Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Torsio testis adalah suatu keadaan dimana funikulus spermatikus yang terpeluntir yang
mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan
epididimis. Torsio testis merupakan suatu keadaan yang termasuk gawat darurat dan butuh
segera dilakukan tindakan bedah. Kondisi ini, jika tidak segera ditangani dengan cepat dalam
4 hingga 6 jam setelah onset nyeri maka dapat menyebabkan infark dari testis yang
selanjutnya akan diikuti oleh atrofi testis.
Torsio testis juga merupakan kegawat daruratan urologi yang paling sering terjadi pada
laki-laki dewasa muda, dengan angka kejadian 1 diantara 400 orang dibawah usia 25 tahun
dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun). Janin yang masih
berada di dalam uterus atau bayi baru lahir tidak jarang menderita torsio testis yang tidak
terdiagnosis sehingga mengakibatkan kehilangan testis baik unilateral ataupun bilateral. Torsio
testis harus selalu dipertimbangkan pada pasien-pasien dengan nyeri akut pada skrotum dan
kondisi tersebut juga harus dibedakan dari keluhan-keluhan nyeri pada testis lainnya agar tidak
terjadi kesalahan diagnosis yang dapat berujung pada kesalahan terapi.
Penyebab dari akut skrotum biasanya dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik yang menyeluruh serta pemeriksaan diagnostik yang tepat. Sekitar 2/3
pasien yang dicurigai menderita torsio testis dengan dilakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisik cukup untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Keterlambatan dan kegagalan dalam
dignosis dan terapi akan menyebabkan proses torsio yang berlangsung lama, sehingga pada
akhirnya menyebabkan kematian testis dan jaringan disekitarnya (Cuckow, 2000).
Penatalaksanaan torsio testis menjadi tindakan darurat yang harus segera dilakukan karena
angka keberhasilan serta kemungkinan testis tertolong akan menurun seiring dengan
bertambahnya lama waktu terjadinya torsio.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Anatomi Testis
Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval dg berat 10-14 gr dengan
panjang 4 cm ukuran dari anterior ke posterior 3 cm dan lebar 2,5cm dan memiliki
bagian-bagian yakni extremitas superior, extremitas inferior, facies lateralis, facies
medialis, margo anterior (convex), margo posterior (datar).
Testis

berada

didalam

skrotum

bersama

epididimis

yaitu

kantung

ekstraabdomen tepat dibawah penis. Testis kiri terletak lebih rendah daripada yang kanan.
Dinding pada rongga yang memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika vaginalis.
Tunika vaginalis dibentuk dari peritoneum intraabdomen yang bermigrasi ke dalam
skrotum primitive selama perkembangan genetalia interna pria, setelah migrasi ke dalam
skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus vaginalis) akan menutup.
Setelah pubertas, selain sebagai organ reproduksi (menghasilkan spermatozoa)
juga sebagai kelenjar endokrin yg menghasilkan hormon androgen yang berguna untuk
mempertahankan tanda kelamin sekunder.
Lapisan Pembungkus Testis (Orchis)
Testis terletak di dalam cavum scrota yg ditutupi oleh scrotum. Dimana lapisan nya dari
luar ke dalam yakni :
a. Cutis
b. Tunica dartos
c. Fascia Spermatica Externa (Aponeurosis MOAE)
d. Muskulus. Cremasterica
e. Fascia Cremasterica (Aponeurosis MOAI)
f. Fascia Spermatica Interna (Aponeurosis MTA)
g. Tunica Vaginalis Propia (Lamina Parietalis dan Lamina Visceralis)
h. Tunica Albuginea
Vaskularisasi Testis (Orchis)
-- A. testicularis dextra ei sinistra cabang dari aorta abdominalis
- V. testicularis dextra yg akan bermuara ke V. Cava Inferior
- V. testicularis sinistra yg akan bermuara ke v. renalis sinistra lalu bermuara ke Vena
Cava Inferior

Innervasi Testis (Orchis)


Testis dipersarafi oleh serabut saraf dari plexus nervacus terticularis. Plexus ini dibentuk
oleh nervus thoracalis VI-XII.
Testis terdiri dari 3 sel yaitu :
a. Sel Leydig yang berfungsi untuk menghasilkan hormon testoseron untuk
menumbuhkan ciri-ciri kelamin sekunder laki-laki. Sel ini juga sebagai Endokrin
b. Sel Sertoli yang berfungsi untuk memberi makan sperma yang dirangsang oleh FSH
yang dihasilkan oleh Adenehipofisis. Sel ini Sebagai sebagai Eksocrin
c. Sel Spermatozoid yang berfungsi untuk menghasilkan sperma yang berada pada
dinding Tubulus Seminiferus Contortus. Sel ini sebagai Eksokrin
3 sel ini dibagi 2 bagian yaitu Sel Leydig Sebagai Endocrin sedangkan Sel Sertoli dan
Sel Spermatozoid sebagai Eksocrin. Testis menghasilkan hormon testosterone yang
berfungsi untuk memacu perkembangan sistem reproduksi steroid pria dan ciri seksual
sekunder pria.
B.

Etiologi Torsio Testis


Adanya kelainan sistem penyangga testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio
jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang
berlebihan itu, antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat
berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi,
atau trauma yang mengenai skrotum.
Faktor predisposisi lain terjadinya torsio meliputi peningkatan volume testis (sering
dihubungkan dengan pubertas), tumor testis, testis yang terletak horisontal, riwayat
kriptorkismus, dan pada keadaan dimana spermatic cord intrascrotal yang panjang.
Trauma dapat menjadi faktor penyebab pada sekitar 50% pasien, torsio timbul ketika
seseorang sedang tidur karena spasme muskulus kremaster. Kontraksi otot ini karena
testis kiri berputar berlawanan dengan arah jarum jam dan testis kanan berputar searah
dengan jarum jam. Aliran darah terhenti, dan terbentuk edema. Kedua keadaan tersebut
menyebabkan iskemia testis.

C. Manifestasi Klinis Torsio Testis

Nyeri akut pada daerah testis disebabkan oleh torsio testis, epididimitis/orchitis
akut atau trauma pada testis. Nyeri ini seringkali dirasakan hingga ke daerah abdomen
sehingga dikacaukan dengan nyeri karena kelainan organ intraabdominal.
Pada torsio testis, pasien mengeluh nyeri hebat di daerah skrotum, yang
sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. Keadaan itu disebut akut
skrotum. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah sehingga jika
tidak diwaspadai sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Gejala lain yang juga dapat
muncul adalah mual dan muntah, kadang-kadang disertai demam ringan. Gejala yang
jarang ditemukan pada torsio testis ialah rasa panas dan terbakar saat berkermih, dan hal
ini yang membedakan dengan orchio-epididymitis.
Pasien-pasien dengan torsio testis dapat mengalami gejala sebagai berikut :
1. Nyeri hebat yang mendadak pada salah satu testis, dengan atau tanpa faktor
predisposisi
2. Scrotum yang membengkak pada salah satu sisi
3. Mual atau muntah
4. Sakit kepala ringan
Pada awal proses, belum ditemukan
pembengkakan pada scrotum. Testis yang infark
ETIOLOGI
dapat menyebabkan perubahan pada scrotum. Scrotum akan sangat nyeri kemerahan dan
bengkak. Pasien sering mengalami kesulitan untuk menemukan posisi yang nyaman. (6)
Immobilisasi
Selain
testis nyeri

Trauma

Tumor

Adescendens

Perubahan

pada sisi
mengalami torsio,
dapat juga ditemukan
alih di
testistestis yang testis
testicularis
keadaannyeri
extreme
daerah inguinal atau abdominal. Jika testis yang mengalami torsio merupakan
undesendensus testis, maka gejala yang yang timbul menyerupai hernia strangulata.
Spasme otot kremaster

Testis berotasi bebas

Bell-clapper

Aliran darah terhenti

Iskemia testis

D. Patofisiologi Torsio Testis


Nekrosis

Nyeri menjalar ke
abdomen

Impuls dari saraf

Stimulasi mualmuntah dari

Demam

Terasa terbakar saat


berkemih

E. Penegakkan diagnosis
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat membantu membedakan torsio testis dengan penyebab
akut scrotum lainnya. Testis yang mengalami torsio pada skrotum akan tampak
bengkak dan hiperemis. Eritema dan edema dapat meluas hingga skrotum sisi
kontralateral. Testis yang mengalami torsio juga akan terasa nyeri pada palpasi. Jika
pasien datang pada keadaan dini, dapat dilihat adanya testis yang terletak transversal
atau horizontal. Seluruh testis akan bengkak dan nyeri sertatampak lebih besar bila
dibandingkan dengan testis kontralateral, oleh karena adanya kongesti vena. Testis juga
tampak lebih tinggi di dalam skrotum disebabkan karena pemendekan dari spermatic
cord. Hal tersebut merupakan pemeriksaan yang spesifik dalam menegakkan dianosis.
Biasanya nyeri juga tidak berkurang bila dilakukan elevasi testis.
Pemeriksaan fisik yang paling sensitif pada torsio testis ialah hilangnya refleks
kremaster. Dalam satu literatur disebutkan bahwa pemeriksaan inimemiliki sensitivitas
99% pada torsio testis.

2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis dengan
keadaan akut skrotum yang lain adalah dengan menggunakan stetoskop Doppler,
ultrasonografi Doppler, dan sintigrafi testis, untuk menilai aliran darah ke testis.
Stetoskop Doppler dan ultrasonografi konvensional tidak terlalu bermanfaat dalam
menilai aliran darah ke testis. Penilaian aliran darah testis secara nuklir dapat
membantu, tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga kasus bisa terlambat
ditangani. Ultrasonografi Doppler berwarna merupakan pemeriksaan noninvasif yang
keakuratannya kurang lebih sebanding dengan pemeriksaan nuclear scanning.
Ultrasonografi Doppler berwarna dapat menilai aliran darah, dan dapat membedakan
aliran darah intratestikular dan aliran darah dinding scrotum. Alat ini juga dapat
digunakan untuk memeriksa kondisi patologis lain pada scrotum.
Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin, dan
pemeriksaan darah tidak menunjukkan adanya inflamasi kecuali pada torsio yang
sudah lama dan mengalami keradangan steril.
Adanya peningkatan acute-fase protein

(dikenal

sebagai

CRP)

dapat

membedakanproses inflamasi sebagai penyebab akut scrotum (Rupp, 2006).


a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan urin dilakukan untuk menyingkirkan diagnosa infeksi traktus
urinarius pada pasien dengan nyeri akut pada skrotum. Pyuria dengan atau tanpa
bakteri mengindikasikan adanya suatu proses infeksi dan mungkin mengarah

kepada epididimitis. Selain itu perlu juga dilakukan pemeriksaan darah dan
sediment urin.
b. Pemeriksaan Radiologis
Color Doppler Ultrasonography
1) Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat aliran darah pada arteri testikularis.
2) Merupakan Gold Standar untuk pemeriksaan torsio testis dengan sensitivitas
82-90% dan spesifitas 100%.
3) Pemeriksaan ini menyediakan informasi mengenai jaringan di sekitar testis
yang echotexture\Ultrasonografi dapat menemukan abnormalitas yang terjadi
pada skrotum seperti hematom, torsio appendiks dan hidrokel.
4) Pada torsio testis, akan timbul keadaan echotexture selama 24-48 jam dan
adanya perubahan yang semakin heterogen menandakan proses nekrosis sudah
mulai terjadi.
Nuclear Scintigraphy (Saladdin, 2009):
1) Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan dilakukan untuk
melihat aliran darah testis.
2) Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran
darah yang meragukan dengan memakai ultrasonografi.
3) Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100% dalam menentukan daerah
iskemia akibat infeksi.
4) Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis negatif palsu
5) Adanya daerah yang mengandung sedikit proton pada salah satu skrotum
merupakan tanda patognomonik terjadinya torsio.
3. Dianosis Banding
Torsio testis harus selalu dibedakan dengan kondisi-kondisi lain sebagai penyebab
dari akut scrotum, antara lain :
a. Epididimitis akut
Penyakit ini secara umum sulit dibedakan dengan torsio testis. Nyeri skrotum
akut biasanya disertai dengan kenaikan suhu, keluarnya nanah dari uretra, adanya
riwayat koitus suspectus (dugaan melakukan senggama dengan selain isterinya),
atau pernah menjalani kateterisasi uretra sebelumnya. Pada pemeriksaan,
epididimitis dan torsio testis, dapat dibedakan dengan Prehns sign, yaitu jika testis
yang terkena dinaikkan, pada epididmis akut terkadang nyeri akan berkurang
(Prehns sign positif), sedangkan pada torsio testis nyeri tetap ada (Prehns sign
negative). Pasien epididimitis akut biasanya berumur lebih dari 20 tahun dan pada
pemeriksaan sedimen urin didapatkan adanya leukosituria dan bakteriuria

b. Hidrokel
Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan
parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada
di dalam rongga itu memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi
c.

dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.


Hernia incarserata
Pada anamnesis didapatkan riwayat benjolan yang dapat keluar masuk ke
dalam scrotum yang muncul bersamaan dengan keaadaan peningkatan tekanan
intraabdominal seperti batuk atau mengejan. Benjolan dapat hilang bila berbaring.
Ukuran benjolan dapat bervariasi dari kecil sampai besar, Bila hernia sudah
mengalami inkarserta maka gejala yang timbul dapat berupa mual, nyeri kolik
abdomen, konstipasi, keerahan pada skrotum, dan bila di auskultasi dapat didengat

bunyi bising usus di daerah skrotum.


d. Tumor testis
Pembesaran testis yang tidak nyeri, biasanya terjadi pada usia 20-50 tahun dan
e.

sering disertai dengan limfadenopati abdomen.


Torsio appendix testis/epididymis
Apendiks testis adalah sisa embriologi di atas testis yang juga bisa mengalami
torsio. Hal ini dapat di deteksi sebagai titik hitam pada transluminasi

F. Terapi
1. Non operatif
Pada beberapa kasus torsio testis, detorsi manual dari funikulus spermatikus dapat
mengembalikan aliran darah.
Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya, yaitu dengan
memutar testis ke arah berlawanan dengan arah torsio. Karena arah torsio biasanya ke
medial maka dianjurkan memutar testis ke arah lateral terlebih dahulu, kemudian jika
tidak terjadi perubahan dicoba detorsi ke arah medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi
menandakan bahwa detorsi telah berhasil. Detorsi manual merupakan cara terbaik
untuk memperpanjang waktu menunggu tindakan pembedahan, tetapi tidak dapat
menghindarkan dari prosedur pembedahan. Jika detorsi berhasil operasi harus tetap
dilaksanakan (Purnomo, 2003).
Dalam pelaksanaannya, detorsi manual sulit dan jarang dilakukan. Di unit gawat
darurat, pada anak dengan scrotum yang bengkak dan nyeri, tindakan ini sulit
dilakukan tanpa anestesi. Selain itu, testis mungkin tidak sepenuhnya terdetorsi atau
dapat kembali menjadi torsio tak lama setelah pasien pulang dari RS. Sebagai

tambahan, mengetahui ke arah mana testis mengalami torsio adalah hampir tidak
mungkin, yang menyebabkan tindakan detorsi manual akan memperburuk derajat torsi.
2. Operatif
Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya untuk
mempercepat proses pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari lamanya iskemia,
oleh karena itu, waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang untuk pemeriksaan
pencitraan, laboratorium, atau prosedur diagnostik lain yang mengakibatkan testis tak
dapat dipertahankan .
Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis pada arah
yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang
mengalami torsio masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis (Purnomo,
2003).
Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya untuk
mempercepat proses pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari lamanya
iskemia, oleh karena itu, waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang untuk
pemeriksaan pencitraan, laboratorium, atau prosedur diagnostik lain yang
mengakibatkan testis tak dapat dipertahankan.
Tujuan dilakukannya eksplorasi yaitu : Untuk memastikan diagnosis torsio testis
a.

Melakukan detorsi testis yang torsio

b.

Memeriksa apakah testis masih viable

c.

Membuang (jika testis sudah nonviable) atau memfiksasi jika testis masih
viable

d.

Memfiksasi testis kontralateral


Perbedaan pendapat mengenai tindakan eksplorasi antara lain disebabkan
oleh kecilnya kemungkinan testis masih viable jika torsio sudah berlangsung
lama (>24-48 jam). Sebagian ahli masih mempertahankan pendapatnya untuk
tetap melakukan eksplorasi dengan alasan medikolegal, yaitu eksplorasi
dibutuhkan untuk membuktikan diagnosis, untuk menyelamatkan testis (jika
masih

mungkin),

dan

untuk

melakukan

orkidopeksi

pada

testis

kontralateral. Saat pembedahan, dilakukan juga tindakan preventif pada testis


kontralateral.

Hal

ini

dilakukan

kemungkinan torsio di lain waktu.

karena

testis

kontralaeral

memiliki

Jika testis masih hidup, dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika
dartos kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Orkidopeksi
dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat
untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali, sedangkan pada testis yang
sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan
kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Testis yang telah
mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada dalam skrotum akan
merangsang

terbentuknya

antibodi

antisperma

sehingga

mengurangi

kemampuan fertilitas dikemudian hari.

G.

Prognosis
Bila dilakukan penangan sebelum 6 jam hasilnya baik, 8 jam memungkinkan pulih
kembali, 12 jam meragukan, 24 jam dilakukan orkidektomi. Viabilitas testis sangat
berkurang bila dioperasi setelah 6 jam.

H.

Komplikasi
Torsio testis dan spermatic cord akan berlanjut sebagai salah satu kegawat daruratan
dalam bidang urologi. Nekrosis tubular pada testis yang terlibat jelas terlihat setelah 2 jam
dari torsi. Keterlambatan lebih dari 6-8 jam antara onset gejala yang timbul dan waktu
pembedahan atau detorsi manual akan menurunkan angka pertolongan terhadap testis
hingga 55-85%. Putusnya suplai darah ke testis dalam jangka waktu yang lama akan
menyebabkan atrofi testis. Atrofi testikular dapat terjadi dalam waktu 8 jam setelah onset
iskemia. Insiden terjadinya atrofi testis meningkat bila torsio telah terjadi 8 jam atau lebih.

Komplikasi klinis dari TT adalah kesuburan yang menurun dan hilangnya testikular
apabila torsi tersebut tidak diperbaiki dengan cukup cepat. Tingkat yang lebih ekstrim dari
torsi testis mempengaruhi tingkat iskemia testikular dan kemungkinan penyelamatan
(Greenberg, 2005).
Komplikasi torsi testis yang paling signifikan adalah infark gonad. Kejadian ini
bergantung pada durasi dan tingkat torsi. Analisis air mani abnormal dan apoptosis
testikular kontralateral juga merupakan sekuele yang diketahui mengikuti ketegangan
testis. Oleh karena itu, resiko subfertilitas harus dibicarakan dengan pasien. Testis yang
telah mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada di dalam skrotum akan merangsang
terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan fertilitas dikemudian
hari. Komplikasi lain yang sering timbul dari torsio testis meliputi yaitu hilangnya testis,
infeksi, infertilitas sekunder, deformitas kosmetik (Graham, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Cuckow, PM. 2001. Torsion of Testis. BJU International (2000). The Hospital for Sick
Children ; Bristol, United Kingdom
Graham; Townell, Nick. 2010. Testicular Torsion. British Medical Journal (Overseas &
Retired Doctors Edition;7/31/2010, Vol. 341 Issue 7767, p249
Govindarajan.K.K.

2015.

Pediatric

Terticular

Torsion,

akses

di

http://emedicine.medscape.com/article/2035074-overview
Greenberg, Michael. 2005. Testicular Torsion page 329. Greenbergs Text Atlas of Emergency
Medicine. Lippicott Williams Willkins : Philadelphia
Leape.L.L . 1990. Testicular Torsion. In : Ashcraft.K.W (ed), Pediatric Urology,; Philadelphia:
W.B. Saunders Company.
Minevich.E. 2007. Testicular Torsion, Department of Surgery, Division of Pediatric urology,
akses di http://www.emedicine.com/ med/topic2780htm
Purnomo, Basuki P. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : Sagung Seto. 2003. 8,145-148.
Ringdahl, Erika MD ; Teague, Lynn MD. 2006. Testicular Torsion. American Family
Physician. University of MissouriColumbia School of Medicine: Columbia, Missouri
15;74(10):1739-1743.
Rupp.T.J. 2006. Testicular Torsion, Department of Emergency Medicine, Thomas Jefferson
University, akses di http://www.emedicine.com/med/topic2560.htm
Scott, Roy, Deane, R.Fletcher. Urology Ilustrated. London and New York : Churchill
Livingstone. 1975. 324-325.
Sjamsuhidajat R, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 2004. 799.

Timotthy,

et

al.,

Testicular

Torsion

in

Emergency

Medicine,

akses

di

http://emedicine.medscape.com/article/778086-overview
Wilson, Lorraine M. Hillegas, Kathleen B. 2006. Gangguan Sistem Reproduksi Laki-Laki
dalam Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta: EGC.
https://medlineplus.gov/ency/imagepages/1113.htm
http://www.medicineonline.com/articles/s/2/Scrotal-Orchiopexy/Testicular-TorsionRepair.html