Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK 1 (Pembuatan CuSO 4 .5H 2 O)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK 1 (Pembuatan CuSO .5H O) Penyusun: Wike Handayani / 1205712 Kelompok 71205736 Wenny Anggraini / 1205732 Wiwit Fitrah Legi / 1205685 Yona Febriani / 1205716 Kamis, 05 Mei 2014 Dosen Asisten Dosen : : Miftahul Khair, S.si Prambudi Ayuman Meli Menia Anna Maulina LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2014 " id="pdf-obj-0-9" src="pdf-obj-0-9.jpg">

Penyusun:

Wike Handayani / 1205712 Kelompok 7 Uswatun Hasanah / 1205736 Wenny Anggraini / 1205732 Wiwit Fitrah Legi / 1205685 Yona Febriani / 1205716

Kamis, 05 Mei 2014

Dosen Asisten Dosen :

:

Miftahul Khair, S.si Prambudi Ayuman Meli Menia Anna Maulina

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2014

Contents

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................2 DAFTAR GAMBAR...................................................................................................2

  • A. TUJUAN............................................................................................................4

  • B. TEORI DASAR....................................................................................................4

  • C. ALAT DAN BAHAN.............................................................................................7 Alat...................................................................................................................7 Bahan................................................................................................................7

  • D. CARA KERJA.....................................................................................................7

  • E. TABEL PENGAMATAN......................................................................................11

  • F. PERHITUNGAN................................................................................................12

  • G. PEMBAHASAN................................................................................................12

  • H. KESIMPULAN..................................................................................................16

  • I. JAWABAN PERTANYAAN..................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................18

DAFTAR GAMBAR

2

Gambar 1. Larutan yang telah tercampur...................................................................................9 Gambar 2. Larutan di panaskan.................................................................................................9 Gambar 3. Larutan mengeluarkan gas berwarna coklat...........................................................10 Gambar 4. Larutan disaring dalam keadaan masih panas........................................................10 Gambar 5. larutan didiamkan selama beberapa hari................................................................11 Gambar 6. Kristal terusi yang didapatkan................................................................................11

PEMBUATAN CuSO 4 .5H 2 O

3

  • A. TUJUAN 1. Membuat dan mengenal sifat kristal tembaga (II) sulfat

    • 2. Memahami proses pembuatan kristal

  • B. TEORI DASAR Banyak senyawa tergabung dengan air membentuk hidrat. Dengan senyawa ini, air bergabung secara kimia, meskipun hampir semua hidrat mudah melepaskan air jika dipanaskan. Fakta yang membuktikan bahwa hidrat itu adalah senyawa bukan campuran ialah : 1. air terdapat dalam perbandingan tertentu. Misalnya hidrat tembaga sulfat

mengandung 36,07 % air.

  • 2. Sifat fisis hidrat berbeda dari sifat anhidrat. Misalnya hidrat tembaga sulfat berbentuk kristal triklin berwarna biru. Sedangkan tembaga sulfat anhidrat berbentuk kristal monoklin berwarna putih.

Suatu zat padat membentuk lebih dari satu macam hidrat yang masing-masing stabil dalam suasana tertentu. Tembaga sulfat dapat membentuk tiga macam hidrat yaitu, penta hidrat, CuSO 4 .5H 2 O, trihidrat CuSO 4 .3H 2 O, dan monohidrat CuSO 4 .H 2 O

Tembaga sulfat biasanya dibuat secara komersial dengan dua cara

1.

Tembaga dioksidasi dalam larutan yang mengandung asam.

2Cu +

2H 2 SO 4 +

O 2

2CuSO 4 + 2H 2 O

  • 2. Tembaga (II) sulfida dioksidasi dalam udara :

2CuS

+

2O 2

CuSO 4

Senyawa tembaga dalam konsentrasi tinggi merupakan racun bagi kebanyakan benda hidup. Oleh karena itu senyawa tembaga digunakan dalam insektisida dan fungisida. Namun adalah sangat menarik bahwa di dekat daerah yang tanahnya tidak mengandung tembaga terdapat penyakit dan kelainan pada tumbuh-tumbuhan dan hewan.

Di beberapa daerah di Australia yang tanahnya tidak mengandung tembaga ditemukan penyakit pada domba yang mengakibatkan paengaruh pada sistem syaraf, anemia dan

4

kerusakan pada wol. Meskipun untuk mengatasi kelainan hanya diperlukan sangat sedikit tembaga.

Tembaga sulfat pentahidrat, CuSO 4 .5H 2 O sering disebut Biru Vitriol. Senyawa inI biasanya digunakan sebagai elektrolit dalam pemurnian tembaga secara elektrolisis; dalam pengetikan listrik (elektrotyping) dalam beberapa macam baterai, dalam pencetakan (cap) kain mori atau belacu dan sebagai bubur Bordeaux untuk memusnahkan jamur pada tanaman (Tim Kimia Anorganik, 2014).

Tembaga disebut logam mata uang. Tembaga tergolong logam yang sukar bereaksi. Oleh karena itu, disamping sebagai senyawa juga terdapat dalam keadaan bebas. Tembaga membentuk senyawa dengan tingkat oksidasi +1 dan +2. Tembaga tidak

larut dalam asam keras encer. Potensial oksidasi tembaga bertanda negatif (−). Itu berarti tembaga lebih sukar teroksidasi daripada hidrogen.

Cu(s)

Cu(s)

Cu

2+ (aq)

Cu + (aq)

E 0 = E 0 =

− 0,337 V − 0,552 V

Tembaga dapat larut dalam asam oksidasi, yaitu asam sulfat pekat, asam nitrat encer dan pekat, membentuk garam tembaga (II). Dengan asam sulfat pekat membebaskan gas SO 2 :

Cu(s) + 2H 2 SO 4 (aq) → CuSO 4 (aq) + SO 2 (g) + 2H 2 O(l)

Dengan asam nitrat encer membebaskan terutama gas NO :

3Cu(s) + 8HNO 3 (aq) → 3Cu(NO 3 ) 2 (aq) + 2NO(g) + 4H 2 O(l)

Sedangkan bila direaksikan dengan asam nitrat pekat maka akan membebaskan terutama gas NO 2 :

Cu(s) + 4HNO 3 (aq) → Cu(NO 3 ) 2 (aq) + 2NO 2 (g) + 2H 2 O(l)

Larutan garam tembaga (II) dalam air, tepatnya ion Cu(H 2 O) 4 2+ , berwarna biru terang. Larutan akan menjadi biru tua dengan larutan amoniak berlebih karena pembentukan kompleks Cu(NH 3 ) 4 2+ , dengan HCl pekat menjadi hijau terang karena pembentukan kompleks CuCl 4 2 . Pembentukan ion kompleks Cu(NH 3 ) 4 2+ yang berwarna biru khas itu dapat digunakan untuk mengenali ion Cu 2+ .

5

Hidrat garam tembaga (II), seperti CuSO 4 .5H 2 O juga berwarna biru karena adanya ion

kompleks Cu(H 2 O) 4 2+ . Rumus hidrat CuSO 4 .5H 2 O tepatnya adalah sebagai Cu(H 2 O) 4 SO 4 .H 2 O yang terdiri dari empat molekul air yang terikat pada ion Cu 2+ , sedangkan

yang satu lagi terikat pada gugus SO 4

2−

.

Larutan tembaga (II) sulfat dalam air bersifat agak asam sebagai akibat terjadinya hidrolisis. Hal ini dikarenakan tembaga (II) sulfat anhidris tidak larut dalam alcohol dan eter, serta dengan segera dapat menyerap air berubah warna menjadi biru, sehingga digunakan untuk mendeteksi adanya air dalam suatu cairan (Wilkinson,

1989).

Tembaga adalah logam berdaya hantar listrik tinggi, maka dipakai sebagai kabel listrik. Tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO 3 . Bentuk pentahidrat yang lazim terhidratnya, yaitu kehilangan empat molekul airnya pada 100 o C dan kelima-lima molekul air pada suhu 150 o C. Pada 650 o C, tembaga (II) sulfat mengurai menjadi tembaga (II) oksidasi (CuO), sulfur dioksida (SO 2 ) dan oksigen.

Serbuk tembaga merupakan salah satu bahan logam yang digunakan untuk membuat komponen otomotif, elektronika dan juga sebagai bahan untuk produk cat yang bersifat konduktip. Dalam industri otomotif dan elektronika, pembuatan komponen dari serbuk tembaga dilakukan dengan teknologi metalurgi serbuk, dimana proses metalurgi serbuk terdiri dari tahapan-tahapan mixing, compacting dan sintering.

Padatan yang mengandung molekul-molekul senyawaan bersama-sama dengan molekul air disebut hidrat. Hidrat dalam senyawa anorganik adalah garam yang mengandung molekul air dalam perbandingan tertentu yang terikat baik pada atom pusat atau terkristalisasi dengan senyawa kompleks. Hidrat seperti ini disebut juga sebagai air terkristalisasi atau air hidrasi (Vogel, 1997).

Bahan uji kristal CuSO4.5H2O dipanaskan dengan TG-DTA sampai suhu 1000ºC, dengan kecepatan pemanasan 100°C/menit, bahan tersebut mengalami peristiwa pengurangan air (dehidrasi) dan peruraian (dekomposisi). Peristiwa peruraian terjadi karena adanya pelepasan air yang terikat sebagai air kristal, dan peruraian serbuk CuSO 4 menjadi CuO serta SO 2 dan O 2 dalam bentuk gas, akibat dari peristiwa tersebut

6

secara bertahap menyebabkan terjadinya penurunan berat dan akan membutuhkan sejumlah panas.

Produk reklistalisasi menunjukkan pola difraksi sinar-x berbeda dengan bentuk perdagangan yakni bentuk II hidrat. Bentuk ini akan berubah menjadi campuran I dan II anhidrat jika diberi perlakuan tribomekanik atau termik. Diperlukan suhu yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang untuk mengubah campuran II dan I menjadi total bentuk I. Pemanasan pada suhu 150 o C selama tiga jam, mampu mengubah produk perdagangan menjadi bentuk I meskipun belum 100 % mengubah produk rekristalisasi dari etanol (S, 1999).

  • C. ALAT DAN BAHAN Alat :

1.

Gelas kimia 400 ml

2.

Gelas ukur

100 ml

3.

Gelas ukur

50 ml

4.

Neraca

5.

Batang pengaduk

Bahan :

 

1.

H 2 SO 4 pekat

2.

Keping tembaga

3.

HNO pekat

4.

Kertas saring

  • D. CARA KERJA

 

Masukkan 100 ml air ke dalam gelas kimia

Tambahkan 17 ml H 2 SO 4 pekat

Masukkan 10 gram tembaga

 

Tambahkan 25 ml HNO 3 pekat

7

Gambar 1. Larutan yang telah tercampur Aduk sehingga semua tembaga melarut ↓ Gambar 2. Larutan di

Gambar 1. Larutan yang telah tercampur

Aduk sehingga semua tembaga melarut

Gambar 1. Larutan yang telah tercampur Aduk sehingga semua tembaga melarut ↓ Gambar 2. Larutan di

Gambar 2. Larutan di panaskan

Gambar 1. Larutan yang telah tercampur Aduk sehingga semua tembaga melarut ↓ Gambar 2. Larutan di

Gambar 3. Larutan mengeluarkan gas berwarna coklat

8

Panaskan, setelah gas berwarna coklat tua tidak keluar, sehingga uap tidak lagi berwarna coklat muda

Panaskan, setelah gas berwarna coklat tua tidak keluar, sehingga uap tidak lagi berwarna coklat muda ↓

Gambar 4. Larutan disaring dalam keadaan masih panas

Saring ketika masih panas ( jika masih terdapat tembaga yang tidak melarut )

Panaskan, setelah gas berwarna coklat tua tidak keluar, sehingga uap tidak lagi berwarna coklat muda ↓

Gambar 5. larutan didiamkan selama beberapa hari

Simpan larutan hingga terbentuk kristal

9

Gambar 6. Kristal terusi yang didapatkan Cuci kristal dengan sedikit air, kemudian larutkan ke dalam air

Gambar 6. Kristal terusi yang didapatkan

Cuci kristal dengan sedikit air, kemudian larutkan ke dalam air sedikit mungkin dan kristalkan kembali

Larutkan terus tahap 7 sehingga kristal bebas dari nitrat

Timbang dan serahkan CuSO 4 .5H 2 O yang anda peroleh

  • E. TABEL PENGAMATAN

No

.

Variabel yang diamati

Hasil Pengamatan

1.

100 mL air + 17 mL H 2 SO 4

Berwarna bening dengan tembaga

pekat + 10 gram tembaga (membawa ke luar ruangan)

berwarna merah bata Timbul gelembung- gelembung

2.

gas pada keping tembaga

Menambahkan 25 mL HNO 3

Larutan berwarna biru muda

pekat

Terdapat asap berwarna cokelat

Mengaduk ± 2 jam

Timbul buih berwarna putih di

3.

 

permukaan larutan

Memanaskan larutan setelah asap hilang

Setelah mengaduk terus menerus, larutan berubah warna menjadi

4.

biru pekat

Menyaring larutan selagi panas

Menggunakan kertas saring

5.

 

10

 

Menimbang massa tembaga sisa

Larutan menguap dan keping tembaga mulai melarut

6.

  • 1. Filtrat berupa larutan berwarna

Menimbang massa Kristal

 

biru

CuSO 4 .5H 2 O

  • 2. Residu berupa sisa keping

 

tembaga

 

Massa Cu yang ditimbang =

5,03 gram Massa CuSO 4 .5H 2 O

pemancing = 0,3534 gram Massa tembaga yang tidak

larut + gelas kimia = 37,8446 gram Berat gelas kimia kosong = 35,6188 gram Massa gelas kimia +

 

CuSO 4 .5H 2 O = 130,2 gram Berat gelas kimia kosong =

124,2 gram

F.

PERHITUNGAN Massa gelas kimia + CuSO 4 .5H 2 O = 130,2 gram Berat gelas kimia kosong = 124,2 gram

Massa CuSO 4 .5H 2 O pemancing = 0,3534 gram Massa CuSO 4 .5H 2 O = (Massa gelas kimia + CuSO 4 .5H 2 O) - Berat gelas kimia kosong - Massa CuSO 4 .5H 2 O pemancing = 130,2 gram – 124,2 gram – 0, 3534 gram = 5,6466 gram Berat CuSO 4 .5H 2 O secara teoritis

Mol Cu =

massaCu

ArCu

2, 80 42 g

= 63,5 g/mol = 0,044 mol

Mol CuSO 4 .5H 2 O ∞ mol Cu Maka, massa CuSO 4 .5H 2 O = mol CuSO 4 .5H 2 O x Mr CuSO 4 .5H 2 O = 0,044 mol x 249,5 g/ mol = 10,978 gram

11

Berat CuSO 4 .5H 2 O dalam percobaan ini adalah 5,6466 gram

Rendemen hasil % hasil = Berat CuSO 4 .5H 2 O dalam percobaan Berat CuSO 4 .5H 2 O secara teoritis

= 5,6466 gram 10,978 gram 51,44 %

=

× 100%

x 100%

Jadi, presentase rendemen yang diperoleh sebesar 51,44 %.

G. PEMBAHASAN Pada percobaan pembuatan tembaga (II) sulfat pentahidrat CuSO 4 .5H 2 O, pertama- tama air dicampur dengan H 2 SO 4 pekat, larutan menjadi bening. Kemudian menambahkan 10 gram keping tembaga ke dalam larutan tersebut, maka akan menghasilkan larutan yang tetap bening, dinding atau dasar pada gelas kimia terdapat embun (hal ini membuktikan adanya gas), dan larutan terasa hangat. Hal ini membuktikan bahwa di dalam larutan terjadi reaksi eksoterm yaitu reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan, dalam hal ini sistem melepaskan kalor, dan pada umumnya suhu sistem menjadi bertambah. Logam tembaga (Cu) yang awalnya berwarna coklat kekuningan berubah menjadi berwarna agak keunguan dan lebih mengkilap. Hal ini dikarenakan lapisan permukaan pada logam tembaga (Cu) terkikis, hal itu berarti Cu teroksidasi dalam larutan yang mengandung H 2 SO 4 .

Penambahan H 2 SO 4 pada percobaan ini sebagai pelarut yang dimaksudkan untuk meleburkan kepingan tembaga dan membersihkan kepingan tembaga dari pengotornya, sehingga kepingan atau kristal yang akan dihasilkan akan bersih dan terbebas dari pengotor. Hal ini sangat terlihat pada logam Cu yang lebih mengkilap ketika dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung H 2 SO 4 . Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

Cu(s)

+

2H 2 SO 4 (aq)

CuSO 4 (s)

+

SO 2 (g)

+

2H 2 O(l)

2Cu(s)

+

2H 2 SO 4 (aq)

+

O 2 (g)

2CuSO 4 (aq)

+

2H 2 O(l)

0

+2

+2 (oksidasi)
+2 (oksidasi)

12

Pada persamaan reaksi di atas, logam Cu mengalami oksidasi, terjadi kenaikan bilangan oksidasi dari 0 menjadi +2.

Percobaan dilanjutkan dengan menambahkan 25 mL HNO 3 pekat kemudian mengaduknya dengan gerakan searah dan kecepatan yang konstan (tidak berubah- ubah). Hal ini dimaksudkan agar reaksi tetap berjalan dengan stabil dan tidak terhenti sehingga didapatkan hasil yang diinginkan.

Ketika penambahan HNO 3 pekat, reaksi yang terjadi begitu terlihat, dimana larutan menjadi berwarna biru muda yang disebabkan oleh terbentuknya kompleks Cu(H 2 O) 4 SO 4 . Ketika mula- mula reaksi, warna tembaga menjadi lebih pucat, tembaga mulai melarut, larutan berwarna biru muda, dan terbentuk gas berwarna coklat. Hal ini merupakan gas NO 2 yang berbahaya dengan bau yang sangat menyengat. Di dalam larutan terdapat gelembung gas dan buih berwarna putih, ini menandakan logam Cu melarut (terjadi reaksi). Lama kelamaan larutan berubah warna menjadi berwarna biru yang sangat pekat. Larutan yang awalnya panas karena terjadi reaksi eksoterm pada saat pencampuran diawal, ketika diaduk terus menerus selama kurang lebih satu jam setengah, larutan menjadi dingin, ini menunjukkan reaksi yang terjadi berkurang. Adapun persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut. 2Cu(s) + 2H 2 SO 4 (aq) + 4HNO 3 (aq) → 2Cu(H 2 O) 4 SO 4 + 4NO 2 (g) + SO 2 (g) + O 2 (g)

Berdasarkan persamaan reaksi di atas, menghasilkan hasil samping yang berupa gas O 2 , gas SO 2 yang tidak berwarna, dan gas NO 2 yng berwarna coklat. Gas NO 2 dan gas SO 2 yang dihasilkan merupakan gas beracun yang tidak larut dalam air. Gas ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan kerusakan pada paru- paru dan kerusakan pada sistem pernafasan. Gas ini merupakan salah satu dari polutan penyebab pencemaran udara.

Setelah gas yang berwarna coklat tersebut tidak terbentuk lagi, larutan menjadi dingin, tidak terdapat buih berwarna putih akibat tembaga yang melarut, larutan berwarna biru yang sangat pekat, larutan kemudian dipanaskan agar NO 2 terurai menjadi nitrogen dan oksigen serta pelarutan menjadi sempurna. Hal ini dikarenakan sesaat

13

sebelum dipanaskan, sebagian tembaga belum melarut saat pengadukan, diperlukan waktu yang lama untuk melarutkan seluruh tembaga.

Ketika larutan mendidih pada saat dipanaskan, timbul gelembung- gelembung gas dan tembaga mulai melarut yang ditandai dengan adanya buih. Larutan juga mengeluarkan bau yang menyengat, reaksi menghasilkan gas kembali akibat terjadinya reaksi antara tembaga yang belum melarut dengan larutan.

Kemudian menyaring larutan selagi panas agar pengotor tidak sempat mengendap. Penyaringan menghasilkan filtrat yang berwarna biru bening dan residu secara terpisah.

Agar menghasilkan kristal, menyimpan filtrat dan mendiamkannya selama dua hari pada percobaan yang dilakukan. Setelah mendiamkannya, di dalam filtrat terbentuk kristal yang berwarna biru berlapis- lapis seperti lapisan kayu, kristalnya terpisah- pisah, ada yang berukuran besar dan ada juga yang berukuran kecil.

Agar kristal yang terbentuk bebas dari nitrat, maka kristal harus dicuci dengan sedikit air dan yang terjadi adalah kristal menjadi rapuh. Selanjutnya kristal dikeringkan dengan cara mendiamkannya. Dilanjutkan dengan tahap penimbangan kristal yang diperoleh dan residu (tembaga yang tidak melarut).

Adapun prinsip yang dilakukan pada percobaan ini adalah pada pemanasan larutan tembaga menggunakan penangas air yang dipanaskan terlebih dahulu agar molekul- molekul dalam larutan akan teratur berikatan dan mudah membentuk kristal, begitu juga prosedur kerja yang dilakukan harus sesuai secara sistematis agar kristal yang terbentuk strukturnya teratur. Hidrat CuSO 4 .5H 2 O tepatnya adalah sebagai Cu(H 2 O) 4

SO 4 . H 2 O, empat molekul air yang terikat pada ion Cu 2+ sedangkan yang satunya lagi

terikat pada gugus SO 4

2−

.

Kristal yang terbentuk yaitu tembaga (II) sulfat pentahidrat CuSO 4 .5H 2 O yang merupakan hidrat tembaga sulfat dengan persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

14

Cu 2+ (aq) + SO 4 2 (aq) + 5H 2 O(aq) → CuSO 4 .5H 2 O(s) atau Cu(H 2 O) 4 2+ (aq) + SO 4 2 (aq) + H 2 O(aq) → Cu(H 2 O) 4 SO 4 . H 2 O(s) Kristal yang diperoleh pada saat percobaan mudah rapuh dan tidak dalam satu kesatuan yang utuh, besar, dan kuat.

Kejadian ini begitu sering ditemui dan ada banyak faktor yang mempengaruhi dan

menyebabkan kristal yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, yaitu :

  • 1. Pengadukan yang dilakukan sering terhenti, tidak konstan, dan kecepatannya berbeda- beda.

  • 2. Filtrat sering tergoyang- goyang sehingga mengganggu kestabilan.

Berat CuSO 4 .5H 2 O pada percobaan sangat jauh di dapatkan dengan berat CuSO 4 .5H 2 O yang seharusnya diperoleh, sehingga rendemen hasilnya pun hampir mendekati dari angka 100%, yakni sebesar 51,44 %. Hal ini dikarenakan filtrat tidak sepenuhnya membentuk kristal.

H. KESIMPULAN

  • 1. Tembaga yang dicampur dengan air, H 2 SO 4 pekat, dan HNO 3 pekat akan membentuk kristal tembaga (II) sulfat pentahidrat, CuSO 4 .5H 2 O.

  • 2. Pada reaksi dengan H 2 SO 4 pekat dan HNO 3 pekat akan membentuk hasil sampingan berupa gas SO 2 yang tidak berwarna dan gas NO 2 yang berwarna coklat. Gas- gas ini sangat berbahaya, adapun persamaan reaksi adalah sebagai berikut.

2Cu(s) + 2H 2 SO 4 (aq) + 4HNO 3 (aq) → 2Cu(H 2 O) 4 SO 4 + 4NO 2 (g) + SO 2 (g) + O 2 (g) Reaksi tembaga (II) sulfat pentahidrat, CuSO 4 .5H 2 O, yaitu :

Cu 2+ (aq)

+

SO 4 2 (aq)

+

5H 2 O(aq)

CuSO 4 .5H 2 O(s)

  • 3. Hidrat tembaga (II) sulfat berbentuk kristal triklin yang berwarna biru. Tembaga (II) sulfat pentahidrat, CuSO 4 .5H 2 O sering disebut sebagai biru vitriol, warna biru disebabkan karena adanya ion kompleks.

  • 4. Pada percobaan, didapatkan berat Kristal CuSO 4 .5H 2 O = 5,6466 gram dan persen rendemennya yaitu 51,44 %.

15

  • I. JAWABAN PERTANYAAN Suatu cuplikan CuSO 4 .5H 2 O sebanyak 4,256 gram dilarutkan dan diperoleh 250 mL larutan. Ke dalam 25 mL larutan ini ditambahkan kalium yodida berlebih; Pada titrasi diperlukan 18,0 mL Na 2 S 2 O 3 0,0950 M. Hitung % tembaga dalam kristal ! Penyelesaian : 25 mL larutan ditambahkan dengan KI secara berlebih dan menitrasi dengan Na 2 S 2 O 3 . Maka ion triodida (I 3 ) akan direduksi menjadi ion iodide yang tidak berwarna dan warna putih dari endapan menjadi terlihat. Reduksi dengan tiosulfat menghasilkan ion tetrationat : I 3 + 2S 2 O 3 2 → 3I + S 4 O 6 Reaksi di atas dipakai dalam analisis kuantitatif untuk penentuan tembaga secara iodometri.

2−

Diketahui

Ditanya

Jawab :

I 2

+

2S

1 mol Cu 2+ (M. V) Cu 2+

: massa CuSO 4 .5H 2 O = 4,256 g (dilarutkan menjadi 250 ml larutan) Volume Na 2 S 2 O 3 = 18,0 mL M Na 2 S 2 O 3 = 0,0950 M : % tembaga dalam CuSO 4 .5H 2 O ?

4I S 4 O 6

2Cu 2+

+

I 2

+

2I

2−

Persamaan reaksi : 2Cu 2+

=

=

 

+

2I

+

2−

1 mol S 2 O 3 (M. V) S 2 O 3

2−

2 O 3 2

M Cu 2+ = (0,0950 M) (18,0 mL) 25 mL = 0,0684 M

Jumlah ion Cu 2+ dalam 250 mL larutan :

Mol Cu 2+ = (M. V) Cu 2+ = (0,0684 M) (0,250 L) = 0,0171 M Maka, massa Cu 2+ = mol Cu 2+ . Ar Cu 2+ =

0,0171

.

63,5

16

= 1,08585 g

Jadi, kadar Cu dalam CuSO 4 .5H 2 O yang dilarutkan sebanyak 4,256 g, yaitu:

% kadar Cu = 1,08585

4,256

= 25,51%

x 100%

Jadi, kadar Cu dalam larutan yaitu 25,51%

DAFTAR PUSTAKA

S, S. (1999). Kimia Dasar 3 (pp. 97–99). Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Tim Kimia Anorganik. (2014). Penuntun Praktikum Kimia Anorganik 1 (pp. 42–43). Padang:

Universitas Negeri Padang.

Vogel. (1997). Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Jakarta: PT. Kalmana Media Pustaka.

Wilkinson, dan C. (1989). Kimia Anorganik Dasar (p. 288). Jakarta: Universitas Indonesia.

17