Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

KELOMPOK KHUSUS IBU MENYUSUI DAN BAYI


DI RW 03 DI DUSUN KRASAK DESA JIMBARAN
KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG
Dosen Pembimbing: Zumrotul Choiriyah, S.Kep., Ns., M.Kes

Oleh:
Endah Zuni Astutik
(070115B028)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN
TA 2016/2017

A. TUJUAN LITERATUR
1. Bayi
a. Batasan bayi
Masa bayi dimulai dari 0-12 bulan yang ditandai dengan
pertumbuhan dan perubahan fisik yang cepatdisertai dengan perubahan
dalam kebutuhan gizi. (Notoatmojo,2007)
b. Karakteristik bayi
Karakteristik perkembangan bayi adalah masa bayi dimulai sejak
berakhirnya masa orok sampai akhir tahun kedua dari kehidupan. Masa
bayi

ini

memiliki

ciri-ciri

perkembangan

fisik,

intelegency,

keperibadian, moral dan kesadaran beragama. Adapun perkembangan


bayi menurut Hurlock (2011) yaitu:
1) Perkembangan fisik.
Pertumbuhan yang pesat selama rentan kehidupan terjadi pada
masa bayi dan pada periode pubertas. Selama eanam bulan pertama,
pertumbuhan terus terjadi dengan pasat seperti pada priode pranatal
dan kemudian mulai menurun. Selama tahun pertama, peningkatan
berat badan tumbuh lebih besar dari pada peningkatan tinggi badan.
Sebalikya pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun.
Pertumbuhan dan perkembangan pada setiap bayi itu sama, tetapi
terdapat perbedaan dalam tinggi, berat, kemampuan sensorik dan
bidang perkembangan fisik lainnya. Selama pada periode masa bayi
perbedaan-perbedaan itu terus berlangsung, baik dari segi perbedaan
berat lebih besar dari pada perbedaan dalam tinggi. Hali itu
disebabkan karena perbedaan berat sebagian bergantung pada bentuk
tubuh dan sebagian lagi bergantung pada kebiasaan makan dan jenis
makanan.
2) Perkembangan emosi
Perkembangan emosi pada usia 0-1 bulan adalah adanya
senyuman social,usia 3 bulan ada senyum kesenangan, usia 3-4
bulan kehatia-hatian, usia 4 bulan keheranan, usia 4-7 bulan
kegembiraan dan kemarahan, usia 5-9 bulan ketakutan dan usia 18
bulan rasa malu.
3) Perkembangan bicara

Bicara

merupakan

sarana

komunikasi

untuk

dapat

berkomunikasi dengan orang lain. Nada suara dan isyarat-isyarat


tangan membantu bayi untuk mengerti apa yang dikatakan
kepadanya. Rasa senang ditandai dengan tersenyum, melambaikan
lengan dan kaik, menyuarakan bunyi-bunyi seperti bentuk tertawa
atau ocehan. Rasa marah ditandai dengan menangis, dan rasa takut
yang dapat dimengerti sejak usia tiga bulan.
4) Perkembangan sosialisasi
Pengalaman sosial yang dini memiliki peranan yang penting
dalam menentukan hubungan social dimasa depan dan pola prilaku
terhadap orang lain. Penyesuaian social anak-anak yang lebih besar
dan bahkan para remaja menunjukkan pentingnya peletakan dasrdasar soaial pada bayi. Halini didasari pada dua alasan. Pertama,
jenis reaksi yang diperlihatkan bayi-bayi dalam situasi social
mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial. Kedua, dasar-dasar
social penting dan cenderung menetap jika anak besar nanti. Anak
yang pada bayinya banyak menangis cenderung agresif dan
menunjukkan keprilaku-prilaku yang mencari perhatian. Sebaliknya
bayi yang ramah dan lebih bahagia biasanya penyesuaian sosialnya
lebih baik apabila menjadi besar nantinya. Reaksi social bayi kepada
orang dewasa:
a) Dua sampai tiga bulan
Bayi dapat membedakan

manusia

yang

memenuhi

kebutuhannya. Bayi puas bila berada bersama manusia dan tidak


senang bila ditinggal sendiri. Pada usia inibayi tidak menujukkan
rasa lebih menyukai satu orang tertentu dibandingkan dengan
orang lain.
b) Empat sampai lima bulan
Bayi ingin digendong siapa saja yang mendekatinya. Ia
memberikan reaksi yang berbeda kepada wajah-wajah yang
tersenyum, suara-suara yang ramah dan suara-suara yang
menunjukan amarah.
c) Enam sampai tujuh bulan

Bayi membedakan teman dan orang asing dengan


tersenyum pada yang pertama dan memperlihatkan ketakutan
akan kehadiran orang yang terkhir. Masa ini merupakan masa
awal bayi untuk menunjukkan keterikatan yang kuat kepada ibu
dan berkurangnya keramah tamahan.
d) Delapan sampai Sembilan bulan
Bayi mencoba meniru kata-kata, isyarat dan gerakangerakan sedarhana dari orang lain.
e) Dua belas bulan adalah bayi bereaksi terhadap larangan.
5) Perkembangan pengertian
Bayi mempunyai kehidupan tanpa mengerti segala sesuatu
yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, bayi harus memperoleh
pengertian mengenai apa yang diamati melalui pematangan dan
belajar. Bayi memperlihatkan pengenalan orang-orang dan bendabenda yang dikenal dalam lingkungannya melalui reaksi yang
menyenangkan seperti halnya ia memandang orang-orang dan
benda-benda asing dengan rasa takut.
6) Perkembangan kepribadian
Masa bayi sering disebut dengan periode kritis dalam
perkembangan kepribadian karena saat ini diletakkan dasar diman
setuktur kepribadian dewasa akan dibangun. Sejumlah telaah
mengenai kurangnya kasih sayang yang disebabkan karena
kurangnya perhatian dirumah atau karena keadaan di lembaga telah
menunjukan bahwa mengakibatkan perubahan pada kepribadian
seseorang.
7) Perkembangan bermain
Bermain dalam tahun ketahun pada masa bayi banyak
dipengaruhi oleh perkembangan fisik, motorik, dan mental. Bermain
berkembang sesuai dengan bertambahnya usia dan pertumbuhan
bayi.
c. Indikator derajat kesehatan bayi
1) Indikator antara
a) Prilaku
Kurang pengetahuan ibu tentang perawatan bayi, tidak mau
datang ke pelayanan kesehatan.
b) Pelayanan kesehatan

(1). Puskesmas yang tidak terjangkau.


(2). Posyandu balita yang tidak optimal
c) Lingkungan
Kepercayaan atau keyakinan tentang budaya setempat
2) Indikator akhir.
a) Angka kematian
Angka kematian bayi termasuk masalah kesehatan yang
angka kejadiannya cukup tinggi. Tercatat bahwa angka kematian
bayi sejak tahun 1990 sampai tahun 2015 mengalami penurunan,
pada tahun 1990 sebanyak 36 kematian per 1000 kelahiran, pada
tahun 2015 sebanyak

19 kematian

per 1000 kelahiran

(WHO,2015)
b) Angka kesakitan
Penyebab angka kesakitan pada bayi adalah status gizi
kurang, BBLR dan lain-lain.
c) Gizi
Status gizi bayi sangat ditentukan oleh status gizi ibu
menyusui. Apabila status gizi ibu tidak baik maka akan
berpengaruh pada kebutuhan ASI bayi.
d. Program-program kesehatan kelompok bayi
Peningkatan serta masyarakat dalam membantu memperbaiki
status kesehatan penting. Oleh sebab itu upaya pemerintah untuk
menurunkan angka kematian bayi itu memperlukan keterlibatan
masyarakat untuk menentukan keberhasilan program dalam mengatasi
berbagai program masalah kesehatan. Upaya program kesehatan pada
bayi salah satunya adalah pelaksanaan imunisasi (Hidayat, 2008)
2. Ibu Menyusui
a. Batasan ibu menyusui
Masa laktasi mempunyai tujuan memberikan ASI exlusif dan
meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan
benat serta anak mendapatkan kekebalan tubuh secara alami (Eny dkk,
2010)
b. Karakteristik ibu menyusui
Menurut Ari (2009) karakteristik ibu menyusui yang sering timbul
adalah sebagai berikut:
1) Payudara bengkak
2) Putting susu lecet

3) Sindrom asi kurang


4) Berat payudara 600-800 gram pada masa laktasi
5) Nafsu makan meningkat.
c. Indikator derajat kesehatan.
3) Indikator antara(ibu menyusui)
a) Prilaku
Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara,tekhnik
menyusui yang benar, tentang gizi ibu menyusui dan tidak mau
datang ke pelayanan kesehatan.
b) Pelayanan kesehatan
(1). Puskesmas yang tidak terjangkau.
(2). Posyandu balita yang tidak optimal
c) Lingkungan
Kepercayaan atau keyakinan tentang budaya setempa
4) Indikator akhir.
a) Angka kematian
Angka kematian ibu bersalin dan nifas menurun tiap
tahunnya. Proporsi ibu yang persalinannya ditolong tenaga
kesehatan meningkat dari 79,0% pada tahun 2010 menjadi 86,9%
pada tahun 2013. Pada tahun 2013, sebagian besar (76,1%)
persalinan juga sudah dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan
dan Poskesdes atau Polindes dan hanya 23,7% ibu bersalin yang
masih melahirkan di rumah. Angka peningkatan yang cukup
drastis terlihat pada cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas
(KF1), yaitu dari 46,8% pada tahun 2010 menjadi 81,7% pada
tahun 2013 (Riskesdas) Tahun 2013).
b) Angka kesakitan
Angka kesakitan pada ibu menyusui bisa disebabkan karena
pembengkakan payudara, produksi asi tidak lancer MASTITIS
atau abses payudar, dll.
c) Gizi
Makanan yang dimakan seorang ibu Selama masa menyusui
tidak secara langsung mempengaruhi air susu yg dihasilkan.
Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsure gizi yang
terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi
diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang
diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter asi, agar ibu

menghasilkan 1 liter asi diperlukan makanan tambahan disamping


untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi
dan 1 butir telur. Program perbaikan gizi melalui posyandu
(Rutina, S . 2004)
d. Program program kesehatan kelompok ibu menyusui
Program kesehatan pada ibu menyusui salah satunya adalah
peningkatan gizi ibu menyusui (manuaba, 2007)
B. PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Kisi-kisi kajian
1) Kisi-kisi pengkajian keperawatan kelompok bayi
Pengkajian pada kelompok bayi pada tanggal 22 Mei 2016
sampai dengan tanggal 25 Mei 2016. Lingkup wilayah kajian
mencakup 4 RT di RW 03 (RT 2 sampai dengan RT 05) sesuai batasan
wilayah yang ditentukan. Fokus kajian diarahkan kepada bayi,
karakteristik imunisasi bayi dan permasalahan kesehatan yang dapat
diidentifikasi pada bayi. Secara garis besar, pengkajian digambarkan
dalam table kisi-kisi kajian sebagai berikut:

1.

Aspek Yang
Dikaji
Usia bayi

2.

BB

3.

Kunjungan
posyandu

4.

Status gizi

5.

Status imunisasi

6.

KMS

Ibu bayi

Pemberian
vitamin A
Permasalahan
kesehatan yg
dirasakan bayi
Pengetahuan ibu
bayi tentang

Ibu bayi dan kader


kesehatan

Wawancara dan Studi


dokumentasi
Studi dokumentasi dan
wawancara
Wawancara dan studi
dokumentasi

Ibu bayi, bidan dan


kader kesehatan

Dokumentasi dan
wawancara

Ibu bayi

Wawancara

No

7.
8.
9.

Sumber Data
Ibu bayi
Bidan dan Kader
kesehatan
Ibu bayi dan kader
kesehatan
Ibu bayi dan kader
kesehatan
Ibu bayi dan kader
kesehatan

Metode Pengumpulan
Wawancara
Wawancara dan studi
dokumentasi
Wawancara dan studi
dokumentasi
Studi dokumentasi

cara perawatan
bayi sakit
10. Perkembangan

Pengukuran metode
denver dan KPSP

Bayi

2) Kisi-kisi pengkajian keperawatan kelompok ibu menyusui


Pengkajian pada kelompok ibu menyusui dilakukan pada
tanggal 11 Desember 2014 sampai dengan tanggal 12 Desember 2014.
Lingkup wilayah kajian mencakup 3 RT di RW 01 (RT 1 sampai
dengan RT 03) sesuai batasan wilayah yang ditentukan. Fokus kajian
diarahkan kepada ibu menyusui, pengetahuan ASI esklusif, prilaku ibu
menyusui dan sikap ibu menyusui. Secara garis besar, pengkajian
digambarkan dalam table kisi-kisi kajian sebagai berikut:

Aspek Yang Dikaji

Jumlah ibu
menyusui

Data dari kader


dan ibu menyusui

Studi dokumentasi dan


hasil kuesioner

Pengetahuan ASI
esklusif

Ibu menyusui

Wawancara dan
kuesioner

Pemberian susu
formula

Ibu menyusui

Wawancara dan
kuesioner

Ibu menyusui

Wawancara dan
kuesioner

Ibu menyusui

Wawancara dan
kuesioner

Pengetahuan
tentang perawatan
payudara
Pengetahuan
tentang gizi ibu
menyusui
Frekuensi
kunjungan
posyandu

Sumber Data

Metode
Pengumpulan Data

No

Ibu menyusui dan


Kader

Wawancara dan
kuesioner

Pengetahuan
tentang posisi
menyusui yang
benar

10

Ibu menyusui

Frekuensi
Permasalahan dalam Ibu menyusui
produksi ASI
Pengetahuan
tentang penyebab
Ibu menyusui
masalah produksi
ASI
Sikap ibu mengatasi
masalah dalam
Ibu menyusui
menyusui bayi

Wawancara dan
kuesioner

Wawancara dan
kuesioner
Wawancara dan
kuesioner
Wawancara dan
kuesioner

b. Hasil kajian
Pengkajian dilakukan dengan metode wawancara, observasi (studi
dokumentasi) dan kuesioner, didapatkan data:
1) Bayi
Berdasarkan hasil pengkajian kuesioner di dapatkan data
kependudukan RT, jumlah bayi di lingkup wilayah kajian adalah 9
orang, dengan distribusi per RT seperti pada table dibawah. Namun jika
dibandingkan dengan wawancara dengan ketua kader (ibu ninik jumlah
bayi seperti yang tertulis dalam dokumen kependudukan sudah
mengalami perubahan. Banyaknya warga yang datang ke posyandu
sangat sedikit dikarenakan banyak warga yang memiliki bayi yang tidak
datang keposyandu)
Distribusi bayi per RT
RT
RT 2
RT 3
RT 4
RT 5

Jumlah Bayi
Usia Bayi
3
Jovita 12 bln, Tristan 12 bln, Alif 1 bln
2
Adiba 5 bln, Arjuna 1 bln
1
Ikbal 3 bln
Rega 5 bln, Ankawirda 6 bln, Kinanti 12
3
bln dan

No

Nama
bayi

Umur

BB

Status
gizi / KMS

Status
imunisasi

Pemberian
vitamin A

Kunjungan
posyandu

Kejadian
sakit

Hijau
(Baik)
Hijau
(Baik)

Lengkap

Ya

Sesuai tahapan

Lengkap

Ya

Sesuai tahapan

Perkembangan

1.

An. J

12 bln

8,5 kg

2.

An. T

12 bln

11 kg

3.

An. R

5 bln

7,3 kg

Hijau
(Baik)

- Campak

Ya

Sesuai tahapan

4.

An. A

6 bln

10 kg

Hijau
(Baik)

- Campak

Ya

Sesuai tahapan

5.

An. I

3 bln

4,5 kg

Hijau
(Baik)

- Campak

Ya

Sesuai tahapan

6.

An. K

12 bln

7,5 kg

Hijau
(Baik)

Lengkap

Ya

Sesuai tahapan

7.

An. A

5 bln

7,2 kg

Hijau
(Baik)

Lengkap

Ya

Sesuai tahapan

8.

An. A

1 bln

4 kg

Hijau
(Baik)

- Campak

Ya

Sesuai tahapan

Hijau
(Baik)

- Campak

Ya

Sesuai tahapan

9.

An. A

1 bln

3,5 kg

& - DPT
& - DPT

No

Nama
Ibu

Ibu
menyusui

Pengetahuan
ASI
esklusif

1.

Ny. T

Ya

Ya

Tidak

Tahu
tentang
perawa
-tan
payuda
ra
Tidak

2.

Ny. T

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Pernah

Aktivitas

Dibiarkan Saja

3.

Ny. A

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Pernah

Tidak Tahu

Dibiarkan Saja

4.

Ny. I

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Pernah

Stress

Dibiarkan Saja

5.

Ny. M

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Jarang

Aktivitas

Dibiarkan Saja

6.

Ny. R

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Pernah

Tidak Tahu

Dibiarkan Saja

7.

Ny. S

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Pernah

Tidak Tahu

Dibiarkan Saja

8.

Ny.S

Ya

Ya

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Jarang

Aktivitas

Dibiarkan Saja

9.

Ny. S

Ya

Ya

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Jarang

Tidak Tahu

Dibiarkan Saja

10.

Ny. N

Ya

Ya

Ya

Tidak

Ya

Ya

Pernah

Tidak Tahu

Dibiarkan Saja

Pemberian
susu
formula

Tahu
posisi
menyusui
yang
benar

Frekuensi
Mengalami
Masalah
Dalam
Menyusui

Ya

Ya

Tahu
tentang
gizi ibu
menyus
ui

Tahu
penyebab
masalah
produksi
ASI

Mengatasi
masalah dalam
menyusui bayi

Pernah

Stress

Dibiarkan Saja

2. Analisa Data dan Rumusan Diagnosis


No

Data

Masalah Keperawatan

Etiologi

DS :
Dari hasil wawancara dengan 10 ibu menyusui, didapatkan hasil bahwa:
1. 6 dari 10 ibu menyusui bayi segera setelah bayi lahir sedangkan 4 orang ibu
tidak langsung segera menyusui bayinya karena ASI tidak lancer.
2. 7 dari 10 ibu tidak memberikan tambahan susu formula sedangkan 3 orang ibu
memberikan tambahan susu formula karena produksi ASI kurang lancar.
3. 10 dari 10 orang ibu tidak mengetahui tentang perawatan payudara.
4. 7 dari 10 orang ibu pernah mengalami masalah dalam produksi ASI sedangkan
3 orang ibu jarang mengalami masalah dalam produksi ASI.
5. 2 dari 10 orang ibu berpendapat bahwa stress merupakan penyebab masalah
dalam menyusui, 3 orang ibu berpendapat karena aktivitas sedangkan 7 orang
ibu tidak tahu.
6. 10 dari 10 orang ibu membiarkan saja bila ada masalah dalam menyusui.
DO :
Dari hasil observasi kuesioner, didapatkan hasil bahwa :
1. Sebanyak 60% ibu menyusui bayinya segera setelah lahir, 40% ibu menyusui
bayinya menyusui bayinya tidak segera setelah lahir karena ASI tidak lancar.
2. Sebanyak 30% ibu memberikan tambahan susu formula dan 70% ibu tidak
memberikan tambahan susu formula untuk bayinya.

Resiko
Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan
ibu menyusui di RW 03
Dusun Krasak Desa
Jimbaran Kecamatan
Ungaran Barat
Kabupaten Semarang

1. Kurang pengetahuan Ibu


tentang pentingnya
perawatan payudara pada
ibu menyusui.
2. Kurangnya kesadaran
(perilaku) ibu untuk
memanfaatkan
kunjungan ke pelayanan
kesehatan guna mencari
informasi saat ada
masalah dalam
menyusui.

Skoring
No

Diagnosa Kep Komunitas

Kriteria Penilaian
A

Total Skor

Prioritas

1.

Resiko Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan ibu


menyusui di RW 03 Dusun Krasak Desa Jimbaran
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang

39

Keterangan :
A : Kesadaran masyarakat terhadap masalah
B : Motivasi komunitas untuk mengatasi masalah
C : Kemampuan perawat untuk mengatasi masalah
D : Fasilitas yang tersedia untuk mengatasi masalah
E : Beratnya akibat jika masalah masih tetap
F : Cepat masalah teratasi
Skor penilaian 1-10
Prioritas Masalah dan Diagnosa Keperawatan :
1. Resiko Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan ibu menyusui di RW 03 Dusun Krasak Desa Jimbaran Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
berhubungan dengan Kurang pengetahuan Ibu tentang pentingnya perawatan payudara serta kurangnya kesadaran (perilaku) ibu untuk memanfaatkan
kunjungan ke pelayanan kesehatan guna mencari informasi saat ada masalah dalam menyusui yang ditandai dengan :
a. 40% ibu menyusui tidak segera menyusui setelah bayi lahir karena ASI tidak lancar
b. 30% ibu memberikan tambahan susu formula
c. 100% ibu tidak mengetahui tentang perawatan payudara
d. 70% ibu pernah mengalami masalah dalam menyusui
e. 50% ibu tidak tahu penyebab masalah produksi ASI
f. 100% ibu membiarkan saja saat mengalami masalah dalam menyusui bayi.
3. Perencanaan Keperawatan
No.

Diagnosa keperawatan
Komunitas

Tujuan
Jangka panjang

Jangka pendek

Rencana intervensi

Rencana evaluasi
Kriteria
Standar

1.

Resiko Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan ibu
menyusui berhubungan
dengan Kurang pengetahuan
Ibu tentang pentingnya
perawatan payudara serta
kurangnya kesadaran
(perilaku) ibu untuk
memanfaatkan kunjungan ke
pelayanan kesehatan guna
mencari informasi saat ada
masalah dalam menyusui

Pada akhir program


diharapkan
pemeliharaan
kesehatan ibu efektif
dan terjadi
peningkatan
pengetahuan ibu
tentang pentingnya
perawatan payudara
sebesar 80%

Ibu mengetahu tentang


pentingnya perawatan
payudara dan bersedia
mencari informasi ke
pelayanan kesehatan
saat mengalami
masalah dalam
menyusui

1. Memberikan
pendidikan
kesehatan
tentang
ASI eksklusif
2. Mendemonstrasikan
langkahlangkah
perawatan payudara
3. Mendemonstrasikan
langkah-langkah
pijat oksitosin
4. Memberi penjelasan
kepada ibu- ibu
tentang
penyebab
maslah produksi ASI
5. Memotivasi ibu- ibu
menyusui
untuk
mendatangi
pusat
pelayanan kesehatan
terdekat jika ada
masalah
terkait
menyusui & ASI.

Kognitif
Afektif &
Psikomot
or

80% Ibu
menyusui
mengetahui dan
dapat
mempraktekkan
tentang:
a. Pentingnya
ASI eksklusif
b. Pentingnya
perawatan
payudara
c. Manfaat
perawatan
payudara
d. Langkahlangkah
perawatan
payudara
e. Langkahlangkah pijat
oksitosin

Plan Of Action (POA)


No

Diagnosa Keperawatan

Kegiatan

Sasaran

Waktu

Tempat

Dana

Penanggung

1.

Resiko Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan
ibu menyusui
berhubungan dengan
Kurang pengetahuan Ibu
tentang pentingnya
perawatan payudara serta
kurangnya kesadaran
(perilaku) ibu untuk
memanfaatkan
kunjungan ke pelayanan
kesehatan guna mencari
informasi saat ada
masalah dalam
menyusui.

Mandiri :
1. Memberikan pengkes
tentang ASI eksklusif
2. Memberikan Pendidikan
kesehatan terkait
pentingnya perawatan
payudara dan manfaatnya.
3. Mendemonstrasikan
langkah- langkah
perawatan payudara
4. Mendemonstrasikan pijat
oksitosin
Kerjasama :
1. Bekerja sama dengan
kader posyandu bayi dan
bidan dalam memotivasi
ibu untuk memberikan
ASI eksklusif, perawatan
payudara dan pijat
okstosin.
2. Bekerja sama dengan
bidan dan kader
kesehatan dalam
pelaksanaan Posyandu
(penimbangan berat
badan, Pengisian KMS,
Penyuluhan, imunisasi)

Ibu menyusui Kamis,


Juni

2 Kediaman
2016 Bapak

pukul 09.00 Dusun


WIB

Mahasiswa
Ka Program
Pendidikan

(POSYANDU) Profesi

Ners

RW 03 Dusun STIKES Ngudi


Krasak

Waluyo
Ungaran

Jawab
Endah Zuni A

Kelompok:
Bersama keluarga
memotivasi agar ibu mau
memberikan ASI
eksklusif, ,melakukan
perawatan payudara dan pijat
oksitosin agar produksi ASI
lancar.

4. Implementasi Keperawatan
No
1.

Diagnosa keperawatan
Resiko Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan ibu
menyusui berhubungan dengan
Kurang pengetahuan Ibu
tentang pentingnya perawatan
payudara serta kurangnya
kesadaran (perilaku) ibu untuk
memanfaatkan kunjungan ke
pelayanan kesehatan guna
mencari informasi saat ada

Hari/ Tanggal
Kamis, 2 Juni
2016

Tempat

Implementasi

Kediaman
1. Memberikan pengkes tentang ASI
Bapak
Ka
eksklusif
2.
Memberikan
Pendidikan kesehatan terkait
Dusun
pentingnya perawatan payudara dan
(POSYANDU)
manfaatnya.
RW 03 Dusun
3.
Mendemonstrasikan langkah- langkah
Krasak
perawatan payudara
4. Mendemonstrasikan pijat oksitosin

Hasil
Ds : 80% Ibu menyusui
mengatakan bersedia diberikan
penyuluhan terkait ASI eksklusif,
perawatan payudara dan pijat
oksitosin.
Do :
1. 10 (100%) ibu menyusui
datang ke posyandu dan
menghadiri penyuluhan.
2. 1
orang
ibu
bersedia
berpartisipasi
langsung
mempraktekkan
langkah-

masalah dalam menyusui.

langkah perawatan payudara


dan pijat oksitosin.
Kediaman Ibu
Enni (RT 2) 1. Memberikan pengkes tentang ASI
acara
Arisan
eksklusif
Bulanan
2. Memberikan Pendidikan kesehatan terkait
Jumat, 10 Juni
pentingnya perawatan payudara dan
2016
manfaatnya.
3. Mendemonstrasikan langkah- langkah
perawatan payudara
4. Mendemonstrasikan pijat oksitosin
5. Memberi penjelasan kepada ibu- ibu
tentang penyebab maslah produksi ASI
6. Memotivasi ibu- ibu menyusui untuk
mendatangi pusat pelayanan kesehatan
terdekat jika ada masalah terkait
menyusui & ASI.

Kediaman Ibu
Rani
Dusun 1. Memberikan pengkes tentang ASI
eksklusif
Krasak RW III
2. Memberikan Pendidikan kesehatan terkait
pentingnya perawatan payudara dan

Ds : 80 % ibu- ibu yang datang ke


acara arisan bersedia diberikan
penyuluhan, sebagai pembelajaran
untuk diri sendiri dan saudara atau
lingkungan Dusun Krasak
Do :
1. 80% ibu- ibu yang datang
antusias
memperhatikan
penyuluhan yang diberikan.
2. 80% ibu- ibu aktif bertanya,
tentang banyak/ tidaknya ASI
yang
diproduksi
apakah
tergantung
dari
ukuran
payudara, apakah ASI dapat
habis, factor-faktor apa saja
yang mempengaruhi produksi
ASI dan apakah ada ibu yang
tidak bias menyusui karena
tidak bias keluar ASI nya.

Ds : Ibu Rani mengatakn bersedia

Rabu, 15 Juni
2016

manfaatnya.
3. Mendemonstrasikan langkah- langkah
perawatan payudara
4. Mendemonstrasikan pijat oksitosin

diberikan penyuluhan terkait


pemberian
ASI
eksklusif,
perawatan payudara dan pijat
okstosin.
Do :
Ibu Rani berpartisipasi aktif saat
penyuluhan.
Ibu Rani kooperatif.
Ibu Rani tampak senang dan ceria
saat diberikan penyuluhan.
Saat di evaluasi ibu Rani dapat
menyebutkan pengertian, manfaat,
keuntungan dalam memberikan
ASI eksklusif.
Bapak Kemat (Suami ibu Rani)
berpartisipasi aktif saat diajai
tekhnik pijat oksitosin.

5. Evaluasi
No
1.

Hari/Tanggal
Kamis, 2 Juni 2016

Evaluasi
60% ibu menyusui memahami tentang manfaat ASI ekslusif, langkah- langkah dan manfaat perawatan payudara serta tujuan
dan manfaat pijat oksitosin.

Jumat, 10 Juni 2016


Rabu, 15 Juni 2016

80% ibu menyusui memahami tentang manfaat ASI ekslusif, langkah- langkah dan manfaat perawatan payudara serta tujuan
dan manfaat pijat oksitosin.
Ibu Rani dapat menjawab 80% pertanyaan terkait penyuluhan yang disampaikan, meliputi ASI eksklusif, perawatan
payudara dan pijat oksitosin.

Rencana Tindak Lanjut Keperawatan Komunitas Di RW III


Masalah Kesehatan
Kegiatan
Resiko Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan
ibu menyusui
berhubungan dengan
Kurang pengetahuan Ibu
tentang pentingnya
perawatan payudara serta
kurangnya kesadaran
(perilaku) ibu untuk
memanfaatkan kunjungan
ke pelayanan kesehatan
guna mencari informasi
saat ada masalah dalam
menyusui.

Mandiri :
1. Memberikan pengkes tentang ASI eksklusif
2. Memberikan Pendidikan kesehatan terkait pentingnya perawatan payudara
dan manfaatnya.
3. Mendemonstrasikan langkah- langkah perawatan payudara
4. Mendemonstrasikan pijat oksitosin
Kerjasama :
1. Bekerja sama dengan kader posyandu bayi dan bidan dalam memotivasi ibu
untuk memberikan ASI eksklusif, perawatan payudara dan pijat okstosin.
2. Bekerja sama dengan bidan dan kader kesehatan dalam pelaksanaan
Posyandu (penimbangan berat badan, Pengisian KMS, Penyuluhan,
imunisasi)
Kelompok:
Bersama keluarga memotivasi agar ibu mau memberikan ASI eksklusif,
,melakukan perawatan payudara dan pijat oksitosin agar produksi ASI lancar.

Sasaran

Tempat

Ibu
menyusui

Kediaman
Bapak
Ka Dusun
(POS
YANDU)
RW 03
Dusun
Krasak

Waktu

Penanggung
Jawab
Endah Zuni A

C. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. Timbulnya masalah dalam
upaya pemberian ASI dapat menjadi dua mata pisau yang mengancam dari
sisi bayi dan ibu menyusui, bayi dapat rentan terkena penyakit karena
selama belum mendapat vaksin, imunitas bayi sangat rendah dan
tergantung dengan ASI sebagai barier imunitas ketahan bayi terhadap
paparan luar, sementara itu bagi ibu menyusui dapat menimbulkan resiko
penurunan status kesehatan karena adanya keluhan yang menyertai saat
produksi ASI tidak lancar, ibu tidak mengetahui manfaat ASI, tida
mengetahui penyebab tidak lancarnya produksi ASI, bendungan ASI pada
payudara, juga dari segi materiil yang berakibat ibu harus berobat kasrena
sakit, bayi sakit dan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli
susu formula. Masyarakat Dusun Krasak khususnya kelompok ibu
menyusui dan bayi, baru 70% yang menyusui dengan ASI eksklusif,
sisanya memilih susu formula sebgai tambahan akibat ketidaklancaran
produksi ASI. Setelah dilakukan pembinaaan mengalami kenaikan
sebanyak 20% ibu menyusui ASI eksklusif dan meninggalkan pemberian
tambahan susu formula.
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan dan pembinaan sebanyak
80% ibu menyusui telah mengetahui manfaat ASI ekslusif, megetahui
manfaat & mempraktekkan langkah- langkah perawatan payudara dan pijat
oksitosin.
2. Saran
Posyandu

dan

pemberi

pelayanan

kesehatan

berperan

aktif

menggalakkan upaya pemberian ASI ekslusif dengan memotivasi dan


memfasilitasi dalam menyelesaikan masalah gangguan menyusui yang
dirasakan ibu- ibu lingkungan Dusun Krasak, tanpa menunggu adanya
keluhan dari warga.

Hasil tabulasi
1. Pengkajian Bayi
a. Distribusi Usia Bayi

b. Status Imunisasi

c. Kepunyaan KMS

d. Kemampuan Membaca KMS & Mengetahui Status Gizi Anak

e. Kunjungan Posyandu

f. Pemberian Vitamin A

2. Pengkajian Ibu Menyusui

a. Ibu menyusui & menyusui segera setelah bayi lahir

b. Pemberian susu formula

c. Pengetahuan ibu tentang perawatan payudara

d. Permasalahan dalam produksi ASI

e. Pengetahuan ibu tentang factor penyebab masalah menyusui

f. Pengetahuan ibu tentang Cara mengatasi masalah dalam menyusui

DAFTAR PUSTAKA

Eny dkk, (2010). Asuhan Keperawatan nifas. Jakarta: Medical Book


Hurlock, E. B.(2011). Psikologi Perkembangan Ed 5. Jakarta: Erlangga
Manuaba, I.B.G dkk .(2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC

DOKUMENTASI