Anda di halaman 1dari 15

BAHAN DISKUSI MODUL BEDAH MINOR

ODONTEKTOMI GIGI 38

Oleh:
Muftihat Israr
No. BP. : 1010342021

Pembimbing :
Drg. Andelisya

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
BAB I

PENDAHULUAN
Gigi geligi dalam rongga mulut akan mengalami erupsi menurut urutan waktu
erupsi masing-masing jenis gigi. Mulai dari fase gigi sulung sampai mengalami
pergantian menjadi fase gigi permanen. Proses erupsi masing-masing gigi, baik pada
fase gigi sulung maupun permanen akan terjadi secara fisiologis dan jarang sekali
mengalami gangguan. Gangguan erupsi pada umumnya terjadi pada fase pergantian
dari gigi sulung menuju fase gigi permanen, sehingga gigi permanen tertentu tidak
dapat mengalami erupsi.1
Menurut Goldberg yang dikutip oleh Tridjaja bahwa pada 3000 rontgen foto
yang dibuat pada tahun 1950 dari penderita usia 20 tahun, 17% diantaranya
mempunyai paling sedikit satu gigi impaksi. Sedang hasil foto panoramik dari 5600
penderita usia antara 17-24 tahun yang dibuat tahun 1971, 65.6% mempunyai paling
sedikit satu gigi impaksi.
Gigi molar ketiga rahang bawah tumbuh pada usia 18-24 tahun dan
merupakan gigi yang terakhir tumbuh, hal itulah yang menyebabkan sering
terjadinya impaksi pada gigi tersebut. Menurut beberapa ahli, frekuensi impaksi gigi
molar ketiga maksila adalah yang terbanyak dibandingkan dengan molar ketiga
mandibula. Kenyataannya di Indonesia berbeda, impaksi gigi molar ketiga mandibula
ternyata frekuensinya lebih banyak dari pada gigi molar ketiga maksila. Dampak dari
adanya gigi impaksi molar ketiga rahang bawah adalah gangguan rasa sakit. Keluhan
sakit juga dapat timbul oleh karena adanya karies pada gigi molar tiga rahang bawah
dan kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya karies pada gigi molar ketiga rahang
bawah.2,3,4

Gigi molar ketiga rahang bawah impaksi dapat mengganggu fungsi


pengunyahan dan sering menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi yang terjadi
dapat berupa resorbsi patologis gigi yang berdekatan, terbentuknya kista folikular,
rasa sakit neuralgik, serta komplikasi lainnya.5
Adanya komplikasi yang diakibatkan gigi impaksi maka perlu dilakukan
tindakan pencabutan. Pencabutan dianjurkan jika ditemukan akibat yang merusak
atau

kemungkinan

terjadinya

kerusakan

pada

struktur

sekitarnya.

Upaya

mengeluarkan gigi impaksi terutama pada molar ketiga rahang bawah dilakukan
dengan tindakan pembedahan yang disebut dengan istilah odontektomi. Odontektomi
sebaiknya dilakukan pada saat pasien masih muda yaitu pada usia 25-26 tahun
sebagai tindakan profilaktik atau pencegahan terhadap terjadinya patologi.5
Pada laporan kasus ini akan dibahas mengenai odontektomi pada pasien yang
datang ke Klinik Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas pada
bulan Mei 2016.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gigi Impaksi


Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya
terhalang atau terhambat, biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis
sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal di
dalam deretan susunan gigi geligi lain yang sudah erupsi. Umumnya gigi yang sering
mengalami impaksi adalah gigi posterior dan jarang pada gigi anterior.1

2.2 Etiologi Gigi Impaksi


Menurut Berger, penyebab gigi impaksi antara lain 1 :
1. Abnormalnya posisi gigi geligi
2. Tekanan dari gigi tetangga terhadap gigi yang impaksi
3. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi
4. Kekurangan tempat untuk erupsi gigi
5. Penebalan jaringan lunak akibat adanya inflamasi kronis

2.3 Indikasi dan Kontraindikasi


2.3.1 Indikasi Odontektomi 6
1. Pencegahan terhadap infeksi karena erupsi yang terlambat atau abnormal
(perikoronitis) serta pencegahan terhadap berkembangnya folikel menjadi
keadaan patologis ( kista dan tumor)
2. Usia pasien masih muda
3

3. Menyebabkan karies pada gigi sebelahnya


4. Pencegahan terhadap penyakit periodontal
5. Pencegahan terhadap resorbsi gigi sebelahnya
6. Perawatan orthodontik, kasus gigi rahang bawah berjejal, perawatan yang
membutuhkan pergerakan gigi molar ke arah distal, kasus bedah ortognatik
7. Perawatan prostodontik, gigi terpendam di bawah protesa
8. Perawatan terhadap rasa sakit akibat gigi impaksi
9. Pencegahan terhadap fraktur rahang

2.3.2. Kontraindikasi Odontektomi 6


1. Pasien tidak menghendaki giginya dicabut
2. Kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan terganggu oleh
kondisi fisik atau mental
3. Usia pasien yang sudah lanjut
4. Kemungkinan terjadinya kerusakan yang luas pada struktur jaringan sekitar
setelah pembedahan

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1

Data Pasien
Nama

: Wulan Firma Sari

Agama

: Islam

Jenis kelamin : Perempuan

3.2

Usia

: 22 tahun

Pekerjaan

: Mahasiswa

Status

: Belum Menikah

NRM

: 004049

Data Umum Pasien


3.2.1 Riwayat Penyakit Sistemik
Penyakit jantung

: YA/TIDAK

Hipertensi

: YA/TIDAK

Diabetes Melitus

: YA/TIDAK

Asma/Alergi

: YA/TIDAK

Hepatitis

: YA/TIDAK

Kelainan GIT

: YA/TIDAK

Penyakit Ginjal

: YA/TIDAK

Kelainan Darah

: YA/TIDAK

Lain-lain

: YA/TIDAK

3.2.2 Riwayat Penyakit Terdahulu


Pasien sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik.

3.2.3 Kondisi Umum

3.3

Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Suhu

: tidak dilakukan

Tensi

: 100/80 mmHg

Pernapasan

: 18 x/menit

Nadi

: 70 x/menit

Pemeriksaan Subjektif
1. Chief Complaint :
Pasien ingin mencabut gigi belakang kiri bawah
2. Present Illness :
Gigi geraham kiri bawah terasa tidak nyaman sejak beberapa bulan yang
lalu. Pasien mengeluhkan giginya sering terasa sakit. Gigi tidak berlubang
dan sekarang tidak ada pembengkakan.
3. Past Dental History :
Pasien

pernah

ke dokter gigi untuk membersihkan karang gigi,

menambal gigi, dan perawatan saraf gigi.


4. Past Medical History :
Pasien sehat, tidak dicurigai menderita penyakit sistemik. Pasien tidak
memiliki alergi obat ataupun alergi makanan.
5. Family History :
Ayah : tidak memiliki riwayat penyakit herediter
Ibu
: tidak memiliki riwayat penyakit herediter
6. Social History :
Pasien seorang mahasiswa jurusan hubungan internasional unand 2011.
1.4 Pemeriksaan Objektif
3.4.1 Pemeriksaan Ekstra Oral
a. Profil

: cembung

b. Kelenjar Limfe
Submandibula

: kiri

: tidak teraba, tidak sakit

: kanan : tidak teraba, tidak sakit


c. Bibir

: tidak ada kelainan

d. Wajah

: simetris

3.4.2 Pemeriksaan Intra Oral

3.5

a. Kebersihan mulut

: baik, kalkulus - , plak +, stain +

b. Gingiva

: inflamasi (+) regio

c. Mukosa

: tidak ada kelainan

d. Palatum

: tidak ada kelainan

e. Frenulum

: tidak ada kelainan

f. Lidah

: tidak ada kelainan

g. Dasar mulut

: tidak ada kelainan

Pemeriksaan Penunjang
1. Rontgen: panoramik
2. Pemeriksaan Laboratorium: tidak dilakukan

3.6

Diagnosa
Diagnosa untuk kasus ini adalah Impaksi gigi 38 distoangular kelas IIA.

3.7

Rencana Perawatan
Rencana perawatan untuk kasus ini adalah odontektomi gigi 38.

3.8

Prognosa

Prognosa kasus ini baik, dikarenakan kondisi umum pasien baik dan pasien
kooperatif.
3.9

Alat dan Bahan


3.9.1 Alat :
Diagnostic set
Duk lobang steril
Spuit 3 cc
Suction
Scalpel
Blade no. 15
Rasparatorium
Handpiece dan bur tulang
Bein
Tang molar ketiga RB
Bone file
Kuret
Pinset jaringan
Needle holder
Needle
Gunting benang
3.9.2 Bahan :
Surgical handscoon
Masker
Povidon iodine
Kain kassa
Pehacain
Cotton ball
Tampon
Benang 3-0 silk
Aquadest, NaCl

3.11

Prosedur Bedah
1. Penandatanganan informed consent.
Informed consent atau disebut surat persetujuan tindakan medis
berisikan data pasien, data operator, diagnosa, diagnosa banding,
8

rencana perawatan, prosedur tindakan, komplikasi intra OK dan post


OK, dan prognosis. Setelah penjelasan mengenai prosedur perawatan,
tanyakan pada pasien apakah sudah paham atau ada pertanyaan.
2. Desinfeksi dan aseptic.
Aseptik pada pasien dilakukan pada ekstra oral dan intra oral. Ekstra
oral pada daerah mulut dan tengah batang hidung menggunakan
povidon iodine dari arah dalam ke luar berlawanan arah jarum jam.
Intra oral dari regio 1 ke regio 2 lanjut ke regio 3 dan terakhir regio 4.
Desinfeksi dan sterilisasi pada instrumen kerja.
3. Anestesi
Pada kasus ini akan dilakukan 2 anestesi yaitu anestesi blok
mandibular dan anestesi infiltrasi di bagian bukal.
a. Anestesi blok mandibula
Teknik dari anestesi blok mandibula terdiri dari anestesi blok
mandibula teknik Gow-Gates, anestesi blok mandibula teknik Akinosi dan
anestesi blok mandibula teknik Fisher. Pada kasus odontektomi ini
anestesi blok mandibular yang digunakan adalah anestesi blok mandibular
teknik direct , dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Daerah ramus mandibula diraba dengan ujung telunjuk kiri untuk
meraba daerah linea oblique eksterna, kemudian telunjuk digeser ke
median untuk meraba linea oblique interna, ujung lengkung kuku
berada di linea oblique interna.
2. Dengan menjadikan jari telunjuk sebagai penuntun, jarum
dimasukkan di pertengahan lengkung kuku dari sisi rahang yang
berlawanan pada regio gigi premolar.
3. Jarum dimasukkan sampai bertumpu pada tulang atau panjang
spuit.

4. Lakukan aspirasi untuk memastikan tidak terkenanya pembuluh


darah.
5. Lakukan deponeering +1 ml untuk menganestesi N. Alveolaris
inferior.
6. Tarik jarum keluar + setengah panjang jarum lalu aspirasi dan
deponeer 0,5 ml untuk menganestesi N. Lingualis.
b. Anestesi infiltrasi
Anestesi infiltrasi pada bagian bukal di daerah fornik dengan bevel
jarum menghadap ke gigi dan spuit miring kearah gigi lalu aspirasi
dan deponeer + 0,5 ml untuk menganestesi N. Bukalis.
4. Tunggu + 1 menit sampai anestesi berjalan sebelum dilakukan tindakan.
5. Tanyakan pada pasien apakah sudah baal atau tebal pada bagian pipi,
setengah bibir, dan setengah lidah.
6. Insisi flap mukoperiosteum dengan menggunakan scalpel dan blade
nomor 15. Insisi yang digunakan pada kasus ini adalah insisi triangular.

7. Refleksi flap mukoperiosteum dengan rasparatorium sampai periosteum


terlihat.
8. Lakukan pengambilan tulang di bagian bukal dan distal gigi 38 dengan
menggunakan bur tulang. Bur yang dipakai adalah bur bulat dan bur
silindris yang tajam. Pertama bur beberapa titik pada bagian bukal dan
distal dengan bur bulat selanjutnya titik-titik tersebut disatukan dengan
bur silindris. Buat parit antara gigi dan tulang dengan bur lebih ke arah
gigi. Bur hingga servikal gigi. Lakukan irigasi sambil membur untuk

10

mengurangi panas yang timbul pada saat mengebur agar tidak terjadi
nekrosis tulang.

9. Selama prosedur pengambilan tulang daerah kerja harus diirigasi dengan


menggunakan aquadest atau NaCl yang dicampur povidon iodine.
10. Separasi gigi bagian distal dengan bur slindris

11. Luksasi gigi dengan menggunakan bein.

12. Memotong tulang yang tajam dengan bur, menghaluskan tulang dengan
bone file, keluarkan folikel dengan hemostat/pinset sambil dililit terutama
daerah mesial dan kuretase jaringan dengan kuret periapikal . Kuretase

11

hingga daerah servikal tidak perlu sampai daerah akar agar tidak
mencederai N. Aleolaris Inferior.

13. Debridemen soket dengan menggunakan larutan povidon iodine dan NaCl
14. Reposisi flap, jika ada kelebihan jaringan (overlap) dapat dikurangi
dengan menggunakan gunting jaringan atau blade no. 15, setelah itu
ratakan jaringan lunak tersebut kembali ketempatnya dengan jari telunjuk.
15. Lakukan penjahitan dengan menggunakan teknik interrupted suture. Pada
kasus ini, flap dijahit dengan menggunakan 3 simpul.

16. Pasien diinstruksikan untuk menggigit tampon yang telah diolesi


povidon iodine.
17. Pasien diberi intruksi pasca bedah dan kontrol pada hari ke tujuh, jika
tidak ada masalah jahitan dapat dibuka.
3.12 Pasca Bedah
3.12.1 Medikasi
1. Antibiotik
R/ Tab Cefadroxil 500 mg No. X

12

S2dd tab 1 pc
2. Analgetik
R/ Tab Neuralgin 500 mg No.X
Sprn tab 1 pc
3. antiinflamasi
3.12.2 Instruksi Pasca Bedah
a. Gigit tampon yang diolesi povidon iodine selama setengah jam, jika
tampon basah dapat diganti dengan tampon baru.
b. Hindari makanan yang keras dan kasar yang dapat melukai daerah
operasi.
c. Jangan berkumur-kumur keras dan makan makanan serta minum
minuman panas.
d. Jangan menghisap-hisap daerah bekasodontektomi.
e. Jangan menggunakan bagian yang dilakukan prosedur odontektomi
untuk mengunyah.
f. Untuk mencegah terjadinya

pembengkakan, bagian wajah dekat

daerah bekas odontektomi dapat dikompres dengan air es dengan


selang waktu 30 menit yaitu 30 menit kompres 30 menit selanjutnya
dilepasselama 24 jam pertama. Hari selanjutnya lakukan kompres
hangat untuk menstimulasi peredaran darah dan mempercepat
penyembuhan.
g. Kontrol dan buka jahitan+ satu minggu kemudian.

3.12.3 Kontrol
a. Tanyakan keluhan pasien, apakah ada sakit atau bengkak
b. Periksa daerah bekas operasi, apakah ada infeksi, atau dry soket.
c. Periksa bukaan mulut pasien

13

d. Periksa

apakah pasien mengalami parestesia dengan menanyakan

apakah terasa tebal atau baal pada pipi dan daerah bibir.
e. Jika tidak ada keluhan buka jahitan

14

Anda mungkin juga menyukai