Anda di halaman 1dari 15

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ikan adalah kelompok vertebrata yang paling besar jumlahnya. Ikan
mendominasi kehidupan perairan diseluruh permukaan bumi. Jumlah spesies ikan
yang telah berhasil dicatat adalah sekitar 21.000 spesies dan diperkirakan
berkembang mencapai 28.000 spesies. Jumlah spesies ikan yang hidup dipermukaan
bumi adalah 21.723 spesies, sementara jumlah spesies vertebrata yang ada
diperkirakan sekitar 43.173 spesies.
Untuk propinsi Riau produksi perikanan umum adalah sebesar 12.706,6 ton
atau 7% dari seluruh produksi perikanan Riau, dimana produksi perikanan tersebut
berasal dari kabupaten Indragiri hulu, Kampar, Bengkalis dan Indragiri hilir. Dalam
kegiatan memproduksi hasil perikanan tidak luput dari kematian terhadapat ikan
dalam proses penangkapan.
Kematian ikan di perairan umum selain kematian secara alami kini kematian
individu ikan itu sebagian besar disebabkan adanya penangkapan terutama pada
spesies ikan yang bernilai ekonomi tinggi, pencemaran yang diakibatkan oleh adanya
limbah industri, pertambangan, pertanian, pemangsaan oleh predator dari hewanhewan vertebrata dan avertebrata, serangan hama dan penyakit serta pengaruh gejala
alam seperti elnino dan gelombang tsunami.
Penyebab tinggi rendahnya angka mortalitas ini selain karena faktor kematian
secara alami juga disebabkan oleh faktor-faktor lain. Untuk jenis-jenis ikan yang
bernilai ekonomis tinggi faktor yang lain dapat berperan sebagai penyumbang

terbesar angka mortalitasnya terjadi dari pada kematian terjadi secara alami. Untuk
mengurangi tingkat kematian pada ikan disuatu perairan tentunya pendugaan populasi
juga sangat berperan penting.
Pendugaan populasi Biologi perikanan adalah sebagai upaya mengelola
sumber-sumber hasil perikanan dimasa yang akan datang. Metode pendugaan
populasi dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu secara langsung, cara ini dapat
dilakukan pada suatu kolam yang luasnya terbatas, sebab kolam tersebut dapat
dikeringkan dan ikan-ikannya dapat di tangkap dan dihitung. Sedangkan cara yang
kedua yaitu secara tidak langsung, cara ini dapat dilakukan dengan memperhatikan
pengurangan Catch per unit effort.
Berdasarkan hal diatas maka praktikan tertarik melakukan penelitian untuk
menambah pemahaman tentang tingkat kematian ikan dan menduga populasi ikan
yang berada disuatu perairan.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah untuk dapat
mengetahui:
1. Tingkat kematian/mortalitas yang disebabkan oleh pencemaran limbah
deterjen.
2. Banyaknya populasi ikan disuatu perairan yang dapat diketahui
dengan menggunakan beberapa metoda.
Sedangkan manfaat dari praktikum ini adalah untuk mengenal lebih jauh
tentang hal-hal apa saja yang mempengaruhi dalam mortalitas suatu ikan baik secara
alami maupun yang diakibatkan oleh tangan manusia dan kita juga dapat menduga

populasi ikan disuatu perairan sekaligus mengetahui perhitungan pendugaan populasi


menggunakan metode petersen, metode zoe scehnebel dan metode schumecher dan
eschmeyer. Selain itu pelaksanaan praktikum ini juga memberi informasi dari hasil
praktikum yang dapat diterapkan kepada pembaca.
1.3. Hipotesis
H0: Tidak ada pengaruh lama waktu dan perbedaan kadar pemberian sabun deterjen
pada air terhadap ketahanan hidup ikan.
H1: Ada pengaruh lama waktu dan perbedaan kadar pemberian sabun deterjen pada
air terhadap ketahanan hidup ikan.
1.4. Rumusan Masalah
Ikan nila dikenal sebagai ikan yang sangat tahan terhadap perubahan
lingkungan, pertumbuhannya cepat, cocok dipelihara diperairan tenang, kolam
maupun bendungan, selain perairan tawar juga ditemukan hidup dan berkembangbiak
pada perairan payau. Melihat dengan kondisi saat ini banyaknya limbah deterjen yang
dialirkan pada suatu perairan dan hal ini tidak dapat diketahui apakah berpengaruh
terhadapat ketahanan hidup ikan. Berdasarkan hal tersebut penulis dapat merumuskan
masalah mengenai lama waktu dan pengaruh pemberian deterjen disuatu perairan.

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

Ahmad (2012) menyatakan bahwa ikan nila diklasifikasikan kedalam filum


chordata, sub-filum vertebrata, kelas osteichthyes, sub-klas acanthoptherigii, ordo
percomorphi, sub-ordo percoidea, famili cichilidae, genus oreochromis, spesies
Oreochromis niloticus.
Manda et al (2016) menyatakan bahwa pada umumnya jenis-jenis ikan dari
keluarga Cichilidae mempunyai tubuh yang bentuknya lonjong dan badannnya tinggi,
kepalanya besar. Mulutnya lebar, mempunyai bibir yang tebal. Sisiknya bear-besar dan
kasar, gurat sisi terputus dibagian tengah-tengah badan. Sirip punggung dan sirip dubur
mempunyai beberapa jari-jari keras yang tajam seperti duri.
Emelia (2013) menyatakan bahwa bentuk ikan nila adalah pipih memanjang
kesamping, mempunyai garis pada sirip ekor. Pada sirip punggung terdapat duri-duri
tajam, mata menonjol dan relative besar dengan bagian tepi mata berwarna putih, garis
linnea lateralis terputus dan dilanjutkan dengan garis yang terletak dibawah.
Rahmat (2014) menyatakan bahwa ikan nila dikenal sebagai ikan yang sangat
tahan terhadap perubahan lingkungan, pertumbuhannya cepat, cocok dipelihara
diperairan tenang, kolam maupun bendungan, selain perairan tawar juga ditemukan hidup
dan berkembangbiak pada perairan payau. Kebiasaan makan ikan nila termasuk golongan
omnivore (pemakan segala jenis makanan), tetapi lebih cenderung memakan makanan
yang berasal dari tumbuhan. Ikan nila dapat hidup pada PH 5-11, namun normalnya pada
PH 7-8 dan ikan ini sering dijumpai diperairan rawa yang ber-PH asam.

5
III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Perikanan ini telah dilaksanakan pada hari Rabu, 30 November
2016 dimulai dari pukul 14.00 s/d selesai. Praktikum ini diadakan dilaboratorium Biologi
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
3.2. Alat Dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah nampan, toples 3 buah,
kain lap, laporan sementara, buku praktikum, gunting bedah dan alat tulis. Sedangkan
bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah sabun deterjen dan ikan nila
(Oreochromis niloticus).
3.3. Metode Penelitian
Metode yang dipergunakan pada praktikum ini adalah metode langsung dimana
objek diteliti dan diamati secara langsung oleh praktikan guna diambil datanya sesuai
dengan tuntunan yang terdapat didalam buku penuntun praktikum.
3.4. Prosedur Pratikum
1. Untuk melakukan pendugaan populasi hal pertama uang harus dilakukan adalah
dengan menyiapkan toples yang berisi 9 ekor ikan dan dilakukan penangkapan.
2. Selama penangkapan praktikan dilarang melihat dan mata ditutup. Setelah ikan
ditangkap dihitung jumlah yang tertangkap dan diberi tanda berupa pemotongan sirip
ekor.
3. Kemudian ikan yang diberi tanda dilepaskan, dilakukan penangkapan lagi dan hitung
jumlah ikan yang bertanda dan yang belum bertanda. Percobaan ini dilakukan
sebanyak 10 kali. Setelah itu, dicatat hasil nya pada laporan sementara dan dicari hasil

6
tangkapan menggunakan metode petersen, metode zoe scehnebel, metode schumecher
dan eschmeyer. Setelah praktikum pendugaan populasi ikan dilakukan barulah kita
melaksanakan praktikum mortalitas ikan.
4. Disiapkan 3 buah toples yang berisi air dan masing-masing toples di isi dengan 3 ekor
ikan nila.
5. Setelah itu dimasukan pada toples II 1 gr sabun deterjen, toples III 2 gr sabun deterjen
dan toples I sebagai kontrol.
6. Kemudian dicatat bukaan mulut, denyut jantung, gerakan sirip, operculum, permukaan
tubuh, warna insang, warna jantung dan warna visceral.
7. Diamati perubahannya dari 5 menit pertama, 10 menit kedua dan 15 menit terakhir
dan dicatat hasil yang didapat kedalam laporan sementara.

7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan selama praktikum yakni pada pendugaan populasi
dan mortalitas ikan diperoleh data sebagai berikut:
4.1.1. Pendugaan Populasi Ikan Nila (Orheochromis niloticus)
Tabel.1 Perhitungan hasil tangkapan ikan nila (Orheochromis niloticus) yang bertanda
dan ikan yang tidak bertanda
Penangkapan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

u+r
2
4
1
3
1
0
1
1
2
0

u
2
3
0
2
0
0
1
1
0
0

r
0
1
1
1
1
0
0
0
2
0
6

m
0
2
5
5
7
7
7
8
9
9

m(u+r)
0
8
5
15
7
0
7
8
18
0
68

m2 (u+r)
0
16
25
675
49
0
49
64
162
0
1.040

Hasil perhitungan tangkapan mengunakan:


1. Metode Petersen
P1

m (u r)
r

P3

m (u r)
r

0
0

P2

m (u r)
r

8
1

5
1

mr
0
2
5
5
7
0
0
0
18
0
37

8
=
P4

m (u r)
r

P6

m (u r)
r
15
1

= 15
P7

m (u r)
r

P9

m (u r)
r

7
0

=
P10

= 1
P5

=5

m (u r)
r

7
1

= 7
P8

0
0

m (u r)
r

8
0

18
2

= 9

m (u r)
r

0
0

=
2. Metode Scehnebel
m (u r)
P
r

68
6

= 11,33

3. Metode schumecher dan eschmeyer


m 2 (u r)
P
mr

1.040
37

= 28,11

9
4.1.2. Mortalitas Ikan Nila (Orheochromis niloticus)
Tabel.2 Pengamatan mortalitas pada ikan nila (Orheochromis niloticus)
Ikan

Gerakan
sirip

Bukaan
mulut

Operculum

Denyut Permukaan
jantung
tubuh

Normal

Normal

Normal

normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Mulai

Agak
Agak cepat

Cepat

Pucat

cepat

cepat

Cepat

Cepat

Cepat

Cepat

Pucat

Melambat

Cepat

Cepat

Cepat

Pucat

Normal

Normal

Normal

Cepat

Normal

Cepat

Cepat

Cepat

Normal

Pucat

Sangat

Sangat

cepat

cepat
Sangat

Ikan
kontrol
Ikan A
(1 gr)
5
menit
10
menit
15
menit
Ikan B
(2 gr)
5
menit
10

Sangat
Cepat

menit
15

Melambat
menit

Cepat
cepat

Pucat
cepat
Cepat

Pucat

warna
tubuh insang visceral
Merah Merah
Normal
segar
segar
Merah Merah
Normal
segar
segar
Merah Merah
Pucat
hati
hati
Merah Merah
Pucat
hati
hati
Merah Merah
Pucat
hati
hati
Merah Merah
Normal
segar
segar
Merah Merah
Pucat
hati
segar
Merah Merah
Pucat
hati
hati
Merah Merah
Pucat
hati
hati

10
4.2. Pembahasan
4.1. Pendugaan Populasi
Rahmat (2014) menyatakan bahwa ikan Nila merupakan ikan yang dapat hidup
dilingkungan air tawar, air payau dan air asin. Kadar garam yang disukai antara 0 5%,
nilai Ph air tempat hidup ikan berkisar antara 6 8,5 tapi pertumbuhan optimalnya terjadi
pada Ph 8 dengan suhu antara 25 30o c, oleh karena itu ikan nila cocok dipelihara
didataran rendah sampai agak tinggi (500 cm).
Menurut Manda et al (2016), Keberadaan suatu populasi dalam perairan dapat
diduga melalui metode pendugaan populasi yang terbagi dua yaitu secara langsung yang
dilakukan dengan pengeringan pada suatu kolam yang luarnya terbatas dan dihitung satu
per satu, selain itu dapat dilakukan dengan pemotretan gerombolan ikan-ikan pelagis
yang hidup di laut dan dapat mengetahui kepadatannya. Secara tidak langsung, dengan
memperhatikan pengurangan Catch per Unit Effort. Dalam perhitungan menggunakan
metode regresi dari De Lury, Leslie dan Davis. Dan dapat juga dengan metode penandaan
(marking dan tagging).
Emelia (2013) menyatakan bahwa ada beberapa pertimbangan yang harus
diperhatikan dalam percobaan pemberian tanda pada ikan adalah tujuan percobaan
pemberian tanda, lamanya percobaan, cara-cara mengembalikan ikan bertanda, macammacam dan jumlah ikan yang terlihat dan tenaga yang tersedia. Metoda dalam
penghitungan

pendugaan

populasi

ada

tiga

yaitu

metoda

Petersen

(sensus

tunggal),metoda Zoe schanabel (sensus ganda) dan metoda Schumecher dan Eschmeyer.
4.2. Mortalitas Ikan
Individu-individu ikan sebelum mengalami kematian akibat terkena limbah
biasnya akan memperlihatkan pergerakan atau tingkah laku yang berbeda ketika

11
lingkungan hidupnya tercemar. Pada ikan yang dipraktikumkan gerakan renang selalu
tidak beraturan dan arahnya tidak menentu.

Adakalanya pergerakan ikan itu akan

membentur dinding aquarium atau tempat dimana ikan itu berada yang akan
mengakibatkan timbul luka pada permukaan tubuh sehinggga keadaan itu membantu
mempercepat proses kematian individu ikan didalam aqauarium, keramba atau jaring
apung. Karena pada saat itu kemampuan ikan untuk mengikat oksigen sudah semakin
sulit dan sebagian bahan pencemar sudah terbawa darah keotak dan sistem syaraf.
Ahmad (2012) menyatakan bahwa kematian individu ikan didalam populasi pada
habitat tertentu dapat terjadi mulai dari telur ikan yang baru dilepas keperairan atau yang
lelah di buahi, dimasa larva, ikan dewasa dan ikan yang tua siap untuk mati secara alami.
Pemusnahan masih dalam bentuk telur selalu terjadi pada telur-telur ikan ovipar yang
bersifat pelagis. Telur-telur yang mengalami pemusnahan itu dapat terjadi pada telur-telur
ikan yang belum ataupun yang sudah dubuahi. Angka mortalitas yang tinggi selalu terjadi
pada tahap tahap larva sampai individu ikan menjadi dewasa. Adapun penyebab
mortalitas atau kematian secara masal yang berada disuatu habitat tertentu adalah predasi,
penyakit, pencemaran, pemusnahan secara fisik oleh mesin atau manusia dan gejala alam
yang berpengaruh secara langsung. Sedbgakan pengaruh yang tidak langsung adalah dari
faktor makanan, kondisi lingkungan yang kurang menyenangkan, beberapa jenis parasit
dan tekanan sosial.

12
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil hipotesis H0 yang menyatakan tidak ada pengaruh lama waktu dan
perbedaan kadar pemberian sabun deterjen pada air terhadap ketahanan hidup ikan
ternyata salah. Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan bahwa H1 yang
menyatakan ada pengaruh lama waktu dan perbedaan kadar pemberian sabun deterjen
pada air terhadap ketahanan hidup ikan. Jadi hipotesis H1 lah yang bisa diterima dan
terbukti kebenrannya.
2. Dari hasil pratikum yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa dalam dalam
pendugaan populasi suatu ikan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung. Adapun metode yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah mertode
penandaan yang terdiri atas marking dan tagging.
3. Dalam perhitungannya digunakan beberapa metode yaitu metode Petersen, metode Zoe
Scahnabel dan metode Schumecher dan Eschmeyer. Adapun tujuan dari pelaksanan
praktikum ini adalah untuk menduga populasi ikan disuatu perairan, melihat bias dari
masing-masing metode dan upaya dalam mengelola sumber-sumber hasil perikaan
dimasa yang akan datang.
5.2. Saran
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sudah maju dan
modren diharapkan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pratikum ini cukup
memadai sehingga memudahkan dalam objek yang akan kita teliti.

13
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, N. 2012. Laporan Praktikum Biologi Perikanan Penentuan Umur Ikan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru
Emelia, N. 2013. Laporan Praktikum Ikhtiologi Penggolongan, Bentuk Tubuh dan
Bagian Luar Tubuh Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru
Manda Ridwan Putra, Chaidir P. Pulungan, Windarti, Deni Efrizon, 2016. Penuntun
Praktikum Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru
Rahmat, A. 2014. Laporan Praktikum Biologi Perikanan Penentuan Umur Ikan. Fakultas
perikanan dan ilmu kelautan. Pekanbaru

14

LAMPIRAN

Lampiran.1 PROSEDUR Praktikum


Untuk melakukan
pendugaan populasi, ikan
berada didalam toples
ditangkap menggunakaan
saringan. Dilakukan tanpa
melihat.

15

Selanjutnya ikan dibagi


kedalam 3 toples yang mana
tiap toples berisi tiga ikan.
Toples pertama merupakan
kontrol dan toples 2 dan 3
adalah perlakuan yang
diberikan.

Perlakuan A diberikan sabun


deterjen sebanyak 1gr dan B 2gr
secara bersamaan. Air diaduk rata
dan dihitung berapa lama ikan
tersebut mengalami kematian.

Selanjutnya ikan yang sudah


ditangkap dilakukan proses
penandaan dengan memotong bagian
sirip ekor. Penangkapan dilakukan
sebanyak 10 kali.

Setelah 5 menit pertama ikan


dimasukkan kenampan satu
per satu sampai 10 menit
berikunya dan 15 menit
terakhir.

Selanjutnya ikan dibedah


dan dilihat bukaan mulut,
denyut jantung, gerakan
sirip, operculum, permukaan
tubuh, warna insang, warna
jantung dan warna visceral
Setelah semua proses
perhitungan dilakukan hasil
dicatat kedalam laporan
sementara

Beri Nilai