Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM TEKNOLOGI BIOMASSA

PEMBUATAN BIOGAS

DISUSUN OLEH :

NAMA ANGGOTA

:
Afriyansyah

( 0613 4041 1502 )

Agus Rivai Anwar

( 0613 4041 1503 )

Aulia Purqan

( 0613 4041 1506 )

Firman Harris

( 0613 4041 1509 )

Galuh Wicaksono

( 0613 4041 1510 )

Lidya Lorenza

( 0613 4041 1515 )

Novitasari

( 0613 4041 1517 )

RA Nurul Moulita

( 0613 4041 1518 )

KELOMPOK

: 3 (TIGA)

KELAS

: 6 EG A

DOSEN PEMBIMBING

: Ahmad Zikri, ST., M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2016

Pembuatan Biogas
I.

Tujuan
Setelah Melakukan Praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat :
a. Mengetahui proses pembuatan biogas dari sampah sayur-sayuran,
eceng gondok dan kotoran sapi.
b. Untuk mengetahui seberapa besar gas methan yang dihasilkan oleh
setiap bahan sampah sayur-sayuran, eceng gondok dan kotoran sapi.
c. Untuk mengetahui lama produksi gas yang dihasilkan dari input
sampai dengan bertekanan maksimal.

II.

Alat dan Bahan


A. Alat yang digunakan

Galon

3 Buah

Selang Plastik

3m

Lem lilin

5 buah

Balon

6 buah

B. Bahan yang digunakan

Sampah sayur-sayuran

Eceng Gondok

Kotoran Sapi

Air

Bakteri Green Phoskko

Air Tebu / Gula

III.

Dasar Teori
3.1 Sampah Organik
Sampah organik merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai
dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai
kalau dikelola dengan prosedur yang benar dengan proses yang kokoh dan
relatif cepat, maka tanda apa yang kita punya untuk menyatakan bahwa
bahan-bahan pokok kehidupan. Sampah organic adalah sampah yang mudah
diuraikan oleh mikroorganisme, contoh sampah organic yang sering kita
jumpai adalah sampah sisa sayuran yang menumpuk di pasar-pasar
tradisional. Dengan banyaknya sampah yang menumpuk di pasar dan akan
menimbulkan aroma yang tidak sedap (bau).
Permasalahan utama kebersihan yang selama ini masih belum terselesaikan
secara tuntas, salah satunya merupakan sampah. Kebersihan dapat terjaga
dengan pengelolaan sampah terpadu. Pengelolaan sampah yang selama ini
dilakukan hanya berupa penimbunan sampah secara besar-besaran tanpa ada
pemilahan atau pun pengelolaan sampah lebih lanjut. Pemilahan sampah
berdasarkan jenisnya, organik dan non-organik, pendaurulangan sampah,
pembakaran sampah pada suhu sangat tinggi, ataupun penggunaan reaktor
biogas

untuk

pengelolaan
menggantikan

mendegradasikan

sampah

secara

penimbunan

sampah

merupakan

terpadu

yang

sampah

yang

dapat

beberapa
dilakukan

menghasilkan

cara
untuk

banyak

permasalahan.
Reaktor biogas yang mempergunakan sampah sebagai sumber penghasil
gas, merupakan solusi bagi permasalahan sampah organik. Persentase
sampah organik yang cukup besar, sekitar 64%, merupakan potensi yang
cukup baik bagi pengolahan sampah organik dengan mempergunakan
reaktor biogas. Dengan mempergunakan reaktor biogas, pengolahan sampah
organik dapat ditangani dengan lebih baik. Pengolahan sampah yang
dilakukan dengan cara penimbunan sangat beresiko mencemari udara dan
tanah. Pencemaran udara yang dapat ditimbulkan dari penimbunan sampah
yaitu aroma yang tidak sedap dan penghasilan gas metan yang merupakan
salah satu penyebab efek rumah kaca. Aroma sampah yang tidak sedap
sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Efek rumah kaca yang terjadi pada

atmosfer bumi, dapat menyebabkan pemanasan global yang dampaknya


sudah mulai kita rasakan sekarang. Sedangkan pencemaran tanah dapat
terjadi karena penghasilan lindi yang sangat beracun oleh timbunan sampah.
Lindi merupakan cairan hitam berancun yang dapat meracuni air tanah dan
menurunkan tingkat kesuburan tanah.
Pemanfaatan reaktor biogas dalam pengelolaan sampah organik dapat
menurunkan resiko pencemaran udara maupun tanah. Hal ini dikarenakan
proses yang terjadi dalam reaktor biogas tidak menimbulkan bau yang
menyengat, sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu. Selain itu, gas
metan yang dihasilkan dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk berbagai
keperluan sehingga tidak langsung terbang ke udara. Lindi yang dihasilkan
oleh proses degradasi sampah pun tertampung dalam reaktor yang
bermanfaat untuk memperbesar produksi biogas pada reaktor.
Biogas yang dihasilkan oleh reaktor biogas memiliki persentase gas
metan terbesar sekitar 55-75%. Gas metan yang memiliki sifat mudah
terbakar ini dapat dipergunakan sebagai pembangkit listrik dan sumber gas
pengganti gas elpiji. Potensi gas metan untuk menjadi sumber pembangkit
listrik sangat besar di kala krisis energi yang sedang terjadi saat ini. Selain
itu, penyuluhan pada masyarakat mengenai manfaat reaktor biogas pada
skala kecil dapat sekaligus menangani permasalahan sampah pada
sumbernya.
Sisa dari proses degradasi sampah yang terjadi dalam reaktor biogas
tidak mencemari lingkungan. Hasil sampingan tersebut dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk organik yang berkualitas tinggi. Penggunaan pupuk organik
yang ramah lingkungan tidak akan memberi efek penurunan kualitas tanah,
bahkan produksi pertanian akan meningkat. Berbeda dengan pupuk kimia
yang jika dimanfaatkan secara berlebihan dalam pertanian dapat menurunkan
kualitas tanah sehingga mengurangi produksi pertanian. Seluruh keunggulan
di atas menjadikan reaktor biogas salah satu alternatif yang potensial dalam
melakukan pengolahan sampah terpadu.
3. 2 Biogas

Biogas adalah gas yang mudah terbakar dan dihasilkan oleh aktifitas
anaerob atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya;
kotoran hewan dan sampah organik, limbah domestik (rumah tangga),
sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam
kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan
karbon dioksida. sistem biogas sederhana. Disamping itu di daerah yang
banyak industri pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan pindang
atau brem bisa menyatukan saluran limbahnya ke dalam system biogas.
Sehingga limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan disekitarnya.
Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut diatas berasal dari
bahan organik yang homogen. Jenis bahan organik yang diproses sangat
mempengaruhi produktifitas sistem biogas disamping parameter-parameter
lain seperti tempratur digester, pH, tekanan dan kelembaban udara. Salah
satu cara menentukan bahan organik yang sesuai untuk menjadi bahan
masukan sistem Biogas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C)
dan Nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Beberapa percobaan yang telah
dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa aktifitas metabolisme dari bakteri
methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20.
Biogas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik sangat populer
digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat
dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi
volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif
lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar
dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas
memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana
merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global
bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan
karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila
dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer
bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil. Saat ini, banyak
negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari

limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem
pengolahan biologi mekanis pada tempat pengolahan limbah.
Gas landfill adalah gas yang dihasilkan oleh limbah padat yang dibuang
di landfill. Sampah ditimbun dan ditekan secara mekanik dan tekanan dari
lapisan diatasnya. Karena kondisinya menjadi anaerobik, bahan organik
tersebut terurai dan gas landfill dihasilkan. Gas ini semakin berkumpul untuk
kemudian perlahan-lahan terlepas ke atmosfer. Hal ini menjadi berbahaya
karena dapat menyebabkan ledakan, pemanasan global melalui metana yang
merupakan gas rumah kaca, dan material organik yang terlepas (volatile
organic compounds) dapat menyebabkan (photochemical smog).
Dalam beberapa kasus, gas landfill mengandung siloksan. Selama proses
pembakaran, silikon yang terkandung dalam siloksan tersebut akan
dilepaskan dan dapat bereaksi dengan oksigen bebas atau elemen-elemen
lain yang terkandung dalam gas tersebut. Akibatnya akan terbentuk deposit
(endapan) yang umumnya mengandung silika (SiO2) atau silikat (SixOy) ,
tetapi deposit tersebut dapat juga mengandung kalsium, sulfur belerang, zinc
(seng), atau fosfor. Deposit-deposit ini (umumnya berwarna putih) dapat
menebal hingga beberapa millimeter di dalam mesin serta sangat sulit
dihilangkan baik secara kimiawi maupun secara mekanik.
Pada internal combustion engines (mesin dengan pembakaran internal),
deposit pada piston dan kepala silinder bersifat sangat abrasif, hingga jumlah
yang sedikit saja sudah cukup untuk merusak mesin hingga perlu perawatan
total pada operasi 5.000 jam atau kurang. Kerusakan yang terjadi serupa
dengan yang diakibatkan karbon yang timbul selama mesin diesel bekerja
ringan. Deposit pada turbin dari turbocharger akan menurukan efisiensi
charger tersebut. Stirling engine lebih tahan terhadap siloksan, walaupun
deposit pada tabungnya dapat mengurangi efisiensi.
3.3 Sejarah Biogas
Biogas merupakan suatu campuran gas-gas yang dihasilkan dari suatu
proses fermentasi bahan organik oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen
(Prihandana & Hendroko 2008). Biogas juga merupakan gas yang
dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran
manusia, jerami, sekam, dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau

mengalami proses metanisasi. Proses metanisasi menghasilkan gas yang


kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai
sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai
kompos.
Pada awal perkembangan biogas, Kebudayaan Mesir, Cina dan Roma
kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam dengan cara dibakar untuk
menghasilkan panas. Sejarah penemuan proses anaerobik digestion untuk
menghasilkan biogas tersebar di benua Eropa. Penemuan ilmuwan Volta
terhadap gas yang dikeluarkan di rawa-rawa terjadi pada tahun 1770,
beberapa dekade kemudian Avogadro mengidentifikasikan tentang gas
metana. Setelah tahun 1875, dipastikan bahwa biogas merupakan produk
dari proses anaerobik digestion. Tahun 1884 Pasteour melakukan penelitian
tentang biogas menggunakan kotoran hewan. Era penelitian Pasteour
menjadi landasan untuk penelitian biogas hingga saat ini .
Sejak tahun 1975, instalasi biogas mulai diperkenalkan di Cina. Cina
memiliki biogas dengan skala rumah tangga dan telah dimanfaatkan oleh
sepertiga rumah tangga di pedesaan. Tahun 1992, sekitar lima juta rumah
tangga menggunakan instalasi biogas sehingga biogas merupakan bahan
bakar utama penduduk Cina.Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah
model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak dan manusia serta
limbah pertanian. Tahun 1981 mulai dikembangkan instalasi biogas di India.
Pengembangan instalasi biogas dilakukan oleh Departemen Sumber Energi
non-Konvensional melalui program The National Project on Biogas
Development dengan melakukan riset terhadap pengembangan model
instalasi biogas. Reaktor biogas yang digunakan sama dengan reaktor biogas
yang dikembangkan di Cina yaitu menggunakan model sumur tembok dan
dengan drum serta dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian.
Tahun 1999, sekitar tiga juta rumah tangga di India menggunakan instalasi
biogas.
Teknologi biogas mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970-an.
Pada

awalnya

teknik

pengolahan

limbah

dengan instalasi

biogas

dikembangkan di wilayah pedesaan, tetapi saat ini teknologi ini sudah mulai
diterapkan di wilayah perkotaan. Pada tahun 1981, pengembangan instalasi

biogas di Indonesia dikembangkan melalui Proyek Pengembangan Biogas


dengan dukungan dana dari Food and Agriculture Organization (FAO)
dengan dibangun contoh instalasi biogas di beberapa provinsi. Mulai tahun
2000-an telah dikembangkan reaktor biogas skala kecil (rumah tangga)
dengan konstruksi sederhana yang terbuat dari plastik secara siap pasang dan
dengan harga yang relatif murah.
III.4
Karakteristik Biogas
Biogas didefinisikan sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan
organik (seperti kotoran hewan, kotoran manusia, jerami, sekam, dan daundaun hasil sortiran sayur) difermentasi atau mengalami proses metanisasi.
Biogas terdiri dari campuran metana (50--75%), CO2 (25--45%), serta
sejumlah kecil H2, N2, dan H2S. Berikut adalah tabel 1. yang berisi
komposisi biogas
Tabel 1. Komposisi Biogas
Komponen

Konsentrasi

Metana

50-75% vol

Karbon Dioksida

25-45% vol.

Air

2-7% vol. (20-40o C)

Hidrogen sulfide

20-20.000 ppm

Nitrogen

<>

Oksigen

<>

Hidrogen

<>

Dalam aplikasinya, biogas digunakan sebagai gas alternatif untuk


memanaskan dan menghasilkan energi listrik. Kemampuan biogas sebagai
sumber energi sangat tergantung dari jumlah gas metana. Setiap 1 m3
metana setara dengan 10 kwh. Nilai ini setara dengan 0,6 fuel oil. Sebagai
pembangkit tenaga listrik, energi yang dihasilkan oleh biogas setara dengan
60100 watt lampu selama enam jam penerangan. Berikut adalah Tabel 2.
yang berisi nilai kesetaraan biogas dan energi yang dihasilkannya.
Tabel 2. Nilai kesetaraan biogas dan energi yang dihasilkannya
Aplikasi
Penerangan

1 m3 Biogas Setara dengan


60100 watt lampu bohlam selama enam jam

Memasak

Dapat memasak tiga jenis bahan makanan untuk

Pengganti Bahan Bakar


Tenaga

keluarga (56 orang)


0,7 kg minyak tanah
Dapat menjalankan satu motor tenaga kuda selama

Pembangkit Tenaga

dua jam
Dapat menghasilkan 1,25 kwh listrik

Listrik
3.5 Manfaat
Setelah harga BBM naik satu tahun yang lalu kehidupan masyarakat, baik
desa maupun kota semakin sulit. Warga berlomba-lomba mencari sumber energy
matahari, energy air, maupun energy angin, Tapi sampai sejauh ini masih belum
ditemukan sumber energin yang benar-benar bias menggantikan bahan bakar
minyak . kebanyakan sumber energy sebesar yang dihasilkan bahan bakar
minyak. Tapi, sebenarnya ada sumber alternative tidak bisa menghasilkan energi
sebesar yang dihasilkan bahan bakar minyak. Tapi, sebenarnya ada sumber
energy alternatif yang relatif sebenarnya ada sumber energy alternative dan
sederhana yang sangat cocok untuk masyarakat pedesaan, energy alternative itu
adalah energy biogas, Biogas digunakan sebagainpengganti bahan bakar
khususnya minyak tanah yang digunakan untuk memasak. . Selain hasil
produknya bisa dimanfaatkan, juga bahan yang digunakan pun adalah sisa
sayuran yang sudah tidak terpakai atau dibuang oleh pemiliknya, dengan Kata
lain bahan yuang digunakan dapat mengurangi limbsh sampah organik.

3.6

Proses Pembuatan Biogas

Terdapat beberapa tahap yang harus dilalui dan memerlukan kerja sama
dengan kelompok bakteri yang lain. Berikut ini merupakan tahapan dalam proses
pembentukan biogas :
1.

Hidrolisis
Hidrolisis merupakan penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai

panjang menjadi senyawa yang sederhana. Pada tahap ini, bahan-bahan organik
seperti karbohidrat, lipid, dan protein didegradasi menjadi senyawa dengan

rantai pendek, seperti peptida, asam amino, dan gula sederhana. Kelompok
bakteri hidrolisa, seperti Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa jenis
Enterobactericeae yang melakukan proses ini. Pada tahap ini bahan yang tidak
larut seperti selulosa, polisakarida dan lemak diubah menjadi bahan yang larut
dalam air seperti karbohidrat dan asam lemak. Tahap pelarutan berlangsung pada
suhu 25o C di digester
2.

Asidogenesis
Asidogenesis adalah pembentukan asam dari senyawa sederhana. Bakteri

asidogen, Desulfovibrio, pada tahap ini memproses senyawa terlarut pada


hidrolisis menjadi asam-asam lemak rantai pendek yang umumnya asam asetat
dan asam format. Pada tahap ini, bakteri asam menghasilkan asam asetat dalam
suasana anaerob. Tahap ini berlangsung pada suhu 25o C di digester.
3.

Metanogenesis
Metanogenesis ialah proses pembentukan gas metan dengan bantuan

bakteri

pembentuk

metan

seperti

Mathanobacterium,

Mathanobacillus,

Methanosacaria, dan Methanococcus. Tahap ini mengubah asam-asam lemak


rantai pendek menjadi H2, CO2, dan asetat. Asetat akan mengalami
dekarboksilasi dan reduksi CO2, kemudian bersama-sama dengan H2 dan CO2
menghasilkan produk akhir, yaitu metan (CH4) dan karbondioksida (CO2). Pada
tahap ini, bakteri metana membentuk gas metana secara perlahan secara anaerob.
Proses ini berlangsung selama 14 hari dengan suhu 25o C di dalam digester. Pada
proses ini akan dihasilkan 70% CH4, 30 % CO2, sedikit H2 dan H2S .
Biogas merupakan suatu gas methan yang terbentuk karena proses
fermentasi secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan atau
Methanobacterium disebut juga bakteri anaerobic.
Gas methan terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa
udara) oleh bakteri methan atau disebut juga bakteri anaerobik dan bakteri
biogas yang mengurangi sampah-sampah yang banyak mengandung bahan
organik (biomassa) sehingga terbentuk gas methan (CH4) yang apabila dibakar
dapat menghasilkan energi panas. Sebetulnya di tempat-tempat tertentu proses
ini terjadi secara alamiah sebagaimana peristiwa ledakan gas yang terbentuk di
bawah tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA)

Leuwigajah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, (Kompas, 17 Maret 2005). Gas


methan sama dengan gas elpiji (liquidified petroleum gas/LPG), perbedaannya
adalah gas methan mempunyai satu atom C, sedangkan elpiji lebih banyak.
Kebudayaan

Mesir,

China,

dan

Roma

kuno

diketahui

telah

memanfaatkan gas alam ini yang dibakar untuk menghasilkan panas. Namun,
orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan proses pembusukan bahan
sayuran adalah Alessandro Volta (1776), sedangkan Willam Henry pada tahun
1806 mengidentifikasikan gas yang dapat terbakar tersebut sebagai methan.
Becham (1868), murid Louis Pasteur dan Tappeiner (1882), memperlihatkan asal
mikrobiologis dari pembentukan methan.
Pada akhir abad ke-19 ada beberapa riset dalam bidang ini dilakukan.
Jerman dan Perancis melakukan riset pada masa antara dua Perang Dunia dan
beberapa unit pembangkit biogas dengan memanfaatkan limbah pertanian.
Selama Perang Dunia II banyak petani di Inggris dan benua Eropa yang
membuat digester kecil untuk menghasilkan biogas yang digunakan untuk
menggerakkan traktor. Karena harga BBM semakin murah dan mudah
memperolehnya pada tahun 1950-an pemakaian biogas di Eropa ditinggalkan.
Namun, di negara-negara berkembang kebutuhan akan sumber energi yang
murah dan selalu tersedia selalu ada. Kegiatan produksi biogas di India telah
dilakukan semenjak abad ke-19. Alat pencerna anaerobik pertama dibangun pada
tahun 1900. (FAO, The Development and Use of Biogas Technology in Rural
Asia, 1981).
3.7 Bakteri yang Membantu Pembuatan Biogas
Dalam pembuatan biogas ada beberapa Bakteri yang sangat membantu,Yaitu :
1. Kelompok bakteri fermentatif, yaitu Streptococci, Bacteriodes, dan
beberapa jenis Enterobacteriaceae.
2. Kelompok bakteri asetogenik, yaitu Kethanobacillus dan Desulfovibrio.
3. Kelompok bakteri metana, yaitu Methanobacterium, Methanobacillus, dan
Methanococcus

Ketiga kelompok bakteri tersebut bekerja sama dalam pembentukan biogas,


walaupun yang mendominasi fermentasi metana adalah jenis Methanobacterium

3.8 Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Biogas


Proses pembuatan biogas dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Temperatur/Suhu
Suhu udara maupun suhu di dalam tangki pencerna mempunyai andil besar
di dalam memproduksi biogas. Suhu udara secara tidak langsung
mempengaruhi suhu di dalam tangki pencerna, artinya penurunan suhu udara
akan menurunkan suhu di dalam tangki pencerna. Peranan suhu udara
berhubungan dengan proses dekomposisi anaerobik (Yunus, 1991).
b. Ketersediaan Unsur Hara
Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi yang
mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, sodium, mangan, kalsium dan
kobalt (Space and McCarthy didalam Gunerson and Stuckey, 1986). Level
nutrisi harus sekurangnya lebih dari konsentrasi optimum yang dibutuhkan
oleh bakteri metanogenik, karena apabila terjadi kekurangan nutrisi akan
menjadi penghambat bagi pertumbuhan bakteri. Penambahan nutrisi dengan
bahan yang sederhana seperti glukosa, buangan industri, dan sisa sisa
tanaman terkadang diberikan dengan tujuan menambah pertumbuhan di
dalam digester (Gunerson and Stuckey, 1986).
c. Derajat Keasaman (pH)
Peranan pH berhubungan dengan media untuk aktivitas mikroorganisme.
Bakteri-bakteri anaerob membutuhkan pH optimal antara 6,2 7,6, tetapi
yang baik adalah 6,6 7,5. Pada awalnya media mempunyai pH 6
selanjutnya naik sampai 7,5. Tangki pencerna dapat dikatakan stabil apabila
larutannya mempunyai pH 7,5 8,5. Batas bawah pH adalah 6,2, dibawah
pH tersebut larutan sudah toxic, maksudnya bakteri pembentuk biogas tidak
aktif. Pengontrolan pH secara alamiah dilakukan oleh ion NH4+ dan HCO3-.
Ion-ion ini akan menentukan besarnya pH.
d. Rasio Carbon Nitrogen (C/N)
Proses anaerobik akan optimal bila diberikan bahan makanan yang
mengandung karbon dan nitrogen secara bersamaan. CN ratio menunjukkan

perbandingan jumlah dari kedua elemen tersebut. Pada bahan yang memiliki
jumlah karbon 15 kali dari jumlah nitrogen akan memiliki C/N ratio 15
berbanding 1. C/N ratio dengan nilai 30 (C/N = 30/1 atau karbon 30 kali dari
jumlah nitrogen) akan menciptakan proses pencernaan pada tingkat yang
optimum, bila kondisi yang lain juga mendukung. Bila terlalu banyak
karbon, nitrogen akan habis terlebih dahulu. Hal ini akan menyebabkan
proses berjalan dengan lambat. Bila nitrogen terlalu banyak (C/N ratio
rendah; misalnya 30/15), maka karbon habis lebih dulu dan proses
fermentasi berhenti.
e. Kandungan Padatan dan Pencampuran Substrat
Walaupun tidak ada informasi yang pasti, mobilitas bakteri metanogen di
dalam bahan secara berangsur angsur dihalangi oleh peningkatan
kandungan padatan yang berakibat terhambatnya pembentukan biogas.
Selain itu yang terpenting untuk proses fermentasi yang baik diperlukan
pencampuran bahan yang baik akan menjamin proses fermentasi yang stabil
di dalam pencerna. Hal yang paling penting dalam pencampuran bahan
adalah menghilangkan unsur unsur hasil metabolisme berupa gas
(metabolites) yang dihasilkan oleh bakteri metanogen, mencampurkan bahan
segar

dengan

populasi

bakteri

agar

proses

fermentasi

merata,

menyeragamkan temperatur di seluruh bagian pencerna, menyeragamkan


kerapatan sebaran populasi bakteri, dan mencegah ruang kosong pada
campuran bahan.

IV.

Prosedur Kerja
a. Sampah Sayuran dicacah hingga halus kemudian dimasukkan kedalam bak
penampung/galon bahan baku berkapasitas 500 ml.
b.

Setelah Sampah Sayuran dimasukkan ke dalam bak penampung selanjutnya


ditambah air dengan perbandingan 2 : 1 (%wt).

c. Selanjutnya campuran ditambahkan air tebu/gula lalu di aduk sampai


homogen.
d. Mengulangi langkah a-d dengan bahan baku yang berbeda seperti eceng
gondok dan kotoran sapi.
e.

Lalu dibiarkan dan diamati produksi gas tiap hari.

Pertanyaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jelaskan tahapan dari pembuatan biogas?


Bakteri apa yang digunakan dalam pembuatan biogas?
Kenapa campuran dalam digester harus di aduk?
bagaimana terjadinya proses over flow (sludge)?
Apa fungsi dari manometer dalam pembuatan Biogas?
Apa saja komposisi dari bakteri (GP7) yang digunakan dalam pembuatan

biogas?
7. Bagaimana pengaruh temperatur siang dan malam terhadap manometer?
Jawab

1. Dalam proses pembuatan biogas ada tiga tahapan dalam pembentukannya


yaitu Pemecahan polimer (hidrolisis), Pembentukan asam (asidogenesis),
Pembentukan metan (metanogenesis).
Pemecahan polimer (hidrolisis)
Pada tahapan proses pembuatan biogas tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahanbahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek
menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer
(Tarumengkeng dan Purwantara, 2003). Komponen organik sederhana yang
larut dalam air (monomer-monomer) digunakan oleh bakteri pembentuk asam.
Digesti pada fase ini mengubah protein menjadi asam amino, karbohidrat
menjadi gula sederhana, dan lemak menjadi asam lemak rantai panjang. Laju
hidrolisis tergantung pada jumlah substrat yang tersedia dan konsentrasi bakteri
serta faktor lingkungan seperti suhu dan pH
Pembentukan asam (asidogenesis)
Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk
pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk
asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan
asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas
karbondioksida, hidrogen, dan amonia

Pembentukan metan (metanogenesis)


Bakteri - bakteri anaerob yang berperan dalam ketiga fase diatas terdiri dari:
bakteri pembentuk asam ( acidogenic bacteria) yang merombak senyawa organik
menjadi senyawa yang Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari
material organik dengan bantuan bakteri. Proses degradasi material organik ini
tanpa melibatkan oksigen disebut anaerobik digestion Gas yang dihasilkan
sebagian besar (lebih 50 %) berupa metana. Material organik yang terkumpul
pada digester (reaktor) akan diuraikan menjadi dua tahap dengan bantuan dua

jenis bakteri yang dimanfaatkan untuk pembuatan biogas. Tahap pertama


material orgranik akan didegradasi menjadi asam asam lemah dengan bantuan
bakteri pembentuk asam. Bakteri pembuat biogas ini akan menguraikan sampah
pada tingkat hidrolisis dan asidifikasi. Hidrolisis yaitu penguraian senyawa
kompleks atau senyawa rantai panjang seperti lemak, protein, karbohidrat
menjadi senyawa yang sederhana. Sedangkan asifdifikasi yaitu pembentukan
asam dari senyawa sederhana.
2. Bakteri Metanogenesis ; methanococcus, methanobacillus,methanobacterium,
dan methanosarcina
3. Proses pengadukan akan sangat diperlukan karena apabila tidak diaduk solid
akan mengendap pada dasar tangki dan akan terbentuk busa pada permukaan
yang akan menyulitkan keluarnya gas.
4. Overflow terjadi ketika bahan baku (kotoran sapi + air) ditambahkan dengan
berlebihan, sehingga gas yang telah terbentuk menekan slurry yang akan
keluar melalui outlet overflow.
5. Sebagai alat untuk mengukur tekanan dan volume gas yang telah terbentuk
dalam pembuatan biogas.

6. Green Phoskko (GP-7) Activator pembangkit biogas atau gas metanaadalah


bakteri fermentasi (kedap udara) sampah dan limbah organik terbuat dari
konsorsium mikroba aerobik. Mengandung antara lain Methanobacterium sp,
Methanococcus sp, Bacillus sp dan Lactobacillus memiliki kepadatan
populasi 10 pangkat 7 per gram CFU.u
7. Pada saat malam hari (temperatur rendah) sehingga gas yang terbentuk
mengalami kondensasi dan mengakibatkan penurunan vapor pressure
begitupun sebaliknya (pada saat siang hari).