Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN MASALAH DEGENERATIVE: GANGGUAN TIDUR

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Keperawatan Gerontik


Fasilitator Ibu Rista Fauziningtyas, S.Kep.,Ns., M.Kep.
Oleh:
Kelompok 6 Kelas AJ-2 B19
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Lusia Saun Selong


Nindhita Dyah Satiti
Rifa Rindayani Syafitri
Anindita Nayang Safitri
Sumariono Efendi
Alvianita Agiswi Suyadi

131611123087
13161123088
131611123089
131611123091
131611123092
131611123070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan
Masalah Degenerative: Gangguan Tidur.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan dan
hambatan, namun berkat bimbingan semua pihak akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan. Dengan kerendahan hati, perkenankanlah penulis menyampaikan

rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan kepada
penulis, antara lain :
1. Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons), selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga.
2. Ibu Rista Fauziningtyas, S.Kep.,Ns., M.Kep selaku pembimbing mata ajar
Keperawatan Gerontik Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.
3. Teman-teman anggota kelompok 6 yang telah membantu menyelesaikan
penyusunan makalan ini.
4. Berbagai pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang
telah membantu menyelesaikan penyusunan makalah ini..
Penulis menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang
sempurna. Begitu pula dengan penyusunan makalah ini tidak luput dari
kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun,
guna memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pembaca.

Surabaya, November 2016


Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................
Kata Pengantar..................................................................................................
Daftar Isi ..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................................1
B. Rumusan Masalah ................................................................................2
2

C. Tujuan ..................................................................................................2
BAB II KONSEP TEORI
A. Konsep tidur .........................................................................................3
B. Fisiologi tidur .......................................................................................3
C. Gangguan pola tidur ............................................................................6
D. Klasifikasi gangguan pola tidur ...........................................................6
E. Etiologi ................................................................................................9
F. Patofisiologi .........................................................................................10
G. Manifestasi ...........................................................................................11
H. Penatalaksanaan ...................................................................................12
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
Tinjauan kasus .................................................................................................15
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ..........................................................................................31
B. Saran ....................................................................................................32
DaftarPustaka.................................................................................................33

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tidur adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi.
Sebagian orang mengatakan bahwa tidak tidur bisa menyebabkan seseorang
meninggal. Tidur merupakan suatu kondisi dimana organisme yang sedang
istirahat secara reguler, berulang dan reversibel. Jika sesorang tidak terpenuhi
dalam kebutuhan tidurnya maka akan menyebabkan gangguan pada tubuh
yang lain. Gangguan yang dapat muncul adalah atensi dan konsentrasi
berkurang, resiko tinggi penyakit jantung dan kanker.
Lansia di Indonesia semakin tahun jumlahnya

mengalami

peningkatan. Dalam proses penuaan, lansia sering mengalami gangguangangguan pada sistem yang ada di tubuhnya. Salah satu gangguan yang
mungkin muncul pada lansia adalah gangguan tidur. Gangguan tidur
menyerang 50% orang yang berusia 65 tahun . Selama penuaan, pola tidur
mengalai perubahan, perubahan itu mencangkup jumlah, kualitas dan
frekuensi tidur.
Gangguan tidur yang sering dialami lansia adalah insomnia. Pada
lansia jumlah jam tidur yang normal adalah 6 jam. Namun pada lansia sering
mengalami ansietas bahkan sampai ke tahap depresi yang dapat menyebabkan
gangguan tidur. Oleh sebab itu, perawat sangat berperan untuk membantu
meningkatkan kualitas tidur pada lansia, sehingga lansia dapat merasakan
manfaat setelah tidur untuk menginstirahatkan tubuh dan mendapatkan
kesegaran dan kebugaran. Insomnia dapat diatasi dengan menggunakan terapi
farmakologi dan non-farmakologi. Terapi farmakologi yaitu dengan
menggunakan obat-obat untu memudahkan tidur pada lansia seperti triazola.
Terapi non-farmakologi yaitu terapi dengan tidak menggunakan obat-obatan
contohnya seperti hygiene tidur, terapi pengontrolan stimulus, terapi apnea
tidur obstruktif.
B. Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan masalah degenerativ:


gangguan tidur?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan
masalah degenerative: gangguan tidur.
2. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa mampu memahami tentang fisiologi tidur
2) Mahasiswa mampu memahami tentang fisiologi tidur pada lansia
3) Mahasiswa mampu mengetahu tentang konsep gangguan tidur
4) Mahasiswa mampu mengetahui tentang asuhan keperawatan lansia
dengan masalah degenerative: gangguan tidur

BAB II
KONSEP TEORI

A. Konsep Tidur

Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan


reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau menghilang, dan dapat
dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Asmadi,
2008)
Tidur juga bisa didefinisikan sebagai suatu keadaan yang berulangulang, perubahan status keadaan yang terjadi selama periode tertentu (Potter,
2005). Sehingga tanpa tidur yang cukup, kemampuan seseorang untuk
berkonsentrasi membuat keputusan serta melakukan kegiatan sehari harinya
dapat menurun.
B. Fisiologi Tidur
1. Fisiologi tidur secara umum
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya
hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan
dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktvitas
tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem
yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk
pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan kewaspadaan dan
tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu,
reticular activating system (RAS) dapat memberi rangsangan visual,
pendengaran, nyeri dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari
korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Dalam
keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin seperti
norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, disebabkan adanya pelepasan
serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak
tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun
tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan
system limbik. Dengan demikian, system pada batang otak yang mengatur
siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (Hidayat, 2006)
Tahapan tidur dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu Non
Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Tidur
NREM terdiri dari empat tahapan. Kualitas dari tahap satu sampai tahap
empat menjadi semakin dalam. Tidur yang dangkal merupakan
karakteristik dari tahap satu dan tahap dua dan pada tahap ini seseorang

lebih mudah terbangun. Tahap tiga dan empat melibatkan tidur yang dalam
disebut tidur gelombang rendah, dan seseorang sulit terbangun. Tidur
REM merupakan fase terakhir siklus tidur dan terjadi pemulihan
psikologis (Potter, 2005)
a. Tidur Non Rapid Eye Movement (NREM)
Tahapan tidur NREM dibagi menjadi 4 tahap :
1) Tahap satu NREM merupakan tahap transisi antara bangun dan
tidur dimana seseorang masih sadar dengan lingkungannya,
merasa mengantuk, frekuensi nadi dan nafas sedikit menurun,
dan berlangsung selama lima menit. Kualitas tidur tahap ini
sangat ringan, seseorang dapat mudah terbangun karena
stimulasi sensori seperti suara
2) Tahap dua merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh
terus menurun dengan ciri: tanda tanda vital menurun,
metabolisme menurun dan tahap ini berlangsung 10 20
menit. Pada tahap ini seseorang terbangun masih relative
mudah, dan berlangsung selama 10 20 menit. Hubungan
dengan dengan lingkungan terputus secara aktif dan hampir
seluruh menusia yang dibangunkan pada tahap ini mengatakan
bahwa mereka benar benar tertidur. 50% total waktu tidur
manusia dewasa normal dihabiskan pada tahap dua NREM.
3) Tahap tiga yaitu menunjukkan medium deep sleep yang
merupakan tahap awal dari tidur yang dalam. Orang yang tidur
pada tahap ini sulit untuk dibangunkan dan jarang terjadi
pergerakan tubuh dan mata, otot otot dalam keadaan
relaksasi penuh, adanya dominasi sistem saraf parasimpatis
tanda tanda vital menurun namun tetap teratur.
4) Tahap empat merupakan deep sleep yaitu tahap tidur terdalam
yang biasanya diperlukan rangsangan lebih kuat untuk
membangunkan, sehingga ketika bangun dari tidur yang
dalam, seseorang tidak dapat langsung sadar sempurna dan
memerlukan waktu beberapa saat untuk memulihkan dari rasa

bingung dan disorientasi. Tahap ini mempunyai nilai dan


fungsi perbaikan yang sangat penting untuk penyembuhan fisik
kebanyakan hormon perkembangan manusia diproduksi malam
hari dan puncaknya selama tidur pada tahap ini. Tahap ini
jumlahnya 25% dari total jam tidur anak anak, menurun pada
dewasa muda, lebih menurun pada dewasa pertengahan dan
dapat hilang pada lansia.
b. Tidur Rapid Eye Movement (REM)
Tahap tidur REM terjadi setelah 90 110 menit tertidur
ditandai dengan peningkatan denyut nadi, pernafasan dan tekanan
darah, otot otot relaksasi serta peningkatan sekresi gaster.
Karakteristik tidur REM adalah pernafasan ireguler, mata cepat
tertutup dan terbuka, sulit dibangunkan, sekresi gaster meningkat,
metabolisme meningkat dan biasanya disertai mimpi aktif.
Mimpi terjadi selama tidur baik NREM maupun REM,
tetapi mimpi dari tidur REM lebih nyata dan diyakini penting
secara fungsional untuk konsolidasi memori jangka panjang.
2. Fisiologi tidur pada lansia
Jumlah tidur total tidak berubah sesuai dengan pertambahan usia.
Akan tetapi, kualitas tidur kelihatan menjadi berubah pada kebanyakan
usia lanjut. Episode tidur REM cenderung memendek.Terdapat
penurunan yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4. Beberapa
usia lanjut tidak memiliki tahap 4 atau tidur dalam. Seorang usia lanjut
20 yang terbangun lebih sering pada malam hari, dan membutuhkan
banyak waktu untuk jatuh tidur. Tetapi pada lansia yang berhasil
beradaptasi terhadap perubahan fisiologis dan psikologis dalam
penuaan lebih mudah mempertahankan tidur REM (Potter, 2005).
C. Definisi Gangguan Pola Tidur
Gangguan pola tidur merupakan merupakan suatu keadaan dimana
individu mengalami atau memiliki resiko perubahan jumlah dan kualitas pola
istirahat (Uliyah, 2006).

Gangguan pola tidur adalah kondisi dimana seseorang mengalami


gangguandan perubahan waktu tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan
danmengganggu aktivitas sehari- hari (Wartonah, 2006).
D. Klasifikasi Gangguan Tidur
Klasifikasi gangguan tidur menurut International Classification of Sleep
Disorders, yaitu:
1. Dissomnia
Merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesukaran
menjadi jatuh tidur (falling sleep), mengalami gangguan selama tidur
(difficulty in staying as sleep), bangun terlalu dini atau kombinasi
diantaranya.
1) Gangguan tidur intrinsik
(1) Narkolepsi
Ditandai dengan serangan medadak tidur yang tidak dapat
dihindari pada siang hari (biasanya berlangsung 10 sampai 20
menit atau kurang dari 1 jam) setelah bangun akan terasa segar
namun kembali terulang pada 2 sampai 3 jam berikutnya.
Gangguan ini merupakan gangguan herediter.
(2) Periodic limb movement disorder/ mioklonus nocturnal
(3) Sindrom kaki gelisah (Restless legs syndrome)/ Ekboms
syndrome
(4) Gangguan bernafas saat tidur (Sleep apnea)
Apnea tidur adalah berhentinya pernafasan selama tidur.
Gangguan

ini

diidentifikasi

dengan

gejala

mendengkur,

berhentinya nafas minimal 10 detik dan rasa kantuk yang luar


biasa di siang hari. Selama tidur, pernafasan dapat berhenti
paling banyak 300 kali, dan episode apnea berakhir dari 10
sampai 90 detik. Pria dewasa dengan riwayat mendengkur yang
keras dan intermitten, yang juga obseitas dengan leher yang
pendek dan besar biasanya bersiko mengalami apnea tidur.
Gejala apnea tidur antara lain adalah:
a. Dengkuran yang keras dan periodik
b. Aktivitas malam hari yang tidak biasa, seperti duduk tegak,
berjalan dalam tidur, terjatuh dari tempat tidur
c. Gangguan tidur dengan sering terbangun di malam hati
(nocturnal waking)
d. Perubahan memori
6

e. Depresi
f. Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari
g. Nokturia
h. Sakit kepala di pagi hari
i. Ortopnea akibat apnea tidur
(5) Pasca trauma kepala
2) Gangguan tidur ekstrinsik
3) Gangguan tidur irama sirkardian
2. Parasomnia
1) Gangguan aurosa
Gangguan tidur berjalan, gangguan tidur terror, aurosa konfusional
2) Gangguan antara bangun dan tidur
Gerak tiba-tiba, tidur berbicara, kram kaki, gangguan gerak berirama
3) Berhubungan dengan fase REM
Gangguan mimpi buruk, gangguan tingkah laku, gangguan sinus
arrest
4) Parasomnia lain-lainnya
Bruxsm (otot rahang mengeram), mengompol, sukar menelan
3. Gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan kesehatan/ psikiatri
1) Gangguan mental
Psikosis, ansietas, gangguan afektif, panik, alkohol
2) Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit degeneratif (dimensia, parkinson, multiple sklerosis),
epilepsi, post traumatik kepala, penyakit asma, penyakit jantung, dll.
4. Gangguan tidur yang tidak terklasifikasi
Berikut adalah macam gangguan tidur yang terjadi pada lansia (Stanley &
Beare, 2006).
1. Insomnia
Insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur walaupun ada keinginan
untuk melakukannya. Lansia rentan terjadi insomnia karena adanya
perubahan pola tidur. Keluhan insomnia mencangkup ketidakmampuan
untuk tertidur, sering terbangun, ketidakmampuan untuk kemnbali tidur
dan terbangun pada dini hari. Insomnia dipengaruhi oleh faktor-faktor
biologis, emosional dan medis, juga dipengaruhi oleh kebiasaan tidur
yang buru. Insomnia terbagi dalam 3 jenis, yaitu:
1) Jangka pendek
Berakhir beberapa minggu dan muncul akibat pengalaman stress yang
bersifat sementara (kehilangan orang yang dicintai, tekanan tempat
kerja, atau takut kehilangan pekerjaan). Baisanya kondisi ini dapat
hilang dengan tanpa intervensi medis, setelah orang tersebut
beradaptasi dengan stressor yang dihadapi.
7

2) Sementara
Episode malam gelisah yang tidak sering terjadi yang disebabkan oleh
perubahan-perubahan lingkungan (jet lag, kontruksi bangunan yang
bising, atau pengalaman yang menimbulkan anisetas)
3) Kronis
Berlangsung 3 minggu atau seumur hidup. Insomnia kronis ini dapat
disebabkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, masalah psikologis,
penggunaan obat tidur yang berlebihan, penggunaan alkohol,
gangguan jadwal tidur dan bangun, dan masalah kesehatan lainnya.
Penyebab lain yang dapat menimbulkan insomnia kronis yaitu
masalah fisik seperti apnea tidur, sindrom kaki gelisah, atau nyeri
karena artritis. Insomnia kronis biasanya memerlukan intervensi
psikiatrik atau medis.
2. Hipersomnia
Ciri dari hipersomnia adalah tidur lebih dari 8 atau 9 jam per 24 jam,
dengan keluhan tidur berlebihan. Penyebabnya masih bersifat spekulatif
tetapi dapat berhubungan dengan ketidakaktifan, gaya hidup yang
membosankan, atau depresi. Orang yang mengalami hipersomnia nampak
mengantuk di siang hari yang persisten, tampak mabuk atau kematose,
atau

mengalami

mengantuk

pascaensefalitik.

Keluhan

keletihan,

kelemahan dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan hal yang


sering terjadi.
3. Apnea tidur
E. Etiologi
1. Faktor Psikologi
a. Stres yang berkepanjangan paling sering menjadi penyabab dari
Insomnia jenis kronis, sedangkan berita-berita buruk gagal rencana
dapat menjadi penyebab insomnia transient.
b. Problem Psikiatri
c. Depresi paling sering ditemukan. Kamu bangun lebih pagi dari
biasanya yang tidak kamu ingini, adalah gejala paling umum dari awal
depresi , Cemas ,Neorosa, dan gangguan psikologi lainnya sering
menjadi penyebab dari gangguan tidur.
d. Sakit Fisik
e. Sesak nafas pada orang yang terserang asma, sinus, flu sehingga
hidung yang tersumbat dapat merupakan penyebab gangguan tidur.

Selama penyebab fisik atau sakit fisik tersebut belum dapat di


tanggulangi dengan baik ,gangguan tidur atau sulit tidur akan dapat
tetap dapat terjadi.

2. Faktor Lingkungan
a. Lingkungan yang bising seperti lingkungan lintasan pesawat jet,
lintasan kereta api, pabrik atau bahkan TV tetangga dapat menjadi
faktor penyebab susah tidur.
b. Gaya Hidup
c. Alkohol , rokok, kopi, obat penurun berat badan, jam kerja yang tidak
teratur, juga dapat menjadi faktor penyebab sulit tidur.
F. Patofisiologi
Stadium tidur terdiri dari tidur REM (Rapid Eye Movement) dan tidur
NREM (Non-rapid Eye Movement). Tidur REM disebut dengan tidur D
(bermimpi) dan tidur NREM disebut tidur ortodoks atau tidur S. Kedua ini
bergantian dalam satu siklus berlangsung antara 70 120 menit, umumnya
terdapat 4 6 siklus NREM-REM yang terjadi pada setiap malam.
Stadium tidur NREM normal pada dewasa dibagi menjadi stadium
1,2,3, dan 4. Stadium 0 adalah periode ketika seseorang masih bangun
naming sudah menutup mata dan ditandai dengan voltase rendah, cepat, 8-12
siklus per detik. Stadium 1 (onset tidur) adalah perpindahan dari bangun ke
tidur. Pada stadium ini memerlukan 5% dari total waktu tidur. Pada fase ini
terdapat penurunan aktivitas gelombang alfa, amplitude rendah, sinyal
campuran, predominan beta dan teta, tegangan rendah, frekuensi 4-7 siklus
per detik. Aktivitas bola mata melambat, tonus otot menurun, berlangsung 3-5
menit. Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun
merasa seperti setengah tidur. Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG
spesifik yaitu didominasi oleh aktivitas teta,voltase rendah-sedang, kumparan
tidur dan kompleks K. Tonus otot rendah , nadi dan tekanan darah cenderung
menurun. Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Stadium ini
menduduki sekitar 50% total tidur. Stadium 3 (tidur delta) ditandai dengan
20%-50% aktivitas delta, frekuensi 1-2 siklus perdetik, amplitude tinggi.
Tonus otot meningkat tetapi tidak ada gerakan. Stadium 4 terjadi jika
9

gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 4 lebih lambat daripada stadium 3.
Stadium ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total. Tidur ini
terjadi di antara sepertiga awal dengan tengah malam. Durasi tidur meningkat
jika seseorang mengalami depriviasi tidur.
Tidur REM ditandai dengan rekaman EEG yang hampir sama dengan
tidur stadium 1. Pada stadium ini terdapat letupan periodic gerakan bola mata
cepat. Refleks tendon melemah atau hilang, tekanan darah dan nafas
meningkat, dan pada pria terjadi ereksi penis. Fase ini menggunakan 70-100
menit pada orang normal dan pada orang depresi, stress akan mengalami
penurunan.
Tidur dimulai pada stadium 1, masuk ke stadium 2, 3, dan 4.
Kemudian kembali lagi ke stadium 2 dan akhirnya masuk ke periode REM 1,
biasanya berlangsung 70-90 menit setelah onset. Pergantian siklus NREM ke
REM biasanya berlangsung 90 menit. Durasi REM meningkat setiap
menjelag pagi.
Pola tidur pada lansia normal adalah pola tidur-bangun berubah sesuai
dengan bertambahnya umur. Pada masa neonatus sekitar 50% waktu tidur
total adalah tidur REM. Lama tidur sekitar 18 jam. Pada usia satu tahun lama
tidur sekitar 13 jam dan 30 % adalah tidur REM. Waktu tidur menurun
dengan tajam setelah itu. Dewasa muda membutuhkan waktu tidur 7-8 jam
dengan NREM 75% dan REM 25%. Kebutuhan ini menetap sampai batas
lansia.
Lansia menghabiskan waktunya lebih banyak di tempat tidur, mudah
jatuh tidur, tetapi juga mudah terbangun dari , tiroid, dan kortisol pada lansia.
Hormon-hormon ini dikeluarkan selama tidur dalam. Sekresi melatonin juga
berkurang. Melatonin berfungsi mengontrol sirkadian tidur. Sekresinya
terutama pada malam hari. Apabila terpajan dengan cahaya terang, sekresi
melatonin akan berkurang.
G. Manifestasi
Pada lansia memiliki gangguan tidur yang khas dari pada dewasa. Peeubahan
tersebut mencakup ketelatenan tidur, terbangun dini hari, penurunan jumlah
waktu tidur, dan peningkatan jumlah tidur siang.
Banyak lansia yang mengalami berbagai masalah kesehatan medis dan
psikosial yant mengalami gangguan tidur. Kondisi tersebut antara lain:

10

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penyakit psikiatrik, terutama depresi


Penyakit Alzheimer dan penyakit degenerative lainnya
Penyakit kardiovaskuler dan perawatan pasca operasi jantung
Inkompetensi jalan napas atas
Penyakit paru
Sindrom nyeri

Tabel 2.1 Perubahan pola tidur pada usia lanjut


Pola tidur
Lamanya di tempat
tidur
Total waktu tidur

Laporan Subjektif
Meningkat

Pantauan Objektif
Meningkat

Menurun

Bervariasi
(umumnya menurun)
Bervariasi
(umumnya menurun)
Meningkat

Ancang-ancang
Meningkat
tidur
Terjaga setelah
Meningkat
dimulai tidur
Tidur singkat di
Meningkat
Meningkat
siang hari
Efisiensi tidur
Menurun
Menurun
Sumber: Jurnal Kedokteran Trisakti Vol. 21 No. 1 (Prayitno, A. 2002)
H. Penatalaksanaan
1. Pencegahan primer
1) Tidur seperlunya namun tidak berlebihan
2) Waktu bangun yang teratur di pagi hari dapat memperkuat siklus
sirkadian dan menyebabkan awitan tidur yang teratur
3) Jumlah latihan yang stabil (teratur) dapat memperdalam tidur
4) Jika gangguan tidur terjadi karena suara bising, kamar tidur sebaiknya
dibuat kedap suara
5) Ruangan sejuk (suhu ruangan < 24oC)
6) Penggunaan obat/pil tidur (kadang-kadang), namun pada penggunaan
yang kronis tidak efektif pada kebanyakan penderita insomnia
7) Memakan kudapan ringan jika terjadi gangguan tidur karena lapar
8) Menghindari konsumsi kafein di malam hari
9) Penggunaan kasur yang nyaman
10) Asupan kalori minimal saat tidur
11) Latihan fisik ringan di siang maupun sore hari sangat dianjurkan
2. Pencegahan sekunder
Lakukan pengkajian yang tepat dalam menentukan gangguan tidur.
Catatan harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang sangat
bagus bagi lansia di rumahnya sendiri. Catatan ini berfungsi dalam
memberikan informasi tentang masalah tidur yang dialami oleh lansia.

11

Sebaiknya catatan dibuat selama 3 sampai 4 hari untuk mendapatkan


gambaran tepat tentang gangguan tidur.
Berikut adalah intervensi keperawatan yang dianjurkan:
1) Pertahankan kondisi yang kondusif untuk tidur yang mencangkup
pada faktor-faktor lingkungan dan kegiatan menjelang tidur.
2) Bantu orang tersebut untuk rileks pada saat menjelang tidur dengan
memberikan usapan punggung, massase kaki, atau kudapan tidur bila
diinginkan. Latihan pasif dan gerakan mengusap memberikan efek
yang menidurkan.
3) Memberikan posisi yang tepat, menghilangkan nyeri, dan member
kehangatan dengan selimut konvensional atau selimut listrik
4) Jangan membiarkan klien untuk minum kafein (kopi, the, cokelat) di
sore hari dan malam hari.
5) Lakukan tindakan-tindakan yang menenangkan seperti memutar
musik lembut, menawarkan minuman hangat atau makanan yang
lebih berat untuk meningkatkan tidur pada lansia tanpa hipnotik.
6) Tidur siang baik namun durasinya tidak boleh lebih dari 2 jam.
7) Latihan fisik juga dianjurkan. Latihan dilakukan di pagi hari
daripada

menjelang

tidur

karena

dapat

menyebabkan

efek

menyegarkan daripada menidurkan.


8) Mandi dengan air hangat juga dianjurkan.
9) Jika intervensi diatas gagal untuk memperbaiki kualitas tidur, obatobatan dapat digunakan, namun hanya sementara dan ini merupakan
upaya terakhir.
Tabel 2.2 Obat dan Pilihannya untuk menginduksi tidur
Pilihan
L-Triptofan

Dosis
0.5-1 g
tepat sebelum tidur

Sherry

Segelas kecil
menjelang tidur

Difenhidramin antihistamin
(Benadryl)

25-50 mg

12

Efek
Dikonversi menjadi
serotonin di otak;
memfasilitasi tidur lebih
cepat
Alkohol merupakan
suatu depresan; sejumlah
kecil depresan dapat
membantu tidur
Menghasilkan rasa
kantuk; beberapa orang
menjadi sensitive
terhadap relaksan otot;

Hidroksizin ansiolitik
(Vistaril)
Kloral hidrat hipnotik

50 mg
250-500 mg

Benzodiazepin
Triazolam (Halcion)
Ternazepam (Restoril)

mengurangi ketegangan
dan ansietas
Menghasilkan rasa
kantuk tetapi dapat
menimbulkan efek
hiperstimulasi

0.125 mg
15-30 mg

Mempercepat awitan
tidur
Mengurangi distorsi pola
tidur
Sumber: Buku Ajar Keperawatan Gerontik (Stanley & Beare, 2006)

3. Pencegahan tersier
Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam
kehidupan, kondisi pasien memerlukan rehabilitasi melalui tindakantindakan seperti pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut.
Pada pemeriksaannya dilakukan rekaman listrik di otak yang dapat
membantu dalam menentukan pengobatan yang tepat.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Tn. I usia 68 datang ke rumah sakit dengan keluhan sering kesulitan untuk tidur.
Klien mengatakan pernah datang ke puskesmas untuk berobat. Klien mengatakan 3 bulan
yang lalu istrinya meninggal sehingga menyebabkan nafsu makan menurun dan merasa
kesepian. Klien sebelumnya tinggal berdua dengan istrinya dan anaknya memiliki rumah
sendiri dan hanya sesekali menengok. Klien memiliki riwayat darah tinggi dan memiliki
kebiasaan minum kopi.

1.

IDENTITASKLI
EN
Nama
Umur
Agama

:
: Tn. I
: 68 tahun
: Islam

13

2
.

3
.

Alamat asal
Tanggal datang
DATA
KELUARGA
Nama
Hubungan
Pekerjaan
Alamat

: Jln. Terusan Bondowoso, No. 27 Malang


:
:
:
:
:
:

Ny. A
Anak
Wiraswasta
Jln. Terusan Bondowoso, No. 88 Malang Telp :
081234xxxxxx
STATUS KESEHATAN SEKARANG :
Keluhan utama:
Klien mengatakan sering susah tidur
Pengetahuan, usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan:
Klien mengatakan pernah berobat ke puskesmas
Obat-obatan:
Amlodipin, Captopril

4.

AGE RELATED CHANGES(PERUBAHAN TERKAIT PROSES MENUA)


FUNGSI FISIOLOGIS
1.
Kondisi Umum
Ya
Tidak
Kelelahan
:
Perubahan BB
:
Perubahan nafsu makan
:
Masalah tidur
:
Kemampuan ADL
:

KETERANGAN
: Klien mengatakan sering merasa lelah
dan pusing saat melakukan pekerjaan
berat, berat badan klien mengalami
penuruan sejak 3 bulan terakhir dan tidak
nafsu untuk makan (pasca istri
meninggal), klien susah tidur khususnya
pada malam hari karena merasa kesepian.
2.

Integumen
Ya
Lesi / luka
Pruritus
Perubahan pigmen
Memar
Pola penyembuhan lesi
KETERANGAN

3.

:
:
:
:
:
:

Tidak terdapat
integument

Tidak

gangguan

pada

Hematopoetic
Ya
Perdarahan abnormal
Pembengkakankellimf
e

:
:

Tidak

14

sistem

Anemia
KETERANGAN

4
.

:
:

Kepala

Sakit kepala
Pusing
Gatal pada kulit kepala
KETERANGAN

5
.

Klien mengatakan memiliki riwayat tekanan darah


tinggi. TD: 150/100 mmHg N: 104x/menit

Ya
Tidak
:
:
:

: klien mengatakan sering merasakan sakit kepala,


nyeri pada tengkuk. Klien mengatakan setelah
bangun tidur, kepala klien terasa pusing (berputarputar)

Mata
Ya
Perubahan
penglihatan
Pakai kacamata
Kekeringan mata
Nyeri
Gatal
Photobobia
Diplopia
Riwayat infeksi
KETERANGAN

6.

Tidak

:
:

: Klien mengatakan memakai kacamata sejak usia 47 tahun


karena pengelihatan plus. Mata klien nampak merah,
berair

Telinga
Ya
Penurunan pendengaran
Discharge
Tinitus
Vertigo
Alat bantu dengar
Riwayat infeksi
Kebiasaan membersihkan telinga
Dampak pada ADL
KETERANGAN

7.

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Tidak

Tidak terdapat gangguan pada ADL


Klien
mengatakan
membersihkan
telingga dengan cotton buth jika telinga
terasa gatal namun tidak pernah
memeriksakan ke puskesmas atau
dokter THT. Pada saat nyeri kepala
klien mengeluh telinga berdenging

Hidung sinus
Ya
Rhinorrhea
Discharge

:
:

Tidak

15

Epistaksis
Obstruksi
Snoring
Alergi
Riwayat infeksi
KETERANGAN
8.

: Tidak terdapat gangguan pada hidung sinus

Mulut, tenggorokan
Ya
Tidak
:

:
:

: 2x/hari pagi hari setelah mandi dan malam


sebelum tidur
: Gigi ada yang copot 2 digeraham atas 1 gigi
geraham bawah depan

Nyeri telan
Kesulitan menelan
Lesi
Perdarahan gusi
Caries
Perubahan rasa
Gigi palsu
Riwayat Infeksi
Pola sikat gigi
KETERANGAN

9
.

Leher

Kekakuan
Nyer i tekan
Massa
KETERANGAN

10.

Ya
Tidak
:
:

: Klien mengatakan leher sering terasa kaku, terasa


nyeri.

Pernafasan
Batuk
Nafas pendek
Hemoptisis
Wheezing
Asma
KETERANGAN

11.

Ya
Tidak
:

: Klien mengatakan terkadang merasakan kesulitan


bernafas setelah mengalami mimpi buruk.

Kardiovaskuler
Ya
Chest pain
Palpitasi
Dipsnoe
Paroximal nocturnal
Orthopnea

:
:
:
:
:

Tidak

16

Murmur
Edema
KETERANGAN

12.

:
:
:

Tidak
terdapat
kardiovaskuler

gangguan

Gastrointestinal
Ya
Disphagia
Nausea / vomiting
Hemateemesis
Perubahan nafsu makan
Massa
Jaundice
Perubahan pola BAB
Melena
Hemorrhoid
Pola BAB
KETERANGAN

13.

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Tidak

1x/ 2 hari
Klien mengatakan nafsu makan menurun
semenjak istrinya meninggal dan mengalami
penurunan berat badan. Klien mengatakan
mengalami konstipasi

Perkemihan
Dysuria
Frekuensi
Hesitancy
Urgency
Hematuria
Poliuria
Oliguria
Nocturia
Inkontinensia
Nyeri berkemih
Pola BAK
KETERANGAN

14.

pada

Ya
Tidak
:

: 4 kali sehari
:

: 4 kali sehari, warna kuning


: Tidak terdapat gangguan pada
perkemihan

Reproduksi (laki-laki)
Ya
Lesi
Disharge
Testiculer pain
Testiculer massa
Perubahan gairah sex
Impotensi

:
:
:
:
:
:

Reproduksi
(perempuan)
Lesi
Discharge
Postcoital bleeding
Nyeri pelvis

:
:
:
:

Tidak

17

sistem

Prolap
Riwayat menstruasi
Aktifitas seksual
Pap smear
KETERANGAN

:
: .....................................................................
:
:
: -

15. Muskuloskeletal
Ya
Nyeri Sendi
Bengkak
Kaku sendi
Deformitas
Spasme
Kram
Kelemahan otot
Masalah
gaya
berjalan
Nyeri punggung
Pola latihan
Dampak ADL
KETERANGAN

16
.

Tidak

: klien mengatakan tiap pagi jalan-jalan pagi namun


sekarang jarang karena mudah lelah
: Dalam pemenuhan ADL klien mampu mandiri
: Nyeri terasa pada saat bangun tidur dan berjalan jauh.
Skala nyeri 5. Ketika nyeri klien memilih untuk
istrirahat atau merendam kaki dengan air hangat.

Persyarafan

Headache
Seizures
Syncope
Tic/tremor
Paralysis
Paresis
Masalah memori
KETERANGAN

5.

:
:
:
:
:
:
:
:

Ya
Tidak
:
:

: Klien mengatakan sering sakit kepala, sakit kepala


sering dirasakan pada saat bangun tidur.

POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL :


Psikososial
YA
Tidak
Cemas
:
Depresi
:

Ketakutan
:

Insomnia
:
Kesulitan dalam mengambil :

keputusan
Kesulitan konsentrasi
:

Mekanisme koping
: Mekanisme koping kurang adaptif
Persepsi tentang kematian : klien mengatakan setiap manusia akan
mengalami kematian

18

Dampak pada ADL : klien mudah lelah dalam melakukan kegiatan yang
berat
Spiritual
Aktivitas ibadah klien mengatakan melakukan sholat 5 waktu
namun jarang mengikuti pengajian yang ada di wilayah sekitar
tempat tinggalnya
Hambatan
:-

6.

7.

LINGKUNGAN :

Kamar : kamar klien memiliki penerangan yang cukup

Kamar mandi : lantai kamar mandi licin dan tidak terdapat pegangan,
closet jongkok

Dalam rumah : lantai rumah tidak licin, penerangan baik

Luar rumah : terdapat taman dan kursi duduk di depan rumah

ADDITIONAL RISK FACTOR


Riwayat perilaku (kebiasaan, pekerjaan, aktivitas) yang mempengaruhi kondisi saat
ini:
Klien tinggal sendiri di rumah, jarang melakukan aktivitas, sering murung, dank lien
memiliki kebiasaan mengkonsumsi kopi.

19

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
No

Kriteria

Makan

Mandi

Berpakaian

Berhias

Kontrol Bowel (BAB)

Kotrol Bladder (BAK)

Penggunaan toilet
(mencuci, menyeka,
menyiram)

Naik turun tangga

Mobilisasi di permukaan

Skor

0 = tidak mampu
5 = dengan bantuan (memaotong makanan,
mengoleskan selai , dll atau membutuhkan menu
makanan tertentu, misal makana cair, bubur)
10 = mandiri
0 = dependen
5 = mandiri
0 = dependen
5 = butuh bantuan
10 = mandiri (mengancingkan, memakai resleting,
menalikan renda/tali)
0 = butuh bantuan dalam perawatan pribadi
5 = mandiri (mencuci wajah. Keramas, gosok gigi,
bercukur)
0 = inkontiensia/ membutuhkan bantuan enema untuk
BAB
5 = sesekali BAB tidak sadar (occasional accident)
10 = Kontrol BAB baik
0 = inkontiensia atau memakia kateter dan tidak
mampu merawat kateter dan baik
5 = sesekali BAK tidak sadar (occasional accident)
10 = Kontrol BAK baik
0 = Tidak mampu
5 = butuh bantuan, tetapi bisa melakukan sesuatu
dengan mandiri
10 = mandiri
0 = Tidak mampu
5 = dengan bantuan
10 = mandiri
0 = tidak mampu mobilisasi atau berjalan/kursi roda <

20

Skor
yang
didapat
10

5
10

10

10

10

10

15

datar

10

Berpindah ( dari kursi ke


tempat tidur dan
sebaliknya

45,72 m (50 yard)


5 = mandiri dengan kursi roda > 45,72 m (50 yard),
mampu memosisikan kursi roda di pojok
ruangan
10 = berjalan dengan bantuan 1 orang > 45,72 m (50
yard)
15 = berjalan mandiri (mungkin dengan bantuan alat,
pegangan) sejauh > 45,72 m (50 yard)
0 = tidak mampu berpindah, tidak dapat duduk
dengan seimbang
5 = dengan bantuan lebih banyak (1 aau 2 orang yang
membantu)
10 = dengan bantuan lebih sedikit
15 = mandiri
TOTAL SKOR

Interpretasi:
0-20 = ketergantungan total
21-60 = Ketergantungan berat
61-90 = ketergantungan sedang
91-99 = ketergantungan ringan
100 = mandiri
(Lewis, Carole & Shaw, Keiba, 2006)

21

15

100

2. Kognitif
2. MMSE (Mini Mental Status Exam)
Nama : Tn. Imam
Tgl/Jam:
No

Aspek
Kognitif
Orientasi

Nilai
maksima
l
5

Nilai
Klien
3

Orientasi

Registrasi

Perhatiandankalkulas
i

Mengingat

Bahasa

Kriteria
Menyebutkan dengan benar :
Tahun : .............................
Hari :.................................
Musim : ............................
Bulan : ..............................
Tanggal :
Dimanasekarangkitaberada ?
Negara: Panti :

Propinsi: . Wisma/Kamar :

Kabupaten/kota :

Sebutkan 3 namaobyek (misal : kursi, piring,


kertas), kemudian ditanyakankepadaklien,
menjawab :
1) Kursi
2). piring
3). Kertas
Meminta klien berhitung mulai dari 100 kemudia
kurangi 7 sampai 5 tingkat.
Jawaban :
1). 93
2). 86
3). 79
4). 72
5). 65
Mintaklienuntukmengulangiketigaobyekpadapoink
e- 3 (tiappoinnilai 1)
1)..
2)
3)..
Menanyakan pada klien tentang benda (sambil
menunjukan benda tersebut).
1). ...................................
2). ...................................
3). Minta klien untuk mengulangi kata berikut :
tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab :
Minta klien untuk mengikuti perintah berikut yang
terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda
5). Lipat dua
6). Taruh dilantai.
Perintahkan pada klien untuk hal berikut (bila

22

aktifitas sesuai perintah yang dituliskan di kertas


nilai satu poin.
7). Tutup mata anda
8). Perintahkan kepada klien untuk menulis
kalimat dan
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang saling
bertumpuk

Total nilai
30
25
Interpretasihasil :
24 30 : tidak ada gangguan kognitif
18 23 : gangguan kognitif sedang
0 - 17 : gangguan kognitif berat
Kesimpulan : tidak ada gangguan kognitif

3. GDS
Pengkajian Depresi

23

No

Pertanyaan

1.
2.
3.
4.
5.
8.
7.
8.
9.

Jawaban
Ya Tdk Hasil
0
1
1
1
0
1
1
0
1
1
0
1
0
1
1
1
0
0
0
1
1
1
0
0
1
0
1

Anda puas dengan kehidupan anda saat ini


Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan
Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong
Anda sering merasa bosan
Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu
Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda
Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu
Anda sering merasakan butuh bantuan
Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan
sesuatu hal
10. Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda
1
0
11. Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa
0
1
12. Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda
1
0
13. Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat
0
1
14. Anda merasa tidak punya harapan
1
0
15. Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda
1
0
Jumlah
(Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam Gerontological
Nursing, 2006)
Interpretasi :Jika Diperoleh skore 5 atau lebih, maka diindikasikan depresi

4. Fungsi sosial lansia


APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA
Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia

24

0
0
0
1
1
0
9

NO

URAIAN

FUNGSI

SKORE

1.

Saya puas bahwa saya dapat kembali pada


keluarga (teman-teman) saya untuk membantu
pada waktu sesuatu menyusahkan saya

ADAPTATION

2.

Saya puas dengan cara keluarga (temanteman)saya membicarakan sesuatu dengan saya
dan mengungkapkan masalah dengan saya

PARTNERSHIP

3.

Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)


saya menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan aktivitas / arah baru

GROWTH

4.

Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman)


saya mengekspresikan afek dan berespon terhadap
emosi-emosi saya seperti marah, sedih/mencintai

AFFECTION

5.

Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya


meneyediakan waktu bersama-sama

RESOLVE

TOTAL

Kategori Skor:
Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab:
1). Selalu : skore 2
2). Kadang-kadang : 1
3). Hampir tidak pernah : skore 0
Intepretasi:
< 3 = Disfungsi berat
4 - 6 = Disfungsi sedang
> 6 = Fungsi baik

Smilkstein, 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005

ANALISA DATA
Data Fokus
DS: klien mengatakan tidak bisa
tidur, klien tidur hanya tidur 5

Etiologi
Halangan lingkungan

25

Problem
Gangguan pola tidur

jam per hari, dan mudah


terbangun

DO:
klien nampak mengantuk
mata nampak merah, berair
selalu menguap saat diajak
berbicara
klien tiggal sendirian di rumah
sejak 3 bulan yang lalu
klien terbiasa minum kopi sehari
2-3 gelas perhari
DS: klien mengatakan istrinya
baru meninggal 3 bulan yang lalu

DO:
Klien tampak murung
Skor pengkajian depresi 9
Klien mengalami depresi
Klien jarang keluar rumah
Klien mengalami gangguan tidur
Mudah lelah
DS: klien mengatakan nafsu
makan meurun

Kematian orang terdekat

Duka cita terganggu

Gangguan psikososial

Ketidakseimbangan nutrisi: kurang


dari kebutuhan tubuh

DO:
- Klien mengalami penurunan berat
badan selama 3 bulan terakhir
- Kurang minat pada makanan
- Mukosa kering

26

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan
Domain 4 : Aktivitas/ Istirahat
Kelas 1 : Tidur/Istirahat
000198 Gangguan pola tidur
Interupsi jumlah waktu dan kualitas tidur
akibat faktor eksternal

NOC
Domain I Fungsi Kesehatan
Kelas A Pemeliharaan Energi
0004 Tidur
Diharapakan klien:
- Jam tidur (4)
- Pola tidur (4)
- Kualitas tidur (4)
- Kesulitan memulai tidur (4)

NIC
a. Manajemen
1. Ciptakan l
mendukun
2. Hindari ga
untuk wak
3. Hindari ca
4. Posisikan
kenyaman
tubuh)
5. Sesuaikan

b. Terapi Relak
1. Jelaskan
serta jen
2. Berikan
relaksasi
relaksasi
3. Ciptakan
menggun
4. Dorong
nyaman
5. Tujukka
6. Dorong
teknik re
7. Evaluasi
yang dic
8. Evaluasi
terhadap
Domain 9 Koping/Toleransi stress
Kelas 2 Respon Koping
00135 Duka cita terganggu
Suatu gangguan tidur yang terjadi setelah
kematian orang yang terdekat, ketika
pengalaman disstres yang menyertai
kehilangan gagal memenuhui harapan
normatif bermanifestasi gangguan fungsional

Domain III Kesehatan Psikososial


Kelas M Kesejahteraan Psikologis
1208 Tingkat Depresi
Diharapkan klien:
- Perasaan depresi (3)
- Insomnia (4)
- Berat badan naik (3)
- Nafsu makan meningkat (3)
- Kesedihan (4)

a. Pengurang
1. Gunakan
meyakin
2. Nyataka
perilaku
3. Pahami
perspekt
4. Puji/kua
5. Dukung
ketakuta
6. Berikan
untuk m
7. Atur pen
mengura
8. Kaji tand

b. Peningkata
1. Bantu kl

27

2.
3.

4.
5.

BAB IV
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Tidur merupakan keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi
individu terhadap lingkungan menurun atau menghilang, dan dapat
dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup. Tidur dibagi
menjadi dua yaitu tidur REM dan NREM. Pada fisiologi tidur yang normal
terdapat siklus tidur pergantian tidur REM dan NREM. Jika terdapat
gangguan dalam siklus tidur dapat menyebabkan gangguan pada tidur.
Gangguan tidur adalah kondisi dimana terdapat gangguan pada
jumlah, frekuensi, atau kualitas tidur. Jenis gangguan tidur dibagi menjadi 4
yaitu insomnia, parasomnia,

gangguan tidur yang berhubungan dengan

gangguan kesehatan/ psikiatri, dan gangguan tidur yang tidak terklasifikasi.


Sedangkan gangguan tidur yang sering terjadi pada lansia adalah insomnia,
hipersomnia dan apnea tidur. Gangguan tidur dapat terjadi karena faktor
psikologis dan faktor lingkungan.
Penatalaksanaan pada gangguan tidur dapat dilakukan dengan
pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer dapat berupa
memulai kebiasaan tidur yang baik dan tepat, menghindari hal-hal yang dapat
menganggu tidur, serta pengaturan lingkungan tempat tidur. Pencegahan
sekuder diawali dengan pengkajian untuk menentukan penyebab dari

28

sumber y
tujuanny
Bantu kl
dengan c
Bantu kl
penilaian
lebih ob
Bantu kl
dukunga
Instruksi
teknik re

gangguan tidur. Pada pencegahan sekunder biasanya akan diberikan terapi


farmakologi untuk membantu memperbaiki gangguan tidur. Pencegahan
tersier dapat diberikan pada lansia yang mengalami apnea tidur dengan
dilakukan rehabilitasi.
Asuhan keperawatan yang diberikan pada gangguan tidur sangat
diperlukan demi menjaga kualitas dan kuantitas tidur lansia. Pengkajian yang
intensif diperlukan untuk meneggakkan diagnose yang sesuai. Perawat dapat
menggunakan pengkajian depresi untuk mengetahui tingkat depresi pada
lansia dan mencari tahu apakah depresi yang dialmi mengganggu tidur lansia.
Perawat dapat menggunakan beberapa terapi yang sesuai dalam mengatasi
tidur lansia yang sesuai dengan penyebab gangguan tidur seperti higieni tidur,
relaksasi autogenik, dan relaksasi autogenik.
B.

Saran
Setelah disusunnya makalah tentang asuhan keperawatan pada lansia
dengan

gangguan

degenerative

gangguan

tidur, mahasiswa

mengetahui asuhan keperawatan yang tepat diberikan pada lansia.

DAFTAR PUSTAKA

29

mampu

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.
Amir, N. 2007. Ganggauan Tidur pada Lanjut Usia Diagnosis dan
Penatalaksanaannya/ Cermin Dunia Kedokteran No. 157, (Online),
(http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/36779901/Gangguan_
Tidur_pd_Lansia__CDK_Kalbe.pdf?
AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1479104818
&Signature=Fp5KswBAn8H7pjtNItCemZWcHhE%3D&responsecontentdisposition=inline%3B%20filename%3DGangguan_Tidur_pd_
Lansia.pdf), diakses tanggal 27 Oktober 2016.
Herdman, T. H. 2015. NANDA International Inc. Diagnosis Keperawatan:
Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC
Hidayat, A. A. A. 2006. Pengatar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep
Dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Potter, P. & Perry, A. G. 2005. Fundamental Keperawatan Edisi 7 Volume 1.
Jakarta: EGC.
Priyoto. 2015. Nursing Intervention Classification (NIC) dalam Keperawata
Gerontik. Jakarta: Salemba Medika.
Stanley, M. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.

30