Anda di halaman 1dari 9

PROGRAM STUDI MUAMALAH

JURUSAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AN-NAWAWI
PURWOREJO
2013
MAQOSHID SYARIAH IBNU TAIMIYYAH

A. PENDAHULUAN
Allah SWT menurunkan syariat (hukum) Islam untuk mengatur kehidupan manusia,
baik selaku pribadi maupun selaku anggota masyarakat.
Syekh Ibnu Taimiyyah adalah salah seorang ulama yang sangat populer, sehingga tidak
mengherankan jika ulama-ulama sesudahnya banyak menerjemahkan biografi, prestasi, dan
keberhasilan yang beliau peroleh. karena itu banyak buku-buku yang memaparkan perjalanan
hidupnya, baik yang berbentuk artikel maupun yang berbentuk buku biografi. Seperti
kharismatik beliau dalam pandangan para ulama, ide-ide dan pemikiran beliau yang cukup
populer. Dalam makalah ini penulis akan menyebutkan sedikit tentang selayang pandang
kehidupan beliau.
Semua hukum, baik yang berbentuk perintah maupun yang berbentuk larangan, yang
terekam dalam teks-teks syariat bukanlah sesuatu yang hampa tak bermakna. Akan tetapi
semua itu mempunyai maksud dan tujuan, dimana Tuhan menyampaikan perintah dan
larangan tertentu atas maksud dan tujuan tersebut. Oleh para ulama hal tersebut mereka
istilakan dengan Maqashid al-syariah
Maqosid syariah berarti maksud dan tujuan disyariatkan hukum Islam, karena itu
menjadi bahasan utama di dalamnya adalah mengenai masalah hikmah dan illat
ditetapkannya suatu hukum. Adapun menurut istilah syariah, maqosid syariah adalah
kemaslahatan yang ditujukan kepada manusia baik di dunia maupun di akhirat dengan cara
mengambil manfaat dan menolak mudhara. Pada kesempatan kali ini pemakalah sedikit akan
menguraikan penjelasan-penjelasan mengenai maqashid syariah menurut imam ibnu
Taimiyyah.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Maqosidu Syariah
Secara etimologi, Maqashid as-Syariah berarti maksud/ tujuan disyariatkan hukum Islam.
Menurut Istilah identik dengan istilah filsafat hukum Islam.
Adapun dalam mendefinisikan maqasid syariah menurut para ulama berbeda pendapat
1) Menurut Wahbah al Zuhaili, Maqasid Al Syariah berarti nilai-nilai dan sasaran syara yang
tersirat dalam segenap atau bagian terbesar dari hukum-hukumnya. Nilai-nilai dan sasaransasaran itu dipandang sebagai tujuan dan rahasia syariah, yang ditetapkan oleh al-Syari
dalam setiap ketentuan hukum.Adapun yang menjadi bahasan utama maqashid as-syariah
adalah hikmat dan illat ditetapkannya suatu hukum.
2) Menurut al-Juwaini, seseorang tidak dapat dikatakan mampu menetapkan hukum dalam
Islam sebelum memahami benar tujuan Allah menetapkan perintah-perintah dan laranganlarangan-Nya. Menurut al-Ghazali, mashlahat adalah memelihara maksud al-Syari (pembuat
hukum).
3) Menurut Izzuddin bin Abd Salam, tujuan hukum adalah darul mafashid wa jalbul manafi
(ada yang menyebut mashalih) yang artinya menghindari mafsadat dan menarik manfaat
(kemaslahatan).
4) Menurut Syathibi tujuan akhir hukum tersebut adalah satu, yaitu mashlahah atau kebaikan
dan kesejahteraan umat manusia.[3] Imam Al-Syathiby telah melihat maqashid syariah dari
dua sisi: wujud dan adam atau the presence and the absence. Dalam bukunya AlMuwafaqat beliau mengatakan bahwa: Menjaga maqashid syariah harus dengan dua hal.
Pertama, menegakkan pondasi dan tiangnya sebagai bentuk perhatian terhadap al-wujud.
Kedua, menangkal kerusakan yang akan terjadi atau diperkirakan akan terjadi sebagai bentuk
perhatian terhadap al-adam. Hanya saja ide dasar ini masih memerlukan uraian, penjelasan
dan penjabaran yang dapat menghubungkannya dengan realita kehidupan umat dari masa ke
masa.
5) Di antara ulama yang melihat maqashid syariah dengan cara pandang double vision
correlation adalah Imam Ibnu Taimiyah. Dalam pandangan beliau membangun al-wujud

adalah dasar, sedangkan menjaga al-adam merupakan pelengkap. Sisi pertama adalah tujuan
utama, sedangkan sisi kedua adalah tujuan pelengkap.
Dari beberapa pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa pada dasarnya al-Syari
menentukan suatu hukum syara dengan maksud/ tujuan untuk maslahah (kebaikan) manusia
2. Biografi Imam Ibnu Taimiyyah
Ibnu Taimiyah. Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abu Abbas Ahmad Ibnu Abdul
Halim Ibnu Abdullah Ibnu Taimiyyah al-Harrani. Lahir di Harran pada hari senin tanggal 10
Rabiu al-awwal tahun 661H. Beliau tinggal di kota ini selama enam tahun kemudian
berhijrah bersama orang tua dan keluarganya ke Damaskus pada tahun 667 H. untuk
menghadiri kezaliman al-Tatar.
Syekh Islam banyak di kenal dalam berbagai bidang ilmu, bahkan ulama yang tidak
seide dengan beliau pun sangat mengenalnya. Hal tersebut dapat kita lihat dalam berbagai
macam karangan-karangan monumental beliau, baik dalam bidang ilmu maupun bidang seni
Islam, sehingga biografi dan perjalanan hidup beliau banyak di sentuh dan diketahui oleh
para ulama.
Ibnu Taimiyyah pernah di penjara di Damaskus. Dalam sirat an-Nubala di ceritakan
bahwa, beliau dipenjara karena fatwanya tentang ziarah Kubur. Di tempat inilah beliau
mengakhiri hidupnya, yaitu pada hari senin tahun 728 H, pada usianya yang kira-kira
mencapai 68 tahun.[1]
Guru dan Murid Imam Ibnu Taimiyyah Dari kalangan guru-guru beliau, Ibnu katsir
menjelaskan, selain berguru pada ayah dan kakeknya, beliau juga berguru pada ulama-ulama
yang datang luar kota. Dari pernyataan tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa Imam Ibnu
Taimiyyah banyak berguru pada ulama-ulama besar diantaranya: Zainuddin Abu al-Abbas
Ahmad bin Abdu ad-Dayim al-Maqdisy (wafat tahun 667 H), Abd. Rahman bin Muhamad alMaqdisy (wafat 682 H), Syaraf ad-Din Abu al-Abbas al-Maqdisy (wafat tahun 694 H), alMunjy bin Usman at-Tanukhy (wafat tahun 694 H).
Adapun dari kalangan murid-murid beliau, disini dapat disebutkan seperti: al-Hafidz
Jamaluddin Abu al-Hajjaj al-Massyi (wafat tahun 742 H), Muhamad bin Ahmad bin Abdu alHadi al-Maqdisy (wafat tahun 744 H), Ibnu qayyim al-jauziyah, al-Hafidz Syamsuddin
Atsahaby (wafat tahun 748 H), al-Qady Abu al-Abbas al-Maqdisy (wafat 771 H).[2]
3. Pandangan Maqashid al-Syariah Ibnu Taimiyah

Dalam mendefinisikan syr'iat, Imam Ibnu Taimiyah memiliki definisi yang lebih umum
dibandingkan ulama-ulama Ushul dan fuqa'ha yang lain. Akan tetapi ada sebagian ulama
yang memiliki definisi yang sama dengan Imam Ibnu Taimiyah seperti halnya Abu Bakr alA'jiri, beliau mendefinisikan syar'it sebagai segala sesuatu yang disyariatkan oleh Allah
yang mencakup akidah wal-ahkam hukum-
Ibnu Taimiyah juga mengkritik ulama-ulama yang mengatakan bahwa syariah hanya
terfokus pada hukum saja, tidak ada kaitannya dengan problem-problem akidah. Beliau
mengatakan "pada realitasnya syar'iat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad
meliputi kemaslahatan dunia dan ahkirat, dan syari'at adalah apa-apa yang tercantum dalam
al-kitab dan al-sunnah, dan semua yang direalisasikan oleh salaf yang berkaitan dengan
akidah, al-ushul, al-ibadat, politik, peradilan, pemerintahan.[3]
Adapun persoalan yang dianggap penting untuk dipertegas disini adalah mengetahui
pandangan Ibnu Taimiyah yang sering dia gunakan dalam konteks maqashid, dimana dengan
mengetahui pandangan tersebut, kita bisa menangkap makna-makna daripada Maqashid yang
dibangun oleh Ibnu Taimiyah. Selanjutnya dari pandangan tersebut nanti, akan membawa kita
untuk mengenal teori-teori Maqashid versi Imam mujtahid Ibnu Taimiyah. Adapun dari
pandangan-pandangan tersebut adalah:
a. Pada perbuatan Allah terdapat tujuan yang dicintai dan balasan yang agung.
b. Al-Hikmah merupakan hasil daripada tujuan Allah dan maksud perbuatan tersebut.
c. Barangsiapa yang mengingkari bahwa dalam syariat mencakup mashlahat dan
Maqashid terhadap manusia di dunia dan di akhirat, maka hal tersebut menunjukkan
kesalahan yang jelas. Hal tersebut diketahui melalui al- darurat.
d. Bahwa Imam Ibnu Taimiyah menggunakan kalimat al-awaqib, al-gayat, al-manaf'i, alMaqashid, al-hukm, al-masaleh, al-mahasin dengan pengertian yang sama.
e. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Allah memiliki tujuan dan maksud yang
sama pada penciptaan dan perintahnya.
f. Sesungunya ketika tujuan yang diinginkan oleh Allah secara syar'i tercapai, maka hal
itu memastikan terealisasinya ubudiyyah kepadanya.[4]

Sejarah Maqashid al-Syariah Maqashidul al-Syariah merupakan ruh dari semangat


penegakan syariat Islam. Meski demikian tidak banyak catatan sejarah yang merekam kapan
pastinya istilah ini untuk pertama kalinya diistilahkan. Dari literatur yang ada, dikenal adanya
dua pendapat yang memperkenalkan istilah al-Maqashid. Pertama adalah Imam Turmudzi r.a,
tokoh ini sebelumnya lebih termasyhur sebagai Ulama Hadits. Tokoh hadits ini di dalam
sejumlah karyanya terkesan mulai merumuskan term-term Maqashidul al-Syariah, hal ini
dapat terbaca pada kitab al-shalah wa Maqashiduhu, al-Haj wa Asraruh, Ilal al-Syariah, Ilal
al-Ubudiyyah dan al-Furuq. Pasca tokoh hadits ini kemudian sejarah mencatat kontribusi
Imam Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H) di dalam karyanya Makhad al-Syara, berturutturut kemudian Abu Bakar al-Qaffal al-Syasyi (w. 365 H) dengan karyanya Ushul al-Fiqh dan
Mahasin al-Syariah; Abu Bakar al-Abhari, al-Baqillani, al-Juwaini, al-Ghazali, al-Razi, alAmidi, Ibnu Hajib, al-Baidhawi dan seterusnya. Adapun pendapat pertama ini digagas oleh
Ahmad Raisuni.[5]
4. Konsep Maqashid al-Syariah Menurut Ibnu Taimiyyah
Tujuan pokok dari langkah inovatif Imam Ibnu Taimiyyah, seperti yang dia kemukakan
dalam karangannya adalah, agar Maqashid mempunyai kedigjayaan dalam meminilisir
khilafiyah, dan menjadi nilai universal yang menjadi pijakan hukum dalam skala lintas
terotorial-geografis
Beliau melihat bahwa mengajak ke jalan Allah dan Rasulnya adalah suatu kewajiban bagi
tiap-tiap muslim. Dan wajib membunuh orang yang meninggalkan syri'at Allah.
Kalau kita memperhatikan secara seksama Maqashid tersebut, maka dapat dideteksi bahwa
Maqashid tersebut kembali kepada hifdz ad-din. Wa allahu wa'lam
Tujuan Hukum islam dilihat dari segi pembuat hukum ada 3. Terutama tujuan hukum
taklifi yaitu hukum yang berupa keharusan melakukan suatu perbuatan atau tidak
melakukannya: memilih antara melakukan perbuatan karena ada atau tidak adanya suatu yang
mengharuskan keberadaan tersebut. Ketiga tujuan tersebut diatas juga dilihat dari segi tingkat
dan peringkat kepentingannya bagi manusia itu sendiri. Yaitu:
1) Tujuan Primer atau al- dlaruriy
Tujuan primer hukum islam adalah hukum yang mesti ada demi danya kehidupan
manusia, ababila tujuan itu tidak tercapai maka akan menimbulkan ketidak serasian
kemaslahatan kehidupan manusia didunia dan di akhirat bahkan merusak kehidupan itu
sendiri. Kebutuhan hidup yang primer ini hanya bisa tercapai bila terpelihara 5 hukum islam
yang disebut daruriyat Al-khoms atau al- kulliyat al-khoms atau sering juga disebut maqosid
al syariah.

2) Tujuan Sekunder atau al-haajiy


Tujuan sekunder hukum islam adalah terpeliharanya tujuan kehidupan manusia yang
terdiri atas berbagai kebutuhan atas berbagai kehidupan sekunder hidup manusia itu.
Kebutuhan hidup sekunder ini bila terpenuhi atau terpelihara akan mengakibatkan kesulitan
bagi manusia. Namun demikian kesempitan tersebut tidak akan mengakibatkan kerusakan
yang menimbulkan kerusakan hidup manusia secara umum. Kebutuhan hidup yang bersifat
sekunder ini terdapat dalam ibadah, adat,muamalat, dan jinyat. Terpeliharanya tujuan
sekunder ini terdapat hukum islam.
Tujuan sekunder dalam bidang muamalat dapat tercapai melalui dengan adanya
hukum musaqoh dan salam. Musaqoh merupakan sistem kerjasama dalam pertanian, yakni
sistem bagi hasil yang dikenal dengan sebutan paroan sawah. Jual beli salam yaitu sistem jual
beli melalui pesanan dan pembayaran dimuka atau dikemudian hari setelah terjadi
penyerahan barang yang diperjual belikan.
3) Tujuan tertier atau al-tahsiiy
Tujuan tertier atau al-tahsiiy adalah ialah tujuan hukum yang ditujukan untuk
menyempurnakan hidup manusia dengan cara melaksanakan apa-apa yang baik dan yang
paling layak menurut kebiasaan dan menghindari hal-hal yang tercela menurut akal sehat.
Pencapaian tujuan tertier hukum islam ini biasanya terdapat dalam bentuk budi pekerti yang
mulia atau akhlakul karimah. Budi pekerti atau akhlak muli uni mencakup etika hukum. Baik
etika hukum ibadah, muamalat, adat, pidana, atau jinayat dan muamalat atau keperdataan.
Pilar Maqashid versi Imam Ibnu Taimiyah, menajamkan dan mengfungsikan rasio
merupakan sarana terciptanya kesinambungan antara wahyu dan realita. Akan tetapi disini
tidak dikenal yang namanya mendewakan rasio dan menjadikannya sebagai satu-satunya
sumber kebenaran, melainkan rasio harus tetap berpegang teguh pada intisari teks. Dalam
mengkaji dan membahas subtansi sebuah hukum kita dituntut untuk mengetahui hikmah dan
illat serta sebab adanya sebuah teks syariat. Oleh sebab itu Imam Ibnu Taimiyyah menjadikan
pembahasan illat dan al-masaleh serta al-mafsadah sebagai rpilar dari Maqashid as-syariah.
Sisi perbedaan antara Imam Ibnu Taimiyyah dengan ulama ushul bisa kita lihat pada kitab
as-sahih dimana ia mengatakan "ulama salaf menggap bahwa ma'rifatullah dan mencintainya
termasuk dalam bentuk maqshid lizatih, karena Allah berhak untuk disembah, dan Allah
mencintai hambanya yang menuruti perintanya dan memurkai hambanya yang melaksanakan
laranganya. Juga Allah menyukai hambanya yang selalu bertaubat dan benci kepada
kekafiran. Semua hal tersebut mengandung hikmah yang agung dan Maqashid yang mulia.

Keberanian Ibnu Taimiyah untuk berbeda dengan para ulama ushul memang cukup
beralasan. Sebagai ulama yang dianggap kontraversial, beliau berbeda dengan ulama ushul
atas berbagai alasan yang bisa disebutkan sebagai berikut; Pertama, mayoritas ulama ushul
terpengaruh oleh para filsuf dan ulama kalam dalam hal metodologi istimbat hukum.
Sehingga mereka ulama Ushul- menganggap bahwa Maqashid syariah hanyalah berkisar
pada kemaslahan hidup manusia . Kedua, teori Maqashid mayoritas ulama ushul terbatas
pada anggapan bahwa kemaslahatan hanya kembali kepada umat manusia. Ketiga,
kebanyakan ulama ushul beranggapan bahwa tidak ada illat dalam ibadah akan tetapi hanya
sekedar at-tahakkum.[6]
Melihat realita yang terus berkembang, maka kita dituntut untuk memahami hukum syariat
secara realities dan fleksibel. Hal tersebut kemudian menjadikan syari'at sebagai jembatan
yang mengantarkan manusia menuju pintu kemaslahatan dan kebahagiaan, bukan ancaman
yang membelenggu, apalagi mempersulit gerak-gerik manusia.
Adapun ketika Ibnu Taimiyah menganggap bahwa nalar juga memberikan supremasi
hukum yang berdiri sendiri, sebagaimana halnya as-Syara, maka ketika itu beliau
mengadakan pengecualian yaitu pada batasan yang terentu dari mashlahat, diamana akal tidak
mengetahui balasan ukhrawi dari pahala dan siksaan. Adapun yang memiliki otoritas untuk
mengetahui semua itu tidak lain adalah teks syariat.[7]
Nalar juga tidak berperan untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, atau
al-masaleh wal-mafsadah. Akan tetapi nalar hanya bisa membedakan antara yang bermanfaat
dan tidak bermanfaat pada hal-hal yang bebentuk hissiyyah. Adapun pada persoalanpersoalan yang berbentuk perbuatan, dimana perbuatan tersebut memberikan manfaat atau
mudarat bagi yang melakukannya, sesunggunya akal tidak dapat mengetahui secara detail dan
pasti, dan tidak ada yang bisa memberikan petujuk yang pasti kecuali dengan ar-risalah assamawiyyah.[8]

C. KESIMPULAN
Dari makalah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa muqoshid syariah menurut ibnu
Taimiyyah adalah syar'it sebagai segala sesuatu yang disyariatkan oleh Allah yang

mencakup akidah wal-ahkam hukum. Adapun pandangan-pandangan maqasid syariah


menurut ibnu taimiyah adalah:
a. Pada perbuatan Allah terdapat tujuan yang dicintai dan balasan yang agung.
b. Al-Hikmah merupakan hasil daripada tujuan Allah dan maksud perbuatan tersebut.
c. Barangsiapa yang mengingkari bahwa dalam syariat mencakup mashlahat dan
Maqashid terhadap manusia di dunia dan di akhirat, maka hal tersebut menunjukkan
kesalahan yang jelas. Hal tersebut diketahui melalui al- darurat.
d. Bahwa Imam Ibnu Taimiyah menggunakan kalimat al-awaqib, al-gayat, al-manaf'i, alMaqashid, al-hukm, al-masaleh, al-mahasin dengan pengertian yang sama.
e. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Allah memiliki tujuan dan maksud yang
sama pada penciptaan dan perintahnya.
Sesungunya ketika tujuan yang diinginkan oleh Allah secara syar'i tercapai, maka hal itu
memastikan terealisasinya ubudiyyah kepadanya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Badawy, Yusuf Ahmad Muhammad .2009.Maqashid Al-Syariah Inda Ibni Taimiyah.
Cempaka :jaya Bandung
Usman, Suparman.2001.Hukum Islam.Gaya Media Pratama: Jakarta
http://maqasid-syariah.blogspot.com/2009/04/diskursus-maqashid-al-syariah-dalam.html
http://blogspot.com/2013/09/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam.html

[1] S Jaya Suharja. Filsafat Hukum Islam (Bandung: LPPM Universitas Islam Bandung. 1995), hal 79
[2] http://maqasid-syariah.blogspot.com/2009/04/diskursus-maqashid-al-syariah-dalam.html
[3] http://blogspot.com/2013/09/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam.html
[4] Ibid. . . .http://maqasid-syariah.blogspot.com/2009/04/diskursus-maqashid-al-syariah-

dalam.html
[5] Suparman Usman, Hukum Islam.(Jakarta: Gaya Media Pratama 2001). Hal 201
DR. Yusuf Ahmad Muhammad Al-Badawy, Maqashid Al-Syariah Inda Ibni
Taimiyah. (Bandung: Cempaka jaya 2009). Hal. 89
[7] Ibid. . . .http://maqasid-syariah.blogspot.com/2009/04/diskursus-maqashid-al-syariahdalam.html
[8] Ibid hal 92
[6]