Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTA

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
dan rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah kami. Yang bertemakan Harga
Pokok Proses dengan metode

rata-rata, FIFO, dan kasus-kasus Khusus dalam

perhitungan Harga Pokok Proses.


Kami berharap agar makalah yang telah kami susun dengan kemampuan yang
kami miliki, dapat bermanfaat bagi pembacanya. Juga dapat digunakan di kemudian hari
untuk keperluan-keperluan yang berhubungan dengan makalah yang kami susun.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun masih jauh dari kata
sempurna, sebab manusia bukanlah sesuatu yang sempurna. Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Kami mengucapkan banyak terima
kasih karena telah mau menyempatkan diri untuk membaca makalah kami.

Makassar, 31 Oktober 2014


Hormat kami, Penyusun :

Kelompok 10

Page | 1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI 2
BAB I (PENDAHULAN)

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan 4
BAB II (PEMBAHSAN)

2.1 Kasus Kasus Khusus dalam Perhitungan Akuntansi 5


2.2 Metode Harga Pokok Rata-rata (Weighted Average) 9
2.3 Metode First In First Out (FIFO)
16
BAB III (SIMPULAN)

24

DAFTAR PUSTAKA

25

Page | 2

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode harga pokok proses merupakan metode pengumpulan biaya produksi yang
digunakan oleh perusahaan yang mengolah produknya secara massa.
Didalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka
waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya
produksi dalam periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari
proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.
Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik metode Harga PoKok Proses, yaitu :
1. Pengumpulan biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi.
2. Perhitungan HPP per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang
dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang
dihasilkan selama periode yang bersangkutan.
3. Penggolongan biaya produksi langsung dan tak langsung seringkali tidak
diperlukan.
4. Elemen yang digolongkan dalam BOP terdiri dari biaya produksi selain biaya
bahan baku dan biaya bahan penolong dan biaya tenaga kerja (baik yang
langsung maupun tidak langsung). BOP dibebankan berdasarkan biaya yang
sesungguhnya terjadi.
5.
Harga Pokok proses pada umumnya menggunakan metode Harga Pokok Proses-Tanpa
Memperhitungkan Persediaan Produk Dalam Proses Awal
a. Metode Harga Pokok Proses pada Perusahaan yang produknya diolah melalui 1
Departemen Produksi

Page | 3

b. Metode Hara Pokok Proses pada Perusahaan yang produknya diolah melalui 1
Departemen Produksi
c. Pengaruh Terjadinya Produk Hilang Dalam Proses terhadap. Perhitungan Harga
Pokok Produksi per satuan, dengang anggapan :
1. Produk Hilang Awal Proses
2. Produk Hilang Akhir Proses
Apabila pada awal periode terdapat persediaan awal barang dalam proses maka timbul
masalah untuk menentukan harga pokok barang jadi. Hal ini tiimbul karena persediaan
barang dalam proses tersebut telah mempunyai harga pokok yang berasal dari periode
sebelumnya. Ada tiga metode dalam penyelesaiannya, yaitu ata-rata, FIFO.
1.2 Tujuan
Memahami perhitungan Harga Pokok Proses dengan metode

rata-rata, FIFO, dan

khasus-khasus Khusus dalam perhitungan Harga Pokok Proses.

Page | 4

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kasus Kasus Khusus dalam Perhitungan Akuntansi


2.1.1 Adanya Produk Hilang Dalam Proses
Untuk mencatat adanya pengaruh produk hilang selama proses produksi diadakan
pembedaan antara produk hilang dalam proses sebagai berikut :
-

Produk Hilang Awal Proses


Dalam hal ini pengaruhnya ke perhitungan harga pokok adalah :
Di departemen Awal :
Produk yang hilang awal tidak dihitung dalam menentukan jumlah unit ekuivalen.
Di Departemen Lanjutan : (dept 2 dst)
Harga pokok dari departemen sebelumnya disesuaikan dengan jumlah satuan
setelah adanya produk hilang.

Produk Hilang Akhir Proses

Apabila produk hilang terjadi pada akhir proses mempunyai pengaruh


terhadap perhitungan harga pokok produksi untuk departemen awal maupun

lanjutan.
Produk hilang tersebut tetap diperhitungkan dalam unit ekuivalen karena

dianggap telah ikut menyerap biaya-biaya produksi.


Harga pokok produk hilang tersebut diperhitungkan ke harga pokok produk
selesai yang ditransfer dari departemen produksi yang bersangkutan ke
departemen produksi berikutnya.
Page | 5

2.1.2

Adanya Produk Rusak Dalam Proses (Spoiled Goods)

Produk rusak adalah produk yang mutunya tidak sesuai dengan standar mutu yang
telah ditentukan dan tidak dapat diperbaiki lagi. Adapun perlakuan terhadap produk
rusak adalah :
A.

Apabila produk rusak tidak laku dijual maka produk rusak tersebut

diperlakukan sebagai produk hilang akhir proses.


B. Apabila produk rusak mempunyai harga jual maka perlakuan terhadap produk
rusak tersebut sebagai berikut :

Nilai jual produk rusak dicatat untuk mengurangi biaya-biaya produk


pada departemen tempat terjadinya produk rusak tersebut. Dasar
pembagian

kepada

masing-masing

jenis

biaya

produksi

adalah

perbandingan unit ekuivalen maka produk rusak tersebut tetap

diperhitungkan.
Kerugian atas produk rusak (selisih harga pokok dengan harga jual)
dicatat sebagai biaya overhead yang sesungguhnya di departemen tempat
terjadinya produk rusak. Pencatatan ini dipakai apabila biaya overhead

2.1.3

pabrik dibebankan ke produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka.


Niali jual produk rusak dicatat sebagai pendapatan di luar usaha, produk
rusak tetap diperhitungkan dalam unit ekuivalen.
Adanya Produk Cacat Dalam Proses (Defective Goods)

Produk cacat yaitu produk yang kondisinya rusak atau tidak memenuhi ukuran mutu
yang sudah ditentukan, tetapi masih dapat diperbaiki secara ekonomis menjadi
produk yang baik kembali, dalam arti biaya perbaikannya lebih rendah
dibandingkan kenaikan nilai yang diperoleh dengan adanya perbaikan.
Perlakuan produk cacat tergantung penyebab timbulnya produk cacat, yaitu :

Page | 6

A. Produk Cacat Bersifat Normal


Semua biaya perbaikan diperlakukan sebagai elemen biaya produksi dan
digabungkan dengan elemen biaya produksi yang ada pada departemen tersebut
B. Produk Cacat Karena Kesalahan
Perlakan biaya perbaikan tidak boleh dikapitalisasi ke dalam biaya produksi,
akan tetapi harus diperlakukan sebagai elemen rugi produk cacat.
2.1.4

Adanya Tambahan Bahan Setelah Departemen Awal

Meskipun pada umumnya bahan baku dipakai pada departemen awal tetapi
adakalanya bahan baku ditambahkan di departemen lanjutan (departemen 2 dst).
Adapun pencatatan tambahan bahan baku tersebut di departemen lanjutan adalah
sebagai berikut :
A.

Apabila tambahan bahan baku tersebut tidak menambah unit produk maka
tambahan bahan baku itu hanya dicatat menambah biaya produk tanpa

B.

mempengaruhi perhitungan unit ekuivalen departemen bersangkutan.


Apabila tambahan bahan baku tersebut mengakibatkan bertambahnya unit
produk di departemen yang bersangkutan, maka akan mengakibatkan
diadakannya penyesuaian terhadap harga pokok produksi per satuan dari
departemen sebelumnya.

2.1.5 Adanya Bahan Sisa Proses Produksi (Scrap Matreial)


Adalah bahan baku yang merupakan sisa proses produksi yang tidak dapat
dimasukkan lagi dalam produksi untuk tujuan yang sama, tetapi mungkin dapat
digunakan untuk proses produksi yang berbeda atau dijual kembali dalam suatu
jumlah tertentu. Bahan sisa ini nilai jualnya lebih kecil dibandingkan produk utama.
2.1.6 Adanya Bahan Buangan (Waste Material)

Page | 7

Adalah bagian dari bahan mentah yang tertinggal sesudah proses produksi dan tidak
mempunyai kegunaan untuk dipakai atau dijual kembali. Biaya dalam mengatur
bahan buangan biasanya dibebankan pada kontrol overhead pabrik.
2.1.7

Kalkulasi Biaya Rata - Rata VS Kalkulasi Biaya FIFO

Kalkulas biaya rata - rata dan biaya FIFO masing - masing mempunyai keunggulan
tersendiri. Tidak layaklah untuk menyatakan bahwa metode yang satu lebih
sederhana atau lebih akurat daripada metode lain. Pemilihan salah satu metode itu
akan tergantung seluruhnya pada sikap manajemen mengenai prosedur penentuan
biaya yang dapat memberikan angka - angka yang andal bagi pedoman manajerial.
Perbedaan mendasar antara kedua metode terutama berkaitan dengan perlakuan
terhadap persediaan awal barang dalam proses. Dalam metode rata - rata, biaya
persediaan awal barang dalam proses ditambahkan ke biaya dari departemen
sebelumnya dan ke biaya bahan, pekerja, dan overhead pabrik yang dikeluarkan
selama periode itu. Biaya perunit akan ditentukan dengan membagi biaya - biaya ini
dengan kuantitas produksi ekuivalen. Unit - unit serta biayanya kemudian ditrasfer
ke departemen berikutnya sebagai suatu angka kumulatif.
Dalam metode FIFO, biaya persediaan awal barang dalam proses dicantumkan
sebagai satu angka yang terpisah. Biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan unit
- unit persediaan awal ditambahkan ke biaya tadi. Jumlah kedua biaya ini kemudian
ditransfer ke departemen berikutnya. Unit yang dimulai dan diselesaikan selama
periode tersebut memiliki biaya per unit tersendiri yang lazimnya berbeda dengan
biaya per unit lengkap untuk unit - unit dalam proses. Jadi metode FIFO
mengidentifikasi secara terpisah biaya - biaya per unit.

Page | 8

2.2 Metode Harga Pokok Rata-rata (Weighted Average)


2.2.1 Apa itu metode Harga Pokok Rata-rata?
Dalam metode ini, jumlah harga pokok produk dalam proses awal ditambahkan
dengan biaya produksi yang dikeluarkan periode sekarang dibagi dengan unit
ekuivalensi produk untuk menghasilkan harga pokok rata-rata tertimbang.
Harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen
pertama merupakan harga pokok kumulatif, yaitu merupakan penjumlahan harga
pokok dari departemen satu ditambahkan dengan departemen berikutnya yang
bersangkutan
2.2.2 Proses Pemberlakuan Metode Rata-rata
A. Di departemen Pertama :

Dihitung total biaya untuk masing-masing jenis biaya produksi, yaitu :


biaya bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik dengan cara
biaya yang melekat pada persediaan barang dalam proses awal ditambah

biaya-biaya periode berjalan.


Dihitung jumlah unit ekuivalen produksi yang dihasilkan dalam periode
yang bersangkutan : Barang jadi (yang ditransfer ke departemen
berikutnya) ditambah barang dalam proses akhir menurut unit ekuivalen.
Harga pokok rata-rata kemudian dihitung berdasarkan total biaya dibagi

jumlah unit ekuivalen.


B. Di departemen Lanjutan :
1.
Dihitung harga pokok rata-rata yang berasal dari departemen sebelumnya.
Harga pokok tersebut terdiri dari : Harga pokok persediaan awal dan
2.

harga pokok yang diterima pada periode yang bersangkutan.


Dihitung harga pokok rata-rata per satuan yang ditambahkan dalam

3.

departemen yang bersangkutan.


Menghitung harga pokok rata-rata per satuan di departemen yang
bersangkutan dengan cara : Harga pokok rata-rata dari departemen yang

Page | 9

mendahului ditambah harga pokok rata-rata di departemen yang


bersangkutan.
2.2.3 Penerapan Metode Rata-rata
Contoh Kasus
Dalam laporan ini, persediaan barang dalam proses akhir bulan Januari
dicantumkan sebagai persediaan barang dalam proses awal bulan Februari.
Dengan mengambil data dari laporan biaya prosuksi bulan Januari, maka data
untuk persediaan barang dalam proses awal bulan Februari adlah sebagai
berikut.

Departemen Pemotongan

Jumlah unit dalam proses awal

Departemen Perakitan

8.00

4.

000

7.600.00

12.240.

Bahan baku

0
4.360.00

000
3.408.

Tenaga kerja langsung

0
4.080.00

000
3.144.

0
16.040.00

000
18.792.

000

periode
Biaya dari departemen
sebelumhya

Overhead pabrik
Jumlah biaya

Page | 10

Data tersebut diatas dari PT RATIH selanjutnya akan digunakan dalam


penyusunan laporan biaya produksi bulan Februari untuk kedua departemen
produksi, yaitu departemen pemotongan dan departemen perakitan.
Dalam ilustrasi mengenai laporan biaya produksi ini, diasumsikan bahwa unit
yang hilang berada dalam batas toleransi yang normal dan biaya dari unit yang
hilanh tersebut dibebankan kepada semua unit produksi yang selesai pada
departemen tersebut.
Berikut merupaka laporan biaya produksi departemen pemotongan.

PT RATIH
Departemen Pemotongan Laporan
Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang
Bulan Februari 2008
PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat
8.000
penyelesaian : bahan baku 100 %, TK dan BOP 50%
Unit yang diamsukkan dalam periode ini
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan
B. Pertanggunjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya
Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan

30.000
38.000

baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead

7.000

31.000

pabrik 60%)
Jumlah unit yang dipertanggungjawabkan
38.000

Page | 11

BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus
Total
dipertanggungjawabkan:
Barang dalam proses awal periode
Bahan baku

per Unit

Rp7.600.000
4.360.00

Tenaga kerja langsung


0
4.080.00
Overhead pabrik
0
Biaya yang ditambakan dalam peiode ini
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Jumlah biaya yang dipertanggungjawabkan

32.300.00
0
35.240.00

Rp1.050
1.1

0
33.232.00

25
1.0

60

Rp116.812.000

Rp3.235

B. Pertanggungjawaban biaya
Biaya ditrasnfer ke departemen berikut
(31.000x Rp 3.235)
Barang dalam proses akhir periode:
Bahan baku (7.000x100%x Rp
1.050)
Tenaga kerja langsung
(7.000x60%xRp 1.125)
Overhead pabrik (7.000x60%x Rp
1.060)

Rp100.285.000

Rp7.350.000
4.725.00
0
4.452.00
0

Rp16.527.000

Jumlah biaya yang


dipertanggungjawabkan
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen
Bahan baku
Tenaga kerja langsung dan overhead

Rp116.812.000

31.000+(100%x7.000)

38.000

31.000+(60%x7.000)

35.200

pabrik
Biaya per unit:
Page | 12

Bahan baku

(Rp 7.600.000 + Rp 32.300.000):38.000

Tenaga kerja langsung(Rp 4.360.000 + Rp35.240.000):35.200


Overhead pabrik

= Rp 1.050

= Rp 1.125

(Rp 4.080.000 + Rp 33.232.000): 35.200

= Rp 1.060

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode rata-rata tertimbang


disajikan seperti tabel berikut ini.

PT RATIH
Departemen Perakitan
Laporan Biaya Produksi-Metode Rata-rata Tertimbang
Bulan Februari 2008
PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus di pertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian):
Tenaga kerja langsung dan ov. pabrik 60%
Unit yang diterima dari dept. sebelumnya
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi
Unit dalam proses akhir awal periode (tingkat
penyelesaina):
tenaga kerja langsung dan ov. pabrik
Jumalh produksi yang harus di pertanggungjawabkan:

4.000
31.000
35.000
30.000

5.000
35.000

BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan:
Biaya dari departemen sebelumnya
Barang dalam proses awla periode

Total

per Unit

12.240.000
( 4.000 unit)
Diterima selama periode berjalan
100.285.000
Jumlah
Biaya yang ditambahkan

(31.000 unit)
35.000 unit

112.525.000

Rp3.215

Page | 13

Barang dalam proses awal periode


Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Barang yang ditambahkan selama periode berjalan
Tenaga kerja langsung
Overhead opabrik
Jumlah biaya yang ditambahkan
Jumlah biaya yang harus

3.408.000
3.144.000
43.717.000
40.081.000
90.350.000

1.450
1.330
2.780

202.875.000

Rp5.995

dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya:
Biaya ditrasfer ke persediaan barang jadi
179.850.000
(3.000x 5.995)
Barang dalam proses akhir periode
Biaya dari departemen sebelumnya
16.075.000
(5.000x3.215)
Tenaga kerja langsung (5.000x50%x1.450)
Overhead pabrik (5.000x50%x1.330)
Jumlah biaya dipertanggungjawabkan
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen:
Tenaga kerja langsung dan overhead pabrik

3.625.000
3.325.000

23.025.000
202.875.000

32.500
30.000+(50%x5.000)
Biaya per unit
Tenaga kerja langsung (Rp 3.408.000+Rp
1.450
43.717.000):32.500
Overhead pabrik (Rp 3.144.000+Rp
1.330
40.081.000):32.500

2.3 Metode First In First Out (FIFO)


2.3.1 Apa itu Metode FIFO?
Dalam metode ini, menganggap biaya produksi periode sekarang pertama kali
digunakan untuk menyelesaikan produk yang pada awal periode masih dalam

Page | 14

proses, baru kemudian sisanya digunakan untuk mengolah produk yang


dimasukkan dalam proses periode sekarang.
Oleh karena itu dalam perhitungan unit ekuivalensi tingkat penyelesaian
persediaan produk dalam proses awal harus diperhitungkan.
Dalam departemen setelah departemen I, produk telah membawa harga pokok
dari periodesebelumnya digunakan pertama kali untuk menentukan harga
pokok produk yang ditransfer ke departemen berikutnya atau ke gudang.
2.3.2 Proses Pemberlakuan Metode FIFO
Proses produksi dianggap untuk menyelesaikan produk dalam proses awal

menjadi produk selesai.


Setiap elemen harga pokok produk dalam proses awal tidak digabungkan

dengan elemen biaya yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.


Harga pokok produk dalam proses awal periode tidak perlu dipecah

kembali menurut elemennya ke dalam setiap elemen biaya.


Produksi ekuivalen = (Produksi dalam proses awal x tingkat penyelesaian
yang dibutuhkan) + Produksi Current + (Produk dalam proses akhir x

Tingkat penyelesaian yang sudah dinikmati).


Besarnya harga pokok satuan setiap elemen biaya dihitung sebesar elemen
biaya yang terjadi pada periode yang bersangkutan dibagi jumlah produksi
ekuivalen dari elemen biaya yang bersangkutan.
2.3.3 Penerapan Metode FIFO
Contoh kasus
Melanjutkan contoh PT RATIH dan juga menggunakan data yang sama
dengan metode rata-rata tertimbang, laporan biaya produksi dari departemen
pemotongan dengan menggunakan metode FIFO. Tabel laporan biaya
produksi departemen pemotongan metode FIFO disajikan seperti tabel berikut
ini.

Page | 15

PT RATIH
Departemen Pemotongan
Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO
Bulan Februari 2008
PRODUKSI DALAM UNIT
A. Produksi yang harus dipertanggungjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian : bahan
8.000
baku 100 %, TK dan BOP 50%
Unit yang dimasukkan dalam periode ini
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan
B. Pertanggunjawaban produksi:
Unit yang ditransfer ke departemen berikutnya
Unit dalam proses akhir (tingkat penyelesaian: bahan baku 100%,
tenaga kerja langsung dan overhead pabrik 60%)
Jumlah unit yang dipertanggungjawabkan
BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan:
Barang dalam proses awal periode
Biaya yang ditambakan dalam peiode ini
Bahan baku
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Jumlah biaya yang ditambahkan
Jumlah biaya yang
dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya
Barang yang ditransfer ke dept. berikutnya
Barang dalam proses awal periode:
Barang periode yang lalu
Biaya tenaga kerja yang ditambahkan
(8.000x50%xRp 1.129)
Biaya overhead pabrik yang ditambahkan

30.000
38.000

31.000
7.000
38.000

Total
Rp16.040.000

per Unit

32.300.000
35.240.000
33.232.000
Rp100.772.000

Rp1.077
1.129
1.065

Rp116.812.000

Rp3.271

Rp16.040.000
4.516.000
4.260.000
Page | 16

(8.000x50%x Rp 1.065
Jumlah

Rp24.816.000

Produk selesai periode berjalan (23.000xRp


75.242.200
3.271)
Jumlah biaya yang ditransfer ke dep.
Rp100.058.200
berikutnya
Barang dalam proses akhir periode
Bahan baku (7.000x100%xRp 1.077)
Tenaga kerja langsung (7.000x60%xRp

Rp7.539.000
4.741.800

1.129)
Overhead pabrik (7.000x60%xRp 1.065)
Jumlah biaya yang

4.473.000

Rp16.753.800
Rp116.812.000

dipertanggungjawabkan
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen
Unit yang selesai dan ditransfer
Unit dalam proses awal periode
Unit yang selesai dari produksi periode
berjalan
Barang dalam proses awal periode
Barang dalam proses akhir periode
Jumlah
Biaya per unit:
Bahan baku (Rp 32.300.000:30.000)
Tenaga kerja langsung (Rp

Bahan baku

TKL & BOP

31.000
(8.000)

31.000
(8.000)

23.000

23.000

7.000
30.000

4.000
4.200
31.200

Rp1.077
Rp1.129

35.240.000:31.200)
Overhead pabrik (Rp 33.232.000:31.200)
*(23.000 x Rp 3.271)
Selisih pembulatan
Produksi yang selesai periode ini

Rp1.065
Rp75.233.000
9.200
Rp75.242.200

Tabel laporan biaya produksi departemen perakitan-metode FIFO disajikan seperti tabel
berikut ini.

Page | 17

PT RATIH
Departemen Perakitan
Laporan Biaya Produksi-Metode FIFO
Bulan Februari 2008

Page | 18

PRODUKSI DALAM UNIT


A. Produksi yang harus dipertanggugjawabkan:
Unit dalam proses awal periode (tingkat penyelesaian:
bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead
pabrik 60%)
Unit yang dimasukkan dalam periode ini
Jumlah unit yang harus dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban produksi
Unit yang ditransfer ke gudang barang jadi
Unit dalam proses akhir periode (tingkat penyelesaian:
bahan baku 100%, tenaga kerja langsung dan overhead
pabrik 50%)
Jumlah unit dipertanggungjawabkan
BIAYA PRODUKSI
A. Biaya yang harus dipertanggungjawabkan
Barang dalam proses awal periode
Biaya dari departemen sebelumnya diterima
dalam periode berjalan (31.000 unit)
Biaya yang ditambah dalam periode ini:
Tenaga kerja langsung
Overhead pabrik
Jumlah biaya yang ditambahkan
Jumlah yang harus

4.000

31.000
35.000
30.000
5.000
35.000

Total
Rp18.792.000

per Unit

Rp100.058.200

Rp3.228

Rp43.717.000
40.081.000
Rp83.798.000

Rp1.452
1.332
Rp2.784

Rp202.648.200

Rp6.012

dipertanggungjawabkan
B. Pertanggungjawaban biaya:
Biaya yang ditransfer ke persediaan
barang jadi:
Barang dalam proses awal periode:
Biaya periode yang lalu
Biaya tenaga kerja langsung yang

18.792.000
2.323.200

ditambahkan (4.000x40%xRp 1.425)


biaya overhead pabrik yang
2.131.200
ditambahkan (4.000x40%x 1.332)
Jumlah
Produksi selesai periode berjalan

Rp 23.246.400
156.301.800*

179.548.200

(26.000xRp 6.012)
Page | 19

Barang dalam proses akhir periode


Biaya dari departemen sebelumnya
Rp16.140.000
(5.000xRp. 3.288)
Tenaga kerja langsung (5.000x50%xRp
3.630.000
1.452)
Overhead pabrik (5.000x50%x Rp 1.332)
Jumlah biaya yang

3.330.000

23.100.000
Rp 202.648.200

dipertanggungjawbkan
C. Perhitungan biaya per unit
Produksi ekuivalen:
Unit yang selesai dan ditransfer
Unit dalam proses awal periode
Unit yang selesai dari produksi

TKL & BOP


30.000
(4.000)
26.000

periode berjalan
Barang dalam proses awal periode
Barang dalam proses akhir periode
Jumlah
Biaya per unit:
Tenaga kerja langsung (Rp

1.600
2.500
30.100

Rp1.452
43.717.000: 30.100)
Overhead pabrik (Rp 40.081.000 :
Rp1.332
30.100)
*(26.000x rp 6.012)
Selisih pembulatan
Produksi yang selesai periode ini

Rp156.312.000
(10.200)
Rp156.301.800

Page | 20

BAB III
SIMPULAN

Dari pembahsan dapat disimpulkan bahwa metode harga pokok proses merupakan
metode pengumpulan biaya produksi yang digunakan oleh perusahaan yang mengolah
produknya secara massa.
Didalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan untuk setiap proses selama jangka
waktu tertentu, dan biaya produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya
produksi dalam periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dari
proses tersebut selama jangka waktu yang bersangkutan.
Apabila pada awal periode terdapat persediaan awal barang dalam proses maka timbul
masalah untuk menentukan harga pokok barang jadi. Hal ini tiimbul karena persediaan
barang dalam proses tersebut telah mempunyai harga pokok yang berasal dari periode
sebelumnya. Ada dua metode dalam penyelesaiannya, yaitu rata-rata, dan FIFO.

Page | 21

DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/search?
es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&sclient=psyab&q=contoh+soal+harga+pkokpr
oses+dengan+metode+lifo+dan+fifo&oq=contoh+soal+harga+pkokproses+dengan+met
ode+lifo+dan+fifo&gs_l=serp.3...237247.261606.1.261898.58.53.0.1.1.0.901.10222.39j
5j4j3.21.0....0...1c.1.56.serp..45.13.6244.DcyxQC8sDGw
https://www.google.com/search?
es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&q=contoh+soal+harga+pokok+proses+dengan
+metode+lifo+dan+fifo&spell=1&sa=X&ei=vddMVIbKIq78gW0xYKQDw&ved=0CB
kQvwUoAA
https://www.google.com/search?
es_sm=93&biw=1366&bih=624&noj=1&sclient=psyab&q=rumus+menghitung+harga+
pokok+proses+dengan+metode+fifo+dan+lifo&oq=rumus+menghitung+harga+pokok+
proses+dengan+metode+fifo+dan+lifo&gs_l=serp.12...0.0.1.217156.0.0.0.0.0.0.0.0..0.0.
...0...1c..56.serp..0.0.0.lJNDqwOqNK8

Page | 22