Anda di halaman 1dari 41

ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN

ASPEK HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN PELAYANAN KEBIDANAN


KOMUNITAS

DISUSUN OLEH
1.
2.
3.
4.

NI MADE ARIANINGSIH
BELLA ANGRAINI
RETNO PRATIWI
DWI SRIWINING

16340037P
16340008P
16340047P
16340013P

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN


UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Hadirat Illahi Robbi karena berkat rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Salawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada suri tauladan sepanjang jaman Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Makalah ini membahas dan menjelaskan secara sederhana tentang
aspek hukum yang berkaitan dengan pelayanan kebidanan komunitas.
Dengan selesainya makalah ini disusun, saya mengucapkan terimakasih yang
sedalam-dalamnya kepada yang Terhormat Dosen Pembimbing kami serta kepada
semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. walaupun makalah
ini telah selesai,namun karena keterbatasan kemampuan dan literatur yang kami
miliki, sehingga makalah ini jauh dari sempurna,sehingga besar harapan kami untuk
menerima saran dan kritik yang bersifat konstruktif.selamat membaca semoga
makalah ini memiliki manfaatnya bagi pembaca pada umumnya dan ilmu
pengetahuan khususnya.
Terimakasih

Bandarlampung, Oktober 2016


Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................
KATA PENGANTAR...............................................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bidan.................................................................................................
2.2 Standar Asuhan Kebidanan.................................................................................
2.3 Registrasi Praktik Bidan......................................................................................
2.4 Kewenangan Bidan Di Komunitas......................................................................
2.5 Aspek Hukum Perdata memiliki 2 bentuk pertanggung jawaban hukum yaitu : 13
2.6 Sanksi dari timbulnya gugatan adanya Wanprestasi maupun adanya PMH, secara
hukum perdata, dapat kita teliti pasal pasal berikut ini :................................... 15
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan..........................................................................................................
3.2.Saran.....................................................................................................................

37
37

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejarah menunjukkan bahwa bidan adalah salah satu profesi tertua di dunia
sejak adanya peradaban umat manusia. Bidan muncul sebagai wanita terpercaya
dalam mendampingi dan menolong ibu yang melahirkan. Peran dan posisi bidan
dimasyarakat sangat dihargai dan dihormati karena tugasnya yang sangat mulia,
memberi semangat, membesarkan hati, mendampingi, serta menolong ibu yang
melahirkan sampai ibu dapat merawat bayinya dengan baik.
Sejak zaman pra sejarah, dalam naskah kuno sudah tercatat bidan dari Mesir
yang berani ambil resiko membela keselamatan bayi-bayi laki-laki bangsa Yahudi
yang diperintahkan oleh Firaun untuk di bunuh. Mereka sudah menunjukkan sikap
etika moral yang tinggi dan takwa kepada Tuhan dalam membela orang-orang yang
berada dalam posisi yang lemah, yang pada zaman modern ini, kita sebut peran
advokasi. Bidan sebagai pekerja profesional dalam menjalankan tugas dan
prakteknya, bekerja berdasarkan pandangan filosofis yang dianut, keilmuan, metode
kerja, standar praktik pelayanan serta kode etik yang dimilikinya
Keberadaan bidan di Indonesia sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan ibu dan janinnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah
adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya.
Pada tahun 1993 WHO merekomendasikan agar bidan di bekali pengetahuan dan
ketrampilan penanganan kegawatdaruratan kebidanan yang relevan. Untuk itu pada
tahun 1996 Depkes telah menerbitkan Permenkes No.572/PER/Menkes/VI/96 yang
memberikan wewenang dan perlindungan bagi bidan dalam melaksanakan tindakan
penyelamatan jiwa ibu dan bayi baru lahir.
Pada pertemuan pengelola program Safe Mother Hood dari negara-negara di
wilayah Asia Tenggara pada tahun 1995, disepakati bahwa kualitas pelayanan

kebidanan diupayakan agar dapat memenuhi standar tertentu agar aman dan efektif.
Sebagai tindak lanjutnya WHO mengembangkan Standar Pelayanan Kebidanan.
Standar ini kemudian diadaptasikan untuk pemakaian di Indonesia, khususnya untuk
tingkat pelayanan dasar, sebagai acuan pelayanan di tingkatmasyarakat.
Dengan adanya standar pelayanan, masyarakat akan memiliki rasa
kepercayaan yang lebih baik terhadap pelaksana pelayanan. Suatu standar akan lebih
efektif apabila dapat diobservasi dan diukur, realistis, mudah dilakukan dan
dibutuhkan. Pelayanan kebidanan merupakan pelayanan profesional yang menjadi
bagian integral dari pelayanan kesehatan sehingga standar pelayanan kebidanan dapat
pula digunakan untuk menentukan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bidan


Dalam bahasa inggris, kata Midwife (Bidan) berarti with woman(bersama
wanita, mid = together, wife = a woman. Dalam bahasa Perancis, sage femme (Bidan)
berarti wanita bijaksana,sedangkan dalam bahasa latin, cum-mater (Bidan) bearti
berkaitan dengan wanita.
Menurut churchill, bidan adalah a health worker who may or may not formally
trained and is a physician, that delivers babies and provides associated maternal care
(seorang petugas kesehatan yang terlatih secara formal ataupun tidak dan bukan
seorang dokter, yang membantu pelahiran bayi serta memberi perawatan maternal
terkait).
Definisi Bidan (ICM) : bidan adalah seorang yang telah menjalani program
pendidikan bidan yang diakui oleh negara tempat ia tinggal, dan telah berhasil
menyelesaikan studi terkait serta memenuhi persyaratan untuk terdaftar dan atau
memiliki izin formal untuk praktek bidan. Bidan merupakan salah satu profesi tertua
didunia sejak adanya peradaban umat manusia.
Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan, yang
terakreditasi, memenuhi kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah
mendapat lisensi untuk praktek kebidanan. Yang diakui sebagai seorang profesional
yang bertanggungjawab, bermitra dengan perempuan dalam memberikan dukungan,
asuhan dan nasehat yang diperlukan selama kehamilan, persalinan dan nifas,
memfasilitasi kelahiran atas tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan
kepada bayi baru lahir dan anak.

KEPMENKES NOMOR 900/ MENKES/SK/ VII/2002 bab I pasal 1:


Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan
dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku
Menurut WHO bidan adalah seseorang yang telah diakui secara regular dalam
program pendidikan kebidanan sebagaimana yang telah diakui skala yuridis, dimana
ia ditempatkan dan telah menyelesaikan pendidikan kebidanan dan memperoleh izin
melaksanakan praktek kebidanan.
INTERNATIONAL CONFEDERATION

of

MIDWIFE

bidan

adalah

seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta
memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk melaksanakan praktek kebidanan di
negara itu.
Keberadaan bidan di Indonesia sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan ibu dan janinnya, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah
adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkannya.
Pada tahun 1993 WHO merekomendasikan agar bidan di bekali pengetahuan dan
ketrampilan penanganan kegawatdaruratan kebidanan yang relevan. Untuk itu pada
tahun 1996 Depkes telah menerbitkan Permenkes No.572/PER/Menkes/VI/96 yang
memberikan wewenang dan perlindungan bagi bidan dalam melaksanakan tindakan
penyelamatan jiwa ibu dan bayi baru lahir.
Pada pertemuan pengelola program Safe Mother Hood dari negara-negara di
wilayah Asia Tenggara pada tahun 1995, disepakati bahwa kualitas pelayanan
kebidanan diupayakan agar dapat memenuhi standar tertentu agar aman dan efektif.
Sebagai tindak lanjutnya WHO mengembangkan Standar Pelayanan Kebidanan.
Standar ini kemudian diadaptasikan untuk pemakaian di Indonesia, khususnya untuk
tingkat pelayanan dasar, sebagai acuan pelayanan di tingkatmasyarakat.
Dengan adanya standar pelayanan, masyarakat akan memiliki rasa
kepercayaan yang lebih baik terhadap pelaksana pelayanan. Suatu standar akan lebih
efektif apabila dapat diobservasi dan diukur, realistis, mudah dilakukan dan

dibutuhkan. Pelayanan kebidanan merupakan pelayanan profesional yang menjadi


bagian integral dari pelayanan kesehatan sehingga standar pelayanan kebidanan dapat
pula digunakan untuk menentukan kompetensi yang diperlukan bidan dalam
menjalankan praktek sehari-hari. Standar ini dapat juga digunakan sebagai dasar
untuk menilai pelayanan, menyusun rencana pelatihan dan pengembangan kurikulum
pendidikan serta dapat membantu dalam penentuan kebutuhan operasional untuk
penerapannya, misalnya kebutuhan pengorganisasian, mekanisme, peralatan dan obat
yang diperlukan serta ketrampilan bidan.
Kode etik merupakan ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai internal dan
eksternal dari suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu
profesi yang memberikan tuntunan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian
kepada profesinya baik yang berhubungan dengan klien, keluarga, masyarakat, teman
sejawat, profesi dan dirinya sendiri.
Secara umum tujuan menciptakan suatu kode etik adalah untuk menjunjung
tinggi martabat dan citra profesi, menjaga dan memelihara kesejahteraan para
anggota, serta meningkatkan mutu profesi. Kode etik bidan Indonesia pertama kali
disusun pada tahun 1986 yang disahkan dalam Kongres Nasional Ikatan Bidan
Indonesia X, petunjuk pelaksanaannya disahkan dalam Rapat Kerja Nasional
(Rakernas) IBI tahun 1991, kemudian disempurnakan dan disahkan dalam Kongres
Nasional IBI XII pada tahun 1998.
Secara umum kode etik tersebut berisi 7 bab yang dapat dibedakan menjadi
tujuh bagian, yaitu :
1.

Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat (6 butir)


a. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
b. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat
dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.

c. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran,


tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan
masyarakat.
d. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien,
menghormati hak klien dan nilai-nilai yang dianut oleh klien.
e. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan
pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk
meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal
2.

Kewajiban bidan terhadap tugasnya (3 butir)


a. Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien,
keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya
berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat
b. Setiap bidan berkewajiaban memberikan pertolongan sesuai dengan
kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan konsultasi
c.

dan/atau rujukan.
Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang didapat dan/atau
dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau diperlukan
sehubungan dengan kepentingan klien.

3.

Kewajiban bidan terhadap rekan sejawat dan tenaga kesehatan lainnya (2


butir)
a. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk
menciptakan suasana kerja yang serasi.
b. Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik
terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.

4.

Kewajiban bidan terhadap profesinya (3 butir)


a. Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesi
dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan memberikan
pelayanan yang bermutu kepada masyarakat

b. Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan


kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
c. Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan
sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.
5.

Kewajiban bidan terhadap diri sendiri (2 butir)


a. Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas
profesinya dengan baik
b. Setiap bidan wajib meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai
dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
c. Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.

6.

Kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa bangsa dan tanah air (2


butir)
a. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan
ketentuan-ketentuan

pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam

pelayananan Kesehatan Reproduksi, Keluarga Berencana dan Kesehatan


Keluarga
b. Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikiran
kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan
kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga.
7.

Penutup (1 butir).
Sesuai dengan wewenang dan peraturan kebijaksanaan yang berlaku bagi

bidan, kode etik merupakan pedoman dalam tata cara keselarasan dalam pelaksanaan
pelayanan kebidanan profesional.

2.2 Standar Asuhan Kebidanan

10

Standar asuhan kebidanan sangat penting di dalam menentukan apakah


seorang bidan telah melanggar kewajibannya dalam menjalankan tugas profesinya.
Adapun standar asuhan kebidanan terdiri dari :
Standar I : Metode Asuhan
Merupakan asuhan kebidanan yang dilaksanakan dengan metode manajemen
kebidanan dengan tujuh langkah, yaitu : pengumpulan data, analisa data, penentuan
diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi.
Standar II : Pengkajian
Pengumpulan data mengenai status kesehatan klien yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis.
Standar III : Diagnosa Kebidanan
Diagnosa Kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas dan sistematis mengarah
pada asuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien sesuai dengan wewenang bidan
berdasarkan analisa data yang telah dikumpulkan.
Standar IV : Rencana Asuhan
Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa kebidanan.
Standar V : Tindakan
Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana dan perkembangan
keadaan klien dan dilanjutkan dengan evaluasi keadaan klien.
Standar VI : Partisipasi klien
Tindakan kebidanan dilaksanakan bersama-sama/pertisipasi klien dan
keluarga dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan.
Standar VII : Pengawasan
Monitoring atau pengawasan terhadap klien dilaksanakan secara terus
menerus dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien.
Standar VIII : Evaluasi
Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan secara terus menerus seiring dengan
tindakan kebidanan yang dilaksanakan dan evaluasi dari rencana yang telah
dirumuskan.

11

Standar IX : Dokumentasi
Asuhan kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi
asuhan kebidanan yang diberikan.
2.3 Registrasi Praktik Bidan
Bidan merupakan profesi yang diakui secara nasional maupun intenasional
oleh International Confederation of Midwives (ICM). Dalam menjalankan tugasnya,
seorang bidan harus memiliki kualifiksi agar mendapatkan lisensi untuk praktek .
Praktek pelayanan bidan perorangan (swasta), merupakan penyedia layanan
kesehatan, yang memiliki kontribusi cukup besar dalam memberikan pelayanan,
khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak. Supaya masyarakat
pengguna jasa layanan bidan memperoleh akses pelayanan yang bermutu dari
pelayanan bidan, perlu adanya regulasi pelayanan praktek bidan secara jelas,
persiapan sebelum bidan melaksanakan pelayanan praktek, seperti perizinan, tempat,
ruangan, peralatan praktek, dan kelengkapan administrasi semuanya harus sesuai
dengan standar1.
Setelah bidan melaksanakan pelayanan dilapangan, untuk menjaga kualitas
dan keamanan dari layanan bidan, dalam memberikan pelayanan harus sesuai dengan
kewenangannya1. Pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dan organisasi Ikatan Bidan memiliki kewenangan untuk pengawasan dan pembinaan
kepada bidan yang melaksanakan praktek perlu melaksanakan tugasnya dengan baik.
Penyebaran dan pendistribusian bidan yang melaksanakan Praktek pelayanan
bidan perorangan (swasta), merupakan penyedia layanan kesehatan, yang memiliki
kontribusi

cukup

besar

dalam

memberikan

pelayanan,

khususnya

dalam

meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak. Supaya masyarakat pengguna jasa layanan
bidan memperoleh akses pelayanan yang bermutu dari pelayanan bidan, perlu adanya
regulasi pelayanan praktek bidan secara jelas, persiapan sebelum bidan melaksanakan
pelayanan praktek, seperti perizinan, tempat, ruangan, peralatan praktek, dan
kelengkapan administrasi semuanya harus sesuai dengan standar1.

12

Dalam hal ini pemerintah telah menetapkan peraturan mengenai registrasi dan
praktik bidan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
900/MENKES/SK/VII/2002

(Revisi

No.572/MENKES/PER/VI/1996).

dari

Registrasi

adalah

proses

Permenkes
pendaftaran,

pendokumentasian dan pengakuan terhadap bidan, setelah dinyatakan memenuhi


minimal kompetensi inti atau standar tampilan minimal yang ditetapkan.
Bukti tertulis seorang bidan telah mendapatkan kewenangan untuk menjalankan
pelayanan asuhan kebidanan di seluruh wilayah Indonesia disebut dengan Surat Izin
Bidan (SIB), setelah bidan dinyatakan memenuhi kompetensi inti atau standar
tampilan minimal yang ditetapkan, sehingga secara fisik dan mental bidan mampu
melaksanakan praktek profesinya.
Bidan yang baru lulus dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh SIB
dengan mengirimkan kelengkapan registrasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
dimana institusi pendidikan berada selambat-lambatnya satu bulan setelah menerima
ijazah bidan. Kelengkapan registrasi meliputi :
Fotokopi ijazah bidan.
Fotokopi transkrip nilai akademik.
Surat keterangan sehat dari dokter.
Pas

foto

ukuran

cm

sebanyak

dua

lembar.

Bidan yang menjalankan praktek pada sarana kesehatan atau dan perorangan harus
memiliki SIPB dengan mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat, dengan melampirkan persyaratan yang meliputi :
Fotokopi SIB yang masih berlaku.
Fotokopi ijazah bidan.
Surat persetujuan atasan, bila dalam pelaksanaan masa bakti atau sebagai pegawai
negeri atau pegawai pada sarana kesehatan.
Surat keterangan sehat dari dokter.
Rekomendasi dari organisasi profesi.

13

Pas foto 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar. SIPB berlaku sepanjang SIB belum habis masa
berlakunya dan dapat diperbaharui kembali.
2.4 Kewenangan Bidan Di Komunitas
Bidan dalam menjalankan praktiknya di komunitas berwenang untuk
memberikan pelayanan sesuai dengan kompetensi 8 yaitu bidan memberikan asuhan
yang bermutu tinggi dan komprehensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat
sesuai dengan budaya setempat, yang meliputi :
Pengetahuan dasar
Konsep dasar dan sasaran kebidanan komunitas.
Masalah kebidanan komunitas.
Pendekatan asuhan kebidanan komunitas pada keluarga, kelompok dan masyarakat.
Strategi pelayanan kebidanan komunitas.
Upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak dalam keluarga dan
masyarakat.
Faktor faktor yang mempengaruhi kesehatan ibu dan anak.
Sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Pengetahuan tambahan
Kepemimpinan untuk semua (Kesuma)
Pemasaran social
Peran serta masyarakat
Audit maternal perinatal
Perilaku kesehatan masyarakat
Program program pemerintah yang terkait dengan kesehatan ibu dan anak (Safe
Mother Hood dan Gerakan Sa g. Paradigma sehat tahun 2010.
Keterampilan dasar

14

Melakukan pengelolaan pelayanan ibu hamil, nifas laktasi, bayi, balita dan KB di
masyarakat.
Mengidentifikasi status kesehatan ibu dan anak.
Melakukan pertolongan persalinan dirumah dan polindes.
Melaksanakan penggerakan dan pembinaan peran serta masyarakat untuk mendukung
upaya kesehatan ibu dan anak.
Melaksanakan penyuluhan dan konseling kesehatan.
Melakukan pencatatan dan pelaporan
Keterampilan tambahan
Melakukan pemantauan KIA dengan menggunakan PWS KIA.
Melaksanakan pelatihan dan pembinaan dukun bayi.
Mengelola dan memberikan obat obatan sesuai dengan kewenangannya.
Menggunakan tehnologi tepat guna.
Pengertian Profesi
Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan
terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi,
kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi
tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer,
dan teknik.
Bidan Sebagai Profesi
Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai ciri khas yang khusus. Sebagaii
pelayan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Bidan
mempunyai tugas yang sangat unik, yaitu:
Selalu mengedepankan fungsi ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya.
Memiliki kode etik dengan serangkaian pengetahuan ilmiah yang didapat melalui
proses pendidikan dan jenjang tertentu
Keberadaan bidan diakui memiliki organisasi profesi yang bertugas meningkatkan
mutu pelayanan kepada masyarakat,

15

Anggotanya menerima jasa atas pelayanan yang dilakukan dengan tetap memegang
teguh kode etik profesi.
Perilaku Profesional Bidan
1. Bertindak sesuai keahliannya
2. Mempunyai moral yang tinggi
3. Bersifat jujur
4. Tidak melakukan coba-coba
5. Tidak memberikan janji yang berlebihan
6. Mengembangkan kemitraan
7. Terampil berkomunikasi
8. Mengenal batas kemampuan
9. Mengadvokasi pilihan ibu
Organisasi Bidan
2.5 Aspek Hukum Perdata memiliki 2 bentuk pertanggung jawaban hukum
yaitu :
1. Wanprestasi,

yaitu

pertanggungjawaban

hukum

atas

kerugian

yang

disebabkannya,hasil tidak sesuai


2. Perbuatan Melawan Hukum (PMH), yaitu pertanggungjawaban atas kerugian
yang disebabkan perbuatanya, sehingga menimbulkan kerugian.baik moril
atau materil bagi keluarga ps/ps;
Prinsip pertanggungjawaban dalam hukum perdata/BW :
1. Setiap tindakan yg menimbulkan kerugian atas diri orang lain berarti orang yg
melakukanya harus membayar kompensasi kerugian(pasal 1365 BW ).
2.

Seseorang harus bertanggungjawab tidak hanya karena kerugian yg


dilakukanya dengan sengaja , tetapi juga karena kelalaian atau kurang berhatihati(pasal 366BW) 3. Seseorang harus memberikan pertanggungjawabaan

16

tidak hanya karena kerugian atas tindakan pelayanannya akan tetapi juga
bertanggung jawab atas kelalaian orang lain dibawah pengawasanya.(pasal
1367 KUHPerdata).
3. Tuntutan perdata pada dasarnya bertujuan utuk memperoleh kompensasi atas
kerugian yg diderita , oleh karena itu sebagai dasar dalam menuntut seorang
tenaga kesehatan termasuk bidan dalam menjalankan profesinya adalah
adanya wanprestasi atau adanya perbuatan melawan hukum, seperti terurai
diatas.
4.

Dalam aspek hukum, wanprestasi adalah suatu keadaan dimana seseorang


tidak memenuhi kewajibanya yang didasarkan adanya perikatan atau
perjannjian/kontrak kerja,

Secara Aspek hukum, contoh pekerjaan wanprestasi adalah :


1.
2.
3.
4.

tidak melakukan yang disanggupi akan dilakukan


terlambat melakukan apa yang dijanjikan akan dilakukan,
melaksanakan apa yang dilakukan , tetapi tidak sesuai dengan yang dijanjikan,
melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Tehnik Gugatan Wanprestasi :


1. Pasien/keluarga pasien harus mempunyai bukti-bukti kerugian sebagai akibat
tidak dipenuhinya kewajiban seorang tenaga kesehatan terhadap dirinya,
sebagaimana yang telah dijanjikan.
2. Pasien/keluarga melaporkan ke lembaga/ organisasi tenaga kesehatan, biasanya
sampai disitu karena hakekatnya gugatan adalah ganti rugi materi.

17

Perbuatan Melawan Hukum ( orechtmatige daad):

Berbeda dengan tututan ganti rugi wanprestasi, tututan ganti rugi PMH
berdasarkan Tanggungjawab Perdata dapat diajukan berdasarkan pasal 1365
KUHPerdata,

karena

dalam

PMH

tidak

harus

ditemui

adanya

perikatan/perjanjian, akan tetapi ada prinsip dasar yang dapat dijadikan tuntutan
adanya PMH tersebut yaitu :

Ada perbuatan melawan hukum

Ada kerugian

Ada hubungan kausalitas antara perbuatan melawan hukum dan kerugian

Ada kesalahan

Melanggar hak orang lain

Bertentangan dengan kewajiban hukum diri sendiri

Menyalahi pandangan etika yg umumnya diaanut (adat istiadat)

Berlawanan dg sikap hati-hati yg seharusnya diindahkan.

Jelas bertentangan dgn standar profesi bidan.

2.6 Sanksi dari timbulnya gugatan adanya Wanprestasi maupun adanya PMH,
secara hukum perdata, dapat kita teliti pasal pasal berikut ini :
1. Pasal 1354 KUH Perdata:
jika seorang dengan sukarela, dengan tidak mendapat perintah untuk itu,
mewakili urusan orang lain dengan atau tanpa pengetahuan orang ini, maka ia secara
diam-diam mengikat dirinya untuk meneruskan serta menyelesaikan urusan tersebut,
hingga orang yang diwakili kepentinganya dapat mengerjakan sendiri urusan itu. Ia
memikul segala kewajiban yang harus dipikulnya, seandainya ia kuasakan dengan
suatu pemberian kuasa yang dinyatakan dengan tegas
Contoh kasus seorang tenaga kesehatan memberikan pertolongan
pernafasan/Resusitasi pada ps, hrs dilakukan sp selesai jangan ditinggal begitu saja.
Atau sampai ps mampu untuk meneruskan atau keluarganya. Jika terjadi penanganan

18

resusitasi ditinggalkan ,maka ia akan dituntut sesuai pasal 1354 KUHPerdata,


kepengadilan.
3.

Dalam UU No.8/1999 Tentang Perlindungan Konsumen,


Sebagai konsumen dalam pelayanan kesehatan, pasien dapat dikatagorikan sebagai

konsumen akhir, karena ps bukan produksi. Keadaan ini telah merubah paradigma,
yang mengatakan pelayanan kesehatan adlah sosial , sekarang beralih kekomersial,
dimana setiap tempat pelayanan kesehatan Rumah Sakit, Klinik, RB, akhirnya pasien
harus mengeluarkan biaya cukup tinggi dalam hak dan kewajiban sebagai seorang
pasien.

Analog ini tertuang dalam UU Konsumen No.8/1999:


Pasal 19 ayat (1): Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan, pencemaran, akibat mengkonsumsi barang atau/ jasa/ barang/obat yang

diperdagangkan.
Ganti rugi yg dimaksud dalam ayat (1) adalah dapat berupa pengembalian
uang/barang yang setara nilainya/perawatan kesehatan yang sesuai dg ketentuan
perundang-undangan.
3. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari
setelah tanggal transaksi.

Pemberian ganti rugi kepada pasien , tetap dapat memberi peluang jika pasien tidak
puas dengan yang digantikannya, bahkan dapat meningkat dari tuntutan perdata

menjadi tuntutan pidana, seperti tercantum dalam pasal 19 ayat (4).


Hal-hal yang dapat merubah tuntutan:
Jika terbukti dalam pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.
Atau tuntutan menjadi tidak berlaku, apabila pelaku usaha kesehatan dapat
membuktikan bahwa kesalahan ada pada konsumen atau ps.

PERUNDANG_UNDANGAN KESEHATAN

19

Ilmu Hukum, mencakup dan membicarakan segala hal yang berhubungan dengan
hukum. Demikian luasnya masalah masalah yang dicakup oleh ilmu hukum,
sehingga banyak pendapat yang mengatakan bahwa hukum batas-batasnya tidak
jelas, yang salah bisa benar, yang benar bisa salah. Seorang Pakar hukum

menyebut ilmu hukum adalah Jurisprudence.


Karena luasnya Ilmu hukum, maka kita batasi dengan bidang kesehatan, apa-apa yang
menjadi daftar masalah/isu yang berkembang, sehingga ilmu hukum masuk
kedalam bidang kesehatan yang kita pelajari sekarang tentang Hukum
Kesehatan/Perundang-undangan kesehatan.
Daftar Masalah Aspek hukum kesehatan :
1. Mempelajari asas-asas hukum pokok
2. Mempelajari arti dan fungsi hukum dalam masyarakat
3. Mempelajari kepentingan apa yang dapat dilindungi untuk masyarakat oleh
peraturan hukum
4. Mempelajari apakah keadilan dimata hukum umum, bidang sosial, bidang
kesehatan
5. Mempelajari bagaimana sesungguhnya hukum kedudukan hukum itu dalam
masyarakat, bagaimana hubungan atas perikatan/perjanjian yang berkaitan dengan
pelaksanaan pelayanan kesehatan.
6. Kepastian hukum, melalui perundang-undangan yang berlaku, menjadi tujuan dari
resiko pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Tatanan dalam konsep hukum

Kalau kita mendengar kata Tatanan , yang ada dalam pemahaman kita adalah
suatu keadaan dalam masyarakat , yang dapat menciptakan suasana, hubungan,
yang tetap, teratur, antara anggota masyarakat pada umumnya.

Termasuk dalam tatanan masyarakat adalah :


Kebiasaan, hukum, dan kesusilaan.

20

Kebiasaan adalah tatanan yang terdiri dari norma-norma yang dekat sekali dengan
kenyataan, yang normal/normatif. Normatif terkandung arti apa yang harus kita
lakukan.
Hukum; adalah peraturan-peraturan tertulis dan tidak tertulis, yang dibuat oleh
lembaga tertentu, dengan tujuan tercipta ketertiban, keadilan dalam masyarakat.
Menurut Fuller ada prinsip legal dari hukum yaitu :
1.
2.
3.

Suatu sistim hukum harus mengandung peraturan-peraturan.


Peraturan-peraturan yang di buat harus diumumkan
Tidak boleh ada peraturan yang berlaku surut, oleh karena apabila yg demikian

4.
5.

itu tidak bisa dipakai dgn untuk menjadi pedoman tingkah laku.
Peraturan-peraturan harus disusun dalam rumusan yang harus mudah dimengerti
Peraturan-peraturan tidak boleh mengandung peraturan yang bertentangan satu

6.

sama lain
tidak boleh ada kebiasaan yang sering ingin mengubah peraturan-peraturan

7.

yang berlaku
Harus ada kecoccokan dariperaturan dg pelaksanaan sehari2.

Kehadiran Hukum, dalam masyarakat dan tenaga kesehatan, dapat melindungi


keApeAntingan denAgan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk
bertindak dlm rangka kepentingan itu. Kekuasaan mengandung arti hak seseorang,
penguasaan adalah hubungan yang nyata antara seseorang dengan sesuatu yang
berada dalam kekeuasaanya, pada keadaan ini ia tidak perlu legitimasi, karena sesuatu
ada pada kekeuasaanya. Ini berkaitan dengan tingkat kemampuan/kompetensi seorang
tenaga kesehatan , apabila dalam keadaan tertentu seorang bidan meninggalkan saat
pertolongan persalinan kepada asistenya, jika terjadi sesuatu atas tindakan yang
dilakukan asistenya maka , tanggungjawab resiko terdapat pada bidan tersebut,
karena ia meninggalkan waktu pertolongan persalinan padahal secara legitimasi
bahwa kewenangan untuk menolong persalinan tersebut ada pada nya.
Penguasaan kebijikan melekat pada bidan tersebut, sehingga apapun alasanya tidak
menutup kemungkinan bidan akan kena sanksi hukum, yaitu dengan sengaja
melalaikan pekerjaanya.

21

Hukum Tertulis dan Hukum Tidak Tertulis.

Hukum tertulis lebih dikenal dengan sebutan Perundang-undangan

Hukum tertulis lebih menjadi ciri dari hukum modern, lebih dapat diterima
dalam kehidupan modern masa kini, dimana kehidupan semakin kompleks, serta
masyarakat yang lebih tersusun secara organisatori, dan hubungan antar manusia
yang dinamis dan kompleks ini sudah tidak bisa lagi mengatur dengan tradisi,
kebiasaan, kepercayaan, tahayul, atau budaya semata.

Kelebihan hukum tertulis dibanding tidak tertulis adalah apa yang diatur
dengan mudah dapat diketahui orang/masyarakat

Pengetahuan tentang hukum mulai meningkat di masyarakat, dengan adanya


tulisan/cetakan perundang-undangan mulai UU Kesehatan, UU konsumen, UU
Praktik Kedokteran, UU Politik dsb.

Memungkinkan untuk merevisi UU yang sdh ada dgn yang baru.


Hukum sebagai pijakan keadilan dalam masyarakatMembicarakan hukum
adalah membicarakan antar hidup manusia, membicarakan antar hidup manusia
adalah membicarakan keadilan.

Sehingga kalau berbicara hukum kita akan berbicara keadilan


Keadilan merupakan salah satu kebutuhan dalam masyarakat, dalam
pembukaan UUD 45 jelas tertuang bahwa keadilan adalah hak setiap warga
negara.

Agar keadilan dapat seiring dengan keteraturan dan ketaatan dalam dinamika
kehidupan dan seluruh bidang termasuk bidang kesehatan, maka perlu
kelengkapan dari beberapa step berikut yaitu :stabilitas, maka kehadiran hukum
sangat dituntut untuk dapat tercipta keadilan dan stabilitas kehidupan.

Tahap terbentuknya hukum tertulis: Pembuatan hukum atau pembuatan Perundangundangan dilakukan oleh lembaga yang membidangi dan juga pendapat para ahli

22

serta publik atau masyarakat dapat memberikan saran atau masukan melalui instansi
yang berwenang.
Bahan Hukum :
Bahan pembuatan hukum dimulai dari gagasan atau ide yang kemudian diproses
lebih lanjut sehingga pada akhirnya benar-benar menjadi bahan yang siap dipakai
untuk dijadikan sanksi hukum.
contoh: gagasan ini muncul dari masyarakat dalam bentuk ada permasalahan
pelayanan kesehatan yang harus diatur oleh hukum, misal masyarakat menganggap
belakangan ini telah ada tindakan-tindakan tenaga kesehatan yang berakibat
merugikan masyarakat.
Ciri-ciri Hukum Modern.
1. Mempunyai bentuk tertulis dalam bentuk Perundang-undangan
2. Hukum itu berlaku untuk seluruh wilayah negara, meskipun sampai kini
masih ada diskriminasi antar penduduk, antar kekuasaan dan antar bangsa
3. Hukum adalah sebagai instrumen yang dapat dipakai secara sadar untuk
mewujudkan keputusan-keputusan masyarakatnya.
Fungsi Hadirnya Hukum Kebidanan :

Adanya kebutuhan tenagakesehatan akan perlindungan hukum

Adanya kebutuhan pasien akan perlindungan hukum

Adanya pihak ketiga akan perlindungan hukum

Adanya kebutuhan dan kebebasan warga masyarakat untuk menentukan


kepentinganya serta identifikasi kewajiban dari pemerintah

Adanya kebutuhan akan keterarahan

Adanya kebutuhan tingkat kwalitas pelayanan kesehatan

Adanya kebutuhan akan pengendalian biaya kesehatan

Adanya kebutuhan pengaturan biaya jasa pelayanan kesehatan dan keahlian

Tujuan adanya Hukum Kebidanan

23

Dapat menyelesaikan sengketa yang timbul antara tenaga kesehatan terhadap


pasien atau keluarga pasien sebagai pihak ketiga, sebagaimana kita ketahui akhirakhir ini banyak tuduhan terhadap para tenakes dalam melaksanakan profesinya,
kadang hanya masalah sepele dapat diangkat kemeja hijau.
Dalam situasi seperti ini Hukum Kesehatan sangat diperlukan, sebagai acuan bagi
penyelesaian sengketa yang terjadi, lebih-lebih kita Negara Indonesia mengaut
asas Legalitas, karena sebagai Negara Hukum
Dapat menjaga ketertiban dalam masyarakat
Dapat membantu merekayasa masyarakat, dalam hal pandangan bahwa sebenarnya
tenakes juga adalah manusia biasa dan meluruskan pandangan serta sikap bagi
para tenakes yang kerap merasa kebal hukum, dan tidak dapat disentuh
pengadilan. Jaman ini tidak ada lagi.
PERUNDANG_UNDANGAN YANG MELANDASI BIDANG KEBIDANAN

Dalam upaya melaksanakan pelayanan kesehatan/kebidanan, perlu peran dari


masyarakat itu sendiri untuk dapat membantu terciptanya suatu masyarakat yang
memiliki kesadaran akan hukum, berkemauan untuk hidup sehat dan kemampuan
untuk dapat membantu agar terciptanya kondisi masyarakat yang memiliki derajat
kesehatan yang optimal, sejahtera.

Pemerintah dalam hal ini lebih berperan untuk memusatkan perhatian ,


pengawasan, , upaya pembinaan, , serta pengaturan, agar tercipta pemerataan
pelayanan kesehatan serta tercipta suatu kondisi yang serasi, seimbang
,adil,harmonis antara sesama pelayan kesehatan , sehingga tidak ragu dalam
melaksanakan profesi karena akan terlindung dari sanksi hukum.

AZAS-AZAS UU KEBIDANAN NOMOR.23 TAHUN 1992


Azaz perikemanusiaan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana dalam
melaksanakan kegiatan kita tidak membeda-bedakan golongan, kepentingan, agama
dan bangsa

24

1. Azas manfaat, harus dapat memberikan manfaat yang sebenarnya sesuai dengan
tujuan kita menolong adalah ikhtiar, tidak untuk menipu atau menggandakan
tujuan bagi masyarakat
1. Azaz usaha bersama dan kekeluargaan
2. Azas adil dan merata
3. Azas perikemenusiaan dalam keseimbangan
4. Azas kepercayaan dan kemempuan diri sendiri, menguatkan potensi diri maupun
potensi nasional.
Syarat syah Pelayanan Kesehatan, sesuai UU. No 23 Tentang Kesehatan :
Setiap orang yang meminta pertolongan pada umunya berada dalam posisi
ketergantungan, artinya ada tujuan tertentu.
Misal jika sakit datang ke tenakes
Melakukan tuntutan hukum datang ke Advokat
Membuat wasiat/surat tanah datang kenotaris
Setiap orang yang meminta pertolongan pada seorang profesi kesehatan, bersifat
rahasia, termasuk hubungan antara pasien dengan tenakesnya
Setiap orang yg menjalani profesi kesehatan bersifat rahasia,, bebas, dan otonomi
profesi.
Sifat pekerjaan kesehatan bukan harga mati, tapi berupa ikhtiar, harus melalukan yang
terbaik, sesuai kompetensi, dapat dipertanggungjawabkan baik secara hukum
kesehatan.

LANDASAN HUKUM KEBIDANAN

Dari sudut pandang hukum perdata, hubungan antara health care provider dan
health care receiver , merupakan hubungan perikatan /kontraktual, diantara kedua

25

belah pihak, sehingga dari masing-masing pihak akan muncul antara hak dan
kewajiban.

Health care provider, wajib memberikan prestasinya dalam bentuk layanan


medik yang layak berdasarkan keilmuan yang telah teruji.Dalam rangka
memberikan pelayanan kesehatan wajib memperhatikan hak-hak lain dari pasien,
baik yang timbul dari perundang-undangan yang berlaku maupun dari kebiasaan
dan kepatutan.

Pasal 1 ayat (3) UU Kesehatan No.23/92, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang
mengabdikan dirinya dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan atau
ketrampilan melalui pendidikan yang untuk
Bidang tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan pelayanan kesehatan.
Yang termasuk Tenakes sesuai UU 23/92 dan PP 32/96 adalah :
tenaga medis,tenaga keperawatan,tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan
masyarakat, tenaga gizi, tenaga terapi fisik, tenaga teknis medis.
Pasal 53 UU 23/92, tentang hak-hak pasien, diantaranya adalah hak atas informasi
dan hak untuk mendapatkan persetujuan tindakan medik yang akan dilakukan
terhadapnya, persetujuan selanjutnya di sebut Informent concern.
Jika tindakan medik tanpa persetujuan , termasuk pelanggaran hukum, berikutnya
dapat digugat bahkan sampai pengadilan.
Pasal 1239 KUHPerdata, jika seseorang tidak dapat melakukan dan tidak dapat
memenuhi kewajibanya yang didasari adanya perjanjian
( perikatan antara tenakes dengan pasien, dan perikatan ini terikat dengan asas iktiar ),
jika tidak terpenuhi ini dianggap tindakan wanprestasi( ingkar janji) dan ini termasuk
perbuatan melawan hukum (PMH), apabila kemudian menimbulkan kerugian baik
materl maupun moril selanjutnya dapat digugat sebagai tindakan malpraktek.
Pasal 1365 ayat (1) KUHP tiap perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian,
maka wajib bertanggung jawab mengganti kerugian/timbulnya gugutan.

26

ayat (3), begitu pula jika kerugian pasien yang dilakukan oleh tenakes dibawah
pengawasanya, perawat, asisten bidan , bidan, dalam hal ini tenakes yang memiliki
kewenangan kompetensi yang bertanggung jawab.
Syarat syah suatu Kesepakatan/Perjanjian hukum :

Pasal 1320 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perjanjian adalah jika terpenuhi
hal hal berikut ini :
adanya kesepakatan
adanya kecakapan, dewasa, tidak gila, tdk dalam pengampuan(anak-anak), wanita
dalam keadaan inpartu.
Legal, artinya yang tidak bertentangan dengan UU dan hukum, dengan ketertiban
umum, dengan publik/masyarakat, dan tidak bertentangan dengan norma kesusilaan
yag berlaku di masyarakat.
Jika tidak sesuai dengan kreteria di atas apalagi dengan norma-norma, maka akan
mengarah
kepada penyimpangan prilaku, ada perbuatan yang tidak sesuai , tidak menyenangkan
Undang-undang Nomor 13.Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan,
Pasal 81 ayat(1) , masa haid bagi wanita tidak wajib bekerja pada hari pertama dan
kedua.
ayat (2), pelaksanaan diatur dengan perjanjian
Pasal 82

ayat(1). Buruh wanita berhak dapat cuti 1,5 bulan sebelum melahirkan

dan 1,5 bulan sesudah melahirkan.


ayat (2) , yang mengalami keguguran berhak mendapat cuti 1,5 bulan atau sesuai
dengan surat sakit dari dokter.
Pasal 84 , setiap pekerja berhak mendapatkan upah/gaji yang sesuai atau dengan
kesepakatan,

KESEHATAN ( HEALTH )

27

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ), dulu batasan tentang keadaan


sehat hanya mencakup kondisi tidak sakit, tetapi sekarang telah mencakup
beberapa aspek.

Menurut UU Nomor 23/1992, ada 4 aspek yang termasuk kedalam kesehatan


yaitu : * Fisik
*Mental

* Sosial * Ekonomi.

Kesehatan Menurut Teori BLUM ( 1974 ), bahwa kesehatan sangat dipengaruhi


o;eh beberapa faktor yaitu :
Lingkungan, lingkungan fisik, sosial, budaya, politik, ekonomi
Perilaku, Pelayanan kesehatan dan keturunan/genetik.
HAK DAN KEWAJIBAN PROFESI

Setiap undang-undang selalu mengatur hak dan ewajiban, baik pemerintah


maupun warga masyarakatnya, demikian dalam UU 23/92 tentang kesehatan.

Hak dan kewajiban berdasarkan pasal 4 dan 5 UU kesehatan mengatakan


bahwa:
setiap orang mempunyai hak yg sama dalam memperoleh derajat kesehatan yg
optimal
setiap orang berkewajiban ikut serta dalam pemeliharaan kes perorang,
keluarga juga masyarakat.

ASPEK HUKUM DAN KETERKAITANNYA DG PRAKTEK BIDAN

Praktek bidan selain bertujuan menjalani profesi sebagai bidan, namun


senantiasa wajib merahasiakan keadaan penyakit klien yang ditangani, bukan saja
sebagai kewajiban moral akan tetapi melekat sebagai kewajiban hukum.

Perlu diketahui dan diingat bahwa klien yang datang ke praktek bidan , itu
karena ia sangat membutuhkan pertolongan, siapapun keadaan klien kita tidak
boleh meremehkan dan lupa akan norma kesusilaan yang berlaku pada saat
tersebut di masyarakat, atas dasar tersebut norma susila yang telah ada lebih

28

dikuatkan dengan undang-undang, yang mana apabila apa yang telah dilakukan
bidan diduga ada kesalahan atau mengakibatkan cacat , maka terkena sanksi
hukum baik perdata maupun pidana.

Di Indonesia telah dikeluarkan mengenai Peraturan Pemerintah, dan Undangundang Kesehatan.

Pasal 53 UU Kesehatan 1992, beserta penjelasanya menyatakan dengan tegas


bahwa rahasia pasien merupakan hak yang perlu dihormati, selain sanksi moral
tentunya ada sanksi hukum yang dapat diterapkan jika bidan melanggar ketentuan
yang berlaku.

SAnksi pidana pada pasal 322 KUHP, berbunyi :

Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang ia wajib menyimpanya


oleh karena jabatan atau pekerjaanya, baik sekarang maupun dulu, dihukum dg
hukuman penjara selama-selamanya 6 bulan atau denda 600 jt rupiah

SELAIN BIDAN , TENAKES LAIN YG HARUS MERAHASIAKAN PS :


1. Semua tenaga kesehatan
2. Semua mahasiswa pendidikan kesehatan
3. Orang-orang yang ditetapkan oleh peraturan Menteri Kesehatan,
misalnya tata usaha
pegawai laboratorium
yang mengurus/pegawai rekam medik.
Bidan tidak terkena sanksi hukum dalam pembocoran kerahasiaan , jika pasien telah
memberi ijin kepada bidan , apabila suatu keadaan ada yang bertanya tentang
keadaanya.
Bukan merupakan informed concern, manakala bidan diluar ruang praktek sedang
membicarakan akibat pemerkosaan,abortus.

HAK- HAK KLIEN, PERSETUJUAN UNTUK BIDAN BERTINDAK

29

Perlu diketehui bahwa pasien/klien mempunyai hak untuk menyampaikan


persetujuan/ informed concern , terhadap setiap tindakan yang akan dilakukan
oleh bidan.

Secara hukum hak persetujuan tersebut, tertuang pada penjabaran dari hak
asasi manusia, dan dijamin oleh undang-undang kesehatan no. 23/92.

Akan tetapi dalam keadaan gawat darurat atau kritis, seorang yang berpacu
dengan nyawa, seorang tenaga kesehatan tidak ada waktu untuk menjelaskan
kepada keluarga klien, maka dibenarkan untuk melakukan sesuatu demi
keselaman yang mendasar dari klien tersebut.

KONTRASEPSI

Setiap tindakan medik, termasuk kontrasepsi, memerlukan persetujuan dalam


pelasanaanya.

Sebaiknya sebelum bidan menawarkan kontrasepsi kepada klien, dimintakan


dulu persetujuan dari suami klien , kecuali untuk kontrasepsi yang tidak
menetap/reversible seperti :

Pil, suntik, tissue, kondom, implant/susuk kontraseosi ini diperbolehkan tidak


ada persetujuan dari suami.

Sedangkan kontrasepsi yang tetap/irreversible, seperti IUD, Steril, MOP, harus


ada persetujuan kedua belah pihak.

Ingat selain persetujuan pasien, juga informasi yang benar, termasuk informasi
lain yang memungkinkan harus menjadi bagian wajib bidan kepada klien.

TANGGUNG JAWAB DAN TANGGUNG GUGAT BIDAN DALAM PRAKTEK

Kurang kehati-hatian atau kesalahan dalam melaksanakan tindakan medik yang


terjadi, menunjukan adanya perilaku tenaga kesahatan yang tidak sesuai dengan
standar profesi yang telah di atur dalam perundang-undangan.

30

Kesalahan tersebut diatas dapat dianggap sebagai PMH( perbuatan melawan


hukum ), dan ini yang dapat dijadikan bahan gugatan oleh keluarga klien atau
pihak lain.

Syarat adanya dugaan kesalahan tindakan apabila :


ada kerugian
ada sebab akibat dari apa yang dilaksanakan
masih dalam hubungan perikatan antara bidan dan klien tsb.

TANGGUNG GUGAT

Dalam pasal 1367 ayat(3) KUHPerdata, seorang tenaga kesehatan harus


memberikan pertanggung jawaban tidak hanya atas kerugian ang ditimbulkan dari
tindakan diri sendiri , akan tetapi juga apabila terjadi kesalahan yang dilakukan
oleh bawahannya, atau perawat, bidan yang diberi delegasi, melakukanya,
sementara ia masih dibawah pengawasanya, dan apabila keadaan tersebut
dijadikan suatu gugatan maka selain bidan/tenaga kesehatan yang pertama
melakukan tindakan, kemudian ada perawat yang juga melakukan perawatan, ini
akan terkena sanksi hukum tangung renteng, tanggung gugat.

Begitu juga apabila bidan mempunyai Klinik Bersalin, dimana sebagai


penanggung jawab adalah seorang dokter kandungan, akan tetapi ia tidak sebagai
dokter tetap,

STANDAR PRAKTEK BIDAN

Pengertian profesi memiliki arti sebagai ukuran, dan untuk profesi medik ,
bidan, dan profesi lain diluar medik misal, advokat, guru, jurnalis, hakim dan
jaksa juga memiliki status profesi, akan tetapi dalam hal profesi medik, didalam
pekerjaanya senantiasa bersinggungan dengan nyawa/jiwa manusia, sehingga
diperlukan kehati-hatian yang tinggi , dan bersifat mandiri, meskipun memiliki
kemandiririan tetap , teliti, penuh kehati-hatian dan harus ingat perundang-

31

undangan, yang kini sebagai payung hukum tenaga kesehatan adalah hukum
kesehatan.

Pasal 53 ayat(2) UU No.23/92 Tentang Kesehatan, menjelaskan bahwa standar


profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam
menjalankan profesinya dengan baik dan benar.

PERATURAN PERUNDANG_UNDANGAN YG MELANDASI PRAKTIK


BIDAN

Peraturan perundang-undangan yang melandasi bidan , berupa hubungan


keterikatan antara klien dan bidan, secara hukum kesehatan keterikatan adalah
mengabdung pengertian hak dan kewajiban.

Tindakan bidan adalah sebagai subjek hukum, jika dilakukan berkaitan dengan
profesi bidan, apabila bukan menyandang profesi bidan maka tidak termasuk
perikatan secara hukum.

Perundang-undangan sbg landasan praktik bidan :


Kep. MenKes No.43/MenKes/SK/X/1983 tentang KODEKI, memuat segala

sesuatu tanggung jawab terhadap ketentuan profesi.


UU.No.23 /1992 Tentang Kesehatan dan UUPK No.29/2004 Tentang Praktik
Kedokteran, memuat ketentuan perdata dan pidana.
PERMENKES TENTANG REGISTRASI

Seperti tercantum dalam UU. No 23/92 Tentang Kesehatan dan adanya UUPK
No29/2004 Tentang Praktik Kedokteran, ini menjadi bagian tanggung jawab
tenaga kesehatan, dan adalah kewajiban Bidan untuk melaksanakan nya antara
lain :

32

1. Mengikuti pendidikan dan pelatihan, ini tercantum dalam pasal 28 ayat (1) dan
pasal 52 e, yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan lembaga lain yang
terakreditasi.
2. Kewajiban mengurus str dan sib ( surat izin bidan ), dengan mengisi formulir
permohonan , diajukan ke kepala dinas kesehatan kesehatan provinsi untuk
diterbitkannya SIB.
SYARAT-SYARAT REGISTRASI

Memiliki ijasah

Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji

Memiliki surat keterangan fisik sehat dan mental sehat

Memiliki sertifikat kompetensi ( surat ini dikeluarkan oleh kolegium yang


bersangkutan )

Membuat pernyataan akan memenuhi dan melaksanakan ketentuan etika


profesi
Masa berlaku surat tanda Registrasi adalah maksimal 5 tahun dan kemudian di

ulanh tiap 5 tahun berikut, pada saat membuat registrasi ulang , seorang bidan harus
menyertakan surat sehat jasmani dan mental ( surat keterangan tsb harus ditandatangi
oleh dokter yang memiliki SIP ).
SURAT IZIN PRAKTIK BIDAN

Merupakan bukti tertulis yang wajib dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan yang
berprofesi

yang berhak mengeluarkan adalah pejabat yang berwenang di Provinsi dimana


seseai tempat praktik bidan (SIPB )

Praktik bidan juga telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan


No.900/MenKes/SK/VII/2002,

yang

merupakan

revisi

dari

Permenkes

No.572/MenKes/per/VI/1996.
Dan dapat dikaji dalam melaksanakan praktik bidan sesuai :

33

KepMenkes 900/MenKes/SK/VII/2002 tentang registrasi praktik bidan


standar pelayanan kebidanan
UU Kesehatan 23/92
PP 32/1996 Tentang otonomi Daerah, UU 13/2003 Ketenagakerjaan
UU Aborsi, Adopsi, bayi tabung dan transplantasi.
MASA BAKTI DAN PERIZINAN

Masa bakti bidan dilaksanakan ssuai dengan ketentuan yang berlaku.

Perizinan Bidan :
harus memiliki SIB
SIB berlaku selama 5 tahun dan harus diperbarui sesuai uji kompetensi,
Apabila bidan menjadi pegawai tidak tetap dalam rangka menjalankan masa bakti,

maka tidak memerlukan SIB.


Sebaliknya bagi bidan lulus pendidikan dan merencanakan menjadi pegawai tetap
baik negeri atau swasta, wajib mengurus STR,SIPB dan berkewajiban meningkatkan
keilmuan dan/atau ketrampilanya melalui pendidikan formal dan pelatihan.
BENTUK PELAYANAN PRAKTIK BIDAN
1. Pelayanan kebidanan , terhadap ibu dan anak
Pelayanan ibu: pada masa pranikah, prahamil,masa kehamilan, masa nifas, masa
menyusui dapat eksklusif sampai 6 bulan.
2. Untuk anak, masa baru lahir, masa bayi, masa balita dan masa prasekolah.
Pasal 17, dalam praktik bidan, perlu diwaspai apabila dalam keadaan pelayanan
kadang klien ingin langsung dengan pengobatan, akan tetapi sebagai tenaga kesehatan
profesional,
sebaiknya pemberian obat-obatan dapat diberikan oleh yang memiliki kewenangan
( dalam hal penulisan resep,
maupun pemberian obat, ada tenaga medis/dokter/dokter spesialis, ) KECUALI
diwilayah tersebut tidak ada dokter.
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

34

Organisasi profesi bidan, menetapkan kepada seluruh anggotanya untuk


mengumpulkan angka kredit selama pelayanan kebidanan, yang dikumpulkan
melalui pendidikan , kegiatan ilmiah, pengabdian kepada masyarakat.

Organisasi profesi berkewajiban membibing dan mendorong para anggotanya


untuk dapat mencapai jumlah anggka kredit yang telah ditentukan.( selama
praktek bidan wajib mentaati aturan perundang-undangan yg berlaku ).

Pimpinan sarana kesehatan wajib elaporkan bidan yang praktek maupun sudah
tidak praktek kepada dinas kesehatan kabupaten/kota dengan surat tembusan
kepada ketua organisasi profesi setempat.

SANKSI HUKUM BAGI BIDAN

Sanksi Hukum Perdata :


Berupa Wanprestasi ( pasal 1239 KUHP ), jika melakukan :
tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan
terlambat melakukan apa yang dijanjikan
melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi tidak sesuai hasil yang dijanjikan,

melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukan oleh bidan misal
melakukan tindakan curretge pada kasus abortus ( kewenangan mutlak ada pada
dokter spesialis ).
Contoh kasus atas gugatan wanprestasi :
Pada papan nama bidan, mencantumkan praktik dari jam 17 wib-19 wib, akan
tetapi setiap datang bidan tersebut jam 18 wib, ini pelanggaran krn tidak sesuai dg apa
yg dijanjikan.

Sanksi hukum Pidana atas PMH

35

Bentuk Perbuatan Melawan Hukum oleh bidan adalah :


akibat asuhan kebidanan yang dilakukan menimbulkan cacat tubuh, luka berat,

adanya kerugian
materi yang berlebih, timbul rasa sakit yang terus menerus, sampai tidak dapat
melakukan aktfitas
klien sebagai ibu rt atau tidak dapat bekerja, merusak kepercayaan dan keagamaan ,
bahkan sampai klien meninggal dunia.

Dalam buku KUHPidana , pasal 183,184, hakim harus memiliki alat bukti yang
syah dari gugatan pidana dengan syarat bahwa alat bukti tersebut terpenuhi :
adanya keterangan saksi, keterangan ahli, surat yg dibuat menurut ketentuan
perundang-undangan oleh pejabat, untuk pembuktian dari suatu keadaan, adanya
petunjuk sesuai kebijakan hakim, keterangan terdakwa dapat menerangkan akan
Rekam medik ( sebagai alat bukti di persidangan ).

KETENTUAN PERALIHAN

Dengan telah terbitnya ketentuan Registrasi dan Surat izin Bidan , diatur
melalui Keputusan MenKes Nomor.900/MenKes/SK/VII/2002, maka Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 572/MenKes/VI/1996, tentang registrasi dan praktek
bidan sudah tidak berlaku lagi.

Surat Izin Bidan dan Surat Izin Praktik Bidan berlaku selama 5 tahun dan
apabila telah habis masa berlakunya dapat diperbaharui sesuai ketentuan yang
berlaku.

Pengambilan tindakan atas sanksi hukum terhadap bidan yang diduga telah
melakukan kesalahan ,baik suatu wanprestasi, maupun perbuatan melawan
hukum, dapat teguran lisan, tertulis, denda, maupun penjara sesuai ketentuan
perundangan yg berlaku.

KOMITE PENGAWASAN,PIMBINAAN KODE ETIK MEDIK

36

SULITNYA MEMBUKTIKAN ADANYA DUGAAN MALPRAKTIK:


Didalamnya melaksanakan pelayanan kesehatan, mulai diagnostik,
anamnestik,analitik sampai melakukan tindakan tertentu kepada klien, harus
melakukannya secara LEGE ARTIS.
Tindakan harus mengacu kepada prosedur operasional, yang telah ditetapkan oleh
ikatan profesinya.
Niat seorang medik menolong klien ,adalah dengan itikad baik, namun hasilnya
terkadang tidak sesuai dengan persetujuan, bahkan bisa terjadi cacat, sampai
meningal dunia. Oleh pihak lain ini serin dianggap adanya dugaan malpraktik,
padahal tenakes juga manusia. Dugaan dpt dibuktikan dg pengaduan keaparat
hukum.
ADA

DUA

TANGGUNG

JAWAB

HUKUM

TERHADAP

DUGAAN

MALPRAKTIK

Tanggung jawab terhadap ketentuan-ketentuan profesional yaitu : KODEKI,


pengawasan dan pembinaan dilakukan oleh MPKETM (Majelis Pengawasan
Kode Etik Tenaga Medik )

Tanggung jawab hukum terhadap ketentuan-ketentuan hukum yg berlaku di


Indonesia, melalui bidang hukum Administrasi, Perdata,Pidana. Termasuk
tanggung jawab lain diluar hukum.
KUHP,pasal 359 .360, mengatakan unsur yg menyebabkan cacat,mati:

Adanya kelalaian

Adanya wujud perbuatan

Adanya luka berat,cacat

Adanya hubungan kausal antara kelalaian dg wujud perbt sp terjadi kematian


orang/klien.

TIGA PRINSIP UMUM DLM MELAKUKAN PROFESI TENAKES:

37

Kewenangan,
( Registrasi, SIB.SIPB)

Kemampuan Rata-rata
(Bidan yang baru lulus beda dengan senior)

Ketelitian yang umum

( berkaitan dg knowledge, skill,profesional attitude/prilaku baik).

Dalam rangka terselenggaranya praktik medik yang sesuai dg peraturan, maka perlu
pengawasan dilakukan oleh organisasi profesi keehatan,pembinaan dilakukan oleh
Konsil pusat bekerja sama dengan organisasi profesi di tempat bertugas.
MAJELIS KEHORMATAN DISIPLIN PROFESI

Merupakan lembaga otonom dari KKI ( Konsil Kedokteran Indonesia).

Bersifat independen

Majelis kehormatan tingkat kab/kota dibentuk oleh KKI pusat &Prov

Keanggotaan majelis kehormatan tdd: satu orang ketua, satu orang wakil ketua,
satu orang sekretaris, keanggotaan harus ada dokter, dokter gigi, profesi kesehatan
lain, dan sarjana hukum kesehatan, sarjana hukum ( diusakan 3 orang tiap disiplin
)

Syarat menjadi anggota MKDP: warga negara ina,sehat,berkelakuan baik,usia


minimal 40 tahun maksimal 65 thn, pengalaman dibidangnya 10 tahun, memiliki
STR, tidak cacat hukum, dedikasi tinggi, jujur, dan baik.

Masa bakti 5 thn dan dapat diangkat 1 kali pemilihan MKDP.

KETUA MKDP dapat menerima Aduan:

Syarat pengaduan dugaan malpraktik harus memuat :


identitas pengadu/penggugat, nama dan alamat praktik tergugat,dan waktu
kejadian,alasan pengaduan
Gugatan dapt juga dikirimkan ke polisi, untuk menempuh jalur pengadilan dan
ada proses hukum baik perdata, pidana.

38

Pengaduan ke MKDP dapat dilanjutkan kepada organisasi profesi, untuk


menjatuhkan keputusan :
dapat dinyatakan tidak bersalah atau ada kesalahn etik sehingga terkena sanksi
Disiplin: peringatan tertulis, pencabutan SIPB, wajib mengikuti pendidikan .

FUNGSI MKDP :

Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

Melindungi masyarakat atas tindakan medik


Memberikan kepastian hu

BAB III
PENUTUP

39

3.1.Kesimpulan
Bidan adalah seorang yang telah menjalani program pendidikan bidan yang
diakui oleh negara tempat ia tinggal, dan telah berhasil menyelesaikan studi terkait
serta memenuhi persyaratan untuk terdaftar dan atau memiliki izin formal untuk
praktek bidan.Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai ciri khas yangkhusus.
Sebagai pelayan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan
kesehatan.
Kebidanan sebagai profesi merupakan komponen yang paling penting dalam
meningkatkan kesehatan perempuan.
3.2.Saran
Agar pemerintah terus berupaya mendukung profesi bidan dengan cara meningkatkan
kwalitas SDM bidan melalui penyediaan fasilitas pendidikan bagi bidan.
Bagi organisasi diharapkan agar terus berupaya mengembangkan pelayanan dan
pengetahuan bagi semua bidan secara adil dan merata.
Bidan sebagai tenaga profesional diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif dalam
organisasi dan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan etika
profesi
Dari ciri-ciri tsb dapat disimpulkan pelayanan kesehatan memberikan
pelayanan, dengan sifat ikhtiar, pasien/klien dengan penuh kepercayaan dan
keyakinan, pasrah akan penderitaanya. Dan itu adalah syarat mutlak untuk
memperoleh hasil yang terbaik. Jujur profesi medis penuh dengan resiko, dalam
berikhtiar dapat timbul kelalaian/kesalahan menimbulkan cacat, kerugian, bahkan
kematian. Resiko ini oleh orang-orang/pihak-pihak lain diartikan sebagai kesalahan
profesi dan tudingan adl: MALPRAKTIK.
DAFTAR PUSTAKA

40

Bidan Menyongsong Masa Depan, PP IBI. Jakarta.


Behrman. Kliegman. Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak (Nelson Textbook of
Pediatrics). EGC. Jakarta.
Depkes. (2007). Kurikulum dan Modul Pelatihan Bidan Poskesdes dan
Pengembangan Desa Siaga. Depkes. Jakarta.
Depkes RI. (2007) Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Pusat Promosi Kesehatan.
Depkes RI, (2006) Modul Manajemen Terpadu Balita Sakit, Direktorat Bina
Kesehatan Anak, Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.
Depkes RI. (2006). Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak
(PWS-KIA). Direktorat Bina Kesehatan Anak, Direktorat Bina Kesehatan
Masyarakat, Jakarta.
Depkes RI. (2006). Manajemen BBLR untuk Bidan. Depkes. Jakarta.
Depkes RI. (2003). Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta.
Depkes RI. (2002). Pelatihan Konseling Pasca Keguguran. Depkes. Jakarta.
Depkes RI. (2002). Standar Profesi Kebidanan. Jakarta.
Depkes RI. (2002). Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta.
Depkes RI. (2002). Kompetensi Bidan Indonesia. Jakarta

41

Anda mungkin juga menyukai