Anda di halaman 1dari 3

Pendapatan Daerah

Berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


merupakan landasan bagi daerah otonom untuk melaksanakan pemerintahannya sendiri atau
dikenal dengan istilah otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi daerah menuntut agar pemerintah
lokal mampu menggali setiap potensi yang ada di daerah otonom guna meningkatkan pendapatan
daerah yang dicerminkan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu cara
yang digunakan oleh pemerintah lokal untuk meningkatkan pendapatan daerah dikenal sebagai
pajak daerah. Bird (2000) menyebutkan bahwa pajak daerah dapat dikatakan baik apabila
dijalankan secara lokal, dikenakan hanya pada warga setempat, dan tidak menimbulkan masalah
pada harmonisasi atau persaingan antar pemerintah daerah atau antara pemerintah daerah dan
nasional. Pelaksanaan pajak daerah tersebut juga dimaksudkan untuk mengatasi kemungkinan
perilaku yang tidak bertanggung jawab oleh pemerintah daerah. Atas dasar tersebut, Bird (2000)
menyebutkan berbagai instrumen yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Instrumen pertama adalah retribusi. Retribusi dapat dipahami sebagai sumber penerimaan
tambahan yang tujuannya adalah meningkatkan efisiensi pelayanan. Berbeda dengan pajak, balas
jasa pada retribusi bersifat langsung. Bird (2000) juga menyebutkan bahwa retribusi terbagi
dalam tiga kelompok, yakni retribusi pelayanan perizinan, retribusi jasa umum, dan retribusi jasa
usaha. Retribusi pelayanan perizinan termasuk barang-barang seperti biaya perizinan pernikahan,
kepemilikan kendaraan, dan bisnis. Retribusi jasa umum mengacu pada pendapatan yang
diterima oleh pemerintah daerah dari penjualan barang-jasa sektor swasta. Semua penjualan jasa
lokal disediakan untuk diidentifikasi agen swasta sehingga pada prinsipnya, harga tersebut harus
diletakkan pada tingkat harga kompetitif, tanpa adanya pengenaan pajak atau subsidi, kecuali
kalau pengenaan pajak dan subsidi tersebut adalah cara yang paling efisien untuk mencapai
tujuan kebijakan publik. Selanjutnya, yang dimaksud sebagai retribusi jasa usaha adalah retribusi
yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial karena
sebenarnya dapat disediakan oleh pihak swasta.
Instrumen kedua adalah pajak properti. Awalnya, pajak properti dianggap sebagai sumber
pajak yang paling tepat untuk menambah pendapatan daerah. Akan tetapi, pemungutan pajak
properti ini ternyata sulit dan mahal untuk dikelola dengan baik.

Instrumen ketiga adalah pajak cukai. McLure (dalam Bird, 2000) menyebutkan bahwa
pajak cukai merupakan sumber yang berpotensi signifikan dari pendapatan daerah, sebagian
besar dilatarbelakangi dari administrasi dan efisiensi. Dari segi administrasi, pajak tersebut
mudah dikelola oleh pemerintah daerah. Dari segi efisiensi, pajak tersebut dapat digunakan untuk
membatasi konsumsi barang-barang yang memiliki dampak eksternalitas negatif, seperti
konsumsi alkohol dan rokok. Bird (2000) juga memberikan ilustrasi lain terhadap pengenaan
pajak bahan bakar. Di negara lain, pajak yang dipungut
Instrumen keempat adalah pajak penghasilan pribadi yang diperkenalkan pada tingkat
lokal dengan tarif rata. Di Jepang, perusahaan dijadikan sebagai subjek pajak untuk
meningkatkan infrastruktur di daerah (municipal tax) yang besaran pajaknya berbasis pada pajak
perusahaan di tahun sebelumnya.
Instrumen kelima adalah pajak gaji yang merupakan sumber keuangan penting di
Australia, Mexico, dan Afrika Selatan. Pada umumnya, pajak gaji mengacu pada beberapa tipe.
Pertama, pajak gaji yang langsung dipotong dari gaji karyawan dan seringkali penerapannya
mengikutsertakan pembayaran pajak penghasilan dan iuran dari jaminan sosial. Kedua, pajak
gaji yang dibayarkan oleh si pemberi kerja dan mencakup pendanaan jaminan sosial. Apabila
dilihat lebih jauh, pajak gaji memiliki kelebihan maupun kelemahan dalam pelaksanaanya.
Kelebihan dari pajak gaji ini adalah kemudahan dalam pengelolaannya (administrasi) yang
dikenakan pada perusahaan besar dan tingkat produktifitas yang rendah. Akan tetapi, sistem ini
juga memiliki beberapa kelemahan, seperti menjadi penghalang pajak untuk pekerjaan di sektor
modern, membawa pengaruh dalam segi pengambilan keputusan, dan membebankan keuangan
pusat untuk membiayai jaminan sosial.
Instrumen keenam adalah pajak konsumsi

Bird, Richard M. Subnational Revenues: Realities and Prospect. Paper yang disampaikan pada
Intergovernmental Fiscal Relations and Local Financial Management yang diselenggarakan oleh
The World Bank Institute tanggal 17-21 April 2000 di Almaty, Kazakhstan. Almaty, Kazakhstan:
World Bank, 2000b.
https://janganpernahdiam.wordpress.com/author/lordarvenus/