Anda di halaman 1dari 11

UJI AKTIVITAS SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK DAUN MIANA

Coleus scutellarioides [L] Benth TERHADAP PERTUMBUHAN


JAMUR Candida albicans
TEST ACTIVITIES PREPARATIONS MOUTHWASH MIANA LEAF
EXTRACT Coleus scutellarioides [L] Benth ON THE GROWTH
FUNGUS Candida albicans
Rasmah1, Zaraswaty Dwyana1, Elis Tambaru1, Herlina Rante2
1

Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Hasanuddin

Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin


E-mail : ras_yel@yahoo.co.id
ABSTRAK

Daun miana mengandung senyawa fitokimia, antara lain alkaloid, flavonoid dan
tanin. Daun miana Coleus scutellarioides (L.) Benth diekstrak dengan metode
maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Hasil ekstrak daun miana dibuat dalam
sediaan obat kumur dalam formulasi I, II, dan III. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui aktivitas ekstrak daun miana dan sediaan obat kumur ekstrak daun miana
terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Pegujian aktivitas antijamur
dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan medium Potato Dextrose Agar
(PDA). Hasil uji aktivitas ekstrak daun miana terhadap pertumbuhan jamur Candida
albicans dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15%. Pada masa inkubasi 48 jam dengan
konsentrasi 15% diperoleh zona hambat tertinggi yaitu 16,7 mm. Pada uji aktivitas
sediaan obat kumur ekstrak daun miana diperoleh pada formula I, formula II,
formula III dengan diameter zona hambat secara berturut-turut adalah 14,6 mm, 14,7
mm, 17,4 mm. Dari ketiga formula tersebut yang memiliki zona hambat yang paling
besar adalah Formula III yang mengandung 15% daun miana dengan zona hambat
17,4 mm. Pada pengamatan zona hambat masa inkubasi 48 jam terlihat tumbuhnya
beberapa koloni jamur Candida albicans hal ini menunjukkan bahwa jamur Candida
albicans masih dapat tumbuh pada daerah zona hambat tersebut, yang berarti
senyawa antimikroba pada ekstrak daun miana
bersifat fungistatik, yaitu
menghambat pertumbuhan jamur namun tidak mematikannya.
Kata kunci : obat kumur, daun miana, Candida albicans.
ABSTRACT
Miana leaves contain phytochemical compounds, such as
alkaloids,
flavonoids
and
tannins.
Miana
leaves
Coleus
scutellarioides (L.) Benth extracted by maceration method using
ethanol 70%. Created miana leaf extract in the preparation of a

gargle in formulations I, II, and III. This study aims to determine the
activity of leaf extracts and preparations miana mouthwash miana
leaf extract on the growth fungus Candida albicans. Test of
antifungal activity carried out by the agar diffusion method using
the medium Potato Dextrose Agar (PDA). The test results miana leaf
extract activity against Candida albicans fungal growth with
concentrations of 5%, 10% and 15%. At an incubation period of 48
hours with a concentration of 15% obtained the highest inhibition
zone of 16.7 mm. In the test preparation activities mouthwash
miana leaf extract obtained in formula I, formula II, formula III with a
diameter of inhibition zone respectively are 14.6 mm, 14.7 mm,
17.4 mm. Of the three formulas which have the greatest inhibition
zone is a formula III containing 15% leaf miana with inhibition zone
of 17.4 mm. In observation of inhibition zone incubation period of
48 hours seen the growth of a few colonies of the fungus Candida
albicans this indicates that the fungus Candida albicans can still
grows in the inhibition zone, which means antimicrobial compounds
in leaf extracts miana is fungistatik, which inhibit the growth of
fungi, but do not turn it off.
Keywords: mouthwash, leaf miana, Candida albicans.
PENDAHULUAN
Kesehatan gigi dan mulut
penting untuk diperhatikan dan
merupakan bagian integral dari
kesehatan secara keseluruhan
yang memerlukan penanganan
segera sebelum terlambat dan
dapat mempengaruhi kondisi
kesehatan
seseorang.
Kandidiasis adalah infeksi jamur
tersering pada manusia. Infeski
jamur pada rongga mulut yang
sering terjadi disebabkan oleh
pertumbuhan berlebihan dari
jamur Candida. Sekitar 8595%
infeksi
kandidiasis
oral
disebabkan oleh jamur Candida
albicans Jamur merupakan salah satu
penyebab penyakit infeksi terutama di
negara-negara tropis karena iklim yang
lembab
sehingga
mempermudah
pertumbuhan jamur.

Candida albicans merupakan


organisme yang komensal dalam rongga
mulut, dan merupakan flora normal di
rongga mulut yang ditemukan pada 80%
orang sehat. Pada permukaan rongga
mulut
terdapat
banyak
koloni
mikroorganisme, salah satu penyakit
yang umum pada rongga mulut terdapat
banyak koloni mikroorganisme, adalah
kandidiasis. Cara yang paling dikenal
untuk menjaga kebersihan gigi dan
mulut selama ini adalah dengan
menggosok gigi. Namun untuk beberapa
kasus, terutama kasus penyakit gigi dan
gusi, penggunaan obat kumur sangat
diperlukan. Menggosok gigi saja kurang
efektif untuk mengurangi akumulasi plak
penyebab gangguan pada gigi dan gusi.
Berkumur dengan obat kumur dapat
menghilangkan mikroba di sela-sela gigi
yang tidak terjangkau oleh sikat gigi.
Mekanisme kerja obat kumur adalah

membersihkan rongga mulut secara


mekanik dan kimiawi (Nareswari, 2010).
Indonesia merupakan negara yang
kaya akan sumber daya alam, termasuk
obat, Salah satu tanaman obat yang
sering digunakan masyarakat untuk
pengobatan
ialah
Miana
Coleus
scutellarioides (L.) Benth. Daun miana
mengandung minyak atsiri, fenol, tanin,
lemak, dan fitosterol. Tannin memiliki
aktivitas antibakteri, secara garis besar
mekanismenya adalah dengan merusak
membran sel bakteri, senyawa anstrigent
tanin menginduksi pembentukan ikatan
senyawa kompleks terhadap enzim atau
substrat mikroba (Kibbe, 2000).
Flavonoid dapat berefek antibakteri
melalui kemampuan untuk membentuk
kompleks dengan protein ekstraseluer
dan protein yang dapat larut serta dengan
dinding sel bakteri (Robinson, 1995).
Biasanya bagian dari tanaman miana
yang di digunakan sebagai obat ialah
pada daunnya. Hanya Miana yang
daunnya berwarna merah kecoklatan
atau kehitaman dengan tepi daun yang
bergerigi yang dapat dimanfaatkan
sebagai tanaman obat. Daun Miana
biasanya direbus sebagai obat batuk,
wasir, terlambat haid, dan kencing
manis.
Sebagai langkah awal dalam
mewujudkan
masyarakat
sehat
khususnya dalam mengatasi penyakitpenyakit rongga mulut yang sebagian
besar disebabkan oleh jamur Candida
albicans maka upaya meningkatkan
derajat kesehatan gigi dan mulut
masyarakat perlu lebih digalakkan lagi
serta melakukan penelitian dalam
menggali potensi bahan alam. Miana
merupakan tanaman obat yang mudah
dikembangkan dan dimanfaatkan secara
luas.
Berdasarkan uraian di atas, maka
dilakukan penelitian mengenai uji

aktivitas sediaan obat kumur ekstrak


daun miana terhadap pertumbuhan jamur
Candida albicans.
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui aktivitas ekstrak
daun miana Coleus scutellarioides
(L.) Benth terhadap pertumbuhan
jamur Candida albicans.
2. Untuk mengetahui aktivitas sediaan
obat kumur ekstrak daun miana
Coleus scutellarioides (L.) Benth
terhadap pertumbuhan jamur Candida
albicans.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksankan
pada bulan Januari Maret
2016, bertempat di laboratorium
Fitokimia
Jurusan
Farmasi
Fakultas
Farmasi
dan
Laboratorium
Mikrobiologi
Jurusan
Biologi
Fakultas
Matematika
dan
Ilmu
Pengetahuan Alam, Makassar.
Bahan

Bahan bahan yang digunakan


pada penelitian ini adalah, biakan Jamur
Candida albicans, daun miana Coleus
scutellarioides (L.) benth, etanol 70%,
NaCl 0,9%, medium Potato Dextrose
Agar (PDA), Sorbitol, Mentol, Metil
paraben, Air suling, sediaan obat kumur
yang beredar dipasaran, aquades, tissu,
kertas label, dan aluminium foil.
Ekstraksi Sampel
Serbuk simplisia ditimbang
sebanyak 300 g dimasukkan kedalam
wadah maserasi, kemudian direndam
dengan menggunakan 1 liter etanol 70%.
Wadah maserasi ditutup rapat dan
disimpan pada tempat yang terlindung
dari cahaya matahari langsung selama 3

hari sambil dilakukan pengadukan


beberapa kali. Setelah 3 hari, campuran
disaring kedalam wadah penampung
kemudian dipisahkan antara ampas dan
pelarut. Ampas dimaserasi kembali
sebanyak 3 kali dengan pelarut yang
sama hingga diperoleh maserat. Maserat
kemudian
dipekatkan
dengan
menggunakan
rotavator
sampai
diperoleh ekstrak kental, selanjutnya
ekstrak ditimbang beratnya.
Rancangan Formulasi
Formulasi sediaan obat kumur
menggunakan zat aktif ekstrak daun
miana, sorbitol sebagai bahan pemanis,
mentol sebagai bahan pengaroma, metil
paraben sebagai bahan pengawet, etanol
70% sebagai pelarut bahan pengaroma
dan air suling sebagai pelarut.
Rancangan
formula
tiga
variasi
konsentrasi
ekstrak
daun
miana
dibandingkan dengan sediaan kontrol
negatif yang tidak menggunakan zat
aktif dapat dilihat pada Tabel 1 dan
kontrol positif berupa sediaan obat
kumur komersil.

Pembuatan Obat Kumur


Larutan obat kumur dibuat
dengan melarutan ekstrak etanol daun
miana pada etanol 70%. Menthol digerus
dan ditambahkan dengan etanol 70%
sampai larut kemudian dicampurkan
kedalam larutan ekstrak etanol daun
miana. Selanjutnya metil paraben
dilarutkan kedalam 10 ml air hangat dan
ditambahkan sorbitol diaduk sampai
homogen. Selanjutnya ditambahkan
campuran ekstrak etanol daun miana dan
mentol kedalam campuran sorbitol dan
metil paraben. Dihomogenkan dengan
magnetic stirrer kecepatan 100 rpm
selama 15 menit. Dicampurkan air suling
kedalam larutan kemudian kembali di
aduk hingga homogen. Larutan obat
kumur yang telah dibuat dimasukkan
kedalam wadah tertutup rapat dan
disimpan ditempat sejuk untuk penelitian
selanjutnya.
Pembuatan Media Peremajaan Jamur

PDA dilarutkan dalam 100 ml


aquadest pada Erlenmeyer kemudian
dipanaskan di atas hot plate sampai
mendidih dan diperoleh larutan jernih.
Kemudian dituang ke dalam beberapa
Tabel 1. Rancangan formulasi sediaan
tabung
reaksi
disterilkan
dalam
obat kumur
autoclave pada suhu 121C selama 15
Nama Bahan
Formulasi (F)
Kontrol
menit kemudian dimiringkan 30 dan
F1
F2
F3
No
(-)
1
Ekstrak Daun
5
10
15
0 dibiarkan mengeras. Koloni jamur
diambil dari biakan murni yang tersedia,
Miana (g)
2
Sorbitol (g)
5
5
5
5 dilakukan secara aseptis dengan jarum
3
Mentol (g)
0,1
0,1
0,1
0,1 ose dan digoreskan pada media agar
4
Metal Paraben
miring kemudian diinkubasikan dalam
(g)
incubator.
5
6

Etanol 70%
(ml)
Air suling
(ml)

100

100

100

100

Pembuatan Suspensi Jamur Uji


Biakan Candida albicans dalam
media agar miring disuspensikan dengan
NaCl
0,9%.
Kemudian
diambil
secukupnya
lalu
diukur
tingkat

kekeruhannya
menggunakan
spektrofotometer sampai di peroleh
tingkat transmitan 25% terhadap blangko
larutan NaCl 0,9%.
Pengujian Sampel
Uji Aktivitas Ekstrak Daun
Miana terhadap
Pertumbuhan Jamur
Candida albicans
Uji daya hambat ekstrak daun
miana terhadap pertumbuhan jamur
Candida albicans dilakukan dengan
metode difusi agar menggunakan paper
disk. Medium yang digunakan adalah
Potato Dextrose Agar (PDA). Media
Potato
PDA
disterilkan
dengan
menggunakan autoclave pada suhu
121C selama 15 menit, Dinginkan
hingga
suhu
40-45C
kemudian
sebanyak 1 ml suspensi jamur Candida
albicans diinokulasikan pada medium
PDA lalu dituang kedalam cawan petri
lalu dihomogenkan dan dibiarkan
memadat. Kemudian paper disk yang
telah dijenuhkan selama 15 menit
dengan variasi konsentrasi ekstrak daun
miana yaitu konsentrasi 5%, 10% dan
15% dan juga kontrol negatif yaitu
etanol 96% sebagai kontrol dari pelarut
konsentrasi
ekstrak
daun
miana
kemudian diletakkan pada permukaan
media yang telah memadat pada cawan
petri tersebut. Setelah itu di inkubasi
selama 2x24 jam pada inkubasi aerob,
lalu diamati dan diukur zona bening
yang terbentuk dengan jangka sorong.
Uji Aktivitas Sediaan Obat
Kumur Ekstrak Daun Miana
terhadap
Pertumbuhan
Jamur Candida albicans

Uji aktivitas sediaan obat kumur


ekstrak
daun
miana
terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans
dilakukan dengan metode difusi agar
menggunakan paper disk. Medium yang
digunakan adalah Potato Dextrose Agar
(PDA). Media PDA disterilkan dengan
menggunakan autoclave pada suhu
121C selama 15 menit, Dinginkan
hingga
suhu
40-45C
kemudian
sebanyak 1 ml suspensi jamur Candida
albicans diinokulasikan pada PDA lalu
dituang kedalam cawan petri dengan
metode tuang lalu dihomogenkan dan
dibiarkan memadat. Kemudian paper
disk yang telah dijenuhkan selama 15
menit dengan variasi formula sediaan
obat kumur ekstrak daun miana (F1, F2,
F3) dan juga kontrol negatif yaitu etanol
70% sebagai pembanding dari pelarut
konsentrasi ekstrak daun miana serta
formula pembanding (kontrol positif)
yaitu sediaan obat kumur komersil,
kemudian diletakkan pada permukaan
media yang telah memadat pada cawan
petri tersebut. Setelah itu di inkubasi
selama 2x24 jam pada inkubasi aerob,
lalu diamati dan diukur zona bening
yang terbentuk dengan jangka sorong.
Analisis Data
Data
hasil
penelitian
ini
dianalisis dengan menggunakan program
SPSS 16.0 Uji statistik yang digunakan
adalah Uji t
berpasangan. Uji t
berpasangan
dilakukan
untuk
mengetahui apakah ada perbedaan yang
signifikan antara hasil uji aktivitas
ekstrak daun miana dengan hasil uji
aktivitas sediaan obat kumur ekstrak
daun miana terhadap pertumbuhan jamur
Candida albicans.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Uji Aktivitas Ekstrak Daun
Miana
Coleus
scutellarioides (L.)
Benth
terhadap
Pertumbuhan
Jamur Candida albicans

16.8
16.6
16.4
16.2
16
15.8
15.6
15.4
15.2
15

Hasil pengujian ekstrak etanol daun


miana setelah masa inkubasi Candida
albicans selama 2 x 24 jam
menunjukkan adanya zona hambatan di
sekitar
paper
disk.
Pengulangan
dilakukan sebanyak 3 kali pada jamur uji
yang digunakan. Hasil penelitian
pengukuran diameter zona hambatan
ekstrak daun miana terhadap Candida
albicans dapat dilihat pada Gambar 2.
16.7

16.1
15.6

5%

10%

15%

kontrol (-)

Gambar 2. Diagram Rata-Rata Diameter Zona Hambat (mm) Ekstrak Etanol Daun
Miana terhadap Pertumbuhan Jamur Candida albicans.
Hasil penelitian pada pengukuran
Hasil pengamatan diameter zona
zona hambat ekstrak daun miana Coleus hambat ekstrak daun miana Coleus
scutellarioides (L.) Benth terhadap scutellarioides (L.) Benth terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans pertumbuhan jamur Candida albicans
menunjukkan bahwa ekstrak daun miana setelah masa inkubasi 48 jam, dapat
dengan konsentrasi 15%
(2 mg/ dilihat pada Gambar 3.
paperdisk) diperoleh zona hambat
tertinggi dan pada konsentrasi ekstrak
5% (2mg/paperdisk) membentuk zona
hambat yang paling kecil. Mujim
(2010)
menyatakan
bahwa
meningkatnya
konsentrasi
ekstrak
menyebabkan
meningkatnya kandungan bahan
aktif yang berfungsi sebagai
antijamur
sehingga
kemampuannya
dalam
menghambat
pertumbuhan Gambar 3. Hasil penelitian uji aktivitas
ekstrak daun miana Coleus
suatu jamur juga semakin besar.

scutellarioides terhadap pertumbuhan


jamur Candida albicans,
Berdasarkan hasil yang diperoleh,
terbentuknya zona hambat disekitar
paper disk menunjukkan paper disk
yang berisi ekstrak etanol daun miana
berdifusi pada media agar tersebut.
Aktivitas antijamur ektrak etanol daun
miana diduga berhubungan dengan
kandungan senyawa fitokimia yang
berada di dalam ekstrak tersebut. Hasil
penelitian masniari (2009) yaitu uji
fitokimia
ekstrak
daun
miana
menunjukkan bahwa ekstrak daun miana
mengandung flavonoid dan tanin.
Flavonoid merupakan senyawa yang
bersifat polar dan umumnya terdapat
dalam bentuk campuran sebagai
glikosida pada jaringan tumbuhan,
kepolaran
senyawa
inilah
yang
mengakibat senyawa lebih mudah
menembus dinding sel mikroba.
Senyawa ini dapat bekerja sebagai
antimikroba karena dapat mendenaturasi
dan negkoagulasi protein sel mikroba
sehingga sel mikroba mati.

Uji Aktivitas Sediaan Obat Kumur


Ekstrak Daun Miana Terhadap
Pertumbuhan
Jamur
Candida
albicans
Hasil uji aktivitas sediaan obat
kumur ekstrak daun miana terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans
setelah inkubasi
2 x 24 jam menunjukkan adanya zona
hambatan di sekitar paper disk.
Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali
pada jamur uji yang digunakan.
Diameter zona hambat ekstrak daun
miana terhadap Candida albicans dapat
dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Hasil penelitian uji aktivitas


sediaan obat kumur ekstrak daun miana
Coleus scutellarioides
terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans.
Hasil penelitian pengukuran zona hambat sediaan obat kumur
ekstrak daun miana terhadap jamur Candida albicans pada masa inkubasi 2
x 24 jam dapat dilihat pada Gambar 5.

30
23.9

25
20
15

17.4
14.6

14.7

5%

10%

10
5
0

15%

kontrol (+)

kontrol (-)

Gambar 5. Diagram Rata-Rata Diameter Zona Hambat (mm) Sediaan Obat


Kumur Ekstrak Daun Miana Terhadap Pertumbuhan Candida albicans.
sediaan obat kumur ekstrak daun miana
Keterangan :
dengan obat kumur komersil.
1. Formulasi I : konsentrasi 5%.
2. Formulasi II : konsentrasi 10%.
Sedangkan pada kontrol negatif berupa
3. Formulasi III : konsentrasi 15%.
sediaan obat kumur tanpa tambahan
4. Kontrol (+):sediaan obat kumur ekstrak daun miana tidak menunjukkan
komersil.
adanya zona hambat. Kontrol negatif ini
5. Kontrol (-) : sediaan obat kumur untuk mengetahui apakah sediaan obat
tanpa
penambahan ekstrak daun kumur tanpa tambahan ekstrak daun
miana.
miana
berpengaruh
terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans.
Pada
pengamatan
zona
Pada Gambar 5. Dapat dilihat
perbandingan diameter zona hambat hambat setelah masa inkubasi
pada sediaan obat kumur ekstrak daun 2 x 24 jam terlihat beberapa
miana,
formula
III
dengan koloni jamur yang muncul pada
konsentrasi
15% (2 mg / paperdisk) daerah zona hambat tersebut.
diperoleh zona hambat tertinggi dalam Menurut Mycek et al (2001),
menghambat pertumbuhan
jamur suatu
antimikroba
bersifat
Candida albicans dan pada formula I bakteriostatik dan fungistatik,
dengan konsentrasi 5% (2 mg / Jika suatu senyawa antimikroba
paperdisk) membentuk zona hambat mampu
menghambat
yang paling kecil. Pada kontrol positif pertumbuhan
mikroba
jika
dengan menggunakan obat kumur pemberian
secara
teruskomersil membentuk zona hambat yang menerus dan jika penambahan
lebih besar dibandingkan dengan sediaan senyawa dihentikan atau habis
obat kumur ekstrak daun miana. Adanya maka pertumbuhan mikroba
kontrol positif ini bertujuan untuk akan meningkat. Sedangkan
melihat perbadingan aktivitas antifungi untuk fungisidal jika suatu
terhadap jamur Candida albicans antar senyawa antimikroba mampu

membunuh dan menghentikan


aktivitas fisiologis dari mikroba
uji
meskipun
pemberian
menunjukkan bahwa jamur Candida
albicans masih dapat tumbuh pada
daerah zona hambat tersebut, yang
berarti senyawa antimikroba pada
ekstrak daun miana bersifat fungistatik,
yaitu menghambat pertumbuhan jamur
namun tidak mematikannya.
Evaluasi Sediaan Obat Kumur
Pada pengamatan sediaan obat
kumur dilakukan pengamatan kekeruhan
sediaan,
pH
sediaan
serta
uji
organoleptik meliputi uji warna dan bau.
Pada pengamatan warna sediaan obat
kumur formulasi I berwarna cokelat
bening, formulasi II berwarna cokelat,
dan formulasi III berwarna cokelat
pekat, adanya pemberian kadar ekstrak
yang berbeda pada masing-masing
formula mempengaruhi warna dari
ketiga formula tersebut. Sedangkan pada
kontrol negatif berupa formulasi obat
kumur tanpa tambahan ekstrak berwarna
bening. Keempat formulasi obat kumur
tersebut beraroma mint khas menthol
dan terasa segar. Untuk uji pH dilakukan
dengan menggunakan kertas pH
indikator didapatkan pH formulasi I,
formulasi II, dan formulasi III adalah pH
5 serta pH pada kontrol negatif yaitu
formulasi obat kumur tanpa tambahan
ekstrak daun miana memiliki pH 6. Hasil
uji pH sediaan obat kumur tergolong
asam karena di bawah pH 7. Secara
umum obat kumur memiliki pH berkisar
5-6. Jika pH dibawah dari pH 5 sediaan
terlalu asam dan akan menyebabkan
semakin banyaknya pertumbuhan bakteri
dan jika pH diatas pH 6 maka sediaan
terlalu basa dan akan menyebabkan
pertumbuhan
jamur
sehingga

senyawa
antimikroba
dihentikan. Dari pengamatan zona
hambat terlihat tumbuhnya beberapa
koloni jamur Candida albicans hal ini
mengakibatkan timbulnya sariawan
(Novero, 2014).
Pada pengamatan kekeruhan sediaan
obat kumur ekstrak daun miana, ketiga
formula (FI,FII, dan FIII) tidak terdapat
partikel-partikel tidak larut didalam
sediaan obat kumur ekstrak daun miana.
Hasil uji organoleptik obat kumur
ekstrak daun miana sebelum dan setelah
penyimpanan
2
minggu
tidak
menunjukkan perubahan. Warnanya
tetap cokelat baunya beraroma segar
dikarenakan adanya kandungan mentol.
Data yang diperoleh dari hasil
penelitian, pertama kali diuji apakah ada
perbedaan yang signifikan antara
kelompok A (ekstrak daun miana) dan
kelompok B (sediaan obat kumur)
dengan menggunakan uji t berpasangan.
Karena kedua data tersebut berasal dari
subyek yang sama yaitu dari daun miana
maka digunakan uji t berpasangan.
Analisis
data
dilakukan
dengan
menggunakan program komputer SPSS
(Statistical Product and ServiceSolution)
16.0 for Windows.
Untuk melihat hubungan antara
uji aktivitas
ekstrak daun miana
terhadap pertumbuhan jamur Candida
albicans dengan uji aktivitas sediaan
obat kumur ekstrak daun miana terhadap
pertumbuhan jamur Candida albicans
maka dilakukan analisis statistik yaitu uji
t berpasangan.
Hasil analisis
statistik
dengan
uji
t
berpasangan
pada
ekstrak
etanol daun miana dan sediaan
obat kumur ektrak daun miana
terhadap pertumbuhan jamur
Candida albicans diperoleh nilai
signifikan 0,502 > 0,05 yang

berarti tidak terdapat perbedaan


yang nyata (signifikan) terhadap
diameter zona hambat antar
ekstrak daun miana dan sediaan

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa :
1. Ekstrak
daun
miana
Coleus
scutellarioides (L.) Benth mampu
menghambat pertumbuhan jamur
Candida albicans. Pada ekstrak daun
miana dengan konsentrasi 15% (2
mg/ paperdisk) diperoleh zona
hambat tertinggi dan pada konsentrasi
ekstrak
5%
(2
mg/paperdisk)
membentuk zona hambat yang paling
kecil.
2. Sediaan obat kumur ekstrak daun
miana Coleus scutellarioides (L.)
Benth yang paling optimal dalam
menghambat pertumbuhan jamur
Candida albicans yaitu formula III
dengan konsentrasi 15%
(2 mg/ paperdisk)
hambat 17,4 mm.

diperoleh zona

DAFTAR PUSTAKA
David and Stout, 1971. Journal of
Microbiology : Disc Plate
Method
of
Microbiological
Antibiotic
Essay. Volume 22 no 4.
Kibbe AH., 2000. Handbook of
pharmaceutical Excipient.3rd.

obat kumur ekstrak daun miana


terhadap pertumbuhan jamur
Candida albic

American
Pharmaceutical

Association. USA.

Mujim,S., 2010.Pengaruh Ekstrak


Rimpang
Jahe
(Zingiber
officinale
Rosc.)
terhadap
Pertumbuhan
Pythium
sp.
Penyebab Penyakit Rebah
Kecambah MentimunSecara in
Vitro. Jurnal HPT Tropika.
vol.10,no.1,hal.59-63.
Mycek, M. J., 2001. Farmakologi:
Ulasan Bergambar Edisi 2.
Widya Medika. Jakarta.
Nareswari A., 2010. Perbedaan
Efektivitas
Obat
Kumur
Chlorhexidine Tanpa Alkohol
Dibandingkan
dengan
Chlorhexidine Beralkohol Dalam
Menurunkan Kuantitas Koloni
Bakteri Rongga Mulut [skripsi].
Fakultas Kedokteran. Universitas
Sebelas Maret. Surakarta.
Novero, A., 2014. Formulasi
Obat Kumur Antiseptik
Ekstrak
Daun
Salam.
Sekolah
Tinggi
Farmasi
Indonesia. Hal. 11
Poeloengan, Masniari, 2009. Uji
Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Methanol Daun Miana (Coleus

scitellarioides
(L.)
Benth)
terhadap Bakteri Salmonella
enteritidis dan Staphylococcus
aureus. Jurnal Biotika Vol.7 No. 2.
Robinson,
Organik

T.,

1995.

Kandungan

Tumbuhan Tinggi.
Bandung.

ITB.