Anda di halaman 1dari 5

Nama : SRI AYU LESTARI

NPM : 01.2013.1.04614
Manajamen Lalu Lintas
Kasus Pelanggaran Andalalin Grand City Mall

Lokasi kasus pelanggaran dan izin Grand City Mall berada di


kawasan Gubeng, tepatnya antara Jalan Walikota Mustajab dan Jalan
Kusuma Bangsa berdekatan dengan Stasiun Surabaya Gubeng. Kawasan
Gubeng ini yang bertepatan dengan Jalan Walikota Mustajab dan Jalan
Kusuma Bangsa berdekatan dengan Stasiun Gubeng yang kerap kali
mengalami kemacetan luar biasa akibat dampak dari berbagai kegiatan
dan aktivitas yang ada di sekitar koridor jalan ini maupun aktivitas
pergerakan lain yang melewati jalan ini.
Jalan Walikota Mustajab dan Jalan Kusuma Bangsa merupakan salah
satu jalan primer yang berada disebelah timur Kota Surabaya yang
menjadi tempat lalu lalangnya kendaraan-kendaraan mobil dan kendaraan
bermotor lainnya, serta kendaraan berat lainnya seperti truck, pick up.
Selain itu banyak terdapat aktivitas-aktivitas yang mendukung kegiatan
utama di sekitar jalanJalan Walikota Mustajab dan Jalan Kusuma Bangsa
yang merupakan area fasilitas bangunan umum dan pemerintahan serta
fasilitas perbelanjaan. Secara umum Jalan Jalan Walikota Mustajab dan
Jalan Kusuma Bangsa berbatasan langsung dengan jalan Wijaya Kusuma
pada sebelah barat, Jalan Gerbong dan Jalan Pacar Keling pada sebelah
timur dan Jalan Kenonggo pada sebelah selatan. Sementara sebelah utara
berbatasan langsung dengan Jalan Ambengan sebelah . Berikut ini adalah
peta yang diambil dari citra google map yang menggambarkan lokasi
Jalan Walikota Mustajab dan Jalan Kusuma Bangsa.

Gambar 1Jalan Walikota Mustajab dan Jalan Kusuma Bangsa

Sumber : Peta Google Maps

Kasus dari Grand City Mall ini tidak memiliki izin andalalin.
Dampak

dari

pelanggaran

ini

mengakibatkan

berbagai

dampak

lingkungan, sosial dan menimbulkan kemacetan yang amat parah di


sekitar jalan ini. Berikut ini adalah kutipan artikel terkait kasus yang di kaji
regulasinya dalam tulisan ini.
Surabaya-lensaindonesia.com: Tak hanya tempat-tempat hiburan
saja yang tak punya ijin di Surabaya. Plasa besar Grand City Mall
ternyata juga tidak memiliki ijin Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL). Bahkan, ijin gangguan atau (HO) ternyata belum
diperpanjang karena masa berlakunya habis sejak 13 Oktober 2014.
Artinya, jika AMDAL tidak bisa keluar atau bangunan mall tidak
memenuhi kaedah atau perayaratan, maka HO bangunan tersebut tidak
bisa

diperpanjang. Salah

satu

faktor

Grand

City

Mall

tidak

memenuhi AMDAL dikarenakan pintu masuk mall dari Jl Walikota


Mustajab (Gubeng Pojok) harus ditutup karena menyebabkan
macet. Meski begitu, anehnya, sampai saat ini Grand City Mall
tetap beroperasi atau beraktifitas tanpa ada tindakan.
Menyikapi hal itu, Komisi C DPRD Surabaya akhirnya menggelar
hearing dengan menghadirkan Kasatpol PP Surabaya, BLH, dan perwakilan
Grand City Mall.

Kasatpol PP Irvan Widyanto saat hearing di Komisi C DPRD Surabaya


mengatakan pihaknya sudah melakukan langkah persuasif dengan
memberi peringatan melalui surat. Pihaknya berdalih masih melakukan
koordinasi untuk melakukan sikap. Hal ini dilakukan karena ada beberapa
kaedah

terkait

pihaknya

sebagai

sebagai

penegak

Perda

harus

berkonsultasi dengan pihak terkait untuk mengambil tindakan.


Pihak Grand City Mall sudah berjanji akan memenuhi segala
persyaratan. Saya sudah mengirim surat peringatan agara mereka
mengurus ijin HO-nya yang selama ini mati. Karena kami tanya ke BLH
memang

sudah

ada

HO

tapi

mati

dan

sampai

sekarang

belum

memperpanjang, ungkapnya.
Untuk itu pihak Satpol PP Surabaya berjanji akan mengambil
keputusan yang merupakan hasil rapat dengan berbagai dinas terkait.
Kami ini memang penegak Perda. Tapi kalau tidak sesuai aturan, ya sama
saja nanti bisa digugat. Makanya kami selalu berkoordinasi dengan bagian
hukum dan yang lain, dalih Irvan Widyanto.
Terkait

hal

ini,

Komisi

DPRD

Surabaya,

Adi

Sutarwiyono

mengatakan ada kesan pilih kasih dalam menegakkan aturan yang ada.
Pemerintah dalam hal ini dianggap melakukan standar ganda dalam
mengambil tindakan. Artinya kalau gudang ukuran 1010 di robohkan,
begitu

juga

dengan

yang

lainya.

Kalaupun

tindakan

itu

sebatas

menghentikan segala bentuk aktifitas, ya harus dilakukan, kata politisi


yang akrab disapa Awi ini.
Lain halnya dengan anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Sudirjo.
Politisi asal fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini lebih menyinggung soal
kemacetan parah yang sering terjadi di Grand City Mall. Padahal dulu,
sebelum bangunan itu berdiri, jalan yang ada di kawasan Grand City Mall
tidak pernah mengalami kemacetan.
Kalau memang Grand City Mall berdiri di Surabaya ya harus
mematuhi peraturan yang ada di kota Surabaya. Karena akibat bangunan

Grand City Mall, lalu lintas menjadi macet. Padahal sebelum adanya Grand
City Mall, jalan itu tidak pernah macet, tambah Sudirjo.
Sementara Ketua Komisi C Saifudin Zuhri hanya berharap Kasatpol
PP Irvan Widyanto menjelaskan kapan ada tindakan dan laporan
penertibannya seperti apa. Kan sudah tiga bulan. Apa saja yang
dilakukan Satpol PP kan kami juga perlu tahu. Kalau hanya menyurati ya
sampai kapan. Peringatan selalu ada batasnya, cetusnya.
Terkait hal ini, Operation Manager Grand City Mall Surabaya, Stevi
Widya beralasan, bahwa pihaknya sudah mengurus untuk masalah IMBnya. Namun, surat perijinan tersebut masih ditahan Dinas Perhubungan
(Dishub) Surabaya dengan alasan pihak Grand City Mall harus menutup
terlebih dahulu pintu bagian sisi barat, baru IMB bisa keluar.
Kami memang untuk saat ini belum menutup pintu bagian barat itu
dulu

karena

mau

mengajukan

AMDAL

LALIN.

Kalau

membangun kok gak masalah ya, ujarnya heran.

Gambar 2 Petugas Menyegel Grand City Mal

dulu

waktu

Sumber :
http://www.slideshare.net/ameliapuspasari52/tugas-ii-kelompok-hap