Anda di halaman 1dari 8

DERET BALMER PADA SPEKTRUM HIDROGEN

Bunga Farida (140310140008), Sheila Azhari (140310140004)


Program Studi Fisika,FMIPA Universitas Padjadjaran
1 November 2016
Assisten : Zeri Raihanati

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan deret balmer. Dimana tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan panjang gelombang H
(merah), H (hijau kebiru-biruan), dan H (biru). Dimana pada praktikum kali ini kita menggunakan 3 buah lampu yaitu lampu
argon, neon, dan hidrogen. Dimana tiap tiap lampu tersebut mempunyai karakteristik warnanya masing-masing. Dimana pada
praktikum deret balmer ini kita menghitung jarak dari terang pusat untuk kanan dan kiri dari masing masing warna. Dimana dari
hasil praktikum didapat data, contohnya pada lampu neon. Untuk jarak a 10 cm didapat untuk warna merah nilai kanan kiri
berturut turut adalah 200, 250 dan kanan dan kiri berturut-turut 5,78 x 10-7 m, 7,09 x 10-7 m, pada lampu hydrogen untuk jarak a =
10 cm diperoleh kanan kiri berturut-turut adalah 280,300 dan kanan dan kiri berturut-turut 8,03 x 10-7 m dan 8,68 x 10-7 m
begitupun dengan lampu argon untuk warna merah diperoleh kanan kiri berturut-turut adalah 30,90 dan 30,70 dan kanan dan
kiri berturut-turut 8,57 x 10-7 m dan 8,52 x 10-7 m
Kata kunci : Deret balmer, spektrum warna nilai , panjang gelombang

I. PENDAHULUAN
.
Jika sebuah gas diletakkan di dalam tabung
kemudian arus listrik dialirkan dialirkan ke dalam
tabung, gas akan memancarkan cahaya. Cahaya yang
dipancarkan oleh setiap gas berbeda-beda dan
merupakan karakteristik gas tersebut. Cahaya
dipancarkan dalam bentuk spektrum garis dan bukan
spektrum yang kontinu. Kenyataan bahwa gas
memancarkan cahaya dalam bentuk spektrum garis
diyakini berkaitan erat dengan struktur atom. Dengan
demikian, spektrum garis atomatik dapat digunakan
untuk menguji kebenaran dari sebuah model atom
Spektrum garis membentuk suatu deretan warna
cahaya dengan panjang gelombang berbeda. Untuk
gas hidrogen yang merupakan atom yang paling
sederhana. spektrum garis dan bukan spektrum yang
kontinu. Pada praktikum deret balmer ini akan
ditentukan nilai panjang gelombang H, H, H dari
besarnya pita spektrum yang dihasilkan.

II. TEORI DASAR


Atom hidrogen merupakan atom yang
memiliki struktur paling sederhana yaitu terdiri atas 1
elektron dan satu proton. Kesederhanaan dari struktur
ini menghasilkan spektrum yang sederhana pula
sehingga lebih mudah untuk diamati dan dipelajari.
Untuk dapat mengamati spektrum atom hidrogen

dilakukanlah suatu percobaan dengan menggunakan


gas hidrogen pada tabung bertekanan rendah seperti
yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar.1 Skema Lampu Hidrogen


Tabung hidrogen dihubungkan dengan beda
potensial tertentu sehingga dihasilkan atom-atom
hidrogen dan memancarkan cahaya. Cahaya tersebut
diteruskan pada sebuah celah sempit agar terpolarisai
dan dibiaskan melalui prisma kaca. Hasil pembiasan
dari prisma akan ditangkap oleh layar. Ternyata
spektrum yang dihasilkan dari percobaan ini adalah
spektrum garis.[1]
Panjang gelombang yang dihasilkan pada
spektrum atom hidrogen dipengaruhi oleh transisi
elektron dari kulit ke kulit dengan mengikuti
persamaan berikut:

1
1
1
2 )
= R(
2

n m
Dengan :

= panjang gelombang yang dihasilkan spekrum atom


hidrogen
R = tetapan Rydberg (1,097107 m-1)
n = kulit elektron yang dituju
m = kulit elekron mula-mula atau asal

tabel 1. menentukan Panjang Gelombang dari Lampu


Neon dengan Variasi Jarak sebesar 10 cm, 20cm dan
30 cm

Panjang gelombang yang dihasilkan dari


spektrum atom hidrogen merupakan sebuah bilangan
istimewa yang menghasilkan sebuah deret yang
disebut deret spektral. Deret spektral yang pertama
ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama J.J Balmer
pada tahun 1885 ketika dia sedang mempelajari
bagian sinar tampak pada spektrum atom hidrogen.
Balmer menemukan bahwa cahaya sinar
tampak dihasilkan pada transisi elektron dari berbagai
kulit luar menuju kulit ke-2 (n=2). Selanjutnya
beberapa ilmuwan seperti Lyman, Paschen, Bracket,
dan Pfund menemukan beberapa deret lain yang
terletak pada daerah panjang gelombang berbeda[1]
Deret Balmer terbentuk pada transisi elektron
dari kulit luar menuju kulit ke-2 lintasan electron
n = 2 m = 3,4,5,6,7,8,..
Rumus Balmer untuk panjang gelombang dalam deret
ini memenuhi

1 1
1

= R(
)n=

22 m 2
2,3,4,5

dengan n = 3, garis H

Garis H bersesuaian
dengan n = 4, dan seterusnya. Batas deret bersesuaian
dengan n = tak hingga sehingga pada ketika itu
panjang gelombangnya ialah 4/R sesuai dengan
eksperimen.[1]
III.

Grafik 1. Hubungan b(cm) terhadap a(cm) untuk Neon

tabel 2. menentukan Panjang Gelombang dari Lampu


Hidrogen dengan Variasi Jarak sebesar 10 cm, 20cm
dan 30 cm

Percobaan
Pada percobaan mengenai deret balmer pada
spektrum hidrogen ini dilakukan pengukuran jarak
spektrum warna ke terang pusat dengan variasi lampu
(lampu hidrogen, argon, dan neon) dan variasi jarak
kisi ke layar sebesar 10 cm,20 cm dan 30 cm. Warna
yang dihasilkan tiap lampu akan berbeda.
IV. DATA DAN ANALISIS

4.1. Data Hasil Percobaan

Grafik 2. Hubungan b(m) terhadap a(m) untuk Hidrogen

tabel 3. menentukan Panjang Gelombang dari Lampu


Neon dengan Variasi Jarak sebesar 10 cm, 20cm dan
30 cm

Grafik 3.. Hubungan b(m) terhadap a(m) untuk Argon

4.2. Analisa Data


Berdasarkan praktikum deret balmer pada spektrum
hidrogen dimana pada praktikum kali ini bertujuan
untuk menentukan panjang gelombang H (merah),
H (hijau kebiru-biruan), dan H (biru). Dimana
lampu yang kita gunakan adalah argon, neon, dan
hidrogen. Pada praktikum kita memvariasikan a (jarak
kisi ke layar) nya adalah 10 cm, 20 cm, dan 30 cm.
Dimana variasi a ini akan berpengaruh pada
perhitungan nya. Dimana dapat ditentukan dari
persamaan arc b/a. Dimana b adalah jarak dari terang
pusat untuk kiri dan kanan yang kita hitung, dan a nya
sendiri adalah jarak kisi ke layar. Dari persamaan
diatas dapat kita lihat bahwa makin jauh jarak kisi
kelayar maka nilai nya akan semakin kecil,
behitupun sebaliknya, makin dekat jarak kisi kelayar

maka nilai nya akan makin besar. Seperti warna


merah,hijau dan biru (kanan) pada Lampu Neon
dengan jarak a = 10 cm bernilai 20o , 17o,14o dengan
Panjang Gelombang yang diperoleh yaitu 5x10-7m,
4.93 x 10-7m,4.04 x10-7m menunjukan bahwa
Hubungan dan yang sebanding Untuk hasil
pengukuran dari terang pusat untuk kanan dan kiri
sendiri hasilnya tidak jauh berbeda, hal ini telah sesuai
dengan teori yang ada. Dari hasil nya sendiri dari
hasil perhitungan didapat untuk spektrum cahaya
merah paling besar, kemudian hijau dan terakhir biru.
Hal ini telah sesuai dengan literature dimana Panjang
gelombang merah merupakan panjang gelombang
yang paling besar kemudian hijau dan terakhir biru
Jika melihat spectrum warna yang terbentuk
dari Lampu Neon,Argon dan Hidrogen terlihat bahwa
Spektrum warna yang bervariasi berada pada Neon
dan Argon Hal ini dipengaruhi oleh atom-atom pengisi
unsur tersebut. Argon memiliki nomor atom 18, neon
10, dan hidrogen 1. Dari sini terlihat bahwa semakin
besar nilai atom, maka spektrum warna yang
dihasilkan semakin banyak dan jarak warna 1 ke
warna yang lainnya berimpit[2]. Untuk lampu argon
dan lampu neon, warna merah, hijau, dan biru dapat
dengan mudah diamati. Sedangkan untuk lampu
hidrogen, yang dapat teramati hanya warna merah dan
biru. Sebenarnya warna-warna lain juga ada namun
saling berimpit hingga membentuk cahaya putih. Jika
diamati jarak warna dari terang pusat, semakin besar
panjang gelombang warna maka semakin jauh jarak
dari pusatnya.
Jika dilihat grafik yang dihasilkan (teori).
Dari grafik yang dihasilkan terlihat bahwa hubungan
antara b (jarak warna dari terang pusat) dengan a
(jarak kisi dengan layar) saling berbanding lurus.
Ketika a semakin besar maka b akan semakin besar
pula. Dan kemiringan dari grafik tersebut adalah nilai
panjang gelombangnya. Karena panjang gelombang
ini dipengaruhi kemiringan grafik maka dapat dilihat
hubungan bahwa semakin besar kemiringannya akan
semakin besar panjang gelombang yang dihasilkan.
Dan hasil perhitungan pun menunjukan hal yang sama
dengan teorinya

V. SIMPULAN
Setelah melakukan percobaan mengenai deret
balmer pada spektrum hidrogen, dapat disimpukalkan
bahwa percobaan untuk :

H = 7x10-7 (neon) ; 8.52x10-7 (neon) ; 8.68x10-7


(hidrogen)
H = 7.2x10-7 (argon) ; 6.2x10-7 (neon) ; 4.80634x107

H = 5.85x10-7 (argon) ; 5.5x10-7 (neon). 3.66x10-7


(Hidrogen)

DAFTAR PUSTAKA
[1] 4muda. 2015.Spektrum Atom Hidrogen.
http://4muda.com/spektrum-atom-hidrogen/
Diakses 31 Oktober 2016 (jam 10.00 wib)
[2] anonym.2015. Sifat dasar Atom. Http
://www.chemistry.org/materi kimia/struktur atom dan
ikatan/sifat dasar atom/spektrum emisi atom hidrogen/
Diakses 31 Oktober 2016 (jam 20.00 wib)

Grafik Hubungan Konduktivitas() dengan Suhu (T) untuk I = 6mA

2
Konduktivitas(
tot (1/m)

1
0

Linear
f(x) =(tot
0.01x(1/m))
- 0.52
R = 0.91
0
50 100 150
suhu (T)

Grafik 4.hubungan Konduktivitas terhadap suhu

tabel 3. menentukan Konduktivitas dan Energi Gap


pada I = 7mA

Grafik Tegangan (naik) Terhadap Suhu Untuk I = 7mA

10
Grafik Tegangan (naik) Terhadap Suhu Untuk I = 6mA

10
Tegangan
Vnaik(V)
(V)

f(x) =
- 0.09x
+ 33.56
Linear
(Vnaik
(V))
R
=
0.88
0
300 320 340 360 380

5
Vnaik (V)
0
300

tegangan (V)

f(x) = - 0.11x + 41.95


Linear (Vnaik (V))
R = 0.88
320

340

360

380

suhu (K)

Suhu (K)

Grafik 3. Hubungan tegangan (V) terhadap suhu (K)

Grafik 5. Hubungan tegangan (V) terhadap suhu (K)

Grafik Hubungan Konduktivitas() dengan Suhu (T) untuk I = 7mA

1.5
1
f(x) =(tot
0.01x(1/m))
- 0.61
Konduktivitas(
tot (1/m) 0.5Linear
0

Begitupun dengan Grafik Konduktivitas terhadap suhu


terlihat bahwa semakin besar Temperaturnya maka
diperoleh konduktivitas yang semakin besar pula.
Namun untuk energi gap kebalikan dari pada
konduktivitas.

R = 0.89

50 100 150
SUHU (t)

V. SIMPULAN
1.

Grafik 6.hubungan Konduktivitas terhadap suhu

4.2. Analisa Data


Pada Percobaan pertama adalah memasang
modul sesuai dengan prosedur percobaan dan
melakukan percobaan dengan variasi I = 5mA dengan
pengesetan suhu dari 37oC sampai dengan 103oC
dengan rentang 3oC berdasarkan tabel data pada T =
37oC ; 40 oC;43 oC;46oC;49oC;52oC;55oC;58oC;61
o
C;64oC;67oC;DiperolehV=6,7V;6V;5,1V;4,5V;3,1V;2,
7V;2,5V;2,2V;1,9V dari data tersebut berdasarkan
perhitungan diperoleh konduktivitas sebesar
(1/m)=(0.074;0.083;0.097;0.10;0.125;0.135;0.16;0.1
85;0.21;0.24;0.285) dengan Eg (Ev) =
(0.180;0.175;0.17;0,16; 0.158;0.155;0.146;0.140;
0.133;0.127;0.118) dari data tersebut menunjukan
bahwa konduktivitas yang dihasilkan semakin
meningkat seiring dengan peningkatan temperaturnya
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
konduktivitas sebanding dengan temperaturnya. Untuk
energi gap yang dihasilkan terlihat semakin berkurang
disetiap kenaikan suhunya Hal ini sesuai dengan teori
dimana energi gap kecil, maka elektron dari pita
valensi akan lebih mudah berpindah ke pita konduksi,
ketika elektron yang dihasilkan di pita konduksi
semakin banyak maka arus yang dihasilkan semakin
besar
Untuk mengamati pengaruh suhu terhadap
tegangan, dapat dilihat dari grafik tegangan terhadap
suhu. Dari grafik terlihat bahwa terdapat hubungan
berbanding terbalik antara tegangan dengan suhu.
Ketika suhu semakin kecil maka tegangan yang
dihasilkan akan semakin besar. Hal ini sesuai dengan
teorinya, dimana ketika suhu yang diberikan kecil,
maka tegangan dari germanium masih besar sehingga
energi gapnya besar. Tetapi ketika suhu yang diberikan
besar, maka tegangan akan mengecil sehingga
menyebabkan energi gapnya mengecil pula.

Praktikan dapat melakukan eksperimen untuk


memperoleh band gap semikonduktor
Germanium.dengan cara melakukan
pengesetan pada alat dengan pengaturan arus
sehingga dapat dillihat tegangan yang
dihasilkan. Pada percobaan tegangan semakin
menurun seiring dengan peningkatan suhu
yang menunjukan bahwa terjadinya
perpindahan electron yang semakin
meningkat pada pita valensi ke pita konduksi
sebagai sampelV=6,7V;6v;5,1v;4,5mVpada I =
6mA

2.
3.

4.

Konsep energi gap semikonduktor


berhubungan dengan konduksi intrinsik dan
konduksi ekstrinsik.
nilai energi gap dari semikonduktor
(Germanium) berdasarkan hasil
eksperimen.dimana diperoleh Eg sebesar Ev)
= 0.180 pada I = 5mA dan suhu sebesar 37oC;
menunjukan semakin berkurang seiring
kenaikan suhu sebagai sampel dengan Eg
(Ev) = 0.180;0.175; pada T =37oC;40 oC
Suhu berpengaruh terhadap energi gap
Germanium, dimana kenaikan suhu akan
menurunkan nilai energi gap. menunjukan
semakin berkurang seiring kenaikan suhu
sebagai sampel dengan Eg (Ev) =
0.180;0.175; pada T =37oC;40 oC

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2014.TeoriPitaEnergi.www.scribd.com/doc/9
7344230/teori-pita-energi diakses 3 oktober 2016
Anonim.2014.Bandgap.www.slideshare.net/gam79/lap
oran-awal-band-gap diakses 3 oktober 2016