masyarakat yang paling penting karena terbentuk secara fo
rmal adalah Negara. Maka Pemerintahan Negara merupakan pemimpin yang paling bert
anggung jawab untuk menegakkan keadilan dalam Negara itu.
Tugas pemerintah yang terpenting adalah: menjamin kemerdekaan individual dan kem
erdekaan kelompok di dalam negara, dengan mengutamakan kebersamaan atas dasar pe
rsamaan kemanusiaan.
Pemerintah memperoleh kewenangan dari warga negara.

Warga negara wajib taat kepada Pemerintah. Bagi seorang mu min, ketaatan kepada Pe
merintah itu merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. An-Nisa ayat 59 :
Pemerintah haruslah orang-orang yang dikehendaki dan ditetapkan oleh warga negar
a. Cara menetapkan pilihan terserah kepada ijtihad warga negara yang bersangkuta
n.
Untuk menjamin tegaknya keadilan, Pemerintah harus mengacu kepada hukum-hukum Al
lah. Surat al-Maidah ayat 45:

Sebagai pemimpin atas sesama manusia, Pemerintah bukan hanya bertanggung jawab k
epada warga negara, tetapi bertanggung jawab kepada Allah swt.
Salah satu keadilan yang harus ditegakkan adalah keadilan di bidang ekonomi. Ken
yataan menunjukkan bahwa umumnya orang menyukai harta kecintaan berlebihan kepad
a harta menyebabkan orang mengabaikan keadilan. Persaingan dan perebutan kepenti
ngan dalam harta telah mengakibatkan berbagai keburukan:

perselisihan di dalam keluarga,

pertengkaran di dalam masyarakat, dan

peperangan antar negara

Al-Quran menyatakan bahwa kesenangan kepada harta itu wajar dan manusiawi
namun
orang harus ingat bahwa kenikmatan dunia itu singkat dan kecil, ada kenikmatan a
khirat yang lama dan sangat besar. Surat Ali Imran ayat 14 :
Dijadikan indah dalam pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini y
aitu: lawan jenis, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda-kud
a pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, d
an di sisi Allah tempat kembali yang baik .
Harta dunia adalah milik Allah disediakan (ditundukkan) bagi manusia : manusia d
iizinkan untuk menguasai dan memanfaatkannya. Tetapi orang harus ingat bahwa har
ta dunia ini disediakan untuk manusia seluruhnya bukan seseorang atau sekelompok
orang saja. Karena itu :

cara memperoleh harta harus baik (tidak melanggar aturan, tidak menggangg

u hak-hak orang lain). Riba dilarang keras, karena merusak tatanan kepemilikan h
arta.

Membelanjakan harta harus baik . Surat al-Furqon ayat 67 menyatakan sosok


pribadi orang yang selamat dari neraka antara lain:

dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta tidak boros dan tidak pula kikir
, dan pembelanjaan itu di tengah-tengah antara keduanya . (QS Al-Furqan 25:67).
idealnya: orang mencari dan membelanjakan harta sebagai bagian dari ibadah.
Dalam masyarakat yang tidak bertakwa: berlangsunglah penin-dasan (eksploitasi) e
konomi dari yang kuat kepada yang lemah.

Di bidang produksi, majikan mengeksploitasi buruh;

Di bidang distribusi, yang memiliki modal dan informasi mengeksploitasi


yang miskin dan bodoh.

jurang antara kaya dan miskin lebar dan semakin lebar. Masyarakat kecil pasti me
nyimpan rasa iri hati, dan dendam yang membara. Pada saatnya akan terjadi kemelu
t sosial yang menghancurkan masyarakat. Surat al-Isra ayat 16:
Apabila Kami (Allah) menghendaki untuk membinasakan suatu negeri, maka Kami perin
tahkan orang-orang yang berfoya-foya di negeri itu supaya mentaati Allah, tetapi
mereka berbuat durhaka di negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku vonis Kami
; kemudian Kami menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya .
Usaha menegakkan keadilan dalam masyarakat / negara dilakukan dengan cara :

Melakukan pendidikan yang efektif agar warga masyarakat tidak mengumbar n


afsunya, tidak mencintai harta dunia melebihi batas kewajaran.

Menetapkan pembatasan-pembatasan dan aturan-aturan yang ketat dan dilaksa


nakan secara konsisten, sehingga anggota masyarakat mengusahakan dan membelanjak
an harta dengan cara yang baik.
Di dalam masyarakat yang bertakwa, masih ada perbedaan antara yang kaya dan yang
miskin. Itu karena manusia mem-punyai kemampuan yang berbeda-beda. Tetapi perbe
daan itu terjadi dalam ukuran yang wajar. Untuk menanggulangi perbedaan tersebut
:

Orang yang kaya diperintahkan menafkahkan sebagian hartanya untuk diberik


an kepada yang miskin. (zakat, infaq, hibah, washiyat, dll). Ada yang wajib ada
yang sunnat.

Orang yang miskin dianjurkan agar tidak menggantungkan diri kepada pember
ian orang lain bersikap iffah (menjaga kehormatan diri.
terjadi keseimbangan di dalam masyarakat.

orang dapat dan harus saling memberikan kelebihan berkembanglah profesi dan pend
apatan yang bermacam-macam. Surah az-Zuhruf ayat 32 menyatakan:
Kami Allah yang membagi-bagikan di antara mereka, penghidupan mereka di dunia .
Dengan demikian maka berlangsunglah kerja sama di antara orang-orang dari berbag
ai profesi.
Petani memberikan kelebihan hasilnya kepada para guru, dokter, insinyu
r, pedagang

Guru mendidik anak orang-orang lain, termasuk anak petani


Dokter mengobati penyakit para anggota masyarakat, termasuk petani, gu
ru, pedagang dan keluarganya
Pedagang membawakan barang-barang kebutuhan seluruh masyarakat.
Dan seterusnya.
Kerjasama yang harmonis akan menguntungkan semua orang. Namun setiap orang mempu
nyai nafsu cenderung mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya bagi diri sendir
i yang berlangsung bukanlah kerja sama tetapi eksploitasi (pemerasan seseorang k
epada orang lain). Orang-orang yang mempunyai potensi dan kedudukan strategis me
miliki peluang besar untuk melakukan eksploitasi.
Eksploitasi pedagang kepada kosumen dengan menimbun barang sehingga ha
rga naik.
Eksploitasi pemilik pabrik kepada buruh-buruhnya.
Eksploitasi pemegang kekuasaan kepada rakyat,
Dan sebagainya.
Supaya kerjasama di dalam masyarakat berlangsung harmonis, setiap anggota masyar
akat harus mengendalikan nafsunya.
Pengendalian nafsu dicapai dengan iman dan ibadah kepada Allah.
Dengan demikian pengendalian nafsu bukan saja penting untuk membina hablun minal
loh tetapi juga untuk memelihara hablun minannas yang baik.
Telah dikemukakan bahwa kemerdekaan individual harus diletakkan dalam kerangka k
ehidupan bermasyarakat.
Kemerdekaan individual yang sepenuhnya, hanya dapat diperoleh apabila
seseorang sepenuhnya sendirian.
Begitu dia bersama dengan orang lain kemerdekaannya itu dibatasi oleh
kemerdekaan orang lain.
Tanpa pembatasan pasti terjadi benturan kepentingan di antara individu
perlu disusun aturan-aturan di dalam masyarakat.
Aturan tersebut pada hakekatnya membatasi kemerdekaan individual, teta
pi menjamin kemerdekaan bersama.
Karena setiap orang ingin memperoleh kemerdekaan individual yang selua
s-luasnya terjadi tarik menarik di antara anggota masyarakat terntang aturan ber
sama tersebut. aturan harus disepakati oleh semua orang, melalui musyawarah yang
didasari oleh semangat untuk membina harmoni di dalam masyarakat.
Di dalam aturan sosial yang baik, setiap anggota masyarakat memperoleh
hak-haknya secara optimal dengan mengakui dan menghormati hak-hak orang lain.
NDP BAB VII
VII. KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Kita telah membicarakan bahwa manusia ditetapkan Allah sebagai Khalifah fil Ardh
i pengelola bumi, di samping sebagai Abdullah
hamba Allah. untuk dapat menunaikan
tugasnya dengan baik, manusia perlu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bu
mi dan alam sekitarnya, serta tentang manusia sendiri.
Kita telah membicarakan pula bahwa alam semesta ini dicipta melalui proses dan p
rosedur yang pasti (fii sittati ayyam
dalam enam hari) kemudian diatur dengan ta
qdirnya yang tetap dan tidak berubah. Kemudian manusia dianugerahi akal yang mam
pu menangkap gejala, proses, kejadian manusia menda-patkan pengetahuan-pengetahu
an yang banyak. Berbagai pengetahuan yang diperoleh di berbagai tempat dan waktu
itu kemudian dihimpun dan disistematisasikan ilmu pengetahuan. Orang memiliki i
lmu pengetahuan kealaman (natural sciences), dan ilmu pengetahuan tentang manusi
a (social sciences dan juga humaniora).

Gejala-gejala alami yang dapat ditangkap oleh indera dan akal itu disebut Ayat (
tanda tanda keberadaan dan keagungan Allah swt). Pada saat yang sama Allah juga
menurunkan ayat yang berupa wahyu. Dengan demikian ada dua ayat Allah yang dapat
dipahami manusia:

Ayat Kauniyah
ayat alam fenomena alam dan manusia yang dapat ditangkap ol
eh akal dan disusun menjadi ilmu.

Ayat Tanziliyah ayat yang diturunkan keterangan langsung dari Allah yang
dapat ditangkap oleh akal dan juga dapat disusun menjadi ilmu.
Kedua ayat tersebut berasal dari Allah tidak mungkin ada pertentangan di antara
keduanya. Kalau nampak seperti ada pertentangan, maka tiga kemungkinannya:

Pemahaman terhadap ayat kauniyah keliru

Pemahaman tentang ayat tanziliyah keliru

Pemahaman terhadap dua-duanya keliru.


bila pemahaman terhadap keduanya benar : dua ayat tadi saling menopang dan melen
gkapi.
Sebagai abdullah dan khalifah fil ardhi, manusia wajib untuk beramal shalih antar
a lain mengatur tatanan alam dan manusia. harus menguasai ilmu pengetahuan, baik
yang kauniyah maupun yang tanziliah mencari dan mengem-bangkan ilmu merupakan k
eharusan bagi setiap muslim.
(Hadits: Tholabul ilmi fariidhotun alaa kulli muslimin wa muslimatin mencari ilmu
itu wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita).

Menuntut ilmu secara umum, merupakan fardhu ain

Menuntut ilmu khusus (bidang-bidang tertentu) fardhu kifayah.


Dengan semangat ibadah dan dilandasi norma-norma ibadah, para pejuang Islam masa
dahulu telah menggali ilmu dengan sangat cermat, sehingga menjadi pelopor-pelop
or pengembang ilmu pada zamannya. Di antara mereka adalah :
1.
Jabir ibn Hayyan (721-815), di negeri Barat dikenal sebagai Geber. Diakui
dunia ilmu sebagai orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam penelitia
nnya di bidang alkemi. Dia menggunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan
mengekstraksi mineral tersebut menjadi zat Kimia lalu membuat klasifikasinya.
2.
Muhammad ibn Musa al-Khwarazmi ( w 836). Dikenal oleh para ilmuwan dengan
nama Algorithm. Namanya menjadi salah satu pengertian penting dalam Aritmetika.
Penemu angka nol, yang menjadi faktor sangat penting dalam Ilmu Aljabar, ilmu y
ang didasarkan kepada judul bukunya.
3.
Muhammad ibn Zakaria ar-Razi (855-925), dikenal dengan nama Latin Razes.
Dia seorang dokter klinis yang banyak melakukan penelitian dalam ilmu Kimia. Seb
agai dokter, melakukan penelitian yang sangat bermanfaat mengenai penyakit Cacar
dan Campak.
4.
Abi Ali al-Husain ibn Sina (980-1073), dikenal sebagai Avicena. Penulis b
uku-buku pengobatan, yang selama lima abad digunakan oleh dunia kedokteran. Sela
in itu dia juga menulis masalah Astronomi dan Filsafat.
5.
Ibn Khaldun (1332 1406), seorang sejarawan yang dikenal sebagai Bapak Sosi
ologi Islam . Mempelajari ilmu secara otodidak, dan menulis banyak buku yang sampa
i sekarang masih dipelajari oleh para ahli.
6.
Umar Khayam, al-Ghazali, Ibn Rusyd, dan lain-lain.
Para ilmuwan tersebut adalah juga ulama dalam pengertian menguasai ilmu-ilmu tazil
iyah. Mereka mengembangkan ilmu justru karena dorongan agamanya.
Bersama dengan perkembangan keilmuan pada pribadi para tokoh muslim, dibangun pu
la lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian yang sangat maju pada zamannya. Di
antara lembaga tersebut adalah: Bait al-Hikmah di Baghdad, dibangun sekitar tahu
n 815, Dar al-Ilm, dibangun tahun 1005 di Kairo, al-Azhar di Kairo, dan observat
orium yang dibangun di beberapa tempat.

Sayang, kemajuan ilmu di kalangan kaum muslimin kemudian mengalami kemunduran ya


ng sangat tajam, karena masyarakat disibukkan oleh pertikaian di antara mereka d
an hubbud dunya yang berlebihan.
NDP BAB VIII
BAB VIII : KESIMPULAN DAN PENUTUP

Hidup yang benar adalah hidup yang dilandasi oleh keyakinan Tauhid membina doron
gan untuk berbuat baik.
Tauhid diperkokoh dengan Ibadah merasa dekat dengan Allah dan berkeinginan untuk
berbuat baik karena Allah, dan mengendalikan nafsu juga karena Allah.
Keinginan berbuat baik (amal shalih) diwujudkan dengan perbuatan-perbuatan yang
bermanfaat bagi masyarakat, yakni amar ma ruf nahi munkar dalam arti yang luas.
Kesadaran untuk berbuat lebih baik melahirkan Jihad (berjuang) dalam segala bida
ng, dengan melakukan kerja sama dan kerja bersama seluruh masyarakat.
Untuk memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya, orang harus berilmu yang setin
ggi-tingginya.
Maka tugas manusia adalah:
Beriman
Berilmu
Beramal