Anda di halaman 1dari 10

CONTOH PELANGGARAN KODE ETIK

PSIKOLOGI PADA MASYARAKAT


PSIKOLOGI

Disusun Oleh:
1. Ami Purnama (14350009)
2. Erin Ariska Dafit (14350036)
3. Faqih Humaizah BK (14350037)
4. Hadjizah Pangestu (14350040)
Dosen Pengasuh:
Bpk. Rangga Rajasa, Drs. Psiko

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH


PALEMBANG
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM
TAHUN AJARAN 2015

Kata Pengantar
Assalamualaikum wr. wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena ridho-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul Contoh Pelanggaran Kode Etik Psikologi Pada Masyarakat
Psikologi. Tidak lupa pula shalawat teriring salam terhadap baginda Nabi Muhammad SAW
yang telah membawa kita dari zaman yang gelap gulita ke zaman yang terang- benderang
seperti sekarang ini.
Terima kasih pula kepada dosen pengasuh Bpk. Rangga Rajasa, Drs. Psiko yang telah
memberi bimbingan kami untuk mengurai materi yang akan kami presentasikan. Dan terima
kasih terhadap teman-teman yang telah memberi kritik dan saran untuk kesempurnaan
makalah ini.
Makalah ini tentulah belum sepenuhnya sempurna. Oleh karena itu, kami
mengharapan masukkan untuk menyempurnakan makalah ini. Atas partisipasinya kami
ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.

Palembang, 18 Mei 2015

Penyusun

Daftar Isi
KATA PENGANTAR......................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................ii
BAB1
1.1 Pendahuluan..............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................................1
1.3 Tujuan Pembahasan..................................................................................................1
BAB 2
2.1 Pasal dan Contoh Pelanggaran Kode Etik berserta Analisa Data.............................2
Pasal 28......................................................................................................................2
Pasal 29......................................................................................................................4
BAB 3
3.1 Kesimpulan...............................................................................................................6
3.2 Saran.........................................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kode etik adalah suatu acuan yang dibuat untuk beberapa profesi yang memerlukannya,
kode etik sendiri diyakini dapat menjadi barometer tindakan profesional dalam suatu profesi,
termasuk psikolog yang memerlukan kode etik psikologi untuk menjadi acuan agar dapat
bertindak selayaknya psikolog atau ilmuwan psikologi dsb. Namun, sering kali kode etik ini
disalahgunakan dan tidak diindahkan oleh seorang psikolog maupun ilmuwan psikolog
lainnya. Tidak menutup kemungkinan adanya pelanggaran yang bermacam-macam dilakukan
oleh psikolog atau ilmuwan psikologi. Oleh karena itu, makalah ini kami buat untuk
mengetahui pelanggaran apa saja yang telah dilakukan oleh para psikolog dan bagaimana
analisis dari beberapa pelanggaran tersebut dan juga bagaimana saran yang diberikan untuk
menghindari adanya pelanggaran lagi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja pelanggaran yang telah di lakukan?
2. Bagaimana analisis pelanggaran tersebut menurut pasal yang telah berlaku?
3. Bagaimana saran yang diberikan agar pelanggaran tersebut tidak terulang kembali?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui dan memahami pelanggaran yang telah dilakukan agar tidak
mengulanginya lagi
2. Untuk mengetahui dan memahami cara menganalisa kasus dari pelanggaran yang ada
dengan undang-undang yang ada
3. Untuk mengatahui dan memahami hal-hal yang harus dihindari agar tidak dapat
mengulangi pelanggaran yang sama.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pasal dan Contoh Pelanggaran yang Telah Terjadi Pada Pasal Tersebut Beserta Analisa
Kasus
Pasal 28
Pertanggungjawaban
Iklan dan pernyataan publik yang dimaksud dalam pasal ini dapat berhubungan dengan jasa,
produk atau publikasi profesional psikolog dan/atau ilmuwan psikologi di bidang psikologi ,
mencakup iklan yang dibayar atau tidak dibayar, brosur, barang cetakan, daftar direktori,
resume pribadi atau curriculum vitae, wawancara atau komentar yang dibuat dalam media,
pernyataan dalam buku, hasil seminar, lokakarya, pertemuan ilmiah, kuliah, presentasilisan di
depan publik, dan materi-materi lain yang diterbitkan.
1. Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi; dalam memberikan pernyataan kepada
masyarakat melalui berbagai jalur media baik lisan maupun tulisan mencerminkan
keilmuannya sehingga masyarakat dapat menerima dn memahami secara benar agar
terhindar dari kekeliruan penafsiran serta menyesatkan masyarakat pengguna jasa
dan/atau praktik psikologi. Pernyataan tersebut harus disampaikan dengan bijaksana,
jujur, teliti, hati-hati, lebih mendasarkan pada kepentingan umum daripada pribadi
atau golongan. Berpedoman pada dasar ilmiah dan disesuaikan dengan bidang
keahlian/kewenangan selama tidak bertentangan dengan kode etik psikologi.
2. Psikologi dan/atau ilmuwan Psikologi dalam pernyataan yang dibuat harus
mencantumkan gelar atau identitas keahlian pada karya di bidang psikologi yang
dipublikasikan sesuai gelar yang diperoleh dari institusi pendidikan yang terakreditasi
secara nasional atau mencantumkan sebutan psikologi sesuai sertifikat yang diperoleh.
3. Psikologi dan/atau ilmuwan psikologi tida membuat penyataan palsu, menipu atau
curang mengenai:
(1) Gelar akademik/ijazah
(2) Gelar profesi
(3) Pelatihan, pengalaman atau kompetensi yang dimiliki
(4) Izin Praktik dan Keahlian
(5) Kerjasama institusi atau asosiasi
(6) Jasa atau praktik psikologi yang diberikan
(7) Konsep dasar ilmiah, atau hasil dan tingkat keberhasilan jasa layanan
(8) Biaya
(9) Orang-orang atau organisasi dengan siapa bekerjasama
2

(10)

Publikasi atau hasil penelitian

Contoh Kasus Pasal 28


Kasus 1:
Pak Andry adalah seorang psikolog yang telah memiliki izin praktek di Jakarta.
Dalam praktek yang telah dilakukan dia memeberikan konseling dan intervensi
psikologi pada kliennya. Untuk menaikkan pamor psikolognya dia mengaku pernah
memberikan semacam konseling pada Agnes Monica, sehingga Agnes bisa terkenal
seperti sekarang. Menurut Pak Andry, Agnes Monica dulu adalah orang yang rendah
diri dan tidak punya cita-cita yang jelas. Pak Andry juga mempublikasikan pada
media melalui akun twitter dan blog pribadinya tentang hasil konsultasi Agnes
Monica dengan dia padahal setelah dikonfirmasi dengan pihak Agnes Monica. Agnes
bukanlah klien dari Pak Andry dan Agnes Monica tidak pernah melakukan konsultasi
dengan Pak Andry.
Analisa Kasus:
Pak Andry telah melakukan pelanggaran terkait dengan penyataannya di media
elektronik (twitter dan blog). Dia telah memeberikan keterangan palsu untuk
menaikan pamornya dalam praktek psikologi. Dia memalsukan jasa dan praktek
psikologi yang diberikan. Padahal faktanya Agnes bukanlah klien dari Pak Andry.
Pengakuan Pak Andry tersebut telah merugikan pihak Agnes Monica, karena Pak
Andry juga telah memalsukan konsultasi Agnes. Tindakannya tersebut telah
melanggar kode etik psikologi pasal 28 mengenai iklan dan pernyataan palsu terkait
dengan jasa dan praktik psikologi yang telah diberikan. Seharunya Pak Andry tidak
perlu membuat pernyataan tersebut untuk menaikkan pamornya dengan menumpang
dari nama besar Agnes Monica yang notabene adalah seorang artis terkenal.

Pasal 29
Keterlibatan Pihak lain Terkait Penyataan Publik

1. Psikologi dan/atau ilmuwan psikologi yang melibatkan orang atau pihak lain
untuk menciptakan atau menempatkan pernyataan publik yang mempromosikan
praktek profesional, hasil penelitian atau aktivitas yang bersangkutan, tanggung
jawab profesional ataus pernyataan tersebut tetap berada di tangan psikolog
dan/atau ilmuwan psikologi.
2. Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi berusaha mencegah orang atau pihak lain
yang dapat mereka kendalikan, seperti lembaga tempat bekerja, sponsor, penerbit,
atau pengelola media dari membuat penyataan yangg dapat dikategorikan sebagai
penipuan berkenaan dengan jasa layanan psikologi. Bila mengetahui adanya
pernyataan yang tergolong penipuan atau pemalsuan terhadap karya merka yang
dilakukan orang lain, psikologi dan/atau ilmuwan psikologi berusaha menjelaskan
kebenarannya.
3. Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi tidak memberikan kompensasi pada
karyawan pers, baik cetak maupun elektronik atau media komunikasi lainnya
sebagai imbalan untuk publikasi penyataannya dalam berita.
Contoh kasus Pasal 29:
Psikolog G adalah seorang psikolog yang memiliki izin praktek secara resmi dari
HIMPSI wilayah Jawa Tengah. Dia juga telah satu tahun ini melakukan praktek dan
menangani

beberapa

konseling

terkait

dengan

masalah

psikis.

Untuk

memeperkenalkan diri kepada masyarakat, psikolog G bekerja sama dengan biro iklan
yang cukup ternama di wilayahnya. Dalam kerja sama itu psikolog G memeberikan
sejumlah uang kepada biro iklan sebagai kompensasi untuk pemberitaantentang
dirinya. Pihak sponsor menerima tawaran tersebut kemudian mengiklankan psikolog
G sebagai psikolog nomor satu di Indonesia dengan kualifikasi dan keahlian yang
berlebihan dan tidak sebuah dengan kemampuan yang dimiliki oleh yang
bersangkutan. Iklan tersebut juga mengatakan bahwa psikolog G telah berpengalaman
menangani anak dengan gangguan klinis lebih dari 10 tahun. Mengetahui tantang
pemberitahuannya itu psikolog G justru semakain senang dan tetap membiarkan iklan
itu dipublikasikan pada masyarakat.
Analisa Kasus:
Sebagai seorang psikolog seharunya psikolog G tidak melakukan hal yang dapat
mencemarkan nama baik psikologi Indonesia. Seharusnya dia tidak perlu melakukan
4

tindakan atau bekerja sama dengan biro iklan untuk mempublikasikan dirinya dan
memeberikan sejumlah uan kompensasi pada biro iklan tersebut. Seharusnya psikolog
G mengkonfirmasi isi iklan tersebut, bahwa dia belum memiliki pengalaman selama
itu dalam menangani anaka dengan gangguan klinis, karena dia baru satu tahun
melakukan praktek. Maka dari itu psikolog G dapat dikenakan pelanggaran kode etik
pasal 29 mengenai keterlibatan pihak lain terkait dengan pernyataan publik.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelanggaran kode etik
psikologi ini rentan terjadi di lingkungan masyarakat psikologi. Mulai dari
pelanggaran dengan hubungan istimewa yang terjalin antara psikolog dan kliennya
sampai ke masalah publikasi melalui media cetak dan juga media masa lainnya
3.2 Saran
1. Memberikan pengarahan kepada psikolg/ilmuwan psikologi yang belum
berkompeten mengenai kode etik HIMPSI terkait kerjasama dengan teman
sejawat demi memeberikan layanan terbaik kepada penggunan jasa psikologi.
2. HIMPSI memberikan pengarahan kepada psikolg/ilmuwan psikolog \i yang belum
berkompeten mengenai kode etik psikologi dan bagaimana langka selanjutnya
ketika pemberian layanan dilakukan.

Daftar Pustaka

HIMPSI,(2010).Kode
Etik
Psikologi
Indonesia
HIMPSI).Surakarta:Pengurus Pusat HIMPSI

(Hasil

Kongres

XI

http://utamimitamii.blogspot.com/2014/10/contoh-kasus-pelanggaran-kode-etik.html?m=1
(diunduh 20 Mei 2015)
http://robikanwardani.blogspot.com/2014/02/kode-etik-psikologi-bab-vi-iklan-dan.html?m=1
(diunduh 20 Mei 2015)