Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN

EVALUASI PROGRAM POKOK PUSKESMAS


HIGIENE DAN SANITASI TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN (TPM)
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I SUMPIUH

Disusun Oleh
Dian Dwi Nathania Salim
G4A015120

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2016
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan

Evaluasi Program Pokok Puskesmas


Higiene dan Sanitasi Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) di
Wilayah Kerja Puskesmas I Sumpiuh

Disusun untuk memenuhi syarat ujian


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Disusun Oleh :
Dian Dwi Nathania Salim
G4A015120

Telah disetujui dan dipresentasikan


pada tanggal
Agustus 2016
Perseptor lapangan,

dr. Dri Kusrini


NIP. 197202122002122004

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah hak asasi manusia dan merupakan investasi sumber
daya manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan
pembangunan manusia. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi semua
pihak untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan demi
kesejahteraan masyarakat.
Salah satu faktor penentu kesehatan adalah pangan. Semakin maju
tingkat kesejahteraan masyarakat, makin besar dan makin kompleks
kebutuhan masyarakat terhadap beraneka ragam jenis produk pangan yang
sehat. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air,
baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai
makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan
pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses
penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.
Pengelolaan makanan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penerimaan
bahan mentah atau makanan terolah, pembuatan, pengubahan bentuk,
pengemasan, pewadahan, pengangkutan, dan penyajian (Permenkes RI
No.1096, 2011)
Pemenuhan pangan yang aman dan bermutu merupakan hak asasi setiap
manusia. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam
Pasal 111 ayat (1) menyatakan bahwa makanan dan minuman yang digunakan
masyarakat harus didasarkan pada standar dan/atau persyaratan kesehatan.
Keamanan Pangan merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat, karena
makanan yang aman dan bergizi akan melindungi dan mencegah terjadinya
penyakit atau gangguan kesehatan lainya. Keamanan pangan pada dasarnya
adalah upaya higiene, sanitasi, mutu, dan kandungan gizi pada produk olahan
makanan (Peraturan Pemerintah No.28, 2004; Prabu, 2008).
Higiene sanitasi makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor
risiko terjadinya kontaminasi terhadap makanan, baik yang berasal dari bahan
makanan, orang, tempat, dan peralatan agar aman dikonsumsi. Tujuannya
adalah mencegah gangguan kesehatan atau penyakit akibat makanan,

terutama penularan penyakit dan keracunan pangan akibat pangan yang


tercemar (Permenkes RI No.1096, 2011).
Seringkali, penyakit-penyakit yang timbul dari makanan disebabkan oleh
kegagalan dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip dasar kebersihan.
Makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan lebih dari dua ratus
penyakit, mulai dari diare hingga kanker. Menurut World Health Organization
(WHO), kurang lebih 600 juta atau 1 dari 10 orang di dunia mengalami
gangguan kesehatan akibat makan makanan yang terkontaminasi dan
akibatnya sejumlah 420 ribu orang meninggal setiap tahun. Penyakit diare
yang timbul karena konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi telah
menyebabkan 550 juta orang di dunia sakit dan menyebabkan 230 ribu
kematian tiap tahun, terutama di negara-negara berkembang. Pada
kenyataannya angka ini kemungkinan bisa lebih tinggi karena kebanyakan
kasus keracunan makanan tidak terlaporkan (WHO, 2015).
Puskesmas merupakan penanggung jawab penyelenggara

upaya

pembangunan kesehatan tingkat pertama. Dalam pelaksanaannya, Puskesmas


memiliki program kesehatan lingkungan sebagai salah satu program
pokoknya. Pencapaian program higiene sanitasi tempat pengelolaan makanan
di wilayah kerja Puskesmas I Sumpiuh pada tahun 2015 adalah 51,1%.
Berdasarkan Rencana Strategis Dinas Kesehatan (Renstra Dinkes) 20132018, angka tersebut belum memenuhi target yaitu 62%. Masih rendahnya
higiene sanitasi tempat pengelolaan makanan dapat disebabkan oleh banyak
faktor dan untuk meningkatkan hal tersebut Puskesmas I Sumpiuh telah
melakukan upaya pemantauan berkala tempat-tempat pengelolaan makanan.
Hal ini yang menarik penulis untuk mengevaluasi program higiene sanitasi
tempat pengelolaan makanan di Puskesmas I Sumpiuh.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui masalah-masalah terkait pelaksanaan 6 Program
Pokok Puskesmas di Puskesmas I Sumpiuh.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap belum
tercapainya target pencapaian higiene dan sanitasi tempat
pengelolaan makanan.
4

b. Mengetahui

upaya-upaya

Puskesmas

Sumpiuh

dalam

meningkatkan pencapaian higiene dan sanitasi tempat pengelolaan


makanan..
C. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Praktis
a. Memberikan informasi kepada pembaca mengenai faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap higiene sanitasi tempat pengelolaan makanan di
Puskesmas I Sumpiuh.
b. Menjadi dasar ataupun masukan bagi Puskesmas dalam mengambil
kebijakan jangka panjang dalam upaya peningkatan higiene sanitasi
tempat pengelolaan makanan.
2. Manfaat Teoritis
Menjadi

dasar

untuk

penelitian

selanjutnya

bagi

pihak

yang

membutuhkan.

II. ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS


A. Deskripsi Situasi dan Kondisi Puskesmas dan Wilayah Kerja
1. Keadaan Geografi
Puskesmas I Sumpiuh adalah salah satu puskesmas di Kabupaten
Banyumas yang memiliki letak cukup strategis karena berada di tepi
jalan raya provinsi dan berada di daerah perbatasan dengan kabupaten
Cilacap. Wilayah Puskesmas I Sumpiuh terletak diperbatasan Kabupaten
Banyumas

dengan

Kabupaten

Cilacap,

dan

berbatasan

dengan

(Puskesmas 1 Sumpiuh, 2015):


a.
b.
c.

Sebelah Utara : Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas


Sebelah Timur : Wilayah Kerja Puskesmas II Sumpiuh
Sebelah Selatan
:
Kecamatan Nusawungu Kabupaten

Cilacap
d.
Sebelah Barat : Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas.
Wilayah kerja Puskesmas I Sumpiuh secara administratif mencakup
7 desa, seluas 2.028,115 Ha atau sama dengan 26, 98 km 2 dengan rincian
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Kelurahan Kebokura
Desa Karanggedang
Desa Kemiri
Desa Kuntili
Desa Pandak
Desa Lebeng
Desa Ketanda

: 202,948 Ha
: 202,458 Ha
: 284,000 Ha
: 327,050 Ha
: 275,935 Ha
: 228,656 Ha
: 542,179 Ha

Aksesibilitas puskesmas I Sumpiuh adalah sebagai berikut: jarak


puskesmas ke kebupaten yaitu 100% aspal sejauh 40 km; jarak
puskesmas ke desa/ kelurahan yaitu 1-5 km; semua desa/ kelurahan dapat
dijangkau dengan kendaraan roda 2, dan komunikasi berita dapat melalui
kantor pos, telepon, radio, TV serta surat kabar (Puskesmas I Sumpiuh,
2015).
2. Keadaan Demografi
Jumlah penduduk keseluruhan 7 Desa wilayah kerja Puskesmas I
Sumpiuh 27.436 jiwa dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 2.1. Jumlah dan kepadatan penduduk tahun 2015
No.
Kelurahan
Jumlah Jumlah
Luas
Kepadatan
6

Penduduk

KK

Wilayah

1
2
3
4
5
6
7

Kebokura
4560
1361
202.948
Karanggedang
2011
677
202.458
Kemiri
5263
1312
284.000
Kuntili
4163
1308
327.500
Pandak
3291
940
275.930
Lebeng
2749
789
228,656
Ketanda
5399
2163
542.179
Jumlah
27436
8.550 2.063.671
Sumber: Data Sekunder Puskesmas I Sumpiuh tahun 2015

Penduduk
(per km2)
2.25
0.99
1.85
1.27
1.19
1.20
1.00
1.33

Desa Ketanda memiliki jumlah penduduk tertinggi yaitu 5399 jiwa


dan Desa Karanggedang memiliki penduduk paling sedikit yaitu 2011
jiwa. Kepadatan penduduk tertinggi berada di Desa Kebokura yaitu
sebesar 2,25/km2 sedangkan desa Karanggedang menempati urutan
kepadatan penduduk terendah yaitu 0,99/km2 (Puskesmas I Sumpiuh,
2015).
a. Jumlah penduduk menurut golongan umur
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas I Sumpiuh menurut
golongan umur adalah sebagai berikut:
Tabel 2.2. Jumlah penduduk menurut golongan umur
No Kelompok Umur Laki-Laki
Perempuan
1
0-4 tahun
767
706
2
5-14 tahun
1.947
1.872
3
15-44 tahun
6.899
6.518
4
45-64 tahun
3.138
3.278
5
>65 tahun
1.138
1.173
Jumlah
13.889
13.547
Sumber: Data Sekunder Puskesmas I Sumpiuh tahun 2015

Total
1473
3.819
13.417
6.416
2.311
27.436

Berdasarkan data diatas, jumlah penduduk terbesar berada pada


rentang umur 15-44 tahun, yaitu sebanyak 13.417 jiwa sedangkan
jumlah penduduk terendah pada kelompok umur 0-4 tahun, yaitu
sebanyak 1.473 jiwa (Puskesmas I Sumpiuh, 2015).
b. Tingkat Pendidikan Penduduk
Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas I
Sumpiuh dapat di lihat pada tabel 2.3.
Tabel 2.3. Tingkat Pendidikan Penduduk

Tingkat Pendidikan
Jumlah
Tidak/ belum tamat SD/MI
1.772
SD/MI
7.268
SMP/MTs
6.335
SMA/SMK/MA
6.718
AK/Diplomat
515
Universitas
379
S2/S3 (Master/Doktor)
47
Sumber: Data Sekunder Puskesmas I Sumpiuh tahun 2015
Berdasarkan data diatas, tingkat pendidikan penduduk dengan
jumlah paling tinggi adalah tingkat SD/MI sebanyak 7.268 orang,
sedangkan tingkat pendidikan terendah adalah tingkat S2/S3 atau gelar
Master/Doktor yaitu sebesar 47 orang (Puskesmas I Sumpiuh, 2015).
c. Rasio Jenis Kelamin
Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dari
rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan
perempuan per 100 penduduk perempuan. Berdasarkan penghitungan
sementara angka proyeksi penduduk tahun 2015 berdasarkan data,
didapatkan jumlah penduduk laki-laki 13.929 jiwa (50,05%) dan
jumlah penduduk perempuan 13.650 jiwa (49,95%). Sehingga
didapatkan rasio jenis kelamin sebesar 98,79 per 100 penduduk
perempuan, berarti setiap 100 penduduk perempuan ada sekitar 99
penduduk laki-laki (Puskesmas I Sumpiuh, 2015).
B.

Capaian Program dan Derajat Kesehatan Masyarakat


Pembangunan kesehatan di Kabupaten Banyumas masih diarahkan
pada rendahnya derajat kesehatan, status gizi dan kesejahteraan sosial, oleh
karena itu pembangunan kesehatan diarahkan dalam upaya perbaikan
kesehatan masyarakat melalui perbaikan gizi, kebersihan lingkungan,
pemberantasan penyakit menular, penyediaan air bersih serta kesehatan ibu
dan anak (Puskesmas 1 Sumpiuh, 2015).
1. Derajat Kesehatan Masyarakat
a. Angka Kesakitan
1) DBD

Angka kesakitan atau Incidence Rate DBD di wilayah kerja


Puskesmas

Sumpiuh

pada

tahun

2015

adalah

sebesar

7,76/100.000 penduduk atau sebanyak 2 kasus, meningkat 2 kali


lipat jika dibandingkan dengan Incidence Rate DBD tahun
sebelumnya yaitu 1kasus sebesar 3,88/100.000 pendudukan.
Sampai bulan maret 2016, sudah terjadi 4 kasus DBD dan lebih
dari 20 kasus demam dengue yang menyebabkan terjadinya KLB
DBD di wilayah kerja Puskesmas I Sumpiuh.
2) Malaria
Jumlah kasus malaria tahun 2015 adalah sebanyak 0 kasus, sama
dengan tahun 2014 sebanyak 0 kasus.
3) TB Paru
Jumlah kasus TB paru positif pada tahun 2015 sebanyak 21 kasus,
sedangkan pada tahun 2014 terdapat 12 kasus TB paru positif atau
mengalami peningkatan kasus sebanyak 9 kasus. Sedangkan angka
kesembuhan penyakit TB paru tahun 2015 sebesar 100 % dimana
dari 21 orang jumlah penderita BTA (+), yang berhasil sembuh
sebanyak 21 orang penderita.
4) Diare
Selama tahun 2015 cakupan penemuan dan penanganan penyakit
diare di Puskesmas 1 Sumpiuh sebanyak 970 orang (67,3%), lebih
rendah dibanding tahun 2014 sebanyak 733 kasus (67,3%).
5) Selama tahun 2015 ditemukan 4 kasus kusta dengan jenis kusta
multibasiler (7,77%), mengalami kenaikan kasus bila dibandingkan
tahun 2014 yang hanya 2 kasus. Angka Kesakitan Kusta tahun
2015 sebesar 14,5/100.000 penduduk.

2. Angka Kematian
1) Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan jumlah kematian bayi (0-11
bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun 1 tahun. Angka
Kematian Bayi (AKB) di Puskesmas I Sumpiuh tahun 2015 yaitu
9

sebanyak 2 bayi atau sebesar 9,2/1.000 kelahiran hidup. AKB di


Puskesmas 1 Sumpiuh tahun 2015 lebih rendah dibandingkan dengan
target cakupan dalam Millenium Development Goals (MDGs) tahun
2015 yaitu maksimal 17/1.000 kelahiran hidup.
2) Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita
0-5 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun.
Jumlah kematian bayi dan balita di Puskesmas I Sumpiuh tahun 2015
yaitu sebanyak 4 bayi. AKABA Puskesmas I Sumpiuh tahun 2015
sebesar 11,5/1.000 kelahiran hidup. AKABA di Puskesmas 1 Sumpiuh
tahun 2015 lebih rendah dibandingkan dengan target cakupan dalam
Millenium Development Goals (MDGs) ke 4 tahun 2015 yaitu
maksimal 23/1.000 kelahiran hidup.
3) Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) di Puskesmas I Sumpiuh tahun 2015
sebesar 0/100.000 kelahiran hidup, sama bila dibandingkan dengan
AKI pada tahun 2014 yang sebesar 0/100.000 kelahiran hidup.
3. Status Gizi
1) Jumlah bayi berat lahir rendah (BBLR) di Puskesmas I Sumpiuh pada
tahun 2015 sebanyak 36 (7,8%), meningkat apabila dibandingkan
tahun 2014 sebanyak 28 (6,3%).
2) Persentase balita dengan gizi kurang (BB/U) Puskesmas I Sumpiuh
tahun 2015 sebanyak 4 (0,3%) menurun jika dibanding dengan tahun
2014 sebesar 51 anak (10,26%).
3) Balita gizi buruk (BB/TB) tahun 2015 sebanyak 1 balita, lebih tinggi
bila dibanding tahun 2014 sebanyak 0 balita.
4. Upaya Kesehatan
1) Cakupan pertolongan persalinan ditolong tenaga kesehatan
Jumlah ibu bersalin tahun 2015 adalah 457 orang. Jumlah yang
ditolong oleh nakes sebanyak 461 orang atau sebesar 100,9%. Target
Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pertolongan persalinan oleh
nakes tahun 2015 sebesar 99,6%. Dengan demikina cakupan persalinan

10

oleh nakes di Puskesmas 1 Sumpiuh tahun 2015 sudah memenuhi


SPM.
2) Cakupan pelayanan nifas
Cakupan pelayanan nifas tahun 2015 yaitu 461 (100%) dan sudah
melampaui target SPM tahun 2015 (90%). Cakupan ini meliputi semua
desa/ kelurahan di wilayah kerja Puskesmas I Sumpiuh.
3) Cakupan pelayanan anak balita
Jumlah balita yang mendapatkan pelayanan kesehatan minimal 8 kali
di puskesmas I Sumpiuh tahun 2015 sebanyak 1.823 (107,7%).
Cakupan ini sudah melampaui targer SPM tahun 2015 yaitu sebesar
90%.
4) Cakupan pemberian vitamin A pada bayi
Cakupan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi tahun
2015 yaitu sebesar 201 ( 100%)
5) Cakupan pemberian vitamin A pada balita
Cakupan pemberian vitamin A pada balita tahun 2015 yaitu sebesar
1624 (100%).
6) Persentase bayi yang mendapatkan ASI eksklusif
Persentase bayi yang mendapatkan ASI eksklusif di daaerah cakupan
pelayanan Puskesmas I Sumpiuh pada tahun 2015 adalah sebanyak 97
bayi (58,1%), meningkat bila dibandingkan tahun 2014 yaitu sebesar
53,2%
5. Kesehatan Lingkungan
Keadaan lingkungan masyarakat mempunyai peranan yang sangat
penting dalam mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat di samping
perilaku masyarakat itu sendiri. Upaya untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat, beberapa indikator penting yang dapat mempengaruhi
kesehatan lingkungan, yaitu sebagai berikut (Puskesmas I Sumpiuh, 2015):
1) Rumah sehat
Cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan di Puskesmas I
Sumpiuh tahun 2015 sebanyak 4.958 rumah dari 7.751 rumah
(63,97%)

meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun 2014

11

sebesar 37,9% yaitu rumah sehat mencapai 2.381 dari 6.278 rumah
yang diperiksa.
2) Akses air bersih
Cakupan keluarga yang memiliki akses air bersih pada tahun 2015
sebesar 1.832 keluarga (76,9%). Jumlah sarana air bersih tersebut,
terbanyak memanfaatkan sumur gali (70,2 %).
3) Sanitasi Dasar
Sarana sanitasi dasar meliputi jamban, tempat sampah, dan
pengelolaan air limbah. Cakupan keluarga yang memiliki jamban yang
memenuhi syarat kesehatan di Puskesmas I Sumpiuh sebanyak 826
keluarga (60,6%) dari keseluruhan 1.362 (57,2%) keluarga yang
memiliki jamban. Keluarga yang memiliki tempat sampah sebanyak
1.313 (55,1%) dan yang memiliki tempat sampah sehat sebanyak 711
(54,2%), yang memiliki tempat pengolahan air limbah sebanyak 1.255
(52,7%) dan yang memiliki tempat pengolahan air limbah sehat
sebnyak 689 keluarga (54,9%).
4) Tempat Pengelolaan Makanan
Cakupan tempat pengelolaan makanan yang memenuhi syarat
kesehatan pada tahun 2015 adalah 22 TPM (51,1%) dari 43 TPM yang
diperiksa.
5) Kesehatan Lingkungan Institusi
Kondisi kesehatan lingkungan institusi meliputi sarana pelayanan
kesehatan, sarana pendidikan, instalasi pengolahan air minum, sarana
ibadah, dan perkantoran. Pada tahun 2015, pencapaian cakupan insitusi
yang dibina yaitu sarana pelayanan kesehatan (90%) meningkat bila
dibanding tahun 2014 (76,9%), sarana pendidikan (61%) sama dengan
tahun 2014, sarana ibadah (62,9%) meningkat bila dibanding tahun
2014 (62%), dan perkantoran (70%) meningkat bila dibanding tahun
2014 (63,6%).
6. Pelayanan Kesehatan
1) Sarana di wilayah kerja Puskesmas I Sumpiuh terdiri dari 1 puskesmas
rawat inap dengan kapasitas 21 tempat tidur, 1 puskesmas pembantu, 5
Pos Kesehatan Desa, dan 41 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
12

2) Tenaga kesehatan di Puskesmas 1 Sumpiuh tahun 2015 sebanyak 46


tenaga yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, tenaga farmasi, sanitasi,
dan kesehatan masyarakat, serta tenaga penunjang lainnya. Jumlah
tenaga kesehatan meningkat dibandingkan dengan jumlah tenaga
kesehatan tahun 2014 sejumlah 34 tenaga kerja.
3) Puskesmas I sumpiuh tahun 2015 memiliki fasilitas pelayanan 1
laboratorium yang dapat di akses oleh seluruh masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas I Sumpiuh.
C. Analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)
1. Strength
Kelebihan yang menjadi titik tumpu keberhasilan program pencapaian
higiene dan sanitasi tempat pengelolaan makanan dijabarkan sebagai
berikut.
a) Input
1) Man
Program

pencapaian

higiene

dan

sanitasi

tempat

pengelolaan makanan di wilayah Puskesmas 1 Sumpiuh


dikoordinir dan dilaksanakan oleh satu orang petugas yang
kompeten dalam hal kesehatan lingkungan. Petugas memiliki
komitmen yang kuat untuk meningkatkan higiene dan sanitasi
tempat-tempat pengelolaan makanan di wilayah Puskesmas 1
Sumpiuh.
Selain itu, inspeksi mendadak (sidak) ke TPM yang
dilakukan untuk mendukung program ini telah bekerja sama lintas
sektoral dengan dinas kesehatan kabupaten, kecamatan, dan
kepala desa. Koordinasi yang baik sangat

membantu untuk

pelaksanaan program ini.


2) Method
Untuk dapat terselenggaranya kegiatan penyuluhan dan
pemantauan higiene sanitasi tempat pengelolaan makanan secara
optimal, tepat sasaran, efisien, dan efektif, membutuhkan kerja
sama lintas sektoral. Langkah yang dilakukan di tingkat

13

Puskesmas adalah (1) pemantauan higiene dan sanitasi di tempattempat pengelolaan makanan tiap tiga bulan sekali di tujuh desa
yang masuk wilayah Puskesmas 1 Sumpiuh. Pemantauan ini
dilakukan dengan datang langsung ke lokasi TPM untuk menilai
higiene dan sanitasi di TPM. (2) Penyuluhan tentang higiene dan
sanitasi diberikan pada saat penyuluhan keamanan pangan oleh
dinas kesehatan, penyuluhan dan pemberian evaluasi ketika
pemantauan tiap tiga bulan oleh petugas kesehatan lingkungan
dari puskesmas, dan saat kegiatan lingkungan oleh kader
kesehatan.
3) Money
Dari segi keuangan, tahun 2016 puskesmas dalam rangka
pemantauan tempat pengelolaan makanan mendapatkan bantuan
dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan), sesuai Rencana
Strategis

Kementerian

Kesehatan

tahun

2015-2019

pada

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


HK.02.02/MENKES/52/2015.
4) Minute
Pemantauan, evaluasi, dan penyuluhan higiene sanitasi tiap
tempat pengelolaan makanan dilakukan setiap tiga bulan sekali
oleh tenaga kesehatan Puskesmas 1 Sumpiuh. Sementara itu,
penyuluhan keamanan pangan, pengelolaan pangan, higiene dan
sanitasi pangan dari dinas kesehatan diberikan saat penyuluhan
sebelum mendaftar surat ijin pangan industri rumah tangga (PIRT).
5) Market
Sasaran dari program ini adalah pengusaha dan pekerja di
tempat-tempat pengelolaan makanan di wilayah kerja Puskesmas,
meliputi rumah makan, industri pangan, dan jasa boga. Pendataan
terhadap sasaran tersebut dilakukan secara rutin guna mendukung
pencapaian target program.
b) Proses

14

Sejauh ini proses pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan


penyuluhan berjalan dengan lancar, ditandai dengan peningkatan
pengetahuan pengusaha dan pekerja TPM mengenai higiene dan
sanitasi.

Petugas

kesehatan

memfasilitasi

pengambilan

dan

pengiriman sampel makanan untuk pengecekan di laboratorium, serta


secara sukarela memberi kesempatan pengusaha dan pekerja TPM
untuk berkonsultasi.
2. Weakness
a. Input
Keterbatasan modal para pengusaha TPM sehingga tidak tersedia
alat pelindung diri bagi pekerja yang layak, alat bahan penunjang
sanitasi untuk TPM, dan kurangnya jumlah karyawan. Lokasi TPM
dan lingkungan sekitar TPM yang tidak memenuhi syarat sulit diubah
atau membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki.
b. Proses
1) Penyuluhan tentang higiene dan sanitasi yang diberikan saat
kegiatan lingkungan belum ada jadwal yang pasti.
2) Pengusaha dan pekerja TPM enggan, kurang berinisiatif, dan
merasa terbebani untuk memakai alat pelindung diri selama proses
produksi

di

TPM,

meskipun

sudah

mengetahui

standar

operasional produksi untuk menjaga higienitas dan sanitasi.


3) Menurunnya kesadaran pengusaha TPM mengumpulkan sampel
makanan untuk dicek di laboratorium, dan bahkan menolak untuk
dicek.
4) Petugas kesehatan dari puskesmas tidak dapat melarang produksi
dan menarik produk pangan dari pasaran untuk produk yang tidak
memiliki

surat

P-IRT dengan

hasil

laboratorium

secara

mikrobiologis positif bakteri.

15

5) Masih kurangnya koordinasi dengan sektoral lain untuk


melakukan

inspeksi

mendadak

(sidak)

ke

tempat-tempat

pengelolaan makanan.
c. Output
Pencapaian target tempat pengelolaan makanan di wilayah kerja
Puskesmas 1 Sumpiuh yang memenuhi syarat kesehatan pada tahun
2015 adalah 51,1%. Berdasarkan Rencana Strategis Dinas Kesehatan
(Renstra Dinkes) 2013-2018, angka tersebut belum memenuhi target
yaitu 62%.
3. Opportunity
a. Adanya bantuan dari kader kesehatan desa untuk melakukan
penyuluhan secara sukarela juga membantu berjalannya program ini.
b. Dinas kesehatan memberikan penyuluhan higiene dan sanitasi terkait
produksi makanan secara gratis untuk masyarakat jika sudah
terkumpul lebih dari 50 orang.
c. Dinas kesehatan memfasilitasi para pengusaha TPM memeriksakan
sampel makanan di laboratorium setiap bulan secara gratis mulai
bulan Agustus Desember 2016.
d. Adanya pinjaman modal dari bank dengan bunga yang sangat kecil
ditujukan untuk usaha mikro sehingga membantu pengusaha TPM
meningkatkan mutu pangan lebih baik dan terjaminnya higiene
sanitasi TPM.

4.

Threat

a. Kader kesehatan yang memiliki kesibukan sehingga

jarang

memberikan penyuluhan higiene dan sanitasi TPM.


b. Sasaran dari pemantauan dan penyuluhan

memiliki kesibukan

sehingga tidak seluruhnya mengikuti penyuluhan higiene dan


sanitasi TPM menyebabkan ada kesenjangan pengetahuan dan
informasi.

16

c. Biaya untuk pengadaan alat pelindung diri dan alat penunjang


sanitasi TPM tidaklah murah sehingga menambah beban biaya
produksi.
d. Adanya

ketentuan

pemerintah

yang

tidak

memperbolehkan

pemegang program puskesmas untuk melakukan pengadaan barang


berupa alat pelindung diri untuk para pekerja TPM memperlambat
kemajuan dari program ini.
e. Perubahan perilaku higiene membutuhkan waktu yang lama dan
komitmen dari para pekerja di TPM sehingga penyuluhan dan
pemantauan harus selalu dilakukan berkala.

17

III.
A.

PEMBAHASAN ISU STRATEGIS DARI HASIL ANALISIS SWOT

Pembahasan Analisis SWOT


Kekuatan atau strength dari program ini dapat dilihat dari sisi input di
Puskesmas I Sumpiuh yaitu man, minute, method, dan money, memiliki
kontribusi tersendiri bagi terlaksananya program pencapaian higiene dan
sanitasi tempat pengelolaan makanan. Dari pembahasan pada bab terdahulu,
dapat disimpulkan bahwa Puskesmas I Sumpiuh sudah memiliki input yang
baik.
Kelemahan atau weakness pada program ini dari sisi input adalah
keterbatasan modal para pengusaha TPM untuk pengadaan alat pelindung diri
bagi karyawan, alat bahan penunjang sanitasi untuk TPM, dan perekrutan
karyawan. Selain itu, lokasi TPM dan lingkungan sekitar TPM yang tidak
memenuhi syarat sulit diubah atau membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki.
Dari sisi proses, kelemahannya adalah penyuluhan tentang higiene dan sanitasi
diberikan selama proses pemantauan masih belum terjadwal pasti, begitu pula
penyuluhan yang diberikan para kader juga tidak terjadwal. Petugas kesehatan
dari puskesmas tidak dapat melarang produksi dan menarik produk pangan dari
pasaran untuk produk yang tidak memiliki surat P-IRT dengan hasil
laboratorium positif bakteri. Selain itu, masih kurangnya koordinasi dengan
sektoral lain untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) yang seharusnya
dilakukan minimal satu tahun sekali. Dari pihak pengusaha dan pekerja TPM
merasa enggan dan terbebani untuk memakai alat pelindung diri selama proses
produksi di TPM, meskipun sudah mengetahui standar operasinal produksi
untuk menjaga higienitas dan sanitas. Menurunnya kesadaran pengusaha TPM
untuk mengumpulkan sampel makanan untuk dicek di laboratorium, dan
bahkan menolak untuk dicek.
Peluang atau opportunity yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan
pencapaian higiene dan sanitasi TPM adalah adanya bantuan dari kader
kesehatan desa untuk melakukan penyuluhan secara sukarela, dinas kesehatan
memberikan penyuluhan higiene dan sanitasi terkait produksi makanan secara
gratis

untuk

masyarakat,

dan

memfasilitasi

para

pengusaha

TPM

18

memeriksakan sampel makanan di laboratorium setiap bulan secara gratis


untuk menjaga mutu pangan. Ada pula pinjaman modal dari bank dengan
bunga yang sangat kecil ditujukan untuk usaha kecil. Selain itu, rekomendasi
Menteri Kesehatan bahwa minimal 10% dari total alokasi dana desa digunakan
untuk usaha kesehatan bersumberdaya masyarakat juga sangat membantu
program ini apabila rekomendasi tersebut dijalankan dengan baik.
Ancaman atau Threat yang dapat mengganggu keberlangsungan program
ini diantaranya adalah kader kesehatan yang memiliki kesibukan sehingga
jarang memberikan penyuluhan, sasaran dari pemantauan dan penyuluhan
memiliki kesibukan sehingga tidak seluruhnya mengikuti penyuluhan
menyebabkan ada kesenjangan pengetahuan dan informasi, perubahan perilaku
higiene membutuhkan waktu yang lama dan komitmen dari para pekerja di
TPM sehingga penyuluhan dan pemantauan harus selalu dilakukan berkala.
Selain itu, biaya untuk pengadaan alat pelindung diri dan alat penunjang
sanitasi TPM tidaklah murah sehingga menambah beban biaya produksi.
Adanya ketentuan pemerintah yang tidak memperbolehkan pemegang program
ini untuk melakukan pengadaan barang berupa alat pelindung diri untuk para
pekerja TPM juga memperlambat kemajuan dari program ini.
B. Alternatif Pemecahan Masalah
Alternatif pemecahan masalah yang dapat penulis usulkan adalah :
1. Peningkatan

pengetahuan

mengenai

higiene

dan

sanitasi

tempat

pengelolaan makanan dengan cara penyuluhan berkala dari Dinas


Kesehatan untuk para pengusaha pengelolaan makanan. Penyuluhan dari
Puskesmas dan kader kesehatan juga sebaiknya dilakukan secara terjadwal
dan tidak hanya dilakukan saat pemantauan.
2. Petugas kesehatan puskesmas dapat mengajak dan mengingatkan para
pengusaha TPM untuk memeriksakan sampel makanan produksinya tiap 3
bulan sekali, bisa melalui puskesmas atau langsung ke laboratorium
pemerintah atau laboratorium lain yang telah diakreditasi oleh Komite
Akreditasi Nasional atau Lembaga Akreditasi lain yang diakui oleh
Komite Akreditasi Nasional.

19

3. Puskesmas membantu pengusaha TPM untuk membuat dan menerapkan


suatu standar Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) atau Good
Manufacturing Practices (GMP), serta penerapan analisis bahaya dan titik
kendali kritis atau Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP)
sehingga produsen dapat menghasilkan produk yang bermutu dan aman
dikonsumsi.
4. Puskesmas dapat memilih salah satu TPM yang sudah memenuhi syarat
kesehatan untuk menjadi model percontohan bagi TPM yang lainnya.
5. Menghimbau para pengusaha TPM untuk melakukan pencatatan dan
dokumentasi yang baik untuk memudahkan penelusuran masalah yang
berkaitan dengan proses produksi dan distribusi, mencegah produk
melampaui batas kedaluwarsa, dan meningkatkan keefektifan sistem
pengawasan pangan.
6. Peningkatan pengetahuan para pengusaha TPM mengenai adanya
pinjaman modal dari bank dengan bunga sangat kecil untuk usaha mikro,
sehingga membantu pengusaha TPM meningkatkan mutu pangan lebih
baik dan terjaminnya higiene sanitasi TPM.

20

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Program kesehatan yang masih memiliki masalah dalam pelaksanaan dan
pencapaiannya adalah angka pencapaian higiene dan sanitasi tempat
pengelolaan makanan yaitu sebesar 51,1% dari target 62% pada tahun
2015.
2. Belum tercapainya target pencapaian higiene dan sanitasi tempat
pengelolaan makanan dikarenakan beberapa fakor, antara lain:
a. Keterbatasan modal para pengusaha TPM untuk pengadaan alat
pelindung diri bagi karyawan, alat bahan penunjang sanitasi untuk
TPM, dan perekrutan karyawan.
b. Lokasi TPM dan lingkungan sekitar TPM yang tidak memenuhi syarat
sulit diubah atau membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki.
c. Kesadaran dan inisiatif pengusaha dan pekerja TPM yang masih
rendah untuk memakai alat pelindung diri selama proses produksi di
TPM.
d. Menurunnya kesadaran pengusaha TPM untuk mengumpulkan sampel
makanan untuk dicek di laboratorium, dan bahkan menolak untuk
dicek.
c. Saran
1. Puskesmas dapat melanjutkan beberapa metode yang sudah berjalan
seperti melakukan pemantauan berkala dan penyuluhan higiene dan
sanitasi tempat pengelolaan makanan.
2. Alternatif pemecahan masalah yang penulis usulkan adalah
a. Penyuluhan berkala dari Dinas Kesehatan, puskesmas, dan kader
kesehatan dan dilakukan secara terjadwal, tidak hanya dilakukan saat
pemantauan.
b. Mengajak aktif dan mengingatkan para pengusaha TPM untuk
memeriksakan sampel makanan produksinya tiap 3 bulan sekali.

21

c. Menghimbau dan membantu pengusaha TPM membuat suatu standar


kerja dalam pengelolaan makanan yang menjadi panduan setiap
produksi berlangsung.
d. Memilih salah satu TPM yang sudah memenuhi syarat kesehatan
untuk menjadi model percontohan bagi TPM yang lainnya.
e. Menghimbau para pengusaha TPM untuk melakukan pencatatan dan
dokumentasi yang baik.
f.

Peningkatan pengetahuan para pengusaha TPM mengenai adanya


pinjaman modal dari bank dengan bunga sangat kecil untuk usaha
mikro.

22

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan. 2013. Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten


Banyumas tahun 2013-1018. Purwokerto: Dinas Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Keputusan Menteri Kesehatan
nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan Tahun 2015 2019. Jakarta : Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Peraturan Pemerintah No.28. 2004. Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Peraturan Meneri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096. 2011. Higiene
Sanitasi Jasaboga. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Prabu. 2008. Higiene dan Sanitasi Makanan. Diakses pada http://gmpg.org
(tanggal 31 Juli 2016).
WHO.

2015.
Food
Safety.
Available
at
http://
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs399/en/. Diakses 2 Agustus
2016.

23